Arsip | 08.56

Ruang Lingkup Psikologi Belajar

12 Mar

Psikologi Belajar
Drs.Syaiful Bahri Djamarah
asyHadu allaa ilaaHa illallaaH, wa asyHadu anna muhammadar rasuulullaaH

Sebagai sebuah disiplin ilmu yang merupakan cabang dari psikologi, yang kajiannya dikhususkan pada masalah belajar, maka psikologi belajar memiliki ruang lingkup di sekitar masalah belajar saja. Dan ruang lingkup psikologi belajar terdapat juga dalam kajian psikologi pendidikan. Karena memang psikologi pendidikan sebagai ilmu terapan (applied science) berusaha menerangkan masalah belajar menurut prinsip-prinsip dan fakta-fakta mengenai tingkah laku manusia yang telah ditentukan secara ilmiah. Karenanya masalah belajar mendapat sorotan yang besar dalam psikologi pendidikan.

Psikologi belajar memiliki ruang lingkup yang secara garis besar dapat terbagi menjadi tiga pokok bahasan, yaitu masalah belajar, proses belajar, dan situasi belajar.

Pokok bahasan mengenai belajar:
a. Teori-teori belajar
b. Prinsip-prinsip belajar
c. Hakekat belajar
d. Jenis-jenis belajar
e. Aktifitas-aktifitas belajar
f. Teknik belajar efektif
g. Karakteristik perubahan hasil belajar
h. Manifestasi perilaku belajar
i. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar

Pokok bahasan mengenai proses berlajar
a. Tahapan perbuatan belajar
b. Perubahan-perubahan jiwa yang terjadi selama belajar
c. Pengaruh pengalaman belajar terhadap perilaku individu
d. Pengaruh motivasi terhadap perilaku belajar
e. Signifikansi perbedaan individual dalam kecepatan memproses kesan dan keterbatasan kapasitas individu dalam belajar
f. Masalah proses lupa dan kemampuan individu memproses perolehannya melalui transfer belajar

Pokok bahasan mengenai situasi belajar
a. Suasana dan keadaan lingkungan fisik
b. Suasana dan keadaan lingkungan non fisik
c. Suasana dan keadaan lingkungan sosial
d. Suasana dan keadaan lingkungan non sosial

&

Iklan

Pengertian Psikologi Belajar

12 Mar

Psikologi Belajar
Drs.Syaiful Bahri Djamarah
asyHadu allaa ilaaHa illallaaH, wa asyHadu anna muhammadar rasuulullaaH

Psikologi belajar adalah sebuah frase yang terdiri dari dua kata, yaitu psikologi dan belajar. Psikologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu tentang jiwa atau ilmu tentang jiwa.

Dalam perkembangan selanjutnya karena kontak dengan berbagai disiplin ilmu, maka lahirlah bermacam-macam definisi psikologi yang satu dengan lainnya berbeda, misalnya:
1. Psikologi adalah ilmu mengenai kehidupan mental (the science of mental life)
2. Psikologi adalah ilmu mengenai fikiran (the science of mind)
3. Psikologi adalah ilmu mengenai tingkah laku (the science of behavior)

Menurut Crow and Crow, psichology is the study of human behavior and human relationship. Dari batasan tersebut di atas jelas bahwa yang dipelajari psikologi adalah tingkah laku manusia, yakni interaksi manusia dengan dunia sekitarnya, baik yang berupa manusia lain (human relationship) maupun yang bukan manusia seperti hewan, iklim, kebudayaan, dan sebagainya. Jelaslah bahwa psikologi tidak hanya berhubungan dengan tingkah laku manusia saja. Ahli-ahli psikologi menyelidiki tingkah laku hewan seperti tikus, serangga dan lain-lain dalam hubungan dengan tingkah laku manusia yang ingin dipahami dari aspek kehidupan mental dan semua perilakunya.

Pengertian “tingkah laku” dalam batasan ini mempunyai arti yang luas, meliputi tingkah laku yang nyata (eksplisit; terbuka) seperti berbicara, membaca, tertawa dan lain sebagainya; dan tingkah laku yang tak nyata (implisit; tertutup) seperti berfikir, mengingat, merasakan, menghendaki dan lain sebagainya. Tingkah laku yang tidak nyata ini merupakan proses yang tidak dapat diamati. Kecuali setelah berubah atau termanifestasikan dalam bentuk gejala, barulah proses itu dapat diamati. Karena gejala-gejalanya dalam berfikir, mengingat, merasakan, berkehendak dan sebagainya, maka tingkah laku yang nyata itu berubah menjadi tingkah laku nyata atau tingkah laku terbuka.

Jadi, pada hakekatnya bidang kajian psikologi banyak menyentuh bidang kehidupan diri organisme, baik manusia maupun hewan. Penyelidikan dilakukan mengenai bagaimana dan mengapa organisme-organisme itu melakukan apa yang mereka lakukan. Namun lebih khusus, psikologi lebih banyak dikaitkan sebagai ilmu pengetahuan yang berusaha memahami perilaku manusia, alasan dan cara mereka melakukan sesuatu, dan juga memahami bagaimana manusia berfikir dan berperasaan.

Sedangkan belajar itu sendiri secara sederhana dapat didefinisikan sebagai aktifitas yang dilakukan individu secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari apa yang telah dipelajari dan sebagai hasil interaksinya dengan lingkungan sekitarnya. Aktifitas di sini dipahami sebagai serangkaian kegiatan jiwa raga, psikofisik, menuju ke perkembangan pribadi individu seutuhnya, yang menyangkut unsur cipta (kognitif) rasa (afektif) dan karsa (psikomotorik).

Perkembangan dalam arti belajar di sini dipahami sebagai “perubahan” yang relatif permanen pada aspek psikologis. Individu yang berubah karena gila, mabuk, atau cedera fisik, bukanlah termasuk kategori belajar, walaupun “mempengaruhi” jiwanya untuk sementara.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa psikologi belajar adalah sebuah disiplin psiikologi yang berisi teori-teori psikologi mengenai belajar, terutama mengupas bagaimana cara individu belajar atau melakukan pembelajaran.

&

Pengertian Belajar

12 Mar

Psikologi Belajar
Drs.Syaiful Bahri Djamarah
asyHadu allaa ilaaHa illallaaH, wa asyHadu anna muhammadar rasuulullaaH

Para ahli psikologi dan pendidikan mengemukakan definisi yang berfariasi sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing. Tentu saja mereka mempunyai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

James O.Whittaker, mendefinisikan belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.

Cronbach berpendapat bahwa learning is shown by change in behavior as a result of experience. Belajar sebagai suatu aktifitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

Howard L.Kingskey mengatakan bahwa learning is the process by which behavior (in the broader sense) is originated or changed through practice or training. Belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktik atau latihan. Sedangkan Geoch merumuskan learning is change is prformance as a result of practice.

Drs.Slameto juga merumuskan definisi belajar, yaitu proses usaha yang dilaukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua unsur, yaitu jiwa dan raga. Gerak raga yang ditunjukkan harus sejalan dengan proses jiwa untuk mendapatkan perubahan. Tentu saja perubahan yang didapat itu bukan perubahan fisik, tetapi perubahan jiwa dengan sebab masuknya kesan-kesan yang baru. Dengan demikian perubahan fisik akibat serangan serangga, patah tangan, buta mata, tuli telinga, penyakit bisul dan lain sebagainya bukanlah termasuk proses belajar. Oleh karenanya perubahan sebagai hasil dari proses belajar adalah perubahan jiwa yang mempengaruhi tingkah laku seseorang.

Maka belajar adalah: serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor.

&

Metode Psikologi Belajar

12 Mar

Psikologi Belajar
Drs.Syaiful Bahri Djamarah
asyHadu allaa ilaaHa illallaaH, wa asyHadu anna muhammadar rasuulullaaH

1. Metode Eksperimen (Eksperimental Method)
Maksud dilakukannya eksperimen dalam psikologi adalah untuk “mengetes” keyakinan atau pendapat tentang tingkah laku manusia dalam situasi dan kondisi tertentu. Dengan kata lain eksperimen dilakukan dengan anggapan bahwa semua situasi atau kondisi dapat dikontrol dengan teliti, yang keadaannya berbeda dari observasi yang terkontrol. Melalui usaha eksperimen demi eksperimen, kemudian kebenaran-kebenaran psikologi yang semula didasarkan atas terkaan, pemikiran dan perenungan, kini didasarkan atas percobaan-percobaan (eksperimen).

Untuk mendukung pelaksanaan eksperimen, setidaknya menggunakan dua kelompok yang diperbandingkan. Kelompok pertama sebagai kelompok “kontrol” dan kelompok kedua sebagai “eksperimen”. Fungsi kelompok kontrol adalah untuk mengecek pengaruh dari faktor eksperimen atau variabel independen; dan kelompok kontrol tersebut sedapat mungkin diusahakan sama dengan kelompok eksperimen.

Melalui penerapan metode eksperimen banyak aspek belajar dapat diteliti dengan baik, yang hasilnya dapat disumbangkan bagi kelancaran proses interaksi edukatif di kelas. Aspek-aspek dimaksud antara lain keefektifan komparatif dari metode-metode mengajar yang berbeda (seperti metode diskusi versus metode ceramah) untuk mempelajari informasi faktual, pengaruh praktek bagian versus praktek keseluruhan terhadap belajar ketrampilan, kelas yang optimal, sampai seberapa jauh transfer belajar itu terjadi, penyusunan kurikulum untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu dan sosial, asas kesiapan dalam melakukan suatu tugas belajar, pengaruh overlearning terhadap ingatan, dan lain sebagainya.

Studi eksperimen, selain dilakukan di lapangan, yaitu dalam suasana kelas, juga dilakukan di laboratorium untuk individu atau sekelompok individu dan hewan.

2. Metode Observasi
Metode observasi adalah metode untuk mempelajari gejala kejiwaan melalui pengamatan dengan sengaja, teliti, dan sistematis. Sejauh yang dapat dilakukan, observasi bisa dibedakan menjadi dua, yaitu metode instropeksi dan metode ekstropeksi.

a. Metode instropeksi
Metode instropeksi adalah metode untuk mempelajari gejala-gejala kejiwaan dengan jalan meninjau gejala-gejala jiwa sendiri secara sengaja, teliti dan sistematis.
Dalam melakukan instropeksi (intro= ke dalam, spectare= melihat) tak mungkin memberi hasil yang baik, karena tak ada orang yang dapat mempelajari peristiwa-peristiwa jiwanya sendiri secara objektif. Misalnya, seseorang yang sedang marah, tak mungkin ia dengan tenang dan objektif menyelidiki jiwanya. Jika ia menyelidikinya, maka hilanglah kemarahan tersebut dari dirinya.
Keberatan-keberatan terhadap metode instropeksi adalah bahwa instropeksi yang diselidiki hanya bagian-bagian yang disadari saja, sedang bagian-bagian yang tidak disadari tidak diselidiki. Juga hal-hal yang dapat merendahkan diri sendiri terkadang disembunyikan karena malu dan sebagainya

b. Metode ekstropeksi
Metode ekstropeksi adalah metode untuk mempelajari gejala-gejala kejiwaan dengan jalan mempelajari peristiwa-peristiwa jiwa orang lain dengan teliti dan sistematis. Atau metode yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis oleh satu atau lebih dari seorang.

Dengan sengaja artinya pengamatan itu dilakukan dengan sadar dan dengan tujuan yang jelas. Sedangkan dengan sistematis artinya pengamatan itu dilakukan secara terencana dan dengan cara-cara tertentu yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dengan kata lain, praktek pengamatan serupa ini kondisi-kondisinya dikendalikan secara cermat dan hati-hati oleh satu atau lebih dari seorang. Itulah sebabnya pengamatan ini dikenal dengan pengamatan yang objektif (objective observation)

Melalui penerapan metode ini laporan-laporan yang ditulis akan dapat menghasilkan informal yang objektif, lebih-lebih yang dilakukan oleh orang yang terlatih, terampil, dan berpengalaman. Studi observasi telah banyak dilakukan terhadap hubungan sosial yang diperlihatkan oleh anak-anak pada taman kanak-kanak dan dalam situasi permainan bebas. Penggunaan metode ini antara lain dapat dimanfaatkan untuk membantu mendiagnosa kesulitan belajar anak di sekolah.

3. Metode Genetik (the genetic method)
Metode ini disebut juga metode perkembangan (development method), merupakan teknik observasi yang digunakan untuk meneliti masa pertumbuhan mental dan fisik dan juga hubungannya dengan anak-anak lain dan orang-orang dewasa, yakni perkembangan sosialnya, kemudian dicatat dengan cermat. Pendekatannya bisa menempuh satu atau dua pendidikan sekaligus, yaitu cross-sectional (horizontal) dan longitudinal (vertikal). Perbedaan cross sectional (horizontal) digunakan untuk memperoleh data, misalnya, mengenai pertumbuhan kecerdasan, gerak, dan perasaan anak sejak lahir sampai masa tertentu. Sedangkan pendekatan longitudinal digunakan untuk individu atau sekelompok individu sejak lahir dan seterusnya.

Sekalipun dua pendekatan tersebut dapat dihasilkan data yang lebih shahih (valid), khusunya yang berhubungan dengan perubahan-perubahan pertumbuhan pada umumnya, namun keduanya mengandung kelemahan, terutama pendekatan longitudinal, antara lain dianggap tidak praktis dan bahkan sulit dilaksanakan.

4. Metode Riwayat Hidup atau Klinis
Metode riwayat hidup adalah metode untuk menyelidiki gejala-gejala kejiwaan dengan jalan mengumpulkan riwayat hidup sebanyak-banyaknya, baik yang ditulis sendiri maupun yang ditulis oleh orang lain. Dalam penyelidikan ini buku-buku harian dan kenang-kenangan besar sekali manfaatnya.

Studi dengan metode riwayat hidup (the case history) ini biasanya penerapannya terbatas untuk mencoba memecahkan kesulitan-kesulitan belajar yang benar-benar dihadapi oleh pelajar. Jadi pendekatan ini pada pokoknya tidak berhubungan dengan prinsip-prinsip psikologis atau pendidikan. Sebaliknya, tujuan satu-satunya adalah diagnosis atau treatment. Case history memasukkan riwayat hidup masa lalu, status, dan keadaannya yang sekarang dari seorang individu, yang kemudian dapat digunakan oleh konselor untuk memberikan treatmen (perhatian dan perawatan). Oleh sebab itu, studi kasus yang disusun secara hati-hati, sudah tentu akan memasukkan data mengenai latar belakang keluarga dan sosial, kesehatan jasmani dan perkembangan emosi, serta pengalaman pendidikannya. Termasuk pula minat, hobi, dan kegiatan individu di masa sekarang, yang semuanya relevan dengan masalah yang hendak dipecahkan. Data dimaksud bisa diperoleh melalui interviu (wawancara) atau angket. Kemudian haruslah dianalisa yang diarahkan kepada diagnosis dan treatment (perbaikan).

Walaupun metode ini merupakan cara penyelidikan yang lebih leliti dan bersifat menyeluruh, namun terdapat pula kelemahan-kelemahannya, antara lain tidak seluruh kejadian di masa lalu akan tetap dapat diingat, sehingga keterangan-keterangan yang diberikan boleh jadi tidak objektif. Akibat lebih lanjut, kesimpulan yang ditarik pun akan jauh dari kebenaran.

5. Metode tes
Tes adalah suatu alat yang di dalamnya berisi sejumlah pertanyaan yang harus dijawab atau perintah-perintah yang harus dikerjakan, untuk mendapatkan gambaran tentang kejiwaan seseorang atau sekelompok orang.

Tes merupakan instrumen riset yang penting dalam psikologi masa sekarang. Ia digunakan untuk mengukur semua jenis kemampuan, minat, bakat, prestasi, sikap, dan ciri kepribadian. Tes memungkinkan ahli ilmu jiwa memperoleh data dalam jumlah besar dari orang-orang tanpa banyak gangguan atas kebiasaan mereka sehari-hari tanpa memerlukan perlengkapan laboratorium yang rumit.

Pada pokoknya semua tes mengemukakan suatu situasi yang seragam pada kelompok sekelompok orang yang berbeda-beda pada aspek-aspek yang relevan dengan situasi tersebut. Misalnya, inteligensi, kecekatan ketrampilan tangan, kegelisahan, dan ketrampilan persepsual. Kemudian hasilnya dianalisa dengan menghubungkan perbedaan dalam skor tes dengan perbedaan di antara orang-orang tersebut.

Untuk memenuhi kebutuhan di atas, para ahli telah membuat berbagai alat pengukuran yang dibakukan. Walaupun demikian hendaknya disadari bahwa ramalan atau perkiraan yang dihasilkan seringkali tidak mudah dilakukan. Sebabnya antara lain, karena banyaknya faktor yang tidak ikut mencampuri fakta kejiwaan dan mudahnya berubah. Sudah tentu keadaan yang serupa ini seringkali menyebabkan kekurangtegasan dalam mengambil keputusan, dan sekaligus merupakan salah satu kelemahannya. Lagi pula penyusunan tes dan penggunaannya bukanlah hal yang mudah. Hal ini menghendaki banyak langkah yang harus ditempuh, seperti penyiapan item, penyekalan, dan penentuan norma-normanya.

Maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada metode yang digunakan dalam psikologi belajar yang seratus persen baik, demikian pula sebaliknya. Untuk itu dalam praktek, para ahli sering menggunakan lebih dari satu metode agar bisa saling melengkapi dan sekaligus data yang dihasilkan dapat dipercaya. Kemudian data tersebut dianalisa dan barulah disusun suatu laporan.

Akhirnya dari laporan inilah pada gilirannya dapat ditelaah dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan praktik. Terlebih jika sudah berulangkali diuji dan dibuktikan, yang kemudian melahirkan prinsip-prinsip yang secara empiris dapat dibenarkan dan dapat pula disampaikan secara efektif, sebagai salah satu persiapan kepada mereka yang berprofesi sebagai guru.

&

Manfaat Mempelajari Psikologi Belajar

12 Mar

Psikologi Belajar
Drs.Syaiful Bahri Djamarah
asyHadu allaa ilaaHa illallaaH, wa asyHadu anna muhammadar rasuulullaaH

Siapapun yang akan menerjunkan diri ke dunia pendidikan pasti suatu saat nanti akan dihadapkan pada berbagai masalah jika tidak mengetahui siapa anak didik dan bagaimana cara belajarnya. Lebih-lebih bila tidak ada hasrat sama sekali untuk mengenal anak didik lebih dekat.

Penyebab utama dari kegagalan seorang guru dalam menjalankan tugas belajar di depan kelas adalah kedangkalan pengetahuan guru terhadap siapa anak didik dan bagaimana cara belajarnya, sehingga setiap tindakan pembelajaran yang diprogramkan justru lebih banyak kesalahan daripada kebenaran dari kebijakan yang diambil.

Psikologi belajar adalah sebuah disiplin ilmu yang memberikan wawasan kepada guru dan calon guru mengenai siapa anak didik dan bagaimana cara belajarnya. Hal-hal lain yang berhubungan dengan aktifitas belajar anak didik, juga dibicarakan di dalamnya. Semua itu penting untuk diketahui guru dan calon guru dan besar manfaatnya bagi kepentingan pembelajaran di sekolah tempat mengabdikan diri.
Manfaat itu adalah:

1. Dapat diperoleh ilmu pengetahuan tentang hakekat siapa anak didik dan bagaimana cara belajarnya, hakekat umum belajar dan syarat-syaratnya yang diperlukan agar peristiwa belajar dapat berjalan dengan baik, yang dapat dimanfaatkan dalam pengambilan kebijakan pengajaran.
2. Dapat diperoleh ilmu pengetahuan tentang teori-teori, prinsip-prinsip, dan ciri-ciri khas perilaku belajar individu anak, yang dapat dimanfaatkan dalam memahami masalah belajar anak. Strategi belajar mengajar yang diperlakukan pun menjadi lebih adabtable dan jauh dari dominasi guru.
3. Dapat diperoleh ilmu pengetahuan bahwa setiap anak didik berbeda sebagai individu dalam belajar, yang mana dapat dimanfaatkan untuk melakukan pendekatan yang tepat dalam kegiatan belajar mengajar sesuai potensi individu anak masing-masing
4. Dapat diperoleh ilmu pengetahuan tentang belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, yang dapat dimanfaatkan dengan menyediakan lingkungan belajar yang kondusif lagi kreatif dalam rangka meningkatkan hasil belajar yang optimal
5. Dapat diperoleh ilmu pengetahuan bahwa pembawaan merupakan potensi anak yang tersedia dan dapat diubah dengan menyediakan lingkungan belajar yang kreatif di dalam kelas.
6. Dapat diperoleh ilmu pengetahuan tentang berbagai masalah yang terkait dengan teori-teori, prinsip-prinsip dan fungsi, serta teknik motivasi belajar, yang dapat dimanfaatkan dalam rangka pemberian motivasi kepada anak didik yang tidak atau kurang bergairah dalam belajar, sehingga diharapkan anak didik terlibat langsung dalam belajar.
7. Dapat diperoleh ilmu pengetahuan tentang hubungan antara tingkat kematangan dengan kesiapan belajar anak, yang dapat dimanfaatkan oleh guru dengan tidak memaksakan kehendak sendiri kepada anak didik untuk dipaksa belajar, padahal anak didik belum siap untuk belajar.
8. Dapat diperoleh ilmu pengetahuan tentang kepastian belajar anak pada stadium umur tertentu, yang dapat dimanfaatkan dalam rangka pengalokasian waktu belajar dan sebagai bahan pertimbangan sejauh mana tingkat keluasan dan kedalaman materi yang diprogramkan dalam kurikulum, sehingga dapat memperkecil tingkat kesulitan belajar anak didik dalam menyerap, mengolah, dan menyimpan informasi dalam memori otak.
9. Dapat diperoleh ilmu pengetahuan tentang masalah lupa dan faktor-faktor penyebabnya, yang dapat dimanfaatkan dalam rangka menejemen pembelajaran yang kondusif dengan tujuan informasi baru dapat diserap, diolah, dan disimpan dengan baik dan tidak membuat anak didik melupakan informasi lama yang telah tersimpan dalam memori otak.
10. Dapat diperoleh ilmu pengetahuan tentang masalah transfer belajar, yang dapat dimanfaatkan untuk membantu anak didik untuk mentransfer perolehannya ke dalam situasi lain, sehingga penguasaan anak didik terhadap materi pelajaran betul-betul mantap dan bermakna.

&

Khiyar dalam Nikah dan Penolakan karena Cacat

12 Mar

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Cacat yang menyebabkan bolehnya khiyar, yaitu memilih antara meneruskan pernikahan atau membatalkannya, ada sembilan perkara. Tiga di antaranya berada di pihak laki-laki dan perempuan, yaitu: gila, kusta, dan sopak. Dua perkara khusus pada laki-laki, yaitu putus zakar dan impoten. Empat perkara lagi khusus pada perempuan, yaitu tumbuh tulang pada kemaluannya, kemaluannya buntu, kemaluannya tersumbat daging dan lubang kemaluannya terlalu basah.

Menurut Hanafi, laki-laki tidak mempunyai hak khiyar lantaran sebab-sebab tersebut. Namun bagi perempuan ada hak khiyar jika suaminya putus zakar dan impoten.
Maliki dan Syafi’i menetapkan hak khiyar bagi laki-laki dan perempuan lantaran adanya sebab-sebab cacat tersebut, kecuali sobek antara saluran kencing dan lubang kemaluan. Hambali menetapkan semuanya.

Jika terdapat semua cacat itu pada diri suami, istri boleh memilih antara meneruskan pernikahannya atau membatalkannya. Demikian menurut pendapat Maliki, Syafi’i dan Hambali.

Jika hal itu terjadi pada suami setelah akad dan sebelum bercampur maka istri memiliki hak khiyar. Demikian menurut Maliki, Syafi’i dan Hambali. Demikian pula setelah bercampur, kecuali impoten, menurut pendapat Syafi’i.

Sedangkan jika cacat tersebut ada pada istri, maka suami berhak membatalkan pernikahannya. Demikian menurut pendapat yang paling kuat dalam madzab Syafi’i dan pendapat Hambali.
Menurut Maliki dan Syafi’i dalam riwayat lain: suami tidak memiliki hak khiyar.

Apabila istri menjadi merdeka, sedangkan suaminya masih tetap dalam perbudakan, istri boleh melakukan khiyar dengan cepat, atau selambat-lambatnya tiga hari, atau sebelum memungkinkan dirinya untuk disetubuhi oleh suaminya. Demikian menurut pendapat Syafi’i yang paling shahih.

Hanafi berpendapat: boleh khiyar oleh istri bila masih dalam proses kemerdekaannya. Sedangkan jika istri sudah menerima kemerdekaannya dan memungkinkan suami menyetubuhinya, maka hal demikian berarti ia telah ridla. Dengan demikian, sesudah itu tidak khiyar lagi.

Apabila seorang perempuan menjadi merdeka, sedangkan suaminya memang orang yang merdeka, maka ia tidak boleh menggunakan hak khiyar. Demikian menurut pendapat Maliki, Syafi’i dan Hambali. Hanafi: istri boleh melakukan khiyar.

&

Yang Diharamkan dalam Menikah

12 Mar

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Apabila seseorang telah menikahi seorang anak perempuan maka haram baginya menikahi anak perempuan itu untuk selama-lamanya. Demikian menurut pendapat para imam madzab.

Diriwayatkan dari Ali ra. dan Zaid bin Tsabit ra. bahwa keharaman menikahi ibu perempuan itu adalah jika anaknya yang dinikahi telah dicampuri. Pendapat ini juga diterima dari Mujahid.
Zaid bin Tsabit berpendapat: jika ia menalak perempuan itu sebelum dicampuri, maka ia boleh menikahi ibu anak tadi. Sedangkan jika anak perempuan meninggal sebelum dicampuri maka ia boleh menikahi ibunya. Kematian sama dengan pencampuran dalam masalah ini, menurut Zaid bin Tsabit.

Para imam madzhab sepakat apabila ibu dari seorang perempuan yang dinikahi dan telah dicampuri maka anak perempuan itu tidak boleh dinikahi oleh orang yang menikahi ibunya, meskipun anak perempuan itu tidak berada dalam asuhannya.
Dawud berkata: jika anak perempuan tersebut tidak berada di bawah kekuasannya maka ia boleh dinikahi.

Keharaman perempuan mushaharah, yaitu muhrim karena hubungan perbesanan, berntung pada terjadinya percampuran pada kemaluannya. Jika terjadi pencampuran tidak pada kemaluannya, tetapi dengan dorongan syahwat, maka apakah keharamannya dapat bergantung pada hal tersebut? Hanafi berkata: hal demikian bisa mengakibatkan keharamannya. Bahkan ia pun berkata: melihat kemaluan sama dengan bercampur dalam hal keharaman menikahi mushaharah.

Wanita pezina [pelacur] boleh dinikahi. Demikian pendapat Hanafi dan Syafi’i. Dan Hambali berpendapat: haram menikahinya sebelum bertaubat terlebih dahulu.

Orang yang berzina dengan seorang perempuan tidak diharamkan menikahi perempuan tersebut, begitu pula menikahi ibu dan anaknya. Demikian menurut pendapat Maliki dan Syafi’i. Menurut Hanafi: keharaman mushaharah bergantung pula pada perzinaan. Hambali menambahkan: apabila seorang laki-laki melakukan hubungan sejenis [homo seksual] dengan laki-laki lain maka ia diharamkan menikahi ibu dan anak perempuannya.

Para imam madzhab sepakat bahwa apabila seorang perempuan berbuat zina maka pernikahannya tidak batal. Namun diriwayatkan dari Ali ra. dan al-Hasan al-Bashri bahwa dalam hal demikian pernikahannya menjadi batal.

Apabila seseorang berzina, kemudian ia menikah, maka suaminya boleh langsung mencampurinya tanpa ‘iddah. Akan tetapi jika ia hamil maka makruh menyetubuhinya hingga ia melahirkan. Demikian menurut pendapat Hanafi dan Syafi’i.
Maliki dan Hambali mengatakan: diwajibkan atasnya menunggu masa ‘iddah, dan diharamkan atas suaminya menyetubuhinya hingga habis masa ‘iddah-nya.

Abu Yusuf berpendapat: apabila perempuan itu hamil maka haram menikahinya hingga ia melahirkan. Sedangkan jika ia tidak hamil maka tidak haram menikahinya dan ia pun tidak perlu menunggu masa ‘iddah.

Apakah boleh menikahi anak sendiri dari hasil perzinaan? Hanafi dan Hambali mengatakan, tidak halal menikahi anak sendiri hasil perzinaan. Syafi’i berpendapat: boleh, tetapi makruh. Dari Maliki diperoleh dua pendapat: pertama tidak boleh, kedua boleh.

Para imam madzhab sepakat tentang haramnya mengumpulkan dua perempuan bersaudara [kakak beradik] untuk dinikahi dalam satu masa. Juga diharamkan menikahi seorang perempuan beserta bibinya, baik bibinya dari pihak bapak maupun dari pihak ibu.

Hanafi berpendapat: sah menikahi seorang perempuan sesudah menikahi saudaranya. Namun tidak dihalalkan menyetubuhinya sebelum mengharamkan persenggamaan dengan saudaranya yang telah dinikahi terlebih dahulu.

Barangsiapa yang masuk Islam, sementara ia mempunyai Istri lebih dari empat orang, maka ia harus memilih empat di antara mereka untuk dijadikan istri tetapnya. Jika di antara istri-istrinya ada yang bersaudara [kakak-beradik], maka ia harus menceraikan salah satunya. Demikian menurut Maliki, Syafi’i dan Hambali.

Hanafi berpendapat: jika pernikahan dengan lebih dari empat istri tersebut terjadi dalam satu keadaan, maka akad pernikahannya batal. Sedangkan jika terjadi dalam beberapa akad maka sah pernikahannya dengan empat orang istri yang pertama saja. demikian pula halnya dengan dua saudara kakak beradik yang telah dinikahi.

Jika salah seorang suami istri keluar dari agama Islam [murtad] maka secepatnya bercerai secara mutlak, baik murtadnya sebelum bercampur maupun sesudahnya. Demikian menurut pendapat Hanafi dan Maliki. Sedangkan Syafi’i dan Hambali berpendapat: jika murtadnya sebelum terjadi bercampur maka harus segera bercerai. Namun jika murtadnya sesudah bercampur hendaknya ditunggu hingga ‘iddah-nya selesai.

Apabila suami istri sama-sama murtad maka hukumnya seperti ketika terjadi murtad salah satu di antara mereka, yaitu terjadi keduanya bercerai. Hanafi: tidak bercerai.

Pernikahan orang kafir dengan orang kafir adalah sah. Pernikahannya bergantung pada hukum-hukum yang berkaitan dengan hukum-hukum yang berlaku bagi kaum Muslim. Demikian menurut pendapat Hanafi, Syafi’i dan Hambali. Sedangkan Maliki berpendapat: pernikahannya batal.

Bolehnya seorang laki-laki menikahi budak perempuan dengan syarat berikut:
1. Takut terjerumus ke dalam perzinaan
2. Tidak ada kesanggupan untuk menikahi perempuan merdeka
Demikian menurut pendapat Maliki, Syafi’i dan Hambali. Hanafi berpendapat: bolehnya tidak tergantung pada dua syarat tersebut. Yang menghalangi adanya istri yang merdeka atau sedang dalam masa ‘iddah.

Tidak halal bagi seorang muslim menikahi budak ahlul kitab, menurut Syafi’i, Maliki, dan Hambali. Sedangkan Hanafi berpendapat halal.
Menurut Syafi’i dan Hambali: seorang yang merdeka tidak boleh menikahi lebih dari seorang budak. Hanafi dan Maliki mengatakan: boleh menikahi budak hingga empat orang, sebagaimana bolehnya menikahi perempuan merdeka.

Seseorang yang telah berzina dengan seorang budak boleh menikahinya dan terus menyetubuhinya sebelum penangguhan persenggamaan untuk mengetahui kekosongan rahimm [istibra’]. Demikian menurut Syafi’i. Menurut Hanafi: tidak boleh disetubuhi sebelum istibra’ terlebih dahulu selama satu kali haid atau sampai melahirkan jika ia hamil. Sedangkan Maliki memakruhkan menikahi wanita pezina secara mutlak.

Hambali berpendapat: tidak boleh menikahi perempuan yang telah dizinahi kecuali dengan dua syarat:
1. Telah bertaubat dari perbuatannya
2. Istibra’, yaitu hingga melahirkan jika ia hamil atau menunggu tiga kali haid jika ia tidak hamil.

Empat madzab sepakat bahwa nikah mut’ah adalah batal. Yang mana pernikahan itu adalah seorang laki-laki menikahhi seorang perempuan selama batas waktu tertentu. Umpamanya, seseorang mengatakan, “Aku nikahi kamu selama satu bulan atau satu tahun.” Dan sejenisnya.

Nikah mut’ah selain tidak sah, telah dihapus hukumnya oleh ijma’ para ulama dahulu dan kemudian. Namun, madzab syi’ah memandangnya sah. Demikian itu berdasarkan riwayat dari Ibn Abbas. Tetapi yang shahih menurutnya adalah bahwa nikah mut’ah adalah batal.

Nikah shighar adalah batal menurut Syafi’i, Maliki dan Hambali. Pernikahan itu adalah seseorang meminta kepada orang alin untuk menikahkan saudara perempuannya dengannya, dan orang lain tersebut dijanjikan akan dinikahkan dengan saudara perempuannya tanpa mahar. Hanafi berpendapat pernikahannya sah sedangkan maharnya batal.

Apabila seorang perempuan yang ditalak tiga menikah lagi dengan orang lain, dengan maksud untuk menghalalkan pernikahan dengan mantan suaminya yang pertama, dengan memakai syarat apabila terjadi persetubuhan dengannya maka jatuh talak, maka pernikahan semacam ini adalah sah, namun syaratnya gugur. demikian menurut Hanafi. Adapun mengenai halalnya istri tersebut bagi mantan suaminya yang pertama, Hanafi mempunyai dua riwayat.

Menurut Maliki: tidak halal bagi suami pertama, kecuali sesudah terjadi pernikahan yang sah yang dilakukan atas dasar kesenangan kedua belah pihak, bukan bertujuan untuk menghalalkan pernikahan dengan mantan suami pertama, dan telah disetubuhi oleh suami kedua dalam keadaan suci, tidak dalam keadaan haid.
Syafi’i dalam masalah ini mempunyai dua pendapat, dan yang paling shahih: pernikahannya tidak sah. Hambali: tidak sah secara mutlak.
Adapun pernikahan tanpa mensyarat demikian, hanya bercita-cita saja, maka nikahnya sah. Demikian menurut pendapat Hanafi. Menurut Syafi’i: sah tetapi makruh. Menurut Maliki dan Hambali: tidak sah.

Pernikahan dengan syarat jangan dimadu, atau jangan pindah dari negerinya atau dari rumahnya, atau jangan diajak berkelana maka pernikahannya adalah sah, dan semua syarat itu tidak wajib dipenuhi. Selain itu, perempuan tersebut berhak memperoleh mahar mitsl, karena syarat tersebut mengharamkan yang halal. Demikian menurut Hanafi, Maliki dan Syafi’i.
Hambali berpendapat: pernikahannya adalah sah, dan syaratnya harus dipenuhi. Jika ia menyalahi syaratnya, maka istri boleh memilih untuk menceraikan dirinya.

&