Menuntut Ilmu dari Dari sisi Syar’i

25 Feb

Pilar-pilar Keberhasilan Seorang Da’i
Dr. Ali bin Umar bin Ahmad Ba Dahdah;
islamhouse.com

Harus bagai seorang da’i mengetahui bahwa ilmu yang pertama dan yang paling utama di antara ilmu-ilmu yang lainnya adalah ilmu agama, di karenakan manusia dengan mengetahui ilmu agama akan terbimbing dan dengan kebodohanya akan tersesat. (Adabu Dunya wa Diin hal: 44.)
Maka dari sini harus di bedakan antara sesuatu yang wajib untuk di ajarkan kepada manusai, yang tidak boleh ada seorang pun untuk bodoh dan tidak paham darinya dengan sesuatu yang sifatnya fardu kifayah untuk di ajarkan di tengah-tengah masyarakat. Di katakan dalam sebuah penjelasan tentang makna adanya ilmu itu menjadi wajib bagi setiap muslim adalah bahwa wajib atas setiap orang harus mempelajarinya dan tidak boleh jahil tentangnya yaitu ilmu yang berkaitan dengan keadaan dirinya (maksudnya ilmu yang berkaitan dengan amalan yang akan di kerjakan.pent).

Berkata Ibnu Mubarak: “Hanyalah menuntut ilmu itu akan menjadi wajib kepada seseorang yang terjatuh dalam suatu perkara dari perkara agamanya, kemudian ia di tanya tentangnya sampai ia harus mempelajarinya dan memahaminya”. (al-Faqiih wal Mutafaqih 1/45)

Kemudian al-Khathib al-Baghdadi menjelaskan perkataan beliau dengan mengatakan: “Maka wajib atas setiap orang untuk mencari suatu (ilmu) yang mengharuskan dirinya paham tentangnya dari perkara-perkara yang telah Allah Ta’ala wajibkan atas dirinya sesuai dengan kemampuan dan usaha yang di milikinya, seperti halnya bagi setiap muslim yang telah baligh (mencapai usia dewasa), berakal, baik itu dari kalangan laki-laki maupun dari kalangan perempuan, budak maupun merdeka, mengharuskan dirinya untuk berthoharoh (bersuci), sholat, puasa, yang telah menjadi suatu hal yang wajib atasnya, maka wajib atas setiap muslim untuk mengetahui ilmunya hal-hal tersebut. Demikianlah maka menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mengetahui apa yang telah di halalkan baginya dan apa yang telah di haramkan atas dirinya baik itu dari makanan, minuman, pakaian, kemaluan, darah, harta benda maka semuanya ini tidak boleh bagi seorang muslim untuk bodoh (tidak tahu tentang ilmunya)” (Ibid 1/46)

Dan saya melihat bahwa hendaknya seorang da’i mempunyai paling tidak sedikitnya ilmu-ilmu syar’i yang pokok , maka kalau boleh saya bagi maka sebagai berikut:
 Ilmu Aqidah Islamiyah
Ia bisa mempelajari pokok-pokok Aqidah dari buku-buku yang telah di jadikan sebagai sandaran, yang ringkas di kalangan madzhab Ahlu Sunah wal Jama’ah seperti halnya kitab “Lum’atul Itiqod” oleh Ibnu Qudamah, atau kitab “al-Aqidah Wasithiyah” oleh Ibnu Taimiyyah, dan yang lainnya.
 Ilmu Tafsir
Ia bisa melihat kepada tafsir yang ringkas, dan terpercaya yang mencakup makna-makna kalimat dan sebab-sebab turunya ayat di sertai dengan makna ayat secara global, ia bisa mengambil faidah tentang hal itu dengan sebagian mushaf yang telah di cetak dengan ada catatan kaki yang menjelaskan sebab turunya ayat, dan makna kalimat. Kemudian dia tambah dengan mempelajari dan pahami tafsir pada sebagian surat atau juz yang menjelaskan tafsirnya, makiyah dan madaniyah dari kitab-kitab yang sifatnya tengah-tengah (tidak pendek tidak terlalu panjang) telah menjadi sandaran oleh umat semisal kitab tafsirnya Ibnu Katsir.
 Ilmu Hadits
Ia bisa belajar kepada kitab dari kitab-kitab hadits yang mencakup seluruhnya dan ringkas semisal “Mukhtashor Shahih Bukhari” atau ” Mukhtashor Shahih Muslim”, demikian pula memungkin bagi dirinya untuk melihat kepada kitab dari kitab-kitab hadits yang umum yang telah di jelaskan derajatnya dari hadits-hadits yang dho’if, yang mencakup kepada bab-bab yang penting yang di butuhkan olehnya dalam masalah Iman, Fadhilah amal, dan adab, semisal kitab “Riyadhus Shalohin”, dan ada baiknya dia juga melihat kepada sebagian kitab-kitab hadits yang telah mengkhususkan dengan sub pembahasan tertentu, dalam hadits-hadits hukum semisal “Bulghul Maram”, dalam masalah dzikir semisal “Adzkaar an-Nawawi”, yang mencakup seluruhnya semisal “Syamaail at-Tirmidzi”, dan yang semisalnya.
 Ilmu Fiqih
Ia bisa mempelajari secara ringkas dalam masalah fiqih ibadah, muamalah, di tambah lagi dengan yang di butuhkan olehnya dari bab-bab pada madzhab tertentu dari madhzab-madhzab yang empat, yang telah kita kenal semuanya.
 Ilmu Siroh dan Sejarah
Ia bisa mempelajari secara ringkas siroh perjalanan Rasul Shalallahu ‘alaihi wa sallam semisal “Tahdzib Siroh Ibnu Hisyaam”, di antara kitab yang di tulis pada zaman ini yang sangat bagus dan bermanfaat adalah kitab “Rahiqul Makhtum” oleh Mubarakfuri. Maka hendaknya paling sedikit setidaknya ia mempelajari sejarahnya para Khulafaur Rasyidin.
 Kunci-kunci Ilmu
Ia bisa mempelajari secara ringkas dalam masalah ushul fiqih semisal “Mukhtashor Ushul” oleh Syaikh Ibnu Utsaimin, atau “Ushul Fiqh lil Mubtadiin” oleh al-Asyqar, demikian pula ia mempelajari secara ringkas dalam masalah ilmu hadits semisal “Taisir Mushthalah Hadits” oleh ath-Thahaan, atau “Mukhtashor ‘Ulumul Hadits” oleh Ibnu Utsaimin, dalam masalah ilmu Qur’an semisal “Mabaahits Ulmul Qur’an” oleh al-Qothon, dalam masalah Ushul tafsir semisal “Muqodimah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah”, semua itu di pelajari sesuai dengan kemampuannya.
 Ilmu Bahasa
Ia bisa mempelajari secara ringkas dalam ilmu nahwu semisal “Jurumiyyah” atau “Malhamtul I’rab”, demikian pula dalam masalah balaghah dan adab di butuhkan untuk di pelajari secara ringkas semisal “al-Balaghah Wadhihah” oleh Ali al-Jaraam, dan memungkinkan untuk melihat kepada buku-buku metode dan ilmu pengetahuan bagi para da’i semisal “Tsaqofah Da’iyah”, atau “Jundullah Tsaqofatan wa Akhlaqan”, atau “al-Ilmu Fadhluhu wa Thalabuhu” oleh Amiin al-Haaj Ahmad Muhammad, dan yang lainnya.

Dan ilmu-ilmu ini tergolong masuk pada ilmu-ilmu yang sangat pokok yang di butuhkan oleh para da’i demikian pula di butuhkan bimbingan secara umum, diantara yang terpenting adalah:
 Pelan dan bertahap pada setiap ilmu, di mulai dari yang permulaan sampai pada tingkatan yang tinggi, dari yang termudah sampai kepada yang sulit dan rumit. Dan perlu di ketahui bahwa bagi setiap ilmu itu pasti ada permulaanya yang akan mengantarkan pada akhir (ujungnya), maka masuk kedalamnya akan mengharuskan memahami hakekatnya, oleh karena itu penuntut ilmu hendaknya memulai dari permulaan untuk bisa sampai pada ujung pangkalnya, dengan memasukinya dia akan memahaki hakekatnya, jangan mencari dari ujungnya terlebih dahulu sebelum pangkalnya, karena dia tidak akan paham hakekatnya, bahkan bisa jadi dia tidak mendapati (memahami) ujungnya dan tidak pula mengerti hakekatnya, di karenakan bangunan yang di dirikan bukan di atas pondasinya maka tidak bisa untuk dibangun, seperti halnya buah tidak mungkin bisa di petik kalu tidak mau menanamnya terlebih dahulu. (Muqodimah Ibnu Khaldun hal: 533)

Inilah Ibnu Khaldun menjelaskan kepadamu jalan tersebut, beliau mengatakan: “Ketahuilah bahwa mempelajari ilmu bagi para pelajar hanyalah bisa memberi manfaat (baginya) jika di mulai dengan cara bertahap sedikit demi sedikit”. (Muqodimah Ibnu Khaldun hal: 533).Dan cukup dari penjelasan beliau ini pentingnya belajar secara bertahap. Berkata Imam dan Ahli Hadits Ibnu Syihaab az-Zuhri: “Barangsiapa mencari ilmu sekaligus maka yang akan hilang darinya pun sekaligus, namun (belajarlah) sedikit demi sedikit bersama hari dan waktu”. (Jami’u Bayanil Ilmi wa Fadhlihi hal:138)
 Bersemangat untuk mempelajarinya dari para ulama pada setiap cabang ilmunya, dan jangan sampai hanya bersandar serta mencukupkan dari membaca saja, karena ilmu-ilmu ini bukanlah seperti halnya Koran dan majalah yang hanya cukup membaca dan melihatnya, sebagaimana pernah di katakan: “Siapa yang syaikhnya (gurunya) itu bukunya maka kesalahannya akn lebih banyak dari pada benarnya”. Sungguh benar apa yang di katakan oleh salah seorang penyair:
يظن الغَمرُ أن الكُتْبَ تَهـدِي أخـا جهلٍ لإدراكِ العُلُـومِ
ومـا علِمَ الجَهُولُ بأنَّ فيهـا مَدَارِك قد تـدقُّ عن الفَهِيمِ
ومَن أخَذَ العُلُومَ بغير شَيـخٍ يضِلُّ عن الصِّراطِ المُستقيـمِ
وكم من عائبٍ قولًا صحيحًا وآفَتُهُ من الفَهـمِ السَّقِيـمِ
Dia mengira bahwa kitab bisa memberinya petunjuk
Teman kebodohanya untuk mencari ilmu
Siapa yang mengambil ilmu tanpa guru
Dia akan tersesat dari jalan yang lurus
Betapa banyak perkataan yang benar
Kesalahanya di sebabkan dari pemahaman yang jelek
Kita lihat buku-bukunya para ulama salaf dan biografinya mereka maka buku-bukunya di penuhi dengan nama-nama guru-guru mereka, dan kisah perjalanan hidupnya bersama guru yang pernah mereka temui dan ambil ilmunya, demikian pula buku-bukunya para ulama juga penuh dengan adab-adab yang harus di miliki oleh seorang tholib (pelajar) bersama gurunya yang itu semua menunjukan bagaimana urgennya hal tersebut bagi mereka. Berkata Syatibi: “Termasuk dari jalan-jalan ilmu yang paling bermanfaat yang akan mengantarkan pada puncaknya adalah mengambil (ilmu) dari ahlinya yang telah di ketahui dengan kesempurnaan”. (al-Muwafaqqot 1/9)

Dan sungguh beliau Rahimahullah telah menjelaskan secara gamblang dan memuaskan tentang masalah ini, maka silakan merujuk kepada kitab aslinya.
 Sabar dan mulazamah (terus menerus) tidak merasa bosan, jangan mencoba pindah dari satu ilmu kepada ilmu yang lain sebelum sempurna, dan berpindah dari satu guru ke guru yang lain sebelum dirinya mampu mengambil faidah darinya, dari satu kitab ke kitab yang lain sebelum khatam (selesai). Berkata Az-Zarnuuji: “(Maka) seharusnya ia menetapi dan sabar pada satu guru, dan satu kitab sehingga tidak ada yang di tinggalkan secara sia-sia, demikian pula pada satu cabang ilmu dan tidak menyibukan dirinya dengan cabang ilmu yang lain sebelum ia mutqin (paham betul), pada satu negeri sehingga tidak meninggalkan negeri tersebut tanpa adanya kebutuhan yang mendesak, karena itu semua akan menjadikan pudar dan terpencarnya urusan, menyibukan hati, menyia-yiakan waktu dan merusak ilmu”. (at-Ta’lim al-Muta’alim hal: 44)

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: