Sebab agar da’wah mudah di terima: Sebagai contoh hidup dan sosok teladan yang aktif

6 Okt

Pilar Keberhasilan Seorang Da’i
Dr. Ali bin Umar bin Ahmad Ba Dahdah;
islamhouse.com

Tidak bisa di sembunyikan lagi dampak yang bisa di ambil dari sosok teladan karena pada dasarnya ia merupakan sosok yang menjelaskan dalam bentuk gambaran yang hidup bagi sebuah pemikiran, dan penerapan ucapan dalam sebuah da’wah, serta penjelas yang bisa menjelaskan sejelas-jelasnya bagi sebuah hujjah (dalil). Tidak perlu di ragukan lagi bahwa menjadi sosok teladan termasuk sebab yang besar yang akan menumbuhkan kecintaan seseorang dalam hati, dan munculnya rasa percaya dan yakin dalam akal pikiran.

Dan kebanyakan orang yang di da’wahi bisa mengambil manfaat dari para da’i dengan kisah perjalanan hidupnya yang baik apa lagi orang-orang awam dan orang-orang yang ilmunya sedikit, maka sesungguhnya mereka mengambil manfaat dari perjalanan hidup seorang da’i dan akhaknya yang indah serta amal sholehnya yang tidak mereka dapati dari ucapan dan perkataanya yang mana terkadang mereka bahkan tidak memahaminya. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 3/110.)

Kebalikannya dari ini kalau seandainya di dapati adanya saling mencintai, dan hujah dari dalil-dalil yang ada pun telah di jelaskan, demikian pula ia sudah berusaha dan berkorban untuk da’wahnya namun di sayangkan sekali ia menyelisihi ucapan yang terkandung dalam kalimat da’wahnya dan tidak bisa menjadi teladan bagi orang lain dan di tambah lagi adanya suatu hal yang saling bertolak belakang dengan kandungan da’wahnya maka dampaknya akan menjadikan lemahnya ta’tsir (hasil) dan berkurangnya kecintaan kepada dirinya, dan tergoncangnya rasa percaya yang sudah ada. seperti halnya telah kita ketahui bahwasannya mencontoh dengan perbuatan-perbuatan –ini berkaitan dengan orang yang sudah biasa di agungkan oleh manusia- adalah kejelekan yang muncul dari kebiasaan manusia, mereka tidak mampu untuk menolaknya dengan sisi dan keadaan mana pun apalagi ketika perbuatan tersebut selalu berulang-ulang. (al-Muwafaqoot 4/248-249.)

Semoga Allah Ta’ala merahmati Imam Ibnul Qoyim yang telah menjelaskan dengan penjelasan yang sangat bagus tentang perbedaan keadaan ini secara hakikat yang sebenarnya dimana beliau mengatakan: “Para ulama su’u (ulama yang buruk) mereka (pada gambaranya) seperti orang yang sedang duduk di depan pintu surga, mengajak manusia untuk masuk ke dalam surga dengan perkataan dan nasehat-nasehat mereka, (namun) kebalikannya mereka juga mengajak manusia untuk masuk ke dalam neraka dengan perbuatan-perbuatan mereka, mana kala mereka berkata dengan perkataan kepada manusia sambil mengatakan kemarilah tapi berkata pula perbuatan-perbuatan mereka sambil mengatakan janganlah kalian dengarkan kami, kalau seandainya apa yang mereka seru itu adalah benar maka seharusnya merekalah orang-orang pertama yang memenuhi (ajakannya tersebut), mereka dalam pandangan mata sebagai orang-orang yang (pandai berdalil) namun pada kenyataanya mereka adalah sedang memotong jalan”.

Sangat bagus apa yang di lakukan oleh Harm bin Hayaan manakala beliau memperingatkan dari seorang ulama yang fasik maka Umar bin Khatab semoga Allah meridhoinya menulis surat kepadanya menanyakan apa maksud dari perkataanya tersebut, beliau menjawab: “(Maksudnya) ada orang yang menjadi imam (ulama) di mana ia berkata dengan ilmunya namun beramal dengan (amalan) yang fasik, sehingga memberi kesamaran kepada manusia yang pada akhirnya menyesatkan mereka”. (Nuzhatul Fudholaa 1/328-329.)

Pada kebanyakan keadaan terkadang teladan yang baik sudah cukup bagi dirinya untuk tidak menggunakan lagi berbagai macam sarana untuk mengajak dan mengiming-imingi orang dan mencari sebab-sebab yang bisa menumbuhkan rasa simpati kepadanya, demikian pula sedikit dalam memperbanyak istidlal (menggunakan dalil), dan bersusah payah menegakkan hujah, diskusi dan debat, karena hal itu bisa tercapai dari adanya teladan yang banyak mereka lihat secara langsung dengan rutin dan adanya gambaran contoh yang lebih jauh menancap dalam benak mereka.

Yang mana bahwa seorang sosok yang menjadi teladan bisa membantu terbentuknya secara cepat pada anak didiknya yang terkadang sudah tidak perlu lagi menggunakan pengarahan dari luar. (al-Qudwah mabaadi wa Namaadzij hal: 11.)

Di karenakan seorang yang dapat dilihat dan ditiru akan berada di atas secara sempurna pada jiwa orang yang melihatnya dan akan memiliki masukan yang luas secara lebih besar baik itu dari segi simpatinya, rasa kagum, senang kepadanya dan kecintaanya. Dan dengan adanya perkara-perkara semua inilah yang dapat membangkitkan rasa cemburu yang terpuji dan persaingan yang sehat. (Ideem hal: 8.)

Maka pada kesempatan seperti itu tercapailah hasil atau dampak yang bisa membekas pada jiwa mereka di barengi dengan kesanggupan dirinya menjadi contoh nyata pada mereka sehingga menjadikan da’wahnya lebih mudah dan berpeluang besar untuk bisa di terima secara mudah dan tiba-tiba (begitu saja karena mudahnya).

Sampai jika engkau mampu menjadi contoh untuk diikuti tanpa adanya permintaan maka hal itu bisa (hanya dengan memberi contoh nyata) dan cukup atasmu untuk tidak lagi meminta mereka mengerjakan pada kebanyakan amalan. (Al-Muwafaqaat 4/270-271.)

Sangatlah indah apa yang di katakan oleh Imam Ibnul Qoyim di mana beliau mengatakan: “Sesungguhnya manusia terkadang mereka telah mengucapkan (sebuah) kalimat yang indah (bagus) maka siapa yang mencocoki perkataanya dengan perbuatannya maka itulah yang telah mendapat bagianya dan siapa yang menyelisihi perkataanya dengan perbuatannya maka pada kenyataanya sesunggguhnya ia sedang membuka aib dirinya sendiri”. (Al-Fawaid hal: 192.)

Dan dengan ini maka sempurnalah bagian-bagian yang bisa mendorong tercapainya dampak atau hasil (di dalam da’wah) yaitu jika telah terkumpul bersama cinta (menyukai) pekerjaannya dan rasa yakinya akal pikiran dengan hasilnya dan faidah-faidah yang di sebabkanya, terus di tambah lagi dari yang dua tadi dengan adanya teladan yang dapat memberi contoh langsung pada kedua hal tersebut maka sesungguhnya hasil untuk memberikan dampak pada mereka bisa di katakan telah sampai pada derajat yang sempurna.

Maka di sini harus adanya pengingat akan pentingnya keteladanan ini dan bahayanya jika tidak ada teladan pada medan da’wah di mana manusia mampu untuk menjadi seorang yang pakar dan menjadi orang yang benar-benar ahli dalam ilmu kimia atau ilmu pengetahuan atau ilmu kedokteran atau arsitektur atau ilmu-ilmu lainnya dari ilmu-ilmu yang Allah Ta’ala telah memperintahkan kepada kita semua untuk mempelajari guna untuk mengisi kehidupan di dunia ini, namun ilmu-ilmu ini tidak mengharuskan kepada kita (atau orang-orang yang mempelajarinya) untuk berada pada tingkah laku tertentu, karena terkadang ada orang yang menjadi pakar pada salah satu cabang dari ilmu-ilmu di atas namun tingkah lakunya hanya berada pada hawa nafsunya akan tetapi ini tidak merusak kenyataan bahwa dia seorang yang pakar pada ilmu yang di milikinya di karenkan tumbuh dari (ilmu) yang tidak membatasai pada akhlak dan tingkah laku tertentu, kecuali (satu) yaitu ilmu agama sesungguhnya jika kamu salah satu dari ulamanya atau seorang penyeru kepadanya atau orang yang beragama dengannya secara tulus maka mengharuskan baginya untuk menjadi qudwah hasanah (contoh yang baik) sesuai dengan apa yang ia ajak kepadanya kalau tidak maka jangan berharap ada orang yang mau mendengarkannya. (Ad-Da’wah Qawaid wa Ushul hal: 111.)
Sungguh indah perkataan seorang penyair:

Janganlah engkau melarang sesuatu namun engkau mengerjakannya
Aib bagi dirimu jika engkau tetap melakukannya

Cukuplah bagi seorang muslim dari firman Allah Ta’ala:

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. QS ash-Shaaf: 2-3.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: