Arsip | September, 2014

LANGKAH 29 ISTIKHARAH (Meminta Petunjuk Kepada Allah)

30 Sep

30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama
Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi; IslamHouse.com

Ia merupakan petunjuk nubuat yang diajarkan Rasulullah kepada kita. Sebagaimana yang dikatakan oleh Jabir Ibn Abdullah -radiallahu’anhuma-:
“Rasulullah mengajarkan kami istikharah dalam setiap perkara sebagaimana mengajarkan kami surat dari surat-surat al-Quran dan bersabda:
“Jika salah seorang dari kalian ragu dalam suatu perkara, hendaknya melakukan shalat dua rakaat sunah, lalu mengucapkan :
[Allahumma inni astakhiruka bi ilmika, wa astaqdiruka bi qudrotika, wa as aluka min fadhlikal adzhim, fa innaka taqdiru walaa aqdir, wa ta’lamu walaa a’alam, wa anta ‘allamul ghuyuub. Allahumma in kunta ta’lamu anna hadzal amro khairun lii fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aaqibatu amrii –’aajili amrii wa aajilihi- faqdurhu lii, wa yassirhu li tsumma baarik lii fiihi, wa in kunta ta’lamu anna hadzal amro syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aaqibatu amri –’aajili amrii wa aajilihi- fashrifhu ‘anni washrifnii ‘anhu, waqdir lialkhairo haitsu kaana tsumma ardhinii bihi. ] (Al-Bukhari no.6382. Kitab ad-Da’waat ( doa) bab: Du’a ‘Inda Istikharah (doa ketika beristikharah)).

Tidak akan menyesal siapa pun yang beristikharah (meminta petunjuk) kepada Sang Pencipta dan bermusyawarah kepada kaum mukminin serta mempelajari permasalahannya. Allah -subhânahu wata’âla- berfirman:
“…dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakkallah kepada Allah.” (QS. Ali Imran:159)

&

LANGKAH 30 BERDOA KEMUDIAN BERDOA

30 Sep

30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama
Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi; IslamHouse.com

Wahai para ayah yang baik dan ibu yang penyayang, atas kalian berdoa, kemudian berdoa; agar Allah memberi kalian taufik dalam mendidik anak-anak kalian dengan pendidikan yang saleh yang mengarahkan mereka berkhidmat kepada agama yang agung ini.

Doa memiliki peran yang amat penting dalam kesalehan dan kebaikan anak. Berapa banyak doa yang bertepatan dengan waktu pengabulan menjadi sebab kebahagiaan anak di dunia dan akhirat. Dan berapa banyak pula doa yang menyimpangkan jalan anak yang menjadikannya menapaki jalan sesat dan menyimpang. Sungguh demi Allah, berdoalah dengan doa yang saleh dan jangan meninggalkan langkah-langkah yang telah disampaikan sebelumnya.

Contoh Praktis Dan Kisah Yang Menunjukkan Pentingnya Doa

1. Dari Imam ad-Dzahabi, bahwa al-Hakim berkata:
“Abu Ali an-Naisaburi menceritakan kepada kami dari syaikh-syaikhnya bahwa Ibnul Mubarok singgah di rumah Isa. Ketika itu al-Hasan, putra Isa tengah berada di atas tunggangannya melintas, sedang Ibnul Mubarok berada di majelis. Isa adalah pemuda yang memiliki paras yang tampan. Ibnu Mubarok bertanya tentangnya. Maka dikabarkanlah bahwa Isa adalah seorang Nasrani. Ibnu Mubarokpun berujar:
“Ya Allah, berilah dia rezeki keislaman!”
Doa Ibnu Mubarok itu pun dikabulkan Allah. (Siar a’alam an-Nubala 12/27-30)

2. Imam ad-Dzahabi berkata:
“Menceritakan kepada kami Abu Yahya Ibn ar-Râzi. Katanya:
‘Aku mendengar Sa’id ar-Râzi berkata: ‘Kami pergi bersama Ahmad Ibn al-Hanbal ke rumah al-Mutawakil. Ketika dia seorang saja yang diperkenankan masuk melalui pintu khusus dia berkata kepada kami: “Pulanglah kalian, semoga Allah memberi keafiatan kepada kalian.”
Setelah doa itu, tidak ada dari kami yang terkena penyakit .” (Siar a’alam an-Nubala 11/177-358)

3. Al-Waqidi berkata:
“Muawiah membekali Uqbah Ibn Nafi dengan 10 ribu dirham sebagai perbekalan perang. Hasilnya Afrika dapat ditaklukkan. Mulailah wilayah itu dipetakan. Wilayah tersebut adalah wilayah liar yang tidak pernah kosong dari binatang buas dan ular. Dia pun mendoakan tempat itu hingga tidak ada seekor pun hewan liar di sana. Semua hewan-hewan itu pergi membawa semua anak keturunan mereka. (Siar a’alam an-Nubala 3/532-353)

&

LANGKAH 16 KECENDERUNGAN UNTUK MEMILIKI KETERAMPILAN

30 Sep

30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama
Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi; IslamHouse.com

Pada fase pertama, anak memiliki karakteristik kecenderungan menguasai keterampilan. Hendaknya kita memanfaatkan kesiapan itu untuk menumbuhkan beberapa keterampilan seperti keterampilan berpidato, menulis atau keterampilan-keterampilan lain yang bermanfaat bagi kemajuan umat. Tidak mengapa jika orang tua mengkhususkan waktu walau sehari seminggu untuk mengadakan suatu acara yang dapat meransum dan memotivasi keterampilan itu. Memberikan hadiah agar anak lebih merespons acara atau program itu.

&

LANGKAH 17 MEMPERKAYA PERKEMBANGAN BAHASA DENGAN CEPAT

30 Sep

30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama
Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi; IslamHouse.com

Anak menikmati masa awal hidup mereka dengan menyerap secara cepat kosakata bahasa yang diucapkan orang tuanya. Karenanya kedua orang tua harus bersemangat untuk memperkaya putra-putri mereka dalam sisi ini. Baik dalam pembicaraan di antara mereka atau ketika bercerita tentang kisah-kisah Islami yang dikisahkan dengan bahasa formal sehingga dapat menambah perbendaharaan bahasa mereka. Tidaklah lenyap bahasa Arab melainkan ketika kita melalaikannya.

Pengetahuan anak akan bahasa Arab membantu mereka dalam memahami makna kitab dan sunah. Oleh karena itu kita harus konsentrasi pada sisi ini dengan perhatian yang besar.

&

LANGKAH 14 TERAPILAH EMOSI ANAK

30 Sep

30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama
Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi; IslamHouse.com

Pada fase pertama, anak memiliki keistimewaan emosional baik pada perkara penting maupun sepele. Di antara perkara penting yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

1. Takut.

Di antara kesalahan fatal yang dilakukan oleh kebanyakan orang tua adalah menakut-nakuti anak dengan kegelapan atau pencuri misalnya. Ini adalah perkara yang salah. Tidak seharusnya ditakut-takuti seperti itu, karena akan berdampak buruk. Hal itu akan menyebabkan gangguan kejiwaan, mengompol, depresi dan kelabilan. Justru semestinya menciptakan suasana aman ketika bersama kita dan mengaitkan perasaan takut hanya kepada Allah saja.

2. Marah
Terkadang anak marah kepada ayah dan ibunya. Di antara bentuk ekspresi dari kemarahan itu bisa dengan tidak mau makan. Pemicunya bisa jadi hinaan dan kritik. Kemarahan seperti ini tidak termasuk kedurhakaan, karena pada fase ini mereka belum mumayiz (Belum dapat membedakan antara kebenaran dengan keburukan yang sederhana). Jika putra dan putri anda marah, tinggalkan dia dan jangan ditanggapi. Merupakan kesalahan besar memenuhi segala keinginannya hanya karena kemarahannya. Yang semestinya adalah menjelaskan kepadanya mengenai kesalahannya dengan cara yang sederhana ketika dia sudah mulai tenang.
Kita juga mesti mendidik anak kita jika kita marah. Kita akan marah jika berhubungan dengan hak-hak Allah. Raut wajah akan berubah jika melihat kemungkaran yang tidak bisa diubah baik dengan lisan ataupun tangan.

Contoh Praktis Dan Kisah Dalam Hal Ini

1. Abdulaziz Ibn Marwan mengutus putranya, Umar ke Madinah untuk belajar adab. Ia menugaskan pengajarannya kepada Solah Ibn Kaisan dengan kesepakatan harus melaksanakan shalat. Suatu hari Umar terlambat shalat, sehingga ditanya oleh Solah:
“Apa yang membuatmu terlambat?”
“Tukang sisirku menyisiriku.” Jawabnya.
“Hanya menyisir rambut sampai mengganggu shalatmu?” Ungkap Solah kesal. Solah pun menulis surat kepada ayahnya. Sehingga ayahnya mengirim utusan dan tidak berbicara sampai menggunduli rambut Umar putra khalifah. (Siar a’lam an-Nubala 5/116)

3. Kecemburuan
Cemburu merupakan salah satu sifat yang melekat dalam jiwa. Ada anak berkata: “Ayah lebih sayang kepada adik bungsuku…” Itu merupakan gambaran kecemburuan.
Kedua orang tua mestilah memperhatikan sisi ini dengan perhatian yang besar, dengan cara memberikan setiap anak hak-haknya tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lain. Agar tidak lahir permusuhan dan kedengkian di antara mereka. &

LANGKAH 13 PERHATIKAN PAKAIAN ANAK ANDA

30 Sep

30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama
Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi; IslamHouse.com

Pakaian penting dalam membentuk kepribadian anak. Sudah seharusnya kita memperhatikannya agar sesuai dengan standar syariat yang sudah jelas tanpa berlebih-lebihan maupun menyepelekannya. Karena itulah para Salafussoleh begitu perhatian dalam hal ini dan tidak melalaikannya.

Contoh Praktis Dan Kisah Yang Menunjukkan Pentingnya Pakaian Dalam Pembentukan Kepribadian Anak

1. Imam Malik berkata:
“Aku berkata kepada Ibuku: ‘Aku akan pergi untuk mencatat ilmu?”
“Kemari, pakailah pakaian penuntut ilmu!” Beliau pun memakaikanku pakaian musyammar (Pakaian musyammar maksudnya pakaian yang dipakai oleh orang yang akan melakukan pekerjaan serius, lengan tergulung dan tidak menjuntai kelantai). dan memakaikan kopiah dengan serban di atasnya, kemudian berkata:
‘Sekarang pergilah!’ Dan berkata: ‘Pergilah kepada Robi’! Pelajarilah adabnya (akhlaknya) sebelum mempelajari ilmunya.” (Sholahul Ummah, Sayyidul Afâni 7/70)

2. Muhammad Ibn Auf berkata:
“Aku bermain bola. Bola masuk ke tempat al-Muafa Ibn Imran al-Hamsha. Aku pun masuk ke tempat al-Muafa untuk mengambilnya. Imran bertanya:
“Putra siapakah engkau?”
“Putra Auf Ibn Sofyan.” Jawabku.
“Sesungguhnya ayahmu itu adalah saudara kami, yang menulis Hadits dan ilmu. Ia mirip denganmu. Ikutilah apa yang dahulu ayahmu lakukan!…”
Aku pun pulang mendatangi ibuku dan aku sampaikan apa yang baru saja terjadi. Ibu berkata:
“Benar, dia adalah sahabat ayahmu.” Ibu pun memakaikanku kemeja dan sarung. Kemudian aku mendatangi al-Muafa untuk belajar dengan membawa tempat tinta dan kertas.” (Siar a’lam an-Nubala 12/615)

&

LANGKAH 12 MENJADI DERMAWAN DENGAN LEBIH MENDAHULUKAN SAUDARANYA KETIMBANG DIRINYA SENDIRI

30 Sep

30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama
Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi; IslamHouse.com

Anak-anak pada fase pertama memiliki keistimewaan menyukai kepemilikan. Itu merupakan naluri yang melekat pada setiap anak manusia. Oleh karena itu kedua orang tua hendaknya mengarahkan naluriah tersebut dengan menanamkan kebaikan kaum Anshar, yang dipuji Allah dalam firman-Nya:
“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS.al-Hasyr:9)
Yaitu dengan itsar (mendahulukan orang lain). Menanamkannya pada diri mereka dengan praktek langsung maupun tidak langsung, seperti dengan menyampaikan kisah-kisah yang mendorong untuk melakukan itsar.

Contoh Praktis Dan Kisah Yang Menunjukkan Pentingnya Membekali Anak Dengan Itsar Dalam Membangun Kepribadian

1. “Ketika kaum Muhajirin tiba di Madinah, Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- mempersaudarakan antara Abdurrahman Ibn Auf dengan Sa’ad Ibn ar-Rabi’. Berkatalah Sa’ad kepada Abdurrahman Ibn Auf:
“Aku adalah orang Anshar yang paling berharta. Hartaku aku bagi dua denganmu. Aku juga memiliki dua istri, lihat mana yang engkau sukai dari keduanya dan katakan kepadaku, aku akan menceraikannya, jika selesai masa iddahnya (Iddah adalah masa tunggu seorang wanita setelah cerai dari suaminya. Pada masa itu sang wanita tidak boleh dipinang atau menikah. Waktunya tiga kali masa haidh atau suci dari haidh) nikahilah dia.”
Abdurrahman menjawab:
“Semoga Allah memberkahi dirimu, keluarga dan hartamu (Abdurrahman menolak dengan halus –pent) . Di mana pasar kalian?”
Orang-orang menunjuk pasar Bani Qoinuqo. Tidak berselang waktu, Abdurrahman sudah memiliki kelebihan sandang dan makanan.” (Al-Bukhari no.3780. Fathul Bâri 7/486)

Dikeluarkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah -radiallahu’anhu-, dia berkata:
“Orang-orang Anshar berkata kepada Nabi -shalallahu alaihi wasallam-:
‘Bagikanlah pohon-pohon kurma kami kepada saudara-saudara kami Muhajirin!’
Nabi berkata: “Cukup bagi kami pengayoman dari hasil buahnya?”
Para Anshar berkata: “Kami dengar dan kami taati.” (Al-Bukhari no.3782 Bâr Ikha an-Nabi Muhajirin wal Anshar. Al-Fath 7/486)

Contoh Praktis

Putra anda memiliki uang di tabungannya. Pada suatu hari ajaklah dia bersama anda mengunjungi lembaga sosial yang memberikan bantuan dan pertolongan kepada orang fakir dan terlantar. Berinfaklah anda di hadapannya. Diperjalanan sekembalinya dari sana, ceritakan mengenai penderitaan anak-anak yang seumur dengannya, kemudian usulkan bagaimana jika besok dia sendiri yang berinfak walau sedikit. Anda akan dapatkan dia begitu peduli tanpa ragu. Hal itu karena dia melihat praktek nyata di hadapannya.

&

LANGKAH 11 SUKA BERKOMPETISI

30 Sep

30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama
Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi; IslamHouse.com

Pada fase pertama, anak memiliki keistimewaan menyukai kompetisi di antara mereka. Kita hendaknya mengarahkan kompetisi itu dalam perkara yang mulia
“Untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS.al-Muthaffifîn:26)
Seperti berkompetisi dalam ketaatan semisal: shalat, puasa dan amalan-amalan sunah lain. Semua itu kita jadikan ajang kompetisi.

Contoh Praktis Dan Kisah Yang Menunjukkan Pentingnya Kompetisi Ketaatan Dalam Membangun Kepribadian Anak

1. Samuroh Ibn Jundab -radiallahu’anhu- berkata:
Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- mengumpulkan remaja-remaja Anshar. Jika beliau menganggap ada dari mereka yang telah balig, beliau akan mengizinkannya ikut berperang. Pada suatu tahun aku mengajukan diriku. Turut pula mengajukan diri seorang remaja lain dari Anshar. Beliau mengizinkan remaja itu dan menolakku. Aku pun berkata:
“Engkau telah mengizinkan anak yang jika aku gulati niscaya aku akan mengalahkannya.”
Nabi berkata: “Gulati dia.” (Musnad ar-Rumâni II/78)

2. Abdurrahman Ibn Auf -radiallahu’anhu- berkata:
“Aku tengah berada dalam saf peperangan Badar. Ketika menoleh ke kanan dan kiriku ada dua orang pemuda. Aku merasa cemas dengan keberadaan mereka dalam peperangan. Seorang dari mereka berbisik kepadaku:
“Wahai paman, tunjukkan kepadaku yang mana Abu Jahal!”
“Wahai putra saudaraku, apa yang akan engkau lakukan dengannya?” Tanyaku.
“Wahai paman, aku telah berjanji kepada Allah, jika melihatnya aku akan membunuhnya atau mati karenanya.” Jawab pemuda itu.
Seorang lagi berbisik seperti itu pula. Masing-masing tidak mau yang lain mengetahuinya. Sehingga tidak ada yang membuatku senang, selain berada di antara keduanya. Aku pun menunjukkan yang mana Abu Jahal. Keduanya pun melesat seperti dua ekor elang dan menyerang Abu Jahal. Kedua pemuda itu adalah putra Afro’.” (Al-Bukhari no.3988. kitab: al-Maghazi)

3. Disebutkan oleh Ibnu Jarir dalam kitab tarikhnya dari jalan Saif dari Abdullah Ibn Syabramah dari Syaqiq, dia berkata:
“Kami menyerbu al-Qodisiah tengah hari. Ketika mundur waktu telah masuk waktu shalat, sedangkan muazin dalam keadaan terluka. Orang-orang pun ingin menggantikan muazin, hingga hampir-hampir saling berperang. Saad -radiallahu’anhu- akhirnya melakukan undian di antara mereka, sehingga terpilih salah seorang dari mereka dan dikumandangkanlah adzan (Hayatus Sohahab IV/154).

&

LANGKAH 15 DIDIK AGAR MEMILIKI KECEMBURUAN TERHADAP AGAMA

30 Sep

30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama
Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi; IslamHouse.com

Sudah semestinya para orang tua mendidik putra-putrinya agar memiliki kecemburuan terhadap agama ini, dan itu adalah metode yang dilakukan oleh generasi salaf (Salaf secara harfiah artinya terdahulu. Maksudnya adalah tiga generasi pertama Islam; generasi sahabat Nabi, Tabi’in dan Tabi’ut tabi’in –pent) umat ini dahulu.

Langkah-langkah praktis menghidupkan kecemburuan terhadap agama pada jiwa putra-putri kita:

1. Menceritakan kisah-kisah dan permisalan-permisalan anak-anak kecil di masa Sahabat dan Tabi’in akan betapa besarnya kecemburuan mereka terhadap agama ini.
2. Biarkan mereka menyaksikan apa yang dilakukan musuh-musuh agama ini terhadap anak-anak seusia mereka dari anak-anak kaum muslimin; seperti yang terjadi pada anak-anak di Palestina.
3. Menyemangati dan memotivasi dengan pemberian hadiah.

Contoh Praktis Dan Kisah Yang Menunjukkan Pentingnya Menanamkan Kecemburuan Terhadap Agama Dalam Jiwa Anak

1. Abdurrahman Ibn Auf -radiallahu’anhu- berkata:
Ketika berada dalam saf pada peperangan Badar, aku mendapatkan di kanan dan kiriku dua orang pemuda belia dari kalangan Anshar. Aku berharap berada dekat dengan keduanya. Salah seorang memberi isyarat kepadaku dan berkata:
“Wahai paman, tahukah engkau yang mana Abu Jahal?”
“Apa yang ingin engkau lakukan dengan Abu Jahal wahai putra saudaraku?” Tanya Abdurrahman.
“Aku dengar dia mencerca Rasulullah. Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, jika aku melihatnya tidak akan aku biarkan dia lepas dari dariku hingga terbunuh.” Jawab pemuda itu. (Al-Bidayah wa an-Nihahah Ibnu Katsir 3/288)
Point dari cerita di atas:
“Aku mendengar dia mencerca Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-.”

2. Anak-Anak Bahrain
Diriwayatkan bahwa anak-anak Bahrain bermain kasti. Seorang kepala uskup duduk menyaksikan. Ketika bola terjatuh mengenai dadanya, si uskup mengambilnya. Anak-anak meminta agar bola dikembalikan kepada mereka, tetapi sang uskup menolak. Salah seorang anak berkata:
“Aku memintamu mengembalikannya demi Zat yang telah mengutus Muhammad sebagai Rasul.”
Sang kepala uskup tetap menolak, bahkan mulai mencemooh Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-. Anak-anak itu pun naik pitam dan menyatroni sang kepada uskup dengan stik mereka dan memukulinya hingga tewas. Kejadian itu disampaikan kepada Umar Ibn al-Khatthab -radiallahu’anhu-. Sungguh Umar tidak pernah segembira mendengar penaklukan atau mendapatkan hasil rampasan perang seperti kegembiraannya ketika mendengar apa yang dilakukan anak-anak Islam itu dan berkata:
“Sekarang Islam telah mulia. Anak-anak kecil Islam ketika Nabinya dilecehkan murka dan membelanya.” (Manhaj Tarbiah Nabawiah, Muhammad Nur dengan sedikit perubahan)

&

LANGKAH 9 LANGSUNG MENGARAHKAN KETIKA ANAK MELAKUKAN KESALAHAN

29 Sep

30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama
Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi; IslamHouse.com

Pada fase awal, anak sulit membedakan mana yang benar dan yang salah, karena sedikitnya pengetahuan dan ilmu mereka. Hal ini menuntut kita untuk mengarahkan mereka ketika salah, membenarkannya serta melindungi mereka dari kejelekan, seperti ghozwul fikri (Invasi pemikiran) dan ghozwul tsaqofi (invasi budaya), dengan menyediakan alternatif yang sesuai agar tetap dapat berkhidmat terhadap agama ini meskipun berada di bawah bayang-bayang kampanye sengit dari musuh-musuh agama ini di seluruh belahan bumi.

Catatan yang mesti diperhatikan ketika menasihati kesalahan:
1. Hendaknya arahan mengandung kasih sayang terhadap anak yang melakukan kesalahan.
2. Menegur kesalahan tanpa masuk kepada kepribadian anak, hingga hasilnya tidak menjadi kebalikannya.
3. Memuji terlebih dahulu sebelum mencela, hal itu akan membuat perkataan anda lebih didengar.

Kisah Dan Permisalan Pentingnya Pengarahan Langsung Ketika Salah
1. Abu Hurairah -radiallahu’anhu-
“Hasan Ibnu Ali, (cucu Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-) mengambil buah kurma dari kurma sedekah dan memasukkan kemelutnya. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- berkata kepadanya:
“Khih, khih…!” agar memuntahkannya, seraya berkata:
“Apakah engkau tidak sadar bahwa kita tidak makan sedekah!.” (Al-Bukhari kitab: az-Zakah bab: Ma Yuzkar Fis Sodaqoh Linnabi Salallah Alai Wasallam no. 1491)

2. Anas -radiallahu’anhu- berkata:
“Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- adalah orang yang paling baik akhlaknya. Suatu hari beliau menyuruhku untuk suatu keperluan. Aku katakan: ‘Aku tidak akan pergi.’ Sementara dalam hati aku akan pergi melakukan apa yang diperintahkan Nabi. Aku pun pergi, dan berpapasan dengan anak-anak yang sedang bermain di pasar. Ternyata Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- telah memegang bahuku dari belakang dan memandangku sambil tertawa. Beliau berkata:
“Wahai Unais (Unais adalah panggilan kecil atau kesayangan untuk Anas)
, pergilah sebagaimana yang aku perintahkan.”
“Baik wahai Rasulullah, aku pergi sekarang.” Jawabku.
“Demi Allah, aku telah berkhidmat kepadanya selama 9 tahun, dan tidak pernah mendapatinya berkata: ‘Kenapa kamu lakukan demikian dan demikian’ atau berkata ‘Kenapa kamu tidak lakukan demikian dan demikian.” (Muslim no. 2309-2310 kitab: al-Fadhail bab: Kana Rasulullah Ahsanunnas Khuluqon)

3. Umar Ibn Salamah berkata:
“Ketika Aku dalam pengasuhan Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-, tangganku mengacak-acak nampan ketika makanan. Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- pun berkata kepadaku:
‘Nak, makanlah dengan menyebut nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan dari yang terdekat denganmu.’
Dan demikianlah cara makanku setelahnya.”

4. Said Ibnu Zubair memiliki ayam jantan yang berkokok setiap malam. Pada suatu malam ayamnya tidak berkokok sampai pagi, sehingga malam itu dia tidak shalat malam. Hal itu membebani pikirannya dan berkata:
“Ada apa dengan ayamnya, semoga Allah memutus suaranya.” Dia pun tidak pernah lagi mendengar suara ayam itu lagi setelahnya, sehingga ibunya berkata:
“Wahai putraku, janganlah engkau mendoakan keburukan pada apapun lagi setelah ini.” (Siar a’lam an-Nubala 4/323)

&