Memenuhi Kebutuhan Saudara Seiman

9 Mar

Memenuhi Kebutuhan Saudara Seiman
Ukhuwah Islamiyah; Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Ini merupakan salah satu bentuk perbuatan baik seorang muslim terhadap saudaranya seiman. Seorang muslim tidak akan mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan saudaranya kecuali apabila ia mengetahui keadaannya. Dalam memenuhi kebutuhan saudaranya ini hendaknya dilakukan tanpa harus diminta oleh saudaranya, apalagi sampai ia mengharap atau bahkan merengek-rengek, karena itu memang merupakan kewajiban yang harus dipenuhi dalam berukhuwah, sesuai dengan ajaran Islam.

At-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “…Dan Allah menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.”

At-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Umar ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik orang yang bersahabat adalah orang yang paling baik kepada sahabatnya, dan sebaik-baik orang dalam bertetangga adalah orang yang paling baik terhadap tetangganya.”

Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Umar ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “….Dan barangsiapa tengah memenuhi hajat saudaranya, niscaya Allah memenuhi hajatnya.”

Hanya saja, untuk memenuhi hajat saudaranya seiman, ada beberapa syarat yang harus dipenuhinya, antara lain:

1. Hendaknya kebutuhan itu merupakan hal mubah yang dihalalkan oleh Allah
2. Hendaknya yang memenuhi kebutuhan itu adalah orang yang mampu melaksanakannya, karena Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kadar kemampuannya. Ia juga berkewajiban untuk memintakan pertolongan bagi saudaranya itu kepada orang yang mampu memenuhi kebutuhannya, jika dirinya tidak mampu.
3. Hendaknya ia memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini dengan iringan wajah yang berseri-seri.
4. Jangan menunggu sampai saudaranya itu meminta untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

Selain itu ada berbagai syarat lain yang berupa etika-etika kemanusiaan yang luhur.

Kaidah umum dalam memenuhi kebutuhan sesamanya adalah: “Barangsiapa mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang mubah itu, ukhuwah dalam Islam telah mewajibkannya untuk memenuhinya. Apabila tidak mampu, ia berkewajiban untuk memintakan pertolongan pihak lain untuk memenuhinya; baik permintaan tolong itu ditujukan kepada penguasa, pemimpin, maupun siapa saja, baik kebutuhan tersebut berupa pencegahan terhadap kedhaliman, pengampunan hukuman, pengembalian hak kepada pemiliknya atau kepada orang yang membutuhkannya, atau lainnya.”

Adapun memintakan pertolongan agar ia dibebaskan dari sanksi hukuman Allah, itu haram hukumnya, sebagaimana diharamkannya permintaan tolong untuk membantu tegaknya kebathilan, membatalkan kebenaran, atau yang semisal dengan itu.

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Musa al-Asy’ari ra. ia berkata bahwa apabila Nabi saw. didatangi oleh orang yang meminta suatu kebutuhan, beliau menghadap kepada orang-orang yang duduk di hadapannya lalu bersabda, “Tolonglah, niscaya kalian mendapatkan pahala, agar Allah memenuhi melalui lisan Nabi-Nya, apa yang didukai-Nya.”

Memenuhi kebutuhan kaum muslimin merupakan sedekah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah swt. bagi siapa saja yang tidak memiliki kesempatan untuk bersedekah dengan harta.

Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Burdah, dari bapaknya, dari kakeknya, dari Nabi saw. beliau bersabda, “Setiap Muslim harus bersedekah.” Para shahabat bertanya, “Wahai Nabi Allah, bagaimana dengan orang yang tidak memiliki harta?” Beliau bersabda, “Bekerjalah dengan tangannya, sehingga ia bermanfaat bagi dirinya lalu bersedekah.” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana kalau ia tidak punya?” Beliau bersabda, “Membantu orang yang membutuhkan lagi meminta pertolongan.” Mereka bertanya, “Kalau tidak bisa?” Beliau bersabda, “Hendaklah ia melakukan kebajikan dan menahan diri dari kejahatan, karena keduanya merupakan sedekah baginya.”

Derajat minimal dalam memenuhi kebutuhan sauaranya adalah memenuhi kebutuhannya ketika ia memintanya. Adapun etika dalam hal ini, hendaklah ia melaksanakannya dengan wajah yang berseri-seri dan menunjukkan rasa gembira. Sebagian salafush shalih berkata, “Apabila engkau meminta kepada saudaramu untuk memenuhi suatu kebutuhan lalu ia menolak, maka ingatkanlah ia untuk kedua kalinya, karena barangkali ia telah lupa. Akan tetapi jika ia tetap menolak, maka bertakbirlah untuknya dan bacalah ayat di surah al-An’am: 36 yang artinya, ‘Orang-orang yang mati [hatinya] akan dibangkitkan oleh Allah.’”

Suatu ketika Ibnu Syubramah memenuhi kebutuhan besar salah seorang saudaranya. Lalu orang itu mendatanginya dengan membawa hadiah. Ibnu Subramah bertanya, “Apakah ini?” Orang itu menjawab, “Karena engkau telah mengulurkan bantuan kepadaku.” Ia berkata, “Ambillah hartamu itu, semoga Allah memberikan ampunan kepadamu. Jika engkau meminta kepada saudaramu karena suatu kebutuhan, namun ia tidak bersungguh-sungguh untuk memenuhinya, maka berwudlulah untuk shalat, lalu bertakbirlah empat kali untuknya, dan anggaplah ia sebagai orang yang telah mati.”

Imam al-Ghazali ra. berkata dalam bukunya Ihya’ Ulumuddin, “Di antara kaum salaf ada yang senantiasa membantu kebutuhan keluarga dan anak-anak saudaranya, meskipun saudaranya itu telah meninggal 40 tahun yang lalu. Ia memenuhi kebutuhan mereka setiap hari dengan memberikan kepada mereka sebagian dari hartanya. Mereka seperti tidak merasakan lagi kehilangan bapak mereka selain wujud fisiknya belaka. Bahkan mereka melihat pada diri orang ini sesuatu yang tidak dilihat pada bapak mereka.”

Ada pula salah seorang dari mereka yang bolak-balik ke pintu rumah saudaranya dan bertanya, “Apakah kalian mempunyai minyak? Apakah kalian mempunyai garam? Apakah kalian mempunyai kebutuhan hari ini?” ternyata ia memenuhi kebutuhan saudaranya itu tanpa sepengetahuannya. Dengan demikian, tampaklah kasih sayang dan ukhuwah mereka. Apabila kasih sayang tidak membuahkan perasaan kasihan kepada saudaranya sebagaimana mengasihi diri sendiri, tidaklah ada lagi kebaikan padanya.

Ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu ‘Utbah al-Khaulani ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ketahuilah bahwa Allah memiliki bejana-bejana di buminya, yaitu hati. Bejana yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling jernih, kuat dan lembut.”

Artinya, paling jernih atau bersih dari dosa, paling kuat dalam beragama dan paling lembut terhadap saudara-saudaranya.

Hasan al-Bashri berkata, “Saudara-saudara kami lebih kami cintai daripada istri dan anak-anak kami, karena istri dan anak-anak kami menginginkan kepada dunia, sedangkan saudara-saudara kami menginginkan kepada akhirat.”

Kita bisa mengatakan secara ringkas mengenai hak khusus untuk memenuhi kebutuhan ini, yaitu hendaklah seseorang memenuhi kebutuhan sauaranya sebagaimana ia memenuhi kebutuhannya sendiri. Hendaklah ia senantiasa memperhatikan saudaranya, apa saja dan kapan dibutuhkan. Jangan sampai ia melupakan sama sekali keadaannya atau menunggu sampai ia memintanya atau mengemis. Dalam memenuhi kebutuhan saudaranya itu, hendaklah seseorang tidak merasa bahwa dengan perbuatan itu ia berhak untuk mendapatkan ia berhak untuk mendapatkan balasan berupa apapun, apalagi sampai merasa berjasa.

Salah satu etika dalam memenuhi kebutuhan saudara seiman adalah, hendaklah seseorang mengutamakan kebutuhan saudaranya itu daripada kebutuhan sendiri. Inilah yang dinamakan itsar [mengutamakan orang lain], sebagaimana yang dipuji oleh Allah dalam al-Qur’anul Karim mengenai orang-orang Anshar yang menyambut kedatangan orang-orang Muhajirin dengan firman-Nya yang artinya:

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9)

Orang-orang Anshar telah bersikap itsar kepada saudara-saudara mereka dari kalangan Muhajirin. Yang dimaksud itsar adalah sikap mengutamakan orang lain daripada diri sendiri dalam memenuhi kepentingan duniawi demi meraih kepentingan ukhrawi. Pada umumnya, sifat ini tumbuh dari keyakinan yang kuat, kecintaan yang mendalam, dan kesabaran dalam menghadapi penderitaan.

Ibnul Mubarak menyebutkan dengan sanadnya bahwa suatu ketika Umar bin Khaththab ra. mengambil uang sejumlah 400 dinar lalu memasukkannya ke dalam kantong. Ia berkata kepada pelayannya, “Pergilah dan berikan uang ini kepada Abu Ubaidah bin al-Jarrah.”
Pelayan itu pun pergi menemui Abu Ubaidah dan berkata, “Amirul Mukminin berpesan kepadamu, gunakanlah uang ini untuk memenuhi sebagian keperluanmu.”
“Semoga Allah menjalinkan hubungannya dan merahmatinya.” Kata Ubaidah.
Pelayan itu tinggal beberapa saat untuk mengetahui apa yang akan diperbuat oleh Abu Ubaidah terhadap uang itu.
“Wahai Jariyah [budak wanita], kemarilah. Berikanlah tujuh dinar ini kepada Fulan dan yang lima dinar ini kepada Fulan… [sampai seluruhnya habis].” Kata Ubaidah tak lama kemudian.

Kembalilah pelayan itu kepada Umar dan memberitahukan apa yang terjadi. Dilihatnya Umar telah mempersiapkan hadiah yang sama untuk diberikan kepada Mu’adz bin Jabal. Pelayan itu berkata kepada Mu’adz, “Amirul mukminin berpesan kepadamu agar menggunakan uang ini untuk memenuhi sebagian keperluanmu.”
Muncullah istri Mu’adz dan berkata, “Demi Allah, kami semua ini miskin, maka berilah kami.”
Dalam kantong itu tinggal terisi dua dinar, maka diberikannyalah kepada sang istri. Pulanglah pelayan itu kepada Umar dan memberitahukan hal itu kepadanya. Umar pun bergembira dan berkata, “Mereka semua adalah saudara satu sama lain.” (al-Quthubi dalam tafsirnya, VIII/6506-6507)

Hudzaifah al-Adawi berkata, “Pada hari perang Yarmuk, saya berkeinginan untuk mencari anak pamanku sambil membawa sedikit air. Saya berfikir, ‘Kalau masih hidup, ia akan kuberi minum.’ Akhirnya saya berhasil menemukannya dalam keadaan terluka parah. ‘Minumlah ini,’ kataku. Ia mengisyaratkan, ‘Ya,’ dengan anggukan kepala. ‘Aah, aah!’ Sepupuku itu memberikan isyarat agar mendatangi suara itu. Ternyata ia adalah Hisyam bin al-Ash. Saya berkata kepadanya, ‘Minumlah ini!’ ia memberi isyarat ‘ya’. Tiba-tiba terdengar yang lain mengaduh, ‘Aah, aah!’ Hisyam pun memberi isyarat kepadaku agar mencari suara itu. Saya menemukannya, ternyata ia telah meninggal dunia. Saya segera kembali kepada Hisyam, ternyata ia pun telah meninggal, lalu saya kembali kepada sepupuku, ternyata ia juga telah meninggal dunia.” (al-Quthubi dalam tafsirnya, VIII/6506-6507)

Mengutamakan orang lain dalam keadaan susah [membutuhkan] adalah peringkat tertinggi dari sifat itsar.

Kata “syuhh” dan “bukhl” sama artinya; yakni kikir. Namun Ibnu Mar’ud memaknai kata bukhl sebagai sikap enggan memberikan harta, sedangkan “syuhh” adalah memakan harta saudaranya secara dhalim.

Ibnu Jubair mengartikan “syuhh” dengan menolak mengeluarkan zakat dan menyimpan harta yang haram.

Al-Laits berkata bahwa “syuhh” berarti meninggalkan kewajiban dan melanggar hal-hal yang diharamkan.

Ibnu Abbas ra. berkata bahwa barangsiapa mengikuti hawa nafsunya dan tidak mau beriman, ia adalah “syahih” [orang yang memiliki sifat “syuhh”]

Anas ra. berkata bahwa Nabi saw. bersabda, “Akan berlepas dari sifat syuhh orang yang menunaikan zakat, menjamu tamu, dan memberi bantuan ketika terjadi musibah.”

Abu Hayyaj al-Asadi berkata, “Saya pernah melihat seseorang bertawaf seraya berdoa, ‘Ya Allah, jauhkanlah dariku dari sifat syuhh.” Ia tidak berdoa dengan selain itu. Karena penasaran, saya bertanya kepadanya tentang itu. Ia menjawab, “Jika saya terjaga dari sifat syuhh, niscaya saya tidak mencuri, tidak berzina, dan sebagainya.” Ternyata orang itu adalah Abdurrahman bin Auf ra.” (al-Quthubi dalam tafsirnya, VIII/6508)

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Jabir bin Abdullah ra. Rasulullah saw. bersabda, “Takutlah kalian kepada kedhaliman, karena kedhaliman itu kegelapan pada hari kiamat. Takutlah kalian kepada sifat syuhh, karena sifat ini telah menghancurkan orang sebelum kalian, menjadikan mereka saling menumpahkan darah sesamanya, dan menghalalkan hal-hal yang diharamkan atas mereka.”

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: