Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 68-71

17 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 68-71
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 68-7168. mereka menjawab: ” mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina Apakah itu.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu”.
69. mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan kepada Kami apa warnanya”. Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”
70. mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan kepada Kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena Sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi Kami dan Sesungguhnya Kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).”
71. Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.” mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya”. kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.” (al-Baqarah: 68-71)
Mereka menjawab: “Mobonkanlab kepada Rabb-mu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakab itu?”Musa menjawab: “Sesunggubnya Allah berfirman babwa sapi betina itu adalah sapi yang tidak tua dan tidak muda; pertengaban antara itu; maka kerjakanlab apa yang diperintahkan kepadamu. ” (QS. 2:68) Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya. ”
Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman babwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenang-kan orang-orang yang memandangnya. ” (QS. 2:69) Mereka berkata: “Mobonkanlab kepada Rabb-mu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana bakikat sapi betina itu, karena sesunggubnya sapi itu (masib)
samar bagi kami dan sesunggubnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk. ” (QS. 2:70) Musa berkata: “Sesunggubnya Allah berfirman babwa sapi betina itu adalab sapi betina yang belum pernab dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya. ” Mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya. ” Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu. (QS. 2:71)

Allah memberitahukan tentang sikap keras kepala Bani Israil dan banyaknya pertanyaan yang mereka ajukan kepada rasul mereka. Oleh karena itu, ketika mereka mempersulit diri sendiri, maka Allah pun mempersulit mereka. Seandainya mereka menyembelih sapi bagaimanapun wujudnya, maka sudah cukup baginya, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Abbas, Ubaidah, dan ulama lainnya. Namun mereka mempersulit diri sendiri sehingga Allah pun mempersulit mereka, di mana mereka berkata, “Mohonlah kepada Rabb-mu untuk kami agarDia menjelaskan kepada kami, sapi betina apakah itu?” Artinya, sapi yang bagaimana kriterianya.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, seandainya mereka menyembelih sapi yang paling buruk sekalipun, maka cukuplah bagi mereka, tetapi ternyata mereka mempersulit diri, sehingga Allah pun mempersulit mereka. Riwayat ini berisnad shahih. Juga diriwayatkan oleh perawi lainnya dari Ibnu Abbas.

Hal senada juga dikemukakkan oleh Ubaidah, as-Suddi, Mujahid, Ikrimah, Abu al-Aliyah, dan ulama lainnya. “Musa menjawab, Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu ialah sapi yang tidak tua dan tidak muda. “Artinya, sapi itu tidak tua dan tidak juga muda yang belum dikawini oleh sapi jantan, sebagaimana dikatakan oleh Abu al-Aliyah, as-Suddi, juga Ibnu Abbas.

Mengenai firman-Nya; ‘awaanum baina dzaalika; adh-Dhahhak dari Ibnu ‘Abbas mengatakan, yaitu pertengahan antara tua dan muda, dan itulah hewan dan sapi yang paling bagus.

Sedangkan as-Suddi mengatakan; al-‘awaanu berarti an-nashfu (pertengahan) yaitu antara sapi yang sudah melahirkan dan cucu yang dilahirkan anaknya.

Mujahid dan Wahab bin Munabbih mengatakan, sapi tersebut berwarna kuning. Oleh karena itu Musa mempertegas warna kuning sapi itu dengan menyebutkan sebagai kuning tua.

Mengenai firman-Nya tersebut, Sa’id bin Jubair mengatakan, warnanya benar-benar murni lagi jernih. Hal senada juga diriwayatkan dari Abu al-Aliyah, Rabi’ bin Anas, as-Suddi, Hasan al-Bashri, dan Qatadah.

Dalam tafsirnya, al-Aufi, dari Ibnu Abbas, mengenai firman Allah: faaqi’ul launuHaa; mengatakan, karena sangat kuningnya, maka warnanya nyaris putih.

Mengenai firman-Nya, tasurrun naadhiriin (“yang menyenangkan yang melihatnya,”) as-Suddi mengatakan, yaitu menakjubkan bagi orang yang menyaksikannya. Demikian itu pula kata Abu al-Aliyah, Qatadah dan Rabi’ bin Anas.

Sedangkan Wahab bin Munabbih mengatakan, jika engkau melihat kulitnya, maka terbayang dalam benakmu bahwa sinar matahari terpancar dari kulitnya.

Firman-Nya, innal baqara tasyaabaHa ‘alainaa (“Sesungguhnya sapi itu masih samar bagi kami,”) Maksudnya, karena jumlahnya yang sangat banyak sehingga menjadikannya samar. Oleh karena itu, sebutkan keistimewaan sapi itu dan juga sifat-sifat yang dimilikinya kepada kami. Wa innaa insya Allah, (“jika engkau menjelaskannya kepada kami, kami akan beroleh petunjuk”) kepadanya. Musa berkata, “Allah berfirman bahwa sapi betina itu ialah sapi yang belum pernah dipakai mengolah tanah, tidak untuk mengairi tanaman. “Artinya, sapi betina itu tidak dihinakan dengan menggunakannya untuk bercocok tanam dan tidak juga untuk menyirami tanaman, tetapi sapi itu sangat dihormati, elok, mulus, sehat dan tidak ada cacat padanya.

Laa syiyata fiiHaa; berarti tidak ada warna lain selain yang dimilikinya. Menurut Atha’ al-Khurasani, berarti warna sapi itu hanya satu yaitu polos. Qaalul aana ji’ta bilhaqqi (“Mereka berkata, ‘Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.”) Qatadah mengatakan, sekarang engkau telah berikan penjelasan kepada kami. Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: “Hal itu dikatakan: `Demi Allah, telah datang kepada mereka kebenaran.”‘

FadzabahuuHaa wa maa kaaduu yaf’aluun (“Kemudian mereka menyembelihnya dan mereka nyaris tidak mengerjakannya.”) Dari Ibnu Abbas, adh-Dhahhak mengatakan: “Mereka nyaris tidak melakukannya. Penyembelihan itu bukanlah suatu yang mereka kehendaki, karena yang mereka inginkan justru tidak menyembelihnya.”

Maksudnya, meskipun sudah ada semua penjelasan, juga berbagai Tanya jawab, serta keterangan tersebut, namun mereka tidak menyembelihnya kecuali setelah bersusah payah mencarinya. Semua itu mengandung celaan terhadap mereka, karena tujuan mereka melakukan hal itu tidak lain untuk menunjukkan kesombongan. Oleh karena itu mereka nyaris tidak menyembelihnya.

Permasalahan:

Ayat yang menyebutkan sifat-sifat sapi betina itu sehingga benar-benar jelas dan tertentu, setelah disebutkan secara global, dapat dijadikan dalil yang menunjukkan sahnya jual-beli as-salam pada binatang sebagaimana hal itu menjadi madzhab Imam Malik, al-Auza’i, al-Laits, Imam Syaf’i, Imam Ahmad, dan jumhur ulama, baik ulama salaf (yang terdahulu) maupun khalaf (yang datang kemudian). As-Salam, adalah jenis transaksi dimana pembayaran dilakukan secara kontan sementara barangnya diterima kemudian, namun spesifikasinya sudah jelas dan ditentukan, juga waktu penerimaannya datang kemudian).

Hal itu didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim. Dari Nabi, beliau bersabda: “Seorang perempuan tidak boleh menjelaskan sifat perempuan lain kepada suaminya hingga seolah-olah suaminya melihatnya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Sebagaimana Nabi menyifati unta diyat (tebusan) dalam kasus pembunuhan karena kesalahan, atau hampir masuk dalam kategori sengaja, dengan sifat-sifat yang disebutkan oleh hadits. Abu Hanifah, ats-Tsauri, dan para ulama Kufah berpendapat, tidak sah jual beli as-salam pada binatang, sebab tidak tertentu kondisinya. Keterangan yang sama juga diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Hudzaifah bin al-Yaman, Abdur Rahman bin Samurah, dan lain-lainnya.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: