Sebab agar da’wah mudah di terima: Menyakinkan akal pikiran dengan hujah (dalil-dalil) secara ilmiah

6 Okt

Pilar Keberhasilan Seorang Da’i
Dr. Ali bin Umar bin Ahmad Ba Dahdah;
islamhouse.com

Hawa nafsu akan mengajak serta menjaga pemiliknya demikian pula akalnya -dengan izin Allah Ta’ala- , dan orang-orang yang berakal akan menghukumi akal-akal mereka dengan hawa nafsu mereka. Dan adanya perubahan ini pada diri seseorang yang pada dasarnya hati itu menyukai adanya suatu perbuatan yang bisa membantu dirinya secara langsung dan bisa menyenangkan hawa nafsunya sehingga pada akhirnya ia memilih suatu jalan yang akan di tempuhnya.

Akal yang jernih akan berpikir sebelum mengerjakan suatu perkara demikian pula mempelajari akibat apa yang akan di dapatnya jika tetap melakukanya, sehingga ia mampu mengekang hawa nafsunya, karena jika hawa nafsu itu sudah menguasai dirinya serta sudah menjadi kebiasaan dirinya untuk mengikuti kemauannya, maka sudah barang tentu ia akan di antarkan ke dalam pintu kebinasaan. Namun manakala akalnya mampu mengawasinya dengan usaha yang maksimal telah di lakukan, memperhatikan ketergelinciran akalnya, lalu berusaha menolak dengan secepat mungkin dan mengoreksi akan kesalahan yang di lakukanya (maka ia akan selamat), karena sesungguhnya kekuatan yang di miliki oleh hawa nafsu itu sangatlah kuat sedangkan pintu masuknya sangatlah samar dan tersembunyi. (Ideem hal: 35.)

Maka bisa di gambarkan bahwa akal itu -jika diibaratkan sebuah negeri- bisa selamat dari hawa nafsu, maka akal tersebut bisa membantu dan menolongnya, sebagaimana kalau sekiranya negerinya itu yang menguasai adalah hawanya maka sudah bisa di pastikan akalnya tersebut akan menjadi tawanan hawa nafsunya, bukanya ia yang menghukumi namun kebalikannya malah dia yang akan di hukumi oleh hawa nafsunya. (Raudhatul Muhibiin hal: 10.)

Dan permisalan hawa nafsu tidak lain hanyalah seperti binatang buas yang di ikat dengan rantai di punggungnya, yang mana jika ia kuat mengikatnya maka itu sudah cukup bagi dirinya untuk menguasainya, ada kalanya syahwatnya (hawanya.pent) mengambil semua yang ada pada dirinya dan mengalahkanya dan tidak mampu rantai tersebut mengekangnya maka hawanya akan lepas bebas melakukan sesukanya, sedangkan manusia tersebut berbeda satu sama lainya, ada orang yang harus mengekang hawa nafsunya tersebut dengan tali rantai dan ada pula yang hanya cukup dengan tali biasa. (Shaidul Khathir hal: 164.)

Sehingga adakalanya pada sebuah da’wah ada yang dimulai dengan tidak disertai cinta tidak pula dengan hati yang senang namun ia mampu menjelaskan dalil dan menegakkan hujjah sehingga tercapailah rasa yakin pada akal orang yang mendengarnya, yang mana itu akan menghiasi perbuatan atau pun pemikiran bagi hati sehingga hasilnya akan menjadikan langsung jatuh cinta kepadanya. Maka bisa di katakan bahwa keyakinan memiliki dampak yang tidak bisa di pungkiri untuk menjadikan seseorang itu bisa mengambil apa yang sesuai dengannya, mengambil pemikiran yang cocok, senang untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan yang di sukainya, atau bahkan ada yang membenci suatu perbuatan tersebut, itulah kelebihan dari akal yang sehat yang mana ia merupakan penggerak amalan yang paling terpenting.

Maka tidaklah akal itu di namakan akal kecuali jika ia mengetahui kebenaran atau kebaikan kemudian ia akan bersegera mencarinya lalu mengikutinya dan mengenali kejelekan lalu meninggalkannya, oleh karena itu jika ada orang yang mengerjakan apa yang ia sendiri tidak tahu bahwa apa yang kerjakannya tersebut akan membahayakan dirinya maka orang seperti ini tidak bisa di katakan sebagai orang yang mempunyai akal. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 7/24.)

Cinta dan akal pikiran jika bersatu maka akan memiliki dampak yang luar biasa namun jika keduanya berbeda dan cinta lebih berat dari pada akalnya maka akal pikirannya pun tidak sanggup lagi menghukumi kerusakan yang di lakukan oleh cinta, lantas keduanya pun akan saling mengalahkan dengan kekuatan yang di milikinya, yang kemudian salah satunya ada yang menguasainya.

Terkadang akal pikiran mampu mengetahui bahaya dari perbuatan yang di lakukanya namun di karenakan lemahnya akal pikiranya dan telah terkalahkan oleh hawa nafsunya yang telah meracuni dengan cinta kelezatan serta syahwatnya yang kuat (sehingga ia pun mengekor hawa nafsunya) maka ini adalah merupakan kebodohan yang besar karena ia mengerjakan suatu amalan namun berbeda dengan ilmu yang telah di ketahuinya, sampai-sampai ada orang yang mendahulukan perbuatan yang ia ketahui merugikan dirinya lantas mencampakan perbuatan yang dapat memberi manfaat pada dirinya.

Hal itu terjadi manakala yang ada dalam dirinya adalah kebencian dan permusuhan pada perorangan dan perbuatan tertentu, sehingga ketika ia dalam keadaan seperti ini maka tidak bisa di katakan sebagai orang yang tidak memiliki ilmu dan orang yang percaya seratus persen, namun ketika yang ada dalam dirinya kebencian dan hasad (iri dan dengki) maka ia akan mengalahkan yang menjadi keharusan dirinya sedangkan kewajiban dan hasil itu tidak mungkin bisa tercapai dengan sendirinya, tapi semuanya di filter di dalam hati, rasa cinta yang akan mencintai sesuatu yang memberi manfaat bagi dirinya dan benci segala sesuatu yang akan membahayakanya, maka jika sampai terjadi pada hatinya sakit yang menjadikan rusaknya hati maka pada akhirnya ia akan menyenangi apa yang membahayakanya dan membenci apa yang memberi manfaat pada dirinya, yang mana menjadikan hati itu seperti orang sakit yang memakan sesuatu yang membahayakan di karenakan syahwat yang ada pada dirinya sedangkan ia mengetahui secara pasti bahwa itu sangat membahayakan dirinya. (Ideem 7/540.)

Dan hawa nafsu yang di umbar akan mengajak kepada kelezatan sementara tanpa memikirkan akibat yang akan di deritanya, memalingkannya supaya lebih menyukai kepada syahwat yang mudah di rasakan, walaupun itu bisa menyebabkan rasa sakit dan kerugian pada hari esok serta mencegah kelezatan-kelezatan yang ada. (Dzamul Hawa hal: 12-13.)

Ini semua menjelaskan kepada kita semua dampak dari akal yang telah meyakini sebuah pemikiran dan tingkah laku, dengan tidak meremehkan dampak yang di akibatkan oleh hati dan kelemahlembutannya, yang jika beruntung maka akan menjadikan lebih kuat dalam hasilnya atau jika tidak maka nantinya akan di dapati saling mengalahkan satu dengan lainya yang pada akhirnya ada yang terkalahkan

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: