Arsip | 07.35

Tanashur

16 Jan

Ukhuwah Islamiyah; Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Ia masih sejenis dengan ta’awun, tetapi memiliki pengertian lebih dalam, lebih luas, dan lebih menggambarkan makna cinta dan loyalitas. Tanashur di antara dua orang yang berukhuwah dalam Islam memiliki banyak makna, diantaranya:

– Seseorang tidak menjerumuskan saudaranya kepada sesuatu yang buruk atau dibenci, tidak pula membiarkannya tatkala ia meraih suatu kemaslahatan yang tidak membahayakan orang lain.
– Hendaklah seseorang mencegah saudaranya dan menolongnya dari setan yang membisikkan kejahatan kepadanya dan dari fikiran-fikiran buruk yang terlintas pada dirinya untuk menunda pelaksanaan amal kebaikan.
– Menolongnya menghadapi setiap orang yang menghalanginya dari jalan kebenaran, jalan hidayah, dan jalan dakwah.
– Menolongnya, baik saat mendhalimi maupun saat didhalimi. Menolong saat mendhalimi yaitu dengan cara mencegahnya dari perbuatan dhalim, sedangkan menolongnya pada saat didhalimi adalah dengan berusaha menghindarinya dari kedhaliman yang menimpanya.

Tidak akan terjadi tanashur di antara orang-orang yang bersaudara dalam Islam kecuali masing-masing bersedia memberikan pengorbanan untuk saudaranya, baik pengorbanan waktu, tenaga, maupun harta.

Tanashur dengan makna sebagaimana telah disebutkan di atas merupakan pendalaman dari ta’awun dan merupakan terjemahan nyata dari “ukhuwah dalam Islam”. Orang-orang yang berukhuwah dan bertanashur dalam kebenaran dan di atas kebenaran adalah paling layak mendapat ridla, bantuan, dan pertolongan Allah swt. juga merupakan pertolongan kepada agama-Nya beserta kebenaran yang dibawanya. Allah swt. telah menjelaskan bahwa Dia pasti menolong siapa saja yang menolong-Nya ketika berfirman: “Sesungguhnya Allah pasti benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (al-Hajj: 40)

Bagaimana mungkin ukhuwah dalam Islam bisa digambarkan tanpa ada tanashur ? maka bisa ditegaskan bahwa ukhuwah dalam Islam pada umumnya berawal dari ta’aruf yang mengantarkan pada ta’aluf, kemudian tafahum. Hal ini akan membuat seseorang memberikan ri’ayah dan tafaqudnya kepada saudaranya serta menjadikan mereka ber-ta’awun. Ini semua mengantarkan mereka untuk melakukan tanashur.

Ukhuwah dalam Islam tidak mungkin berjalan secara benar sesuai manhaj yang telah digariskan oleh Islam kecuali apabila didahului dengan langkah-langkah yang telah disebutkan di muka, yaitu: ta’aruf, ta’aluf, tafahum, ri’ayah, ta’awun dan tanashur.

&

Ta’aruf

16 Jan

Ukhuwah Islamiyah; Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Kata ta’aruf berarti saling mengenal sesama manusia. Misalnya kalimat ta’araftu ilaa fulan, artinya: saya memperkenalkan diri kepada fulan.

Tidak termasuk dalam pengertian ta’aruf jika konteksnyaa membanggakan diri dalam garis keturunan, pangkat, maupun harta, karena semua itu bukanlah ukuran yang tepat untuk mengenal manusia, sebab ukuran yang benar adalah amal shalih dan ketakwaan kepada Allah swt.

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Durrah binti Abi Lahab ra. [Istri Abdullah bin Umrah ra] ia berkata: “Seorang lelaki menghadap Nabi saw. ketika beliau berada di mimbar. Ia bertanya: ‘Wahai Rasulallah, siapakah manusia yang paling baik?’ Beliau saw. menjawab, ‘Manuisia yang paling baik adalah yang paling banyak membaca al-Qur’an, bertakwa kepada Allah, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah kemungkaran, dan menyambung tali silaturahim.’”

Saling mengenal di antara kaum muslimin merupakan wujud ketaatan kepada perintah Allah swt. pada ayat Allah berikut ini:
“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Yang demikian itu mengharuskan seorang muslim mengenal saudaranya seiman, namanya, nasabnya, dan status sosialnya. Bahkan ia harus mengetahui hal-hal yang disukai dan hal-hal yang tidak disukainya hingga dapat membantunya jika ia berbuat baik, memohonkan ampun untuknya jika ia berdosa, mendoakan untuknya dengan kebaikan jika tidak berada di tempat, dan mencintainya jika ia bertobat. Dan semua itu adalah hak-hak muslim atas saudaranya seiman sebagaimana tersebut dalam sunah nabawi yang suci. Ad-Dailami meriwaytkan dalam al-Firdaus dengan sanadnya dari Anas ra. yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Empat hak orang muslim yang harus kau tunaikan, yaitu: hendaklah engkau menolong orang yang berbuat baik, memintakan ampun bagi orang yang berbuat dosa, mendoakan kebaikan bagi yang berpisah, dan mencintai orang yang bertaubat di antara mereka.”

Saling mengenal di antara sesama muslim adalah langkah pertama, bahkan ia adalah langkah utama dalam menuju terjalinnya ukhuwah karena Allah. Ia merupakan kunci pembuka hati, penjinak, dan penarik simpati. Tahapan ta’aruf mengantarkan kepada tahapan berikutnya menuju ukhuwah islamiyah, yakni ta’aluf.

&

Tafahum

16 Jan

Ukhuwah Islamiyah; Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Hendaklah terjalin sikap tafahum [saling memahami] antara seorang muslim dengan saudaranya sesama muslim, yang diawali dengan kesepahaman dalam prinsip-prinsip pokok ajaran Islam, lalu dalam masalah-masalah cabang yang juga perlu dipahami secara bersama. Adapun prinsip-prinsip yang harus sama-sama dipahami oleh setiap muslim adalah sebagai berikut:

a. Berpegang teguh pada aturan Allah. Artinya, menjadikan Allah sebagai sandaran dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. dengan demikian, manusia berpegang teguh kepada rahmat dan petunjuk yang diberikan Allah dalam rangka mengantarkannya kepada jalan yang lurus.

Firman Allah: “Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya dan limpahan karunia-Nya, serta menunjukki mereka kepada jalan yang lurus [untuk sampai] kepada-Nya.” (an-Nisaa’: 175)

“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada Allah, sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Ali ‘Imraan: 101)

Itulah prinsip yang harus dipahami dan dilaksanakan oleh mereka yang telah diikat oleh ukhuwah dalam Islam.

b. Berpegang pada tali Allah, sedangkan tali Allah adalah al-Qur’an. Artinya orang-orang yang berukhuwah hendaklah berakhlak sesuai dengan yang diajarkan oleh suri tauladan kita yang ma’shum, Rasulullah saw. Adapun akhlak qur’ani, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ummul Mukminin A’isyah ra, adalah seluruh sifat yang tercantum di awal surah al-Mukminun, yakni: iman, khusyu’ dalam shalat, menjauhi hal yang sia-sia, menunaikan zakat, memelihara kesucian [‘iffah] dengan cara menjaga kemaluan, menjaga mata dengan menahan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan, juga menjaga seluruh anggota badan dari hal-hal yang merangsang munculnya perzinaan, memelihara amanat, memelihara janji, serta memelihara shalat dengan cara pelaksanaan yang benar dana tepat waktu. (lihat: al-Mukminun: 1-9)

Demikianlah halnya dengan akhlak-akhlak lain, baik yang diperintahkan oleh al-Qur’an maupun yang dilarangnya, yang jumlahnya banyak sekali dan diterangkan secara jelas di dalamnya.

c. Tolong menolong dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya, yang dilakukan oleh orang-orang yang berukhuwah dalam Islam. Tidak ada satupun ketaatan yang menyerupai ketaatan dalam rangka menyatukan kaum muslimin di atas prinsip kebenaran, kebaikan, memperkokoh ikatan ukhuwah, ta’aluf, dan tafahum. Tidak ada satupun yang memungkinkan manusia untuk memperoleh kemenangan besar di sisi Allah dan surga beserta kenikmatannya hingga jangka waktu yang tidak terbatas, selain ketaatan kepada Allah swt.

Firman Allah: “Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, dan mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (an-Nisaa’: 13)

Tolong menolong dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya dapat memperkokoh ukhuwah dalam Islam.

d. Mengadakan ikrar untuk menolong agama Allah dan membela kebenaran, betapapun berat resiko dan kesulitan yang mesti ditanggung, karena itu diwajibkan oleh Allah kepada kaum muslimin dan dijadikan-Nya sebagai syarat bagi mereka untuk memperoleh pertolongan Allah.

Firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong Allah, maka Dia akan menolong kalian dan meneguhkan pijakan kalian.” (Muhammad: 7)

Maksudnya dari menolong Allah adalah menolong agama dan Nabi-Nya, sedangkan meneguhkan pijakan berarti teguh di atas ajaran Islam, jalan yang lurus, atau keamanan dan ketenangan. Yang serupa dengan ayat ini adalah firman Allah:
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong [agama]-Nya.” (al-Hajj: 40)

Bahkan pertolongan Allah kepada orang-orang yang berjanji untuk membela agama-Nya berlaku di dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi.” (Ghafir: 51)

As-Saddiy berkata, “Tidak ada suatu kaumpun yang membunuh seorang Nabi atau orang-orang mukmin yang mendakwahkan kebenaran kecuali Allah pasti akan membangkitkan orang yang akan membalasnya untuk mereka, sehingga mereka adalah orang-orang yang mendapatkan pertolongan sekalipun terbunuh.” (al-Qurthubi dalam tafsirnya, VII/5766, Darusy Sya’bi, Kairo, Mesir, tanpa tahun)

Sedangkan yang dimaksud dengan pertolongan Allah kepada mereka pada hari berdirinya saksi-saksi, yakni pada hari kiamat. “Saksi-saksi itu ada empat: malaikat, nabi-nabi, orang-orang mukmin, dan jasad-jasad.” (Ibid hal 5766)

e. Berupaya menghilangkan sebab-sebab timbulnya kebencian, permusuhan, dan perpecahan. Itu merupakan amalan utama yang setiap muslim dituntut untuk melaksanakannya dalam berhubungan dengan saudara-saudaranya sesama muslim. Sebab peringkat tafahum yang sedang kita bicarakan disini tidak terancam oleh sesuatu yang bahayanya melebihi ancaman yang ditimbulkan oleh sebab-sebab terjadinya kebencian, permusuhan dan perpecahan. Bahkan jika sebab-sebab tersebut berhasil merusak tafahum, niscaya juga akan merusak ta’aluf dan saling mencintai yang diwajibkan atas kaum muslimin.

Sebab-sebab perpecahan, kebencian, dan permusuhan merupakan godaan-godaan syaitan yang mengakibatkan kegentaran dan hilangnya kekuatan. Al-Qur’an pun telah memperingatkan kita dari semua itu. Firman-Nya:
“Berpegang teguhlah kalian semua kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” (Ali ‘Imraan: 103)

“Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, serta janganlah berbantah-bantahan yang akan mengakibatkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian.” (al-Anfaal: 46)

&

Ta’awun

16 Jan

Ukhuwah Islamiyah; Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Ta’awun berarti saling membantu. Allah swt. telah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk saling membantu dalam melaksanakan kebaikan, yang disebut dengan kata al-birr, dan dalam perilaku meninggalkan kemungkaran yang disebut dengan kata at-taqwa.

Adapun yang mengatakan bahwa kata al-birr meliputi hal-hal yang diwajibkan dan mandub [sunah] sedangkan at-taqwa berarti menjaga kewajiban. Allah swt. melarang orang-orang beriman untuk saling membantu dalam kebathilan dan perbuatan dosa.

Ada pula yang mengatakan bahwa pengertian al-itsmu adalah meninggalkan apa yang diperintahkan Allah sedangkan al’udwan adalah melanggar apa yang dilarang oleh Allah dalam agama-Nya.

Ta’awun adalah buah dari tafaqud dan ri’ayah. Ia bisa memperkokoh ikatan antara orang-orang yang berukhuwah dalam Islam, serta memperkuat fondasi dan tiangnya.

Indikasi-indikasi ta’awun yang dilaksanakan oleh orang-orang yang berukhuwah dalam Islam banyak jumlahnya. Diantaranya:

– Ta’awun dalam memerintahkan yang ma’ruf, mengamalkan kebaikan, dan melaksanakan ketaatan sesuai dengan petunjuk Islam, yang pada intinya menyatakan bahwa sebaik-baik sahabat adalah yang mengingatkanmu apabila kamu lupa dan membantumu apabila kamu ingat. Menaati dan mendekatkan diri kepada Allah merupakan amalan yang menyenangkan hati apabila terdapat sahabat dan orang yang menolong.
– Ta’awun dalam meninggalkan kemungkaran, hal yang diharamkan, dan bahkan yang makruh. Mencegah perbuatan munkar dan ta’awun dalam meninggalkannya merupakan perilaku yang menyenangkan hati.
– Ta’awun dalam mendekatkan dan mendorong manusia untuk berada di atas kebenaran, menghubungkan mereka dengan jalan petunjuk, dan berupaya terus menerus untuk mengubah mereka dari suatu keadaan kepada keadaan lain yang lebih diridlai Allah swt. Ini merupakan amalan yang seringkali membutuhkan usaha yang dilakukan oleh lebih dari satu orang, karena itu harus ada ta’awun.

Amalan ini, yaitu ta’awun untuk memberikan petunjuk orang muslim dan mengantarkannya kepada jalan yang ditempuh oleh kafilah yang mencari ridla Allah dengan melaksanakan amal shalih, menurut Islam, lebih berharga daripada unta merah yang merupakan kenikmatan dunia yang paling besar dan paling berharga.

Abu Dawud telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Sahl bin Sa’ad ra. dari Nabi saw. yang bersabda: “Demi Allah, jika Allah memberikan hidayah kepada seseorang karena dakwah yang engkau sampaikan kepadanya, sungguh hal itu lebih baik bagimu daripada unta merah.”

&

Ta’aluf

16 Jan

Ukhuwah Islamiyah; Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Ta’aluf adalah bersatunya seorang muslim dengan muslim lainnya, atau bersatunya seseorang dengan orang lain. Ta’aluf berasal dari kata ilf yang artinya persatuan. I’tilafa an-nasu, artinya: orang-orang bersatu dan bersepakat.

Kata ulfah serupa dengan kata ilf yang memiliki makna kecintaan kepada Allah swt. kepada orang-orang yang beriman, yang mana Allah telah mempersatukan hati mereka. firman Allah:
“Ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu [di masa jahiliyah] bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian dan menjadikan kalian orang-orang yang bersaudara karena nikmat-Nya.” (Ali ‘Imraan: 103)
“Walaupun kalian membelanjakan semua [kekayaan] yang berada di bumi, niscaya kalian tidak akan dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” (al-Anfaal: 63)

Pada dasarnya, kecintaan itu haruslah untuk Allah dan karena Allah. Apabila seorang muslim memiliki sifat lapang dada, bersih hati, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan ini merupakan sifat aslinya, maka ia akan bersatu, mencintai, dan tertarik kepada keduanya. hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Ruh-ruh itu ibarat tentara yang terkoordinasi; yang saling mengenal niscaya bersatu, sedangkan yang tidak saling mengenal niscaya berpisah.”

Ketertarikan dan saling mencintai adalah produk dari adanya keserupaan antara dua orang, sebagaimana perpisahan dan saling membenci adalah akibat dari ketidaksesuaian. Dalam kedua keadaan itu, mencintai atau membenci tetaplah harus karena Allah.

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Orang mukmin itu mudah disatukan. Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak menyatu dan tidak bisa mempersatukan.” (Imam Ahmad dalam musnadnya, III/400, al-Halabi, Mesir, 1313 H)

Salah satu kewajiban ukhuwah adalah, hendaknya seorang muslim menyatu dengan saudaranya sesama muslim. Seiring dengan itu, hendaklah ia melakukan hal-hal yang bisa menyatukan dirinya dengan saudaranya.

Faktor-faktor yang bisa mewujudkan ta’aluf jelaslah sudah. Cukuplah disebutkan sebuah kalimat global yang telah mewakili seluruh ruang lingkup, syarat, dan etikanya, yaitu: “Hendaklah seorang muslim konsisten melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.”

&

Ri’ayah dan Tafaqud

16 Jan

Ukhuwah Islamiyah; Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Pengertian ri’ayah dan tafaqud adalah, hendaknya seorang muslim memperhatikan keadaan saudaranya agar ia bisa bersegera memberikan pertolongan sebelum saudaranya tersebut meminta, karena pertolongannya merupakan salah satu hak saudaranya yang harus ia tunaikan.

Teks dalil tentang kewajiban memberikan perhatian adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dengan sanadnya dari Anas ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tidaklah beriman seseorang dari kalian, sehingga ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.”

Salah satu bentuk perhatian adalah, hendaknya seorang muslim menutup aib saudara muslimnya. Imam Muslim telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tidaklah seorang hamba menutup aib hamba yang lain kecuali Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.”

Di antara bentuk perhatian seorang muslim kepada saudara muslimnya adalah, hendaknya ia berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan kecemasannya apabila sedang ditimpa kecemasan, meringankan kesulitan yang dihadapinya, menutup aibnya, dan membantunya dalam memenuhi kebutuhan.

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahannya di hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selama ia menolong saudaranya.”

Salah satu bentuk perhatian seorang muslim kepada saudaranya adalah, hendaknya ia menjalankan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Islam atasnya untuk saudaranya itu.

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda:
“Hak seorang muslim yang harus dipenuhi oleh muslim lainnya ada enam.” Ditanyakan, “Apakah keenam hak itu wahai Rasulallah?” Beliau saw. bersabda: “Jika engkau berjumpa dengannya maka ucapkanlah salam, jika ia mengundang maka penuhilah undangannya, jika ia meminta nasehat kepadamu maka nasehatilah ia, jika ia bersin lalu memuji Allah maka ucapkanlah: yarhamukallaah, jika ia sakit maka kunjungilah, dan jika ia meninggal maka antarkanlah jenazahnya.”

Perhatian ini akan memperkokoh ukhuwah dalam Islam dan memperkuat ikatan-ikatan di antara sesama muslim.
&

Peringkat Peringkat Ukhwuah dalam Islam

16 Jan

Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Ukhuwah dalam Islam adalah ukhuwah karena Allah. Jalan menuju Allah hanyalah satu, tidak berbilang, tidak pula diperselisihkan, karena ia adalah shirath al-mustaqim [jalan yang lurus] dan merupakan satu-satunya jalan yanag wajib ditempuh, tiada pilihan selainnya.

Allah swt, berfirman: “Bahwa [yang Kami perintahkan] ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah mengikuti jalan-jalan [yang lain], karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.” (al-An’am: 153)

Ad-Darimi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud ra. ia berkata: “Suatu ketika Rasulullah saw. menggoreskan suatu garis kemudian bersabda: ‘Ini adalah jalan Allah.’ Kemudian beliau membuat banyak garis ke arah kanan dan kirinya seraya bersabda, ‘Ini berbagai jalan, dan masing-masing jalan tersebut terdapat setan yang mengajak kepadanya.’ Kemudian beliau membaca ayat yang artinya: ““Bahwa [yang Kami perintahkan] ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah mengikuti jalan-jalan [yang lain], karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.”

Jalan Allah adalah jalan yang satu, yang di dalamnya seluruh manusia berjalan menuju ridla-Nya. ia mempunyai sejumlah sarana yang berbeda-beda menurut zaman, individu dan kondisinya. Allah swt tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya dan Dia tidak mempersulit mereka dalam melaksanakan agamanya.

Jalan menuju ukhuwah memiliki sejumlah tahapan, yang seorang muslim tidak bisa menggapai ukhuwah dengan saudaranya kecuali apa bila melaluinya. Beberapa tahapan tersebut adalah: ta’aruf [saling mengenal], ta’aluf [saling bersatu], tafahum [saling memahami], ri’ayah [perhatian], ta’awun [saling membantu], dan tanashur [saling menolong], yang akhirnya berujung pada ukhuwah islamiyah yang kokoh. Masing-masing tahapan ini memiliki rambu-rambu dan etika-etikanya.

&

Menutup Aib Saudara Seiman

16 Jan

Ukhuwah Islamiyah; Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Menutup saudara seiman merupakan hak atas seseorang yang melakukan tindakan maksiat. Saudara seiman yang melihatnya melakukan tindakan maksiat itu harus menunaikan hak ini. Inilah salah satu bukti keagungan ajaran Islam, yang membuka pintu taubat bagi orang yang telah bermaksiat sebelum kemaksiatan itu tersebar luas di tengah khalayak. Boleh jadi, dengan tersebarnya berita maksiat itu justru membuat pelakukanya semakin berani melakukannya, dan berarti merusaknya. Selain itu, setan akan membantu untuk menjerumuskannya lebih jauh, sebagaimana dijelaskan dalam sebagian hadits Nabi yang akan disebutkan nanti.

Menutup aib saudara seiman pahalanya di sisi Allah adalah surga dan ampunan serta ridla-Nya. Tentang hal ini, banyak hadits yang menuturkan, antara lain:

Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Umar ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik orang yang bersahabat di sisi Allah adalah yang paling baik terhadap sahabatnya, dan sebaik-baik orang yang bertetangga di sisi Allah adalah yang paling baik terhadap tetangganya.”

Hubungan persaudaraan dalam Islam lebih kuat dibandingkan dengan hubungan persahabatan atau pertetanggaan. Kebaikan paling utama baginya adalah menutup aib saudaranya itu apabila melihatnya melakukan tindakan maksiat.

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa menutup aib saudara muslim, Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.”

Ath-Thabrani meriwayatkan dalam al-Ausath dan ash-Shaghir dengan sanadnya dari Abu Sa’id al-Khudri ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah seorang Muslim melihat aurat [cacat] saudaranya lalu menutupinya, kecuali pasti akan masuk surga.”

Abu Dawud meriwayatkan dengan sanadnya dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Wahai Mu’awiyah, jika engkau mencari-cari aib orang, berarti engkau merusak mereka atau hampir merusak mereka.”

Abu Dawud meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya namun imannya belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing dan mencari-cari aib kaum muslimin, karena barangsiapa mencari-cari aib saudaranya, niscaya Allah akan mencari-cari aibnya. Barangsiapa aibnya dicari-cari oleh Allah, niscaya aib itu akan ditampakkan-Nya, sekalipun ia berada di dalam rumahnya.”

Hakim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud ra. ia berkata: “Saya ingat tentang orang yang pertama kali tangannya dipotong oleh Rasulullah saw. Suatu ketika seorang pencuri didatangkan kepada beliau, lalu beliau menjatuhkan hukuman potongan tangan kepadanya, namun wajah beliau tampak menyesal. ‘Wahai Rasulallah, tampaknya engkau tidak suka memotongnya?’ tanya mereka. Beliau saw. menjawab, ‘[Ya tetapi] apa yang menghalangiku? Janganlah kalian menjadi penolong bagi setan untuk mencelakakan saudara kalian ini [yakni Rasulullah].’ ‘Tidakkah sebaiknya engkau maafkan saja?’ tanya mereka. beliau saw. bersabda: ‘Apabila pengaduan telah sampai ke penguasa, seharusnyalah sanksi ditegakkan. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf.’ Lalu beliau membaca firman Allah yang artinya, ‘Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin jika Allah mengampuni kalian, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ [an-Nuur: 22]”

Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Allah mendekatkan orang yang beriman dan memberikan perlindungan-Nya kepadanya, kemudian berfirman, ‘Tahukah kamu dosa ini, tahukah kamu dosa ini?’ orang itu pun menjawab, ‘Benar wahai Rabbku.’
Sampai ketika Allah membuatnya mengakui dosa-dosanya dan merasa bahwa dirinya akan binasa, Allah swt. berfirman, ‘Kamu telah menutupi dosa-dosamu itu di dunia, pada hari ini Aku mengampuni dosa-dosamu.’
Kemudian ia diberi buku catatan amal-amal kebaikannya. Adapun orang-orang kafir dan munafik, para saksi berkata kepada mereka, ‘Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhannya. Ingatlah bahwa kutukan Allah bagi orang-orang yang dhalim.’”

&

Pengertian Ukhuwah

16 Jan

Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Kata ukhuwah berakar dari kata kerja akha. Misalnya dalam kalimat “akha fulanun Shalihan” (fulan menjadikan Shalih sebagai saudara). Selain kata ukhuwah, ada pula kata muakhah.

Orang disebut akh Anda, jika ia adalah orang yang mempunyai hubungan persaudaraan dengan anda, baik saudara kandung, saudara seayah, saudara seibu, maupun saudara sesusuan.

Akh bisa juga berarti syarik [sekutu], muwasi [penolong], matsil [penyerupa], shahih mulazim [sahabat setia] atau akh seseorang bisa berarti pengikut pendapat seseorang.

Kata akh juga dipakai secara umum untuk menyebut setiap orang yang menyertai orang lain, baik dalam cinta, pekerjaan, maupun agamanya. Karena itu, ukhuwah menuntut seseorang untuk mengasihi saudaranya. Karena itulah al-Qur’an menyebutkan bahwa seorang Nabi adalah akh bagi kaumnya dan bagi semua orang yang mereka dakwahi. Allah swt berfirman,
“Dan [Kami telah mengutus] kepada kaum ‘Aad, saudara mereka Hud. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-sekali tidak ada tuhan bagi kalian selain Dia.’” (al-A’raaf: 65)
“Dan [Kami telah mengutus] kepada kaum Tsamud, saudara mereka Shalih. Ia berkata kepada kaumnya, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-sekali tidak ada tuhan bagimu selain Dia.’” (al-A’raaf:73)
“Dan [Kami telah mengutus] kepada penduduk Madyan, saudara mereka Syu’aib. Ia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-sekali tidak ada tuhan bagimu selain Dia.’” (al-A’raaf: 85)

Inilah pengertian ukhuwah yang dibicarakan dalam kamus-kamus bahasa Arab. Pengertian lebih luas dari sekedar persaudaraan menurut orang-orang barat.

Persaudaraan menurut orang-orang barat adalah hubungan kekerabatan antara dua orang bersaudara yang seketurunan dari bapak dan ibu. Mereka juga menggunakan istilah “persaudaraan” untuk menyebut lembaga perserikatan yang umumnya beranggotakan orang-orang yang berprofesi sama, dengan tujuan saling membantu untuk mewujudkan kepentingan mereka dan meningkatkan keadaannya.

Persaudaraan, atau organisasi persaudaraan, bagi mereka bisa juga berarti sebuah organisasi keagamaan yang anggota-anggotanya berkewajiban meninggalkan gaya hidup materialistis, menjaga kehormatan diri, dan taat sepenuhnya. Mereka hidup bersama di bawah suatu tatanan yang mendapatkan pengesahan dari gereja yang mereka ikuti.

Ada juga beberapa lembaga persaudaraan mereka berupa organisasi yang bersifat tertutup, dengan semangat kesetiakawanan sosial, tolong menolong dalam urusan materi, dalam rangka menghadapi berbagai bahaya yang mengancam kehidupan mereka.

Termasuk salah satu pengertian persaudaraan bagi mereka adalah organisasi-organisasi, baik yang bersifat tertutup maupun terbuka, yang bergerak di bidang sosial. Di antaranya adalah lembaga-lembaga bantuan dan lembaga-lembaga tertutup lainnya, yang bersifat nasional maupun internasional seperti Free Masonry dan Rotary Club.

&

Pengertian Ukhuwah dalam Islam

16 Jan

Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Dalam warisan Islam dan sejarah kaum Muslimin generasi pertama, kata ukhuwah mengandung berbagai pengertian.
Allah berfirman ketika menyebutkan nikmat-nikmat yang dikaruniakan-Nya kepada kaum Muslimin, “Ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dulu [di masa jahiliyah] bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian, dan dengan nikmat-Nya, menjadikan kalian sebagai orang-orang yang bersaudara.” (Ali ‘Imraan: 103)

Artinya, karena nikmat Islam-lah kalian menjadi orang-orang yang bersaudara dalam agama. Permulaan ayat di atas terlebih dahulu menyebutkan sebagai berikut: “Berpeganglah kalian semua kepada tali [agama] Allah dan janganlah kalian tercerai berai.” (Ali ‘Imraan: 103)

Adapun kelanjutannya adalah ayat yang memerintahkan agar kita memanfaatkan keimanan dan ukhuwah sebagai sarana untuk mendakwahkan kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf, dan mencegah kemungkaran. Firman Allah: “Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang memerintahkan kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imraan: 104)

Dalam dua ayat berurutan di atas terdapat tuntutan-tuntutan yang harus dilaksanakan oleh orang-orang Muslim yang menjalin ukhuwah dalam Islam, yang dengan ukhuwah ini mereka tolong menolong untuk melaksanakan tuntutan tersebut, yaitu:

– Berpegang teguh kepada tali Allah, yakni al-Qur’an dan as-Sunnah, yang juga berarti berpegang teguh kepada manhajnya.
– Menjauhkan diri dari perpecahan dan permusuhan dengan cara meninggalkan faktor-faktor pemicunya.
– Hendaknya hati kalian disatukan dengan mahabbah [cinta] karena Allah, sehingga dengan nikmat ini kalian menjadi orang-orang yang bersaudara.
– Mendakwahkan kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf, dan mencegah kemungkaran.

Untuk melaksanakan tuntutan semua ini, tidak ada yang lebih bisa membantu –setelah Allah- kecuali ukhuwah dalam Islam.

Al-Qur’an telah menegaskan, menetapkan, dan menjunjung tinggi nilai ukhuwah ini dalam ayatnya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu berukhuwah.” (al-Hujuraat: 10)
Imam Qurthubi berkata, “Maksudnya adalah ukhuwah dalam agama dan kesucian, bukan dalam keturunan.”
Imam Ibnu Katsir berkata: “Semuanya adalah saudara seagama, sebagaimana sabda Rasulullah saw., ‘Seorang Muslim adalah saudara bagi muslim yang lain; tidak mendhalimi dan tidak mencelakakannya.’”

Ukhuwah yang disinggung dalam ayat-ayat al-Qur’an di atas adalah ukhuwah dalam agama, dan ini merupakan salah satu nikmat yang dikarunikakan oleh Allah kepada kaum Muslimin. Ayat-ayat ini menyebutkan kata iman dan ukhuwah sebagai dua hal yang selalu beriringan, sekaligus menuntut orang-orang yang berukhuwah itu agar melaksanakan hal-hal yang dapat mengokohkannya dan mengokohkan iman, yaitu berpegang kepada manhaj Allah, meninggalkan perpecahan, berdakwah kepada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf, dan mencegah kemungkaran.

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian saling mendengki, saling najasy [menawarkan barang agar orang lain menawar dengan harga lebih mahal], saling membenci, saling memusuhi, dan jangan membeli barang yang sedang ditawar orang lain. Hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak mendhalimin, tidak membiarkan [saat ia membutuhkan pertolongan], dan tidak menghinanya. Taqwa ada di sini [seraya menunjuk ke dadanya tiga kali].”

Diriwayatkan juga bahwa beliau bersabda: “Seseorang sudah cukup disebut jahat apabila ia menghina saudaranya sesama muslim. Darah, harta dan kehormatan setiap muslim adalah haram bagi muslim lainnya.” (HR Muslim dalam shahihnya, bab Tahrim Zhulm al-Muslim wa Khadzlih).

Berdasarkan hadits Nabi ini dan juga hadits-hadits yang semisal, kita mengetahui bahwa pengertian ukhuwah bagi kita berbeda dari pengertiannya menurut kalangan umum. Contoh makna-makna ukhuwah sebagai berikut:

– Ia adalah cinta karena Allah dan ketulusan hati seorang mukmin terhadap saudaranay sesama muslim.
– Ia adalah penghormatan seorang mukmin terhadap mukmin lainnya, baik pada saat berhadapan maupun di tempat jauh.
– Ia adalah larangan mengabaikan apa pun yang menjadi hak saudaranya
– Ia berarti juga larangan memandangnya dengan pandangan merendahkan
– Ia berarti larangan mendengki, menawar dengan harga tertinggi untuk menipunya, membenci, memutuskan hubungan, membeli barang yang sedang ditawar, melamar lamarannya, mendhaliminya, menghinanya, dan membiarkannya di kala membutuhkan pertolongan.
– Ia juga pengharaman darah, harta dan kehormatannya
– Ia berarti kewajiban bersaudara dalam Islam
– Ia berarti tolong-menolong dalam melaksanakan kebajikan dan ketakwaan, serta berdakwah menuju kebaikan.
– Ia berarti bersatu dan meninggalkan faktor-faktor yang memicu terjadinya perpecahan.
– Ia berarti memelihara seluruh haknya [yakni dalam darah, harta dan kehormatannya]
– Ia berarti melaksanakan kewajiban-kewajiban yang harus diberikan kepadanya tanpa diminta
– Ia berarti mendahulukan kepentingan saudaranya daripada kepentingan diri sendiri.

Semua itu merupakan cakupan makna ukhuwah, namun masih banyak makna lain yang akan dibahas dalam lanjutan tulisan ini, insya Allah.

Kesimpulan berbagai makna itu merupakan undang-undang yang menjadi landasan dalam bermuamalah bagi kaum salafush shalih, yang senantiasa berpegang teguh kepada kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, juga konsisten menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupannya. Dengan ukhuwah, mereka bisa mewujudkan contoh-contoh kehidupan secara manusiawi yang bernilai tinggi.

&