Ta’aluf

16 Jan

Ukhuwah Islamiyah; Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Ta’aluf adalah bersatunya seorang muslim dengan muslim lainnya, atau bersatunya seseorang dengan orang lain. Ta’aluf berasal dari kata ilf yang artinya persatuan. I’tilafa an-nasu, artinya: orang-orang bersatu dan bersepakat.

Kata ulfah serupa dengan kata ilf yang memiliki makna kecintaan kepada Allah swt. kepada orang-orang yang beriman, yang mana Allah telah mempersatukan hati mereka. firman Allah:
“Ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu [di masa jahiliyah] bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian dan menjadikan kalian orang-orang yang bersaudara karena nikmat-Nya.” (Ali ‘Imraan: 103)
“Walaupun kalian membelanjakan semua [kekayaan] yang berada di bumi, niscaya kalian tidak akan dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” (al-Anfaal: 63)

Pada dasarnya, kecintaan itu haruslah untuk Allah dan karena Allah. Apabila seorang muslim memiliki sifat lapang dada, bersih hati, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan ini merupakan sifat aslinya, maka ia akan bersatu, mencintai, dan tertarik kepada keduanya. hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Ruh-ruh itu ibarat tentara yang terkoordinasi; yang saling mengenal niscaya bersatu, sedangkan yang tidak saling mengenal niscaya berpisah.”

Ketertarikan dan saling mencintai adalah produk dari adanya keserupaan antara dua orang, sebagaimana perpisahan dan saling membenci adalah akibat dari ketidaksesuaian. Dalam kedua keadaan itu, mencintai atau membenci tetaplah harus karena Allah.

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Orang mukmin itu mudah disatukan. Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak menyatu dan tidak bisa mempersatukan.” (Imam Ahmad dalam musnadnya, III/400, al-Halabi, Mesir, 1313 H)

Salah satu kewajiban ukhuwah adalah, hendaknya seorang muslim menyatu dengan saudaranya sesama muslim. Seiring dengan itu, hendaklah ia melakukan hal-hal yang bisa menyatukan dirinya dengan saudaranya.

Faktor-faktor yang bisa mewujudkan ta’aluf jelaslah sudah. Cukuplah disebutkan sebuah kalimat global yang telah mewakili seluruh ruang lingkup, syarat, dan etikanya, yaitu: “Hendaklah seorang muslim konsisten melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.”

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: