Besar rasa imannya kepada Allah Ta’ala

24 Feb

Pilar-pilar Keberhasilan Seorang Da’i
Dr. Ali bin Umar bin Ahmad Ba Dahdah;
islamhouse.com

Merupakan pondasi bagi segala urusan yaitu memurnikan tauhid kepada Allah Azza wa jalla dan jauh dari perbuatan syirik (menyekutukan Allah dengan selainNya) maka mengharuskan bagi seorang da’i benar di dalam keimanannya kepada Allah Ta’ala, memurnikan tauhidnya (dari segala penyimpangan), dirinya memiliki ilmu yang berkaitan dengan Allah Ta’ala, rububiyahNya, uluhiyahNya, dan nama-nama serta sifat-sifatNya yang mulia, memahami ilmu ini sampai menancap di dalam jiwa dan sanubarinya yang paling dalam, berjalan bersama darah di tubuhnya, dan memantulkan dalam setiap keadaannya yang mana hal itu akan bisa mengoreksi pemikiran dan pendapatnya, mampu menghukumi setiap ucapan dan kalimat yang keluar dari mulutnya, menjadi lurus dengan sebab (iman yang benar itu) perbuatan dan amalannya.

Dan Imam Ibnul Qoyim telah mengumpulkan makna kalimat ini dalam sebuah ungkapan yang sangat luas dan dalam cakupannya yang mana beliau mengatakan di dalam penjelasan maksud (kalimat di atas) beliau mengatakan: “Membiasakan beribadah kepada Allah Ta’ala dari merendahkan diri dan tunduk, inabah (kembali), mengerjakan perintah tuannya serta menjauhi yang menjadi laranganya, senantiasa merasa butuh kepadanya, memerlukannya, meminta tolong kepadanya, bertawakal, berlindung dengannya, tidak menggantungkan hatinya dengan selainnya baik ketika dalam keadaan cinta (senang) takut dan berharap, dan di dalam ini juga bahwasannya dia menjadi seorang hamba dari segala sisi, baik itu orang yang kecil maupun yang kecil, dalam keadaan hidup maupun sudah meninggal, taat maupun bermaksiat, sehat maupun sedang dalam keadaan sakit, dengan jiwa, hati, lisan dan seluruh anggota badan, dalam makna ini juga bahwa harta dan jiwaku adalah milikmu maka sesungguhnya seorang hamba tidaklah memiliki harta tuannya, termasuk dalam makna ini juga bahwasannya engkau yang telah memberi kepada diriku semua yang saya miliki dari kenikmatan yang ada maka itu semua adalah termasuk dari kenikmatan darimu yang engkau berikan kepada hambamu, di dalam makna ini juga bahwasannya saya tidak akan berbuat dengan sesuatu yang mempertaruhkan harta dan jiwaku kecuali kalau itu semua datang atas perintahmu, sebagaimana tidak berbuatnya seorang hamba kecuali setelah mendapat izin dari tuannya dan sesungguhnya saya tidaklah memiliki bagi diriku sendiri mudharat serta manfaat, tidak pula memiliki hak mematikan, menghidupkan serta membangkitkan, maka sesungguhnya jika benar ia di dalam persaksiannya ini maka sungguh bisa di katakan sesungguhnya saya adalah hambamu yang hakiki”. (al-Fawaid hal: 34-35.)

Tidak terbayang bagi seorang da’i yang sukses dan telah mendapat taufik dari Allah Ta’ala, atau da’i yang telah diterima dan berprestasi yang tidak menjadikan tujuan dari keimanan yang besar kepada Allah, yang mana bagaimana ia akan menyeru, mengajak manusia kepada seseorang sedangkan hubunganmu dengannya buruk dan sangat sedikit sekali mengenal dirinya. (Ma’allah hal: 188)

Dan ini adalah tujuan terbesar yang saling berhubungan dengan sesuatu yang sangat banyak dari amalan-amalan hati yang tertutupi oleh manusia dan tidak di ketahui kecuali oleh Allah Yang Maha Mengetahui hal yang ghoib. Yang mana bahwa dampak hal itu akan nampak dengan jelas di dalam perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatannya, maka sesungguhnya berdiamnya hati kepada Allah Ta’ala dan menyatukan hati, menyendiri dengannya, memutus semua kesibukan dengan makhluk, lalu menyibukan hati bersama Allah Ta’ala, yang mana menjadikan Allah selalu dalam ingatannya dan selalu mencintainya menerima atasnya lalu menempatkan kepada hati yang gundah dan gelisah maka akan segera melahirkan gantinya sehingga menjadikan segala kemauanya kepada Allah Ta’ala, yang terlintas semuanya melahirkan untuk menyebut Allah, berfikir bagaimana bisa memperoleh keridhoanNya dan berusaha untuk selalu bisa mendekat kepadaNya, maka itu akan menjadikan orang yang engkau sukai adalah Allah yang sebelumnya ia menyukai makhluk, dan kesukaannya itu akan kembali pada hari yang menakutkan di dalam kuburnya yang mana tidak ada yang lebih ia sukai kecuali Allah serta tidak ada yang bisa membuat bahagia kecuali Allah Ta’ala”. (Zaadul Ma’ad 2/87.)

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: