Arsip | 15.50

Jangan Sampai Orang Lain Meminta untuk Dipenuhi Hak-Haknya

16 Mar

Jangan Sampai Orang Lain Meminta untuk Dipenuhi Hak-Haknya
Ukhuwah Islamiyah; Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Setiap ruas tulang manusia wajib untuk disedekahi, setiap hari selama matahari terbit. Engkau berbuat adil terhadap kedua orang tua adalah sedekah, engkau membantu seseorang yang berkendaraan dengan membantunya menaikkannya atau mengangkatkan barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah, perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah menuju masjid adalah sedekah, engkau menyingkirkan aral dari jalan juga adalah sedekah.”

Dailami meriwayatkan dalam al-Firdaus dengan sanadnya dari Anas ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ada empat hal yang merupakan hak kaum muslimin atasmu: menolong orang yang berbuat baik di antara mereka, memintakan ampun kepada orang yang berbuat dosa, mendoakan orang yang meninggalkan [berpisah] dan mencintai orang yang bertaubat di antara mereka.”

Empat hak yang disebut ini telah meliputi berbagai amalan lain yang tak terhitung jumlahnya, yang termasuk dalam kategori hak seorang muslim atas saudaranya sesama muslim. Seseorang berkewajiban untuk melaksanakan semua itu dengan inisiatif sendiri secara sukarela.

Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. Nabi saw. bersabda, “Ada 40 sifat [yang paling tinggi adalah kematian syahadah] dimana tidak seorang pun yang mengamalkan salah satu darinya dengan mengharap pahala-Nya dan mempercayai apa yang dijanjikan untuknya kecuali Allah pasti memasukkannya ke dalam surga.”

Ibnu Hajar mengomentari hadits ini berkata, “Rasulullah saw. telah menganjurkan berbagai macam kebaikan dan kebajikan yang tidak terhitung banyaknya. Tentu saja beliau saw. mengetahui keempat puluh sifat terpuji itu, tetapi beliau tidak menyebutkannya satu persatu, dengan pertimbangan bahwa itu lebih baik bagi kita dibandingkan apabila itu beliau sebutkan secara terperinci.”

Ibnu Bathar berkata, “Saya pernah mendengar bahwa sebagian dari mereka ada yang mencarinya. Orang tersebut menemukan lebih dari empat puluh. Di antara yang ditambahkan adalah: menolong pembantu, membuatkan sesuatu untuk orang yang bodoh, melindungi kehormatannya, memasukkan rasa senang kepadanya, menunjukkan kebaikan, berkata yang baik, mengolah tanah dan menanaminya, membesuk orang sakit, berjabat tangan, mencintai karena Allah, membenci karena-Nya, duduk bercakap-cakap karena Allah, saling menziarahi-menasehati- dan menyayangi yang kesemuanya terdapat dalam hadits-hadits shahih. (Ibnu Hajar, Fathul Bari, Sarh Shahih al-Bukhari, V/290, Darur Riyadh li at-Turats, Kairo, 1407 H/1986 M.)

Adalah bagian dari etika ukhuwah dalam Islam jika seorang muslim melaksanakan semua hal itu. Namun jika tidak dapat menunaikan seluruhnya, atau hanya dapat menunaikan sebagiannya, hendaklah diberikan permakluman dan toleransi. Hanya saja tetap dibarengi dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam melaksanakan hak-hak saudaranya itu.

Ukhuwah dalam Islam yang terjalin di antara dua orang muslim tidak akan terjalin kokoh kecuali dengan memperhatikan hak-hak ini dan dengan tidak menuntut dari saudaranya hal-hal yang ia tidak mampu melaksanakannya.

&

Hak Seorang Musim untuk Mendapatkan Kesetiaan (Wafa’)

16 Mar

Hak Seorang Musim untuk Mendapatkan Kesetiaan (Wafa’)
Ukhuwah Islamiyah; Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Sikap setia atau wafa’ adalah sikap konsisten dalam mencintai, baik ketika saudaranya masih hidup maupun setelah kematiannya, dengan melimpahkannya kepada anak-anak dan sahabat-sahabatnya.

Kesetiaan bagi kaum muslimin tegak di atas rasa cinta karena Allah, sedangkan kecintaan kepada Allah bertujuan untuk mendapatkan kebahagiaan kampung akhirat dengan segala yang ada di sisi Allah. Dengan kata lain, ia ditujukan untuk meraih hal-hal yang bersifat lebih kekal dan lebih baik.

Wafa’ dalam konteks ini bermakna keteguhan mencintai, dengan syarat bahwa cinta ini melahirkan sikap ingin bersatu dan berpisah karena Allah swt.

Makna wafa’ yang lain selain setia adalah penyempurnaan atau menepati. Misalnya ungkapan “wafa’ bi ‘aHdiHi” berarti menyempurnakan janjinya. Kebalikannya adalah berkhianat atau meninggalkan.

Makna wafa’ yang lain adalah menunaikan. Ungkapan “ar-rajul al-wafiy” artinya seseorang yang mengambil dan memberi hak.

Jadi, wafa’ di sini meliputi semua makna di atas, selain bermakna tetap dan konsisten dalam mencintai, karena adalah lazim bahwa seseorang berhak atas semua jenis wafa’ di atas dari saudara sesama muslim.

Macam-macam wafa’ yang harus dilaksanakan oleh orang-orang yang berukhuwah dalam Islam:

1. Seseorang berhak mendapatkan wafa’ dari saudaranya seiman, dalam arti kesetiaan dalam mencintai karena Allah selama keduanya bersatu karena-Nya. Wafa’ dalam pengertian ini merupakan hak seseorang atas saudaranya hingga mati, dengan mengalihkannya kepada anak-anak yang ditinggalkannya, kerabat-kerabatnya, sahabat-sahabatnya, dan semua orang yang mencintai atau dicintainya.

2. Saudaranya berkewajiban untuk menyempurnakan perjanjian di antara keduanya, yaitu perjanjian kepada Allah untuk saling bersaudara dalam Islam dan berjuang di jalan-Nya, janji untuk saling berwasiat di atas kebenaran dan kesabaran, serta terus menempuh jalan dakwah sehingga masing-masing dari keduanya kembali keharibaan Tuhannya.

3. Ia juga berhak atas saudaranya dalam hal wafa’ dalam arti hendaklah saudaranya itu menunaikan segala hak dan melaksanakan kewajiban yang telah ditetapkan oleh hubungan ukhuwah dalam Islam, baik berupa perkataan, perbuatan, doa, pemenuhan kebutuhan, pembelaan terhadap gunjingan, nasehat, pengajaran, dan sebagainya.

4. Ia juga berhak atas saudaranya itu dalam hal ditunaikannya perjanjian. Artinya, hendaklah saudaranya itu melaksanakan konsekuensi perjanjian ukhuwah dalam Islam. Hendaklah saudaranya itu memandangnya seperti memandang dirinya sendiri, terus bersamanya menempuh jalan dakwah dalam perkataan, hikmah, pengajaran yang baik, perdebatan dengan cara yang baik, serta amar ma’ruf dan nahi munkar. Salah satu tuntutan perjanjian itu adalah menolong. Juga menasehati dan menutupi jika pada saudaranya terdapat aib, dan ia memiliki peluang untuk itu.

5. Ia juga berhak atas saudaranya untuk mendapatkan wafa’ dalam arti mengambil hak darinya dan menuntut kewajiban, tanpa mengalah pada salah satunya.

Allah telah memerintahkan agar bersifak wafa’ terhadap perjanjian, dengan firman-Nya yang artinya:
“Tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kalian berjanji.” (an-Nahl: 91)
“Penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggung jawabannya.” (al-Ahzab: 15)
“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah ikatan-ikatan perjanjian itu.”(al-Maidah: 1)

Perjanjian pada ayat pertama dan kedua menggunakan kata al-‘ahdu, yang maknanya “menjaga dan memperhatikan sesuatu secara terus-menerus.” suatu perjanjian yang mengharuskan untuk dipelihara terus disebut juga dangan ‘ahd.

Pada ayat ketiga disebut dengan kata “al-‘aqd” yang artinya “perjanjian antara kedua belah pihak yang harus dilaksanakan.”

Sedangkan kata ‘aHdullah [perjanjian Allah], yakni perjanjian yang diambil oleh Allah dari kita agar kita beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan siapapun. Bisa juga berarti seluruh perintah, larangan, atau wasiat-Nya.

Pemenuhan perjanjian itu disandarkan kepada Allah swt, karena Dia adalah Dzat yang menjadi saksi dan melihat dua orang yang mengadakan perjanjian itu. Orang-orang yang mengikat perjanjian itu akan dimintai pertanggung jawabannya di hadapan Allah; ia menunaikannya atau tidak, karena Allah swt. telah memerintahkan agar mereka memenuhi ikatan perjanjian itu.

Ikatan perjanjian Allah swt. adalah janji yang dibuat oleh seseorang kepada Allah untuk melaksanakan ketaatan dan amal shalih yang telah ditetapkan oleh syariat Islam. Demikian pula semua transaksi yang dibuat oleh seseorang dengan orang lain, misalnya: jual beli, sewa menyewa, pernikahan, perceraian, muzara’ah [perjanjian bagi hasil di bidang pertanian], dan sebagainya, hendaknya dilakukan dengan menggunakan hukum Islam.

Ibnu Abbas ra berkata, “Penuhilah perjanjian-perjanjian.” Artinya penuhilah apa yang dihalalkan dan diharamkan oleh Allah, serta apa yang diwajibkan dan dilarang-Nya dalam segala hal.

Perjanjian dan akad merupakan ikatan yang dibuat oleh pelakunya untuk dirinya sendiri, karena Nabi saw. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dengan sanadnya dari Ibnu Abbas ra, “Orang-orang muslim terikat dengan syarat-syarat mereka.”

Bukhari meriwaytkan dengan sanadnya dari Aisyah ra. ia berkata, “…Kemudian Rasulullah berdiri di hadapan banyak orang, beliau memuji Allah lalu bersabda, ‘Mengapa orang-orang membuat persyaratan yang tidak terdapat dalam kitabullah? Itu adalah batal, sekalipun berjumlah seratus syarat, ketetapan Allah lebih wajib dan syarat-Nya lebih kuat.” (al-Qurthubi dalam tafsirnya III/2030, asy-Sya’b, Mesir)

Syarat, perjanjian, dan aqad yang wajib dipenuhi adalah yang sejalan dengan apa yang terdapat dalam kitabullah. Apabila jelas bahwa di dalamnya terdapat hal yang bertentangan denganya, ia tertolak. Hal itu berdasarkan kepada sabda Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari dengan sanadnya dari Ummul Mukminin Aisyah ra. ia berkata, “Barangsiapa mengada-ada dalam urusan kami ini [urusan agama] yang bukan berasal darinya, ia tertolak.”

Islam telah mengingatkan akan bahaya pengkhianatan dan mengingkari perjanjian. Bahkan orang yang berkhianat akan menjadi lawan Rasulullah saw.
Ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanadnya dalam ash-Shaghir dari Abu Hurairah ra. yang berkata bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Tiga orang yang akan menjadi lawanku pada hari kiamat, padahal barangsiapa melawanku aku akan memusuhinya, yakni: seseorang yang memberikan perjanjian kepadaku kemudian mengingkari, seseorang yang menjual orang merdeka lalu memakan hartanya, dan seseorang yang mempekerjakan orang lain, sementara orang tersebut telah menyelesaikan pekerjaannya namun ia tidak memberikan upahnya.”

Persaudaraan dalam Islam menuntut wafa’ ini, bahkan semua bentuk wafa’, karena program Nabi saw. yang paling menonjol setiba beliau di daar al-Hijrah Madinah al-Munawwarah adalah persaudaraan antara orang-orang muhajirin dan anshar.

Rasulullah saw. mempersaudarakan para shahabatnya di kalangan muhajirin dan anshar. Beliau bersabda, “Bersaudaralah kalian karena Allah, dua-dua.” Kemudian beliau mengambil tangan Ali bin Abi Thalib ra. dan berkata, “Ini adalah saudaraku.” (Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, I/504).

Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya dari Yazid bin Nu’amah adh-Dhahabi, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seseorang mempersaudarakan orang lain, hendaknya ia menanyakan tentang namanya, nama bapaknya, dan dari kalangan apa. Hal itu akan lebih memperkuat jalinan cinta kasih.”
Hadits yang serupa dengan hadits tersebut diriwayatkan juga dari Abdullah bin Umar ra.

Imam ath-Thabrani meriwayatkan dalam al-Ausath ash-Shaghir dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling kucintai di antara kalian adalah mereka yang bisa menyatu dan dipersatukan. Sedangkan yang paling kubenci di antara kalian adalah orang-orang yang berjalan dengan mengadu domba dan memutuskan hubungan antara orang-orang yang bersaudara.”

Jalan dakwah ini sungguh dipenuhi dengan berbagai hambatan dan kesulitan, bahkan dengan berbagai fitnah dan ujian. Oleh karena itu, jalan ini bakal menimbulkan kesulitan besar bagi siapa saja yang melaluinya seorang diri. Bahkan kesulitan-kesulitan di jalan dakwah ini terkadang mengakibatkan sebagian dari pelakunya takut, bahkan berbalik langkah. Kesulitan dan ketakutan ini bisa dihilangkan, dan tidak ada yang bisa menolong untuk bersabar menghadapinya kecuali jika ia terikat oleh ukhuwah karena Allah, di atas jalan ini. Itulah yang akan memberikan ketenangan dan meringankan beban, mengajari kesabaran dan mengharapkan pahalanya dari Allah swt. dengan meninggalkan musuh-musuhnya dalam keadaan seperti orang yang disesatkan setan, untuk kemudian memusuhi kebenaran dan penyerunya. Ia meninggalkan mereka dalam keadaan bingung, tidak mengetahui rahasia bertahannya para mujahid dalam menanggung berbagai derita ini, juga rahasia bagaimana mereka bisa tetap bertahan terus menerus berada di atas jalan kebenaran ini, juga sikap ukhuwah yang telah mempersembahkan berbagai sarana pendukungnya.

Wafa’ yang dilakukan oleh dua orang yang berukhuwah dalam Islam ini bermula dari kecintaan dan sifat mengutamakan orang lain [itsar]. Sejarah persaudaraan dalam Islam telah memuat banyak kisah tentang wafa’ ini di sepanjang lembarannya, mereka terus berukhuwah hingga sekarang, membuat keteladanan yang mengagumkan.

Di antara bentuk sikap wafa’ seorang muslim terhadap saudara muslimnya adalah hendaknya ia tetap konsisten dengannya, apapun yang terjadi, kecuali apabila ia mendapati saudaranya melakukan apa yang dilarang oleh Allah swt. Karena itu kita harus menasehatinya dengan beberapa etika sebagaimana yang telah dibahas. Memutuskan wafa’ terhadap saudara seiman berarti membantu setan dan pengikut-pengikutnya, karena setanlah yang menggoda untuk memutuskan wafa’. Tidaklah setan bertemu dengan dua orang yang bersaudara karena Allah, kecuali dia pasti akan berusaha untuk memisahkan keduanya, dengan membujuk salah satu dari keduanya untuk melakukan perbuatan dosa yang berkenaan dengan hak saudaranya. Allah swt. berfirman yang artinya: “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka.” (al-Israa’: 53)

Menafsirkan ayat ini al-Qurthubi berpendapat bahwa Allah swt. memerintahkan kepada orang-orang mukmin khususnya dalam berhubungan dengan sesama mereka, agar mereka bersopan santun, melunakkan pembicaraan, rendah hati, dan membuang godaan setan yang hendak menimbulkan perselisihan di antara mereka. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

Basyar berkata, “Apabila seorang hamba mengurangi ketaatan kepada Allah swt, Dia mengurangi darinya orang yang bisa menghiburnya. Ini disebabkan karena saudara-saudaranya seagama merupakan penghibur kesedihan dan penolong dalam berbagai urusan.”

Salah satu bentuk wafa’ seseorang terhadap saudaranya adalah, ia tidak mendengarkan gunjingan mengenai cacat sauaranya itu, mengenai haknya, anak-anaknya, dan keluarganya, karena mendengarkan hal itu bisa menimbulkan kebencian di hati seseorang terhadap saudaranya. Jangan sampai seseorang tertipu oleh orang lain yang menceritakan suatu cela dari saudaranya, pada awalnya menampakkan seolah-olah juga mencintai saudaranya itu, tetapi kemudian mencelanya dengan cara tidak langsung atau dengan sindiran.

Sikap wafa’ ini haruslah terus berlangsung hingga saudaranya itu meninggal dunia, setelah itu wafa’ diberikan kepada anak-anaknya, keluarganya, dan orang-orang yang mencintainya. Rasulullah saw. telah menjadi teladan mengenai wafa’ yang dilakukan setelah kematian. Hakim meriwayatkan dengan sanadnya dalam al-Mustadrak, dari Aisyah ra. ia berkata, “Suatu ketika Rasulullah saw. memuliakan seorang tua yang mendatanginya. Ketika ditanyakan kepada mengenai hal ini, beliau berkata, “sesungguhnya, baiknya persahabatan adalah bagian dari diin.” Dalam riwayat lain dikatakan, “Sesungguhnya, baiknya persahabatan adalah bagian dari iman.”

Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah ra. Nabi saw. bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia tidak menepati, jika dipercaya ia berkhianat.”

Muslim juga meriwaytkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. Rasulullah saw. bersabda, “Empat hal yang barangsiapa pada dirinya terdapat keempat hal itu, ia benar-benar seorang munafik sejati. Sedangkan barangsiapa pada dirinnya terdapat salah satu darinya, dalam dirinya terdapat salah satu dari sifat kemunafikan itu sampai ia meninggalkannya; apabila ia dipercaya ia berkhianat, apabila berbicara ia berbohong, apabila berjanji ia tidak menepati, dan apabila berperkara ia curang.”

Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Jabir ra. ia berkata bahwa Nabi saw. berkata kepadanya, “Jika kekayaan Bahrain telah datang, kuberikan kepadamu sekian, sekian, dan sekian [beliau membentangkan tanganya tiga kali]. Akan tetapi kekayaan dari Bahrain belum datang sampai Rasulullah saw. wafat. Ketika kekayaan Bahrain datang, Abu Bakar ra. menyuruh seseorang untuk berseru, ‘Barangsiapa mempunyai janji atau piutang yang menjadi tanggungan Rasulullah saw. hendaklah datang kepada kami.’ Maka Abu Bakar menumpahkan uang untukku begini dan begini. Aku menghitungnya, ternyata uang itu berjumlah lima ratus dirham. Ia berkata kepadaku, ‘Ambillah dua kali lipatnya lagi.’”

Kisah ini menunjukkan bahwa Abu Bakar melaksanakan janji yang pernah dibuat oleh Rasulullah saw.

&

Hak Seorang Musim untuk Diringankan Bebannya

16 Mar

Hak Seorang Musim untuk Diringankan Bebannya
Ukhuwah Islamiyah; Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Salah satu hak seorang muslim atas saudaranya seiman adalah hendaknya saudaranya itu meringankan bebannya dalam segala urusan. Ukhuwah dalam Islam adalah kelemah-lembutan, kasih sayang, dan cinta karena Allah. Ini semua tidak akan sesuai dengan konsep ukhuwah apabila seseorang menuntut saudaranya dengan apa yang memberatkannya.

Memperberat seorang muslim artinya membebaninya dengan sesuatu yang tidak mampu dilaksanakannya kecuali dengan sangat susah payah. Padahal Allah swt. sendiri berfirman yang artinya: “Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya.” (al-Baqarah: 286)

Membebani saudara sesama muslim dengan sesuatu yang tidak sanggup dipikulnya bisa membahayakan dirinya. Padahal Nabi saw. melarang melakukan tindakan yang membahayakan diri seorang mukmin. Ini tercantum dalam hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dengan sanadnya dari Abu Bakar ash-Shiddiq ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Terkutuklah orang yang membahayakan atau membuat tipu daya terhadap seorang mukmin.”

Apabila Allah swt tidak membebani kepada seseorang selain yang sesuai dengan kesanggupannya, apakah layak seorang muslim membebani saudaranya dengan sesuatu yang di luar kemampuannya atau memberatkannya?

Meringankan saudara seiman merupakan tuntutan syar’i yang dikuatkan oleh nash-nash Islam dari al-Qur’an dan sunnah Nabi yang suci. Meringankan beban sesama muslim memiliki beberapa etika yang harus dipenuhi, antara lain:

a. Tidak membebani dengan sesuatu yang memberatkan
b. Jangan sampai orang lain meminta untuk dipenuhi hak-haknya
c. Tidak meminta orang lain rendah hati kepadanya
d. Mempergauli saudaranya sesama muslim dengan bersahaja tanpa takalluf [memaksakan diri]
e. Hendaknya seorang muslim berprasangka baik kepada saudaranya, dengan memandangnya lebih baik daripada dirinya sendiri

&

Tidak Membebani Saudara Muslim dengan Sesuatu yang Memberatkan

16 Mar

Tidak Membebani Saudara Muslim dengan Sesuatu yang Memberatkan
Ukhuwah Islamiyah; Merajut Benang Ukhuwah Islamiyyah;
DR. Abdul Halim Mahmud

Seorang muslim yang faqih terhadap agamanya tidak pernah meminta kepada orang lain sesuatu yang memberatkannya, apalagi kepada saudaranya sesama muslim. Lebih dari itu, ia juga semestinya tidak meminta kepada saudaranya sesama muslim bantuan yang dia sendiri tidak bisa mewujudkan atau melakukannya, karena itu merupakan kesempurnaan cinta, bahkan semestinya ia mendahulukan kepentingan saudaranya dibanding dirinya sendiri.

Orang-orang terhormat dan para pemilik akhlak yang mulia, menolak untuk memberikan tugas atau beban kepada seorang pun, baik menyangkut urusan materi maupun lainnya, selama mereka sendiri mampu memikulnya dan mampu bersabar menanggung berbagai resikonya.

Salah satu perilaku muslim adalah, hendaknya ia tidak meminta sesuatu pun kepada seorang pun. Itu merupakan etika kenabian.

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dengan sanadnya, bahwa Nabi saw. tidak pernah meminta sesuatu pun kepada orang lain dan tidak pula menolaknya.

Membebani orang lain dengan sesuatu yang memberatkan mereka, atau dengan sesuatu yang bahkan tidak memberatkan mereka sekalipun, terkadang membuat orang lain itu malas melaksanakannya, lalu minta bantuan atau menyewa orang lain untuk itu. Memang pada dasarnya, seorang muslim haruslah menjaga dirinya dari kehinaan meminta-minta, baik berupa materi maupun nonmateri. Itu bisa dipahami dari sabda Nabi saw:

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Sa’id al-Khudri ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa berusaha memelihara diri, niscaya Allah akan memeliharanya.”

Yang dimaksud dengan memelihara diri dalam hadits ini adalah menjauhkan diri dari meminta-minta, apapun bentuknya. Sikap demikian inilah yang dinamakan dengan ta’afuf.

Salah satu bentuk penghormatan seorang muslim kepada saudaranya sesama muslim adalah, ia tidak meminta sesuatu pun dari saudaranya. Sebaliknya ia berusaha segera memberi sesuatu, baik berupa pekerjaan maupun materi, jika merasa bahwa ia membutuhkannya. Jika yang demikian saja merupakan salah satu etika dalam meringankan beban saudara sesama muslim, maka bagaimanakah pendapat anda tentang seseorang yang membebani saudaranya untuk menyelesaikan kepentingannya hingga harus begadang semalaman? Perlakukan seperti ini dapat dikategorikan sebagai “mempekerjakan sesama muslim”. Ini tidak boleh dan tidak patut dilakukan, kecuali [tentu saja] dalam keadaan tertentu yang bisa dipahami bersama-sama.

Ibrahim bin Adham pernah mengatakan satu ungkapan yang baik tentang ini, “Meminta kepada orang lain adalah tabir yang membatasi dirimu dengan Allah swt. Karena itu hendaklah engkau adukan urusanmu kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkanmu, tanpa yang lain, dan engkau akan hidup bahagia.”

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 144-148

16 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 144-148“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS.3:144) Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepada-nya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. 3:145) Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Merekatidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka dijalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (QS. 3:146) Tidak ada do’a mereka selain ucapan: “Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami,dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (QS. 3:147) Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. 3:148)

Setelah kaum muslimin mengalami kekalahan dalam perang Uhud dan adanya beberapa orang dari mereka yang terbunuh, syaitan berseru: “Ketahuilah, bahwa Muhammad telah terbunuh.” Ibnu Qami-ah kembali menemui orang-orang musyrik seraya berkata: “Aku telah berhasil membunuh Muhammad.” Padahal sebenarnya ia hanya memukul Rasulullah dan sedikit terluka di kepalanya. Peristiwa itu sempat menggoncangkan hati banyak orang dan bahkan mereka berkeyakinan bahwa Rasulullah telah terbunuh. Dalam keadaan seperti itu mereka beranggapan mungkin saja hal itu terjadi pada Rasulullah sebagaimana Allah telah menceritakan ihwal para Nabi yang terdahulu sehingga hal itu mengakibatkan terjadinya kelemahan, ketakutan dan keengganan melanjutkan perang. Pada saat itulah Allah menurunkan firman-Nya: wa maa Muhammadun illaa rasuulun qad khalat min qab-liHir rusulu (“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul.”) Artinya, Nabi Muhammad mengikuti contoh para Nabi dalam kerasulan dan ke-mungkinan terbunuh.

Ibnu Abi Najih berkata dari ayahnya, ada seseorang dari kaum Muhajirin yang telah lewat di hadapan seorang dari kaum Anshar yang bersimbah darah. Lalu ditanyakan kepadanya: “Hai fulan, apakah kamu merasa Rasulullah telah terbunuh?” Orang Anshar itu menjawab: “Jika Muhammad telah terbunuh, berarti ia telah menyampaikan risalahnya. Maka berperanglah kalian demi membela agama kalian.” Lalu turunlah ayat, wa maa Muhammadun illaa rasuulun qad khalat min qab-liHir rusulu (“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul.”)

Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi dalam kitab “Dalaa-ilun Nubuwwah.”

Kemudian Allah swt. berfirman mengingkari orang-orang yang terpengaruh sehingga menjadi lemah. Afa im maata au qutilanqalabtum ‘alaa a’qaabikum (“[Apakah] jika ia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang [murtad]?”) Artinya, kalian akan mundur kebelakang. Wa may yanqalibu ‘alaa ‘aqibaiHi falay yadlurrullaaHa syai-aw wa sayaj-zillaaHusy syaakiriin (“Barangsiapa yang berbalik ke belakang maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”) Yakni, orang-orang yang teguh dalam menjalankan ketaatan dan berperang untuk membela agama-Nya serta mengikuti Rasul-Nya, baik di saat beliau masih hidup maupun setelah wafat.

Hal itu telah ditegaskan dalam beberapa kitab shahih, musnad maupuns unan serta buku-buku Islam lainnya melalui sumber yang berbeda-beda, yang kesemuanya menunjukkan kebenaran informasinya. Hal itu juga disebutkan dalam Musnad Abu Bakar ash-Shiddiq dan ‘Umar bin al-Khaththab bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq membaca ayat ini ketika Rasulullah meninggal dunia.

Imam al-Bukhari meriwayatkan, bahwa ‘Aisyah ra. memberitahukan, Abu Bakar bertolak dengan cepat, ia mengendarai kuda dari tempat tinggalnya hingga akhirnya sampai dan ia pun masuk masjid. Ia tidak berbicara dengan seorang pun hingga ia masuk menemui ‘Aisyah. Lalu Abu Bakar menuju jenazah Rasulullah yang masih dalam keadaan di tutup kain berwarna hitam. Kemudian ia menyingkap kain dari wajah beliau, lalu menundukkan wajahnya dan menciuminya, ia pun menangis seraya berkata, “Demi ayah dan ibuku. Demi Allah, Allah tidak akan menyatukan dua kematian pada dirimu. Adapun kematian yang telah ditetapkan bagimu telah engkau jalani.”

Az-Zuhri berkata, Abu Salamah telah menceritakan kepadaku dari Ibnu ‘Abbas bahwa Abu Bakar keluar, sementara ‘Umar sedang berbicara kepada khalayak. Kemudian Abu Bakar berkata: “Duduklah, wahai ‘Umar.” Lalu Abu Bakar berkata: “Amma Ba’du. Barangsiapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa menyembah Allah, maka Allah itu senantiasa hidup dan tidak akan pernah mati.”

Selanjutnya Abu Bakar menegaskan bahwa Allah berfirman: wa maa Muhammadun illaa rasuulun qad khalat min qab-liHir rusulu Wa may yanqalibu ‘alaa ‘aqibaiHi falay yadlurrullaaHa syai-aw wa sayaj-zillaaHusy syaakiriin (“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul. Sungguh telah berlalu se-belumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika is wafat atau dibunuh, kamu ber-balik ke belakang [murtad]? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”)

Az-Zuhri berkata: “Demi Allah, seolah-olah orang-orang tidak mengetahui bahwa Allah telah menurunkan ayat ini sehingga Abu Bakar membacakannya kepada mereka. Maka orang-orang pun membaca ayat ini dari Abu Bakar. Sehingga setiap orang mendengar membaca ayat ini.

Sa’id bin al-Musayyab juga pernah memberitahukan kepadaku bahwaUmar bin al-Khaththab berkata (ketika Rasulullah wafat): “Demi Allah, tidaklah hal itu terjadi, melainkan setelah aku mendengar Abu Bakar, maka aku pun berdiri terpaku sehingga kedua kakiku lemas, dan akhirnya aku jatuh ke tanah.”

Firman Allah: wa maa kaana linafsin an tamuuta illaa bi-idznillaaHi kitaabam mu-ajjalan (“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.”) Artinya, tidak ada seorang pun di dunia ini yang meninggal dunia melainkan menurut takdir Allah dan sampai ia memenuhi waktu yang telah ditetapkan Allah Ta’ala baginya.

Oleh karena itu, Allah berfirman: kitaabam muajjalan (“Sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.”) Ayat ini memberikan motivasi bagi para pengecut dan dorongan bagi mereka untuk berperang, karena maju berperang atau mundur darinya tidak akan mengurangi atau menambah umur. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Habib bin Zhabiyan, ia berkata, ada seorang muslim, yaitu Hujr bin ‘Adi berkata: “Apa yang menghalangi kalian untuk menyeberangi sungai Tigris ini untuk menemui musuh-musuh itu. Tidaklah jiwa seseorang itu mati kecuali dengan seizin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.” Setelah itu, ia langsung menepuk kudanya menyeberangi sungai Tigris. Ketika ia melakukan itu, orang-orangpun mengikutinya. Pada saat musuh mengetahui kedatangan mereka, musuhpun berteriak, maka mereka pun lari ke belakang.

Firman-Nya, wa may yurid tsawaabad dun-yaa nu’tiHi minHaa wa may yurid tsabaabal aakhirati nu’tiHi minHaa (“Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu. Dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan pula kepadanya pahala akhirat.”) Artinya, barangsiapa yang perbuatannya dimaksudkan untuk tujuan duniawi, maka ia akan memperolehnya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Allah, baginya dan di akhirat kelak ia tidak akan mendapatkan apa-apa. Dan barangsiapa yang dengan amalnya ia bermaksud mendapatkan pahala akhirat, maka Allah akan memberikannya dan juga mem-berikan bagian dari dunia kepadanya.

Sebagaimana Allah swt. telah berfirman yang artinya: “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya Neraka Jahannam; Ia memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, makamereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al-Israa’ :18-19)

Oleh karena itu, di sini Dia berfirman, wa sanajzisy syaakiriin (“Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”) Maksudnya, Kami akan memberikan karunia dan rahmat, di dunia dan di akhirat sesuai dengan rasa syukur dan amal mereka.

Selanjutnya Allah berfirman menghibur orang-orang yang beriman atas apa yang telah menimpa mereka kepada pada perang Uhud, wa ka ayyim min nabiyyin qaatala ma’aHuu ribbiyyuna katsiirun (“Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut [nya] yang bertakwa.”) Ada yang mengatakan, artinya, berapa banyak Nabi yang terbunuh bersama sejumlah besar Sahabat mereka. Pendapat tersebut menjadi pilihan Ibnu Jarir, sebab ia berkata: wa ka ayyim min nabiyyin qaatala ma’aHuu ribbiyyuna katsiirun “Adapun orang-orang yang membaca, “wa ka ayyim min nabiyyin qutila ma’aHuu ribbiyyuna katsiirun” (Berapa banyak Nabi yang terbunuh bersama sejumlah besar Sahabat mereka), karena mereka berpendapat bahwa yang dimaksud dengan terbunuhnya Nabi dan sebagian Sahabat yang ikut bersamanya adalah bukan seluruhnya. Sedangkan peniadaan lemah itu ditujukan kepada para pengikutnya yang tidak terbunuh.” Lebih lanjut ia berkata: “Orang yang membaca: qaatala (berperang), ia memilih hal tersebut karena ia berkata: `Seandainya mereka terbunuh, maka tidak akan ada firman Allah: fa maa waHanuu, (Mereka tidak menjadi lemah). “Yang demikian itu jelas, karena suatu hal yang mustahil bahwa mereka disifati dengan tidak menjadi lemah setelah mereka terbunuh.

Kemudian Ibnu Jarir memilih bacaan orang yang membaca, wa ka ayyim min nabiyyin qutila ma’aHuu ribbiyyuna katsiirun (“Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut [nya] yang bertakwa.”) Karena dengan ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya, Allah swt. mencela orang-orang yang kalah pada perang Uhud dan meninggalkan medan peperangan ketika mereka mendengar seseorang yang berteriak bahwa Muhammad saw. telah meninggal.

Maka Allah mencela mereka lantaran mereka melarikan diri dan meninggalkan medan perang.

Selanjutnya Allah berfirman kepada mereka: a fa im maata au qutila (“Apakah jika ia wafat atau dibunuh,”) wahai orang-orang yang beriman, kalian akan murtad dari agama kalian, serta: inqalabtum ‘alaa a’qaabikum (“kalian berbalik kebelakang?”)

Ada yang mengatakan, berapa banyak Nabi yang dibunuh di hadapan para pengikutnya.

Ada yang mengartikan “ribbiyyuuna” dengan beribu-ribu, sedangkan Ibnu Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah, al-Hasan al-Bashri, as-Suddi, ar-Rabi’ dan ‘Atha’ al-Khurasani berkata, “ribbiyyuuna” artinya jumlah yang besar.

Abdurrazzaq berkata dari Ma’mar, dari al-Hasan al-Bashri artinya ulama yang banyak. Dan masih dari al-Hasan al-Bashri, artinya adalah ulama yang sabar, yaitu baik dan bertakwa.

Firman Allah: fa maa waHanuu limaa ashaabaHum fii sabiilillaaHi wa maa dla’ufuu wa mastakaanuu (“Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah dan tidak lesu serta tidak pula menyerah [kepada musuh].”

Qatadah dan ar-Rabi’ bin Anas berkata: wa maa dla’ufuu (“Mereka tidak lesu”) atas kematian Nabi mereka, Sedangkan mengenai firman-Nya, wa mastakaanuu (“Serta tidak pula menyerah,”) Qatadah berkata, mereka tidak mundur dari usaha memenangkan perang dan membela agama mereka. Tetapi mereka terus memerangi apa yang diperangi Nabiyyullah sehingga mereka menghadap Allah (menemui ajal).

Mengenai firman-Nya: wa mastakaanuu (“Serta tidak pula menyerah,”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Artinya mereka tidak berdiam diri.” Sedangkan Ibnu Zaid berkata: “Mereka tidak bertekuk lutut di hadapan musuh mereka.”

wallaaHu yuhibbush shaabiriina wa maa kaana qaulaHum illaa an qaaluu rabbanaghfirlanaa dzunuubanaa wa israafanaa fii amrinaa wa tsabbit aqdaamanaa wanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin (“Allah swt. menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do’a mereka selain ucapan, ‘Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, serta tolonglah kami terhadap kaum yang kajir.’”) Artinya, mereka tidak memiliki sikap kecuali sikap tersebut. Fa aataaHumullaaHu tsawaabad dun-yaa (“Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala dunia.”) Yaitu, pertolongan, kemenangan dan kesudahan yang baik. Wa husna tsawaabil aakhirati (“Dan pahala yang baik di akhirat.”) Yakni, pahala dunia itu digabungkan dengan pahala akhirat.

wallaaHu yuhibbul muhsiniin (“Allah menyukai orang-orang berbuat kebaikan.”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 137-143

16 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 137-143“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karenaitu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (para Rasul). (QS. 3:137) (Al-Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. 3:138) Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS.3:139) Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim, (QS. 3:140) dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir. (QS. 3:141) Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS. 3:142) Sesungguhnya kamu mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu mengbadapinya; (sekarang) sungguh kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya.” (QS. 3:143)

Ketika orang-orang yang beriman mendapatkan musibah pada perang Uhud. Di mana ada 70 (tujuh puluh) orang yang terbunuh, Allah memberitahukan kepada mereka seraya berfirman, “Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah.” Maksudnya, yang demikian itu juga berlaku pada umat-umat sebelum kalian, yaitu pengikut para Nabi. Setelah itu, kesudahan yang baik adalah untuk kalian dan kesudahan yang buruk menimpa kepada orang-orang kafir.

Oleh sebab itu Allah berfirman, fasiiruu fil ardli fandhuruu kaifa kaana ‘aaqibatul mukadzdzibiin (“Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan [para Rasul]. ”

Kemudian Allah berfirman, Haadzaa bayaanul linnaasi (“Ini adalah penjelasan bagi seluruh manusia.”) Yakni al-Qur’an yang di dalamnya terdapat penjelasan mengenai berbagai hal yang sangat jelas, serta bagaimana keadaan umat-umat terdahulu dan juga musuh-musuh mereka. Wa Hudaw wa mau’idhatun (“Dan petunjuk serta pelajaran.”) Yakni, di dalam al-Qur’an itu terdapat berita tentang orang-orang sebelum kalian dan petunjuk bagi hati kalian sekaligus pelajaran, yaitu pencegahan terhadap hal-hal yang diharamkan dan perbuatan dosa.

Kemudian Allah menghibur kaum muslimin dengan berfirman, wa laa taHinuu (“Janganlah kamu bersikap lemah.”) Artinya, janganlah kalian melemah akibat peristiwa yang telah terjadi itu.” Wa laa tahzanuu wa antumul a’launa in kuntum mu’miniin (“Dan jangan pula kamu bersedih hati, padahal kamu adalah orang-orang yang paling tinggi [derajatnya], jika kamu orang-orang yang beriman.”) Maksudnya, bahwa kesudahan yang baik dan pertolongan hanya bagi kalian, wahai orang-orang yang beriman.

Firman-Nya: iy yamsaskum qarhun faqad massal qauma qarhum mitsluHu (“Jika kamu [pada perang Uhud] mendapat luka, maka sesungguhnya kaum [kafr] itupun [pada perang Badar] mendapat luka yang serupa.”) Artinya, jika kalian menderita luka dan beberapa orang di antara kalian gugur, maka luka dan kematian itu juga telah menimpa musuh-musuh kalian, yaitu tidak berapa lama sebelumnya.

Wa tilkal ayyaamu nudaawiluHaa bainan naasi (“Dan masa [kejayaan dan kehancuran] itu,Kami pergilirkan di’antara manusia [agar mereka mendapat pelajaran].” Maksud-Nya, suatu saat Kami pergilirkan kemenangan itu bagi musuh-musuh kalian, meskipun kesudahan yang baik tetap berada pada kalian. Karena dalam hal tersebut terdapat hikmah.

Oleh karena itu, Allah berfirman: wa liya’lamal ladziina aamanuu (“Dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman [dengan orang-orang kafr].”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Dalam kasus seperti ini kita akan menemukanorang-orang yang sabar dalam melawan musuh.” Wa yattakhidza minkum syuHadaa-a (“Dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya [gugur sebagai] syuhada.’”) Yaitu, mereka yang terbunuh di jalan Allah dan mereka telah menumpahkan darah mereka untuk mencari keridhaan-Nya.

wallaaHu laa yuhibbudh dhaalimiina wa liyumah-hishal ladziina aamanuu (“Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim. Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman [dari dosa mereka].”) Artinya, dosa-dosa mereka akan dihapuskan, jika mereka telah berbuat dosa, dan jika tidak maka akan ditinggikan derajat mereka sesuai dengan apa yang telah menimpa mereka.

Dan firman-Nya, wa yamhaqal kaafiriin (“Dan membinasakan orang-orang yang kafir.”) Artinya, jika orang-orang kafir itu menang, maka mereka melewati batas dan sombong. Sehingga kedua hal itu menyebabkan mereka hancur binasa.

Setelah itu Allah berfirman: am hasibtum an tadkhulul jannata wa lammaa ya’lamillaaHul ladziina jaaHaduu minkum wa ya’lamash shaabiriin (“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata pula orang-orang yang sabar.”)

Maksudnya, apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk Surga, padahal kalian belum diuji dengan peperangan dan berbagai penderitaan. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah yang artinya:
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelummu. Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan).” (QS. Al-Baqarah: 214)

Oleh karena itu, di sini Allah berfirman: am hasibtum an tadkhulul jannata wa lammaa ya’lamillaaHul ladziina jaaHaduu minkum wa ya’lamash shaabiriin (“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata pula orang-orang yang sabar.”) Artinya, kalian tidak akan masuk Surga sehingga kalian diuji dan nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di jalan-Nya dan orang-orang yang sabar dalam melawan musuh.

Firman-Nya, wa laqad kuntum tamannaunal mauta min qabli an talqauHu faqad ra-aitumuuHu wa antum tandhuruun (“Sesungguhnya kamu mengharapkan mati [syahid] sebelum kamu menghadapinya. [Sekarang] sungguh kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya.”) Maksudnya, kalian wahai orang-orang yang beriman, sebelum hari ini telah berharap dapat berhadapan dengan musuh serta berkeinginan untuk mengalahkan dan memerangi mereka. Kini telah sampai pada kalian apa yang kalian harap-harapkan. Karenanya, perangilah musuh-musuh kalian dan bersabarlah.

Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim telah diriwayatkan, bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian berharap bertemu dengan musuh. Mohonlah keselamatan kepada Allah. Tetapi jika kalian bertemu dengan mereka, maka bersabarlah dan ketahuilah bahwa Surga itu berada di bawah naungan pedang.”

Oleh karena itu, Allah berfirman: faqad ra-aitumuuHu (“[Sekarang] sungguh kamu telah melihatnya.”) Yaitu, kematian yang kalian saksikan pada saat tajamnya mata pedang, tombak-tombak yang berbaur dan barisan pasukan yang saling bertempur. Kalangan mutakallimun (ahli kalam) mengibaratkan ini dengan pembayangan, yaitu penyaksian sesuatu yang abstrak seperti yang kongkrit, sebagaimana terbayangkannya biri-biri dapat bersahabat dengan kambing dan bermusuhan dengan serigala.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 130-136

16 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 130-136“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. 3:130). Dan peliharalah dirimu dari api Neraka, yang disediakan untuk orang-orang kafir. (QS. 3:131). Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. (QS. 3:132). Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (QS.3:133). (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. 3:134). Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. 3:135). Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Rabb mereka dan Surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. 3:136)

Melalui firman-Nya di atas, Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman melakukan riba dan memakannya dengan berlipat ganda. Sebagaimana pada masa Jahiliyyah dulu mereka mengatakan: “Jika hutang sudah jatuh tempo ,maka ada dua kemungkinan; dibayar atau dibungakan. Jika dibayar, maka selesai sudah urusan. Dan jika tidak dibayar, maka ditetapkan tambahan untuk jangka waktu tertentu dan kemudian ditambahkan pada pinjaman pokok.” Demikian seterusnya pada setiap tahunnya. Mungkin jumlah sedikit bisa berlipat ganda menjadi banyak.

Dan Allah memerintahkan hamba hamba Nya untuk bertakwa agarmereka beruntung di dunia dan di akhirat.

Selanjutnya Allah mengancam dan memperingatkan dari api Neraka: wattaqun naaral lataii u-‘iddat lil kaafiriin. Wa athii’ullaaHa war rasuulaHuu la’allakum turhamuun (“Dan peliharalah dirimu dari api Neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.”)

Kemudian Allah menganjurkan agar mereka segera berbuat baik dan mendekatkan diri kepada-Nya. Allah berfirman: wa saari’uu ilaa maghfiraatim mir rabbikum wa jannatin ‘ardluHas samaawaatu wal ardlu u-‘iddat lilmuttaqiin (“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”) Maksudnya, sebagaimana telah disediakan Neraka bagi orang-orang kafir.

Ada yang mengatakan bahwa firman Allah: jannatin ‘ardluHas samaawaatu wal ardlu (“Surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”) dimaksudkan sebagai kabar akan keluasan Surga tersebut. Sebagaimana firman-Nya yang mensifati perlengkapan Surga, “Yang sebelah dalamnya terbuat dari sutera.” (QS. Ar-Rahmaan: 54) Lalu bagaimana dugaan anda mengenai bagian luarnya?

Ada juga yang mengatakan bahwa lebarnya lama dengan panjangnya, karena ia berbentuk kubah yang berada di bawah `Arsy. Dan sesuatu yang berbentuk seperti kubah dan bundar itu mempunyai lebar yang sama dengan panjangnya.

Hal seperti itu telah ditegaskan dalam hadits shahih: “Jika kalian memohon Surga kepada Allah, maka mintalah Surga Firdaus, karena ia adalah Surga yang paling tinggi dan paling tengah. Darinya mengalir sungai-sungai Surga, sedang atapnya adalah ‘Arsy ar-Rahmaan.”

Ayat ini seperti firman-Nya pada surat al-Hadiid: saabiquu ilaa maghfiratim mirrabbikum wa jannatin ‘ardluHaa ka-‘ardlis samaa-i wal ardli (“Berlomba-lombalah kamu untuk [mendapatkan] ampunan dari Rabb-mu dan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”) (QS. Al-Hadiid: 21).

Dalam Musnad Imam Ahmad telah diriwayatkan bahwa Heraclius pernah mengirimkan surat kepada Nabi, yang isinya: “Engkau telah mengajakku ke Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, lalu di mana letak Neraka?” Maka Nabi saw. pun menjawab: “Mahasuci Allah, lalu di mana malam jika siang telah tiba?” Maksudnya ialah, bahwa waktu siang itu jika telah me-nutupi permukaan bumi dari satu sisinya, maka malam berada di sisi yang lain. Demikian juga dengan Surga, yang berada di tempat yang paling tinggi, di atas langit dan di bawah ‘Arsy, dan luasnya seperti yang difirmankan-Nya,”Seluas langit dan bumi.” Sedangkan Neraka berada ditempat yang paling bawah. Dengan demikian, tidak ada pertentangan antara keluasan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi dengan keberadaan Neraka. Wallahu a’lam.

Selanjutnya Allah menyebutkan sifat para penghuni Surga. Firman: alladziin ayunfiquuna fis sarraa-i wadl-dlarraa-i (“Yaitu orang-orang yang menafkahkan [harta-nya], baik pada waktu lapang maupun sempit.”) Yakni, pada waktu susah dan senang, dalam keadaan suka maupun terpaksa, sehat maupun sakit dan dalam seluruh keadaan, sebagaimana firman-Nya, alladziina yunfiquuna amwaalaHum bil laili wan naHaari sirraw wa ‘alaa niyyatan (“Orang-orang yang menginfakkan harta-nya pada malam dan siang hari, secara rahasia maupun terang-terangan.”) (QS.Al-Baqarah: 274) Artinya, mereka tidak disibukkan oleh sesuatu pun untuk berbuat taat kepada Allah, berinfak di jalan-Nya dan juga berbuat baik dengan segala macam kebajikan, baik kepada kerabat maupun kepada yang lainnya.

Dan firman-Nya, wal kaadhimiinal ghaidha wal ‘aafiina ‘anin naasi (“Dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan [kesalahan] orang.”) Artinya, jika mereka marah, maka mereka menahannya, yakni menutupinya dan tidak melampiaskannya. Selain itu mereka pun memberikan maaf kepada orang-orang yang berbuat jahat kepadanya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Nabi saw. bersabda: “Orang yang kuat itu bukan terletak pada kemampuan berkelahi, tetapi orang yang kuat itu adalah yang dapat mengendalikan diri ketika sedang marah.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Malik bin Anas.

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Siapakah di antara kalian yang harta pewarisnya lebih ia cintai daripada hartanya sendiri?” Para Sahabat menjawab: “Ya Rasulullah, tidak seorang pun dari kami melainkan hartanya lebih ia cintai daripada harta pewarisnya.” Kemudian beliau bersabda: “Ketahuilah, bahwasanya tidak ada seorang pun dari kalian melainkan harta pewarisnya lebih ia cintai daripada hartanya sendiri. Engkau tidak mendapatkan apa-apa dari hartamu itu melainkan apa yang telah engkau berikan dan pewarismu tidak mendapatkan apa-apa kecuali harta yang engkau tinggalkan.” Dan Rasulullah saw. juga bersabda: “Siapakah orang yang paling kuat di antara kalian?” Mereka menjawab: “Yaitu orang yang tidak seorang pun berani menantangnya berkelahi.” Beliau pun ber-sabda:
“Bukan, tetapi orang kuat adalah yang dapat mengendalikan dirinya ketika sedang marah.”

Ibnu Mas’ud juga meriwayatkan, Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian, siapakah ar-raquub (orang yang mandul) itu?” Mereka men-jawab: “Yaitu orang yang tidak mempunyai anak.” Beliau pun bersabda: “Bukan, tetapi ar-raquub adalah orang yang tidak mendapatkan manfaat (hasil apa pun) dari anaknya.”

Al-Bukhari meriwayatkan bagian pertama dari hadits tersebut. Dan awal hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari al-A’masy.

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Hishbah atau Ibnu AbiHushain, dari seseorang yang menyaksikan Nabi ketika beliau sedang ber-khutbah, beliau bersabda: “Tahukah kalian siapakah sha’luk (orang yang miskin) itu?” Para Sahabat men-jawab: “Yaitu orang yang tidak mempunyai harta kekayaan.” Maka beliau pun bersabda: “Orang yang miskin adalah orang yang mempunyai harta lalu meninggal dunia, sedangkan ia tidak pernah memberikan sesuatu pun dari harta-nya tersebut.”

Imam Ahmad meriwayatkan pula dari salah seorang Sahabat Nabi saw. ia berkata, ada seseorang berkata: “Ya Rasulullah, berikanlah wasiat kepadaku.” Maka beliau bersabda: “Jangan marah.” Orang itu berkata, “Lalu kurenungkan perkataan beliau itu, ternyata (benarlah, bahwa) marah itu menghimpun seluruh macam keburukan.”

Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Bukhari.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzarr, ia berkata, ketika ia sedang mengairi air ke suatu kolamnya, lalu datang suatu kaum dan berkata: “Siapa di antara kalian yang berani mendekati Abu Dzarr dan menghitung beberapa rambut kepalanya?” Lalu ada seseorang yang menjawab: “Aku.” Maka orang itu pun mendatangi kolam itu dan memukulnya. Pada saat itu Abu Dzarr sedang berdiri, lalu duduk dan kemudian berbaring. Maka ditanyakan kepada-nya: “Wahai Abu Dzarr, mengapa engkau duduk, kemudian berbaring?” Maka ia menjawab: “Sesungguhnya Rasulullah pernah menyampaikan kepada kami, “Jika salah seorang di antara kalian marah sedang pada saat itu ia dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk. Namun jika tidak hilang juga marahnya maka hendaklah ia berbaring.” (Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dari Ahmad bin Hanbal).

Imam Ahmad meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Khalid, telah menceritakan kepada kami Abu Wa-il ash-Shan’ani, ia berkata, kami pernah duduk-duduk di tempat `Urwah bin Muhammad, tiba-tiba seseorang masuk menemuinya dan berkata dengan kata-kata yang membuatnya marah, ketika hendak marah ia berdiri dan kembali kepada kami dalam keadaan sudah berwudhu. Lalu ia berkata: “Ayahku menceritakan kepadaku dari kakekku, `Athiyyah Ibnu Sa’ad as-Sa’di -salah seorang Sahabat Rasululah, ia berkata, Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya marah itu dari syaitan dan sesungguhnya syaitan itu dicipta-kan dari api, dan api itu hanya dapat dipadamkan dengan air. Karenanya, jika salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah ia berwudhu.” Demikian pula niwayat Abu Dawud.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang menangguhkan penagihan terhadap orang yang dalam kesulitan atau bahkan membebaskannya, maka Allah akan melindunginya dari golakan api Neraka Jahannam. Ketahuilah bahwa amalan menuju Surga itu berat dan penuh rintangan.” -Beliau mengulangi ungkapan ini hingga tigakali.- “Dan ketahuilah bahwa amalan menuju Neraka itu ringan dan penuh kemudahan. Orang yang berbahagia adalah yang dipelihara dari fitnah-fitnah. Dan tiada suatu tegukan yang lebih dicintai Allah daripada tegukan amarah yang ditahan seorang hamba karena Allah. Tiada seorang hamba yang menahan amarah karena Allah melainkan Allah akan memenuhi hatinya dengan iman.”

Hadits di atas hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan ia isadnya hasan, tidak ada seorang pun yang tercela serta matannya pun hasan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Said bin Mu’adz bin Arias, dari ayahnya, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu untuk menumpahkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan para pemimpin makhluk, lalu Allah memberinya kebebasan untuk memilih bidadari mana yang ia sukai.”

HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi berkata: “Haditsini hasan gharib.”

Firman-Nya, wal kaadhimiinal ghaidha (“Dan orang-orang yang menahan amarahnya.”) Artinya mereka tidak melampiaskan kemarahannya kepada orang lain, tetapi sebaliknya, mereka menahannya dengan mengharap pahala di sisi Allah. Kemudian firman-Nya, wal ‘aafiina ‘anin naasi (“Serta memaafkan [kesalahan] orang.”) Artinya, di samping menahan amarah, mereka memberi maaf kepada orang-orang yang telah menzhalimi mereka, sehingga tidak ada sedikit pun niat dalam diri mereka untuk balas dendam kepada seseorang. Keadaan itu adalah keadaan yang paling sempurna.

Oleh karena itu Allah berfirman, wallaaHu yuhibbul muhsiniin (“Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”) Ini merupakan salah satu maqam (tingkatan) ihsan. Dalam kitab al-Mustadrak, al-Hakim meriwayatkan dari `Ubadah bin ash-Shamit dari Ubay bin Ka’ab, bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang ingin dimuliakan tempat tinggalnya dan ditinggikan derajatnya, maka hendaklah ia memberi maaf kepada orang yang telah menzhalimi-nya, memberi orang yang tidak mau memberi kepadanya dan menyambung tali silaturahmi kepada orang yang memutuskannya.”

Al-Hakim berkata, hadits ini shahih sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim, tetapi keduanya tidak mengeluarkannya. Hadits senada juga di-riwayatkan oleh Ibnu Mardawaih.

Dan firman-Nya, wal ladziina idzaa fa’aluu faahisyatan au dhalamuu anfusaHum dzakarullaaHa fastaghfaruu lidzunuubiHim (“Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu mereka memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.”) Maksudnya, jika berbuat dosa, maka segera bertaubat dan memohon ampunan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah. bahwa Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya ada seseorang berbuat dosa lalu ia berkata: `Ya Rabb-ku, aku telah melakukan perbuatan dosa, maka ampunilah dosaku itu.’ Maka Allah swt. berfirman: `Hamba-Ku telah berbuat dosa, dan ia mengetahui bahwa ia mempunyai Rabb yang dapat mengampuni dosa dan memberikan hukuman karenanya. Sungguh Aku telah berikan ampunan kepada hamba-Ku itu.’ Kemudian orang itu berbuat dosa lagi, maka ia berkata: `Ya Rabb-ku, aku telah melakukan suatu dosa, maka ampunilah dosaku itu.’ Maka Allah swt. berfirman: `Hamba-Ku mengetahui bahwa ia mempunyai Rabb yang dapat mengampuni dosa dan memberikan hukuman karenanya. Sungguh Aku telah berikan ampunan kepada hamba-Ku itu.’ Setelah itu ia berbuat dosa lagi, lalu ia berkata: `Ya Rabb-ku, aku telah melakukan suatu dosa, maka ampunilah dosaku itu.’

Maka Allah swt. berfirman: `Hamba-Ku mengetahui bahwa ia mempunyai Rabb yang dapat mengampuni dosa dan memberi hukuman karenanya. Sungguh Aku telah berikan ampunan kepada hamba-Ku itu’. Kemudian orang itu ber-buat dosa lagi, maka ia berkata: `Ya Rabbku, aku telah melakukan suatu dosa, maka ampunilah dosaku itu.’ Maka Allah berfirman: `Hambaku mengetahui bahwa ia mempunyai Rabb yang dapat mengampuni dosa dan memberikan hukuman karenanya. Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni hamba-Ku, maka ia pun boleh berbuat sesukanya (menurut ketentuan syariat).’” (Diriwayatkan pula oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih mereka).

Imam Ahmad meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Abun-Nadhr dan Abu `Amir, mereka berdua berkata, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Sa’ad at-Tha-i, telah menceritakan kepada kami Abul Madlah maula Ummul Mukminin, ia pernah mendengar Abu Hurairah ra. berkata; Kami berkata: “Ya Rasulullah, jika kami melihatmu, maka hati kami menjadi lembut, dan seolah-olah kami telah termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang hidup untuk akhirat. Tetapi jika kami berpisah darimu, maka kami diragukan oleh dunia, kami pun menciumi isteri-isteri dan anak-anak kami.” Maka beliau bersabda: “Seandainya kalian pada setiap saat seperti pada saat kalian berada di sisiku, niscaya para Malaikat akan menyalami kalian dengan telapak tangan mereka dan mengunjungi kalian di rumah-rumah kalian. Dan seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa untuk diberikan ampunan.” Kami tanyakan lagi: “Ya Rasulullah, ceritakan kepada kami mengenai Surga, bagaimanakah bangunannya?” Beliau menjawab: “Batu-batanya terbuat dari emas dan perak, cat pewarnanya terbuat dari minyak kesturi yang sangat harum, kerikil-kerikilnya berasal dari mutiara dan permata hijau, tanahnya berupa minyak za’faran. Barangsiapa memasukinya, akan merasakan kenikmatan dan tidak akan sengsara, kekal dan tidak akan pernah mati, pakaiannya tidak akan rusak, dan keremajaannya tidak punah. Ada tiga orang yang tidak akan ditolak do’anya, yaitu (do’a) pemimpin yang adil, do’a orang berpuasa sehingga ia berbuka dan do’a orang yang dizhalimi itu dibawa di atas awan dan dibukakan baginya pintu-pintu langit. Maka Allah akan berkata kepadanya: `Demi kemuliaan-Ku, Aku akan benar-benar memberikan pertolongan kepadamu walaupun saat nanti. “‘

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Ketika bertaubat, dianjurkan sekali untuk berwudhu dan shalat dua rakaat. Hal itu didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari `Ali ra. ia berkata: “Jika aku mendengar sebuah hadits dari Rasulullah maka Allah memberi kami manfaat dari hadits itu menurut apa yang dikehendaki-Nya. Dan jika ada orang selain Nabi yang memberitahu kepadaku sebuah hadits, maka aku meminta orang itu bersumpah. Jika ia bersumpah kepadaku, maka aku pun membenarkannya. Abu Bakar pernah memberitahu kepadaku sebuah hadits, sedangkan Abu Bakar adalah orang yang jujur, ia pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Tidaklah seseorang berbuat suatu dosa, lalu ia berwudhu dengan membaguskan wudhunya -berkata Mis’ar; lalu ia shalat, dan berkata Sufyan; kemudian ia shalat dua rakaat- setelah itu memohon ampunan kepada Allah, melain-kan Allah akan mengampuninya.”

Demikian pula diriwayatkan oleh `Ali bin al-Madini, al-Humaidi, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Ahlus Sunan, Ibnu Hibban di dalam Shahihnya, al-Bazzar dan ad-Daruquthni melalui beberapa sumber dari ‘Utsman bin al-Mughirah. At-Tirmidzi berkata: “Hadits tersebut hasan.”

Pada prinsipnya hadits tersebut hasan, berasal dari riwayat Amirul Mukminin Ali bin Abai Thalib, dari Khalifah Nabi, Abu Bakar ash-Shiddiq ra.

Keshahihan hadits tersebut di atas diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya dari Amirul Mu’minin ‘Umar bin al-Khaththab, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu, lalu ia menyempurnakan wudhunya itu, lalu ia berdo’a: `Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak untuk diibadahi melainkan Allah saja, Yang Esa, yang tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya,’ melainkan dibukakan baginya pintu-pintu Surga yang berjumlah delapan, ia dapat masuk dari pintu mana saja yang ia kehendaki.”

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan sebuah hadits dari Amirul Mukminin, ‘Utsman bin ‘Affan ra, bahwa ia pernah mengajarkan wudhu Nabi kepada orang-orang lain dan berkata, aku pernah mendengar Nabi bersabda: “Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, lalu mengerjakan shalat dua rakaat dengan khusyu’, maka akan diberikan ampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu.”

Hadits ini sangat kuat dari riwayat Imam yang empat, Khulafaa-urRaasyidiin, dari Sayyidul awwaliin wal aakhiriin dan Rasuulu Rabbul `aalamiin, sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh al-Qur’an, bahwa memohon ampunan atas suatu dosa adalah bermanfaat bagi orang yang telah berbuat maksiat.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id, dari Nabi, ia bersabda: “Iblis berkata: `Ya Rabb-ku, demi kemuliaan-Mu, aku akan terus menggoda anak cucu Adam selama ruh mereka masih berada di tubuh mereka.’ Allah pun menjawab: `Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tetap akan memberi ampunan kepada mereka selama mereka memohon ampunan kepada-Ku.’”

Dan firman-Nya, wa may yaghfirudz-dzunuuba illallaaHa (“Dan siapa lagi yang dapat me-ngampuni dosa selain dari Allah?”) Artinya, tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali hanya Allah.

Sebagaimana Imam Ahmad meriwayatkan dari al-Aswad bin Sari’ bahwasanya Nabi pernah datang dengan membawa seorang tawanan, lalu tawanan itu berdo’a: “Ya Allah, aku bertaubat (hanya) kepada-Mu (saja) dan tidak bertaubat kepada Muhammad.” Maka Nabi bersabda: “Ia mengetahui hak itu bagi pemiliknya.”

Firman-Nya, wa lam yushirruu ‘alaa maa fa’aluu wa Hum ya’lamuun (“Dan mereka tidak me-neruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”) Artinya, mereka bertaubat atas dosa-dosa yang pernah mereka lakukan, segera kembali kepada Allah dan tidak terus menerus berbuat maksiat. Jika mereka mengulanginya (berbuat dosa), maka mereka segera bertaubat darinya. Wallahu a’lam.

Firman-Nya, wa Hum ya’lamuun (“Sedang mereka mengetahui.”) Mujahid dan Abdullah bin `Ubaid bin `Umair berkata: “Mereka mengetahui bahwa siapa yang bertaubat kepada Allah, niscaya Allah akan menerima taubatnya.” Ayat ini seperti firman-Nya: alam ya’lamuu annallaaHa Huwa yaqbalut taubata ‘an ‘ibaadiHi (“Apakah merek tidak mengetahui bahwa Allah akan menerima taubat dari hamba-hamba-Nya.” (QS. At-Taubah: 104). Dan juga firman-Nya yang artinya: “Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan atau menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampunan kepada Allah, niscaya ia mendapatkan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. An-Nisaa’: 110).

Dan ayat-ayat lain yang senada denganayat di atas banyak sekali.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi saw., ketika sedang berada di atas mimbar, beliau bersabda: “Berikanlah kasih sayang, niscaya kalian akan dikasihi dan berikanlah ampunan, niscaya kalian akan diberikan ampunan. Celakalah bagi orang-orang yang mendengar perkataan, tetapi tidak mengamalkan dan celaka pula bagi orang-orang yang terus-menerus berbuat dosa yang mereka kerjakan, sedang mereka mengetahui (larangan berbuat dosa itu).” Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Setelah menyebutkan sifat-sifat mereka, Allah Ta’ ala berfirman, ulaa-ika jazaa-uHum maghfiratum mir rabbiHim (“Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Rabb mereka.”) Maksudnya, pahala bagi mereka atas sifat-sifat yang mereka miliki di atas adalah: maghfiratum mir rabbiHim wa jannaatun tajrii min tahtiHal anHaaru (“Ampunan dari Rabb mereka dan Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,”) yakni, dari berbagai macam minuman. Khaalidiina fiiHaa (“Mereka kekal di dalamnya.”) Artinya, mereka tinggal di sana selamanya; wa ni’ma ajrul ‘aamiliin (“Dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”) Ini adalah pujian Allah tentang Surga.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 124-129

16 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 124-129“(Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: “Apakah tidak cukup bagimu, Allah membantumu dengan tiga ribu Malaikat yang diturunkan (dari langit)?” (QS. 3:124). Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerangmu seketika itu juga, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. (QS. 3:125). Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. 3:126). (Allah menolongmu dalam perang Badar dan memberi bantuan itu) untuk membinasakan segolongan orang-orang yang kafir, atau untuk menjadikan mereka hina, lalu mereka kembali dengan tiada memperoleh apa-apa. (QS. 3:127). Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka,atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhalim. (QS. 3:128). Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki; Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki; dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. 3:129)

Para mufassirin berbeda pendapat mengenai janji ini, apakah pada peristiwa perang Badar atau perang Uhud? Dalam hal ini terdapat dua pendapat. Pertama, mengatakan bahwa firman Allah: idz taquulu lil mu’miniina (“Ingatlah, ketika kamu mengatakan, kepada orang-orang yang beriman,”) berkaitan dengan firman-Nya, wa laqad nashara kumullaaHu bibadrin (“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar.”)

Pendapat itu disampaikan oleh al-Hasan al-Bashri, `Amir asy-Sya’bi, ar-Rabi’ bin Anas dan yang lainnya. Ibnu Jarir juga memilih pendapat tersebut.

Mengenai firman Allah, idz taquulu lil mu’miniina alay yakfiyakum ay yumiddakum rabbukum bitsalaatsati aalaafim minal malaa-ikati (“Ingatlah, ketika kamu mengatakan kepada orang-orang yang beriman: Apakah tidak cukup bagimu, Allah membantumu dengan tiga ribu Malaikat”) `Abbad bin Manshur mengatakan dari al-Hasan al-Bashri, ia berkata: “Yaitu pada peristiwa perang Badar”

Diriwayatkan oleh Ibnu Hatim dari `Amir asy-Sya’bi, bahwa kaum muslimin memperoleh berita pada peristiwa perang Badar bahwa Kurz bin Jabir membantu orang-orang musyrik. Hal itu sangat berat bagi mereka, lalu Allah menurunkan ayat: idz taquulu lil mu’miniina alay yakfiyakum ay yumiddakum rabbukum bitsalaatsati aalaafim minal malaa-ikati munzaliin =ilaa qauliHi= musawwimiin (“tidak cukupkah bagimu Allah membantumu dengan tiga ribu Malaikat yang diturun-kan [dari langit]? -sampai dengan firman-Nya- yang memakai tanda.”) `Amirasy-Sya’bi melanjutkan: “Lalu sampailah kepada Kurz tentang kekalahan yang menimpa orang-orang musyrik, maka Kurz pun tidak jadi membantu pasukan kaum musyrikin dan Allah pun tidak perlu membantu kaum muslimin dengan lima ribu Malaikat.”

Sedangkan ar-Rabi’ bin Anas berkata: “Allah swt. membantu kaum muslimin dengan seribu pasukan, kemudian menjadi tiga ribu, hingga akhirnya menjadi lima ribu pasukan Malaikat.”

Jika ditanyakan, bagaimana memadukan ayat ini menurut pendapat di atas dengan firman-Nya mengenai kisah perang Badar, yang artinya: “Ingatlah ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu diperkenan-kan-Nya bagimu: `Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada-mu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut.’ Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dart sisi Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Anfaal: 9)

Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah, bahwa pernyataan jumlah seribu Malaikat itu tidak menafikan jumlah tiga ribu atau lebih. Hal itu disebabkan firman-Nya: murdifiin (“Yang datang berturut-turut.”) Yakni, diikuti oleh yang lainnya yang berjumlah ribuan Malaikat.

Siyaq (konteks pembicaraan) pada ayat tersebut di atas serupa dengan siyaq pada surat Ali-‘Imran ini. Yang jelas, bahwa hal itu terjadi pada peristiwa perang Badar, sebagaimana yang diketahui bersama bahwa pengerahan pasukan Malaikat tiada lain terjadi pada peristiwa Badar. Wallahu a’lam.

Sa’id bin Abi ‘Arubah berkata: “Pada perang Badar, Allah membantu kaum muslimin dengan lima ribu Malaikat.”

Pendapat kedua adalah, bahwa janji dalam ayat di atas berkaitan dengan firman-Nya, wa idz ghadauta min aHlika tubawwi-ul mu’miniina maqaa-‘ida lil qitaal (“Dan ingatlah ketika kamu berangkat pada pagi hari dari rumah keluargamu akan menempatkan orang-orang yang beriman pada beberapa posisi untuk berperang.”) (QS. Ali-‘Imran: 121), dan hal itu terjadi pada peristiwa perang Uhud.

Ini adalah pendapat Mujahid, ‘Ikrimah, adh-Dhahhak, az-Zuhri, Musabin ‘Uqbah, dan ulama lainnya. Namun mereka berpendapat bahwa bala bantuan itu tidak mencapai lima ribu Malaikat, karena pada peristiwa itu kaum muslimin melarikan diri. Sedangkan ‘Ikrimah menambahkan, tidak juga tiga ribu Malaikat. Hal itu sesuai dengan firman-Nya, (cukup). Jika kamu bersabar dan bertakwa.” Tetapi, mereka tidak bersabar dan bahkan melarikan diri sehingga mereka tidak dibantu dengan satu Malaikat pun. Dan firman-Nya: balaa in tashbiruu wa tattaquu (“Ya [cukup]. Jika kamu bersabar dan bertakwa.”) Yakni, bersabar dalam menghadapi musuh-musuh kalian, bertakwa kepada-Ku dan mentaati perintah-Ku.

Firman-Nya, wa ya’tuukum min faurihin Haadzaa (“Dan mereka datang menyerangmu dengan seketika itu juga.”) Al-Masan al-Bashri, Qatadah, ar-Rabi’ bin Anas danas-Suddi berkata: “Yaitu tepat dari arah depan mereka.” Al-‘Aufi mengatakan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Yaitu langsung dari perjalanan itu.” Ada juga yang mengatakan: “Karena (terdorong) kemarahan mereka itu.”

Firman-Nya: yumdidkum rabbukum bikhamsati aalaafim minal malaa-ikati musawwimiin (“Niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.”) Yaitu mengena-kan tanda. Abu Ishaq as-Subai’i meriwayatkan, dari Haritsah bin Mudhrib, dari ‘Ali bin Abi Thalib, ia berkata: “Tanda pada Malaikat dalam peristiwa perang Badar adalah bulu putih. Selain itu, ada juga tanda pada ubun-ubun kuda mereka.” Atsar ini diriwayatkan Ibnu Abi Hatim.
Qatadah dan ‘Ikrimah berkata, “Musawwimin yaitu dengan memakai tanda perang.” Sedangkan Mak-hul berkata: “Bertanda sorban.”

Ibnu Mardawaih meriwayatkan Bari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, mengenai firman-Nya: “Musawwimin”, Rasulullah bersabda: “Yaitu, mereka mengenakan tanda. Dan tanda para Malaikat pada peristiwa perang Badar itu adalah sorban berwarna hitam, sedang pada peristiwa perang Hunain adalah sorban berwarna merah.”

Dan Ibnu ‘Abbas berkata: “Para Malaikat itu tidak ikut berperang kecuali pada peristiwa perang Badar.”

Firman-Nya: wa maa ja’alaHullaaHu illaa busyraa lakum wa litath-ma-inna quluubukum (“Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu dan agar hatimu tenteram karenanya.”) Maksudnya, Allah tidak menurunkan para Malaikat dan memberitahukan penurunannya kepada kalian melainkan sebagai kabar gembira bagi kalian, sekaligus sebagai penenang dan penenteram hati kalian. Sebab sesungguhnya pertolongan itu hanyalah dari Allah, jika berkehendak, niscaya Allah akan mengalahkan musuh-musuh-Nya tanpa melalui diri kalian dan tanpa melalui peperangan kalian melawan mereka. Sebagaimana setelah memerintahkan orang-orang yang beriman untukberperang, Allah berfirman yang artinya:

“Jika Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka, tetapi Allah hendak menguji sebagianmu dengan sebagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi bimbingan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka. Serta memasukkan mereka ke dalam Surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka.” (QS. Muhammad: 4-6)

Oleh karena itu, di sini Allah berfirman: wa maa ja’alaHullaaHu illaa busyraa lakum wa litath-ma-inna quluubukum biHii wa man nashru illaa min ‘indillaaHil ‘aziizil hakiim (“Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kaba rgembira bagi [kemenangan]mu, dan agar hatimu tenteram karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”) Yakni, Allah memiliki keperkasaan yang tiada bandingnya, serta hikmah (kebijakan) dalam ketetapan dan hukum-hukum-Nya.

Selanjutnya Allah berfirman: liyaqtha’a tharafam minal ladziina kafaruu “[Allah menolongmu dalam perang Badar dan memberi bala bantuan itu] untuk membinasakan segolongan orang-orang yang kafir.”) Maksudnya, Allah memerintahkan kalian berjihad dan berperang, karena hikmah yang terkandung di dalamnya dalam berbagai segi. Oleh karena itu, Allah menyebutkan berbagai bentuk kemungkinan yang terjadi dalam (peperangan) orang-orang kafir terhadap Mujahidin, maka Allah swt. berfirman: liyaqtha’a tharafan (“Untuk membinasakan segolongan.”) Yaitu, untuk membinasakan suatu umat: minal ladziina kafaruu au yakbitaHum fa yanqalibuu (“Orang-orang yang kafir, atau untuk menjadikan mereka hina, lalu mereka kembali.”) Yakni pulang; khaa-ibiin (“dengan tiada memperoleh apa-apa.”) Maksudnya, mereka gagal memperoleh apa yang mereka harapkan.

Kemudian Allah menyebutkan kalimat sisipan yang menunjukkan bahwa hukum di dunia dan di akhirat itu hanyalah milik-Nya, yang tiada sekutu bagi-Nya, seraya berfirman, laisa laka minal amri syai-un (“Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu.”) Yakni, semua urusan itu hanyalah kembali kepada-Ku, sebagaimana firman-Nya, fa innamaa ‘alaikal balaaghu wa ‘alainal hisaab (“Sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kamilah yang menghisab amalan mereka.”) (QS. Ar-Ra’d: 40)

Mengenai firman Allah: laisa laka minal amri syai-un (“Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu.”) Muhammad bin Ishaq berkata: “Artinya, engkau tidak mempunyai sedikit pun keputusan dalam urusan hamba-hamba-Ku, kecuali apa yang telah Aku perintahkan kepadamu terhadap mereka.”

Kemudian Allah menyebutkan kemungkinan lainnya dengan firman-Nya: au yatuuba ‘alaiHim (“Atan Allah menerima taubat mereka.”) Yakni, dari kekufuran yang telah mereka lakukan, lalu Allah memberikan hidayah kepada mereka setelah mereka berada dalam kesesatan. Au yu’adzdzibaHum (“Atau mengadzab mereka.”)Yaitu di dunia dan di akhirat atas kekufuran dan dosa-dosa mereka. Oleh karena itu Allah berfirman, fa innaHum dhaalimuun (“Karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhalim.”) Maksudnya, bahwa mereka berhak mendapatkan adzab itu.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Salim, dari ayahnya, ia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: ‘Ya Allah, laknatlah si fulan dan si fulan. Ya Allah, laknatlah al-Harits bin Hisyam. Ya Allah, laknatlah Suhail bin ‘Amr. Ya Allah, laknatlah Shafwan bin Umayyah.’ Lalu turunlah ayat ini, Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhalim.” Maka diterimalah taubat mereka semua (karena Allah tunjuki mereka masuk Islam semuanya; ed).” (HR. Ahmad)

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, “Bahwasanya jika Rasulullah hendak mendo’akan kejelekan seseorang –atau mendo’akan kebaikan untuk seseorang- maka beliau membaca qunut setelah ruku’, dan terkadang ia berkata -ketika beliau berdo’a, `Sami’allaahu limanhamidah, Rabbanaa walakal hamd-,” Ya Allah, selamatkanlah al-Walid binal-Walid, Salamah bin Hisyam, `Ayyasy bin Abi Rabi’ah dan orang-orang yang lemah dari kalangan orang-orang yang beriman. Ya Allah, keraskan adzab-Mu atas orang-orang kafir Mudhar (kabilah masyhur, di antaranya adalah suku Qais dan suku Quraisy) dan jadikanlah tahun-tahun paceklik yang menimpa mereka seperti tahun-tahun paceklik pada masa Nabi Yusuf.’ Do’a itu dibaca beliau secara jahr (keras). Dan pernah dalam satu shalat Subuh, beliau berdo’a: `Ya Allah, laknatlah si fulan dan si fulan.’ Untuk beberapa orang dari suku Arab. Sehingga Allah menurunkan firman-Nya: `Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka.”‘

Al-Bukhari meriwayatkan dari Humaid dan Tsabit, dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah bersabda:`Bagaimana akan beruntung kaum yang melukai Nabi mereka?’Maka turunlah ayat: `Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka.’”

Sedangkan Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Nabi mengalami patah gigi serinya dan terluka pada wajahnya hingga mengalir darah pada wajahnya, maka beliau bersabda: “Bagaimana akan beruntung kaum yang berbuat seperti ini kepada Nabi mereka, sedang ia (Nabi) mengajak mereka kepada Rabb mereka.’”

Maka Allah swt. pun menurunkan ayat, laisa laka minal amri syai-un au yatuuba ‘alaiHim Au yu’adzdzibaHum (“Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yangzhalim.”) (Hadits di atas hanya diriwayatkan oleh Muslim)

Setelah itu Allah berfirman: wa lillaaHi maa fis samaawaati wa maa fil ardli (“Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.”) semuanya itu adalah milik Allah dan penghuni keduanya (langit dan bumi) sebagai hamba di hadapan-Nya.

Yaghfiru limay yasyaa-u wa yu’adzdzibu may yasyaa-u (“Allah memberi ampun kepada siapa yang Allah kehendaki dan Allah menyiksa siapa yang Allah kehendaki.”) Artinya, Allah-lah yang mengatur, tidak ada yang dapat menentang ketetapan-Nya. Tidaklah Allah dimintai pertanggung jawaban atas tindakan-Nya, tetapi merekalah yang akan dimintai pertanggung jawaban oleh-Nya. wallaaHu ghafuurur rahiim (“Dan AllahMahapengampun lagi Mahapenyayang.”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 121-123

16 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 121-123Selanjutnya Allah menjelaskan penyebutan kisah perang Uhud, di mana di dalamnya terkandung ujian bagi kaum mukminin dan pembeda antara orang-orang yang beriman dan orang-orang munafik serta bukti kesabarannya orang-orang yang bersabar, seraya Allah berfirman:

“Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan orang-orang yang beriman pada beberapa posisi untuk berperang. Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui, (QS. 3:121). Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. (QS. 3:122). Sungguh Allah telah menolongmu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah [ketika itu] orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukurinya.” (QS 3: 123)

Menurut jumhur ulama, yang dimaksud dengan peristiwa tersebut adalah perang Uhud. Demikian dikatakan oleh Ibnu Abbas, al-Hasan al-Bashri, Qatadah, as-Suddi dan yang lainnya. Peristiwa itu terjadi pada hari sabtu, bulan Syawal pada tahun ke 3 Hijrah.

Qatadah berkata, “Terjadi pada tanggal 11 bulan Syawal.” Sedang ‘Ikrimah berkata, “Terjadi pada hari Sabtu, pertengahan bulan syawal.” WallaaHu a’lam.

Sebab terjadinya perang Uhud ini karena orang-orang Musyrik bermaksud menuntut balas atas terbunuhnya pemuka-pemuka mereka pada perang Badar. Di perang Badar tersebut dapat diselamatkan unta-unta yang membawa barang dagangan yang ada bersama Abu Sufyan.

Anak-anak yang ayahnya terbunuh dan para pemimpin mereka yang tersisa berkata kepada Abu Sufyan: “Sediakan harta ini untuk memerangi Muhammad.” Mereka pun membelanjakannya untuk tujuan itu. Kemudian mereka merekrut orang-orang, termasuk utusan dari setiap kabilah, hingga mencapai tiga ribu orang. Selanjutnya mereka berangkat dan singgah di dekat Uhud, sisi kota Madinah.

Ketika Rasulullah saw. selesai menunaikan shalat Jum’at, beliau menshalatkan jenazah seseorang dari bani Najjar yang bernama Malik bin ‘Amr. Selanjutnya beliau mengajak orang-orang untuk bermusyawarah seraya bertanya: “Apakah harus pergi menghadapi mereka atau di tetap tinggal di Madinah.”

Abdullah bin Ubay menyarankan agar tetap tinggal di Madinah. Jika orang-orang kafir tetap berada di tempat mereka, maka mereka berada di tempat pemberhentian yang amat buruk. Tetapi jika mereka memasuki kota Madinah, maka akan diperangi oleh kaum lelaki dari depan, dilempari oleh kaum wanita dan anak-anak dari atas. Sedangkan jika pulang, maka mereka akan pulang dengan kegagalan.

Sedangkan para shahabat yang tidak ikut perang Badar, menyarankan agar berangkat untuk menghadapi mereka. kemudian beliau masuk dan mengenakan pakaian perangnya, lalu keluar untuk menemui para shahabatnya. Namun sebagian mereka yang menyarankan untuk menyongsong musuh merasa menyesal dengan usulan itu, mereka mengatakan, “Sepertinya kita selalu memaksa Rasulullah saw.” mereka pun berkata, “Ya Rasulallah, jika engkau berkenan, lebih baik kita tetap tinggal di Madinah.” Maka beliau pun bersabda, “Tidak layak bagi seorang Nabi yang telah mengenakan pakaian besinya untuk kembali, sampai Allah memberikan keputusan kepadanya.”

Maka beliau berangkat bersama 1000 orang Sahabat. Ketika mereka sampai di batas kota, ‘Abdullah bin Ubay -tokoh kaum munafik- membawa pulang sepertiga pasukan dalam keadan marah, karena pendapatnya tidak dipakai. Lalu bersama-sama komplotannya ia mengatakan: “Seandainya hari ini kami menyaksikan pertempuran, pasti kami akan bergabung dengan kalian,
namun kami tidak melihat kalian berperang.”

Rasulullah terus melanjutkan perjalanannya hingga menempati salah satu bukit pada gunung Uhud di tepi lembah, dengan posisi membelakangi pasukan dan gunung Uhud, beliau pun bersabda, “Jangan sekali-kali melakukan penyerangan sebelum kami perintahkan.”

Bersama 700 (tujuh ratus) orang Sahabatnya, Rasulullah siap berperang. Beliau mengangkat ‘Abdullah bin Jubair, saudara Bani ‘Amr bin `Auf, untuk memimpin pasukan pemanah. Pasukan pemanah pada saat itu berjumlah lima puluh orang. Beliau menyampaikan pesan kepada mereka: “Hujanilah pasukan berkuda musuh dengan panah untuk melindungi kami dan jangan sampai kami diserang dari arah depan kalian. Tetaplah kalian pada posisi kalian, bagaimana pun kondisi yang kita hadapi; menang atau kalah, sekalipun kalian menyaksikan kami disambar burung, maka jangan sekali-kali kalian meninggalkan posisi kalian.”

Kemudian beliau merapatkan antara dua baju besi pasukan (barisan) dan menyerahkan panji kepada Mush’ab bin `Umair, saudara Bani ‘Abdud Daar. Pada saat itu, beliau juga memperkenankan sebagian anak-anak muda untuk ikut berjihad di Uhud dan sebagian yang lainnya baru beliau izinkan untuk ikut berjihad pada perang Khandaq, yang terjadi kurang lebih dua tahun setelah peristiwa Uhud. Sedangkan kaum Quraisy telah mempersiapkan 3000 (tiga ribu) pasukan yang dilengkapi dengan seratus pasukan berkuda yang telah disiagakan di sebelah kanan di bawah komando Khalid bin al-Walid, sedangkan di sebelah kiri di bawah komando ‘Ikrimah bin Abu Jahal. Mereka menyerahkan panji pasukan kepada Bani ‘Abdud Daar.
Antara dua pasukan terjadi perang sengit yang rincinya akan diuraikan pada tempatnya, insya Allah.

Oleh karena itu, Allah berfirman: wa idz ghadauta min aHlika tubawwi-ul mu’miniina maqaa-‘ida lil qitaal (“Dan ingatlah ketika kamu berangkat pada pagi hari dari rumah keluargamu akan menempatkan orang-orang yang beriman pada beberapa posisi untuk berperang.”) Yakni menempatkan mereka pada posisi mereka masing-masing, di sebelah kanan dan sebelah kiri gunung, dan posisi-posisi lain yang telah engkau (Muhammad) perintahkan, wallaaHu samii’un ‘aliim (“Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui,”) Allah Mahamendengar apa yang kamu katakan, dan Mahamengetahui apa yang ada di dalam hatimu.

Dalam hal ini, Ibnu Jarir memunculkan suatu pertanyaan: “Bagaimana kamu mengatakan bahwa Nabi pergi ke Uhud pada hari Jum’at seusai mengerjakan shalat Jum’at?” Padahal Allah berfirman, wa idz ghadauta min aHlika tubawwi-ul mu’miniina maqaa-‘ida lil qitaal (“Dan ingatlah ketika kamu berangkat pada pagi hari dari rumah keluargamu akan menempatkan orang-orang yang beriman pada beberapa posisi untuk berperang.”) untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu disampaikan bahwa kepergian beliau pada pagi hari untuk menetapkan posisi-posisi mereka, tiada lain adalah pada Sabtu pagi.

Sedangkan firman-Nya: idz Hammat thaa-ifataani minkum an taf-syalaa (“Ketika dua golongan dari padamu ingin [mundur] karena takut.”) al-Bukhari meriwayatkan dari Ali bin Abdillah, Sufyan telah bercerita kepada kami, ia berkata bahwa ‘Umar berkata, aku pernah mendengar Jabir bin Abdillah mengatakan: “Ayat ini turun berkenaan dengan kami. Kami terdiri dari dua golongan yakni golongan bani Haritsah dan golongan bani Salamah. Kami tidak senang [di saat lain Sufyan mengatakan] dan tidaklah menggembirakan bila ayat ini tidak turun, karena firman-Nya [selanjutnya disebutkan]: wallaaHu waliyyuHumaa (“Padahal Allah adalah penolong dari kedua golongan itu.”)

Demikian pula diriwayatkan oleh Muslim dari Sufyan bin ‘Uyainah. Juga menurut pendapat para ulama salaf bahwa mereka adalah bani Haritsah dan bani Salamh.

Firman-Nya: wa laqad nashara kumullaaHu bibad-rin (“Sungguh Allah telah menolongmu dalam perang Badar”) yakni peristiwa perang Badar yang terjadi pada hari Jum’at bertepatan dengan tanggal 17 Ramadlan tahun ke 2 Hijriyah. Itulah hari al-Furqaan [perbedaan antara kebenaran dan kebathilan] yang di dalamnya Allah memenangkan Islam dan kaum Muslimin. Serta memusnahkan kemusyrikan dan pusatnya serta golongannya, meskipun golongan kaum muslimin sedikit sekali yaitu 313 orang saja. mereka hanya dilengkapi dua ekor kuda dan 70 unta, sedangkan sisanya berjalan kaki tanpa dilengkapi perlengkapan yang memadai.

Sedangkan musuh pada waktu itu berjumlah 900 sampai 1000 orang yang dilengkapi dengan baju besi, topi baja, peralatan perang yang lengkap, pasukan kuda yang lengkap, serta perhiasan. Namun demikian Allah memenangkan Rasul-Nya dan mengunggulkan wahyu-Nya, serta mencerahkan wajah Nabi-Nya dan pasukannya. Di sisi lain Allah menghinakan syaitan dan para pengikutnya.

Oleh karena itu Allah berfirman dengan menyebutkan karunia-Nya bagi hamba-Nya dan para pendukungnya yang bertakwa. wa laqad nashara kumullaaHu bibad-rin wa antum adzillatun (“Sungguh Allah telah menolongmu dalam perang Badar, padahal kamu [ketika itu] adalah orang yang lemah.”) yakni jumlah kalian yang sangat sedikit, agar kalian mengetahui bahwa kemenangan itu adalah berasal dari sisi Allah, bukan karena banyaknya jumlah dan perlengkapan.

Oleh karena itu dalam surat yang lain Allah berfirman yang artinya:
“Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kmudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya. Allah Mahapengampun lagi Maha-penyayang.” (QS. At-Taubah: 25-27).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Samak, ia berkata, aku pernah mendengar `Iyadh al-Asy’ari berkata, aku pernah mengikuti perang Yarmuk. Bersama kami terdapat lima panglima; Abu `Ubaidah, Yazid bin Abi Sufyan, Ibnu Hasanah, Khalid bin al-Walid, dan `Iyadh [bukan Iyadh yang memberitakan hadits ini kepada Samak]. ‘Umar berkata: “Jika berperang, maka sebagai pemimpin kalian adalah Abu `Ubaidah. Kami pun segera mengirim surat kepadanya memberitahukan bahwa kematian telah menghantui kami dan kami meminta bantuan kepadanya. Maka Abu `Ubaidah pun membalas surat kami itu seraya mengatakan: `Surat kalian yang meminta bantuanku telah sampai ke tanganku. Dan aku ingin menunjukkan kepada kalian siapa yang lebih besar pertolongannya dan memiliki pasukan tentara yang tangguh, itulah Allah. Mohonlah pertolongan kepada-Nya, karena sesungguhnya Nabi Muhammad pernah ditolong-Nya pada waktu perang Badar, padahal jumlah pasukan beliau lebih sedikit dari kalian. Jika suratku telah sampai di tangan kalian, maka seranglah mereka dan jangan kembali kepadaku.”‘

Lebih lanjut `Iyadh menceritakan: “Maka kami pun segera menyerang mereka hingga akhirnya kami berhasil memukul mundur mereka sejauh empat farsakh [1 farsakh: 8 km]. Kemudian kami mendapatkan harta rampasan perang, lalu kami bermusyawarah, hingga akhirnya `Iyadh menyarankan kepada kami agar kami memberikan sepuluh bagian kepada setiap pemimpin suku. Sedang Abu `Ubaidah berkata: `Siapakah yang mau bertanding denganku?’ Seorang pemuda menjawab: `Aku, jika engkau tidak marah.’ Temyata pemuda itu berhasil mengalahkannya, dan aku melihat kedua kepang rambut Abu `Ubaidah kusut, sedang Abu `Ubaidah berada di belakang pemuda itu, di atas kuda seorang badui”. Isnad hadits ini shahih.

Hadits senada juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya dari Bandar dari Ghandar.

Badar adalah suatu tempat yang terletak di antara Makkah dan Madinah yang dikenal dengan sumurnya. Nama Badar itu dinisbatkan kepada penggali sumur itu, yaitu Badar bin Narin. Asy-Sya’bi berkata: “Badar adalah sebuah sumur milik seorang yang bernama Badar.”

Dan firman-Nya, fattaqullaaHa la’allakum tasykuruun (“Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya”) yakni, agar kalian melaksanakan ketaatan kepada-Nya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Nisaa’ ayat 15-16

16 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ (Wanita)
Surah Madaniyyah; surah ke 4: 176 ayat

tulisan arab alquran surat an nisaa' ayat 15-16“Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya. (QS. An-Nisaa’: 15) Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Mahapenerima taubat lagi Mabapenyayang.” (QS. An-Nisaa’: 16)

Dahulu, hukum di masa permulaan Islam, jika seorang wanita telah diputuskan berzina dengan saksi yang adil, maka ia harus ditahan di rumah, serta tidak dibolehkan ke luar hingga mati. Untuk itu Allah swt. berfirman: wal laatii ya’tiinal faahisyatan (“Dan terhadap para wanita yang mengerjakan perbuatan keji.”) Yaitu zina, min nisaa-ikum fasy-tasyHiduu ‘alaiHinna arba’atam minkum fa in syaHiduu fa amsikuuHunna fil buyuuti hattaa yatawaffaa Hunnal mautu au yaj’alallaaHu laHunna sabiilan (“Hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu [yang menyaksikannya]. Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka [wanita-wanita itu] dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya.”) Jalan lain yang diberikan oleh Allah itu adalah ayat yang menasakhnya.

Ibnu `Abbas ra. berkata: “Dahulu, hukumnya demikian hingga Allah turunkan surat an-Nuur yang menghapusnya dengan hukuman jild (cambuk) dan rajam”. Hal tersebut merupakan perkara yang disepakati.

Imam Ahmad meriwayatkan dari `Ubadah bin ash-Shamit, ia berkata: “Apabila wahyu turun kepada Rasulullah saw., hal itu sangat tampak dan berbekas pada beliau, terasa berat oleh beliau hal itu dan berubah wajahnya. Lalu pada suatu hari Allah swt. menurunkan (sebuah ayat) kepadanya, di saat telah hilang kesusahan beliau, maka beliau bersabda: “Ambillah oleh kalian dariku. Allah telah menjadikan jalan keluar bagi mereka. Duda dengan janda serta perjaka dengan perawan. Duda atau janda adalah hukum jild (cambuk) 100 kali dan di rajam (dilempari) dengan batu. Sedangkan perjaka atau perawan adalah hukum jild 100 kali dan diasingkan selama satu tahun”. (HR. Muslim dan Ash-haabus Sunan dari riwayat `Ubadah bin ash-Shamit dari Nabi saw. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”).

Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat [yaitu pada] penggabungan hukuman jild dan rajam bagi duda atau janda yang berzina. Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa duda atau janda yang berzina hanya dikenakan hukuman rajam, tanpa jild. Dengan alasan bahwa Nabi saw. merajam Ma’iz, al-Ghamidiyyah dan orang-orang Yahudi, dimana beliau tidak menjilid mereka sebelumnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa jild bukan kewajiban, bahkan telah dinasakh. wallaaHu a’lam.

Walladzaani ya’tiyaaniHaa minkum fa adzuuHumaa (“Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kalian, maka berikanlah kuhuman kepada keduanya.”) artinya terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji maka berikanlah hukuman kepada keduanya. Ibnu ‘Abbas, Sa’id bin Jubair, dan lain lain berkata: “Yakni dengan mencaci, mencela dan memukulnya dengan sandal, demikian hukuman yang berlaku pada mulanya, hingga Allah menasakhnya dengan jild dan rajam.” Ikrimah, Atha’, al-Hasan dan Abdullah bin Katsir berkata: “Ayat ini turun untuk laki-laki dan perempuan yang berzina.”

Ahlus sunan meriwayatkan secara marfu’ dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa di antara kalian melihat seseorang melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah pelaku dan obyek pelakunya.”

Firman-Nya: Fa in taaba wa ash-lahaa (“Kemudian jika keduanya bertobat dan memperbaiki diri.”) artinya keduanya menjauhkan diri dan berhenti dari melakukan perbuatan tersebut, memperbaiki dan menghiasi amalnya, fa-a’ridluu ‘anHumaa (“maka biarkanlah mereka”) artinya setelah itu janganlah kalian menghinanya dengan kata-kata keji. Karena orang yang bertobat dari suatu dosa seperti orang yang tidak berdosa. innallaaHa kaana tawwaabar rahiiman (“Sesungguhnya Allah Mahapenerima taubat dan Mahapenyayang”)

Di dalam ash-Shaihain tercantum: “Apabila budak perempuan salah satu kalian berzina, maka berlakukanlah hukum jild kepadanya dan jangan menghinanya.” Artinya janganlah mencela apa yang dilakukannya setelah mendapatkan hukuman sebagai penghapus bagi [dosa]nya.

&