Tidak Menyebut Aib Saudaranya Seiman di Dalam Hati (Berprasangka Buruk)

9 Mar

Tidak Menyebut Aib Saudaranya Seiman di Dalam Hati (Berprasangka Buruk)
Ukhuwah Islamiyah; Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Artinya hendaknya seorang muslim tidak berprasangkaa buruk kepada saudara seimannya. Ini tidak ubahnya perilaku menyebut seorang muslim dengan kata-kata yang dibencinya, yang merupakan tindakan menggunjing. Sedangkan Allah swt. berfirman mengenai orang yang melakukan ghibah, “Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya? Tentulah kalian merasa jijik kepadanya.” (al-Hujurat: 12)

Tentang ini, Ibnu Abbas ra. berkata, “Tamsil ini disebutkan oleh Allah untuk menyebutkan perilaku ghibah dalam agama dan berpikiran negatif dalam hati.” (al-Qurthubi dalam tafsirnya, VII/6516)

Menyebut aib dengan lisan adalah ghibah. Ghibah ini bisa terjadi dengan menyebut aib yang terdapat dalam postur tubuh, perangai atau agama.

Abu Dawud meriwayatkan dengan sanadnya dari Ummul Mukminin Aisyah ra. ia berkata kepada Nabi saw. “Cukuplah bagimu bahwa Shafiyah adalah begini dan begitu [maksudnya: pendek].” Beliau pun bersabda, “Sungguh engkau telah mengucapkan perkataan yang apabila dicampurkan dengan air laut, niscaya ia akan mencemarinya.”

Aisyah ra. berkata bahwa ia pernah menceritakan tentang seseorang kepada beliau, beliau pun bersabda, “Saya tidak suka mendengar cerita tentang seseorang, sedangkan pada diriku sendiri ada begini dan begitu [menyebut aibnya dirinya].”

Abu Dawud meriwayatkan dengan sanadnya dari Mustaurid ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Barangsiapa memakan suatu makanan dengan mendhalimi seorang muslim, maka Allah akan memberinya makanan serupa dengannya dari neraka Jahanam. Barangsiapa mencemarkan kehormatan seseorang, maka Allah akan mencemarkan kehormatannya pada hari kiamat.”

Melalui nash-nash ini kita bisa menyimpulkan beberapa etika tentang “menahan diri dari menyebut aib saudara sesama muslim dengan hati”. Yaitu:

1. Jangan menafsiri perkataan atau perbuatan saudara sesama muslim dengan penafsiran negatif, sekiranya masih memungkinkan untuk ditafsiri positif
2. Hendaknya menafsirkan perbuatan buruk yang dilakukannya dengan berfikiran bahwa mungkin ia lupa, karena hal itu salah satu bentuk husnudhan [baik sangka] seorang muslim kepada saudaranya seiman.
3. Hendaknya dalam hatinya terpatri keyakinan akan kebaikan saudaranya. Apabila dari saudaranya itu keluar ucapan atau tindakan yang masih mengandung dua kemungkinan, benar dan salah, maka keyakinannya yang positif tentang saudaranya itu akan menjadikannya berprasangka baik kepadanya lalu berfikir tentang itu dengan fikiran positif. Jika tidak demikian, berarti ia telah berprasangka buruk kepada saudaranya. Prasangka adalah haram berdasarkan sabda Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra., “Hendaknya kalian menjauhi prasangka, karena prasangka itu merupakan sedusta-dusta perkataan.”

Imam Abu Hamid al-Ghazali ra. pernah bercerita bahwa Isa as. pernah berkata kepada orang-orang Hawariyin, “Apakah yang kalian perbuat jika kalian melihat saudara kalian dalam keadaan tertidur pakaiannya tersingkap?” “Kami akan menutupkannya,” jawab mereka. “Tidak, bahkan kalian menyingkap auratnya,” sanggah Isa as. “Subhaanallah! Siapakah yang berbuat serupa itu?” tanya mereka keheranan. Isa as. berkata, “Seseorang dari kalian mendengar berita tentang saudaranya, lalu ia menambah-nambahi berita itu dan menyebarkannya lebih buruk lagi.” (Imam Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, II/156, al-Halabi, Mesir)

Sesuatu yang sudah ditetapkan dalam Islam bahwa seorang muslim hendaknya mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Tidak diragukan lagi bahwa seorang muslim seharusnya tidak suka membicarakan aib dan keburukan saudaranya, karena dia sendiri ingin agar saudaranya itu tidak membicarakan aib dan keburukan dirinya.

4. Hendaknya menjauhkan diri dari perasaan iri dan dengki terhadap saudaranya. Jangan sampai kedua sifat tersebut memasuki hatinya, karena hal demikian itu haram. Hal ini telah disebutkan dalam nash yang cukup banyak.

Hiqd (dengki) adalah perasaan seseorang memusuhi saudaranya dan menunggu-nunggu kesempatan untuk mencelakakannya. Kata hiqd semakna dengan dhaghn.

Adapun hasad (iri) adalah pengharapan seseorang akan hilangnya suatu kenikmatan yang dikaruniakan Allah kepada salah seorang makhluk-Nya, baik dia sendiri mengharap nikmat itu maupun tidak, juga baik nikmat itu dalam urusan agama maupun dunia.

Iri dan dengki sama-sama diharamkan. Karena orang-orang yang beriman itu berukhuwah, maka tidak selayaknya ada salah seorang di antara mereka yang menyimpan perasaan iri dan dengki terhadap saudaranya seiman. Sebaliknya hendaknya ia memendam rasa cinta, kasih sayang, saling membantu dan tolong menolong. Barangsiapa yang tidak membersihkan hatinya dari rasa iri dan dengki, berarti ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang beriman.

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas ra. bahwa Nabi saw. bersabda, “Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang berukhuwah…”

Abu Dawud meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. Nabi saw. bersabda, “Jauhilah hasad, karena hasad memakan kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar [dalam riwayat lain: rumput].”

Hasad adalah sifat tercela, pelakunya pun tercela, sebagaimana dikatakan oleh salafus shalih.
“Janganlah kalian memusuhi nikmat-nikmat Allah.” Demikian kata Abdullah bin Mas’ud, “Yakni orang-orang yang hasad kepada orang lain dikarenakan karunia Allah yang diberikan kepada mereka,” lanjutnya.

Ada yang berkata, “Hasad adalah dosa pertama yang dengannya Allah didurhakai di langit, juga ada dosa pertama yang dengannya Allah didurhakai di bumi. Adapun di langit adalah hasad iblis terhadap Adam as., sedangkan di bumi adalah hasadnya Qabil terhadap Habil. (al-Qurthubi dalam tafsirnya V/251, Darul Kutub, Mesir.)

Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya dari Zubair bin Awam ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Telah menjalar kepada kalian penyakit umat-umat sebelum kalian, yaitu rasa hasad dan benci. Ia adalah pencukur yang mencukur agama, bukan mencukur rambut. Demi Allah yang diri Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tidak beriman sehingga saling mencintai. Maukah ku kabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang jika kalian lakukan menjadikan kalian saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.”

Meskipun demikian hasad dibagi menjadi dua: hasad yang tercela dan hasad yang terpuji. Hasad yang tercela adalah jika engkau mengharapkan hilangnya nikmat Allah pada diri saudaramu sesama muslim, baik engkau berharap agar nikmat itu berpindah ke tanganmu ataupun tidak. Hasad jenis ini adalah yang dicela oleh Allah dalam kitab-Nya, “Ataukah mereka hasad kepada manusia lantaran karunia yang Allah telah berikan kepada manusia itu?” (an-Nisaa’: 54)

Sifat hasad tercela karena mengandung celaan terhadap Allah yang Mahasuci, sedangkan Dia telah memberikan kenikmatan kepada yang berhak.

Adapun hasad yang terpuji, adalah sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits shahih, yang mana Nabi saw. bersabda, “Tidak boleh hasad kecuali terhadap dua orang: seseorang yang diberi al-Qur’an oleh Allah lalu ia mengamalkannya sepanjang malam dan siang, dan seseorang yang dikaruniai harta oleh Allah lalu ia menginfaqkannya di waktu malam dan siang.” (HR Ibnu Majah dengan sanad dari Salim dari ayahnya ra.)

Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud ra., ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak boleh hasud kecuali terhadap dua orang: seseorang yang dikarunia harta oleh Allah lalu Allah menguasakan kepadanya untuk menghabiskannya dalam kebenaran, dan seseorang yang diberi hikmah Allah, lalu ia mengamalkannya dan mengajarkannya.”

Sedangkan kata ghibthah adalah kata yang berarti mengharapkan agar engkau memiliki apa yang dimiliki oleh saudaramu berupa kebaikan atau kenikmatan, tanpa hilangnya kebaikan itu darinya. Bisa pula hal ini disebut “munafasah” (kompetisi). Allah berfirman yang artinya: “Untuk yang demikian itu hendaknya kalian berlomba-lomba [berkompetisi].” (al-Muthaffifiin: 26)

Jadi, seorang muslim berkewajiban untuk mengosongkan hatinya dari rasa dengki kepada saudaranya sesama muslim, agar ia terhindar dari tindak maksiat dan dosa, selain bisa menyelamatkan agamanya, juga memudahkan kehidupannya di dunia.

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: