Wanita Memberikan Kesaksian

20 Feb

Wanita Dalam Pandangan Islam
Karya: Dr. Syarief Muhammad abdul adhim;
Penerjemah: Ibrahim Qamaruddin, Lc.

Permasalahan yang lain yang mana al-Qur`an dan kitab Al-muqaddas (kitab suci) berbeda pandangan di dalamnya yaitu kesaksian perempuan. Al-Qur`an memerintahkan orang-orang mukmin ketika mereka melakukan transaksi perdagangan agar mereka mendatangkan dua orang laki-laki sebagai saksi atau satu orang laki-laki dan dua orang perempuan:

“…Persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang lelaki diantaramu, jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa seorang lagi mengingatkannya…” (QS. Al-Baqarah: 182)

Akan tetapi pada bagian-bagian lain dalam al-Qur`an dia menerima kesaksian perempuan dan sebanding dengan kesaksian laki-laki. Bahkan kesaksian perempuan dapat membatalkan kesaksian laki-laki. Jika seorang suami menuduh isterinya berkhianat maka al-Qur`an menyuruh suami bersumpah lima kali untuk memperkuat kebenaran apa yang dia katakan. Akan tetapi jika isteri membantah dan bersumpah lima kali maka dia tidak dikategorikan sebagai isteri yang berdosa (berkhianat) dan jika kedua hal ini terjadi bubarlah pernikahan.

“Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka kesaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. Isterinya itu di hindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika suami itu termasuk orang-orang yang benar. Dan andaikata tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atas dirimu dan (andaikata) Allah bukan penerima Taubat Lagi Maha Bijaksana, (niscaya kamu akan mengalami kesulitan-kesulitan). Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga, janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu, tiap-tiap seorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang di kerjakannya. Dan siapa diantara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nuur: 6-11).

Akan tetapi dalam masyarakat Yahudi dahulu tidak diperbolehkan bagi seorang perempuan untuk menyampaikan kesaksiannya. (12)
Seorang pendeta berkata: “Sesungguhnya di antara Sembilan laknat yang diperuntukkan bagi perempuan disebabkan jatuhnya dari surga firdaus ialah kesaksiannya tidak di terima”. Dan perempuan di Israel sekarang tidak diperbolehkan untuk menyatakan kesaksiannya dalam pengadilan-pengadilan kependetaan. (13)
Dan telah dibenarkan oleh para pendeta bahwa hal itu disebutkan dalam bagian Kitab (Perjanjian Lama) Penciptaan (16: 9-12) bahwasanya Sarah isteri Ibrahim as telah berdusta. Akan tetapi kisah ini telah disebutkan dalam Al Qur`an lebih dari sekali dan tidak disebutkan sedikitpun bahwasanya Sarah telah berdusta, yaitu pada surat Hud: 69 -74, dan surat Adz-Dzaariyaat ayat 24 – 30.

Adapun menurut orang-orang barat Masihi sesungguhnya undang-undang sipil dan agama keduanya tidak membolehkan bagi perempuan untuk menyatakan kesaksiannya kecuali pada abad yang telah lalu saja. (14)

Jika seorang suami menuduh isterinya berkhianat maka tidak diambil kesaksian perempuan secara mutlak sesuai apa yang datang (tertera) dalam kitab Al Muqaddas (kitab suci). Dan perempuan yang tertuduh tunduk pada keputusan pengadilan dengan merasa sulit dan hina, untuk diputuskan apakah dia terbebas dari tuduhan tersebut atau berdosa. (Safar `Adad 5 : 11-31). Jika benar-benar dia berdosa setelah pengadilan ini, maka dia dikenakan hukuman mati. Dan jika dia terbukti bebas dari tuduhan tersebut maka suaminya tidak dikenakan hukuman atas tuduhannya terhadap isterinya. Dan jika seorang laki-laki menikah dengan seorang perempuan dan dia menuduh bahwasanya perempuan tersebut tidak perawan, maka tidak diambil kesaksian perempuan. Dan bagi keluarga perempuan mereka harus membuktikan keperawanan anak perempuannya tesebut di depan syuyukh (orang-orang tua) kota.

Dan jika mereka tidak mampu membuktikan bahwa anak perempuannya tersebut perawan, anak perempuan tersebut dirajam sampai meninggal di depan pintu ayahnya. Namun jika mereka mampu membuktikan bahwa anak perempuannya tersebut perawan, maka bagi suaminya wajib membayar seratus syekal dari perak dan tidak diperbolehkan baginya untuk mentalak isterinya selama-selamanya.

“Jika seorang laki-laki megambil (menikahi) seorang perempuan, dan perempuan tersebut membuat benci sang suami ketika masuk padanya, dan di nisbahkan kepada perempuan tersebut beberapa perkataan yang menyebabkan tercemarnya nama baik perempuan tersebut kemudian suami berkata: aku telah mengambil (menikahi) perempuan ini ketika aku telah mendekatinya aku tidak mendapatinya dia seorang yang perawan, maka bapak dan ibu anak perempuan tersebut mengeluarkan tanda keperawanan anak gadisnya dan memperlihatkannya kepada syuyukh (orang tua) yang bekumpul di depan pintu. Dan ayah perempuan itu berkata kepada syuyukh aku memberikan (menikahkan) laki-laki ini dengan anak gadisku sebagai isteri, lalu anak gadisku membuatnya benci. Inilah sebab-sebab dia mengatakan aku tidak mendapati anak gadismu perawan. Dan ini adalah tanda bahwa anak gadisku perawan, dan dia membentangkan kain di depan para syuyukh di kota itu. Maka para syuyukh di kota itu mengambil laki-laki tersebut, lalu mendidiknya dan mendendanya seratus keping perak kemudian menyerahkannya kepada ayah perempuan itu, karena laki-laki tersebut telah mencemarkan nama baik perawan dari orang Israel. Maka perempuan tersebut menjadi isterinya dan dia tidak boleh mentalaknya selama-lamanya. Akan tetapi jika hal ini benar dan tidak terbukti bahwa perempuan tersebut perawan, maka mereka menggiring perempuan tersebut ke depan pintu ayahnya dan merajamnya oleh laki-laki di kota tersebut dengan melempari batu sampai dia meninggal karena dia telah melakukan hal yang tercela di sisi orang-orang Israel dan karena dia telah berzina di rumah ayahnya, maka akan dicabut kejahatan dari lingkunganmu”. (Tatsniyah 22: 13-21).

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: