Sebab agar da’wah mudah di terima: Lebih lembut dan mencintai dengan cinta yang muncul dari dalam hati

6 Okt

Pilar Keberhasilan Seorang Da’i
Dr. Ali bin Umar bin Ahmad Ba Dahdah;
islamhouse.com

Sesungguhnya di sadari atau tidak bahwa rasa cinta itu akan mengantarkan kepada ketundukan dan kepatuhan kepada yang di cintainya. Mau mendahulukan semua perintah dari semua orang yang ada, mengikuti semua yang sesuai dengan hawa nafsunya, oleh karena itu para ulama bahasa memberikan pengertian rasa cinta ini dengan mengatakan bahwa rasa cinta itu adalah lebih mendahulukan orang yang di cintainya dari semua orang yang menjadi teman dirinya. Di katakan pula bahwa rasa cinta itu adalah sesuai dengan kemauan orang yang di cintainya baik ketika bersama maupun ketika dalam kesendirian.

Ada juga yang mengatakan: “Rasa cinta itu adalah bersatunya maksud antara orang yang di cintainya dan yang mencintainya”. Ada lagi yang memberi pengertian bahwa rasa cinta itu adalah mendahulukan kemauan kekasihnya dari pada kemauan dirinya sendiri. Di katakan juga: “Bahwa cintai itu yaitu usaha yang maksimal agar bisa di senangi oleh orang yang di cintainya”. (Raudhotul Muhibiin hal: 19-21.)

Sedangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Kecintaan yang sempurna dengan kemampuan yang di milikinya mengharuskan geraknya badan baik itu dengan ucapan atau perbuatan yang jelas sesuai dengan yang nampak pada tubuh, dari ucapan-ucapan dan perbuatan badan maka itu semua mengharuskan apa yang di dalam hati ikut serta”. (Majmu’ Fatawa 7/541.)

Oleh karena itu pengemban risalah selalu mencintai mad’unya (orang yang di da’wahinya), berupaya untuk bisa mendapat kecintaan mereka dan condongnya hati-hati mereka kepada dirinya, karena itu semua termasuk hal terbesar yang bisa membantu di terimanya kebenaran dari dirinya dan relanya mereka untuk mengikutinya, karena ia menyadari tanpa adanya rasa cinta tidak akan mungkin tercapai ta’tsir (kesan) yang positif yang menjadikan mereka rela mengikutinya, walaupun hujah itu telah tegak atas mereka dan dalil telah di terangkan namun di karenakan sikap dan sifat buruk seorang da’i akan menyebabkan mereka berpaling dari menerima da’wahnya, karena sesungguhnya jikalau ia benar-benar di dalam da’wahnya tentu ia akan memperoleh hasilnya yang indah sebagaimana yang telah Allah Ta’ala firmankan dalam kitabNya yang mulia:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu”. QS Ali ‘Imran: 159.

Maka, diterima dan diikutinya da’wah adalah bagian dan kandungan dari cinta yang teragung, adapun kedua hal tersebut pada sisi yang sama merupakan dampak dan bukti yang terbesar yang menunjukkan berhasilnya sebuah da’wah.

Dan ketika kecintaan tersebut telah mampu menguasai lingkungan -apapun lingkunganya- maka sungguh kecintaan tersebut akan mewariskan keterikatan yang sangat menakjubkan dengan kekasihnya yang akan mengantarkan seseorang untuk mengerjakan apa yang di perintahkan dengan senang hati walaupun terkadang perintah tersebut sangat membahayakan dirinya atau juga ia rela meninggalkan sesuatu yang menjadi kesukaanya sedangkan ia tahu bahwa itu adalah sesuatu yang sangat ia sukai, dan sampai pada sesuatu yang mencengangkan di mana seseorang yang telah jatuh cinta maka dirinya rela menanggung beban dan duka yang menimpa dirinya di sebabkan kecintaanya tersebut.

Inilah fenomena yang bisa kita lihat pada keadaan orang-orang yang sedang jatuh cinta dan mabuk kepayang, dan hal itu banyak sekali bertebaran dalam kisah dan cerita orang-orang yang sedang dilanda cinta, namun anehnya seseorang itu tidaklah mungkin bisa melihat atau meraba rasa cinta dan rindu tersebut. Namun ini adalah kenyataan yang hanya bisa di lukiskan dalam makna kalimat, maka kebanyakan dari orang yang di sedekahi akan lebih rindu kepada orang yang bermurah hati kepadanya itu sehingga terkadang ia tidak sabar lagi untuk bisa bertemu dengannya dengan harapan ada sesuatu yang bisa ia terima dari kedermawananya, sampai-sampai ia sudah tidak peduli lagi dengan celaan dan kritikan dari siapa pun, dan tidak peduli lagi dengan apa pun yang menghalanginya, adapun para perindu ilmu maka ia sanggup untuk mengatasinya, maka pada akhirnya rasa rindu adalah kerinduan kepada yang di cintainya dari setiap orang yang sedang di mabuk cinta. (Raudhotul Muhibiin hal: 69.)

Maka bisa kita di simpulkan bahwa pada asalnya setiap perkerjaan dan gerakan yang ada di dunia ini adalah bersumber dari adanya rasa cinta dan kemauan, maka itu adalah pokok setiap perbuatan dan permulaanya, sebagaimana marah dan benci adalah penyebab tercegah dan tertolaknya apa yang telah di satukan oleh sebab-sebab yang ada. (Jami’u Rasail wal Masail 2/193.)

Termasuk juga yang bisa menguatkan dampak dari rasa cinta untuk sesuai dan mau mengikutinya adalah tercapainya kelezatan, nikmat, bahagia, senang, dan sedap pada pandangan mata dengan sebab cinta itu sesuai dengan kandungan dan kekuatan rasa cinta, kemauan dan keinginan yang di milikinya. (Raudhotul Muhibiin hal: 155-156.)

Bila kita gabungkan kedua hal tersebut maka rasa cinta itu akan menyalakan api kerinduan menjadikan hati selalu sibuk dengan sang kekasihnya, akalnya selalu berpikir, maka kerinduan adalah akibat dari rasa cinta maka hukmnya sama persis dengan orang yang dilanda cinta, karena sesungguhnya orang yang sedang mabuk kepayang hatinya akan pergi melayang menuju ke tempat kekasihnya pada setiap waktu. (Tahdzib Madaariju Saalikin hal: 525.)

Demikianlah kita dapati bersama bahwa cinta itu memiliki dampak yang besar bagi pemikiran dan tingkah laku seseorang. Cinta serta keinginan adalah pondasi bagi semua agama, sama saja di dalam agama yang baik maupun agama yang buruk, karena pada intinya agama itu terbagi menjadi amalan bathin (hati) dan amalan yang dhohir (kelihatan) sedangkan cinta dan kemauan adalah pokok dari itu semua. (Jami’u Rasail wal Masail 2/218.)

Dan bilamana cinta adalah pondasi bagi setiap perbuatan apapun jenisnya, baik itu perbuatan yang baik maupun perbuatan yang salah, sedangkan cinta itu juga asas dari seluruh perbuatan yang ada dalam masalah agama dan yang lainnya (Ideem 2/235.) maka kita mengetahui betapa pentingnya hal ini, apa lagi dalam dunia da’wah.

Dan kalau sekiranya ada yang mengikuti hawa nafsunya bukan pada yang diridhoi oleh Allah Ta’ala maka ketahuilah bahwasanya dia sedang dalam bahaya yang sangat besar bahkan bisa jadi dia telah terjerumus di dalam kesyirikan yaitu seseorang yang sedang menuhankan hawa nafsunya, dan dia adalah tuhan yang bathil hal itu sebagaimana yang Allah Ta’ala gambarkan dalam firmanNya:

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya”. QS al-Jaatsiyah: 23.

Dengan demikian maka rasa cinta dan kasih sayang termasuk sebab terbesar yang membekas dalam kepribadian seseorang baik itu dampak yang negatif maupun positif, maka berangkat dari hal ini, adalah pentingnya menumbuhkan rasa semangat untuk memalingkan hati seseorang yang kemudian di isi dengan rasa cinta dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala karena dengan itu akan membantu mudahnya menerima kebenaran dan menerima da’wah, dan cinta jika di arahkan kepada Allah Ta’ala dan ketaatan kepadaNya maka itu adalah puncak terbesar yang mana kecintaan kepada Allah Ta’ala memiliki kedudukan yang di dalamnya orang yang sedang berlomba dalam kebaikan saling berpacu, kepada cinta itu seseorang akan melakukan apa pun demi cintanya, orang yang sedang berlomba itu akan mengarah ke alamat cinta tersebut, mengharapkan cintanya, dengan cinta ruhnya para ahli ibadah berterbangan, cinta adalah penguat hati, makanannya ruh, penyejuk mata.

Cinta juga sumber kehidupan yang barangsiapa di haramkan darinya maka dia seperti mayat yang hidup, cahaya yang bisa menyinari maka barangsiapa yang telah kehilangan cahayanya maka dia sedang berada di dalam laut kegelapan, obat yang jika orang itu telah kehilangan darinya maka akan menempel semua penyakit, kelezatan dunia yang barangsiapa tidak bisa merasakan maka hidupnya akan di penuhi bimbang dan kesedihan. (Tahdzib Madaariju Saalikin hal: 509.)

Adapun kebalikan dari itu semua adalah dia akan menolak kebenaran, bertolak belakang dengan akalnya, di karenakan tumbuh dari akhlak yang buruk, dan akan menampakan pada amalan perbuatanya dengan amalan yang buruk, membongkar penutup pintu muruah (kehormatan) dirinya, lalu menempuh jalan yang salah. (Adabu Dunya wa Diin hal: 33.)

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: