Kedudukan Ukhuwah Berdasarkan Teks al-Qur’an

15 Jan

Ukhuwah Islamiyah; Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali ‘Imraan: 103)

Ayat yang mulia ini memerintahkan hal-hal yang penting yang tidak mungkin sebuah masyarakat muslim bisa berdiri tanpanya, bahkan tidak mungkin kaum muslimin memenangkan agama Allah di muka bumi kecuali dengannya, yaitu:

– Berpegang teguh dan melindungi diri dari segala kejahatan dengan menggunakan tali Allah, yaitu agama Islam atau al-Qur’an. Ia juga bisa menjaga orang yang berpegang teguh kepadanya dari segala bentuk perilaku jahat.
– Berpegang teguh pada jamaah untuk menghindari perpecahan dan perselisihan, karena perpecahan adalah kebinasaan sedangkan jamaah adalah keselamatan. Seorang ulama agung, Ibnul Mubarak rahimahullah, pernah membuat gambaran melalui sebait syair yang diucapkannya:
Jamaah adalah tali Allah,
Hendaknya kaling berpegang teguh pada
Tali-Nya yang kokoh.
– Menghindari perselisihan dan tidak memperturutkan hawa nafsu. Hendaklah mereka menjadi orang-orang yang berukhuwah berdasarkan agama Allah, sehingga bisa melindungi mereka dari sikap egois dan saling memusuhi (lihat al-Qurthubi, II/1401, Darusy Sya’bi, Kairo, Mesir tanpa tahun)
– Mengingat nikmat Allah yang dilimpahkan kepada mereka. maksudnya, nikmat Islam yang paling agung, yaitu nikmat Islam dan peneladanan terhadap Muhammad saw. karena ia bisa menghilangkan permusuhan dan perpecahan, serta menumbuhkan perasaan cinta.
– Dengan Islam kaum Muslimin menjadi orang-orang yang berukhuwah. Ia juga merupakan kenikmatan yang sangat besar.

Firman Allah yang artinya:
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (al-Hasyr: 10)

Dalam menafsirkan ayat di atas, Ibnu Laila berkata, “Manusia berada dalam tiga kelompok: kelompok muhajirin, kelompok orang yang terlebih dahulu menempati kota Madinah dan beriman sebelum kedatangan kaum Muhajirin, dan kelompok orang yang datang setelah mereka. berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk tidak keluar dari ketiga kelompok di atas.” (al-Qurthubi dalam tafsirnya, VIII/6510)

Merupakan kenikmatan Allah yang diberikan kepada kaum Muslimin generasi pertama bahwa mereka terbagi menjadi tiga golongan yang berlomba-lomba dalam meraih keutamaan, yaitu:

1. Kelompok Muhajirin.

“Orang-orang yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. mereka Itulah orang-orang yang benar.” (al-Hasyr: 8)

2. Kelompok Anshar.

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9)

Orang-orang Anshar ini telah memperagakan keteladanan mengenai ukhuwah dalam Islam yang sangat langka dan umat manusia belum menemukan bandingannya dalam sejarah.

3. Kelompok tabi’inn (Pengikut) serta orang-orang shalih dan beriman setelah mereka hingga hari kiamat.

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (al-Hasyr: 10)

Sesungguhnya ukhuwah dalam Islam menuntut seorang muslim menyebut saudara-saudaranya yang telah beriman terlebih dahulu dengan sebutan yang baik dan memintakan ampunan untuk mereka. apabila sikap seperti itu merupakan sikap terhadap orang-orang di masa lampau, maka terhadap orang-orang yang hidup semasa dengannya dan berukhuwah dalam Islam bersamanya tentu lebih layak.

Allah swt. berfirman yang artinya:
“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (al-Hujuraat: 10)

Ukhuwah yang disebutkan dalam ayat ini adalah ukhuwah dalam kacamata Islam. Ukhuwah ini lebih kuat dan lebih kokoh apabila dibandingkan dengan ukhuwah karena nasab sebagaimana yang telah dijelaskan di muka. Ukhuwah inilah yang harus dipegang teguh oleh kaum muslimin agar mereka bisa melaksanakan semua amalan yang dituntut dalam rangka memperjuangkan Islam, yaitu:

– Dakwah, dengan berbagai sarananya yang telah diketahui
– Pergerakan, dengan segala syarat dan etikanya
– Pembinaan, dengan segala jenis dan peringkatnya
– Pengorganisasian, dengan segala programnya
– Kekuasaan, setelah mengamalkan segala yang dibutuhkan untuknya
– Pemeliharaan terhadap kekuasaan ini supaya manusia secara keseluruhan berdiri menghadap kepada Tuhan semesta alam.

Allah berfirman yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (al-Hujuraat: 12)

Al-Qurthubi berkata bahwa ayat ini turun berkenaan dengan dua orang sahabat Nabi yang sedang menggunjing kawannya. Biasanya bila Nabi saw. mengadakan perjalanan jauh, beliau menyatukan seorang lelaki miskin dengan dua orang kaya untuk melayani keduanya.
Salman masuk ke dalam kemah. Kedua matanya terkantuk dan iapun tertidur pulas sebelum mempersiapkan apapun untuk dua shahabat yang dilayaninya. Kedua shahabatnya lalu datang. Karena tidak menemukan makanan dan lauk-pauk, mereka berkata kepada Salman: “Pergilah dan mintakan untuk kami makanan dan lauk-pauk kepada Rasulullah saw.” Salman pun pergi untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh mereka.
“Temuilah Usamah bin Zaid [bendahara Rasulullah saw]. tanyakan kepadanya apakah ia masih memiliki sisa makanan untuk diberikan kepadamu.” Kata Rasulullah saw. kepada Salman. Ia pun pergi menemui Usamah.
“Saya tidak memiliki apa-apa,” kata Usamah.
Salman kembali kepada kedua shahabatnya dan menceritakan keadaan itu kepada mereka. mereka berkata, “Sebenarnya ia punya, hanya saja bakhil.”
Kemudian mereka menyuruh Salman untuk menemui sejumlah shahabat, tetapi tidak juga mendapatkan apa-apa dari mereka. kedua shahabat Salman itu berkata: “Seandainya kita menyuruh Salman pergi ke sumur Samihah, tentu airnya pun kering, atau jangan-jangan Usamah memiliki sesuatu.”
Nabi saw. melihat keduanya lalu bersabda, “Mengapa saya melihat daging segar di mulut kalian?”
“Wahai Nabiyullah, demi Allah kami tidak memakan daging atau lainnya pada hari ini,” jawab mereka tidak mengerti.
“Tetapi kalian berdua telah memakan daging Salman dan Usamah,” tegas Rasul saw.

Maka turunlah ayat yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa.”
Kisah ini diceritakan oleh ats-Tsa’labi (al-Qurthubi dalam tafsirnya, VII/6151)

Sekedar prasangka buruk kepada saudara sesama muslim pun hukumnya haram. Al-Qur’an telah melarangnya dan memerintahkan agar meninggalkan sebagian besar dari prasangka, karena sedikit persangkaan saja dapat menjerumuskan pada dosa.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: