Tafahum

16 Jan

Ukhuwah Islamiyah; Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Hendaklah terjalin sikap tafahum [saling memahami] antara seorang muslim dengan saudaranya sesama muslim, yang diawali dengan kesepahaman dalam prinsip-prinsip pokok ajaran Islam, lalu dalam masalah-masalah cabang yang juga perlu dipahami secara bersama. Adapun prinsip-prinsip yang harus sama-sama dipahami oleh setiap muslim adalah sebagai berikut:

a. Berpegang teguh pada aturan Allah. Artinya, menjadikan Allah sebagai sandaran dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. dengan demikian, manusia berpegang teguh kepada rahmat dan petunjuk yang diberikan Allah dalam rangka mengantarkannya kepada jalan yang lurus.

Firman Allah: “Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya dan limpahan karunia-Nya, serta menunjukki mereka kepada jalan yang lurus [untuk sampai] kepada-Nya.” (an-Nisaa’: 175)

“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada Allah, sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Ali ‘Imraan: 101)

Itulah prinsip yang harus dipahami dan dilaksanakan oleh mereka yang telah diikat oleh ukhuwah dalam Islam.

b. Berpegang pada tali Allah, sedangkan tali Allah adalah al-Qur’an. Artinya orang-orang yang berukhuwah hendaklah berakhlak sesuai dengan yang diajarkan oleh suri tauladan kita yang ma’shum, Rasulullah saw. Adapun akhlak qur’ani, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ummul Mukminin A’isyah ra, adalah seluruh sifat yang tercantum di awal surah al-Mukminun, yakni: iman, khusyu’ dalam shalat, menjauhi hal yang sia-sia, menunaikan zakat, memelihara kesucian [‘iffah] dengan cara menjaga kemaluan, menjaga mata dengan menahan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan, juga menjaga seluruh anggota badan dari hal-hal yang merangsang munculnya perzinaan, memelihara amanat, memelihara janji, serta memelihara shalat dengan cara pelaksanaan yang benar dana tepat waktu. (lihat: al-Mukminun: 1-9)

Demikianlah halnya dengan akhlak-akhlak lain, baik yang diperintahkan oleh al-Qur’an maupun yang dilarangnya, yang jumlahnya banyak sekali dan diterangkan secara jelas di dalamnya.

c. Tolong menolong dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya, yang dilakukan oleh orang-orang yang berukhuwah dalam Islam. Tidak ada satupun ketaatan yang menyerupai ketaatan dalam rangka menyatukan kaum muslimin di atas prinsip kebenaran, kebaikan, memperkokoh ikatan ukhuwah, ta’aluf, dan tafahum. Tidak ada satupun yang memungkinkan manusia untuk memperoleh kemenangan besar di sisi Allah dan surga beserta kenikmatannya hingga jangka waktu yang tidak terbatas, selain ketaatan kepada Allah swt.

Firman Allah: “Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, dan mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (an-Nisaa’: 13)

Tolong menolong dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya dapat memperkokoh ukhuwah dalam Islam.

d. Mengadakan ikrar untuk menolong agama Allah dan membela kebenaran, betapapun berat resiko dan kesulitan yang mesti ditanggung, karena itu diwajibkan oleh Allah kepada kaum muslimin dan dijadikan-Nya sebagai syarat bagi mereka untuk memperoleh pertolongan Allah.

Firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong Allah, maka Dia akan menolong kalian dan meneguhkan pijakan kalian.” (Muhammad: 7)

Maksudnya dari menolong Allah adalah menolong agama dan Nabi-Nya, sedangkan meneguhkan pijakan berarti teguh di atas ajaran Islam, jalan yang lurus, atau keamanan dan ketenangan. Yang serupa dengan ayat ini adalah firman Allah:
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong [agama]-Nya.” (al-Hajj: 40)

Bahkan pertolongan Allah kepada orang-orang yang berjanji untuk membela agama-Nya berlaku di dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi.” (Ghafir: 51)

As-Saddiy berkata, “Tidak ada suatu kaumpun yang membunuh seorang Nabi atau orang-orang mukmin yang mendakwahkan kebenaran kecuali Allah pasti akan membangkitkan orang yang akan membalasnya untuk mereka, sehingga mereka adalah orang-orang yang mendapatkan pertolongan sekalipun terbunuh.” (al-Qurthubi dalam tafsirnya, VII/5766, Darusy Sya’bi, Kairo, Mesir, tanpa tahun)

Sedangkan yang dimaksud dengan pertolongan Allah kepada mereka pada hari berdirinya saksi-saksi, yakni pada hari kiamat. “Saksi-saksi itu ada empat: malaikat, nabi-nabi, orang-orang mukmin, dan jasad-jasad.” (Ibid hal 5766)

e. Berupaya menghilangkan sebab-sebab timbulnya kebencian, permusuhan, dan perpecahan. Itu merupakan amalan utama yang setiap muslim dituntut untuk melaksanakannya dalam berhubungan dengan saudara-saudaranya sesama muslim. Sebab peringkat tafahum yang sedang kita bicarakan disini tidak terancam oleh sesuatu yang bahayanya melebihi ancaman yang ditimbulkan oleh sebab-sebab terjadinya kebencian, permusuhan dan perpecahan. Bahkan jika sebab-sebab tersebut berhasil merusak tafahum, niscaya juga akan merusak ta’aluf dan saling mencintai yang diwajibkan atas kaum muslimin.

Sebab-sebab perpecahan, kebencian, dan permusuhan merupakan godaan-godaan syaitan yang mengakibatkan kegentaran dan hilangnya kekuatan. Al-Qur’an pun telah memperingatkan kita dari semua itu. Firman-Nya:
“Berpegang teguhlah kalian semua kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” (Ali ‘Imraan: 103)

“Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, serta janganlah berbantah-bantahan yang akan mengakibatkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian.” (al-Anfaal: 46)

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: