Arsip | 14.52

Wanita Dalam Pandangan Islam; Penutup

3 Mar

Wanita Dalam Pandangan Islam
Karya: Dr. Syarief Muhammad abdul adhim;
Penerjemah: Ibrahim Qamaruddin, Lc.

Pertanyaan orang-orang non muslim yang telah membaca cetakan yang lalu dari pelajaran ini yaitu: “Apakah wanita-wanita muslimah diperlakukan seperti ini (sebagaimana yang telah diterangkan dalam buku ini) pada masyarakat-masyarakat Islam sekarang?” Jawabanya, maaf (dengan sangat menyesal): “tidak…!”. Saya akan memberikan sebagian keterangan (titik terang) terhadap jawaban pertanyaan ini agar bisa memberikan gambaran secara sempurna kepada pembaca tentang posisi perempuan dalam Islam.

Sesungguhnya interaksi (perlakuan) terhadap perempuan dalam dunia Islam berbeda-beda dari satu masyarakat dengan masyarakat yang lain, dari satu pribadi dengan pribadi yang lain, karena disana terdapat beberapa hukum-hukum yang diikuti oleh setiap masyarakat. Sebagian besar masyarakat Islam sangat jauh dari ajaran-ajaran Islam, khususnya yang berkaitan dengan perlakuan terhadap wanita. Di sana terdapat dua sisi: sisi yang sangat fanatik, keras, mengikuti adat-adat dan tradisi, dan sisi yang lain adalah sisi yang bebas (liberal) dan mengikuti barat.

Masyarakat-masyarakat yang tenggelam dalam sisi yang pertama, memperlakukan perempuan sesuai dengan adat dan tradisi yang terwarisi diantara mereka. Dan adat ini mengharamkan perempuan untuk memperoleh hak-hak yang telah diberikan oleh Islam kepadanya. Hukum-hukum diterapkan terhadap perempuan sangat berbeda dengan hukum-hukum yang diterapkan terhadap laki-laki. Terdapat pebedaan yang sangat jauh diantara keduanya, perempuan tidak disenangi kelahirannya karena berbeda dengan anak-anak laki-laki, terkadang dilarang untuk mendapatkan pengajaran, diharamkan untuk mendapatkan warisan, selalu di bawah pengawasan hingga tidak ada yang bersumber darinya satu tindakan apapun kecuali moral. Sementara, laki-laki diterima semua tindakannya walaupun selain moral. Dan perempuan boleh dibunuh karena salah satu dari tindakan-tindakan tersebut, sementara anak laki-laki bangga dengan melakukan tindakan-tindakan ini. Perempuan tidak mempunyai hak untuk mengajukan pendapatnya dalam hal apapun, baik yang berkaitan dengan keluarga atau masyarakat. Dan mungkin, dia tidak mempunyai kebebasan menggunakan barang-barang dan hadiah-hadiah pernikahannya. Sebagai isteri, dia harus lebih mengutamakan untuk melahirkan anak laki-laki agar mendapatkan kedudukan yang tinggi dalam masyarakat.

Sementara, di sisi lain terdapat sebagian masyarakat yang Islami (sebagian golongan dalam masyarakat tersebut) yang telah menyuburkan aliran-aliran barat. Masyarakat ini mengikuti orang-orang Barat dengan taqlid buta pada segala sesuatu, bahkan dia mengambil adat-adat yang paling jelek pada masyarakat-masyarakat Barat. Yang terpenting, bagi perempuan pada masyarakat ini adalah hal yang baru, yaitu bepenampilan cantik. Maka dia senantiasa terobsesi dengan kecantikannya, beratnya, sangat memperhatikan badannya dan kecantikannya melebihi akalnya. Kehebatannya untuk menjerumuskan dan menakjubkan orang lain adalah suatu hal yang lebih diprioritaskan dari pada menimba ilmu dan posisinya dalam masyarakat. Dan tentu saja tidak terdapat mushaf di dalam tasnya, karena dipenuhi dengan alat-alat make up yang selalu dibawa bersamanya ke setiap tempat. Sementara kecantikan rohnya tersembunyi ketika ketertarikannya semakin bertambah, maka dia menghabiskan umurnya dengan mementingkan kewanitaannya dan tidak ada sama sekali perhatian terhadap kepribadiannnya.

Kenapa masyarakat Islam semakin jauh dari ajaran-ajaran Islam? Sangat susah untuk menjawab pertanyaan ini, karena keterangan tentang jauhnya orang-orang muslim dari ajaran al-Qur`an (khususnya yang berkaitan dengan perempuan) membutuhkan penelitian lain agar saya mampu untuk memberikan keterangan tentang jauhnya orang-orang muslim dari ajaran-ajaran agamanya, yang kebanyakan dari segi-segi kehidupan pada masa yang telah berlalu, karena di sana terdapat celah yang besar di antara apa yang wajib bagi orang-orang muslim dan apa yang mereka praktekkan sekarang.

Celah ini tidak terjadi pada akhir-akhir ini saja, akan tetapi ini adalah hasil dari akumulasi selama beberapa tahun yang semakin bertambah dari hari ke hari. Sangat jelas pengaruh dari celah ini yang kebanyakan mengenai segi-segi kehidupan pada dunia Islam sekarang, contohnya: zalim dalam hukum, pemisahan, kemunduran ekonomi, kezaliman masyarakat, keterlambatan ilmu dan lemah berfikir, dan lain-lain. Dan memposisikan perempuan dalam dunia Islam yang tidak ada hubungannya dengan Islam adalah salah satu tanda dari pengaruh yang memusnahkan ini.

Wajib memperbaiki kembali masyarakat Islam pada setiap segi dan kembali memposisikan perempuan sesuai dengan tempat sebelumnya. Dan juga wajib mengikuti ajaran-ajaran Islam sampai sempurna perbaikan ini. Ringkasnya, anggapan yang dikatakan bahwa sebab buruknya posisi perempuan dalam dunia Islam sekarang adalah karena Islam itu sendiri. Ini merupakan suatu keyakinan yang salah. Justru sebaliknya, setiap masalah yang dihadapi oleh orang-orang muslim adalah karena mereka semakin jauh dari ajaran-ajaran Islam. Saya harus menguatkan, bahwasanya tujuan dari penelitian ini bukanlah untuk menjelekkan atau merendahkan akidah orang-orang Yahudi dan Masihi. Posisi perempuan dalam akidah Yahudi dan Masihi yang semakin melemah sepanjang masa itu disebabkan oleh kondisi masyarakat dan pendapat-pendapat para Pendeta dan Santo yang berpengaruh pada keadaan ini, dan merubah hukum-hukum yang khusus berkaitan dengan perempuan.

Oleh karena Kitab al-Muqaddas itu sendiri ditulis oleh beberapa orang pada waktu yang berbeda-beda, maka berbeda pulalah pandangan mereka dan berubah sesuai dengan perbedaan nilai-nilai dan kondisi-kondisi kehidupan di sekitar mereka. Sebagai contoh, hukum-hukum yang khusus berkenaan dengan zina pada Perjanjian Lama berpihak melawan perempuan dengan bentuk yang tidak masuk akal. Ini disebabkan oleh kabilah-kabilah orang-orang Yahudi terdahulu yang sangat membanggakan keturunannya. Oleh karena itu, mereka takut jika perempuan melakukan hubungan apapun dengan seseorang yang berasal dari kabilah-kabilah tetangga. Hal ini tidak membuat kita simpati dengan hukum-hukum tersebut, namun sekedar untuk memahami sebab keberpihakan melawan perempuan. Dan juga serangan para Santo yang melawan perempuan seharusnya tidak ditafsirkan terpisah dari kebencian terhadap perempuan pada peradaban Yunani dan Romania. Maka, seharusnya kita tidak menghukum akidah-akidah Yahudi dan Masihi tanpa memposisikan kondisi-kondisi dan sejarah-sejarah sebagai I`tibar (penelitian).

Supaya kita memahami periode Islam dalam sejarah dan peradaban manusia, wajib bagi kita untuk memahami kondisi-kondisi sejarah yang telah dilewati oleh akidah orang-orang Yahudi dan Masihi. Karena lingkungan, kondisi, dan peradaban yang berbeda-beda sangat berpengaruh dalam membentuk akidah orang-orang Yahudi dan Masihi. Pada abad ke tujuh sebelum Hijrah, pengaruh ini telah menjadi faktor perubahan (pemalsuan) Risalah Ilahiyah yang telah diturunkan kepada Nabi Musa as. dan kepada Nabi Isa as. Semakin melemahnya kedudukan perempuan dalam akidah orang-orang Yahudi dan Masihi pada abad ketujuh merupakan contoh terhadap perubahan ini. Oleh karena itu, dibutuhkan Risalah Ilahiyah yang dapat mengembalikan manusia ke jalan yang lurus. Al-Qur`an telah menjelaskan bahwasanya periode Rasulullah Saw. ialah untuk membebaskan orang-orang Yahudi dan Masihi dari kesedihan-kesedihan yang menimpa mereka:

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma`ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar, dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka, maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur`an), mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. Al-A`raaf: 157).

Islam bukanlah agama saingan bagi Yahudi dan Masihi, akan tetapi Islam adalah penyempurna risalah-risalah ilahiyah yang telah turun sebelumnya. Di akhir pembahasan ini, saya ingin mempersembahkan nasihat kepada masyarakat Islam, bahwa: “Telah diharamkan banyak hal terhadap perempuan-perempuan dari hak-haknya yang telah diperintahkan oleh Islam untuk ditunaikan, dan wajib memperbaiki apa yang telah terjadi. Hal ini wajib bagi setiap muslim (secara khusus), dan dunia Islam (secara umum) untuk meletakkan undang-undang yang tertulis di dalamnya hak-hak perempuan yang telah diperintahkan oleh Islam dan Rasul Islam Muhammad Saw.

Oleh karena itu, undang-undang tersebut wajib memberikan kepada perempuan hak-hak yang telah Allah Swt. berikan kepadanya, dan wajib mengusahakan segala cara untuk terlaksananya undang-undang ini. Sebetulnya hal ini adalah suatu pekerjaan yang membutuhkan waktu, akan tetapi ini lebih bagus daripada tidak melakukan apa-apa sama sekali. Jika orang-orang muslim tidak menjamin hak-hak ibunya, isteri-isterinya, saudari-saudarinya, dan anak-anak perempuannya, maka siapakah yang akan menjamin hak-hak mereka?!

Lebih dari itu, kita wajib untuk menghilangkan segala adat-adat dan tradisi-tradisi yang salah, yang terwarisi dikalangan kita dan bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Bukankah al-Qur`an telah mengkritik dengan keras orang-orang Arab sebelum Islam muncul karena mereka mengikuti tradisi-tradisi nenek moyang mereka sebagai ikutan yang menyesatkan? Dan wajib bagi kita untuk melawan segala tradisi buruk yang datang kepada kita dari orang Barat atau dari peradaban manapun. Namun, wajib bagi kita untuk berkomunikasi dengan mereka dan belajar dari mereka setiap apa yang berfaidah, bermanfaat, dan hal ini adalah suatu hal yang dianjurkan oleh al-Qur`an:

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal”. (QS. Al-Hujuraat: 13).

Akan tetapi wajib bagi kita untuk tidak mengikuti orang lain dengan taqlid buta, karena hal ini adalah sebagai tanda orang yang tidak berjiwa besar. Dan saya hadiahkan kalimat-kalimat ini kepada orang-orang selain muslim (Yahudi, Masihi, atau selainnya): “Sesungguhnya ini adalah suatu hal yang sangat mengherankan dengan mengkategorikan agama yang menjaga posisi perempuan dan memuliakannya sebagai penindasan terhadap perempuan. Hal ini adalah suatu keyakinan dari kebanyakan keyakinan-keyakinan yang menyebar di dunia kita sekarang. Dan hal ini telah dimuat oleh banyak artikel-artikel, kitab-kitab, sarana-sarana iklan dan film-film HOLLY WOOD.

Keyakinan-keyakinan yang salah ini menyebabkan jeleknya pemahaman dan rasa takut dari segala sesuatu yang berkaitan dengan Islam. Dan kita wajib menghilangkan segala sesuatu yang menjelekkan Islam dalam iklan, agar kita hidup dalam masyarakat yang sunyi dari perpecahan golongan, keberpihakan dan pemahaman yang jelek. Maka, wajib bagi orang-orang non muslim untuk menemukan bahwasanya di sana terdapat celah antara ajaran-ajaran Islam dan tingkah laku sebagian muslim sekarang, karena tingkah laku ini tidak bersumber dari Islam secara mutlak. Posisi perempuan pada masyarakat Islam sekarang jauh dari posisi yang telah dijelaskan oleh al-Qur`an. Seperti jauhnya posisi perempuan di Barat sekarang dari posisinya pada “Akidah Yahudi dan Masihi” sebenarnya. Maka wajib bagi orang-orang muslim dan non muslim untuk saling berkomunikasi, berdiskusi, agar mereka dapat menghilangkan keyakinan-keyakinan yang salah, segala keraguan dan ketakutan demi terciptanya kehidupan yang aman di masa mendatang.

Wajib bagi Islam untuk menjelaskan bahwa dia adalah agama yang memuliakan perempuan dan memberikan hak-haknya, dan dunia menemukan hal-hal tersebut pada abad ini saja. Islam memberikan jaminan untuk perempuan kemuliaan, kehormatan, dan penjagaan dari segala kejelekan sejak dia lahir sampai dia meninggal. Lebih dari itu Islam telah memberikan setiap kebutuhannya dari segi rohani, pikiran, materi dan kasih sayang. Tidak mengherankan bahwa kebanyakan orang yang memeluk Islam di British adalah wanita. Dan perbandingan antara jumlah perempuan dan jumlah laki-laki yang memeluk Islam di Amerika serikat adalah 4 banding 1.

Alam kita sekarang sangat membutuhkan Islam, agar bisa mengembalikannya ke jalan yang benar. Seorang Duta yang bernama Herman Ieltas telah mengatakan di depan panitia ikatan-ikatan luar negeri pada Kongres Amerika pada tanggal 24 juni 1985: “Sesungguhnya jumlah muslim sekarang lebih dari satu miliar, jumlah yang sangat menakjubkan, akan tetapi yang lebih mengherankan saya bahwasanya Islam adalah agama yang meng-Esakan Allah termasuk paling cepat menyebar. Jika hal ini menunjukkan terhadap sesuatu, berarti hal tersebut menunjukkan bahwasanya Islam adalah agama yang benar. Hal ini yang banyak menarik dari orang-orang yang saleh”. Betul! Islam adalah agama yang benar dan sudah tiba saatnya untuk mengungkap hal itu. Saya berharap semoga pembahasan ini adalah langkah untuk menuju ke jalan tersebut.

&

Iklan

Poligami

3 Mar

Wanita Dalam Pandangan Islam
Karya: Dr. Syarief Muhammad abdul adhim;
Penerjemah: Ibrahim Qamaruddin, Lc.

Sekarang kita akan melihat pada suatu hal yang mempunyai posisi sangat urgen yaitu poligami. Sesungguhnya poligami adalah suatu adat yang telah lama, yang terdapat pada kebanyakan masyarakat. Kitab al-Muqaddas tidak mengharamkan praktek poligami, juga Perjanjian Lama dan kitab-kitab para pendeta senantiasa menguatkan diperbolehkannya poligami, dan mengatakan bahwasanya Nabi Sulaiman as. mempunyai 700 isteri dan 300 selir. (1 Muluuk 11: 3). Begitupun Nabi Daud as. dikatakan bahwasanya beliau mempunyai banyak isteri dan selir. (2 Samuel 5: 13). Perjanjian Lama telah menjelaskan bagaimana sistem pembagian harta bapak kepada anak-anaknya dari isteri-isterinya. (Tatsniyah 22: 7). Satu hal yang diharamkan ketika berpoligami yaitu seorang laki-laki menikahi saudari isterinya. (Lawien 18: 18). Dan Talmuud menasihati agar bilangan isteri tidak boleh lebih dari empat.

Orang-orang Yahudi Eropa senantiasa mencoba mempraktekkan poligami hingga abad ke enam belas. Dan orang-orang Yahudi timur senantiasa mencoba mempraktekkannya hingga mereka datang ke Israel yang mana undang-undang sipil telah mengharamkan untuk berpoligami. Akan tetapi hal ini (berpoligami) masih tetap diperbolehkan dalam akidah orang-orang Yahudi.

Bagaimana dengan Perjanjian Baru? Pendeta Youcin Hilman mengatakan dalam kitabnya “Meninjau Kembali Tentang Konsep Poligami” bahwasanya tidak disebutkan dalam perjanjian baru hal-hal yang berkaitan tentang poligami atau larangan mengenai hal tersebut.

Sebagaimana Isa as. tidak mengharamkan poligami walaupun hal tersebut menyebar di kalangan masyarakat Yahudi pada waktu itu. Dan pendeta Hilman telah menguatkan tentang kebenaran bahwasanya gereja di Roma melarang praktek poligami karena hal tersebut ikut-ikutan dengan budaya orang-orang Yunani Romania (yang membolehkan seorang isteri yang sah dan dia juga menerima perzinahan) dan hal ini dikuatkan oleh perkataan Santo Ojistien: “Sekarang kita akan mengikuti adat-adat orang Romania yang tidak memperbolehkan menikahi perempuan yang kedua (poligami)”.

Gereja-gereja orang Afrika senantiasa menyebutkan bahwa orang Masihi Eropa melarang praktek poligami, dan bahwasanya larangan poligami tersebut disebabkan adat dari adat-adat peradaban orang-orang Romania dan bukan karena disebabkan faktor agama. Al-Qur`an membolehkan praktek poligami akan tetapi dengan beberapa syarat: “Dan jika kamu takut tidak dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki, yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (QS. An-Nisaa: 3). Al-Qur`an -berbeda dengan Kitab al-Muqaddas- membatasi bilangan maksimal untuk berpoligami hanya sampai empat dan suami diharuskan untuk berlaku adil di antara mereka. Akan tetapi al-Qur`an tidak menganjurkan bagi orang-orang mukmin untuk berpoligami tapi hanya memberikan toleransi terhadap hal tersebut. Namun kenapa? Kenapa disyari`atkan poligami?

Jawabannya sangat mudah: karena pada sebagian waktu dan beberapa tempat terdapat sebab-sebab secara komonitas dan akhlak yang mengharuskan terjadinya poligami. Dan ayat yang telah terdahulu telah menjelaskan bahwasanya poligami disyari`atkan karena anak yatim dan para janda. Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang menyeluruh dan sesuai dengan seluruh waktu dan tempat. Sesungguhnya jumlah bilangan wanita bertambah dari bilangan laki-laki di beberapa masyarakat. Terdapat di daerah Amerika serikat minimal 8.000.000 penambahan jumlah perempuan dibandingkan jumlah laki-laki. Di Genia terdapat perimbangan 122 wanita sedangkan laki-laki 100. Di Tanzaniya 1, 95 laki-laki di banding 100 wanita.

Maka apa yang akan dilakukan oleh masyarakat untuk mendapatkan solusi terhadap masalah tersebut? Terdapat banyak solusi-solusi, sebagian ada yang memilih untuk membujang atau melajang, dan sebagian ada yang mengubur hidup-hidup anak perempuannya (yang sedang atau akan dipraktekkan oleh sebagian masyarakat-masyarakat pada zaman kita sekarang). Di sebagian masyarakat yang lain ada yang lebih menerima berzina dan kelainan seksual, dan lain-lain. Sedangkan kebanyakan orang-orang Afrika memperbolehkan poligami. Sementara di Barat mereka meyakini bahwa poligami adalah suatu penghinaan terhadap wanita. Dan mereka heran bahwasanya perempuan pada sebagian masyarakat memilih poligami. Sebagai contoh kebanyakan wanita-wanita Afrika mereka lebih mengutamakan pernikahan dengan seorang laki-laki yang sudah menikah agar mereka dapat menjamin bahwasanya suami tersebut dapat memikul tanggung jawab. Dan kebanyakan isteri-isteri di Afrika mereka menganjurkan suami-suami mereka untuk menikah lagi agar mereka (isteri-isteri tersebut) tidak merasakan kesepian.

Di Nigeria terdapat sekitar 60 % dari 6000 perempuan yang rata-rata umur mereka diantara 15 sampai 59 tahun, mereka tidak melarang suami-suami mereka menikah untuk yang kedua kalinya, dan 23 % saja yang menolak hal ini. Sedangkan 76 % dari wanita-wanita Kenya tidak menolak poligami dan pada pinggiran Kenya 25 perempuan dari setiap 27 perempuan mereka lebih memilih poligami, karena mereka memandang terdapat faidah pada poligami di mana isteri-isteri bisa saling membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Sesungguhnya poligami diterima oleh kebanyakan masyarakat di Afrika karena sebagian gereja-gereja Protestan membolehkan hal tersebut. Dan seorang Pendeta gereja Nasrani di Kenya berkata: “Meskipun penolakan poligami diibaratkan dengan kecintaan suami-isteri, hanya saja gereja memperhatikan di sana terdapat banyak dari masyarakat-masyarakat yang menerima praktek poligami dan praktek poligami tidak akan pernah kembali kontra dengan orang-orang Masihi”.

Setelah mempelajari tentang praktek poligami di Afrika, seorang pendeta gereja Nasrani David gietary mengatakan bahwasanya dia mengutamakan sistem poligami dari pada talak, dan pernikahan yang kedua kali adalah suatu bentuk kelembutan terhadap wanita-wanita yang tertalak dan anak-anak mereka.

Saya pribadi mengetahui sebagian perempuan-perempuan yang telah hidup lama di Barat, mereka tidak menolak praktek poligami. Salah seorang diantara mereka yang hidup di Amerika Serikat meminta kepada suaminya untuk menikah lagi dengan perempuan lain hingga isteri baru tersebut dapat membantunya dalam mendidik anak.

Sesungguhnya masalah bertambahnya jumlah perempuan dari jumlah laki-laki bertambah pada waktu perang terjadi. Maka kabilah-kabilah Hindia sebagai orang-orang asli di Amerika adalah orang yang paling banyak mendapatkan masalah ini setelah perang. Dan perempuan pada kabilah-kabilah ini lebih memilih poligami dari pada melakukan hubungan-hubungan yang tidak sah. Sedangkan para penjajah di Eropa (mereka tidak memberikan solusi apapun) mereka menolak poligami karena menganggapnya “bukan peradaban”.

Setelah perang dunia ke dua, terjadi penambahan 7,300,000 perempuan dari jumlah laki-laki. Sedangkan di Jerman (3,3 juta diantara mereka janda-janda) berbanding 100 laki-laki yang rata-rata umur mereka dari 20 sampai 30 tahun, setiap 176 perempuan berumur seperti itu.

Kebanyakan dari mereka tidak hanya membutuhkan laki-laki sebagai pendamping hidup saja, bahkan juga sebagai keluarga pada waktu kefakiran menyebar di sana. Sedangkan tentara-tentara penguasa memenuhi kebutuhan-kebutuhan perempuan-perempuan tersebut. Dan kebanyakan dari gadis-gadis dan janda-janda mereka melakukan hubungan tidak sah dengan tentara-tentara penguasa. kemudian kebanyakan dari tentara-tentara Amerika dan British mereka membayar harga senang-senang mereka dengan rokok, coklat dan roti. Dan anak-anak mereka senang dengan hadiah-hadiah ini. Seorang anak yang berumur sekitar sepuluh tahun telah mendengar tentang hadiah-hadiah ini dari anak-anak yang lain, maka dia berangan dengan segenap hatinya agar seorang laki-laki Inggris datang kepada ibunya agar dia memberikan mereka hadiah-hadiah ini dan menghilangkan mereka dari kelaparan.

Wajib kita untuk bertanya pada diri kita sekarang: Bagaimana memuliakan perempuan? apakah seorang isteri harus merelakan suaminya untuk menikah lagi sebagaimana yang terjadi pada masyarakat orang Hindia merah. Atau berzina sesuai dengan dasar tentara-tentara sekutu (orang kota)? Dengan arti lain, bagaimana memuliakan perempuan? Apakah dengan yang diturunkan dalam al-Qur`an, atau dengan akidah yang didasari oleh peradaban kaisar Romania? Telah didiskusikan tentang masalah bertambahnya jumlah perempuan dari jumlah laki-laki di Jerman dalam Konfrensi yang dilaksanakan di Miyunkh pada tahun 1948, mereka tidak mendapatkan solusi apapun, hanya saja sebagian orang-orang yang hadir mereka menawarkan praktek poligami. Dan tanggapan yang pertama dari sebagian orang-orang yang hadir yaitu shock dan putus asa. Akan tetapi setelah mempelajari solusi ini, orang-orang yang hadir dalam Konfrensi tersebut menyetujui hal tersebut bahwasanya hal itu adalah solusi yang ideal. Selanjutnya Konfrensi mewasiatkan untuk diterimanya praktek poligami.

Dunia sekarang telah di penuhi oleh senjata-senjata pemusnah yang merata dan akan terpaksa gereja-gereja di Eropa (cepat atau lambat) untuk menerima poligami sebagai solusi yang ideal. Kebenaran ini telah di temukan oleh pendeta Hilman dan berkata : ” Sesungguhnya sarana-sarana pemusnah seperti (nuklir, biologi, kimia,….) akan mengakibatkan kepada keseriusan terhadap masalah tidak adanya keserasian antara jumlah dari dua jenis (laki-laki dan perempuan). oleh karena itu poligami menjadi hal yang sangat darurat jika tidak akan menyebar kerusakan. Pada keadaan seperti ini akan berlindung para pendeta dan gereja dengan mengajukan sebab-sebab dan nas-nas agama untuk mensyari`atkan pemahaman baru bagi pernikahan”.

Dan kemudian praktek poligami sekarang menjadi suatu solusi untuk kebanyakan masalah-masalah kemasyarakatan. Dan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh al-Qur`an terhadap praktek poligami sudah telah terealisasi dengan jelas pada masayarakat di Barat melebihi masyarakat di Afrika. Sebagai contoh, pada masyarakat kulit hitam di wilayah Amerika Serikat sekarang, terdapat kesedihan dengan bertambahnya jumlah perempuan dari jumlah laki-laki. Hal ini disebabkan karena satu dari setiap dua puluh pemuda mereka meninggal sebelum umur mereka mencapai dua puluh satu tahun.

Kebanyakan mereka terbunuh dan yang lain pengangguran atau di penjara atau menjadi pecandu Narkoba. Berikutnya, satu dari setiap empat perempuan pada umur empat puluh tahun belum nikah. Kemudian satu dari setiap sepuluh perempuan kulit putih belum nikah. Demikian juga kebanyakan di sana perempuan-perempuan kulit hitam mereka menjadi ibu sebelum berumur dua puluh tahun dan mereka membutuhkan keluarga. Ini merupakan faktor yang mendukung terjadinya apa yang dinamakan “Suami Bersama” yaitu seorang suami menikahi perempuan lain tanpa diketahui oleh isterinya tentang hal tersebut.

Untuk menyelesaikan masalah ini mereka mengusulkan untuk membolehkan masyarakat Afra Amerika untuk berpoligami. Ini merupakan suatu keputusan yang disepakati oleh setiap partai-partai pada masyarakat untuk menyelesaikan atas dampak “suami bersama” secara sembunyi-sembunyi yang memberikan kerusakan terhadap isteri dan masyarakat. Dan masalah ini telah didiskusikan pada pertemuan di Universitas di Philadelphia pada tanggal 27 Januari 1993.

Kemudian kebanyakan dari mereka memilih poligami untuk menyelesaikan masalah ini. Mereka juga mengusulkan agar undang-undang wajib untuk tidak mencegah praktek poligami khususnya pada masyarakat-masyarakat di mana perzinahan merajalela di tempat tersebut. Seluruh hadirin menyetujui perkataan seorang perempuan yang juga termasuk audiens pada pertemuan ini “Bahwasanya Afra Amerika wajib mencontoh kepada orang-orang Afrika yang telah membolehkan praktek poligami”. Seorang ahli Antrologi Amerika dalam Turats orang katolik Romani (Philips Kilbrad) mengusulkan dalam kitabnya “Poligami Pada Masa Kita” yang mengobarkan perdebatan. bahwasanya poligami adalah solusi yang paling ideal untuk menyelesaikan beberapa masalah pada masyarakat Amerika.

Hal tersebut akan menyelesaikan masalahan perceraian yang sangat berpengaruh terhadap anak-anak. Sebab kebanyakan perceraian yang terjadi pada masyarakat Amerika adalah hasil dari hubungan yang tidak sah yang berlaku di sana. Untuk menyelesaikan masalah ini, maka wajib diterapkan praktek poligami. Karena hal itu lebih baik daripada perceraian, dan lebih efektif untuk menjaga anak-anak. “Karena menjaga keluarga dari kehancuran dan perpecahan akan lebih baik untuk anak-anak”. Demikian juga dia mengatakan bahwasanya poligami akan memberikan solusi terhadap permasalahan perempuan yang belum pernah menikah, disebabkan kurangnya jumlah laki-laki dari jumlah perempuan, dan hal ini akan menyelesaikan masalah “Suami Bersama” pada masyarakat Afra Amerika .

Pada tahun 1987, diadakan percobaan dengan meminta Polling pendapat pada koran pelajar di Universitas California di Berkly, untuk mensepakati undang-undang yang membolehkan laki-laki untuk menikahi lebih dari satu isteri, demi menyelesaikan masalah bertambah banyaknya jumlah perempuan dari jumlah laki-laki di California. Kebanyakan siswa-siswi sepakat terhadap ide ini. Seorang pelajar perempuan mengatakan bahwa sebetulnya poligami itu lebih bagus menurut pendapatnya, karena bisa mencukupi kebutuhan-kebutuhannya lahir dan batin.

Dan perempuan-perempuan “Mormon” (suatu kelompok agama di Amerika), mereka lebih mengutamakan poligami karena para isteri akan saling membantu dalam mendidik anak.
Sedangkan sistem poligami dalam Islam harus disetujui oleh dua pihak. Maka tidak seorangpun boleh memaksa seorang perempuan untuk menikah dengan laki-laki yang sudah beristeri. sedangkan isteri berhak menolak suaminya untuk menikah dengan perempuan lain.

Adapun Kitab Al-Muqaddas terkadang memerintahkan poligami, karena janda yang tidak melahirkan keturunan wajib menikah dengan saudara suaminya, walupun dia sudah menikah. (lihat bab “Kesedihan Perempuan Janda” ) dan dia (janda) tidak mempunyai hak untuk menolak. (Takwien (penciptaan) 38: 8-10). Berdasarkan pengamatan pada masyarakat Islam dapat kita lihat praktek poligami tidak begitu menyebar dengan bentuk yang besar, karena perbedaan jumlah antara laki-laki dan perempuan tidak begitu besar. Dan mungkin bisa kita katakan bahwa praktek poligami di alam Islam lebih sedikit bila dibandingkan banyaknya hubungan-hubungan yang tidak sah di Barat. Bele Graham seorang Masihi protestan yang terkenal pernah berkata:

“Sebenarnya perempuan-perempuan Masihi wajib untuk tidak melarang praktek poligami agar masyarakat terjaga. Karena Islam membolehkan poligami untuk menyelesaikan masalah-masalah kemasyarakatan dan memberikan kebebasan untuk memilih para muslim laki-laki, akan tetapi dengan syarat yang jelas dan terbatasi. Sedangkan pada masyarakat Masihi seorang laki-laki hanya boleh menikahi satu perempuan saja, akan tetapi hubungan-hubungan yang tidak sah menyebar di sana. Oleh karena itu agama Islam adalah agama yang mulia karena membolehkan bagi laki-laki menikah untuk yang kedua kalinya. Kemudian Islam juga sangat mengharamkan hubungan-hubungan apapun yang tersembunyi, agar masyarakat terjaga dari perzinahan dan kehancuran, serta menjamin kelurusan masyarakat”.

Namun dari beberapa pengamatan, kebanyakan negeri non muslim dan muslim tidak menerima solusi ini, yang diterima sekarang adalah larangan terhadap poligami. Dan pernikahan dengan perempuan lain walaupun dengan persetujuan isteri pertama dikategorikan melanggar undang-undang. Tetapi pengkhianatan isteri dan suami dengan perempuan lain tanpa sepengetahuan isteri atau dengan persetujuannya dikategorikan sebagai undang-undang!!! Apa hikmah dari kontradiksi ini? Apakah undang-undang dibuat untuk membolehkan pengkhianatan dan mengganti kepercayaan (amaanah)? Sesungguhnya ini adalah salah satu dari pertentangan-pertentangan yang mengherankan pada masyarakat kita (Orang kota) sekarang.

&

Hijab

3 Mar

Wanita Dalam Pandangan Islam
Karya: Dr. Syarief Muhammad abdul adhim;
Penerjemah: Ibrahim Qamaruddin, Lc.

Terakhir, biarkanlah kami memberikan sebagian dari titik terang terhadap apa yang dikategorikan oleh orang Barat sebagai dalil yang sangat besar, yang merupakan penindasan terhadap perempuan yaitu hijab. Apakah di sana tidak terdapat hijab pada akidah orang-orang Yahudi dan Masihi? Seorang pendeta yang bernama DR. Mienakhiem Im Braier (seorang professor dalam bidang ilmu ketauratan di Universitas Yasyifaa) dalam kitabnya “Perempuan Yahudi dalam Ilmu-ilmu Kependetaan” bahwasanya perempuan-perempuan Yahudi terbiasa keluar dengan meletakkan sesuatu yang dapat menutup kepalanya dan terkadang menutupi wajah secara keseluruhan kecuali satu matanya.

Dan didukung oleh perkataan-perkataan para pendeta yang terkenal dahulu: “Sesungguhnya gadis-gadis Israel tidak akan berjalan di suatu jalan kecuali mereka menutup kepala mereka”, “Laknat bagi suami yang membiarkan isterinya tanpa menutup kepalanya…karena perempuan yang membiarkan rambutnya terurai untuk sebagai hiasan akan memberikan kefakiran”. Dan undang-undang pendeta Yahudi mengharamkan bacaan-bacaan shalat dan doa-doa ketika terdapat perempuan yang sudah menikah yang tidak menutup kepalanya. Karena sebetulnya orang yang tidak menutup kepalanya dikategorikan seperti orang yang telanjang.

Kemudian DR. Braier menambahkan: “Sesungguhnya pada masa Attanaiem, perempuan Yahudi yang tidak menutup kepalanya dikategorikan sebagai perempuan yang tidak terhormat dan diharuskan membayar empat ratus Dirham sebagai denda”. DR. Braier telah menjelaskan bahwasanya hijab bagi perempuan Yahudi tidak selalu dikenakan untuk penghormatan, akan tetapi dikenakan untuk pembeda dan kemewahan. Hijab ini juga merupakan tanda bahwa perempuan yang mengenakannya mulia, dari keturunan yang mulia dan tidak dikuasai oleh suaminya.

Maka hijab menunjukkan bahwa betapa tingginya posisi perempuan dan kedudukannya di masyarakat. Perempuan-perempuan yang tergolong sebagai golongan rendah dalam masyarakat, mereka akan memakai hijab agar mereka terlihat sebagai perempuan-perempuan golongan atas. Karena hijab berfungsi sebagai tanda keturunan mulia maka para penzina tidak berhak untuk memakai hijab pada masyarakat Yahudi dahulu. Hanya saja para penzina tersebut mereka memakai penutup khas untuk kepalanya agar mereka terlihat sebagai wanita suci.

Perempuan-perempuan Yahudi di Eropa senantiasa memakai hijab hingga abad ke sembilan belas. Ketika kehidupan mereka bercampur dengan peradaban orang-orang sekuler dari sekitar mereka, kebanyakan dari mereka membuka hijabnya dan beranggapan bahwasanya lebih bagus mengganti hijab dengan rambut palsu untuk menutup rambut. Sekarang kebanyakan perempuan-perempuan Yahudi yang agamawi mereka tidak menutup rambut mereka kecuali dalam Sinagog (rumah ibadah orang Yahudi). Dan sebagian dari mereka masih senantiasa memakai rambut palsu.

Bagaimana dengan akidah orang-orang Masihi? Telah diketahui bahwasanya para biarawati Katolik menutup rambut mereka sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Pendeta Paul dalam Perjanjian Baru berkata tentang hijab:

“Akan tetapi aku ingin agar mereka mengetahui bahwasanya kepala setiap laki-laki adalah Al-Masiih, dan kepala perempuan adalah laki-laki. Sedangkan kepala Al-Masiih adalah Allah. Setiap laki-laki yang shalat atau peramal yang di atas kepalanya terdapat sesuatu maka dia memberikan aib pada kepalanya. Adapun setiap perempuan yang shalat atau peramal yang kepalanya tidak ditutupi oleh sesuatu, maka dia memberikan aib pada kepalanya, sebab perempuan tersebut sama halnya dengan perempuan yang tercukur rambutnya (tidak punya rambut), karena perempuan jika tidak menutup kepalanya maka potonglah rambutnya. Dan jika perempuan menjadi jelek karena digunting atau dicukur rambutnya, maka tutup kepalanya. Sedangkan laki-laki tidak pantas untuk menutup kepalanya karena hal itu adalah gambaran Allah dan kemuliaan-Nya. Adapun perempuan, dia adalah kemuliaan laki-laki, karena laki-laki bukan bersumber dari perempuan akan tetapi perempuan dari laki-laki, dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan akan tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki. Oleh karena itu, sepantasnyalah jika perempuan mempunyai penguasa di atas kepalanya dikarenakan malaikat”. (Kuruntsus 11: 3-10).

Sebenarnya penerapan Pendeta Paul terhadap hijab bersumber dari penguasaan laki-laki (yang dikategorikan sebagai gambaran Tuhan) terhadap perempuan yang diciptakan dari laki-laki dan karena untuk laki-laki. Pendeta Tartuliyan berkata dalam kitabnya yang masyhur “Hijab Gadis-gadis”: “Wajib bagi gadis-gadis untuk memakai hijab di jalan, di gereja, di antara orang asing dan di antara saudara-saudaranya” dan termasuk undang-undang gereja-gereja Katolik sekarang mengharuskan perempuan menutup kepalanya di gereja.

Wanita-wanita sebagian kelompok orang-orang Masihi seperti al-Amiesy dan al-Miynunayt senantiasa memakai hijab sekarang. Dan sebab hijab, sebagaimana yang dikatakan oleh seorang pendeta yaitu “Sesungguhnya hijab adalah suatu gambaran tentang ketaatan perempuan kepada suami dan kepada Tuhan”, dan ini yang dikatakan oleh pendeta Paul pada Perjanjian Baru.

Dalil-dalil ini menetapkan bahwasanya Islam bukanlah yang menciptakan hijab, tapi yang menguatkan terhadap pemakaiannya. Karena al-Qur`an memerintahkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan untuk menundukkan pandangan, menjaga kesucian dan memerintahkan perempuan-perempuan mukmin untuk memakai hijab sampai menutup dada mereka.

Allah Swt. berfirman: “Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya” Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudungnya ke dadanya…” (QS. An-Nuur: 30-31).

Al-Qur`an telah menjelaskan bahwasanya hijab melindungi perempuan dan menjaga kesuciannya. Akan tetapi kenapa kesucian itu sangat penting? Jawabannya sangat jelas, dalam al-Qur`an Allah Swt. berfirman: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Ahzab: 59).

Sesungguhnya kesucian itu menjaga perempuan dari segala kejahatan, karena tujuan dari hijab dalam Islam adalah penjagaan terhadap perempuan. Hijab dalam Islam -berbeda dengan akidah orang-orang Masihi- bukanlah suatu dalil penguasaan laki-laki terhadap perempuan atau ketundukan perempuan terhadapnya, dan juga -berbeda dengan akidah orang-orang Yahudi- bukanlah sebagai dalil untuk tergolong pada level tertentu. Akan tetapi, dia adalah dalil kesucian dan kemuliaan untuk menjaga setiap perempuan-perempuan muslimah, karena al-Qur`an sangat memperhatikan terhadap perlindungan dan penjagaan perempuan, juga termasuk kepribadiannya. Dan barangsiapa yang mencoba untuk mencemari kepribadian perempuan yang mulia maka hukumannya sangat keras:

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-selamanya. Dan mereka itulah orang-orang fasik”. (QS. An-Nuur: 4).

Kita akan bandingkan hukuman keras ini yang terdapat dalam al-Qur`an dengan hukuman ringan yang terdapat dalam Kitab al-Muqaddas. “Jika terdapat gadis perawan yang belum dipinang lalu seorang laki-laki menangkapnya dan menidurinya lalu keduanya ketahuan. Maka laki-laki itu memberikan kepada ayah perempuan lima puluh Syekiel dari perak dan perempuan tersebut menjadi isterinya, karena dia telah membuat perempuan tersebut terhina. Dan dia tidak boleh mentalaknya sepanjang hidupnya”. (Tatsniyah 22: 28-30).

Siapakah yang sempurna hukumannya di sini? Laki-laki yang akan membayar denda karena memperkosa gadis? Atau gadis tersebut yang harus dipaksa agar menikah dengan laki-laki yang memperkosanya dan hidup bersama selama-lamanya? Dan manakah yang akan melindungi perempuan, hukuman keras al-Qur`an atau hukuman Kitab al-Muqaddas yang ringan? Sebagian orang –khususnya di Barat- mengejek jika Iffah (kesucian) dijadikan sebagai penjagaan terhadap perempuan, dan mereka mengatakan bahwasanya perlindungan yang ideal akan tercapai dengan cara pengajaran, berkepribadian orang kota, dan berpendidikan. Bagus! Akan tetapi hal ini tidak cukup, karena seandainya “berkepribadian orang kota” cukup untuk menjaga perempuan maka kenapa perempuan di Amerika Utara tidak mampu untuk keluar sendirian pada malam hari atau berjalan di tempat-tempat yang sunyi?

Dan seandainya pengajaran adalah solusi, maka kenapa di Universitas yang besar seperti Universitas Queen memberikan pelayanan khusus agar para mahasisiwi dapat sampai ke rumahnya? Dan seandainya pendidikan adalah solusi, maka kenapa setiap pelaku tindakan kriminal pemerkosaan yang setiap hari kita dengar di berita-berita terjadi di tempat-tempat kerja? Di antara pelaku tindakan kriminal pemerkosaan pada beberapa tahun yang lalu: tentara-tentara (angkatan laut), para manajer, direktur, dosen-dosen Universitas, anggota senat, para hakim di pengadilan tinggi dan presiden Amerika Serikat (yang telah lalu)! Maka saya hampir tidak percaya ketika saya membaca perhitungan berikut yang disebarkan oleh ketua kamar perempuan-perempuan di Universitas Queen:

• Di Kanada terjadi penganiayaan terhadap perempuan setiap 6 detik.
• Dari setiap 3 perempuan di Kanada berpeluang untuk dianiaya.
• Dari setiap 4 perempuan berkemungkinan untuk diperkosa atau percobaan pemerkosaan.
• Dari 1 sampai 8 perempuan di Universitas berpeluang untuk teraniaya.
• Penelitian membuktikan bahwa 60 % dari pelajar Universitas di Kanada akan melakukan tindakan-tindakan kriminal seperti ini, dan jika benar mereka melakukannya mereka tidak di hukum.

Terdapat sesuatu yang salah dalam masyarakat kita sekarang, maka wajib dilakukan perubahan dasar yang fundamental pada masyarakat. Kesucian dan kehormatan pada perempuan adalah suatu hal yang sangat dharury (penting) pada pakaian atau model, sedangkan percakapan dan akhlak dituntut dari setiap laki-laki dan perempuan. Jika tidak, maka perhitungan tersebut akan lebih buruk dari itu. Dan para perempuanlah yang akan membayar mahal harganya. Dan kita juga akan ikut bersedih sebagaimana yang dikatakan oleh Khalil Gibran: “Barangsiapa yang tertimpa musibah, tidak sama dengan orang yang memprediksikannya”.

Dan apa yang sedang dilakukan Prancis sekarang dengan mengusir para siswi muslimah yang memakai hijab dari sekolah, maka bahayanya akan kembali kepada Prancis sendiri. Termasuk cemoohan pada masa ini, jika hijab dipakai oleh para biarawati Katolik merupakan suatu tanda penguasaan laki-laki yang dikategorikan “pensucian”, adapun jika dipakai oleh wanita-wanita muslimah untuk menjaga mereka dari setiap kejahatan dikategorikan “penindasan”.

&

Kesedihan Seorang Janda

3 Mar

Wanita dalam Pandangan Islam
Karya: Dr. Syarief Muhammad abdul adhim;
Penerjemah: Ibrahim Qamaruddin, Lc.

Disebabkan Perjanjian Lama mengharamkan perempuan untuk mendapatkan haknya dalam warisan, maka seorang janda akan menjadi orang yang paling lemah dan fakir dalam masyarakat Yahudi. Meskipun kerabatnya telah mewarisi semua harta suaminya yang telah meninggal, mereka bertanggung jawab untuk memberikan nafkah terhadapnya (janda tersebut), akan tetapi dia tidak mempunyai jaminan apapun yang mewajibkan mereka (kerabat tersebut) untuk melakukan hal itu, dan hidup di bawah belas kasih mereka. Oleh karena itu, seorang janda termasuk orang yang paling rendah derajatnya dalam masyarakat Israel. (Isy`iyaa` 54 :4).

Akan tetapi kesedihan seorang janda tidak cukup sampai disini, bahkan akan sampai pada tingkatan yang dijelaskan dalam Kitab al-Muqaddas (Takwien (penciptaan) 38) bahwasanya seorang perempuan janda yang tidak mempunyai keturunan harus menikah dengan saudara suaminya walaupun saudara suaminya itu telah menikah, agar dia dapat memberikan kepada saudaranya anak-anak (keturunan) dan supaya dia dapat menjamin bahwasanya nama saudaranya akan tetap hidup (dikenang) dan tidak akan berakhir dengan kematiannya. “Yahuza berkata kepada Onan:

“Masuklah kepada isteri saudaramu dan menikahlah dengannya dan buatlah keturunan untuk saudaramu”.” (Takwien (penciptaan) 38: 8).

Dan perempuan tidak berhak untuk menolak pernikahan ini. Oleh karena itu, dia diperlakukan seperti bagian dari harta peninggalan suaminya yang meninggal dan satu-satunya tugas dia ialah menjaga keturunan suaminya. Hukum ini masih senantiasa dipraktekkan di Israel sampai sekarang.

Janda adalah warisan untuk saudara suaminya. Dan jika saudara suaminya itu masih terlalu kecil untuk menikah, maka dia wajib menunggunya sampai ia pada umur yang cocok untuk menikah. Akan tetapi jika saudara suaminya menolak untuk menikah dengannya, maka dia terbebas dan dia boleh menikah dengan siapapun yang dia kehendaki. Oleh karena itu sangat jelas bentuk pemerasan saudara suami kepada seorang janda agar dia dapat memperoleh kebebasannya. Orang-orang Arab sebelum Islam mereka mempunyai adat yang mirip dengan adat-adat ini. Oleh karena janda merupakan bagian dari harta peninggalan suami yang akan diwarisi oleh keluarga laki-laki, maka menjadi suatu adat bahwa tidak akan menikah anak laki-laki yang sulung dari anak-anak suami yang meninggal dengan isteri yang lain. Kemudian al-Qur`an datang mengharamkan semua adat-adat yang hina ini:

“Dan jangan kamu nikahi wanita-wanita yang telah dinikahi oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau, sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh)”. (QS. An-Nisaa: 22).

Oleh karena itu janda dan perempuan yang tertalak sangat hina sekali dalam akidah orang-orang Yahudi dan tidak boleh bagi Santo (orang suci/pendeta) untuk menikahi janda dan wanita yang tertalak atau wanita penzina.

“Oleh karena ini, (santo) akan menikahi wanita yang perawan. Adapun janda, wanita tertalak, wanita yang kotor dan wanita penzina mereka tidak akan diambil sebagai isteri tapi yang akan diambil ialah para perawan dari perempuan kaumnya. Dan dia tidak akan mengotori tanamannya di antara rakyatnya karena saya adalah Tuhan yang suci”. (Lawien 21: 13-15).

Terdapat di Israel sekarang orang yang keturunannya rentetan pendeta-pendeta yang sudah senior sejak ayyamul ma`bad (yang telah lampau), dan tidak boleh bagi mereka untuk menikahi janda, wanita yang tertalak dan wanita penzina.

Pada peraturan-peraturan Yahudi, perempuan Yahudi yang janda yang telah menikah tiga kali dan ketiga suami tersebut meninggal mereka dikategorikan sebagai “pembunuh” dan dia tidak berhak menikah lagi untuk yang kesekian kalinya.

Adapun dalam al-Qur`an, ini semua tidak akan ditemukan. Perempuan janda atau yang tertalak berhak untuk menikah lagi sebagaimana yang ia kehendaki. Dan tidak terdapat celaan apapun terhadap janda atau wanita yang tertalak dalam al-Qur`an:

“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir `iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma`ruf (baik), atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma`ruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemadaratan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan. Dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu al-Kitab dan al-Hikmah. Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-Baqarah: 231).

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber`iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis `iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat”. (QS. Al-Baqarah: 234).

“Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antaramu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, yaitu diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma`ruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Baqarah: 240).

&

Warisan Perempuan ?

3 Mar

Wanita Dalam Pandangan Islam
Karya: Dr. Syarief Muhammad abdul adhim;
Penerjemah: Ibrahim Qamaruddin, Lc.

Al-Qur`an dan Kitab al-Muqaddas berbeda pendapat mengenai hukum-hukum khusus yang berkaitan dengan warisan perempuan dari salah seorang kerabatnya yang meninggal. Pendeta Ibstain telah menjelaskan dengan ringkas mengenai hukum-hukum warisan perempuan:

“Sejak Kitab al-Muqaddas (kitab suci) turun, perempuan (isteri atau anak perempuan) tidak mempunyai hak dalam warisan, karena perempuan dikategorikan bagian dari warisan ini dan dia tidak berhak untuk mewarisi karena dia sama dengan budak. Di mana undang-undang al-Mausui (yang dinisbatkan kepada Nabi Musa as.) dia membolehkan bagi anak-anak perempuan untuk mewarisi jika di sana tidak terdapat anak-anak yang lain, akan tetapi isteri tetap tidak mendapatkan warisan pada keadaan seperti ini”. (Epstein, hal.175)

Kenapa perempuan dikategorikan bagian dari harta warisan? Pendeta Ibstain menjawabnya: “Karena perempuan milik bapaknya sebelum dia menikah dan milik suaminya setelah dia menikah”. Hukum-hukum warisan dijelaskan dalam Kitab al-Muqaddas (No. 27: 1-11).

Perempuan tidak mempunyai hak sedikitpun pada harta peninggalan suaminya. Akan tetapi suami adalah pewaris pertama untuknya setelah dia (isteri) meninggal, hingga sebelum anak-anak laki-lakinya. Dan anak perempuan boleh saja mewarisi jika di sana tidak terdapat anak laki-laki. Adapun ibu tidak mempunyai hak sedikitpun dalam hal warisan.

Jika terdapat anak laki-laki, maka seorang janda dan anak perempuan berlindung di bawah kasih sayang para anak laki-laki. Oleh karena itu, janda dan anak perempuannya adalah orang yang paling fakir pada masyarakat Yahudi. Dan akidah orang-orang Masihi juga mengikuti hukum-hukum seperti itu pada beberapa tahun yang lalu. Maka undang-undang sipil dan undang-undang gereja mengharamkan anak-anak perempuan untuk ikut bergabung dengan anak-anak laki-laki pada harta peninggalan bapak mereka. Sebagaimana isteri tidak mempunyai hak apapun dalam warisan. Dan senantiasa undang-undang ini dan hukum-hukum yang zalim ini berlangsung hingga akhir abad yang lalu. (Gage, op. cit., p. 142.)

Orang-orang Arab sebelum Islam mereka mengharamkan perempuan mendapatkan warisan. Kemudian al-Qur`an datang mengharamkan semua adat-adat yang zalim ini dan memberikan hak perempuan dalam warisan:

“Untuk anak laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan untuk anak-anak perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan”. (QS. An-Nisaa: 7).

Maka ibu, isteri, anak-anak perempuan dan saudari-saudari dalam Islam mereka semua mendapatkan haknya dalam hal warisan sebelum hal ini diketahui oleh orang-orang Eropa beratus-ratus tahun yang lalu. Dan pembagian warisan dijelaskan dalam al-Qur`an dengan secara terperinci (Surat An-Nisaa ayat 7, 11, 12, 176). Yaitu bahwasanya bagian seorang perempuan dalam warisan setengah dari bagian laki-laki selain pada sebagian keadaan yang mengharuskan bagian ibu harus sama dengan bagian bapak. Jika hukum ini dibaca dengan memisahkan kewajiban laki-laki dan perempuan akan ditemui bahwa hukum ini zalim!

Akan tetapi kita akan memahami hikmah dari hukum ini dengan mengetahui terlebih dahulu bahwa seorang suami harus bertanggung jawab mengenai harta (lihat bab tanggungan harta terhadap isteri?). Maka, bagi pengantin laki-laki harus memberikan hadiah terhadap pengantin perempuan. Dan hadiah ini senantiasa milik isteri walaupun dia sudah tertalak. Dan tidak ada kewajiban bagi pengantin perempuan untuk memberikan hadiah terhadap pengantin laki-laki. Sebagaimana dalam Islam, suami wajib membelanjai isterinya dan anak-anaknya. Dan isteri tidak berkewajiban untuk membantunya dalam hal ini kecuali dia senang untuk melakukan hal tersebut.

Maka setiap barang-barang dan hartanya adalah miliknya. Karena sesungguhnya Islam mensucikan kehidupan suami-isteri dan memberikan motivasi kepada para pemuda untuk menikah dan membenci talak dan Islam tidak mendukung hidup membujang. Oleh karena itu kehidupan suami-isteri suatu yang sangat urgen dalam masyarakat Islam, sedangkan kehidupan membujang sangat jarang. Oleh karena beban laki-laki (suami) muslim terhadap materi sangat banyak dibandingkan dengan perempuan (isteri) muslimah, maka datanglah hukum-hukum tentang kewarisan yang adil untuk mencegah perselisihan-perselisihan atau pertentangan-pertentangan. Seorang wanita muslimah bekebangsaan inggris berkata:

“Islam tidak hanya berlaku adil terhadap perempuan tapi dia juga memuliakannya”. (B. Aisha Lemu and Fatima Heeren, Woman in Islam (London: Islamic Foundation, 1978) p.23. )

&

Penghargaan Kaum Wanita dalam Al-Qur’an

3 Mar

Wanita Dalam Pandangan Islam
Karya: Dr. Syarief Muhammad abdul adhim;
Penerjemah: Ibrahim Qamaruddin, Lc.

Terdapat banyak dalam Perjanjian Lama dari Kitab Al-Muqaddas hal-hal yang mewasiatkan agar berbuat baik (berbakti) pada kedua orang tua dan berhati-hati dari menyakiti keduanya.

“Setiap orang yang mencaci bapak atau ibunya maka akan dibunuh”. (Lawien 20: 9),
“Anak yang bijaksana (pintar) akan menggembirakan bapaknya dan anak yang bodoh akan dibenci ibunya”. (Amtsaal 15: 1).

Dengan hanya memuliakan seorang bapak, disebutkan di beberapa bagian:

“Anak yang bijaksana (pandai) menerima pendidikan ayahnya dan yang mengejek dia tidak mendengarkan teguran”. (Amtsaal 13: 1).

Demikian juga tidak pernah terdapat penguat terhadap kebaikan-kebaikan ibu sebagai penghargaan untuknya atas jerih payah, kesusahan dalam mengandung, melahirkan dan menyusui. Dan ibu tidak mewarisi anak-anaknya di mana bapak dapat mewarisi mereka. (Epstein, op. cit., p. 122.)

Adapun Perjanjian Baru, dia tidak memuliakan ibu secara mutlak bahkan dia mengkategorikan berbakti pada ibu adalah rintangan dalam perjalanan menuju Tuhan. Berdasarkan Perjanjian Baru, orang Masihi tidak dianggap mengikuti al-Masiih (Isa as.) kecuali jika dia membenci ibunya. Dan terdapat perkataan yang dinisbatkan kepada al-Masiih:

“Jika seseorang datang kepada saya dan dia tidak membenci bapaknya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya dan saudari-saudarinya hingga dirinya juga, maka dia tidak mampu untuk menjadi muridku”. (Luqas 14: 26).

Ditemukan dalam Perjanjian Baru bagian yang menjelaskan bahwa al-Masiih (Isa as.) buruk perlakuannya terhadap ibunya. Sebagai contoh, ketika ibunya mencari dia, sedangkan dia tengah mengajar orang banyak maka dia tidak memperhatikan untuk pergi kepada ibunya.

“Maka datanglah pada waktu itu saudara-saudara dan ibunya dan mereka berdiri di luar dan mereka mengutus seseorang untuk memanggil al-Masiih. sekumpulan orang yang duduk di sekitarnya mereka berkata: “Itu ibumu dan saudara-saudaramu di luar mencarimu”. Lalu dia menjawab perkataan mereka dengan suatu ucapan: “Siapa ibuku dan saudara-saudaraku?” Kemudian dia memperhatikan sekelilingnya dan berkata: “Ini ibuku dan saudara-saudaraku”. Karena siapa yang berbuat sesuai kehendak Allah adalah saudaraku, saudariku, dan ibuku”. (Markus 3: 31-35).

Boleh saja seseorang menjawab tentang hal ini dengan mengatakan bahwasanya pelajaran mengenai agama lebih penting dari keluarga. Akan tetapi, bisa saja al-Masiih menyampaikan pelajaran tanpa menyia-nyiakan ibunya seperti ini. Dan terdapat bagian yang lain yang mengatakan bahwasanya Al-Masiih tidak sepakat dengan apa yang dikatakan oleh seorang perempuan dari pengikutnya bahwasanya ibunya mempunyai kemuliaan yang besar karena dia telah melahirkannya dan mendidiknya.

“Dan ketika dia (Al-Masiih) mengatakan hal ini, seorang perempuan dari perkumpulan mengangkat suaranya dan berkata kepada Al-Masiih: “Berbahagialah perut yang telah mengandungmu dan kedua payudara yang engkau telah menyusu pada keduanya”. Maka al-Masiih berkata: “Bahkan senanglah orang-orang yang mendengarkan kalam Allah dan mereka menghafalnya”. (Lukas 11: 27-28).

Jika seorang perempuan yang mulia seperti Siti Maryam (yang perawan) diperlakukan dengan perlakuan seperti ini oleh anaknya yang mulia seperti al-Masiih, maka bagaimana tanggapanmu terhadap ibu yang orang biasa dan anak orang biasa? Adapun dalam Islam maka kemuliaan, penghormatan dan penghargaan terhadap ibu tiada bandingnya. Karena al-Qur`an mewasiatkan untuk berbuat baik (berbakti) kepada kedua orangtua setelah ibadah kepada Allah Swt.:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam memeliharamu. Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya dengan perkataan “Ah” dan janganlah kamu membentak keduanya dan ucapkanlah pada keduanya perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil””. (QS. Al-Israa`: 23-24).

Dan beberapa juz al-Qur`an telah menguatkan tentang pentingnya posisi (periode) ibu yang mulia: “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orangtua ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu”. (QS. Luqman: 14).

Kemudian Rasulullah Muhammad Saw. telah menggambarkan posisi ibu dalam Islam dengan keunggulan, telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Saw. lalu berkata:

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku bergaul dengannya dengan baik?” Rasulullah menjawab: “Ibumu…!”, lalu laki-laki itu berkata: “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab: “Kemudian ibumu…”, kemudian ia bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab: “Kemudian ibumu…”, lalu ia bertanya lagi: “Kemudian siapa lagi?” Rasulullah Saw. menjawab: “Kemudian bapakmu”. (HR Bukhari dan Muslim).

Setiap orang muslim sangat memperhatikan untuk senantiasa bergaul dengan baik kepada ibunya. Dan orang barat selalu heran (ta`jub) terhadap hubungan harmonis yang terjalin antara ibu yang muslimah dengan anak-anaknya dan penghormatan anak-anaknya yang tinggi terhadapnya. (Armstrong, p. 8)

&