Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qashash ayat 21-24 (7)

25 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qashshash (Cerita-Cerita)
Surah Makkiyyah; surah ke 28: 88 ayat

tulisan arab alquran surat al qashash ayat 21-24“21. Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, Dia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”. 22. dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Mad-yan ia berdoa (lagi): “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar”. 23. dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?” kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak Kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”. 24. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, ke- mudian Dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku Sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. (al-Qashash: 21-24)

Tatkala laki-laki itu telah mengabarkan kepadanya tentang perundingan Fir’aun dan para pembesar negerinya berkenaan dengan perkaranya, maka ia keluar dari Mesir seorang diri, dan sebelumnya tidak tertarik untuk itu, bahkan ia berada dalam ia berada dalam kemenangan, kenikmatan dan sanjungan.

Fa kharaja minHaa khaa-ifatay yataraqqab (“Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu.”) yaitu menengok ke kanan dan ke kiri.
Qaala rabbi najjinii minal qaumidh dhaalimiin (“Dia berdoa: ‘Ya Rabbku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang dhalim itu.”) yaitu Fir’aun dan para pembesarnya. Mereka telah menceritakan bahwa Allah telah mengutus kepadanya satu malaikat berkuda untuk menunjukkan jalannya. wallaaHu a’lam.

Wa lammaa tawajjaHa tilqaa-a madyana (“Tatkala ia menghadap ke jurusan negeri Madyan”) yaitu menempuh suatu jalan yang datar dan terang, ia pun tampak gembira. Qaala ‘asaa rabbii ay yaHdiyanii sawaa-as sabiil (“Ia berdoa: ‘Mudah-mudahan Rabbku membimbingku ke jalan yang benar.”) yaitu jalan yang lurus. Maka Allah mengabulkannya dan membimbingnya ke jalan yang lurus di dunia dan di akhirat, sehingga Allah menjadikannya sebagai pembimbing yang mendapat bimbingan.

Wa lammaa waradamaa-a madyana (“dan tatkala ia sampai di sumber air negeri madyan”) yaitu ketika ia telah sampai di negeri Madyan dan mengunjungi sumber air di sana, dimana terdapat sebuah sumur yang dipadati oleh para penggembala kambing.
Wajada ‘alaiHi ummatam minannaasi yasquuna (“Ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan ternaknya.”) yaitu sekumpulan orang yang sedang memberi minum binatangnya.
Wawajada min duuniHimum ra-ataini tadzuudaan (“dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu dua orang wanita yang sedang menghambat.”) yaitu menghambat kambing-kambing keduanya agar tidak bergabung dengan kambing-kambing gembala lain, agar keduanya tidak diganggu.

Ketika Musa melihat keduanya, ia pun merasa kasihan dan menyayangi keduanya. qaala khath-bukumaa (“Musa berkata: ‘Apakah maksudmu [dengan berbuat begitu]?’”) yaitu apa maksud kalian berdua tidak bergabung dengan mereka ?

Qaalataa laa nasqii hattaa yushdirar ri’aa-u (“Kedua wanita itu menjawab: ‘Kami tidak dapat meminumkan [ternak kami], sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan ternaknya.”) yaitu kami tidak mampu mendapatkan minuman itu kecuali setelah mereka selesai.
Wa abuunaa syaikhun kabiir (“Sedangkan bapak kami adalah orang tua yang sudah lanjut umurnya.”) yaitu inilah kondisi yang membawa kami pada apa yang engkau lihat. Allah Ta’ala berfirman: fasaqaa laHumaa (“Maka Musa memberi minum ternak itu untuk keduanya”)

Abu Bakar Ibnu Syaibah berkata dari ‘Umar bin al-Khaththab ra. bahwa Musa ketika sampai di sumber air negeri Madyan, ia menjumpai sekelompok manusia yang sedang meminumkan ternaknya. Dia berkata: “Ketika mereka telah selesai, mereka hendak mengembalikan batu besar (penutup sumur) itu ke sumur dan tidak ada yang mampu mengangkatnya kecuali 10 orang laki-laki. Tiba-tiba dia melihat dua orang wanita yang sedang menghambat binatang ternaknya. Musa berkata: ‘Apa maksudmu?’ lalu keduanya bercerita. Maka Musa mendatangi batu itu dan mengangkatnya, kemudian dia tidak mampu memberikan minum kecuali satu ember saja hingga kambing-kambing itu tampak kenyang.” (isnadnya shahih)

Firman Allah: fasaqaa laHumaa tsumma tawallaa iladh dhilli faqaala rabbiii innii limaa anzalta ilayya min khairin faqiir (“Kemudian dia kembali ke tempat yang teduh, lalu berdoa: ‘Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.’”)
Ibnu ‘Abbas berkata, “Musa berjalan dari Mesir ke negeri Madyan tanpa bekal makanan, kecuali sayuran dan daun-daun pohon. Dia berjalan tanpa alas kaki karena ketika ia sampai di kota Madyan telah rusak dua sandalnya dan ia duduk di bayang-bayang keteduhan. Dia adalah makhluk pilihan Allah, perutnya melekat ke pinggang karena lapar. Dan hijaunya sayuran tidak berguna bagi perutnya dan ia membutuhkan makanan (kurma).

Firman-Nya: iladh dhilli (“k tempat yang teduh”) Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud dan as-Suddi berkata: “Dia duduk di bawah pohon.” wallaaHu a’lam.
As-Suddi berkata: “Pohon itu adalah dari jenis pohon samar.” ‘Atha bin as-Sa-ib berkata: “Ketika Musa berdoa: “rabbiii innii limaa anzalta ilayya min khairin faqiir. (‘Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.’) terdengarlah oleh wanita itu.

Bersambung ke bagian 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: