Hak Muslim untuk Tidak Disebarkan Rahasianya

9 Mar

Hak Muslim untuk Tidak Disebarkan Rahasianya
Ukhuwah Islamiyah; Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Salah satu hukum dan etika Islam adalah menutupi aib seorang muslim. Karenanya menjaga rahasia dan tidak menyebarluaskannya merupakan sebagian dari langkah menutup aib yang diperintahkan kepada kita oleh ajaran Islam.

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa menutup aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat.”

Thabrani juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Sa’id al-Khudri ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah seseorang melihat aib pada saudaranya lalu ia menutupinnya kecuali bahwa ia akan masuk surga.”

Hakim meriwayatkan dengan sanadnya dari Uqbah bin Amir ra. dari Nabi saw., “Barangsiapa melihat aib lalu menutupinya, ia seperti orang yang menghidupkan ma’udah (wanita yang dikubur hidup-hidup) dari kuburnya.”

Abu Dawud meriwayatkan dengan sanadnya dari Jabir ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seseorang berbicara sesuatu lalu menoleh, pembicaraan itu berarti amanah.”

Abu Dawud meriwayatkan dengan sanadnya dari Jabir ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Majelis-majelis itu mengandung amanat, kecuali tiga: majelis yang disana tertumpah darah yang haram, majelis yang disana dihalalkan kemaluan yang haram, dan mejelis yang disana dihalalkan harta dengan cara yang tidak halal.”

Abu Bakar bin Bilal meriwayatkan dalam Makarim al-Akhlak dengan sanadnya dari Ibnu Mas’ud ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Tidaklah dua orang duduk bercakap-cakap kecuali dengan amanah. Tidaklah dihalalkan bagi salah satu dari keduanya untuk menyebarkan rahasia shahabtnya yang tidak diinginkannya.”

Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Umar ra. bahwa Umar ra [ketika Hafshah, -anaknya- menjanda] ia berkata, “Saya menemui Utsman ra. lalu menawarkan Hafshah kepadanya. Saya berkata, ‘Jika engkau mau, kunikahkan engkau dengan Hafshah binti Umar.’ ‘Saya akan pertimbangkan.’ Jawab Utsman. Saya pun menunggu beberapa malam, hingga ia menemuiku. Ia berkata, ‘Aku telah berfikir untuk tidak menikah pada saat ini.’
Maka saya menemui Abu Bakar ash-Shiddiq ra. saya berkata, ‘Jika engkau mau, saya akan menikahkanmu dengan Hafshah binti Umar.’ Abu Bakar diam dan tidak menjawab sepatah katapun kepadaku. Saya sungguh lebih merasa kesal kepadanya daripada kepada Utsman. Saya diam beberapa malam sampai akhirnya Nabi saw. melamarnya. Maka saya nikahkan ia kepada beliau. Abu Bakar menemuiku lalu berkata, ‘Bukankah engkau merasa kesal kepadaku ketika engkau menawarkan Hafshah, tetapi aku tidak menjawab sesuatu pun kepadamu?’ ‘Ya,’ jawabku. ‘Tidak ada yang mencegahku untuk memberikan jawaban kepadamu ketika engkau menawariku, kecuali karena saya telah mengetahui bahwa Nabi saw. telah menyebut namanya. Tidaklah selayaknya saya menyebarkan rahasia Rasulullah saw. Sekiranya Nabi saw. meninggalkannya, tentulah aku menerimanya.’”

Abbas bin Abdul Muthalib berkata kepada putranya, Abdullah ra. “Saya melihat laki-laki ini [maksudnya Umar bin Khaththab] lebih mengutamakanmu daripada orang-orang yang tua. Maka jagalah lima pesanku: jangan kau kabarkan rahasianya, jangan menggunjing seseorang di hadapannya, jangan berdusta kepadanya, jangan melanggar perintahnya, dan janganlah ia melihatmu dalam keadaan berkhianat.”

Asy-Sya’bi berkomentar, “Setiap kata dari kelima wasiat itu, lebih baik daripada seribu kata.” (al-Qurthubi dalam tafsirnya, II/158)

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: