Kedudukan Ukhuwah Islamiyah dalam Teks Sunnah Nabi

16 Jan

Ukhuwah Islamiyah; Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Jauhilah prasangka, karena prasangka itu ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mencari-cari aib orang lain, juga janganlah saling mendengki, membenci, atau memusuhi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

Imam Muslim dalam riwayatnya menambahkan hadits di atas dengan sabda beliau: “Sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah kepada kalian.”
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah juga, selain dari Anas ra.

Hadits yang mulia ini mengandung perintah agar orang-orang muslim berukhuwah dalam Islam. Para pensyarah hadits di atas mengatakan, “Sesungguhnya hadits ini mengharuskan kaum muslimin untuk meninggalkan semua yang dilarang, agar setelah meninggalkannya menjadi orang-orang yang berukhuwah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah swt.”

Makna perintah Allah agar kaum muslimin menjadi orang-orang yang berukhuwah adalah, mereka hendaknya konsisten melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. serta menjaga diri dari segala sifat tercela, sehingga dengan demikian mereka menjadi orang-orang yang berukhuwah Islam.

Seluruh perintah dan larangan yang dikandung di dalam hadits ini merupakan paduan dari makna-makna ukhuwah. Perintah berukhuwah ini dinisbatkan kepada Allah, “Sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada kalian.” Meskipun yang mengucapkan disini adalah Rasulullah saw. Di sini tidak terkandung cacat sedikitpun kecuali bagi orang yang di hatinya terdapat penyakit. Hal ini karena Rasulullah saw. adalah penyampai pesan yang datang dari Rabbnya. Atau bisa jadi penisbatan perintah kepada Allah swt. adalah sebagai isyarat dan peringatan dari-Nya, “Sesungguhnya orang-orang beriman itu berukhuwah.”

Al-Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Umar ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Seorang Muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak mendhalimi dan atau mencelakakannya. Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya sesama muslim dengan menghilangkan satu kesusahan darinya, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan di hari kiamat. Dan barangsiapa menutup aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.”

Jadi, persaudaraan dalam Islam merupakan tuntutan syar’i yang dijelaskan oleh teks di kedua hadits ini maupun lainnyayang akan disebutkan nanti. Dalam kedua hadits tersebut di atas Rasulullah saw. bersabda: “Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

Demikian pula sabda Nabi saw. “Sesungguhnya orang muslim itu bersaudara bagi muslim lainnya.”
Hadits-hadits Nabi yang lain berikut ini juga memberikan penjelasan.
Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas bin Malik ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa bersaudara dengan seseorang karena Allah, niscaya Allah akan mengangkatnya ke suatu derajat di surga yang tidak bisa diperolehnya dengan sesuatu dari amalnya.”

Ibnu Qutaibah ad-Dainuri berkata bahwa dalam sebuah hadits marfu’ disebutkan: “Seorang menjadi banyak dengan saudaranya.” (Ibnu Qutaidah, ‘Uyunul Akhbar, III/1, Darul Kutub, Mesir).

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Ayyub al-Anshari bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim untuk mengucilkan saudaranya melebihi tiga malam. Apabila keduanya berjumpa, maka yang satu berpaling sedangkan yang lain berpaling pula. Yang paling baik di antara keduanya adalah yang memberi salam terlebih dahulu.”

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Jauhilah prasangka, karena prasangka itu ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mencari-cari aib orang lain, juga janganlah saling dengki, membenci, atau memusuhi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Janganlah kalian saling mengucilkan, memusuhi, mencari kesalahan, dan membeli barang yang sudah ditawar orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kaian saling mendengki, melakukan najasy, saling membenci, memusuhi, atau menjual barang yang sudah dijual ke orang lain, tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak mendhalimii, dan tidak membiarkan atau menghinakannya. Taqwa itu ada di sini [beliau menunjuk ke dadanya tiga kali).”

“Cukuplah seseorang disebut jahat apabila ia menghina sesama muslim. Darah, harta, dan kehormatan setiap muslim itu haram bagi muslim lainnya.”

Ukhuwah dalam Islam memperkuat ikatan antara orang-orang muslim dan menjadikan mereka satu bangunan yang kokoh.

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari an-Nu’man bin Basyir ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai dan kasih sayang adalah ibarat satu tubuh; apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuh akan sulit tidur dan merasakan demam.”

Muslim meriwayatkan dengan sanadnya juga dari an-Nu’man bin Basyir ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Orang-orang yang beriman adalah bagaikan satu orang, jika kepalanya sakit, maka seluruh tubuhnya merasakan demam dan tidak bisa tidur.”

Muslim meriwayatkan juga dari an-Nu’man bin Basyir ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Orang-orang muslim itu ibarat satu tubuh; apabila matanya merasa sakit, seluruh tubuh merasa sakit; jika kepalanya sakit, seluruh tubuh ikut pula merasakan sakit.”

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Sahl bin Sa’id al-Sa’idi ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Kedudukan seorang mukmin di kalangan orang-orang beriman ibarat kepala pada tubuh seseorang; seorang mukmin akan merasakan sakit yang menimpa orang lain sebagaimana tubuh juga merasakan sakit yang mengenai kepala.”

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Musa ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Seorang mukmin dengan mukmin yang lainnya ibarat bangunan yang saling menguatkan.”

Ukhuwah dalam Islam terbangun di atas landasan cinta dan benci karena Allah, karena ia merupakan barometer yang baik untuk mengukur baik buruknya suatu hubungan. Banyak sekali hadits yang menunjukkan akan hal itu, di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, dengan sanad dari Abu Hurairah ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Pada hair kiamat Allah berfirman, ‘Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari yang tiada naungan selain naungan-Ku, Aku akan menaungi mereka dengan naungan-Ku.’”

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Ada seseorang mengunjungi saudaranya di kampung lain. Allah pun mengutus seorang malaikat untuk mencegat perjalanannya dan bertanya, ‘Hendak kemanakah engkau?’ orang itu menjawab, ‘Aku hendak menemui saudaraku di kampung ini.’ Malaikat bertanya, ‘Apakah ada suatu kenikmatan padanya yang kau butuhkan ?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak, tetapi aku mencintainya karena Allah swt.’ Malaikat berkata, ‘Sesungguhnya aku diutus oleh Allah kepadamu untuk menyampaikan bahwa Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya karena Allah.’”

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ali ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seorang Muslim memiliki enam kewajiban terhadap muslim yang lain secara ma’ruf, yaitu: menyalaminya apabila berjumpa, mendoakannya [dengan ‘yarhamukallah’] apabila ia bersin, membesuknya apabila sakit, mengantarkan jenazahnya jika ia meninggal, dan mencintainya sesuatu yang dicintainya untuk dirinya.”

Hakim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Idris al-Haulani ra. “Sungguh, aku mencintaimu karena Allah.” Mu’adz pun berkata kepadanya, “Berbahagialah, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Pada hari kiamat diletakkan kursi-kursi di sekitar ‘Arsy untuk sekelompok manusia yang wajah mereka seperti bulan purnama. Orang banyak merasakan cemas sedangkan mereka tidak merasakannya. Mereka adalah keluarga Allah yang tidak akan ditimpa rasa takut maupun sedih.” Ada yang bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Rasulallah?” Beliau bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah.”

Nasa’i meriwayatkan dengan sanad dari Abu Hurairah ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Di sekeliling ‘Arsy terdapat mimbar-mimbar dari cahaya yang ditempati oleh suatu kaum yang berpakaian dan berwajah [cemerlang] pula. Mereka bukanlah para Nabi atau syuhada, tetapi para Nabi dan syuhada merasa iri terhadap mereka.” para shahabat bertanya, “Wahai Rasulallah, beritahulah kami tentang mereka.” beliau bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai, bersahahat, dan saling mengunjungi karena Allah.”

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Bara’ bin Azib ra. yang berkata bahwa ketika mereka duduk di hadapan Nabi saw. beliau bersabda, “Ikatan Islam yang manakah yang paling tengah [dalam riwayat yang lain: paling kua]?” “Shalat,” jawab mereka. “Itu baik, tetapi bukan itu.” “Zakat,” kata mereka. “Itu baik tapi bukan itu.” “Puasa Ramadlan,” “Itu baik tapi bukan itu.” “Jihad,” “Itu baik, tapi bukan itu.” Selanjutnya beliau bersabda: “Ikatan iman yang paling tengah adalah, hendaklah engkau mencintai dan membenci karena Allah.”

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Dzar ra. ia berkata: Rasulullah keluar menemui kami lalu bersabda, “Tahukah kalian, amalan apa yang paling dicintai Allah?” Seseorang menjawab, “Shalat dan zakat.” Seseorang lagi menjawab, “Jihad.” Beliau bersabda, “Amal yang paling dicintai adalah, mencintai dan membenci karena-Nya.”

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda, “Barangsiapa ingin [suka] memperoleh kelezatan iman, hendaklah ia mencintai seseorang hanya karena Allah sw.”

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Amr bin Jumuh ra. ia mendengar Nabi saw. bersabda, “Seorang hamba tidak berhak memperoleh keimanan yang murni kecuali jika ia mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, ia telah berhak memperoleh perlindungan dari-Nya. Sesungguhnya orang-orang yang mendapatkan perlindungan-Ku dari kalangan hamba-hamba-Ku dan kekasih-Ku, adalah mereka yang menyebut nama-Ku dan Ku-sebut nama mereka.”

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Sa’id al Khudri ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh, orang-orang yang saling mencintai itu akan terlihat kamar-kamar mereka di surga seperti bintang yang terbit di timur maupun di barat.” Ada yang bertanya, “Siapakah mereka itu ?” dijawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah swt.”

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Umamah ra. yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah seorang hamba mencintai hamba yang lain karena Allah swt. kecuali ia telah memuliakan Tuhannya, Allah swt.”

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Muslim al-Khaulani at-Tabi’i ra. ia berkata: “Suatu ketika saya masuk masjid Himsh. Saya dapati di dalamnya terdapat sekitar 30 sahabat Nabi saw. yang berusia lanjut. Ternyata di sana juga terdapat seorang pemuda, kedua matanya sangat hitam dan gigi-gigi serinya berkilauan. Ia diam. Apabila orang-orang itu ragu-ragu terhadap suatu masalah mereka mendatanginya dan bertanya kepada pemuda itu. Saya bertanya kepada orang yang duduk di sampingku, ‘Siapa dia?’ ‘Dia adalah Mu’adz bin Jabal.’ Jawabnya. Seketika, dalam diriku tumbuh perasaan cinta kepadanya. Saya bersama-sama mereka sehingga mereka bubar. Saya bergegas masuk masjid. Saya dapati Mu’adz bin Jabal tengah berdiri shalat menghadap sebuah tiang. Usai shalat ia diam tidak bicara kepadaku. Saya pun shalat. Kemudian saya duduk memeluk kakiku seraya membungkus kakiku dengan selendangku. Ia juga duduk dan diam. Dia tidak bicara kepadaku, saya juga tidak bicara kepadanya.
‘Demi Allah, saya sungguh mencintaimu.’ Kataku membuka dialog.
‘Mengapa engkau mencintaiku?’ ia balik bertanya.
‘Aku mencintaimu karena Allah swt.’
Ia pun lalu memegang selendang yang membungkus kakiku dan menariknya pelan-pelan. Selanjtunya ia berkata, ‘Berbahagialah jika engkau benar. Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda bahwa orang-orang yang saling mencintai karena Allah memiliki mimbar-mimbar dari cahaya, [dalam suatu riwayat disebutkan bahwa] mereka berada di bahwa naungan Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, [dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa] untuk mereka diletakkan kursi-kursi dari cahaya. Para Nabi, orang-orang shiddiq, dan para syuhada merasa iri dengan tempat duduk mereka di sisi Allah.’”

Abu Muslim al-Khaulani berkata, “Aku pun keluar lalu berjumpa dengan Ubadah bin Shamit. Saya katakan kepadanya, ‘Wahai Abul Walid, maukah aku ceritakan kepadamu apa yang diceritakan oleh Mu’adz bin Jabal tentang orang-orang yang saling mencintai?’
‘Justru aku ingin menceritakan kepadamu dari Nabi saw. yang diriwayatkan oleh beliau dari Allah swt. yang berfirman: ‘Cinta-Ku harus Ku-berikan kepada orang-orang yang saling mencintai karena-Ku. Cinta-Ku harus Ku-berikan kepada orang-orang yang saling berkorban karena-Ku, dan cinta-Ku harus Ku-berikan kepada orang-orang yang menyambung hubungan karena-Ku.’”

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Malik al-Asy’ari yang berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Wahai manusia, dengarlah, pikirkanlah, dan ketahuilah, bahwa Allah swt. memiliki hamba-hamba yang bukan para Nabi atau syuhada, tetapi para Nabi dan syuhada merasa iri terhadap kedudukan mereka dan kedekatan mereka dengan Allah.”

Maka datanglah seorang kampung seraya mengacungkan tangannya kepada Rasulullah saw. dan bertanya, “Wahai Rasulallah, ada orang-orang yang bukan para Nabi dan syuhada tetapi para Nabi dan syuhada merasa iri terhadap kedudukan mereka dan kedekatan mereka dengan Allah. Jelaskan kepada kami, siapakah mereka?”
Wajah Rasulullah saw. berbinar karena mendapatkan pertanyaan dari seorang kampung itu. Rasulullah lalu bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang berasal dari bermacam-macam kelompok dan kabilah. Tidak ada kekerabatan yang menghubungkan mereka, mereka saling mencintai karena Allah. Allah meletakkan mimbar-mimbar dari cahaya untuk mereka, lalu mendudukkan mereka di atasnya. Allah lalu menjadikan wajah mereka cahaya dan pakaian mereka juga cahaya. Manusia merasa ketakutan pada hari kiamat sedangkan mereka tidak ditimpa perasaan takut dan tidak pula bersedih.”

Ukhuwah dalam Islam akan goyah dengan mengucilkan atau memutuskan hubungan dengan saudara yang lain. Karena itu, Islam melarang keras pemutusan hubungan antara orang-orang yang berukhuwah karena Allah.

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Pintu-pintu surga dibuka tiap hari senin dan Kamis. Pada hari itu, setiap hamba yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu, diampuni dosanya, kecuali seseorang yang bermusuhan dengan saudaranya.” Maka dikatakan, “Tunggulah kedua orang ini sampai berdamai. Tunggulah kedua orang ini sampai berdamai. Tunggulah kedua orang ini sampai berdamai.”

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Jabir ra yang berkata, “Suatu ketika ada dua pemuda yang berkelahi, yang seorang Muhajirin sedangkan seorang lagi dari anshar. Maka pemuda Muhajirin itu berseru, ‘Wahai orang-orang Muhajirin, tolonglah!’ sedangkan pemuda Anshar juga berseru, ‘Wahai orang-orang anshar!’ Rasulullah saw. pun keluar dan bersabda, ‘Ada apa ini?’ Panggilan jahiliyah?’ Mereka berkata, ‘Wahai Rasulallah, yang terjadi adalah dua pemuda berkelahi, yang satu memukul yang lain.’ Beliau bersabda, ‘Tidak mengapa, hendaklah seseorang menolong yang lain, baik ketika berbuat dhalim maupun ketika didhalimi. Jika saudaranya itu dhalim, hendaknya ia mencegahnya, itulah cara menolongnya. Jika ia didhalimi, hendaklah dibelanya.’”

Karena persaudaraan dalam Islam memiliki kedudukan sedemikian tinggi berdasarkan nash al-Qur’an dan as-Sunnah, maka Nabi saw. membuat standar bagi orang-orang muslim untuk memilih siapa yang dikehendaki sebagai saudaranya.

Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seseorang adalah pengikut agama karibnya. Karena itu hendaklah seseorang dari kalian melihat siapa yang akan dijadikan kawan dekatnya.”

At-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Sa’id ra. bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah engkau berkawan kecuali dengan seorang mukmin, dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.”

At-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Yazid bin Nu’amah adh-Dhahabi berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika seseorang menjalin ukhuwah dengan orang lain, hendaklah ia bertanya tentan namanya, nama ayahnya, dan dari suku manakah ia berasal, karena hal itu lebih mempererat jalinan rasa cinta.”

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: