Membela Saudara Seiman yang Digunjing

15 Jan

Ukhuwah Islamiyah; Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Hendaknya seorang muslim membela saudaranya apabila disebut keburukannya di hadapan dirinya. Pada dasarnya, ia tidak boleh mendengarkan kata-kata buruk yang diarahkan untuk menggunjing saudaranya seiman, akan tetapi apabila terlanjur terjadi dan ia mendengarnya, ia berkewajiban membela dan membantah penggunjingnya, demi memenuhi hak saudaranya seiman. Apabila tidak mampu membela atau membantah, ia wajib meninggalkan majelis yang mempergunjingkan salah seorang dari kaum muslimin itu.

Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Al-Israa’: 36)
“Apabila kamu melihat orang-orang yang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Jika setan menjadikan lupa [akan larangan ini], janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang dhalim itu sesudah teringat [akan larangan itu].” (al-An’am: 68)

Ayat ini bermakna bahwa seorang muslim berkewajiban membela saudaranya jika digunjing. Lebih dari itu, ia tidak boleh menggunjingnya dengan menyebutkan aibnya, apabila berdusta dengan menyebut aib yang sebenarnya tidak terdapat pada diri saudaranya itu. Semua itu demi menjaga masyarakat dari keburukan yang bisa merusak, memutuskan hubungan, dan menjadikan sarana bagi setan untuk mencelakakan manusia.

Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Darda’ ra. dari Nabi saw. beliau bersabda, “Barangsiapa membela kehormatan saudaranya, Allah akan menjauhkan mereka dari neraka pada hari kiamat.”

Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari ‘Itban bin Malik ra. [salah seorang sahabat Nabi saw. dari kalangan anshar yang ikut dalam perang Badar], ia mendatangi Nabi saw. dan bertanya, “Wahai Rasulallah, mataku telah kabur sedangkan aku memimpin kaumku melaksanakan shalat. Apabila hujan turun, lembah yang membentang antara rumahku dan mereka tergenang air, sehingga saya tidak bisa mendatangi masjid mereka untuk shalat bersama mereka. saya berharap kepadamu, wahai Rasulallah, agar engkau berkenan mengunjungiku lalu melaksanakan shalat di rumahku, agar rumahku bisa kujadikan sebagai mushalla.”
Rasulullah saw. bersabda, “Insya Allah akan kulakukan.”
‘Itban melanjutkan ceritanya: Maka pada pagi harinya, ketika matahari sudah meninggi, Nabi saw. berangkat bersama Abu Bakar. Rasulullah saw. meminta izin untuk masuk, maka akupun mengizinkannya. “Pada bagian yang manakah engkau menginginkanku untuk melaksanakan shalat?”
Aku menunjuk ke suatu tempat di rumahku. Rasulullah saw. pun berdiri lalu bertakbir. Kami pun berdiri dan berbaris di belakangnya. Beliau melaksanakan shalat dua rakaat lalu salam.
Kami menahan beliau dengan menyuguhkan khazirah [tepung yang dimasak dengan lemak]. Kami sengaja membuatkannya untuk beliau, lanjut ‘Itban.
Ia melanjutkan: Maka kaum laki-laki yang baik-baik di daerah itu pun berkumpul. Salah seorang di antara mereka bertanya, “Dimanakah Malik bin Dukhaisyan [atau Ibnu Dukhsyan]?” Salah seorang dari mereka menyahut, “Dia seorang munafik yang tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Maka Rasulullah saw. pun bersabda, “Jangan katakan itu. Tidakkah engkau lihat ia mengucapkan laa ilaaHa illallaaH, dengan niat mencari ridla Allah?” Allah dan Rasul-Nya lebih tahu, tetapi kami melihat wajah dan nasehatnya kepada orang-orang munafik. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka atas orang yang mengucapkan ‘laa ilaaHa illallaaH’ yang dengan itu ia mencari ridla Allah.”

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Ka’ab bin Malik ra. Ia menceritakan kisahnya yang panjang tentang ketidakikutsertaannya dalam perang Tabuk. Di antara ceritanya, “Rasulullah saw. sambil duduk di hadapan banyak orang di Tabuk bersabda, ‘Ada apa dengan Ka’ab bin Malik?’
Seseorang dari Bani Salamah berkata, ‘Wahai Rasulallah, ia tertahan oleh hawa dingin dan kesenangannya.’
Mu’adz bin Jabal ra. menyahut, ‘Alangkah buruk perkataanmu itu! Demi Allah, wahai Rasulallah, kami tidak pernah melihat pada dirinya selain kebaikan!’ Rasulullah pun diam.”

Demikianlah, Islam menjaga ukhuwah agar tidak dinodai dengan pergunjingan terhadap seseorang, sekalipun pergunjingan itu berkenaan dengan hal yang benar-benar merupakan cacatnya, seorang muslim berkewajiban membela saudaranya yang dipergunjingkan.

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: