Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Ankabuut ayat 47-49 (18)

14 Okt

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ankabuut (Laba-Laba)
Surah Makkiyyah; surah ke 29:69 ayat

tulisan arab alquran surat al ankabuut ayat 47-49“47. dan demikian (pulalah) Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran). Maka orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka Al kitab (Taurat) mereka beriman kepadanya (Al Quran); dan di antara mereka (orang-orang kafir Mekah) ada yang beriman kepadanya. dan Tiadalah yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang kafir. 48. dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). 49. sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.” (al-Ankabuut: 47-49)

Ibnu Jarir berkata: “Allah telah berfirman: ‘Sebagaimana Kami telah turunkan kitab-kitab kepada para Rasul sebelummu hai Muhammad, Kami pun menurunkan kitab ini kepadamu.’” Pendapat yang dikemukakannya ini adalah baik dan sesuai serta keterikatannya sangat bagus. Dan firman Allah: fa aatainaaHumul kitaaba yu’minuuna biHi (“Maka orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka al-Kitab [Taurat], mereka beriman kepadanya [al-Qur’an].”) yaitu orang-orang yang menerimanya, lalu membacanya dengan benar di antara pendeta-pendeta mereka adalah para ulama yang pandai seperti ‘Abdullah bin Salam, Salman al-Farisi dan tokoh-tokoh seperti keduanya.

Dan firman Allah: wa min Haa-ulaa-i may yu’minu biHi (“Dan di antara mereka ada yang beriman kepadanya.”) yaitu orang Arab Quraisy dan lain-lain. Wa maa yajHadu bi aayaatinaa illal kaafiruun (“Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang kafir.”) yakni tidak ada yang mendustakan dan menentang kebenarannya kecuali orang yang menutupi kebenaran dengan kebathilan serta menutupi cahaya matahari dengan washilah.

Kemudian Allah berfirman: wa maa kunta tatluu min qabliHii min kitaabi wa laa takhuthuHuu biyamiinika (“Dan kamu tidak pernah membacakan sebelumnya [al-Qur’an] sesuatu Kitab pun dan kamu tidak [pernah] menulis suatu kitab dengan tangan kanannya.”) yaitu engkau telah tinggal bersama kaummu, hai Muhammad, sebelum engkau diberikan al-Qur’an ini beberapa masa, engkau belum pernah membaca kitab dan engkau tidak pandai menulis. Bahkan, setiap satu orang di antara kaummu mengetahui bahwa engkau adalah seorang yang ummi, tidak pandai membaca dan menulis serta demikianlah sifatnya yang tertulis dalam kitab-kitab terdahulu, sebagaimana Allah berfirman yang artinya:
“(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar.” (al-A’raaf: 157)

Allah berfirman: wa maa kunta tatluu (“Dan kamu tidak pernah membaca.”) yaitu membaca; min qabliHii min kitaab (“Sebelumnya [al-Qur’an] suatu kitab pun.”) untuk memperkuat ketiadaan. Sedangkan tidak pula engkau menulis dengan tangan kananmu adalah ta’kid [penguat] dan keluar dari daerah kebiasaan, seperti firman Allah Ta’ala: wa laa thaa-iriy yatiiru (“Dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya.”) (al-An’am: 38)

Firman Allah: idzaa lartaabal mubthiluun (“Benar-benar ragulah orang yang mengingkari[mu].”) yaitu seandainya engkau memperbaikinya, niscaya ragulah orang-orang jahil, lalu ia berkata: “Sesungguhnya engkau mengetahui ini hanyalah dari kitab-kitab terdahulu yang ditinggalkan para Nabi.” Padahal mereka mengatakan hal demikian dalam keadaan mereka mengetahui bahwa Nabi Muhammad adalah seorang yang ummi, tidak pandai menulis.

Dia berfirman: bal Huwa aayaatum bayyinaatun fii shuduuril ladziina uutul ‘ilma (“Sebenarnya, al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.”) al-Qur’an ini adalah ayat-ayat yang jelas dan tegas dalam menunjukkan kebenaran, baik perintah, larangan ataupun informasi yang dijaga oleh para ulama serta dimudahkan oleh Allah bagi mereka yang menghafal, membaca dan menafsirkan. Sebagaimana Allah berfirman: wa laqad yassarnal qur-aana lidzdzikri faHal mim muddakir (“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”)(al-Qamar: 17)

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada satu orang Nabi pun melainkan diberikan kepadanya tanda-tanda [mukjizat] yang manusia mengimani tanda-tanda seperti itu. Sesungguhnya yang diberikan kepadaku hanyalah wahyu yang diwahyukan Allah kepadaku. Maka, aku berharap menjadi Nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat.” (HR Muttafaq ‘alaiH)

Dan dalam hadits ‘Iyadh bin Hammad di dalam Shahih Muslim, bahwa Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku mengutusmu untuk mengujimu dan menguji denganmu serta menurunkan kepadamu sebuah kitab yang tidak terhapus oleh air yang engkau membacanya di saat tidur dan di saat bangun.”

Yaitu seandainya air menghapus tempat dituliskannya Kitab itu, niscaya dia tidak membutuhkan tempat tersebut, karena ia terpelihara di dalam dada-dada manusia, amat mudah diucapkan lisan lagi terjaga di dalam hati serta mengandung mukjizat di dalam lafadz dan maknanya. Untuk itu, di dalam kitab-kitab terdahulu terkandung tentang sifat umat ini: “Aku memantapkkan mereka di dalam dada-dada mereka.”

Ibnu Jarir memilih pendapat bahwa firman Allah: bal Huwa aayaatum bayyinaatun fii shuduuril ladziina uutul ‘ilma (“Sebenarnya, al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.”) bahkan, pengetahuan bahwa engkau tidak pernah membaca sebelum Kitab ini sesuatu Kitab pun dan kamu tidak menulis dengan tangan kananmu, adalah ayat-ayat nyata di dada orang-orang yang diberi ilmu di antara ahlul Kitab. Hal ini dinukil dari Qatadah dan Ibnu Juraij. Dan pendapat yang pertama diceritakan dari al-Hasan al-Bashri. Ibnu Katsir berkata: “Itulah yang diriwayatkan oleh al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas serta dikatakan oleh adh-Dahhak dan itulah yang lebih dhahir.” wallaaHu a’lam.

Dan firman Allah: wa maa yajhadu bi-aayaatinaa illadh dhaalimuun (“Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dhalim.”) yaitu tidak ada yang mendustakannya dan tidak ada yang mengurangi haknya serta menolaknya kecuali orang-orang dhalim, yaitu orang-orang yang melampaui batas lagi keras kepala, dimana mereka mengetahi kebenaran dan [kemudian] menentangnya.

Bersambung ke bagian 19

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: