Urgensi ikhlas dan Mutaba’ah (mengikuti tuntunan)

9 Okt

Tauhid Uluhiah
Muhammad Ibn Ibrahim al Hamd; Islamhouse.com

Di antara yang menunjukkan urgensi ikhlas dan mutaba’ah, yang merupakan syarat diterimanya ibadah sebagai berikut:

1. Allah Shubhanahu wa ta’alla memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah hanya kepada -Nya. Sebagaimana Firman -Nya,

“…dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada -Nya.…” (QS.al-A’raf:29)

2. Allah Shubhanahu wa ta’alla mengkhususkan diri -Nya dalam pensyariatan dan itu adalah hak -Nya semata. Siapa yang beribadah kepada –Nya dengan sesuatu yang tidak disyariatkanya, maka telah menyekutukan Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam pensyariatan. Allah Ta’ala berfirman,

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu agama sebagaiaman yang telah diwasiatkan -Nya kepada Nuh dan yang telah Kami wahyukan kepadamu….” (QS.as-Syuro:13)

Dan firman -Nya,

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan -Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan -Nya….” (QS.al-An’am:153)

Allah mengingkari siapa yang membuat syariat sendiri. Firman Allah ta’ala,

“Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?…” (QS.as-Syuro:21)

3. Allah telah menyempurnakan agama untuk kita dan meridainya untuk kita. Sebagaimana Firman -Nya,

“…pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat -Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu….” (QS.al-Maidah:3)

Bid’ah dalam agama pada hakikatnya pengingkaran terhadap Allah Shubhanahu wa ta’alla dan Rasul -Nya dan menuduh agama memiliki kekurangan.

4. Seandainya manusia dibolehkan beribadah dengan tata cara yang mereka kehendaki, maka setiap orang akan memiliki caranya sendiri-sendiri dalam beribadah, dan kehidupan manusia menjadi neraka tak tertahankan. Persaingan berlaku dan saling menjatuhkan karena adanya perbedaan rasa, yang mengakibatkan perselisihan dan perpecahan. Ittiba (mengikuti tuntunan) dan meninggalkan bid’ah merupakan sebab terbesar kekompakan dan persatuan.

5. Seandainya manusia dibolehkan mengibadahi Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan tata cara semaunya, itu berarti manusia tidak membutuhkan Rasul. Ini tidak dikatakan oleh orang berakal. (Pernyataan ini diambil dari Mudzakaroh fit Tauhid oleh Syaikh Dr.Abdullah Jasir.)

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: