Arsip | 17.37

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 77

2 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 77“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. bagi mereka azab yang pedih.” (Ali ‘Imraan: 77)

Allah berfirman bahwa orang-orang yang menukar janji mereka kepada Allah untuk mengikuti Muhammad saw., menyebutkan sifatnya kepada manusia, dan menjelaskan ihwalnya, serta menukar sumpah-sumpah dusta mereka yang keji dengan harga yang murah dan sedikit, berupa kesenangan yang fana di dunia ini, maka: ulaa-ika laa khalaqa laHum fil aakhirati (“Mereka tidak mendapatkan bagian pahala di akhirat”) maksudnya mereka tidak akan mendapatkan bagian pahala di akhirat kelak.

Wa laa yukallimuHumullaaHu wa laa yandhuru ilaiHim yaumal qiyaamati (“Dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka di hari kiamat.”) dengan rahmat dari-Nya untuk mereka. Artinya Allah tidak akan mengajak mereka berbicara dengan ucapan yang lembut dan tidak akan melihat mereka dengan pandangan kasih sayang. Wa laa yuzakkiiHim (“dan tidak pula [akan] menyucikan mereka”) yakni dari berbagai macam dosa dan kotoran, sebaliknya Dia memerintahkan mereka masuk neraka. wa laHum ‘adzaabun aliim (“Dan bagi mereka adzab yang pedih.”)

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa bersumpah untuk merebut harta seorang muslim, maka ia akan bertemu dengan Allah, sedang Dia dalam keadaan murka.”

Al-Asy’ats berkata, “Demi Allah hal itu terjadi pada diriku. Antara diriku dan seorang Yahudi pernah terjadi sengketa tanah. Lalu orang Yahudi itu mengingkari tanah milikku itu. Kemudian aku pun mengadu kepada Rasulullah saw. maka beliau bertanya kepadaku, ‘Apakah kamu punya bukti?’ ‘Tidak,’ jawabku. Orang Yahudi itu berkata, ‘Aku berani bersumpah.’ Lalu kukatakan, ‘Ya Rasulallah, jika ia bersumpah, maka hilanglah hartaku.’ Kemudian Allah menurunkan ayat: innal ladziina yasytaruuna bi-‘aHdillaaHi wa aimaaniHim tsamanan qaliilan (“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji [nya dengan Allah] dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit…”)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Sahl bin Anas, dari ayahnya, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai beberapa hamba yang Allah tidak mau berbicara kepada mereka pada hari Kiamat kelak, tidak mensucikan mereka, dan tidak pula melihat kepada mereka.” Ditanyakan, “Siapakah mereka itu, ya Rasulallah?” Beliau menjawab, “Orang yang melepaskan diri dari kedua orang tuanya dan membenci keduanya, orang yang melepaskan diri dari tanggung jawab kepada anaknya dan orang yang diberikan kenikmatan oleh suatu kaum, lalu mengingkari nikmat tersebut serta melepaskan diri dari mereka.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Ada tiga golongan yang pada hari Kiamat Allah tidak mengajak mereka berbicara, tidak melihat mereka, serta tidak pula mensucikan mereka, dan mereka akan memperoleh adzab yang pedih. Yaitu, orang yang melarang Ibnu Sabil mendapatkan sisa air yang dimilikinya, orang yang bersumpah atas suatu barang setelah `Ashar, yakni sumpah palsu, dan orang yang membai’at seorang imam, jika diberikan sesuatu kepadanya, ia akan mendukungnya, akan tetapi jika tidak memberinya, maka ia tidak memberikan dukungan kepadanya.” (Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari hadits Waki’. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.)

&

Iklan

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 75-76

2 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 75-76“Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: ‘Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi.’ Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui. (QS. 3:75) (Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (QS. 3:76)

Allah memberitahukan bahwa di antara orang-orang Yahudi itu terdapat orang yang suka berkhianat. Selain itu, Dia juga memperingatkan orang-orang yang beriman agar tidak terperdaya oleh mereka. Karena sesungguhnya di antara mereka terdapat: man in ta’manHu biqinthar (“Orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak,”) yu-addiHi ilaika (“Maka ia akan mengembalikannya kepadamu.”) Maksudnya, jika ia diamanati sesuatu harta kekayaan lebih sedikit dan itu, maka tentu saja akan lebih menunaikannya.

Wa man in ta’manHu bidiinaaril laa yu-addiHi ilaika illaa maa dumta ‘alaiHi qaa-iman (“Dan di antara mereka ada juga orang yang jika kami mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikan kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya,”) yaitu dengan meminta dan terus menerus menagih untuk mendapatkan hakmu. Jika terhadap satu dinar saja demikian adanya, maka terhadap sesuatu yang nilainya lebih dari satu dinar, maka tentu saja ia tidak akan mengembalikannya kepadamu.

Mengenai kata qinthar, telah diberikan penjelasan di awal surat. Sedangkan dinar, sudah cukup dikenal.

Ibnu Abi Hatim mengatakan, dari Ziyad bin al-Haitsam telah menceritakan kepadaku Malik bin Dinar, ia berkata: “Disebut dinar karena ia adalah dien (perhitungan) dan naar (Neraka). Ada yang mengatakan, maknanya adalah siapa yang mengambil karena haknya, maka itulah dien (balasan)nya. Sedang siapa yang mengambil bukan karena hak, maka baginya naar (Neraka).

Firman-Nya, dzaalika bi annaHum qaaluu laisa ‘alainaa fil ummiyyiina sabiil (“Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan, ‘Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi.’”) Maksudnya ialah, bahwa yang menjadikan (mendorong) mereka mengingkari kebenaran dan juga menolak kebenaran itu adalah pernyataan mereka, “Dalam ajaran agama kami, tidak ada dosa bagi kami memakan harta orang-orang ummi, yaitu bangsa Arab, karena Allah telah menghalalkannya bagi kami.”

Allah pun berfirman: wa yaquuluuna ‘alallaaHil kadziba wa Hum ya’lamuun (“Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.”) Maksudnya, mereka telah mengada-ada ucapan ini dan membuat suatu kedustaan dengan kesesatan tersebut. Karena Allah telah mengharamkan kepada mereka memakan harta orang lain kecuali dengan cara yang benar. Namun mereka adalah kaum yang suka berdusta.

Setelah itu Allah berfirman: balaa man aufaa bi-‘ahdiHii wa atqaa (“[Bukan demikian], sebenarnya siapa yang menepati janji [yang dibuat]nya dan bertakwa.”) Artinya, tetapi siapa di antara kalian, wahai Ahlul Kitab, yang menepati janji dan bertakwa kepada Allah, -yaitu janji yang telah diambil oleh Allah dari kalian berupa iman kepada Muhammad jika beliau telah diutus, sebagaimana Allah telah mengambil janji atas para Nabi serta umatnya untuk itu- dan bertakwa yaitu menjaga diri dari semua yang diharamkan-Nya, dan mengikuti ketaatan serta syari’at Nya yang telah dibawa oleh penutup dan pemimpin para Rasul, fa innallaaHa yuhibbul muttaqiin (“Maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 69-74

2 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 69-74“Segolongan dari ahli kitab ingin menyesatkan kamu, Padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya. (QS. 3:69) Hai ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, Padahal kamu mengetahui (kebenarannya). (QS. 3:70) Hai ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan Menyembunyikan kebenaran, Padahal kamu mengetahuinya? (QS. 3:71) Segolongan (lain) dari ahli kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran). Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Rabb-mu “. Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Mahamengetahui. (QS. 3:73) Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian) kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. 3:74)

Allah memberitahukan tentang kedengkian orang-orang Yahudi serta kejahatan mereka terhadap orang-orang yang beriman atas usaha mereka menjerumuskan ke dalam kesesatan. Allah memberitahukan bahwa akibat buruk dari perbuatan mereka itu akan kembali kepada mereka sendiri sedang mereka tidak menyadari bahwa mereka terpedaya oleh diri mereka sendiri.

Kemudian Allah berfirman sebagai pengingkaran terhadap mereka: yaa aHlal kitaabi lima takfuruuna bi aayaatillaaHi wa antum tasyHaduun (“Wahai Ahlul Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui [kebenarannya]”) Artinya, bahwa kalian mengetahui kebenaran ayat-ayat tersebut serta membuktikannya.

Yaa aHlal kitaabi lima talbisuunal haqqa bil baathili wa taktumuunal haqqa wa antum ta’lamuun (“Wahai Ahlul Kitab, mengapa kamu memcampur-adukkan yang baq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?”) yakni, kalian menyembunyikan sifat Muhammad yang telah tertulis di dalam kitab-kitab kalian, sedang kalian telah mengetahui dan membuktikannya.

Qaalat thaa-ifatum min aHlil kitaabi aaminuu bil ladzii unzila ‘alal ladziina aamanuu wajHan naHaari wakfuruu aakhiraHuu (“Segolongan lain dari Ahlul Kitab berkata [kepada sesamanya], ‘Perlihatkanlah [seolah-olah] kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman [Sahabat-Sahabat Rasul] pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya.”)

Ini merupakan tipu daya yang dimaksudkan untuk menjadikan orang-orang yang lemah bingung terhadap masalah agama mereka. Mereka bersepakat untuk menampakkan keimanan pada siang hari dan mengerjakan shalat Subuh bersama orang-orang yang beriman. Jika siang telah berlalu, maka mereka kembali ke agama mereka sendini, agar orang-orang yang tidak mengerti mengatakan, “Yang menyebabkan mereka kembali kepada agama mereka lagi, bahwa mereka menemukan adanya kekurangan dan aib (cacat) dalam agama orang-orang Islam. Oleh karena itu mereka mengatakan: la’allaHum yarji’uun (“Supaya mereka (orang-orang yang beriman) kembali [kepada kekafiran].”)

Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, “Segologan Ahlul Kitab mengatakan, Jika kalian bertemu dengan Sahabat-Sahabat Muhammad pada permulaan Siang, maka berimanlah. Dan jika waktu siang telah berlalu (sore hari), maka kerjakanlah shalat berdasarkan tuntunan agama kalian, supaya mereka mengatakan, `Mereka adalah Ahlul Kitab dan lebih tahu daripada kita.’ Demikian pula diriwayatkan dari Qatadah, as-Suddi, ar-Rabi’, dan Abu Malik.

Dan firman-Nya, wa laa tu’minuu illaa liman tabi’a diinakum (“Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu.”) Maksudnya, orang-orang Yahudi mengatakan, janganlah kalian mempercayai atau memperlihatkan rahasia kalian dan apa yang ada pada kalian kecuali kepada orang-orang yang mengikuti agama kalian. Jangan pula kalian memberitahukan apa yang kalian ketahui mengenai sifat Muhammad kepada kaum muslimin sehingga mereka akan mempercayainya dan menjadikannya sebagai hujjah atas kalian.

Allah Ta’ala berfirman: qul innal Hudaa HudallaaHi (“Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk [yang harus diikuti] adalah petunjuk Allah.”) Maksudnya, Dia-lah yang memberi hidayah kepada hati orang-orang yang beriman menuju kepada kesempurnaan iman dengan apa yang diturunkan kepada hamba dan Rasul-Nya, Muhammad, berupa tanda-tanda yang nyata, bukti-bukti yang pasti, dan hujjah-hujjah yang jelas, meskipun kalian, wahai orang-orang Yahudi, menyembunyikan apa yang kalian ketahui mengenai sifat Muhammad dari kitab-kitab yang kalian peroleh dari para Nabi sebelumnya.

Firman-Nya: ay yu’taa ahadum mitsla maa uutiitum aw tuhaajjuukum ‘inda rabbikum (“Dan janganlah kamu percaya bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan jangan pula kamu percaya bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Rabb-mu.”) Maksudnya; orang-orang Yahudi mengatakan, “Janganlah kalian memberitahukan ilmu yang ada pada kalian kepada kaum muslimin, sehingga mereka akan mempelajarinya dari kalian serta menyamai kalian dalam penguasaannya dan bahkan melebihi kalian karena keteguhan iman mereka akan mengalahkan kalian di sisi Rabb kalian. Yaitu mereka akan menjadikannya sebagai hujjah terhadap kalian. Sehingga dengan demikian akan ada bukti dan hujjah yang kuat terhadap kalian di dunia dan di akhirat.

Firman-Nya: qul innal fadl-la biyadillaaHi yu’tiiHi may yasyaa-u (“Katakanlah, Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Dia memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”) artinya, segala sesuatu berada di bawah kendali Allah, Dia yang memberi atau menahan, menganugerahkan iman, pengetahuan, dan pengaturan yang sempurna kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, juga menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya, dengan membutakan mata kepala dan mata hatinya, mengunci hati dan pendengarannya, serta menutup penglihatannya. Hanya Dia pemilik hujjah yang sempurna dan hikmah yang sempurna.

wallaaHu waasi’un ‘aliim. Yakhtashshu birahmatiHii may yasyaa-u wallaaHu dzul fadl-lil ‘adhiim (“Dan Allah Mahaluas [karunia-Nya] lagi Mahamengetahui. Allah menentukan rahmat-Nya [kenabian] kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

Maksudnya, wahai orang-orang yang beriman, Allah telah mengkhususkan karunia-Nya kepada kalian, karunia yang tidak terhingga dan tidak terlukiskan, berupa kemuliaan yang dianugerahkan kepada Nabi kalian, Muhammad atas semua Nabi yang lainnya. Dan dengan hidayah yang diberikan kepada kalian menuju kesempurnaan syari’at.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 65-68

2 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 65-68“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir. (QS. 3:65) Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah-membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 3:66) Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik”. (QS. 3:67) Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (QS. 3:68)

Allah mengingkari orang-orang Yahudi dan Nasrani yang saling berbantah-bantahan di antara mereka mengenai Ibrahim Khalilullah serta pengakuan setiap kelompok dari mereka bahwa Ibrahim adalah dari golongan mereka, sebagaimana Muhammad bin Ishaq bin Yasar mengatakan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Orang-orang Nasrani Najran dan para pendeta Yahudi berkumpul di tempat Rasulullah, lalu mereka saling bertengkar di hadapan beliau. Para pendeta Yahudi itu berkata, ‘Ibrahim itu tiada lain adalah seorang Yahudi.’ Sedangkan orang-orang Nasrani berkata, ‘Ibrahim itu tidak lain adalah seorang Nasrani.’ Maka Allah menurunkan firman-Nya, yaa aHlal kitaabi lima tuhaajjuuna fii ibraaHiima (“Wahai Ahlul Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim.”)

Maksudnya, hai orang-orang Yahudi, bagaimana mungkin kalian mengakuinya bahwa ia itu seorang Yahudi, padahal zamannya itu sebelum Allah menurunkan Taurat kepada Musa as. Dan
bagaimana mungkin, hai orang-orang Nasrani, kalian mengakuinya bahwa ia itu seorang Nasrani, padahal agama Nasrani itu adalah setelah masanya Ibrahim berlalu.

Oleh karena itu, Allah berfirman: Haa antum Haa-ulaa-i haajajtum fiimaa lakum biHii ‘ilmun falima tuhaajjuuna fiimaa laisa lakum biHii ‘ilmun (“Beginilah kamu, kamu ini [sewajarnya bantah-membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka mengapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui?”)

Hal ini merupakan penolakan terhadap orang-orang yang berbantah-bantahan mengenai suatu hal yang sama sekali tidak mereka ketahui. Karena sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani itu berbantah-bantahan mengenai Ibrahim tanpa didasari pengetahuan. Sekiranya mereka memperdebatkan mengenai sesuatu yang ada pada mereka yang mereka ketahui, seperti yang berkenaan dengan agama mereka yang telah disyari’atkan bagi mereka sampai pada pengutusan Muhammad, tentu yang demikian itu akan lebih baik bagi mereka. Namun sayangnya mereka memperdebatkan sesuatu yang mereka tidak mengetahui.

Oleh karena itu, Allah mengingkari apa yang mereka lakukan tersebut serta memerintahkan mereka untuk menyerahkan apa yang mereka tidak ketahui itu kepada Allah yang Mahamengetahui semua hal yang ghaib dan yang nyata, yang mengetahui segala sesuatu dengan sebenar-benarnya dan sejelas-jelasnya. Untuk itu Dia berfirman: wallaaHu ya’lamu wa antum laa ta’lamuun (“Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”)

Setelah itu Dia berfirman: Maa kaana ibraaHiimu yaHuudiyyaw wa laa nashraaniyyaw walaakin kaana haniifam musliman (“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan [pula] seorang Nasrani, akan tetapi ia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri [kepada Allah].”) Hanifan artinya berpaling dari kemusyrikan, menuju kepada iman. Wa maa kaana minal musyrikiin (“dan bukanlah sekali-sekali ia termasuk golongan orang orang musyrik.”) Ayat ini seperti (semakna) dengan ayat yang telah berlalu pada surat al-Baqarah: wa qaaluu kuunuu Hudan au nashaaraa taHtaduu (“Mereka berkata: ‘Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.’”) (QS. Al-Baqarah: 135)

Selanjutnya Dia berfirman, inna aulan naasi bi-ibraaHiima lalladziinat taba’uuHu wa Haadzan nabiyyuu wal ladziina aamanuu wallaaHu waliyyul mu’miniin (“Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah orang orang yang mengikutinya dan Nabi ini [Muhammad], serta orang-orang yang beriman [kepada Muhammad]. Dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman.”)

Artinya Allah menyampaikan, bahwa orang yang paling berhaq sebagai pengikut Ibrahim Khalilullah adalah orang-orang yang mengikutinya dalam agamanya, dan Nabi ini [Muhammad saw.] dan orang-orang beriman dari para shahabatnya yaitu kaum Anshar dan Muhajirin serta orang-orang yang mengikuti mereka [para shahabat ini].

Sedangkan firman Allah: wallaaHu waliyyul mu’miniin (“dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman.”) maksudnya pelindung bagi semua orang yang beriman kepada para Rasul-Nya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 64

2 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 64“Katakanlah: ‘Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah’. Jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)’. (Ali ‘Imraan: 64)

Seruan ini mencakup ahlul kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka.

Qul yaa aHlal kitaabi ta’aalaw ilaa kalimatin (“Katakanlah: ‘Wahai orang-orang ahlul kitab, marilah kita berpegang pada suatu [ketetapan]’”) maksud dari kata “kalimat” adalah sebuah kalimat yang memberikan sebuah pengertian, demikian pula yang dimaksud dalam ayat ini. Kemudian Allah menyifatinya dengan firman-Nya: sawaa-im bainanaa wa bainakum (“Yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu.”) yaitu sama dan seimbang antara kami dan kalian. Kemudian hal itu ditafsirkan melalui firman Allah: allaa na’buda illallaaHa wa laa nusyrika biHii syai-an (“Bahwa kita tidak beribadah kecuali kepada Allah, dan kita tidak menyekutukan Dia dengan suatu apapun.”) artinya tidak menyekutukannya dengan berhala, salib, patung, thaghut, api dan hal lainnya. Tetapi kita memurnikan ibadah itu hanya kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan inilah misi seluruh Rasul Allah. Dia berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat [untuk menyerukan]: ‘Beribadahlah kepada Allah saja dan jauhilah thaghut itu.’” (an-Nahl: 36)

Kemudian Dia berfirman: wa laa tattakhidza ba’dlunaa ba’dlan arbaabam min duunillaaHi (“[dan tidak pula] sebagian kita menjadikan sebagian lain sebagai rabb-rabb selain Allah.”) Ibnu Juraij berkata, “Maksudnya sebagian kami tidak mentaati lainnya dalam bermaksiat kepada Allah.” Sedangkan ‘Ikrimah berkata, “Sebagian kami tidak bersujud kepada sebagian yang lain.”

Fa in tawallaw faquulusyHaduu bi annaa muslimuun (“Jika mereka berpaling maka katakanlah: ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri [kepada Allah].”) maksudnya jika mereka berpaling dari kesamaan dan seruan ini, maka bersaksilah bahwa kalian akan tetap berada pada Islam yang telah disyariatkan oleh Allah swt bagi kalian.

Telah kami sebutkan dalam Syarh al-Bukhari ketika ia meriwayatkan dari jalan az-Zuhri, dari Ibnu ‘Abbas, dari Abu Sufyan dalam kisahnya ketika menghadap sang Kaisar, lalu Kaisar bertanya kepadanya tentang nasab, sifat, dan perangai Rasulullah serta apa yang didakwahkannya. Maka ia pun menceritakan semua secara gamblang dan tuntas, padahal pada saat itu Abu Sufyan masih musyrik dan belum memeluk Islam. Peristiwa itu terjadi setelah perjanjian Hudaibiyah, sebelum pembebasan kota Makkah. Sebagaimana hal tersebut dinyatakan dalam hadits. Demikian pula pada saat ia ditanya, “Apakah ia itu suka berkhianat?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak, selama ini kami tidak mengetahui darinya bahwa dia berbuat seperti itu.” Kemudian Abu Sufyan berkata: “Aku tidak dapat menambahkan suatu berita apapun selain dari itu.”
Tujuan diketengahkan kisah ini ialah, bahwa diperlihatkannya surat Rasulullah kepadanya, di mana Abu Sufyan membacanya ternyata isinya:

“Dengan Nama Allah yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Dari Muhammad Rasulullah untuk Heraclius, pembesar Romawi. Semoga keselamatan dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk, Amma ba’du, Masuklah Islam, maka anda akan selamat. Masuklah Islam, niscaya Allah memberi anda pahala dua kali. Jika anda berpaling, maka anda akan memikul dosa kaum Arisiyyin. “Wahai Ahlul Kitab, marilah berpegang kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak beribadah kecuali kepada Allah dan kita tidak menyekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai rabb-rabb selain Allah. “Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mareka, `Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).'”

Muhammad bin Ishaq dan ulama lainnya telah menyebutkan bahwa permulaan surat Ali-‘Imran sampai pada ayat 80-an lebih adalah diturunkan berkaitan dengan utusan Najran. Sedangkan az-Zuhri berkata, “Mereka itu adalah orang yang pertama kali menyerahkan jizyah.”

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 59-63

2 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 59-63“Sesungguhnya misal (penciptaan) ‘Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘jadilah’ (seorang manusia), maka jadilah dia. (QS. 3:59) (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Rabb-mu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS. 3:60) Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan din kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. 3:61) Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Ilah (yang berhaq disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. 3:62) Kemudian jika mereka berpaling (dari kebenaran), maka sesungguhnya Allah Mahamengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. 3:63)

Allah swt. berfirman, inna matsala ‘iisaa ‘indallaaHi (“Sesungguhnya misal [penciptaan] ‘Isa di sisi Allah.”) Maksudnya dalam kekuasaan Allah, ketika Dia menciptakan ‘Isa tanpa adanya seorang ayah, kamatsali aadama (“Adalah seperti [penciptaan] Adam.”) Di mana Adam diciptakan dengan tidak melalui seorang ayah maupun ibu, tetapi: khalqaHuu min turaabin tsumma qaala laHuu kun fayakuun (“Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘jadilah, “maka jadilah ia.” Maka Allah yang telah menciptakan Adam tanpa adanya ayah, pasti Dia lebih layak mampu menciptakan ‘Isa, dilihat dari teori kelayakan.

Jika pengakuan terhadap `Isa anak Allah itu dibolehkan, karena ia diciptakan tanpa ayah, maka pengakuan terhadap diri Adam sebagai anak Rabb lebih layak lagi untuk dibolehkan. Sebagaimana diketahui secara sepakat, bahwa pengakuan terhadap diri Adam sebagai anak Rabb adalah bathil, maka pengakuan terhadap `Isa sebagai anak Rabb adalah lebih bathil dan lebih jelas kerusakannya.

Namun Allah ingin memperlihatkan kekuasaan-Nya bagi semua makhluk-Nya, ketika Dia menciptakan Adam tidak melalui seorang laki-laki maupun wanita, dan menciptakan Hawa melalui seorang laki-laki tanpa wanita, serta Dia menciptakan `Isa melalui seorang wanita tanpa laki-laki, sedang Dia menciptakan manusia lainnya melalui laki-laki dan wanita. Oleh karena itu, Dia berfirman dalam surat Maryam, wa linaj’alaHuu aayatal linnaasi (“Sungguh Kami akan menjadikannya sebagai tanda kebesaran bagi manusia.”) (QS. Maryam: 21)

Sementara di sini, Dia berfirman: alhaqqu mir rabbika falaa takuunanna minal mumtariin (“[Apa yang telah Kami ceritakan] itulah yang benar, yang datang dari Rabb-mu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.”) Maksudnya, itulah ucapan yang benar mengenai diri `Isa; yang tidak ada penyimpangan di dalamnya dan tidak ada pula yang benar selain itu, maka tidak ada hal lain setelah kebenaran itu kecuali kesesatan.

Selanjutnya Allah memerintahkan Rasulullah untuk bermubahalah dengan siapa yang menentang kebenaran mengenai diri `Isa setelah datangnya penjelasan dengan firman-Nya, faman haajjaaka fiiHi mim ba’di maa jaa-aka minal ‘ilmi faqul ta’aalaw nad’u abnaa-anaa wa abnaa-akum wa nisaa-anaa wa nisaa-akum wa anfusanaa wa anfusakum (“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu [yang meyakinkan kamu], maka katakanlah [kepadanya], Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu.”) Yaitu kami hadirkan mereka pada saat mubahalah (saling melaknat). Tsumma nabtaHil (“Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah.”) Yaitu saling melaknat. Fa naj’al la’natallaaHi ‘alal kaadzibiin (“Maka kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta,”) baik dari kalangan kami maupun kalian.

Sebab turunnya ayat mubahalah ini dan ayat sebelumnya, dari permulaan surat sampai ayat ini adalah, mengenai utusan Najran. Yaitu, ketika orang-orang Nasrani datang, lalu mereka mendebat mengenai diri `Isa dan mereka beranggapan bahwa ia (Isa) sebagai anak Allah dan salah satu sesembahan. Maka Allah menurunkan permulaan surat ini guna membantah mereka, sebagaimana yang disebutkan Imam Muhammad bin Ishaq bin Yasar dan ulama lainnya.

Ibnu Ishaq berkata, dalam kitab Sirahnya yang terkenal, dan juga ulama lainnya: “Utusan orang-orang Nasrani dari Najran yang berjumlah 60 (enam puluh) orang datang kepada Rasulullah dengan menaiki kendaraan. Di antara mereka terdapat 14 (empat belas) orang pemuka mereka dan sebagai tumpuan segala urusan mereka. Mereka itu adalah al-‘Aqib yang bernama Abdul Masih, as-Sayyid yang bernama al-Aiham, Abu Haritsah bin ‘Alqamah saudara Bakar bin Wa’il, Uwais bin al-Harist, Zaid, Qais, Yazid dan kedua puteranya, Khuwailid, ‘Amr, Khalid, ‘Abdullah, Muhsin.

Sedang penanggung jawab mereka ada tiga orang yaitu: Al-‘Aqib, dialah pemimpin rombongan, pencetus ide, dan penentu perundingan, yang mereka tidak bisa memutuskan kecuali atas pendapatnya. Kedua, as-Sayyid, sebagai orang alim, pengatur perjalanan dan tempat singgah mereka. Dan ketiga, Abu Haritsah bin ‘Alqamah, sebagai uskup dan pemimpin kajian mereka, yang aslinya berkebangsaan Arab, berasal dari Bani Bakar bin Wa’il, tetapi ia masuk Nasrani sehingga ia sangat diagungkan dan dimuliakan oleh orang-orang Romawi dan raja-raja mereka. Mereka membangunkan gereja-gereja untuknya serta mengabdikan diri mereka kepadanya karena mereka mengetahui keteguhannya dalam memeluk agama.”

Abu Haritsah bin ‘Alqamah ini sebenarnya telah mengetahui ihwal, sifat, keadaan Rasulullah saw. yang diketahuinya dari kitab-kitab terdahulu, namun ia tetap terus memeluk agama Nasrani, karena ia merasa mendapat penghormatan dan kedudukan dari para pengikutnya.

Lebih lanjut Ibnu Ishaq berkata, Muhammad bin Ja’far bin az-Zubair menceritakan kepadaku, ia berkata: “Mereka tiba di Madinah dan menemui Rasulullah di masjid Nabawi ketika beliau sedang shalat `Ashar. Mereka mengenakan pakaian pendeta, yaitu jubah dan mantel dengan menunggang unta-unta milik para pemuka Bani al-Harits Ibnu Ka’ab. Sahabat Rasulullah yang melihat mereka mengatakan, “Kami tidak pernah melihat sesudah mereka utusan seperti mereka.” Ketika itu, telah masuk waktu shalat mereka, maka mereka pun berdiri shalat di masjid Nabawi, lalu Rasulullah bersabda, “Biarkan mereka.” Mereka mengerjakan shalat dengan menghadap ke timur.

Setelah itu beberapa orang dari mereka, berbicara kepada Rasulullah antara lain Abu Haritsah bin ‘Alqamah, al-‘Aqib ‘Abdul Masih, dan as-Sayyid al-Aiham. Mereka semua ini adalah beragama Nasrani yang sefaham (sealiran) dengan faham Raja, meski ada perbedaan di antara mereka. Ada yang berpendapat bahwa `Isa adalah Allah, pendapat yang lain menyatakan bahwa ia adalah anak Allah, dan pendapat ketiga menyatakan bahwa ia adalah salah satu dari trinitas. Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan itu.”

Demikianlah keyakinan orang-orang Nasrani, mereka yang mengatakan `Isa adalah Allah, berhujjah bahwa ia dapat menghidupkan orang yang sudah mati, menyembuhkan orang yang buta dan penderita sakit kusta, serta dapat memberitahukan hal-hal yang ghaib, membuat bentuk burung dari tanah liat lalu meniupnya sehingga menjadi burung. Padahal semua itu berdasarkan perintah Allah. Dan agar Allah menjadikannya sebagai tanda kekuasaan-Nya bagi umat manusia.

Sedang yang menyatakan bahwa `Isa adalah anak Allah, mereka berhujjah bahwa ia tidak berayah, dan dapat berbicara pada saat masih bayi, suatu hal yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Adapun yang berkeyakinan bahwa `Isa itu salah satu dari trinitas, mereka berhujjah pada firman Allah, “Kami melakukan, Kami memerintahkan, Kami menciptakan, dan Kami telah putuskan. Menurut mereka, “Jika Allah itu satu, niscaya Dia akan berkata, Aku berbuat, Aku memerintah, Aku memutuskan, dan Aku menciptakan.’ Tetapi kata ‘Kami’ itu kembali kepada Allah, `Isa, dan Maryam.” –Mahatinggi dan Mahasuci Allah dari perkataan orang-orang yang zhalim dan ingkar dengan ketinggian yang setinggi-tingginya, karena semua yang mereka katakan itu telah disebutkan dalam al-Qur’an.

Tatkala dua pendeta berbicara kepada Rasulullah saw, beliau pun bersabda kepada keduanya, “Masuklah Islam.” Jawab mereka berdua, “Kami telah memeluk Islam.” Beliau bersabda lagi, “Sesungguhnya kalian berdua belum masuk Islam, maka masuklah Islam.” Mereka pun menjawab, “Sungguh kami telah memeluk Islam sebelum dirimu.” Beliau pun bersabda, “Kalian berdua berdusta. Pengakuan kalian berdua bahwa Allah mempunyai anak dan penyembahan kalian terhadap salib, serta tindakan kalian memakan daging babi menghalangi kalian masuk Islam.” Mereka berdua pun bertanya, “Lalu siapa ayahnya (Isa) itu, wahai Muhammad?” Rasulullah diam dan tidak memberikan jawaban kepada keduanya. Lalu dikarenakan ucapan mereka dan perbedaan pendapat di antara mereka, Allah menurunkan permulaan surat Ali-Imran sampai 80 ayat lebih.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Hudzaifah, ia berkata; “Al-`Agib dan as-Sayyid, keduanya pemuka Najran datang kepada Rasulullah. Mereka berdua bermaksud untuk mengajak mubahalah dengan Nabi, lalu salah seorang dari keduanya berkata kepada yang lainnya, “Jangan kau lakukan hal itu. Demi Allah, jika ia itu seorang Nabi, lalu kita saling melaknat dengannya, maka kita dan keturunan kita tidak akan beruntung.” Setelah itu keduanya berkata, “Kami akan memberikan apa yang kamu minta. Utuslah bersama kami seseorang yang dapat dipercaya, dan jangan engkau utus kecuali orang yang benar-benar jujur.” Beliau pun bersabda, “Aku pasti akan mengutus seseorang yang benar-benar dapat dipercaya untuk ikut bersama kalian.” Para Sahabat pun berharap mendapat kehormatan sebagai utusan beliau. Lalu beliau bersabda: “Berdirilah, ya Abu `Ubaidah bin al Jarrah.” Ketika Abu `Ubaidah berdiri, Rasulullah bersabda: “Ini adalah orang yang dapat dipercaya dari umat ini.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Al-Bukhari juga meriwayatkan dari Anas bin Malik bersabda: “Setiap umat memiliki orang kepercayaan, dan orang kepercayaan dari umat ini adalah Abu `Ubaidah bin al-Jarrah.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Abu Jahal [semoga Allah menghinakannya] berkata: `Jika aku melihat Muhammad mengerjakan shalat di Ka’bah, maka aku akan mendatanginya dan menginjak lehernya.’ Lalu beliau pun berkata: `Seandainya ia melakukannya, niscaya Malaikat akan membinasakannya langsung. Dan seandainya orang-orang Yahudi mengharap kematian (diri mereka), niscaya mereka akan mati dan melihat tempat tinggal mereka di neraka. Dan seandainya berangkat juga orang-orang yang bermaksud bermubahalah dengan Rasulullah, niscaya mereka pulang dengan tidak mendapatkan lagi harta dan keluarga mereka.”‘ (HR. Ahmad)

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh al-Bukhari, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.

Abu Bakar ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Jabir, ia berkata: “Al-`Aqib dan ath-Thayyib datang kepada Nabi, lalu beliau mengajak keduanya untuk saling melaknat. Mereka berdua pun berjanji akan saling melaknatnya pada hari esok. Setelah pagi hari tiba, keluarlah Rasulullah dengan menggandeng tangan ‘Ali, Fathimah, al-Hasan, dan al-Husain. Lalu beliau mengutus utusan kepada keduanya, namun keduanya menolak memenuhi ajakan beliau, dan menyatakan setuju kepada beliau untuk membayar pajak. Beliau pun bersabda: ‘Demi Allah yang mengutusku dengan haq, andaikata mereka berdua mengatakan, ‘Tidak,’ niscaya lembah akan menimpakan hujan api kepada mereka.”‘

Jabir berkata, “Kepada mereka turun ayat: `Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu.’” Jabir melanjutkan, “Diri kami,” maksudnya adalah Rasulullah dan ‘Ali bin Abi Thalib. Sedangkan, “Anak-anak kami” adalah al-Hasan dan al-Husain. Dan “Wanita-wanita kami” adalah Fatimah.

Demikianlah pula menurut riwayat al-Hakim dalam al Mustadrak, dan ia mengatakan bahwa hadits ini shahih menurut syarat Muslim, tetapi al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkan seperti ini.

Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud ath-Thayalisi dari Syu’bah, dari al-Mughirah, dari asy-Sya’bi, sebagai hadits mursal. Dan ini yang lebih shahih.

Juga diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan al-Barra’, (hadits yang) serupa dengan hadits di atas.

Setelah itu Allah swt. berfirman: inna Haadzaa laHuwal qashashul haqqu (“Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar.”) Maksudnya, apa yang kami ceritakan kepadamu, ya Muhammad, mengenai `Isa adalah yang benar yang tidak ada penyimpangan di dalamnya dan tak dapat disangkal lagi.

Wa maa min ilaaHin illallaaHu wa innallaaHa laHuwal ‘aziizul hakiimu fa in tawallaw (“Dan tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi] selain Allah, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Kemudian jika mereka berpaling [dari kebenaran].”) Yakni berpaling dari hal ini kepada yang lainnya, fa innallaaHa ‘aliimum bil mufsidiin (“sesungguhnya Allah Mahamengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan.”) Artinya, barangsiapa menyimpang dari kebenaran menuju kepada kebathilan, maka ia adalah pembuat kerusakan, dan Allah Mahamengetahui dan akan memberikan balasan atasnya dengan balasan yang seburuk-buruknya. Dia Mahakuasa yang tidak ada sesuatu pun yang luput dari kekuasaan-Nya. Mahasuci Allah, segala puji bagi-Nya. Kita berlindung kepada-Nya dari timpaan murka-Nya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 55-58

2 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 55-58“(Ingatlah), ketika Allah berfirman: ‘Hai ‘Isa, sesunggubnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir bingga hari Kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya.’ (QS. 3:55) Adapun orang-orang yang kafir, maka akan Ku-siksa mereka dengan siksa yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong. (QS. 3:56) Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim. (QS. 3:57) Demikianlab (kisah ‘Isa), Kami membacakannya kepada kamu sebagian dari bukti-bukti (kerasulannya) dan (membacakan) al-Qur’an yang penuh hikmah.” (QS. 3:58)

Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai firman Allah Ta’ala, innii mutawaffiika wa raafi’uka ilayya (“Sesungguhnya Aku akan menyampaikanmu pada akhir ajalmu dan mengangkatmu kepada-Ku.”)
Menurut Qatadah dan ulama lainnya berkata, “Ini merupakan bentuk kalimat dalam bentuk muqaddam dan muakhkhar (yaitu bentuk kalimat yang mendahulukan apa yang seharusnya ada di akhir, dan mengakhirkan apa yang seharusnya didahulukan). Kedudukan sebenarnya adalah: innii raafi’uka wa mutawaffiika ilayya; yakni “Aku mengangkatmu kepada-Ku dan mewafatkanmu,” yaitu setelah itu.

Ali bin Abu Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, innii mutawaffiika; artinya: Aku mematikanmu. Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kematian tersebut adalah tidur, sebagaimana firman-Nya, wa Huwal ladzii yatawaffaakum bil laili (“Dan Dia-lah yang menidurkan kalian di malam hari.”) (QS. Al-An’aam: 60)

Juga firman-Nya, AllaaHu yatawaffal anfusa hiina mautiHaa wal latii lam tamut fii manaamiHaa (“yang memegang jiwa [orang] ketika matinya dan [memegang] jiwa [orang] yang belum mati pada waktu tidurnya.”) (QS. Az-Zumar: 42)

Rasulullah jika bangun tidur berdo’a: alhamdu lillaaHil ladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa (“Segala puji bagi Allah, yang telah menghidupkan kami, setelah mematikan [menidurkan]) kami.”) (Muttafaqun ‘alaih)

Allah berfirman: “Dan karena kekafiran mereka (terhadap `Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina). Dan karena ucapan mereka, ‘Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah.’ Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak juga menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. -sampai dengan firman-Nya- “..mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa.”

“Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat `Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tidak ada seorang pun dari Ahlul Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan pada hari Kiamat kelak Isa itu akan menjadikan saksi terhadap mereka.” (QS. An-Nisaa’: 156-159).

Dhamir (kata ganti) “Hi” (nya) pada firman Allah “qab-la mautiHi” yaitu kembali kepada `Isa’ as. Artinya, tidak seorang pun dari Ahlul Kitab melainkan akan beriman kepada `Isa pada saat turun ke bumi kelak, sebelum hari Kiamat, sebagaimana akan dijelaskan. Maka pada saat itu, semua Ahlul Kitab akan mempercayainya, karena ia menghapuskan jizyah dan tidak menerima kecuali Islam.

Firman-Nya, wa muthaHHiruka milal ladziin kafaruu (“Serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir.”) Yaitu dengan Aku mengangkatmu ke langit.

Wa jaa’ilul ladziinat taba’uuka fauqal ladziina kafaruu ilaa yaumil qiyaamati (“Dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang yang kafir hingga hari Kiamat.”)

Demikian itulah yang terjadi. Sesungguhnya ketika al-Masih diangkat Allah ke langit, sahabat-sahabatnya tercerai-berai menjadi beberapa golongan. Ada yang beriman kepada apa yang dibawanya bahwa ia adalah hamba dan Rasul-Nya serta seorang anak dari seorang hamba-Nya. Di antara mereka ada juga yang berlebih-lebihan menyanjungnya hingga menjadikannya sebagai anak Allah, adapula yang menganggap bahwa ia adalah Allah dan adapula yang menganggapnya sebagai salah satu dari trinitas.

Allah telah mengisahkan ucapan mereka itu dalam al-Qur’an dan membantah setiap kelompok. Namun mereka tenggelam dalam kondisi seperti itu selama hampir tiga ratus tahun, hingga akhimya muncul di tengah-tengah mereka seorang raja Yunani bernama Constantine, yang memeluk agama Nasrani. Ada juga yang mengatakan, langkahnya masuk dalam agama Nasrani itu sebagai tipu muslihat untuk merusaknya, karena ia adalah seorang filusuf.

Ada juga yang mengatakan, hal itu disebabkan karena dia tidak memahami agama tersebut. Maka Constantine pun merubah, menambah, dan mengurangi beberapa ketetapan yang ada dalam agama `Isa. Selanjutnya ia membuat undang-undang dan amanah agung untuk agama Nasrani, yang sebenarnya hanya merupakan pengkhianatan yang hina.

Pada zamannya, daging babi itu dihalalkan, dan mereka shalat mengikutinya (Constantine) dengan menghadap ke timur. Dan gereja, tempat-tempat ibadah, serta biara diisi dengan patung `Isa. Selain itu Constantine menambah ibadah puasa mereka sebanyak sepuluh hari disebabkan dosa yang dia lakukan, menurut anggapan mereka. Akhirnya agama al-Masih menjadi agama Constantine. Akan tetapi dia telah membangunkan untuk mereka gereja, biara, dan tempat ibadah yang jumlahnya lebih dari 12.000 (dua belas ribu). Selain itu, ia juga membangun sebuah kota yang dikaitkan dengan namanya (Konstantinopel). la diikuti oleh sekelompok kerajaan dari kalangan mereka. Dalam melakukan semuanya itu mereka menekan orang-orang Yahudi, Allah telah memberikan kekuatan kepadanya atas mereka karena dia lebih dekat dengan kebenaran daripada orang-orang Yahudi, meskipun pada dasarnya mereka semua adalah kafir. Semoga laknat Allah atas mereka.

Ketika Allah swt. mengutus Nabi Muhammad, maka orang yang beriman kepada beliau, pasti beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya dengan cara yang benar. Maka mereka itulah pengikut semua Nabi yang ada di muka bumi, karena mereka telah benar-benar membenarkan Rasul, Nabi yang buta huruf yang berasal dari bangsa Arab, penutup para Rasul dan junjungan seluruh anak keturunan Adam, secara mutlak, yang mengajak mereka untuk membenarkan segala yang haq. Maka mereka pulalah yang lebih dekat dengan setiap Nabi dari pada umat Nabi itu sendiri yang mengaku mengikuti agama dan jalan Nabinya, sementara mereka telah menyelewengkan dan merubah ajarannya.

Kemudian, kalaupun tidak terjadi perubahan dan penyelewengan ini, sesungguhnya Allah telah menghapuskan syari’at seluruh Rasul dengan apa yang dibawa oleh Muhammad berupa agama yang haq yang tidak dapat diubah dan diganti sampai hari Kiamat kelak dan akan tetap tegak, dibela dan menang atas semua agama.

Oleh karena itu, Allah, membukakan bumi belahan timur dan barat bagi para Sahabat beliau, hingga mereka berhasil menundukkan segala kerajaan, menaklukkan seluruh negeri dan mematahkan Kisra (Kerajaan Persi) dan Kaisar (Kerajaan Romawi) serta mengambil alih semua kekayaan mereka untuk selanjutnya mereka nafkahkan di jalan Allah, sebagaimana hal itu telah diberitahukan oleh Nabi mereka sendiri, bersumber dari Rabb mereka, yaitu pada firman-Nya yang artinya:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun.” (QS. An-Nuur: 55)

Oleh karena itulah, tatkala mereka benar-benar beriman kepada al-Masih, maka mereka dapat merampas dari orang-orang Nasrani negeri Syam dan memaksa mereka masuk ke Romawi, lalu mereka bertahan di kota mereka, Konstantinopel. Dan Islam bersama pemeluknya akan senantiasa berada di atas mereka sampai hari Kiamat kelak.

Ash-Shadiqul-Masduq (yang berkata dengan benar [jujur] dan dibenarkan [dipercaya] perkataannya) telah memberitahu umatnya bahwa generasi terakhir dari mereka akan membebaskan kota Konstantinopel dan mengambil kekayaan yang ada di sana, serta memerangi orang-orang Romawi secara besar-besaran yang belum pernah disaksikan manusia sebelumnya dan tidak ada bandingannya setelah itu. Mengenai masalah ini, penulis telah menyusun dalam buku tersendiri.

Karena itu, Allah berfirman: Wa jaa’ilul ladziinat taba’uuka fauqal ladziina kafaruu ilaa yaumil qiyaamati tsumma ilayya marji’ukum fa-ahkumu bainakum fiimaa kuntum fiiHi takhtalifuun. Fa ammal ladziina kafaruu fa-u-‘adzdzibuHum ‘adzaaban syadiidan fid dun-yaa wal aakhirati wamaa laHum min naashiriin (“Dan [Aku] menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang yang kafir hingga hari Kiamat. Kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antara kamu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya. Adapun orang-orang kafir, maka akan Ku-siksa mereka dengan siksa yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong.”) Demikian juga Allah berbuat terhadap orang-orang yang ingkar kepada `Isa, dari kalangan Yahudi maupun yang bersikap “ghuluw” (berlebih-lebihan) terhadapnya dari kalangan Nasrani, Dia akan mengadzab mereka di dunia dengan dibunuh, ditawan, dirampas harta kekayaannya, serta dicopot kekuasaan mereka dari kerajaan-kerajaan, sedangkan di akhirat, mereka akan mendapatkan adzab yang lebih pedih dan berat, wa maa laHum minallaaHi miw waaq (“Dan tidak ada seorangpun pelindung bagi mereka dari adzab Allah.”) (ar-Ra’du: 34)

Dan firman-Nya, wa ammal ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati fa yuwaffiiHim ujuuraHum (“orang-orang yang beriman dan merigerjakan amal-amal yang shalih, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka.”) Yaitu di dunia dan di akhirat. Pahala di dunia berupa pertolongan dan kemenangan. Sedangkan di akhirat berupa Surga-Surga yang tinggi. wallaaHu laa yuhibbudh-dhaalimiin (“Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim.”)

Kemudian Dia berfirman, dzaalika natluuHu ‘alaika minal aayaati wa wadz-dzikril hakiim (“Demikianlah [kisah Isa] Kami membacakannya kepadamu sebagian dari bukti-bukti [kerasulannya] dan [membacakan] al-Qur’an yang penuh hikmah.”) Artinya, yang Kami kisahkan kepadamu ini, ya Muhammad mengenai diri `Isa, yang dimulai dari kelahirannya dan bagaimana sifat urusannya adalah di antara yang difirmankan dan diwahyukan, serta diturunkan Allah swt. kepadamu dari Lauhul Mahfuzh, maka tidak ada perbantahan tentang `Isa dan tidak pula keraguan.

Sebagaimana firman-Nya dalam Surat Maryam, dzaalika ‘iisabna maryama qaulal haqqil ladzii fiiHi yamtaruun. Maa kaana lillaaHi ay yattakhida miw waladin subhaanaHu idzaa qadlaa amran fa inna maa yaquulu laHuu kun fayakuun (“Itulah ‘Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Mahasuci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah,’ maka jadilah ia.” (QS. Maryam: 34-35)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 52-54

2 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 52-54“Maka tatkala `Isa mengetahui keingkaran mereka [Bani Israil] berkatalah dia: ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk [menegakkan agama] Allah?’ Para hawariyyun [sahabat-sahabat setia] menjawab: ‘Kamilah penolong-penolong [agama] Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. (QS. 3:52) Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti Rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi [tentang keesaan Allah.’ (QS. 3:53) Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. 3:54)

Allah swt. berfirman, falammaa ahassa ‘iisaa (“Maka tatkala `Isa mengetahui,”) yaitu mengetahui ketetapan hati mereka untuk ingkar dan terus menerus dalam kesesatan, maka `Isa pun berkata, man anshaarii ilallaaH (“Siapakah yang akan menjadi penolong penolongku untuk [menegakkan agama] Allah?”) Mujahid berkata: “Maksudnya, siapakah yang mengikutiku menuju jalan Allah.”

Sufyan ats-Tsauri dan yang lainnya berkata: “Maksudnya, siapakah orang-orang yang menjadi penolongku bersama Allah?” Akan tetapi, apa yang diungkapkan Mujahid lebih tepat. Dan lahiriyah dari ayat ini menunjukkan, bahwa `Isa menghendaki orang-orang yang menolongnya dalam berdakwah kepada jalan Allah. Dan demikianlah, maka segolongan dari Bani Israil pun tertarik untuk beriman kepadanya, maka mereka pun mendukung dan menolongnya serta mengikuti nur yang diturunkan bersamanya.

Oleh karena itu, Allah swt. memberitakan mengenai keadaan mereka, dengan berfirman, qaalal hawaariyyuuna nahnu anshaarullaaHi aamannaa billaahi wasy-Had bi-annaa muslimuun. Rabbanaa aamannaa bimaa anzalta wat taba’nar rasuula faktubnaa ma’asy-syaaHidiin (“Para hawariyyun [sahabat-sahabat setia] menjawab: “Kamilah penolong ponolong agama Allah. Kami beriman kepada Allah. Dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami telah mengikuti Rasul, karena itu masukkanlah kami dalam golongan orang orang yang menjadi saksi [tentang keesaan Allah].”)

Menurut pendapat yang benar, al-hawariy adalah penolong. Sebagaimana ditegaskan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa Rasulullah saw. mengajak orang-orang pada peristiwa Ahzab, maka tampillah az-Zubair, lalu ketika beliau menganjurkan mereka lagi, maka tampillah az-Zubair. Kemudian Nabi bersabda: “Setiap Nabi mempunyai penolong (hawariy), sedangkan penolongku adalah az-Zubair.”

Mengenai firman-Nya, faktubnaa ma’asy-syaaHidiin (“Karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi [tentang keesaan Allah],”) Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu `Abbas ra. ia berkata: “Yaitu ke dalam golongan umat Muhammad.” Dan isnad riwayat ini adalah jayyid.

Selanjutnya Allah swt. memberitahu mengenai sekelompok pemuka Bani Israil yang bermaksud menyerang `Isa as, berbuat jahat dan menyalibnya, ketika mereka telah bersekongkol terhadapnya, kemudian melaporkannya kepada raja yang pada saat itu berkuasa, dan dia adalah seorang-raja yang kafir, bahwasanya ada seorang yang menyesatkan rakyat, melarang mereka mentaati sang raja, merusak rakyat, memutuskan hubungan antara orang tua dengan anaknya, dan lain-lainnya dari yang mereka tuduhkan dan lontarkan seperti tuduhan dusta dan anak haram, sehingga mereka berhasil memancing amarah sang raja. Raja itu pun mengirim pasukan untuk mencari dan menangkap ‘Isa untuk selanjutnya disalib dan disiksa.

Ketika pasukan tersebut mengepung rumahnya, dan mereka mengira telah berhasil menangkapnya, ternyata Allah menyelamatkannya dari kepungan mereka. Allah mengangkatnya dari lubang dinding rumah itu ke langit, dan kemudian Dia menjadikan salah seorang yang berada di dalam rumah itu serupa dengannya. Ketika pasukan itu memasuki rumahnya pada kegelapan malam, mereka meyakini bahwa ia adalah `Isa, lalu mereka menangkap, menyiksa dan menyalibnya serta menaruh duri pada kepalanya. Hal itu merupakan suatu bentuk tipu daya dari Allah terhadap mereka. Karena sesungguhnya, Dia telah menyelamatkan Nabi-Nya dan mengangkatnya dari hadapan mereka, meninggalkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan, namun mereka yakin telah berhasil dalam misi pencariannya itu. Dan Allah menanamkan dalam hati mereka kekerasan dan pembangkangan terhadap kebenaran sebagai konsekuensi bagi mereka, serta menimpakan kehinaan kepada mereka, yang tidak akan pernah lepas dari mereka hingga hari Kiamat kelak.

Oleh karena itu Dia berfirman, wa makaruu wa makarallaaH. wallaaHu khairul maakiriin (“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 48-51

2 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 48-51“Dan Allah akan mengajarkan kepadanya al-Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil. (QS. 3:48) Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabb-mu, yaitu aku membuat untukmu dari tanah berbentuk burung kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit kusta; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumabmu. Sesunggubnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu,jika kamu sungguh-sungguh beriman. (QS. 3:49) Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabb-mu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. (QS. 3:50) Sesungguhnya Allah, Rabb-ku dan Rabbmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”. (QS. 3:51)

Allah memberitahukan mengenai kesempurnaan berita gembira yang disampaikan Malaikat kepada Maryam. Tentang puteranya, `Isa as. dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah, mengajarkan kepadanya al-Kitab dan Hikmah, serta Taurat dan Injil.” Lahiriyah ayat ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan kitab di sini adalah tulis-menulis, sedangkan hikmah telah diterangkan pada pembahasan surat al-Baqarah. Sedang Taurat maksudnya adalah kitab yang diturunkan kepada Musa bin `Imran, dan Injil adalah hafal kedua kitab ini.

Firman-Nya, wa rasuulan ilaa banii israa-iil (“Dan [sebagai] Rasul kepada bani Israil,”) yang berkata kepada mereka, “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari ‘Rabb-mu, yaitu aku membuat untukmu dari tanah berbentuk burung, kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah.” Demikianlah `Isa menciptakan bentuk sebuah burung yang terbuat dari tanah liat, lalu meniupnya, dan kemudian burung itu, dengan disaksikan banyak orang, terbang dengan sebenar-benarnya dengan seizin Allah yang mana Allah menjadikan hal itu sebagai mukjizat baginya yang menunjukkan bahwa Dia benar-benar mengutusnya.

Firman-Nya, abri-ul akmaHa (“Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya.”) Yaitu orang yang dilahirkan dalam keadaan buta, karena yang demikian itu merupakan mukjizat yang amat hebat dan sangat menantang. Wal abrasha (“Dan orang yang berpenyakit kusta,”) yaitu penyakit yang sudah dikenal (kusta).

Wa uhyil mautaa bi-idznillaaH (“Dan aku hidupkan orang mati dengan seizin Allah.”) Mayoritas ulama berpendapat: “Allah telah mengutus setiap Nabi sesuai dengan keadaan zamannya.” Yang dominan pada zaman Nabi Musa as. adalah sihir dan pengagungan tukang sihir. Maka Allah mengutusnya dengan disertai mukjizat yang membelalakkan mata dan membingungkan para penyihir. Dan ketika mereka meyakini bahwa mukjizat itu berasal dari Allah, maka mereka berbondong-bondong memeluk Islam hingga akhirnya menjadi hamba Allah yang berbakti.

Sedangkan `Isa as. diutus oleh Allah pada masa yang marak dengan ahli kedokteran dan pakar ilmu alam. Maka `Isa pun datang ke tengah-tengah mereka dengan membawa mukjizat yang tidak ada lagi seorang pun mampu mencapainya, kecuali mendapat dukungan dari Pembuat syari’at. Dokter mana yang sanggup menghidupkan benda mati, atau menyembuhkan orang buta sejak lahir atau orang yang menderita penyakit kusta, serta membangkitkan orang yang berada di dalam kuburnya yang terikat dengan amal perbuatannya hingga hari Kiamat?

Demikian juga dengan Muhammad saw. yang diutus pada masa yang dipenuhi oleh ahli bahasa, sastrawan, dan penyair. Maka beliau diberi Kitab oleh Allah yang mana seandainya jin dan manusia bersatu untuk membuat kitab yang sama, atau dengan sepuluh surat sepertinya, atau satu surat saja yang menyerupainya, niscaya mereka tidak akan pernah sanggup melakukan hal itu, selamanya, meskipun antara satu dengan yang lainnya saling tolong-menolong. Yang demikian itu tidak lain karena firman Allah tidak akan pernah serupa dengan perkataan makhluk-Nya, selamanya.

Firman-Nya, wa unabbi-ukum bimaa ta’kuluuna wa maa taddakhiruuna fii buyuutikum (“Dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. “Yakni aku akan memberitahukan kepada kalian apa yang dimakan salah seorang di antara kalian sekarang dan apa yang disimpan di dalam rumahnya untuk esok hari. Inna fii dzaalika (“Sesungguhnya pada yang demikian itu,”) yaitu pada semuanya itu, la aayatal lakum (“Adalah suatu tanda [kebenaran kerasulan] bagimu,”) artinya tanda kebenaranku dalam membawa ajaran kepada kalian.

In kuntum mu’miniina. Wa mushaddiqal limaa baina yadayya minat tauraati (“Jika kamu sungguh sungguh beriman. Dan [aku datang kepadamu] membenarkan Taurat.”) Yaitu menetapkan dan menegaskannya.

Wa uhilla lakum ba’dlal ladzii hurrima ‘alaikum (“Dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu.”) Ini menunjukkan bahwa `Isa menasakh (menghapus) sebagian syari’at Taurat. Inilah pendapat yang benar dari dua pendapat yang ada. Wallahu a’lam ed.

Dan di antara ulama ada yang berpendapat, bahwa `Isa tidak menasakh sedikit pun dari Taurat. Tetapi menghalalkan bagi mereka sebagian apa yang telah mereka perselisihkan karena salah, dan menyingkap bagi mereka tabir penutup hal tersebut. Sebagaimana firman-Nya dalam ayat yang lain: wa li-ubayyina lakum ba’dlal ladzii takhtalifuuna fiiHi (“Dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya.”) (QS. Az-Zukhruf: 63) Wallaahu a’lam.

Lalu Dia berfirman, wa ji’tukum bi-aayatim mir rabbikum (“Dan aku datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda [mukjizat] dari Rabb-mu.”) Yaitu dengan hujjah dan bukti atas kebenaranku terhadap apa yang aku katakan kepada kalian.

Fat taqullaaHa wa athii’uun. innallaaHa rabbii wa rabbukum fa’buduuHu (“Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Rabbku dan Rabbmu, karena itu sembahlah Dia.”) Artinya, aku dan kalian sama, menghambakan diri dan tunduk serta khusyu’ kepada Nya. Haadzaa shiraatum mustaqiim (“Inilah jalan yang lurus.”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 45-47

2 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 45-47“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakanmu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya al-Masih ‘Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), (QS. 3:45) dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang shalih’. (QS. 3:46) Maryam berkata: ‘Ya Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.’ Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): ‘Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: ‘Jadilah’, lalu jadilah dia.” (QS. 3:47)

Ini merupakan kabar gembira yang disampaikan oleh Malaikat kepada Maryam, bahwa Allah akan melahirkan darinya seorang anak yang mulia yang memiliki kedudukan tinggi. Allah swt. berfirman, wa idz qaalatil malaa-ikatu yaa maryamu innallaaHa yubasy-syiruki bikalimatin minHu (“Ingatlah ketika Malaikat berkata: ‘Wahai Maryam, sesungguhnya Allah memberikan kabar gembira kepadamu [dengan kelahiran seorangputra yang diciptakan] dengan kalimat [yang datang] dari-Nya.’ Yaitu seorang anak yang keberadaannya melalui sebuah kalimat dari Allah, yaitu Allah berkata kepadanya, kun ‘Jadilah’, maka jadilah ia. Dan ini merupakan penafsiran firman-Nya, mushaddiqam bikalimatim minallaaH (“Yang membenarkan kalimat [yang datang] dari Allah.”) (QS. Ali-Imian: 39) Sebagaimana yang disebutkan oleh Jumhur ulama, yang telah dijelaskan sebelumnya.

ismuHul masiihu ‘iisabna maryama (“Namanya al Masih Isa putra Maryam.”) Artinya, nama ini masyhur di dunia dan dikenal oleh orang-orang yang beriman. Dinamai al-Masih, menurut sebagian ulama salaf, karena ia banyak melakukan perjalanan. Ada juga yang mengatakan, karena ia rata kedua telapak kakinya, tidak berlekuk. Dikatakan juga, karena jika ia mengusap seseorang yang mengidap penyakit kronis, maka dengan izin Allah orang itu akan sembuh.

Firman-Nya, ‘iisabna maryama (“Isa putra Maryam,”) dinisbatkan kepada ibunya, Maryam, kerena tidak mempunyai ayah.

wajiiHan fiddun-yaa wal aakhirati wa minal muqarrabiin (“Seorang terkemuka di dunia dan akhirat serta termasuk orang-orang yang didekatkan [kepada Allah].”) Dengan kata lain, ia mempunyai kehormatan dan kedudukan di hadapan Allah di dunia, karena syari’at telah diwahyukan kepadanya serta diturunkan pula kepadanya kitab dan karunia Allah lainnya yang diberikan kepadanya. Sedang di akhirat kelak ia akan memberi syafa’at di hadapan Allah kepada orang-orang yang diizinkan-Nya dan syafa’atnya itu dikabulkan Allah sebagaimana para Rasul dari kalangan Uulul `Azmi. Semoga shalawat dan salam Allah atas mereka semuanya.

Firman-Nya, wa yukallimun naasa fil maHdi wa kaHlan (“Dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa.”) Yaitu ia mengajak untuk ibadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya pada waktu masih bayi. Yang demikian itu merupakan mukjizat dan tanda (kekuasaan Allah). Juga pada waktu sudah dewasa, yaitu ketika Allah menyampaikan wahyu kepadanya.

Wa minash shaalihiin (“Dan dia termasuk di antara orang-orang yang shalih.”) Yakni dalam perkataan dan perbuatan, ia memiliki ilmu yang benar dan amal yang shalih.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Hurairah, Nabi bersabda: “Tidak ada yang dapat bicara ketika masih dalam buaian kecuali tiga bayi, yaitu `Isa, seorang bayi pada masa Juraij, dan seorang bayi lainnya.” (Muttafaq alaih)

Ketika mendengar kabar gembira yang disampaikan oleh Malaikat itu, Maryam berucap dalam munajatnya: rabbi innii yakuunu lii waladuw walam yamsasnii basyar (“Rabbku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun.”) Maksudnya, bagaimana anak itu akan lahir dariku sedang aku tidak mempunyai suami, bahkan niat menikah pun tidak ada, dan aku pun bukan seorang pelacur, a’uudzubillaah. Sebagai jawaban atas pertanyaannya tersebut, maka Malaikat menyampaikan kepadanya dari Allah, kadzaalikillaaHu yakhluqu maa yasyaa-u (“Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya.”) Artinya, demikianlah perintah Allah itu sangat agung, tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkannya.

Ditegaskan di sini dengan firman-Nya: “yakhluqu maa yasyaa-u” dan tidak menggunakan kalimat “yaf’alu maa yasyaa-u” sebagaimana dalam kisah Zakariya. Bahkan disebutkan di sini dengan jelas bahwa Ia menciptakan, dengan tujuan agar tidak ada syubhat atau keraguan.

Dan hal ini diperkuat dengan firman-Nya, idzaa qadlaa amran fa innamaa yaquulu laHuu kun fayakuun (“Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka hanya cukup berkata kepadanya: ‘jadilah, ” maka jadilah ia.”) Maksudnya, tidak tertambat sedikit pun, bahkan segera. Sebagaimana firman-Nya: wa maa amrunaa illaa waahidatun kalamhil bashari (“Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata.”) Artinya, Kami hanya memerintah satu kali saja, tanpa diulangi, maka segeralah terjadi sesuatu itu secepat kejapan mata.

&