Arsip | 13.39

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 74

17 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 74
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 74“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh; karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. 2:74)

Firman Allah ini sebagai celaan dan kecaman terhadap Bani Israil atas sikap mereka setelah menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah dan kemampuan-Nya menghidupkan orang yang sudah mati.

“Setelah itu hatimu menjadi keras.” Yaitu “Seperti batu,” yang tidak akan pernah melunak selamanya. Oleh karena itu Allah swt, melarang orang-orang yang beriman menyerupai keadaan mereka dengan berfirman: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk menundukkan hati mereka dalam mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadiid: 16).

Dalam tafsirnya, dari Ibnu Abbas, al-Aufi mengatakan: “Ketika orang yang terbunuh itu dipukul dengan sebagian dari anggota tubuh sapi betina, maka ia duduk dalam keadaan hidup, tidak pernah ia seperti itu sebelumnya. Lalu ditanyakan kepadanya, `Siapakah yang telah membunuhmu? Ia menjawab: `Anak-anak saudaraku yang telah membunuhku.’ Setelah itu, nyawanya dicabut kembali. Ketika Allah mencabut nyawa orang itu, maka anak-anak saudaranya itu berujar, ‘Demi Allah, kami tidak membunuhnya.’ Demikianlah mereka mendustakan kebenaran setelah mereka menyaksikannya sendiri.”

Allah pun berfirman, tsumma qasat quluubukum mim ba’di dzaalika (“Setelah itu hati kalian menjadi keras.”) Yaitu anak-anak saudara orang tersebut. “Seperti batu atau bahkan lebih keras lagi.”

Akhirnya hati Bani Israil seiring berjalannya waktu menjadi keras tidak mau mengenal pelajaran, setelah mereka menyaksikan sendiri tanda-tanda kekuasaan Allah dan mukjizat-Nya. Kerasnya hati mereka itu laksana batu yang tidak dapat lagi dilunakkan, atau bahkan lebih keras dari batu. Karena celah-celah batu masih bisa memancarkan mata air yang mengaliri sungai-sungai. Ada pula antara batu-batu tersebut yang terbelah sehingga keluarlah air darinya meski tidak dapat mengalir. Ada juga yang meluncur jatuh dari puncak gunung karena takut kepada Allah, dan masing-masing memiliki rasa takut seperti itu sesuai dengan kodratnya, sebagaimana firman-Nya:

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu apapun melainkan bertasbih memuji-Nya, tetapi kamu semua tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Mahapenyantun lagi Maha- pengampun.” (QS. Al-Israa’: 44).

Ibnu Abi Najih meriwayatkan dari, Mujahid katanya, setiap batu yang memancarkan air atau terbelah karena terpaan air atau yang meluncur dari puncak gunung, adalah karena takut kepada Allah . Hal itu dinyatakan al-Qur’an, “Dan Allah sekali-kali tidak akan lengah dari apa yang kamu kerjakan.”

Ar-Razi’, al-Qurthubi, dan imam-imam lainnya mengatakan: “Sesungguhnya Allah telah menciptakan sifat-sifat tersebut pada batu, sebagaimana dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanai kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan menkhianatinya. (QS. Al-Ahzab: 72).
Demikian juga firmanNya: semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. “(QS. Al-Israa’: 44).
Dan firman-Nya: “Keduanya (langit dan bumf) menjawab, Kami datang dengan senang hati. ” (QS. Fushshilat: 11).
Juga firman-Nya: “Kalau sekiranya Kami turunkan al-Qur’an ini kepada gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah.” (QS. Al-Hasyr: 21).

Dalam hadits shahih disebutkan: “Inilah gunung yang mencintai kami dan kami pun mencintainya.” Dan seperti kisah mutawatir tentang ratapan batang pohon kurma, dan disebutkan dalam Shahih Muslim, hadits: “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Makkah yang mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus, dan sesungguhnya sekarang aku mengetahuinya.” (HR. Muslim).

Kisah atau hadits Mutawatir: “Kisah atau hadits yang diriwayatkan oleh banyak perawi, yang mereka mustahil bersepakat dalam dusta. Dan wajib mempercayainya.”-pent.

Demikian juga mengenai sifat Hajar Aswad, bahwasannya ia akan memberi kesaksian bagi yang menyalaminya dengan benar pada hari kiamat kelak. Dan lain sebagainya yang semakna dengan hal itu. Misalnya, dalam penjelasannya. Yaitu dengan hal ini atau dengan hal lainnya.-pent.

Al-Qurthubi menyampaikan sebuah pendapat yang menyatakan: “Bahwa hal itu dimaksudkan untuk takhyir (memberikan pilihan), artinya, pemisahan untuk (hal) ini, (hal) ini atau hal (ini).

“Duduklah bersama Hasan atau Ibnu Sirin!” Demikian juga disebutkan ar-Razi di dalam tafsirnya.

Catatan.
Para ahli bahasa Arab berbeda pendapat mengenai makna firman Allah: fa Hiya kalhijaarati au asyaddu qaswaH; Setelah mereka sepakat bahwa hal itu bukan sebagai pernyataan keraguan. Sebagian mereka mengatakan, kata “aw” (atau) dalam ayat tersebut seperti “wa” (dan) dengan pengertian: fa Hiya kalhijaarati au asyaddu qaswaH sebagaimana firman-Nya: wa laa tuthi’ minHum aatsiman au kafuuran (“dan janganlah engkau taati orang-orang yang berdosa dan orang-orang kafir di antara mereka.”) (al-Insaan: 24) juga firman-Nya: ‘udran au nudzran (“Untuk menolak alasan-alasan dan memberikan peringatan.”) (al-Mursalaat: 6) sebagaimana dikatakan seorang penyair, an-Nabighah adz-Dzibyani:

Ia mengatakan: “Andaikata merpati ini milik kami.
Kan kubiarkan semua merpatiku kami atau sebagiannya hilang.”

Yang dimaksud adalah “wa nishfuHu” (dan sebagiannya)

Ibnu Jarir mengatakan, sebagian ulama lainnya berpendapat, kata “au” dalam ayat di atas bermakna “bal” (bahkan). Maka pengertiannya: “Hati kamu itu menjadi keras seperti batu bahkan lebih keras lagi.”

Juga seperti firman-Nya: wa arsalnaaHu ilaa mi-ati alfin au yaziiduuna (“Dan Kami utus ia pada seratus ribu orang atau lebih banyak lagi.”) (ash-Shaffat: 147) demikian pula firman-Nya: fa kaana qaaba qausaini au ad-naa (“Maka jadilah ia dekat [dengan Muhammad sejarak] dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi.” (an-Najm: 9)

Sebagian ulama lainnya mengatakan: “Maknanya adalah hati kalian tidak akan keluar dari dua perumpamaan di atas baik keras seperti batu atau lebih keras darinya.”

Berdasarkan penafsiran di atas, Ibnu Jarir mengatakan: “Sebagian hati mereka keras seperti batu dan sebagian lagi lebih keras dari batu.” Dan hal ini telah ditarjih oleh Ibnu Jarir dengan mengemukakan bantahan terhadap pendapat lainnya.

Dalam hal ini Ibnu Katsir mengatakan: “Pendapat terakhir mengenai ayat di atas serupa dengan firman Allah: wal ladziina kafaruu a’maaluHum kasarabi biqii’atin (“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar.”)(an-Nuur: 39) juga firman-Nya: au kadhulumaati fii bahril lujjiyyi (“atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam.”) (an-Nuur: 40) maksudnya ialah di antara mereka ada yang kondisinya seperti ini dan sebagian lain seperti itu, wallaaHu a’lam.

Al-Hafizh Abu Bakar Ibnu Marduwaih (ada yang menyebutnya Marduyah) menceritakan, Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim memberitahu kami, dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

“Janganlah kalian banyak bicara selain berdzikir kepada Allah, karena banyak bicara selain dzikir kepada Allah dapat mengakibatkan hati menjadi-keras. Sesungguhnya orang yang paling jauh dari Allah adalah orang yang berhati keras.” (Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam kitab az-Zuhud, dari Muhammad bin Abdullah bin Abi Tsalj, seorang sahabat Imam Ahmad.) (didhaifkan oleh syaikh Al-Albani dalam kitab Dha’iiful Jamii’ [6265])

Al-Bazzar juga meriwayatkan hadits marfu’ dari Anas, Rasulullah bersabda: “Ada empat perkara yang merupakan kesengsaraan: kejumudan mata [tidak pernah menangis karena Allah], kekerasan hati, angan-angan panjang, dan tamak pada dunia.” (didhaifkan oleh syaikh Al-Albani dalam kitab Dha’iiful Jamii’ [758])

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 72-73

17 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 72-73
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 72-73“Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh-menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. (QS. 2:72) Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telab mati, dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti. (QS. 2:73)

Imam al-Bukhari mengatakan, faddar fa’tum fiiHaa; berarti kalian berselisih. Hal yang sama juga dikatakan oleh Mujahid. Sedangkan menurut Atha’ al-Khurasani dan adh-Dhahhak, artinya kalian saling bertengkar karenanya.

Masih mengenai ayat, wa idz qataltum nafsan faddar fa’tum fiiHaa (“Dan ingatlah ketika kamu membunuh seorang manusia, lalu kamu saling tuduh menuduh tentang hal itu.”) Ibnu Juraij mengatakan, sebagian mengatakan, “Kalian telah membunuhnya.” Tetapi sebagian lainnya berkata: “Justru kalianlah yang telah membunuhnya.” Yang demikian itu juga dikemukakan oleh Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam.

wallaaHu mukhrijum maa kuntum taktumuun (“Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan.”) Mujahid mengatakan, maksudnya adalah apa yang tidak kalian perlihatkan.

Ibnu Abi Hatim menceritakan Shadaqah bin Rustum memberitahu kami, aku pernah mendengar Musayyab bin Rafi’ mengatakan, “Tidaklah seseorang melakukan kebaikan dalam tujuh bait melainkan Allah akan memperlihatkannya. Dan tidaklah seseorang melakukan kejahatan dalam tujuh bait kecuali Allah akan memperlihatkannya. Dan itu dibenarkan dalam firman Allah: “Dan Allah hendak menyingkap apa yang selama ini kalian sembunyikan. Lalu Kami berfirman: ‘Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu!’”

Yang dimaksud dengan bagian itu adalah satu bagian dari anggota tubuh sapi. Dengan demikian mukjizat itu terwujud dari bagian anggota tubuh sapi tersebut. Dan pada saat yang sama bagian tubuh tersebut telah ditentukan. Seandainya penentuan anggota tubuh itu berguna bagi kita untuk dalam urusan agama dan dunia, niscaya Allah akan menjelaskannya. Namun Allah menyamarkannya dan tidak ada satupun riwayat shahih yang berasal dari Nabi saw. yang menjelaskannya, maka kita pun menyamarkan hal itu sebagaimana Allah telah menyamarkannya.

Firman-Nya: kadzaalika yuhyillaaHu mautaa (“Demikianlah Allah telah menghidupkan kembali orangyang telah mati”) maksudnya Bani Israil telah memukul mayat tersebut dengan bagian tubuh sapi betina itu hingga mayat itu hidup. Dengan kejadian itu Allah menjelaskan kekuasaan-Nya dan kemampuan-Nya untuk menghidupkan yang telah mati seperti dalam kasus orang yang telah mati dibunuh itu. Allah menjadikan peristiwa itu sebagai hujjah bagi mereka akan adanya tempat kembali (akhirat) sekaligus sebagai jalan keluar dari permusuhan dan pertikaian yang terjadi di kalangan mereka.

Dalam ayat ini Allah menyebutkan kekuasaan-Nya menghidupkan orang yang telah mati dalam lima ayat yaitu dalam firman-Nya:
“Kemudian Kami bangkitkan kalian setelah kematian kalian.” (al-Baqarah: 56)
Kisah dalam ayat ini (al-Baqarah: 73)
Kisah tentang ribuan orang yang keluar dari kampung halaman mereka karena takut mati (al-Baqarah: 243)
Kisah orang yang melewati suatu negeri yang temboknya telah roboh menutupi atapnya (al-Baqarah: 259)
Dan kisah Ibrahim dengan empat ekor burung (al-Baqarah: 260)
Selain itu Allah juga mengingatkan kemampuan-Nya menghidupkan tanah setelah kematiannya sebagai bukti bahwa Dia berkuasa mengembalikan tubuh manusia seperti sedia kala setelah hancur berkeping-keping.

Permasalahan

Menurut madzab Imam Malik, bahwa pernyataan korban yang dilukai, “Si fulan telah membunuhku.” Bisa diterima sebagai bukti sementara berdasarkan kisah ini. Karena ketika orang yang dibunuh itu hidup dan ditanya ihwal siapa yang membunuhnya, maka ia menjawab, “Si fulan telah membunuhku.” Ucapan itu pun dapat diterima sebab pada saat demikian ia tidak memberitahu kecuali hal yang benar dan dalam keadaan seperti ini tidak bisa dicurigai.

Hal itu diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa: “Ada seorang Yahudi membunuh seorang budak perempuan karena menginginkan perhiasan peraknya. Ia membenturkan kepalanya di antara dua buah batu. Kemudian ditanyakan kepada budak perempuan itu,” Siapakah yang berbuat seperti ini kepadamu?-Apakah si Fulan? Atau si Fulan? Sehingga mereka menyebutkan seorang Yahudi (yang membunuhnya), lalu si budak itu memberikan isyarat dengan kepalanya. Maka ditangkaplah orang Yahudi itu dan ditahan sehingga ia mengaku. Setelah itu Rasulullah memerintahkan agar kepala orang itu dibenturkan di antara dua buah batu.”

Menurut Imam Malik, jika sebagai bukti sementara (belum lengkap), maka para wali orang yang terbunuh itu harus bersumpah. Namun jumhur ulama tidak sependapat dalam hal itu dan tidak menjadikan ucapan si terbunuh sebagai bukti sementara.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 68-71

17 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 68-71
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 68-7168. mereka menjawab: ” mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina Apakah itu.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu”.
69. mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan kepada Kami apa warnanya”. Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”
70. mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan kepada Kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena Sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi Kami dan Sesungguhnya Kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).”
71. Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.” mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya”. kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.” (al-Baqarah: 68-71)
Mereka menjawab: “Mobonkanlab kepada Rabb-mu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakab itu?”Musa menjawab: “Sesunggubnya Allah berfirman babwa sapi betina itu adalah sapi yang tidak tua dan tidak muda; pertengaban antara itu; maka kerjakanlab apa yang diperintahkan kepadamu. ” (QS. 2:68) Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya. ”
Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman babwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenang-kan orang-orang yang memandangnya. ” (QS. 2:69) Mereka berkata: “Mobonkanlab kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana bakikat sapi betina itu, karena sesunggubnya sapi itu (masib)
samar bagi kami dan sesunggubnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk. ” (QS. 2:70) Musa berkata: “Sesunggubnya Allah berfirman babwa sapi betina itu adalab sapi betina yang belum pernab dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya. ” Mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya. ” Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu. (QS. 2:71)

Allah memberitahukan tentang sikap keras kepala Bani Israil dan banyaknya pertanyaan yang mereka ajukan kepada rasul mereka. Oleh karena itu, ketika mereka mempersulit diri sendiri, maka Allah pun mempersulit mereka. Seandainya mereka menyembelih sapi bagaimanapun wujudnya, maka sudah cukup baginya, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Abbas, Ubaidah, dan ulama lainnya. Namun mereka mempersulit diri sendiri sehingga Allah pun mempersulit mereka, di mana mereka berkata, “Mohonlah kepada Rabb-mu untuk kami agarDia menjelaskan kepada kami, sapi betina apakah itu?” Artinya, sapi yang bagaimana kriterianya.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, seandainya mereka menyembelih sapi yang paling buruk sekalipun, maka cukuplah bagi mereka, tetapi ternyata mereka mempersulit diri, sehingga Allah pun mempersulit mereka. Riwayat ini berisnad shahih. Juga diriwayatkan oleh perawi lainnya dari Ibnu Abbas.

Hal senada juga dikemukakkan oleh Ubaidah, as-Suddi, Mujahid, Ikrimah, Abu al-Aliyah, dan ulama lainnya. “Musa menjawab, Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu ialah sapi yang tidak tua dan tidak muda. “Artinya, sapi itu tidak tua dan tidak juga muda yang belum dikawini oleh sapi jantan, sebagaimana dikatakan oleh Abu al-Aliyah, as-Suddi, juga Ibnu Abbas.

Mengenai firman-Nya; ‘awaanum baina dzaalika; adh-Dhahhak dari Ibnu ‘Abbas mengatakan, yaitu pertengahan antara tua dan muda, dan itulah hewan dan sapi yang paling bagus.

Sedangkan as-Suddi mengatakan; al-‘awaanu berarti an-nashfu (pertengahan) yaitu antara sapi yang sudah melahirkan dan cucu yang dilahirkan anaknya.

Mujahid dan Wahab bin Munabbih mengatakan, sapi tersebut berwarna kuning. Oleh karena itu Musa mempertegas warna kuning sapi itu dengan menyebutkan sebagai kuning tua.

Mengenai firman-Nya tersebut, Sa’id bin Jubair mengatakan, warnanya benar-benar murni lagi jernih. Hal senada juga diriwayatkan dari Abu al-Aliyah, Rabi’ bin Anas, as-Suddi, Hasan al-Bashri, dan Qatadah.

Dalam tafsirnya, al-Aufi, dari Ibnu Abbas, mengenai firman Allah: faaqi’ul launuHaa; mengatakan, karena sangat kuningnya, maka warnanya nyaris putih.

Mengenai firman-Nya, tasurrun naadhiriin (“yang menyenangkan yang melihatnya,”) as-Suddi mengatakan, yaitu menakjubkan bagi orang yang menyaksikannya. Demikian itu pula kata Abu al-Aliyah, Qatadah dan Rabi’ bin Anas.

Sedangkan Wahab bin Munabbih mengatakan, jika engkau melihat kulitnya, maka terbayang dalam benakmu bahwa sinar matahari terpancar dari kulitnya.

Firman-Nya, innal baqara tasyaabaHa ‘alainaa (“Sesungguhnya sapi itu masih samar bagi kami,”) Maksudnya, karena jumlahnya yang sangat banyak sehingga menjadikannya samar. Oleh karena itu, sebutkan keistimewaan sapi itu dan juga sifat-sifat yang dimilikinya kepada kami. Wa innaa insya Allah, (“jika engkau menjelaskannya kepada kami, kami akan beroleh petunjuk”) kepadanya. Musa berkata, “Allah berfirman bahwa sapi betina itu ialah sapi yang belum pernah dipakai mengolah tanah, tidak untuk mengairi tanaman. “Artinya, sapi betina itu tidak dihinakan dengan menggunakannya untuk bercocok tanam dan tidak juga untuk menyirami tanaman, tetapi sapi itu sangat dihormati, elok, mulus, sehat dan tidak ada cacat padanya.

Laa syiyata fiiHaa; berarti tidak ada warna lain selain yang dimilikinya. Menurut Atha’ al-Khurasani, berarti warna sapi itu hanya satu yaitu polos. Qaalul aana ji’ta bilhaqqi (“Mereka berkata, ‘Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.”) Qatadah mengatakan, sekarang engkau telah berikan penjelasan kepada kami. Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: “Hal itu dikatakan: `Demi Allah, telah datang kepada mereka kebenaran.”‘

FadzabahuuHaa wa maa kaaduu yaf’aluun (“Kemudian mereka menyembelihnya dan mereka nyaris tidak mengerjakannya.”) Dari Ibnu Abbas, adh-Dhahhak mengatakan: “Mereka nyaris tidak melakukannya. Penyembelihan itu bukanlah suatu yang mereka kehendaki, karena yang mereka inginkan justru tidak menyembelihnya.”

Maksudnya, meskipun sudah ada semua penjelasan, juga berbagai Tanya jawab, serta keterangan tersebut, namun mereka tidak menyembelihnya kecuali setelah bersusah payah mencarinya. Semua itu mengandung celaan terhadap mereka, karena tujuan mereka melakukan hal itu tidak lain untuk menunjukkan kesombongan. Oleh karena itu mereka nyaris tidak menyembelihnya.

Permasalahan:

Ayat yang menyebutkan sifat-sifat sapi betina itu sehingga benar-benar jelas dan tertentu, setelah disebutkan secara global, dapat dijadikan dalil yang menunjukkan sahnya jual-beli as-salam pada binatang sebagaimana hal itu menjadi madzhab Imam Malik, al-Auza’i, al-Laits, Imam Syaf’i, Imam Ahmad, dan jumhur ulama, baik ulama salaf (yang terdahulu) maupun khalaf (yang datang kemudian). As-Salam, adalah jenis transaksi dimana pembayaran dilakukan secara kontan sementara barangnya diterima kemudian, namun spesifikasinya sudah jelas dan ditentukan, juga waktu penerimaannya datang kemudian).

Hal itu didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim. Dari Nabi, beliau bersabda: “Seorang perempuan tidak boleh menjelaskan sifat perempuan lain kepada suaminya hingga seolah-olah suaminya melihatnya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Sebagaimana Nabi menyifati unta diyat (tebusan) dalam kasus pembunuhan karena kesalahan, atau hampir masuk dalam kategori sengaja, dengan sifat-sifat yang disebutkan oleh hadits. Abu Hanifah, ats-Tsauri, dan para ulama Kufah berpendapat, tidak sah jual beli as-salam pada binatang, sebab tidak tertentu kondisinya. Keterangan yang sama juga diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Hudzaifah bin al-Yaman, Abdur Rahman bin Samurah, dan lain-lainnya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 67

17 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 67
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 67“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina”. Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?”. Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah sekiranya menjadi seorang dari orang-orang yang jahil”. (QS. 2:67)

Allah Ta’ala berfirman: “Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat yang telah Aku berikan kepada kalian berupa kejadian yang luar biasa, yaitu penyembelihan seekor sapi betina dan penjelasan tentang si pembunuh dengan sebab sapi itu. Kemudian Allah menghidupkan kembali orang yang terbunuh itu hingga dapat ditanya tentang siapa yang membunuhnya.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, dari Muhammad bin Sirin, dari Ubaid al-Salmani, ia bercerita: “Di kalangan Bani Israil terdapat seorang laki-laki mandul, tidak beranak, sedang ia mempunyai harta kekayaan melimpah, maka anak saudaranya lah (keponakannya) itu yang jadi pewarisnya. Kemudian ia dibunuh oleh keponakannya itu. Pada malam hari mayatnya dibawa dan diletakkannya di depan pintu salah satu dari mereka (Bani Israil). Ketika pagi hari tiba, ia menuduh pemilik rumah dan warga sekitar sebagai pembunuhnya, sehingga mereka pun mengangkat senjata dari saling menyerang. Beberapa orang yang mempunyai pikiran bijak berkata, “Mengapa kalian saling membunuh, padahal ada Rasul Allah di tengah-tengah kalian?” Mereka pun mendatangi Musa as dan menceritakan peristiwa tersebut kepadanya.

Musa pun berkata:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sabi betina.” Mereka berkata, “Apakah kamu hendak menjadikan kami sebagai bahan ejekan?” Musa menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang bodoh.”

Ubaid as-Salmani melanjutkan: “Seandainya mereka tidak menentang, pasti akan cukup bagi mereka sapi apa saja meskipun yang paling buruk, namun mereka mempersulit diri, maka Allah pun mempersulit mereka hingga mereka sampai pada sapi yang mereka diperintah menyembelihnya. Akhirnya mereka menemukan sapi itu pada seseorang yang tidak mempunyai sapi lain kecuali sapi betina itu. Si pemilik sapi itu berkata, “Demi Allah, aku tidak akan melepaskan sapi itu jika harganya kurang dari emas sepenuh kulitnya.” Maka mereka pun menyembelihnya dengan harga senilai emas sepenuh kulit sapi tersebut. Kemudian mereka menyembelihnya dan memukul mayat orang tadi dengan bagian tubuh sapi itu, maka bangunlah orang yang sudah mati itu. Setelah itu mereka bertanya. “Siapakah yang membunuhmu?” la menjawab, “Orang ini,” sambil menunjuk kepada anak saudaranya tersebut. Kemudian ia pun terkulai dan mati kembali. Maka keponakannya itu tidak diberi warisan sedikit pun dari kekayaannya. Sejak itulah seorang pembunuh tidak berhak mendapatkan warisan dari orang yang dibunuhnya.

Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari Ayub, dari Muhammad bin Sirin, dari Ubaidah. Wallahu a’lam.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 65-66

17 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 65-66
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 65-66“65. dan Sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina”. 66. Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang Kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 65-66)

Allah berfirman: wa laqad ‘alimtum (“Sesungguhnya kamu sudah mengetahui”) hai orang-orang Yahudi, adzab yang telah ditimpakan kepada penduduk negeri yang mendurhakai perintah Allah dan melanggar perjanjian yang telah diambil-Nya atas mereka agar menghormati hari sabtu serta mengerjakan perintahNya yang telah disyari’atkan bagi mereka. Lalu mereka mencari-cari alasan supaya dapat menangkap ikan paus pada hari sabtu, yaitu dengan memasang pancing, jala, dan perangkap sebelum hari Sabtu, maka ketika ikan-ikan itu datang pada hari Sabtu dalam jumlah besar seperti biasanya, tertangkaplah dan tidak dapat lolos dari jaring dan perangkapnya. Ketika malam hari tiba, setelah hari Sabtu berlalu, mereka segera mengambil ikan-ikan tersebut. Tatkala mereka melakukan hal itu, Allah mengubah rupa mereka seperti kera, sebagai hewan yang lebih menyerupai manusia, namun bukan seperti manusia sesungguhnya.

Demikian juga tindakan dan alasan yang mereka buat-buat yang secara lahiriyah tampak benar tetapi sebenarnya bertentangan. Karena itulah mereka mendapatkan balasan yang serupa dengan perbuatannya tersebut. Kisah tersebut termuat di dalam surat al-A’raaf (yaitu ayat 163 sampai 167).

Dan firman-Nya, kepada mereka, fa qulnaa laHum kuunuu kiradattan khaasi-iin (“Lalu Kami berfirman kepada mereka: ‘Jadilab kamu kera-kera yang hina.’”) Di dalam tafsirnya, al-Aufi dari Ibnu Abbas mengatakan: “Maka Allah swt. mengubah sebagian mereka menjadi kera dan sebagian lainnya menjadi babi. Diduga bahwa para pemuda dari kaum tersebut menjadi kera sedang generasi tuanya menjadi babi. Dan mereka tidak hidup di muka bumi kecuali tiga hari saja, tidak makan dan tidak minum serta tidak melahirkan keturunan. Allah telah menciptakan kera, babi, dan makhluk lainnya dalam enam hari sebagaimana telah difirmankan-Nya dalam al-Qur’an, maka mereka dijadikan berbentuk kera. Demikianlah Allah berbuat terhadap siapa yang Dia kehendaki sesuai dengan kehendak-Nya, dan mengubahnya sesuai dengan kehendak-Nya Pula.”

Mengenai firman-Nya, fa qulnaa laHum kuunuu kiradattan khaasi-iin (“Lalu Kami berfirman kepada mereka: ‘Jadilab kamu kera-kera yang hina.’”) Diriwayatkan dari Rabi’ bin Anas, dari Abu al-Aliyah, Abu Ja’far mengatakan: “Yaitu hina dan rendah.”

Firman-Nya, fa ja’alnaaHaa nakaalan (“Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan”) : Yang benar, dhamir pada ayat tersebut kembali ke kata al-Qaryah (negeri). Artinya, Allah menjadikan penduduk negeri ini sebagai peringatan ” disebabkan oleh pelanggaran mereka pada hari Sabtu. Yaitu Kami hukum mereka dengan hukuman yang dapat dijadikan pelajaran dan peringatan.

Firman Allah, limaa baina yadaiHaa wa maa khalfaHaa (“Bagi orang-orang saat itu dan bagi mereka yang datang kemudian”): Yakni dari segala negeri. Ibnu Abbas mengatakan: “Kami jadikan hukuman yang kami berikan kepada mereka itu sebagai pelajaran bagi penduduk negeri-negeri lain di sekirarnya.” Wallahu a’lam.

Mengenai firman-Nya, fa ja’alnaaHaa nakaalan limaa baina yadaiHaa wa maa khalfaHaa (“Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan Bagi orang-orang saat itu dan bagi mereka yang datang kemudian.”) diriwayatkan dari Rabi’ bin Anas, dari Abu al-Aliyah, Abu Ja’far ar-Razi menuturkan: “Yaitu hukuman atas dosa-dosa mereka yang lalu.” Ibnu Abi Hatim berkata, diriwayatkan dari `Ikrimah, Mujahid, as-Suddi, al-Farra’, dan Ibnu Athiyyah: “Maksudnya peringatan atas perbuatan dosa yang mereka lakukan pada saat itu dan dosa yang dilakukan oleh orang-orang sesudah mereka pada masa yang akan datang.”

Ar-Razi menyebutkan tiga pendapat mengenai pengertian ayat: baina yadaiHaa wa maa khalfaHaa; dan penulis (Ibnu Katsir) katakan, di antara ketiga pendapat tersebut yang paling rajih (kuat) adalah pendapat yang menyatakan: “Maksudnya, adalah orang-orang yang tinggal di negeri sekitarnya yang dapat mendengar berita tentang nasib dan hukuman yang menimpa mereka. Sebagaimana firmankan negeri-negeri di sekitar kamu.” (QS. Al-Ahqaaf: 27)

Dan sebagaimana firman-Nya, “Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri.” (QS. Al-Ra’ad: 31). Dengan demikian, Allah swt. menjadikan mereka sebagai pelajaran dan peringatan bagi orang-orang yang hidup pada zaman mereka, sekaligus sebagai pelajaran bagi orang-orang sesudahnya, dengan berita yang meyakinkan (mutawatir) tentang mereka. Oleh karena itu Dia berfirman, “Dan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. ”

Mengenai firman-Nya ini, wa mau’idlatal lil muttaqiin (“Dan sebagai pelajaran orang-orang yang bertakwa,”) Muhammad bin Ishak dari Ibnu Abbas mengatakan: “Yaitu orang-orang yang hidup setelah mereka, sehingga mereka menghindari dan menjauhkan diri dari muka Allah.”

Ibnu Katsir mengatakan, yang dimaksud dengan al-mau’izhah adalah peringatan keras. Jadi makna ayat ini adalah Kami jadikan siksaan dan hukuman sebagai balasan atas pelanggaran mereka terhadap larangan-larangan Allah dan perbuatan mereka membuat berbagai tipu muslihat. Oleh karena itu, hendaklah orang-orang yang bertakwa menjauhi tindakan seperti itu agar hal yang sama tidak menimpa mereka.

Sebagaimana diriwayatkan Abu Abdillah bin Baththah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian melakukan apa yang dilakukan oleh kaum Yahudi, dengan cara menghalalkan apa yang diharamkan Allah melalui tipu-muslihat yang amat rendah.” (Isnad hadits ini jayyid (baik)). &

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 63-64

17 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 63-64
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 63-64“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat gunung (Thursina) di atasmu (seraya kami berfirman): ‘Peganglah dengan teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertaqwa.’ (QS. 2:63) Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi.” (QS. 2:64)

Allah swt. mengingatkan Bani Israil akan janji mereka kepada Allah untuk senantiasa beriman kepada-Nya semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, dan mengikuti Para rasul-Nya.
Selain itu Allah swt. juga memberitahukan bahwa ketika mengambil janji dari mereka, Dia mengangkat gunung di atas kepala mereka agar mereka mengakui janji yang telah mereka ikrarkan dan memegangnya dengan teguh, niat yang kuat untuk melaksanakannya serta tunduk patuh, sebagaimana firman-Nya:
“Dan ingatlah ketika Kami mengangkat gunung ke atas mereka seakan-akan gunung itu naungan awan dan mereka yakin bahwa gunung itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka): ‘Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu [amalkan] apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-A’raaf: 171)

Thur ialah gunung, sebagaimana ditafsirkan dalam surat al-A’raaf. Dan hal itu telah ditegaskan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Atha’, Ikrimah, Hasan al-Bashri, adh-Dhahhak, Rabi’ bin Anas, dan ulama lainnya. Dan inilah pendapat yang jelas.

Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas, Thur adalah gunung yang ditumbuhi pepohonan sedangkan yang tidak ditumbuhi pepohonan tidak disebut sebagai Thur.

Dalam hadits mengenai fitnah diriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Ketika mereka menolak berbuat ketaatan, maka Allah mengangkat gunung di atas kepala mereka supaya mereka mendengar.”

Sedangkan as-Suddi mengatakan: “Ketika mereka menolak bersujud, Allah Ta’ala memerintahkan kepada gunung untuk runtuh menimpa mereka, ketika mereka melihat gunung telah menutupi, mereka pun jatuh tersungkur dalam keadaan bersujud. Mereka bersujud pada satu sisi dan melihat pada sisi yang lain. Maka Allah pun merahmati mereka dengan menyingkirkan gunung itu dari mereka. Setelah itu mereka mengatakan: `Demi Allah, tiada satu sujud pun yang lebih disukai Allah melebihi sujud yang dengannya Dia menyingkirkan adzab dari mereka, dan demikianlah mereka bersujud.’ Itulah makna firman Allah Ta’ala: “Dan Kami angkat gunung [Thursina] di atas kalian.”

Mengenai firman-Nya: khudzuu maa aatainaakum biquwwatin (“Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu.”) Hasan al-Bashri mengatakan yaitu kitab Taurat. Sedangkan menurut Mujahid: “Mengamalkan apa yang dikandungnya.”

Masih mengenai firman-Nya: khudzuu maa aatainaakum biquwwatin (“Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu.”) Qatadah mengatakan: “al-quwwaH” berarti “sungguh-sungguh. Dan jika kalian tidak mengamalkannya maka gunung itu Kami timpakan kepada kalian. Karena mereka mau mengakui bahwa mereka akan berpegang teguh dengan apa yang diberikan kepada mereka dengan kuat. Namun jika tidak, maka Allah akan menimpakan gunung itu kepada mereka.”

Dan mengenai firman-Nya: “wadz-kuruu maa fiiHi (“dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya”) Abu ‘Aliyah dan Rabi’ bin Anas mengatakan: “Artinya baca dan amalkan apa yang terdapat dalam kitab Taurat.”

Firman-Nya: tsumma tawallaitum mim ba’di dzaalika falau laa fadl-lullaaHi (“Kemudian kamu berpaling setelah [adanya perjanjian] itu, maka kalau tidak ada karunia Allah.”) artinya Allah telah menuturkan, bahwa setelah perjanjian yang tegas lagi agung ini, kalian berpaling serta menyimpang darinya dan melanggarnya.” Falau laa fadl-lullaaHi ‘alaikum wa rahmatuHu (“Kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya”) yaitu dengan menerima taubat kalian, la kuntum minal khaasiriin (“niscaya kalian termasuk orang-orang yang merugi.”) di dunia dan di akhirat karena pelanggaran yang kalian lakukan terhadap perjanjian itu.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 62

17 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 62
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 62“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar- benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Rabb mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 62)

Setelah Allah swt. menjelaskan keadaan orang-orang yang menyalahi perintah-Nya, melanggar larangan-Nya, mengerjakan hal-hal yang tidak diizinkan-Nya, dan melakukan hal-hal yang telah diharamkan serta hukuman yang ditimpakan kepada mereka. Dia mengingatkan bahwa siapa yang berbuat baik dan menaati-Nya dari umat-umat terdahulu akan mendapatkan pahala kebaikan. Demikian itu terus berlanjut sampai hari kiamat tiba. Setiap orang yang mengikuti Rasul, Nabi Muhammad yang ummiy (yang buta huruf) akan memperoleh kebahagiaan abadi, dan tidak merasa khawatir dalam menghadapi apa yang akan terjadi di masa mendatang, juga tidak bersedih atas apa yang mereka tinggalkan dan terluput dari mereka, sebagaimana firman-Nya: “Ingatlah, sesungguhnya wali wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. ” QS. Yunus: 62).

Juga seperti perkataan para malaikat kepada orang-orang mukmin, ketika hendak dicabut nyawanya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, `Rabb kami adalah Allah’. Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), ‘janganlah kalian merasa takut dan janganlah kalian merasa sedih dan bergembiralah kalian dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepada kalian.’” (QS. Fushshilat: 30).

Dari Mujahid, Ibnu Abi Hatim mengatakan: Salman bercerita, aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw. mengenai pemeluk suatu agama, yang aku pernah bersama mereka. lalu aku kabarkan mengenai shalat dan ibadah mereka. maka turunlah firman Allah swt.:

“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar- benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Rabb mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 62)

Mengenai hal ini penulis (Ibnu Katsir) mengatakan: “Ini tidak bertentangan dengan riwayat Ali bin Abi Thalib dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar- benar beriman kepada Allah, hari kemudian,” setelah itu Allah pun menurunkan ayat: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imraan: 85)

Karena apa yang disampaikan Ibnu Abbas itu merupakan pemberitahuan bahwa Allah tidak akan menerima suatu jalan atau amalan dari seseorang kecuali sesuai dengan syariat Muhammad saw. setelah beliau diutus sebagai Rasul pembawa risalah. Sedangkan sebelum itu, maka semua orang yang mengikuti Rasul zamannya, mereka berada pada petunjuk dan jalan keselamatan. Yahudi merupakan pengikut Musa as. dan mereka berhukum kepada taurat pada zamannya.

Kata “Yahudi” berasal dari kata “HawadaH” artinya kasih sayang atau “tawaHHud” yang berarti taubat. Seperti ucapan Musa as: “Innaa Hudnaa ilaika” (Sesungguhnya kami bertaubat kepada-Mu) (Al-A’raaf: 156). Maksudnya ialah: “Kami bertaubat.” Kemungkinan mereka disebut demikian pada awalnya karena taubat mereka dan kecintaan sebagian mereka kepada sebagian yang lain.

Ada pula yang berpendapat, dinamakan Yahudi karena hubungan silsilah mereka dengan Yahuda, putra tertua Nabi Ya’qub. Menurut Abu Amr bin al-A’la karena mereka “yataHawwaduun” yaitu mereka begerak-gerak ketika membaca Taurat.

Ketika Isa as. diutus, diwajibkan kepada Bani Israil untuk mengikuti dan tunduk kepadanya. Para sahabat yang mengikuti dan memeluk agama yang dibawa Isa as. itu disebut Nashrani. Disebut demikian karena mereka saling mendukung satu sama lain. Mereka disebut juga Anshar sebagaimana dikatakan oleh Isa as melalui firman Allah: “Siapakah yang akan menjadi anshari [penolong-penolongku] untuk [menegakkan agama] Allah?”

Para hawariyyun (sahabat-sahabat setia) menjawab, “Kamilah Anshar (penolong-penolong) agama Allah.” (QS. Ali Imraan: 52).

Ada pula yang mengatakan, disebut demikian karena mereka mendiami daerah bernama Nashirah. Hal itu dikatakan oleh Qatadah dan Ibnu Juraij. Juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Wallahu a’lam.

Namun setelah Allah mengutus Nabi Muhammad saw. sebagai Nabi dan rasul terakhir bagi seluruh anak cucu Adam, maka wajib bagi mereka untuk membenarkan apa yang dibawanya, menaati apa yang diperintahnya, dan menjauhi apa yang dilarangnya. Mereka itulah mukmin yang hak (orang yang benar-benar beriman). Umat Muhammad disebut mukminin karena iman mereka yang sungguh-sungguh serta keyakinan mereka yang kuat. Selain itu, karena mereka juga beriman kepada seluruh nabi yang terdahulu dan kepada perkara-perkara ghaib yang akan terjadi.

Sedangkan mengenai Shabi’in, para ulama berbeda pendapat. Di antara pendapat yang lebih jelas adalah pendapat Mujahid, para pengikutnya, dan Wahab bin Munabbih. Menurutnya, mereka adalah suatu kaum yang tidak memeluk agama Yahudi, tidak juga agama Nasrani, ataupun Majusi dan bukan pula Musyrikin. Tetapi mereka adalah kaum yang masih berada di atas fitrah dan tidak ada agama tertentu yang dianut dan dipeluknya.

Oleh karena itu, orang-orang musyrik mengejek orang yang berserah diri dengan sebutan Shabi’i. Artinya, ia berada di luar semua agama yang ada di muka bumi pada saat itu. Dan sebagian ulama lainnya mengatakan, shabi’in adalah mereka yang tidak sampai kepadanya dakwah seorang nabi. Wallahu a’lam.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 61

17 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 61
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 61a“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, Kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. sebab itu mohonkanlah untuk Kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi Kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, Yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi yang memang tidak dibenarkan. demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.” (al-Baqarah: 61)

Allah Ta’ala menyeru, Hai Bani Israil ingatlah nikmat yang telah Aku berikan kepada kalian berupa Manna dan Salwa sebagai makanan yang bermanfaat bagi kalian, menyenangkan dan mudah didapat. Dan ingatlah ketika kalian menolak dan merasa bosan dengan apa yang telah Aku anugerahkan kepada kalian, serta meminta kepada Musa as. agar menggantikannya dengan makanan yang hina berupa sayur-sayuran dan sejenisnya.

Al-Hasan al-Bashri berkata, dan merekapun menolak semuanya dan tidak tahan dengannya. Lalu mereka menyebutkan gaya hidup yang mereka jalani, sebagai kaum yang sangat gemar dengan kacang adas, bawang merah, sayuran dan bawang putih. Mereka berkata: “Hai Musa, Kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. sebab itu mohonkanlah untuk Kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi Kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, Yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”.

Mereka mengatakan tidak tahan terus-menerus mengkonsumsi satu jenis makanan, padahal mereka makan Manna dan salwa, namun karena makanan mereka tidak pernah ganti, tiap hari, maka dikatakan sebagai satu makanan. Al-Buquulu (“Sayur-mayur”) al-kitsaa-u (ketimun) al-‘adasu (kacang adas) dan al-bashalu (bawang merah) semua ini sudah dikenal. Sedangkan mengenai “al-fuumu” masih terdapat perbedaan di kalangan ulama salaf. Menurut Ibnu Mas’ud, kata itu dibaca “tsuumiHaa” dengan menggunakan huruf “tsa” di depan.

Mengenai firman-Nya, “wa fuumiHaa”, Hasan al-Bashri dari Ibnu Abbas mengatakan, yaitu al-tsuum (bawang putih). Katanya Pula: “fuumuulanaa” dalam bahasa kuno artinya; buatkan roti untuk kami. Ibnu Jarir menuturkan, jika pendapat itu benar, maka huruf itu termasuk huruf yang dapat dirubah-rubah.
Misalnya, kalimat “wa qa’uu fii ‘aatsuuri syarrin” (mereka terlibat dalam perkara kejahatan) bisa juga dikatakan juga kata “’aafuuri syarrin ” juga kata “aatsaafii” (batu penyangga untuk memasak) dikatakan Pula dan kata “aatsaasyin” (pelapis topi perang, dari besi) disebut juga “maghaatsiiru”dan lain sebagainya, di mana “fa” berubah menjadi “tsa” dan “tsa” berubah menjadi “fa”, karena adanya kedekatan makhrajnya (tempat keluarnya huruf). Wallahu a’lam.

Dan Abu Malik, Hasyim mengatakan, wa fuumiHaa berarti “al-hinthaatu” (gandum). Wallahu `alam.
Sedangkan Ibnu Duraid mengatakan, “alfuumu” berarti “assanbulatu”.

Al-Qurthubi meriwayatkan dari Atha’ dan Qatadah bahwa al-fuum itu setiap biji yang dapat dibuat roti.
Dan menurut sebagian ulama lain, yaitu jenis kacang dalam bahasa Syam.

Al-Bukhari menuturkan, sebagian ulama mengatakan bahwa segala macam biji-bijian yang dapat dimakan adalah fum.

Firman-Nya, “Maukah kamu mengambil sesuatu yang lebih buruk sebagai pengganti yang baik ?” Dalam ungkapan ini terdapat teguran keras sekaligus kecaman terhadap tindakan mereka meminta makanan-makanan buruk lagi rendah tersebut, padahal mereka berada dalam kehidupan yang enak, dan dipenuhi dengan makanan-makanan lezat, baik dan bermanfaat.

Firman-Nya, iHbithuu mish-ran (“Pergilah kamu ke suatu kota”) Demikianlah, kata “mish-ran” ditulis dengan bertanwin dan diberi alif sesuai penulisan mushaf Khalifah Utsman, dan itulah qira’ah jumhur ulama.

Ibnu Abbas mengenai firman-Nya, “iHbithuu mish-ran” ini, mengatakan: “mish-ran” salah satu dari “amshaarun” (kota-kota).

Ibnu Jarir mengatakan, mungkin juga yang dimaksud dengan kata mishran tersebut adalah Mesir, di mana Fir’aun menetap. Yang benar, bahwa yang dimaksud dengan mishran di sini adalah salah satu dari amshaar’, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan lain-lainnya. Karena Musa as. berkata kepada mereka, makanan yang kalian minta itu bukanlah suatu hal yang sulit diperoleh, bahkan banyak dijumpai di belahan kota mana saja yang kalian datangi. Dan karena rendah dan banyaknya makanan itu di seluruh kota, tidak sebanding jika aku memohon hal itu kepada Allah. Maka Nabi Musa berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang lebih buruk sebagai pengganti yang baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pastilah kamu memperoleh apa yang kamu minta.” Maksudnya, permintaan kalian itu hanya sebagai bentuk kesombongan dan mengkufuri nikmat juga bukan hal yang darurat, maka permintaan tersebut tidak dipenuhi. Wallahu a’lam.

tulisan arab surat albaqarah ayat 61b“Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.” (QS. 2:61)

Allah berfirman, “Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan.” Maksudnya, nista dan kehinaan itu ditimpakan dan ditetapkan atas mereka sesuai syari’at dan takdir. Artinya, mereka akan terus dan senantiasa dihinakan. Setiap orang yang menjumpai mereka akan memandang mereka hina dan rendah. Dan dengan demikian itu, mereka benar-benar menghinakan diri mereka sendiri.

Mengenai firman-Nya, “Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan.” Dari Ibnu Abbas, ad-Dahhak menuturkan: “Mereka adalah orang-orang yang membayar jizyah.”

Abdur Razak dari Mu’ammar dari Hasan dan Qatadah mengenai firman-Nya, “Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan.” mengatakan: “Mereka membayar jizyah dengan patuh, sedang mereka dalam keadaan tunduk.”

Menurut adh-Dhahhak: “Adz-dzillah berarti kehinaan, kerendahan.”

Sedangkan Hasan al-Bashri mengatakan: “Allah menghinakan mereka, maka mereka tidak mempunyai kekuatan, dan menjadikan mereka berada di bawah kaki kaum muslim ini. Dan umat ini sempat menyaksikan orang-orang Majusi memungut jizyah dari mereka.”

Abu al-Aliyah, Rabi’ bin Anas, dan as-Suddi mengatakan: “Al-maskanah berarti kesusahan.” Sedang menurut Athiyah al-Aufi yaitu “pajak.”

Firman-Nya: “Dan mereka mendapat kemurkaan dari Allah,” adh-Dhahhak mengatakan: mereka berhak mendapat kemurkaan dari Allah.”

Sedangkan Rabi’ bin Anas mengatkan: “Maka turun kepada mereka murka dari Allah.”

Dan masih mengenai firman-Nya ini, Ibnu Jarir mengatakan: mereka pulang dan kembali. Dan tidak dikatakan “baa-uu” (kembali) melainkan bersambung dengan kata berikutnya, baik dengan suatu hal yang baik maupun buruk. Misalnya dikatakan: si fulan itu kembali dengan membawa dosanya. Sebagaimana firman Allah: “…Sesungguhnya aku ingi agar engkau kembali membawa dosa (membunuh)ku dan dosa kamu sendiri.” (QS. Al-Maa-idah: 29).
Artinya, hendaklah kamu kembali dengan membawa beban kedua dosa tersebut, dan keduanya menjadi beban dirimu. Maka firman Allah tersebut mengandung makna: “Jika mereka kembali, dalam keadaan menanggung murka Allah, berarti mereka benar-benar terkena kemarahan Allah dan pasti tertimpa murka-Nya.”

Firman Allah selanjutnya: “Hal itu terjadi karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. “Allah Ta’ala menuturkan: Kenistaan, kehinaan, dan kemurkaan yang Kami timpakan kepada mereka itu disebabkan oleh kesombongan mereka menolak kebenaran, dan kekufuran mereka terhadap ayat-ayat Allah, serta penghinaan mereka terhadap para pengemban amanat syari’at, yaitu para nabi dan pengikutnya. Mereka telah melecehkan hingga mencapai suatu titik keadaan yang menyeret mereka pada pembunuhan para Nabi. Tidak ada kekufuran yang lebih parah dari hal ini. Mereka ingkar terhadap ayat-ayat Allah serta membunuh para nabi dengan cara yang tidak dibenarkan.

Oleh karena itu di dalam hadits yang telah disepakati keshahihannya ditegaskan bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”
Yakni, menolak kebenaran, melecehkan dan meremehkan orang lain, dan membanggakan diri mereka sendiri.

Mengenai firman Allah: “Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas,” Imam Ahmad mengatakan: “Hal ini merupakan alasan lain mengapa mereka senantiasa diberikan balasan seperti itu, yakni karena senantiasa berbuat maksiat dan bersikap melampaui batas. Maksiat itu melakukan berbagai larangan, sedang melampaui batas ialah melanggar ketentuan yang ditetapkan dan diperintahkan-Nya.” Wallahu a ‘lam.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 60

17 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 60
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 60“Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: ‘Pukullah batu itu dengan tongkatmu’. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rizki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” (QS. 2:60)

Allah berfirman kepada Bani Israil: “Ingatlah nikmat yang telah Aku anugerahkan dengan mengabulkan do’a Nabi Musa as. ketika memohon air untuk kalian semua. Maka Aku pun segera mempermudah dan mengeluarkan air bagi kalian dari sebuah batu. Aku pancarkan dari batu itu dua belas mata air. Masing-masing suku dari kalian (Bani Israil) memiliki mata air yang sudah diketahui.”

Karena itu, “Makanlah dari manna dan salwa. Minumlah dari air yang telah Aku pancarkan bagi kalian tanpa perlu usaha dan kerja keras, serta beribadahlah kepada Rabb yang telah menciptakan semua itu untuk kalian”.

Firman-Nya, “Dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. “Artinya, janganlah kalian balas berbagai nikmat itu dengan kemaksiatan. Sebab jika kalian melakukannya, nikmat tersebut akan dicabut dari kalian.

Kisah ini hampir sama dengan kisah yang terdapat dalam surat al-A’raf, tetapi surat tersebut turun di Makkah. Oleh karena itu, pemberitaan mengenai diri mereka menggunakan dhamir (kata ganti) orang ketiga. Karena di dalam ayat itu Allah menceritakan kepada Rasul-Nya, Muhammad saw, mengenai apa yang Dia lakukan terhadap Bani Israil. Sedangkan kisah yang terdapat dalam surat (al-Baqarah ini), turun di Madinah. Sehingga ayat ini ditujukan langsung kepada mereka, dan Dia memberitahukan melalui firman-Nya: “Maka berpancarlah daripadanya dua belas mata air.” (QS. Al-A’raaf: 160).

Inbajasat maksudnya pancaran mata air yang pertama kali. Sedang di dalam Surat al-Baqarah ini diberitakan di akhir situasinya yaitu infijar, maka tepatlah penyebutan infijar (pemancaran air) pada ayat ini, dan permulaan pemancaran air pada ayat lain. Wallahu a’lam.

Di antara kedua siyaq (konteks) tersebut terdapat perbedaan dari sepuluh segi, baik secara lafziyah maupun maknawiyah. Dalam tafsirnya, al-Zamakhsyari telah mengajukan pertanyaan mengenai hal itu dan dia kemukakan sendiri jawabannya, dan jawaban tersebut mendekati (kebenaran). Wallahu a’lam.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 58-59

17 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 58-59
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-1 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 58-59“Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: ‘Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya dengan bersujud, dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Baqarah: 58) Lalu orang-orang yang zhalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zhalim itu siksaan dari langit, karena mereka berbuatfasik.” (QS. Al-Baqarah: 59)

Ayat ini ditujukan untuk mencela mereka, karena mereka menolak untuk berjihad dan memasuki Tanah Suci (Baitul Maqdis) ketika tiba dari Mesir bersama Musa as. Allah memerintahkan mereka untuk memasuki Tanah Suci yang merupakan warisan dari nenek moyang mereka, Israil (Ya’qub). Juga untuk memerangi kaum Amalik yang kafir, namun mereka menolak berperang, dan bersikap lemah dan lesu. Maka Allah swt. mencampakkan mereka ke tengah padang sahara yang menyesatkan sebagai hukuman bagi mereka. Sebagaimana disebutkan Allah swt dalam surat al-Maidah.

Oleh karena itu di antara dua pendapat mengenai hal itu,yang paling tepat adalah pendapat yang menyatakan bahwa negeri itu adalah Baitul Maqdis, sebagaimana yang telah dinashkan oleh as-Suddi, Rabi’ bin Anas, Qatadah, Abu Muslim al-Isfahani, dan lain-lainnya. Berkisah mengenai Musa berfirman: “masuklah kamu ke Tanah suci yang telab ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang. ” (QS. Al-Maa-idah: 21).

Yang benar adalah pendapat yang menyatakan bahwa negeri tersebut adalah Baitul Maqdis. Peristiwa ini terjadi setelah mereka berhasil keluar dari padang pasir, di mana mereka sempat mendekam selama 40 tahun bersama Yusya’ bin Nun Kemudian Allah membukakan-negeri itu bagi mereka pada sore hari Jum’at.

Pada hari itu perjalanan matahari ditahan sebentar (oleh Allah) hingga akhirnya mereka mendapatkan kemenangan. Kemudian Allah swt. memerintahkan mereka memasuki pintu negeri itu (Baitul Maqdis) sambil bersujud, sebagai pernyataan syukur kepada Allah Ta’ala atas nikmat yang telah diberikan kepada mereka, berupa kemenangan, pertolongan dan kembalinya negeri mereka, serta selamatnya mereka setelah tersesat di padang Sahara.

Dalam tafsirnya, al-Aufi meriwayatkan, dari Ibnu Abbas, katanya: Firman Allah,’Masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud,” artinya, “Sambil ruku”.

Mengenai firman-Nya, “Masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud,” dari Ibnu Abbas, Ibnu Jarir mengatakan, sambil ruku’ dari pintu kecil. Demikian diriwayatkan al-Hakim dari Sufyan. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Sufyan ats-Tsauri, dengan tambahan “Maka mereka masuk dengan membelakangi (mundur) dari arah pantat mereka.”

Khashif meriwayatkan dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, katanya: “Pintu tersebut menghadap ke arah kiblat.” Ibnu Abbas, Mujahid, asl-Suddi, Qatadah, dan adh-Dhahhak mengatakan, pintu Hittha termasuk pintu Elia Baitul Maqdis.

As-Suddi meriwayatkan dari Said al-Azadi, dari Abu Kanud, dari Abdullah bin Masud, dikatakan kepada mereka, “Masukilah pintu gerbangnya sembari bersujud” Maka mereka pun masuk dengan mengangkat kepala mereka, yang jelas itu bertentangan dengan apa yang diperintahkan kepada mereka.

Firman-Nya: “Katakanlah: ‘Bebaskanlah kami dari dosa.’” Sufyan ats-Tsauri mengatakan: “Artinya memohonlah ampunan.” Hal senada juga diriwayatkan dari Atha, al-Hasan al-Bashri, Qatadah dan ar-Rabi’ bin Anas.

Mengenai firman-Nya itu pula ad-Dahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, “Katakanlah hal ini haq sebagaimana dikatakan kepada kalian.” Sedangkan Ikrimah mengatakan, “Katakanlah ‘[Laa ilaaHa illallaaH] Tiada ilah yang haq selain Allah.’”

Dan Qatadah mengatakan, “Hal itu berarti ‘Hapuslah kesalahan-kesalahan kami’ niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik.” Ini merupakan jawaban atas perintah sebelumnya. Artinya, jika kalian melakukan apa yang Kami perintahkan maka Kami akan mengampuni kesalahan-kesalahan kalian dan Kami akan lipat gandakan kebaikan atas kalian.

Intinya mereka diperintahkan untuk tunduk kepada Allah swt. ketika memperoleh kemenangan, baik berupa perbuatan maupun ucapan. Selain itu hendaklah mereka mengakui dosa-dosa yang telah dilakukan, mohon ampun atasnya, mensyukuri nikmat, serta bersegera melakukan amalan yang disukai Allah swt. sebagaimana firman-Nya: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu Lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (an-Nashr: 1-3)

Sebagian para shahabat menafsirkannya dengan banyak berdzikir dan istighfar ketika mendapat pertolongan dan kemenangan. Sedangkan Ibnu Abbas menafsikan bahwa itu merupakan pemberitahuan tentang akhir ajal Rasulullah saw. kepada beliau, dan itu dibenarkan oleh Umar bin al-Khaththab.

Firman-Nya: “Lalu orang-orang yang zhalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka.” Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Dikatakan kepada Bani Israil, ‘Masuklah pintu gerbang sembari bersujud dan katakanlah: hiththah [bebaskanlah kami dari dosa]’ maka mereka pun memasuki pintu dengan berjalan merangkak di atas pantat mereka. Lalu mereka mengganti dan mengatakan, ‘Habbatun fii sya’ratin [biji-bijian di dalam gandum]”‘. (Hadits shahih ini diriwayatkan al-Bukhari, Muslim, dan at-Tirmidzi mengatakan, “hadits ini hasan shahih”.)

Kesimpulan dari apa yang dikemukakan oleh para mufassirin dan berdasarkan pada konteks ayat tersebut adalah bahwa mereka mengganti perintah Allah swt. untuk tunduk dengan ucapan maupun perbuatan. Ketika mereka diperintahkan untuk masuk sembari bersujud, mereka masuk sambil merangkak di atas pantat dan membelakangi dengan mengangkat kepala mereka. Mereka juga diperintahkan untuk mengatakan: “hiththaH” (hapuskanlah semua dosa dan kesalahan kami).” Tetapi mereka malah mengolok-olok perintah tersebut, dan dengan nada mengolok mereka mengatakan: hinthatun fii syi’iiratin (biji-bijian dalam gandum).”

Hal ini merupakan puncak pembangkangan dan pengingkaran. Oleh karena itu Allah swt/ menurunkan kepada mereka azab dan siksaan-Nya, disebabkan kefasikan mereka keluar dari ketaatan kepada-Nya. Dan karena itu, Dia berfirman, “Maka Kami timpakan atas orang-orang yang zhalim itu siksa dari langit karena mereka berbuat fasik.”

Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas, katanya; setiap kata ar-rijzu yang terdapat di dalam al-Qur’an berarti azab.
Sedangkan Abu al-Aliyah berpendapat, “ar-rizju”berarti “al-ghadlab” (marah murka).

Dan asy-Sya’bi mengatakan, “ar-rizju” bisa berarti “ath-Tha’uun” (wabah) dan bisa juga “al-Bardu” (hawa dingin).

Ibnu Jarir meriwayatkan, dari Usamah bin dari Rasulullah beliau bersabda: “Sesungguhnya penyakit dan penderitaan ini adalah rijzu [adzab] yang ditimpakan kepada sebagian umat sebelum kalian.” Hadits ini asalnya diriwayatkan di dalam kitab Shahihain (Shahih al-Bukhari dan Muslim).

&