Arsip | 09.33

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 181-184

18 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 181-184“Sekali-kali Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya.’ Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh Nabi-Nabi tanpa alasan yang benar dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): ‘Rasakanlah olehmu adzab yang membakar.” (QS. Ali ‘Imraan: 181) (Adzab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya. (QS. Ali ‘Imraan: 182) (Yaitu) orang-orang (Yahudi) yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman kepada seseorang Rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami kurban yang dimakan api.” Katakanlah: “Sesungguhnya telah datang kepada kamu beberapa orang Rasul sebelumku, membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, maka mengapa kamu membunuh mereka jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Ali ‘Imraan: 183) Jika mereka mendustakankamu, maka sesungguhnya Rasul-Rasul sebelum kamupun telah didustakan (pula), mereka membawa mukjizat-mukjizat yang nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.” (QS. Ali ‘Imraan: 184)

Sa’id bin Jubair meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ketika firman Allah berikut ini turun: man dzalladziina yuqridlullaaHa qardlan hasanan fayudlaa’ifu laHuu adl-‘aafan katsiiran (“Siapakah yang memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik [menakahkan hartanya di jalan Allah], maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.”) Maka orang-orang Yahudi berkata, “Hai Muhammad, apakah Rabb-mu itu miskin, sehingga Dia masih mencari pinjaman dari hamba-hamba-Nya?” Maka Allah pun menurunkan firman-Nya: laqad sami’allaaHu qaulal ladziina qaaluu innallaaHa faaqirun wa nahnu aghniyaa-u (“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya.’”)

Dan firman-Nya, sanaktubu maa qaaluu (“Kami akan mencatat perkataan mereka itu,”) hal ini merupakan ancaman. Oleh karena itu Allah menyandingkannya dengan firman-Nya: wa qatla Humul ambiyaa-a bighairi haqqi (“Dan perbuatan mereka membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar.”) Artinya, demikian itulah ucapan mereka mengenai Allah dan inilah perlakuan mereka terhadap para Rasul-Nya. Dan atas perbuatan mereka itu, Allah akan memberikan balasan yang paling buruk.

Oleh karena itu Allah berfirman yang artinya, “Dan kami akan mengatakan (kepada mereka), Rasakanlah olehmu adzab yang membakar. (Adzab) yang demikian itu disebabkan perbuatan tanganmu sendiri dan babwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya.” Maksudnya, apa yang dikatakan kepada mereka itu merupakan teguran, celaan, penghinaan dan ejekan.

Firman-Nya yang artinya, “Yaitu orang-orang (Yahudi) yang mengatakan: ‘Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman kepada seseorang Rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami kurban yang dimakan api.” Allah berfirman dalam mendustakan mereka yang menganggap bahwa Allah telah mengambil janji dari mereka dalam kitab-kitab mereka, untuk tidak beriman kepada seorang Rasul pun, sehingga terjadi mukjizat yaitu jika ada orang dari umatnya bersedekah, lalu sedekahnya itu diterima, maka akan turun api dari langit yang melalap sedekah tersebut. Demikian yang dikatakan Ibnu ‘Abbas, al-Hasan al-Bashri dan lain-lainnya.

Allah berfirman, qul qad jaa-akum rusulum min qablii bil bayyinaati (“Katakanlah, ‘Sesungguhnya telah datang kepada kamu beberapa orang Rasul sebelumku, membawa keterangan-keterangan yang nyata.’”) Yakni dengan membawa berbagai hujjah dan bukti,” wa bil ladzii qultum (“Dan membawa apa yang kamu sebutkan.”) Artinya, dengan api yang melalap kurban-kurban yang diterima. Fa lima qataltumuuHum (“Maka mengapa kamu membunuh mereka.”) Artinya, lalu mengapa kalian menyambut mereka dengan kebohongan, penentangan dan keengganan, bahkan pembunuhan terhadap mereka; in kuntum shaadiqiin (“Jika kamu orang-orang yangbenar.”) Maksud-nya, jika kalian mengikuti kebenaran dan tunduk kepada para Rasul.

Setelah itu Allah menghibur Rasul-Nya, Muhammad saw., Firman-Nya: fa in kadz-dzabuuka faqad kudz-dziba rusulum min qablika jaa-uu bil bayyinaati waz-zuburi wal kitaabil muniir (“Jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya Rasul-Rasul sebelum kamu pun telah didustakan [pula], mereka membawa mukjizat-mukjizat yang nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna,”) Artinya, janganlah kedustaan mereka terhadapmu itu melemahkanmu, karena telah ada bagimu teladan dari Rasul-Rasul sebelummu, di mana mereka telah didustakan, padahal mereka datang dengan membawa penjelasan yaitu hujjah dan bukti yang pasti.

Waz zuburi (“Dan Zabur,”) yaitu kitab yang diturunkan dari langit sebagaimana halnya Shuhuf (kitab-kitab) yang diturunkan kepada para Rasul, wal kitaabil muniir (“Dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna”) yaitu yang benar, jelas lagi nyata.

&

Iklan

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 176-180

18 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 176-180“Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka adzab yang besar. (QS. Ali ‘Imraan:176) Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sekali-sekali mereka tidak akan dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun; dan bagi mereka adzab yang pedih. (QS. Ali ‘Imraan:177) Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka adzab yang menghinakan. (QS. Ali ‘Imraan:178) Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Allah menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang di-kehendaki-Nya di antara Rasul-Rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar. (QS. Ali ‘Imraan:179) Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari Kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali ‘Imraan:180)

Allah berfirman kepada Nabi-Nya: wa laa yahzunkal ladziina yusaari’uuna fil kufri (“Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir.”) Hal itu terjadi karena keinginan kuat beliau pada keimanan keseluruhan manusia, maka beliau bersedih ketika melihat orang-orang kafir segera menyelisihi, mengingkari dan menentang sehingga Allah pun berfirman, janganlah hal itu menjadikanmu sedih.

innaHum lay yadlurrullaaHa syai-an. yuriidullaaHu allaa yaj’ala laHum hadh-dhan fil aakhirati (“Sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian [dari pahala] kepada mereka di akhirat.”) Yakni, hikmah Allah terhadap mereka, bahwa melalui kehendak dan kekuasaan-Nya, Allah bermaksud agar mereka tidak mendapatkan apa-apa di akhirat kecuali adzab, wa laHum ‘adzaabun ‘adhiim (“Dan bagi mereka adzab yang besar.”)

Kemudian Allah memberitahukan dan memberikan ketegasan mengenai hal itu, Allah berfirman, innal ladziina yasytarul kufra bil iimaani (“Sesungguhnya orang orang yang menukar iman dengan kekafiran.”) Artinya, menggantinya. Lay yadlurrullaaHa syai-an (“Sekali-kali mereka tidak akan dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun.”) Bahkan sebaliknya, mereka memberi mudharat terhadap diri mereka sendiri. wa laHum ‘adzaabun ‘adhiim (“Dan bagi mereka adzab yang besar.”)

Kemudian Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka adzab yang menghinakan,” seperti firman-Nya, “Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah: 55)

Selanjutnya Allah berfirman yang artinya, “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Allah menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin).” Maksudnya, merupakan suatu keharusan adanya suatu ujian, untuk menampakkan mana yang termasuk wali-Nya dan mana yang termasuk musuh-Nya.

Dengan ujian itu akan tampaklah mana orang mukmin yang sabar dan mana orang munafik yang durhaka. Yaitu pada waktu terjadi perang Uhud, yang didalamnya Allah memberikan ujian kepada orang-orang yang beriman. Dan dari sana terlihat keimanan, kesabaran, keteguhan, dan ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan di sana pula terbukalah kedok orang-orang munafik, maka terlihatlah kedurhakaan, pembangkangan, dan keengganan orang-orang munafik untuk berjihad, serta pengkhianatan mereka kepada Allah
dan Rasul-Nya.

Mujahid berkata, “Pada saat terjadi perang Uhud itu Allah membedakan antara orang-orang mukmin dengan orang-orang munafik.” Sedangkan Qatadah berkata, “Allah membedakan mereka melalui jihad dan hijrah.”

Setelah itu Allah berfirman, wa maa kaanallaaHu liyuth-li’akum ‘alal ghaibi (“Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib.”) Arti-nya, kalian tidak akan mengetahui perkara ghaib yang Allah sembunyikan tentang makhluk-Nya sehingga Allah membedakan orang-orang mukmin dari orang-orang munafik dengan sebab-sebab yang menyingkap keadaan mereka.

Selanjutnya Allah berfirman, wa laakinnallaaHa yajtabii mir rusuliHii may yasyaa-u (“Akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara Rasul-Rasul-Nya,”) seperti firman-Nya, “(Allah adalah Rabb) yang mengetahui yang ghaib, maka Allah tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang di-ridhai-Nya. Maka sesungguhnya Allah mengadakan penjaga penjaga (Malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS. Al-Jin: 26-27)

Kemudian Allah berfirman, fa aaminuu billaaHi wa rusuliHii (“Karena itu berimanlah kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya.”) Maksudnya, taatilah Allah dan Rasul-Nya serta ikutilah apa yang telah disyari’atkan kepada kalian. Wa in tu’minuu wa tattaquu falakum ajrun ‘adhiim (“Dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.”)

Dan firman-Nya, “Janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepadamereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.” Artinya, janganlah orang bakhil mengira bahwa harta kekayaan yang ia kumpulkan bermanfaat baginya, bahkan harta itu memberikan mudharat kepadanya dalam agamanya, atau bahkan dalam kehidupan duniawinya. Selanjutnya Allah memberitahukan ihwal kesudahan harta kekayaan itu pada hari Kiamat kelak melalui firman-Nya, sayuthawwaquuna maa bakhiluu biHii yaumal qiyaamati (“Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari Kiamat.”)

Imam Bukhaari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa diberi harta kekayaan oleh Allah, lalu ia tidak menunaikan zakatnya, maka hartanya akan diperumpamakan baginya seperti seekor ular besar yang mempunyai dua taring yang akan mengalunginya pada hari Kiamat. Kemudian ular itu akan mematuknya dengan dua tulang rahangnya seraya berkata, ‘Aku adalah harta kekayaanmu, aku adalah simpananmu.”‘ Setelah itu Rasulullah membacakan ayat ini, “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak dilehernya di hari Kiamat.”

Firman Allah: wa lillaaHi miiraatsus samaawaati wal ardla (“Dan kepunyaan Allah segala warisan [yang ada] di langit dan di bumi.”) Maksudnya, dan nafkahkanlah sebagian dari harta kalian yang Allah telah menjadikan kalian menguasainya, karena tempat kembali semua perkara itu hanya kepada Allah itu, nafkahkanlah sebagian dari harta yang kalian miliki itu yang akan memberikan manfaat kepada kalian pada hari Kiamat kelak. wallaaHu bimaa ta’maluuna bashiir (“Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”) Yaitu mengetahui segala hal yang ada pada kalian, niat-niat kalian dan hati-hati kalian.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 169-175

18 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 169-175“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb-nya dengan mendapat rezeki. (QS. Ali ‘Imraan: 169) Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka. Dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka. Bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Ali ‘Imraan: 170) Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (QS. Ali ‘Imraan: 171) (Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. (QS. Ali ‘Imraan: 172) (Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”; maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung”. (QS. Ali ‘Imraan: 173) Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Ali ‘Imraan: 174) Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imraan: 175)

Allah memberitahukan mengenai keadaan orang-orang yang mati syahid bahwa mereka itu meskipun telah mati di dunia ini, namun ruh mereka tetap hidup dan mendapat rizki di akhirat. Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dan kitab-kitab lainnya telah ditegaskan bahwa ayah Jabir, yaitu Abdullah bin ‘Amr bin Haram al-Anshari terbunuh dalam perang Uhud sebagai syahid.

Al-Bukhari meriwayatkan, Abu Walid mengatakan dari Syu’bah, dari Ibnu Munkadir, ia berkata, aku pernah mendengar Jabir berkata, ketika ayahku terbunuh, aku menangis dan membuka kain penutup wajahnya. Lalu para Sahabat Rasulullah melarangku, sedang Nabi sendiri tidak melarangku, maka beliau bersabda, “Jangan engkau menangisinya, Malaikat masih terus menaunginya dengan kedua sayapnya sehingga ia diangkat.” Al-Bukhari, Muslim, dan an-Nasa’i menyandarkan sanad kepadanya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Ketika saudara-saudara kalian mendapatkan musibah perang Uhud, Allah telah menempatkan arwah mereka dalam perut burung hijau yang mendatangi sungai-sungai di Surga, dan makan dari buah-buahannya serta kembali ke pelita yang terbuat dari emas di bawah naungan ‘Arsy. Ketika mereka mendapatkan makan dan minum mereka yang baik, mereka berkata, ‘Andai saja sahabat-sahabat kami mengetahui apa yang diperbuat oleh Allah terhadap kami niscaya mereka tidak enggan dalam berjihad dan tidak mundur dari perang.’ Maka Allah pun berfirman, ‘Aku akan menyampaikan kepada mereka mengenai keadaan kalian.’ Lalu Dia menurunkan ayat, ‘Janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb-nya dengan mendapat rizki.’ Dan ayat-ayat setelah-nya.” (HR. Imam Ahmad).

Dan juga diriwayatkan Abu Dawud dan al-Hakim dari Ibnu ‘Abbas Dan ini lebih kuat. Sedang al-Hakim meriwayatkannya dalam kitab al-Mustadrak. Seolah-olah para syuhada’ itu terbagi menjadi beberapa kelompok, ada yang arwahnya berterbangan di Surga, ada juga yang berada di atas sungai-sungai di pintu Surga. Bisa diartikan perjalanan mereka berakhir sampai pada sungai tersebut. Di sana mereka berkumpul dan disana pula mereka diberi makan dan rizki serta beristirahat. Wallahu a’lam.

Dan kami telah meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Musnad Imam Ahmad, yang di dalamnya terdapat kabar gembira untuk semua orang yang beriman, bahwa arwah mereka bebas di Surga, makan dari buah-buahan yang terdapat di sana, dan di sana pula mereka merasakan kesenangan dan kebahagiaan. Selain itu arwah-arwah mereka juga menyaksikan kemuliaan yang dijanjikan Allah kepadanya.

Hadits di atas dengan isnad shahih, di dalamnya terdapat tiga orang dari empat imam. Imam Ahmad meriwayatkan dari Muhammad bin Idris asy-Syafi’i – dari Malik bin Anas al-Ashbahi dari az-Zuhri Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik, dari ayahnya, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Arwah seorang mukmin itu adalah berupa burung yang bergantung pada pohon di Surga sehingga Allah mengembalikannya ke jasadnya pada hari ia dibangkitkan.”
Sabda beliau (bergantung), maksudnya ialah makan.

Dalam hadits ini juga disebutkan: “Sesungguhnya arwah seorang mukmin itu berwujud burung di Surga.”

Sedangkan arwah para syuhada’, sebagaimana yang di sebutkan pada hadits sebelumnya, yaitu berada dalam perut burung hijau. Arwah mereka itu seperti bintang jika dibandingkan arwah orang-orang mukmin lainnya, karena itu dapat terbang. Kita berdo’a semoga Allah mematikan kita dalam keadaan beriman.

Firman-Nya yang artinya, “Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati,” Artinya, para syuhada’ yang terbunuh di jalan Allah tetap hidup di sisi Rabb mereka dan mereka merasa gembira atas kenikmatan dan kesenangan bersama saudara-saudara mereka yang terbunuh setelah mereka berjihad di jalan Allah, karena mereka dipertemukan dengan saudara-saudara mereka. Dan mereka tidak pernah takut terhadap apa yang ada di hadapan mereka dan tidak bersedih atas apa yang mereka tinggalkan. Dan kita memohon kepada Allah dimasukkan ke Surga.

Mengenai firman-Nya, wa yastabsyiruuna (“Dan mereka bergirang hati,”) Muhammad bin Ishaq berkata, maksudnya, mereka merasa senang hati bertemu dengan saudara-saudara mereka atas apa yang mereka pernah lakukan dari jihad di jalan Allah. Dan mereka berharap agar dapat bergabung menikmati pahala Allah yang diberikan kepada mereka.

As-Suddi berkata, “Orang yang mati syahid akan didatangkan sebuah kitab yang di dalamnya tercata, akan datang kepadamu si fulan pada hari ini dan ini, dan akan datang kepadamu si fulan hari ini dan ini. Maka bergembiralah dia atas kedatangannya, sebagaimana penduduk dunia bergembira ketidak hadiran mereka apabila datang.

Sa’id bin Jabir berkata, “Ketika mereka memasuki surga dan menyaksikan kemuliaan yang disediakan untuk para syuhada, mereka berkata, ‘Seandainya saudara-saudara kami yang masih hidup di dunia mengetahui kemuliaan yang kami saksikan ini, maka apabila mereka mendapati perang pasti mereka akan menyambut dengan sendirinya sehingga mereka mati syahid dan mendapatkan sebagaimana kami peroleh dari kebaikan.’ Maka Rasulullah memberitahukan tentang keadaan mereka serta kemuliaan yang mereka terima. Dan Allah memberitahukan mereka, sesungguhnya Aku telah menurunkan dan memberitahukan Nabi kalian mengenai keadaan kalian dan apa yang kalian peroleh, maka bergembiralah atas itu. Dan itulah makna firman Allah: wa yastab-syiruunal ladziina lam yalhaquu biHim min khalfiHim (“Dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka dan belum menyusul mereka.”)

Dalam kitab shahih al-Bukhari dan Muslim disebutkan sebuah hadits dari Anas bin Malik mengenai kisah 70 shahabat dari kaum Anshar di sumur Ma’unah yang terbunuh dalam waktu satu hari. Kemudian Rasulullah saw. membacakan qunut nazilah seraya mendoakan atas pembunuh serta melaknat mereka yang membunuh para shahabat beliau itu. Anas berkata, dan mengenai mereka ini diturunkan ayat yang kami baca, hingga kemudian ayat tersebut diangkat. “Sampaikanlah kepada kaum kami dari kami, sesungguhnya kami telah bertemu Rabb kami, lalu Dia ridla kepada kami dan kami pun ridla.”

Kemudian Dia berfirman: yastabsyiruuna bi ni’matim minallaaHi wa fadl-liw wa annallaaHa laa yudlii’u ajral mu’miniin (“Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.”)

Muhammad bin Ishaq berkata, mereka merasa senang hati atas dipenuhinya apa yang dijanjikan, serta pahala yang besar yang diberikan kepada mereka.

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata, “Ayat ini mencakup orang-orang mukmin secara keseluruhan, baik yang mati sebagai syuhada’ maupun yang tidak. Tidak sedikit Allah menyebutkan karunia dan pahala yang diberikan kepada para Nabi, maka Allah juga menyebutkan apa yang diberikan kepada orang-orang yang beriman setelah mereka.”

Dan firman-Nya, alladziina yastajaabuu lillaaHi war rasuuli mim ba’di maa ashaabaHumul qarh (“Yaitu orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka [dalam perang Uhud].”) Ini terjadi pada hari Hamra’ul Asad, di mana ketika orang-orang musyrik mendapatkan musibah seperti yang menimpa kaum muslimin, maka mereka berputar dan kembali pulang ke negerinya. Dan pada saat mereka meneruskan perjalanan, mereka menyesal, mengapa tidak menyerang dan membinasakan penduduk Madinah. Ketika berita itu terdengar oleh Rasulullah, maka beliau menganjurkan kaum muslimin untuk menyusul mereka guna menakut-nakuti mereka, serta memperlihatkan bahwa kaum muslimin mempunyai kekuatan dan kemampuan. Dan untuk itu, beliau tidak mengizinkan seorang pun melainkan yang pernah mengikuti peristiwa perang Uhud kecuali Jabir bin ‘Abdullah karena suatu sebab yang akan kami kemukakan nanti.

Maka kaum muslimin pun berangkat meskipun mereka dalam keadaan terluka dan letih, sebagai wujud ketaatan mereka kepada Allah danRasul-Nya.

Ibnu Abi Hatim mengatakan dari ‘Ikrimah, ia berkata, ketika orang-orang musyrik kembali dari Uhud, mereka berkata: “Bukan Muhammad yang kalian bunuh dan bukan persendian tulangnya yang kalian hantam. Alangkah buruknya apa yang kalian lakukan, maka kembalilah.” Kemudian Rasulullah mendengar hal tersebut, maka beliau pun menganjurkan kaum muslimin untuk berangkat. Dan mereka pun berangkat hingga sampai di Hamra’ul Asad yaitu sumur Abu ‘Uyainah. Maka orang-orang musyrik berkata, “Kami akan kembali tahun depan.” Lalu Allah menurunkan ayat: alladziina yastajaabuu lillaaHi war rasuuli mim ba’di maa ashaabaHumul qarhu lilladziina ahsanuu minHum wat taqau ajrun ‘adhiim (“Orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka [dalam perang Uhud]. Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.”) Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Mardawih dari Ibnu ‘Abbas.

Muhammad bin Ishaq berkata, peristiwa perang Uhud itu terjadi pada hari Sabtu, pertengahan bulan Syawal. Dan pada keesokan harinya, yaitu hari Ahad pada enam belas malam berlalu dari bulan Syawal, penyeru Rasulullah menyerukan kepada khalayak untuk mengejar musuh. Selain itu, penyeru itu juga menyerukan agar tidak seorang pun keluar bersama kami kecuali mereka yang hadir dalam perang Uhud kemarin. Kemudian Jabir bin ‘Abdullahbin ‘Amr bin Haram memberitahukan kepada Rasulullah: ‘Ya Rasulullah, ayahku mengamanatkan kepadaku untuk menjaga saudara-saudara perempuanku yang berjumlah tujuh orang’, dan ayahku berkata: ‘Hai anakku, tidak seharusnya aku dan engkau meninggalkan para wanita sendirian tanpa adanya seorang laki-laki pun di tengah-tengah mereka, dan aku bukanlah orang yang mengutamakanmu untuk berjihad bersama Rasulullah atas diriku sendiri. Tinggallah bersama saudara perempuanmu. Maka aku tinggal bersama mereka. “‘

Maka Rasulullah pun mengizinkannya, dan akhirnya ia berangkat bersama beliau. Beliau keluar dengan maksud untuk menakut-nakuti musuh dan untuk menyampaikan kepada mereka bahwa beliau keluar dengan maksud mencari mereka, agar dengan demikian mereka menduga beliau masih mempunyai kekuatan, dan apa yang menimpa beliau bersama para Sahabatnya tidak menyebabkan mereka menjadi gentar menghadapi musuh.

Muhammad bin Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Kharijah bin Zaid bin Tsabit, dari Abu Sa’ib maula ‘Aisyah binti ‘Utsman, bahwasanya ada seorang Sahabat Rasulullah dari Bani ‘Abdul Asyhal, yang ikut menyaksikan perang Uhud, ia berkata, “Kami ikut menyaksikan perang Uhud bersama Rasulullah, lalu bersama saudaraku aku pulang dalam keadaan luka. Dan ketika penyeru Rasulullah menyerukan agar keluar mencari musuh, maka kukatakan kepada saudaraku. “Apa kita harus melewatkan kesempatan berperang bersama Rasulullah?” Demi Allah, pada saat itu kami tidak memiliki binatang yang dapat dikendarai sedang kami menderita luka yang cukup parah. Namun demikian, kami tetap berangkat berperang bersama Rasulullah, ternyata aku menderita luka yang lebih ringan daripada beliau. Hingga akhirnya kami sampai di tempat kaum muslimin ber-kumpul.

Dan mengenai ayat: alladziinas tajaabuullaaHa war rasuuli (“Yaitu orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya,”) Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah. ‘Aisyah berkata kepada ‘Urwah, “Wahai putera saudara perempuanku, orang tuamu termasuk dalam golongan mereka, yaitu az-Zubair dan Abu Bakar Ketika sesuatu telah menimpa Rasulullah pada perang Uhud, dan orang-orang musyrik telah pulang meninggalkannya, beliau khawatir mereka akan kembali. Maka beliau telah bersabda, “Siapakah yang akan pergi menyusul (mengejar mereka)?” Maka tujuh puluh orang dari mereka mengajukan diri, antara lain adalah Abu Bakar dan az-Zubair.

Redaksi hadits di atas hanya diriwayatkan Imam al-Bukhari. Hadits yang sama juga diriwayatkan al-Hakim dalam Kitab al-Mustadrak. Maka Allah – menurunkan firman-Nya, alladziina yastajaabuu lillaaHi war rasuuli mim ba’di maa ashaabaHumul qarhu (“Yaitu orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka [dalam perang Uhud].”)

Lebih lanjut Muhammad bin Ishaq berkata, maka Rasulullah pun berangkat hingga sampai di Hamra’ul Asad, sebuah tempat yang jaraknya darikota Madinah 8 Mil.

Ibnu Hisyam berkata: “Rasulullah menjadikan Ibnu Ummi Maktum sebagai Amir di Madinah, beliau tinggal di Hamra’ul Asad hari Senin, Selasa dan Rabu kemudian pulang ke Madinah.”

Ibnu Hisyam berkata, telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin AbuBakar tentang Ma’bad bin Abi Ma’bad al-Khuza’i dan ketika itu suku Khuza’ahbaik yang muslim maupun yang musyrik mempunyai perjanjian setia dengan Rasulullah di Tihamah yang tidak tersembunyi sedikitpun di antara mereka. Dan Ma’bad ketika itu masih musyrik, dia berkata: “Wahai Muhammad, demi Allah sungguh berat kami atas apa yang menimpamu dan para Sahabatmu dan mudah-mudahan Allah memberikan keselamatan kepadamu.” Kemudian Ma’bad keluar dari Hamra’ul Asad sampai bertemu dengan Abu Sufyan bin Harb dan orang yang bersamanya di Rauha’. Mereka sepakat kembali menyerang Rasulullah dan para Sahabatnya. Mereka berkata: “Kami sudah melukai Muhammad dan para Sahabatnya, komandan dan pemimpinnya, kemudian kita pulang sebelum meluluh lantakkan mereka? Kami akan kembali dan menghancurkan sisa mereka.” Ketika berbicara demikian Abu Sufyan melihat Ma’bad seraya berkata: “Siapa dibelakangmu wahai Ma’bad?” “Muhammad dan para Sahabatnya mengejar kalian dengan pasukan yang sangat banyak yang aku belum pernah melihat sebanyak itu dan mereka akan membakar kamu. Telah berhimpun bersamanya orang-orang yang tertiggal pada hari pertempuran, mereka menyesal terhadapnya yang mereka perbuat, maka mereka marah terhadap kalian yang aku tidak pernah melihat marah yang seperti itu.” Abu Sufyan berkata: “Celakalah apa yang kamu katakan.” Ma’bad berkata:
“Demi Allah saya tidak melihat bahwa anda menaiki pelana sehingga anda melihat jambul-jambul kuda.” Abu Sufyan jawab: “Demi Allah kami sudah siap untuk menyerang lagi dan menghabisi mereka.” Kata Ma’bad: “Aku larang kalian, Demi Allah, apa yang aku lihat itu telah membawaku untuk mengungkapkan beberapa bait sya’ir yang menggambarkan keadaan mereka. “Apakah yang akan kau katakan itu?” Tanya Abu Sufyan. Ma’bad lalu bersya’ir:

Hampir roboh untaku, karena hiruk pikuk suara itu
Tatkala bumi mengalirkan sekawanan kuda-kuda yang berpacu
Yang membinasakan dengan para pemberani ketika, menyongsong per-tempuran
Bukan pemberani yang kerdil, bukan pula yang dungu
Aku melompat, karena mengira bumi ini miring
Ketika mereka keluar bersama pimpinan yang disegani
Kukatakan: “Celakalah putra Harb” karena peperangan dengan kalian
Saat tanah lapang penuh dengan bala tentara berkuda
Aku ingatkan dengan lantang kepada penghuni daerah banjir
Kepada setiap yang berakal dan dapat berfikir di antara mereka
Dari tentara Ahmad yang tidak sedikit dan tidak kecil
Dan yang kuingatkan ini bukanlah isu belaka

Kata Ma’bad selanjutnya: “Maka hal itu membuat Abu Sufyan dan para pengikutnya mengurungkan niat mereka.” Ketika bertemu dengan kafilah dari suku ‘Abdul Qais, Abu Sufyan berkata: “Kemana kalian hendak pergi?” Mereka menjawab: “Ke Madinah.” Ia pun bertanya lagi: “Untuk apa?” Jawab mereka: “Keperluan persediaan bahan makanan.” Abu Sufyan: “Maukah kalian mengirimkan surat yang aku kirimkan untuk Muhammad melalui kalian, dan sebagai gantinya kubawakan untuk kalian anggur keying jika kalian menemui kami di Ukazh.” Mereka menjawab: “Ya, kami setuju.” Kata Abu Sufyan lagi: “Jika kalian menemuinya, kabarkan kepadanya bahwa kami telah siap dan bertekad menyerangnya lagi untuk menghabiskan sisa-sisa pengikutnya.” Maka bertemulah kafilah dengan Rasul di Hamra’ul Asad, lalu merekapun menyebarkan dengan apa yang dikatakan Abu Sufyan dan sahabatnya. Mendengar hal itu Nabi dan para Sahabatnya menyatakan: “Hasbunallah Wani’mal Wakil.”

Ibnu Hisyam meriwayatkan dari Abu ‘Ubaidah, ia berkata, bahwa ketika sampai kepada Rasulullah berita kepulangan pasukan musyrikin Quraisy, maka beliau bersabda: “Demi Rabb yang jiwaku berada ditangan-Nya, sesungguhnya telah di panaskan bebatuan untuk mereka, jika mereka bangun pagi, niscaya nasib mereka akan menjadi seperti kemarin.”

Dan firman-Nya, Alladziina qaala laHumun naasu innan naasa qad jama’uu lakum fakhsyauHum fazaadaHum iimaanan (“Yaitu orang-orang [yang mentaati Allah dan Rasul] yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.’ Maka perkataan itu menambah keimanan mereka.”) Maksudnya, orang-orang yang diancam dengan kumpulan pasukan dan ditakut-takuti dengan banyaknya jumlah musuh tidak menjadikan mereka gentar, bahkan mereka semakin bertawakkal kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya. Dan mereka menjawab, “Cukup-lah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.

Mengenai firman-Nya ini, hasbunallaaHa wa ni’mal wakiil (“Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung,”) Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, yang demikian itu juga dikatakan oleh Ibrahim as. ketika ia dilemparkan ke dalam api, dan dikatakan pula oleh Muhammad ketika orang-orang mengatakan kepada orang-orang beriman, sesungguhnya orang-orang telah berkumpul untuk menyerang kalian, maka takutlah kepada mereka. Namun hal itu justru semakin menambah keimanan mereka, merekapun berkata, “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.” Hadits tersebut juga diriwayatkan an-Nasa’i.

Dan kami juga meriwayatkan dari Ummul Mukminin Zainab dan Aisyah ra, ketika keduanya saling membanggakan diri, lalu Zainab berkata, “Allah-lah yang menikahkanku dari langit sementara kalian dinikahkan oleh wali kalian.” Sedangkan’Aisyah berkata, “Allah-lah yang menerangkan kebersihan dan kesucianku langsung dari langit dan hal itu termaktub dalam
al-Qur’an. Maka menyerahlah Zainab, lalu ia bertanya, “Apa yang anda ucapkan ketika menaiki kendaraan Shafwan bin al-Mu’aththal?” “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.” Zainab pun berkata, “Anda telah mengucapkan, ungkapan orang-orang yang beriman.”

Oleh karena itu Allah berfirman, fanqalibuu bini’matim minallaaHi wa fadl-lil lam yamsasHum suu’ (“Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia [yang besar] dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa.”) Artinya, ketika mereka benar-benar bertawakkal kepada Allah yam, maka mereka pun diberikan kecukupan dari berbagai hal yang membuat mereka gelisah dan dihindarkan dari serangan orang-orang yang hendak menipunya, sehingga mereka kembali ke negerinya sendiri; bini’matim minallaaHi wa fadl-lil lam yamsasHum suu’ (“dengan nikmat dan karunia [yang besar] dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa.”) Yaitu, dari apa yang disembunyikan musuh-musuh mereka., wattaba’uu ridl-waanallaaHi wallaaHu dzuu fadl-lin ‘adhiim (“Mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”)

Setelah itu Dia berfirman, innamaa dzaalikumusy-syaithaanu yukhawwifu auliyaa-aHu (“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti [kamu] dengan
kawan-kawannya [orang-orang musyrik Quraisy].”) Maksudnya, syaitan itu menakut-nakuti kalian serta menanamkan perasaan pada diri kalian bahwa mereka memiliki kekuatan dan pengaruh.

Maka Allah swt. berfirman, falaa takhaafuuHum wa khaafuuni in kuntum mu’miniin (“Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”) Apabila kalian ditakut-takuti, maka bertawakkallah kepada-Ku, dan berlindunglah kepada-Ku, sebab cukuplah Aku sebagai Pelindung dan Penolong kalian, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah?” (QS. Az-Zumar: 36).

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 165-168

18 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 165-168“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah: ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.’ Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali ‘Imraan: 165) Dan apa yang menimpamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman. (QS. Ali ‘Imraan: 166) Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang dijalan Allah atau pertahankanlah (dirimu).’ Mereka berkata: ‘Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikutimu.’ Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (QS. Ali ‘Imraan: 167) Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: ‘Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh “. Katakanlah: ‘Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.’” (QS. Ali ‘Imraan:168)

Allah berfirman, a wa lammaa ashaabaatkum mushiibatun (“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah.”) Yaitu musibah yang menimpa kalian pada waktu perang Uhud, dengan terbunuhnya 70 orang dari kaum muslimin. Qad ashab-tum mits-laiHaa (“Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu.”) Yaitu pada perang Badar, di mana mereka (para Sahabat) berhasil membunuh 70 orang-orang musyrik dan menawan 70 orang lainnya. Kemudian kalian berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” artinya, dari mana musibah yang menimpa kami ini? Qul Huwa min ‘indi anfusikum (“Katakanlah, ‘Itu dari [kesalahan] dirimu sendiri.”)

Ibnu Abi Hatim berkata, telah menceritakan kepada kami Simak al-Hanafi Abu Zumail, telah menceritakan kepadaku Ibnu ‘Abbas, telah menceritakan kepadaku ‘Umar bin al-Khaththab, ia berkata, pada waktu perang Uhud yang terjadi setahun kemudian, (setelah perang Badar.’-) mereka diberi hukuman atas apa yang mereka perbuat pada waktu perang Badar, di mana mereka mengambil fida’ (barang tebusan) akibatnya 70 orang dari mereka (Sahabat) terbunuh, sebagian Sahabat Rasulullah melarikan diri, dan beliau sendiri mengalami tanggal gigi serinya, pecah topi baja yang ada di kepalanya dan mengalir darah dari wajahnya. Maka Allah menurunkan ayat yang artinya: “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat pada musuh-musuhmu (pada perang Badar) kamu berkata, ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah, ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Dengan pengambilan tebusan oleh kalian.

Demikianlah yang diriwayatkan Imam Ahmad dengan matan yang lebih panjang lagi. Demikian pula yang dikatakan oleh al-Hasan al-Bashri.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib, ia berkata, Jibril pernah datang kepada Nabi seraya berkata, “Hai Muhammad, sesungguhnya Allah tidak menyukai apa yang dilakukan oleh kaummu dalam mengambil (tebusan) para tawanan. Dia telah memerintahkanmu untuk memberikan dua pilihan kepada mereka (Sahabat); Mereka memenggal kepala-kepala mereka (Para tawanan), atau mereka mengambil fida’ (tebusan), tetapi sebagai akibatnya, kelak akan terbunuh di antara mereka sejumlah mereka (para tawanan yang ditebus).”

Maka Rasulullah memanggil para Sahabat dan mengingatkan hal itu kepada mereka, ketika mereka berkata, “Ya Rasulullah, demi keluarga dan saudara-saudara kami, lebih baik kita mengambil tebusan mereka sehingga akan memperkuat kita dalam memerangi musuh kita, dan kita juga dapat memantau jumlah mereka, dan dalam hal itu kami tidak memaksa.” Maka akhirnya 70 orang dari mereka (kaum muslimin) terbunuh sama dengan jumlah tawanan pada perang Badar.

Demikian yang diriwayatkan Imam an-Nasa’i dan at-Tirmidzi dari hadits Abu Dawud al-Hafri. Selanjutnya Imam at-Tirmidzi berkata hadits ini hasan gharib, kami tidak mengetahui kecuali dari Ibnu Abi Zaidah.

Mengenai firman-Nya: Qul Huwa min ‘indi anfusikum (“Katakanlah, ‘Itu dari [kesalahan] dirimu sendiri.”) Muhammad bin Ishaq, Ibnu Jarir, ar-Rabi’ bin Anas dan as-Suddi berkata, yaitu disebabkan oleh pelanggaran yang mereka lakukan terhadap perintah Rasulullah, ketika beliau memerintahkan mereka untuk tidak beranjak dari posisi mereka, namun mereka para pemanah melanggar perintah tersebut. innallaaHa ‘alaa kulli syai-in qadiir (“Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”) Artinya, Dia dapat berbuat apa saja yang Dia kehendaki serta menetapkan apa yang dikehendaki-Nya pula, tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya.

Setelah itu Allah berfirman: wa maa ashaabakum yaumal taqal jam-‘aani fa bi-idznillaaHi (“Apa yang menimpamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka [kekalahan] itu adalah dengan izin [takdir] Allah.”) Yaitu, pelarian kalian dari hadapan musuh-musuh kalian dan keberhasilan mereka membunuh dan melukai sebagian dari kalian, itu merupakan qadha dan takdir Allah. Dan pada kejadian tersebut Allah memiliki hikmah. Wa liya’lamal mu’miniin (“Dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.”) Yaitu, orang-orang yang bersabar, teguh dan tidak tergoyahkan.

“Dan supaya Allah mengetahui siapa orang- orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan, ‘Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu). ‘Mereka berkata, ‘Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikutimu.”) Yang dimaksudkan adalah para Sahabat ‘Abdullah bin Ubay bin Salul yang bersamanya mereka kembali pulang saat di tengah perjalanan, lalu mereka dijemput oleh beberapa orang-orang mukmin untuk mengajak mereka kembali membantu berperang.

Oleh karena itu, Allah berfirman: awidfa-‘uu (“Atau pertahankanlah [dirimu].”) Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, adh-Dhahhak, Abu Shalih, al-Hasan al-Bashri dan as-Suddi berkata, “Artinya, perbanyaklah jumlah kaum muslimin.” Al-Hasan bin Shalih berkata: “Pertahankanlah melalui do’a.” Sedangkan yang lainnya berkata, “Tetaplah bersiap siaga.”

Setelah itu mereka mencari alasan: lau na’lamu qitaalal lattaba’naakum (“Sekiranya kami mengetahui akan terjadinya peperangan, tentulah kami mengikutimu.”) Mujahid berkata, mereka menuturkan, “Seandainya saja kami mengetahui bahwa kalian akan berperang, niscaya kami akan ikut bersama kalian. Namun ternyata kalian tidak berperang.”

Allah berfirman: Hum lilkufri yauma-idzin aq-rabu minHum lil iimaan “Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan.”) Dengan ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa keadaan seseorang dapat berubah-ubah, bisa lebih dekat dengan kekufuran atau lebih dekat dengan keimanan. Hal itu sebagaimana yang difirmankan-Nya, “Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan.”

Selanjutnya Allah berfirman, yaquuluuna bi afwaaHiHim maa laisa fii quluubiHim (“Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya.”) Yakni mereka mengucapkan suatu perkataan tetapi mereka tidak beri’tikad terhadap kebenarannya. Di antara ucapan mereka itu adalah “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikutimu.” Mereka secara pasti telah mengetahui bahwa pasukan orang-orang musyrik telah datang dari negeri yang jauh untuk membalas dendam kepada kaum muslimin atas terbunuhnya tokoh-tokoh dan para pemuka mereka pada waktu perang Badar. Jumlah mereka beberapa lipat dari jumlah kaum muslimin, dan dipastikan di antara mereka akan terjadi perang.

Oleh karena itu Allah berfirman: wallaaHu a’lamu bimaa yaktumuun (“Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.”)

Setelah itu Allah berfirman: alladziina qaaluu li-ikhwaaniHim wa qa’aduu lau athaa’uunaa maa qutiluu (“Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang, ‘Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh.’”) Artinya, seandainya mereka mendengar hasil musyawarah kita terdahulu dengan mereka, yaitu tetap tinggal di Madinah serta tidak pergi menghadapi musuh, niscaya mereka tidak akan terbunuh bersama mereka yang terbunuh.

Allah berfirman: qul fad-ra-uu an anfusikumul mauta in kuntum shaadiqiin (“Katakanlah, ‘Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang orang yang benar.’”) Jika ketidak pergian itu dapat menyelamatkan seseorang dari terbunuh dan kematian, maka seharusnya kalian juga tidak akan mati. Sedangkan kematian merupakan suatu keharusan yang pasti menjemput kalian meskipun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kuat. Maka tolaklah kematian itu dari diri kalian jika kalian adalah orang-orang yang benar.

Mujahid meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata, “Ayat ini turun sehubungan dengan ‘Abdullah bin Ubay bin Salul dan rekan-rekannya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 159-164

18 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 159-164“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali ‘Imraan: 159) Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu; dan jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. (QS. Ali ‘Imraan: 160) Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang). Barangsiapa yang berkhianat (dalam urusan rampasan perang itu), maka pada hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu; kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya. (QS. Ali ‘Imraan: 161) Apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah dan tempatnya adalah Jahannam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali (QS. Ali ‘Imraan: 162) (Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Mahamelihat apa yang mereka kerjakan. (QS. Ali ‘Imraan: 163) Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali ‘Imraan: 164)

Allah berfirman ditujukan kepada Rasulullah, mengingatkan atas karunia yang telah diberikan kepadanya dan kepada orang-orang yang beriman, tatkala Allah menjadikan hati beliau lembut kepada umatnya yang mengikuti perintah dan meninggalkan larangannya serta menjadikan beliau bertutur kata baik kepada mereka, fa bimaa rahmatim minallaaHi linta laHum (“Maka disebabkan rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.”) Artinya, dan tidak ada sesuatu yang menjadikan kamu bersikap lemah lembut kepada mereka kalau bukan rahmat Allah yang diberikan kepadamu dan kepada mereka.

Mengenai firman-Nya: fa bimaa rahmatim minallaaHi linta laHum (“Maka disebabkan rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.”) Qatadah mengatakan, “Karena rahmat Allah engkau [Muhammad] bersikap lemah lembut kepada mereka.” huruf “lam” merupakan penghubung [shilah]. Dan bangsa Arab biasa menghubungkannya dengan isim ma’rifat. Sebagaimana firman-Nya: fa bimaa naq-dliHim miitsaaqaHum (“Maka [Kami lakukan beberapa tindakan kepada mereka] disebabkan mereka melanggar perjanjian itu”) (An-Nisaa’: 155) dan dengan isim nakirah seperti dalam firman-Nya: ‘ammaa qaliil (“Dalam sedikit waktu lagi”) (Al-Mu’minuun: 40) demikian juga di sini Allah berfirman: fa bimaa rahmatim minallaaHi linta laHum (“Maka disebabkan rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.”)

Al-Hasan al-Bashri berkata, “Yang demikian itu merupakan akhlak Nabi Muhammad saw. yang dengannya Allah mengutusnya. Dan ayat ini serupa dengan firman-Nya yang artinya: “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (at-Taubah: 128)

Setelah itu Allah berfirman: wa lau kunta fadh-dhan ghaliidhal qalbi lanfadl-dluu min haulika (“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”) yang dimaksud dengan “alfadh-dhu” dan “alghaliidh” di sini adalah ucapan kasar. Hal ini sesuai dengan firman-Nya setelah itu: ghaliidhal qalbi (“berhati kasar”). Artinya jika kamu mengeluarkan kata-kata buruk dan berhati kasar kepada mereka, niscaya mereka akan menjauh dan meninggalkanmu, tetapi Allah menyatukan mereka semua kepadamu. Dan Allah menjadikan sikapmu lembut kepada mereka dimaksudkan untuk menarik hati mereka sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin ‘Amr, “Aku melihat sifat-sifat Rasulullah saw. dalam kitab-kitab terdahulu seperti itu, dimana beliau tidak bertutur kata kasar dan tidak juga berhati keras, tidak suka berteriak-teriak di pasar, tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi beliau senantiasa memberi maaf.

Allah berfirman: fa’fu ‘anHum wastaghfirlaHum wa syaawirHum fil amri (“Maafkanlah mereka, mohonkan ampunan bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”) Oleh sebab itu Rasulullah senantiasa mengajak para Sahabatnya bermusyawarah mengenai suatu persoalan yang terjadi untuk menjadikan hati mereka senang dan supaya mereka lebih semangat dalam berbuat. Sebagaimana beliau pernah mengajak mereka bermusyawarah pada waktu perang Badar mengenai keberangkatan menghadang pasukan orang-orang kafir. Para Sahabat berkata, “Ya Rasulullah, jika engkau menyeberangi lautan, niscaya kami akan ikut menyeberanginya bersamamu. Dan jika engkau menelusuri daratan dalam kegelapan ke Barkil Ghimad, niscaya kami akan ikut berjalan bersamamu. Kami tidak akan mengatakan apa yang dikatakan kaum Musa kepadanya, di mana kaumnya itu berkata, ‘Pergilah engkau bersama Rabb-mu dan berperanglah, kami akan duduk-duduk di sini saja.’ Tetapi kami akan mengatakan kepadamu, “Pergilah, dan kami akan senantiasa bersamamu, di depan, di kanan dan kirimu untuk ikut berperang.”

Selain itu, Rasulullah juga pernah mengajak mereka bermusyawarah, di mana harus berkemah, hingga akhirnya al-Mundzir bin ‘Amr menyarankan untuk bertempat di hadapan lawan.

Dalam perang Uhud, beliau juga pernah mengajak bermusyawarah, yaitu tetap tinggal di Madinah atau pergi menghadapi musuh. Akhirnya, mayoritas Sahabat menyarankan untuk pergi menghadapi musuh. Maka beliaupun pergi bersama mereka menghadapai musuh.

Sedangkan pada perang Khandaq beliau juga mengajak para Sahabat bermusyawarah mengenai masalah al-Ahzab, yaitu tawaran perdamaian dengan memberikan sepertiga hasil kekayaan kota Madinah pada tahun itu. Namun hal itu ditentang oleh Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin `Ubadah, hingga akhirya beliau tidak melanjutkannya.

Dan pada peristiwa perjanjian Hudaibiyah, yaitu terhadap usulan untuk menyerang orang-orang musyrik. Maka Abu Bakar ash-Shiddiq berkata kepadanya, “Sesungguhnya kita datang tidak untuk berperang, tetapi kita datang adalah untuk mengerjakan umrah.” Maka Rasulullah pun menyetujui pendapat Abu Bakar, Beliau juga pernah minta pendapat ‘Ali dan Usamah tentang perceraiannya dengan ‘Aisyah dalam peristiwa haditsul ifki (berita bohong).

Demikianlah, beliau bermusyawarah dengan para Sahabatnya baik dalam masalah perang atau masalah-masalah lainnya. Para fuqaha (ahli fiqih) berbeda pendapat, apakah bermusyawarah itu suatu hal yang wajib bagi beliau atau sunnah dalam rangka menarik hati
mereka?

Mengenai hal itu, terdapat dua pendapat. Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi bahwa beliau pernah bersabda: “Orang yang dimintai pendapat itu adalah orang yang dapat dipercaya.”
Hadits di atas diriwayatkan Abu Dawud dan at-Tirmidzi. Dan an-Nasa’i menilainya sebagai hadits hasan dari hadits ‘Abdul Malik dengan redaksi yang lebih panjang dari riwayat ini.

Firman-Nya, fa idzaa ‘azamta fatawakkal ‘alallaaHi (“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah.”) Artinya, jika kamu telah bermusyawarah dengan mereka mengenai suatu masalah, lalu kamu telah benar-benar bulat terhadap keputusan yang dihasilkan, maka bertawakkallah kepada Allah; innallaaHa yuhibbul mutawakkiliin (“Sesungguhnya allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Firman-Nya yang artinya, “Jika Allah menolongmu, maka tidak ada orang yang dapat mengalahkanmu. Jika Allah membiarkanmu (tidak memberikan pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolongmu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” Ayat ini sama seperti ayat sebelumnya: “Dan pertolongan itu tidak lain kecuali dari sisi Allah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Ali-‘Imraan: 126) Setelah itu Dia memerintahkan mereka untuk bertawakkal kepada-Nya seraya berfirman, wa ‘alallaaHi falyatawakkalil mu’minuun (“Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.”)

Dan firman-Nya, wa maa kaana li nabiyyin ay yaghull (“Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat [dalam urusan harta rampasan perang].”) Mengenai firman-Nya ini, Ibnu Abbas, Mujahid, al-Hasan al-Bashri dan ulama lainnya berkata: “Tidak layak bagi seorang Nabi berkhianat.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, para Sahabat kehilangan selimut dari sutera pada waktu perang Badar, lalu mereka berkata, “Mungkin Rasulullah yang mengambilnya.” Maka Allah pun menurunkan ayat: wa maa kaana li nabiyyin ay yaghull (“Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat [dalam urusan harta rampasan perang].”)

Demikian itu juga diriwayatkan Abu Dawud dan at-Tirmidzi. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan gharib. Yang demikian itu merupakan penyucian terhadap diri Nabi, dari berbagai bentuk pengkhianatan dalam menjalankan amanat, pembagian harta rampasan dan lain sebagainya.

Mengenai firman-Nya ini, wa maa kaana li nabiyyin ay yaghull (“Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat [dalam urusan harta rampasan perang].”) al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, yakni tidaklah beliau membagikan harta rampasan itu kepada sebagian pasukan saja dan meninggalkannya yang lainnya. Hal senada juga katakan oleh adh-Dhahhak.

Masih mengenai firman-Nya ini: wa maa kaana li nabiyyin ay yaghull (“Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat [dalam urusan harta rampasan perang].”) Muhammad bin Ishaq berkata, yakni tidaklah beliau meninggalkan sebagian dari apa yang diturunkan kepadanya dan tidak menyampaikan kepada umatnya.

Al-Hasan al-Bashri, Thawus, Mujahid, dan adh-Dhahhak membaca: wa maa kaana li nabiyyin ay yughall; dengan memberikan dhammah di atas huruf “ya” yang berarti “yukhaan” (dikhianati).

Sedangkan Qatadah dan ar-Rabi’ bin Anas berkata: “Ayat ini turun pada waktu perang Badar, di mana sebagian dari Sahabat Rasulullah berkhianat.”

Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Qatadah dan ar-Rabi’ bin Anas. Kemudian ia menceritakan dari sebagian ulama bahwa bacaan ini ditafsirkan dengan makna, “dituduh berkhianat.”

Selanjutnya Allah berfirman yang artinya, “Barangsiapa yang berkhianat (dalam urusan rampasan perang itu) maka pada hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu. Kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” Ini merupakan ancaman yang keras dan tegas.

Dan Sunnah Nabawiyyah sendiri telah melarang hal itu, yang dijelaskan dalam beberapa hadits. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Malik al-Asyja’i dari Nabi, beliau bersabda: “Pengkianatan yang paling besar di sisi Allah adalah pengkhianatan terhadap sejengkal tanah. Kalian dapati dua orang yang tanahnya -atau rumahnya- berdekatan (berbatasan), kemudian salah seorang dari keduanya mengambil sejengkal dari tanah milik saudaranya itu. Jika ia mengambilnya, maka akan dikalungkan kepadanya tujuh lapis bumi pada hari Kiamat kelak.” (HR. Ahmad).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Hubairah dan al-Harits bin Yazid dari ‘Abdurrahman bin Jubair, ia berkata, aku pernah mendengar al-Mustaurid bin Syaddad berkata, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Barangsiapa mengurusi suatu urusan bagi kami sedang ia tidak mempunyai rumah, maka hendaklah ia membangun rumah, atau tidak mempunyai isteri, maka hendaklah ia menikah, atau tidak mempunyai pelayan, maka hendaklah ia mengambil pelayan, atau tidak mempunyai binatang tunggangan maka hendaklah ia mengambilnya. Barangsiapa mengambil sesuatu melebihi itu, ia telah berkhianat.”

Hadits di atas juga diriwayatkan Imam Abu Dawud dengan sanad dan redaksi yang berbeda.
Imam Ahmad meriwayatkan pula Sufyan telah menceritakan kepada kami dari az-Zuhri, ia mendengar ‘Urwah berkata, Abu Hamid as-Sa’idi telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Rasulullah pernah mempekerjakan seseorang dari kabilah al-Azad yang bernama Ibnu al-Lutbiyyah untuk mengurus zakat. Setelah bekerja ia datang seraya berkata, “Ini untuk anda dan ini yang dihadiahkan untukku.” Maka Rasulullah berdiri di atas mimbar seraya bersabda: “Bagaimanakah keadaan orang yang kami tugaskan untuk mengurus sebuah pekerjaan, lalu ia berkata, ‘Ini untuk anda dan ini yang dihadiahkan untukku.’ Mengapa ia tidak duduk-duduk saja di rumah bapak dan ibunya sambil menunggu apakah hadiah itu diberikan kepadanya atau tidak? Demi Rabb yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidaklah salah seorang di antara kalian mengambilnya, melainkan akan datang dengan membawanya pada hari Kiamat kelak di atas pundaknya. Jika yang diambil itu berupa unta, maka unta itu akan mengeluarkan suaranya, atau sapi, maka sapi itu akan melenguh ataupun kambing, maka kambing itupun akan mengembik.” Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putih kedua ketiak beliau dan kemudian bersabda, “Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikan risalah.” Sebanyak tiga kali.

Hisyam bin ‘Urwah menambahkan, lalu Abu Hamid berkata, “Kedua mataku menyaksikannya, kedua telingaku mendengarkannya. Tanyakanlah kepada Zaid bin Tsabit.”

Dikeluarkan dari hadits Sufyan bin ‘Uyainah dan pada riwayat al-Bukhari: “Tanyakanlah kepada Zaid bin Tsabit.” Dan dalam bab ini juga diriwayatkan dari ‘Adi bin ‘Umairah, Buraidah, al-Mustaurid bin Syaddad, Abu Humaid dan Ibnu ‘Umar.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata, Rasulullah pernah berdiri di tengah-tengah kami lalu beliau mengingatkan masalah pengkhianatan. Beliau menganggapnya sebagai masalah yang besar dan penting, lalu beliau bersabda: “Sungguh aku akan menjumpai salah seorang di antara kalian yang datang pada hari Kiamat kelak dengan unta yang menderum di atas pundaknya seraya berkata, “Ya Rasulullah, tolonglah aku.” Maka kujawab, “Tidak, aku tidak mempunyai wewenang sedikit pun dari Allah untuk menolongmu. Aku dulu sudah pernah menyampaikan risalah kepadamu.” Dan aku akan menjumpai salah seorang di antara kalian yang datang pada hari Kiamat kelak sedang diatas pundaknya terdapat kuda yang meringkik seraya berkata, “Ya Rasulullah, tolonglah aku.” Maka kujawab, “Aku tidak mempunyai wewenang sedikitpun dari Allah untuk menolongmu. Aku dulu sudah menyampaikan risalah kepadamu.” Dan aku akan menjumpai salah seorang diantara kamu yang datang pada hari Kiamat dengan emas dan Perak, seraya berkata: “Ya Rasulullah, tolonglah aku.” Maka kujawab, “Aku tidak mempunyai wewenang sedikitpun dari Allah untuk menolongmu. Aku dulu sudah menyampaikan kepadamu.”
Dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abi Hayyan.

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari ‘Adi bin ‘Umairah al-Kindi, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Wahai sekalian manusia, barangsiapa di antara kalian bekerja untuk kami, lalu menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau yang lebih kecil darinya, maka hal itu adalah pengkhianatan dan ia akan datang membawanya pada hari Kiamat.” Kemudian salah seorang dari kaum Anshar yang berkulit hitam berdiri -yang menurut Mujahid dia adalah Sa’ad bin ‘Ubadah, seolah-olah aku pernah melihatnya- seraya berkata, “Ya Rasulullah, terimalah dariku tugasmu ini.” Beliau bertanya, “Tugas apa itu?” la menjawab, “Aku pernah mendengar engkau mengatakan ini dan itu. Beliau pun berkata, “Dan aku katakan hal itu sekarang. Barangsiapa yang pernah kami pekerjakan untuk mengerjakan sesuatu, maka hendaklah ia datang dengan membawanya, sedikit atau banyak. Apa yang diberikannya, maka hendaklah ia mengambilnya, dan apa yang tidak diberikannya, maka hendaklah ia menahan diri.” (Demikian juga yang diriwayatkan Imam Muslim dan Imam Abu Dawud).

Imam Ahmad meriwayatkan, telah menceritakan kepadaku Samakal-Hanafi Abu Zamil, telah menceritakan kepadaku ‘Abdullah bin ‘Abbas, telah menceritakan kepadaku ‘Umar bin al-Khaththab, ia berkata, ketika perang Khaibar berlangsung ada beberapa orang Sahabat yang datang menemui Rasulullah seraya berkata, “Si fulan mati syahid, si fulan mati syahid.” Hingga mereka mengatakan, “Si fulan mati syahid.” Lalu Rasulullah bersabda, “Tidak, aku melihatnya berada di Neraka di dalam selimut -atau mantel- yang digelapkannya.” Lebih lanjut beliau bersabda, “Pergi dan serukan kepada semua orang bahwasanya tidak akan masuk Surga kecuali orang-orang yang beriman.” Maka aku pun keluar dan menyerukan bahwasanya tidak akan masuk Surga kecuali orang-orang yang beriman.”

Hal senada juga diriwayatkan Imam Muslim dan Imam at-Tirmidzi dari hadits ‘Ikrimah bin ‘Ammar. Dan at-Tirmidzi berkata, bahwa hadits ini hasan shahih.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Salim bin ‘Abdullah, bahwa ia bersama Maslamah bin ‘Abdul Malik berada di kawasan Romawi, lalu ia mendapati dalam harta kekayaan seseorang terdapat harta pengkhianatan. Kemudian ia menanyakan kepada Salim bin ‘Abdullah, maka ia menjawab, Abu ‘Abdullah telah menceritakan kepadaku dari ‘Umar bin al-Khaththab ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang mendapatkan dalam harta kekayaannya terdapat harta pengkhianatan, maka bakarlah, atau -ia mengatakan, tahanlah, atau mengatakan- dan binasakanlah.” Lalu ia mengeluarkan kekayaannya itu di pasar dan kemudian ia menemukan mushaf al-Qur’an dan ia tanyakan kepada Salim bin ‘Abdullah, maka Salim pun menjawab, “Jual dan sedekahkan hasil penjualannya.”

Demikianlah yang diriwayatkan ‘Ali bin al-Madini, Abu Dawud danat-Tirmidzi. ‘Ali bin al-Madini, Imam al-Bukhari dan lain-lainnya mengatakan bahwa hadits tersebut mungkar dari riwayat Abu Waqid. Sedangkan ad-Daruquthni mengatakan, yang benar bahwa hal itu hanya fatwa dari Salim semata.

Imam Ahmad dan para pengikutnya berpendapat seperti hadits diatas, sedangkan Abu Hanifah, Malik, dan asy-Syafi’i, serta jumhur ulama menentangnya seraya mengatakan, bahwa kekayaan orang yang berkhianat itu tidak dibakar melainkan cukup hanya dengan mendera pemiliknya dengan deraan yang setimpal. Imam al-Bukhari mengatakan, Rasulullah tidak mau menyalatkan orang yang berkhianat dan beliau tidak membakar kekayaannya. Wallahu a’lam.

Firman-Nya: a fa manit taba’a ridl-waanallaaHi kamam baa-a bisakhatim minallaaHi wa ma’waaHu jaHannamu wa bi’sal mashiir (“Apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan [yang besar] dari Allah dan tempatnya adalah jahannam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”) Artinya, tidak ada kesamaan antara orang yang mengikuti keridhaan Allah swt. dengan menerapkan syari’at-Nya sehingga dengan demikian itu ia berhak mendapatkan keridhaan dan pahala-Nya yang besar serta dilindungi dari siksa-Nya yang berat, dengan orang yang berhak mendapatkan murka Allah, yang sudah menjadi kepastian baginya serta tidak dapat dipalingkan darinya, dan pada hari Kiamat kelak tempatnya adalah Neraka Jahannam yang merupakan tempat kembali yang paling buruk.

Ayat di atas ini memiliki persamaan dengan ayat-ayat lain yang cukup banyak di dalam al-Qur’an. Seperti misalnya ayat yang artinya: “Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu itu benar sama dengan orang yang buta?” (QS. Ar-Ra’d: 19)

Kemudian Allah swt. berfirman, Hum darajaatun ‘indallaaHi (“[Kedudukan] mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah.”) Al-Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Ishaq berkata, yaitu orang-orang yang berbuat kebaikan dan orang-orang yang berbuat kejahatan itu bertingkat-tingkat. Abu ‘Ubaidah dan Kisa’i berkata, yakni mempunyai tingkatan yang berbeda-beda, baik di Surga maupun di Neraka. Sebagaimana firman-Nya, “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang telah dikerjakannya.” (QS. Al-An’aam: 132).

Oleh karena itu, Allah swt, berfirman: wallaaHu bashiirum bimaa ya’maluun (“Dan Allah Mahamelihat apa yang mereka kerjakan.”) Maksudnya, Allah akan memberikan balasan kepada mereka sesuai tingkatannya masing-masing dengan tidak menzhalimi mereka terhadap kebaikan yang dikerjakan dan tidak pula menambah mereka terhadap kejahatan yang dikerjakan, tetapi Allah memberi balasan sesuai dengan amalan masing-masing.

Firman-Nya: laqad mannallaaHu ‘alal mu’miniina idz ba’atsa fiiHim rasuulam min anfusiHim (“Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara seorang rasul dari golongan mereka sendiri.”) yaitu dari jenis mereka sendiri supaya mereka bisa berkomunikasi, bertanya jawab, berdampingan, serta mengambil manfaat darinya.

Allah juga berfirman yang artinya: “Kami tidak mengutus sebelummu melainkan seorang laki-laki yang Kami beri wahyu kepadanya di antara penduduk negeri.” (Yusuf: 109) juga firman-Nya: “Wahai sekalian jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu Rasul-rasul dari golongan kamu sendiri.” (al-An’am: 130)

Ini adalah karunia yang paling besar, dimana Rasul yang diutus kepada mereka itu adalah dari jenis mereka sendiri, sehingga dengan demikian mereka bisa berkomunikasi dan menjadikannya sebagai tempat rujukan dalam memahami firman-firman-Nya.

Oleh karena itu Allah berfirman: yatluu ‘alaiHim aayaatiHi (“Yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah.”) yakni al-Qur’an. Wa yuzakkiiHim (“membersihkan jiwa mereka.”) yakni memerintahkan mereka mengerjakan kebajikan dan mencegah mereka dari melakukan kemunkaran, agar dengan demikian mereka bisa menyucikan diri dari kotoran dan najis yang menyelimuti mereka, ketika mereka masih dalam keadaan jahiliyyah yang diselimuti dengan kemusyrikan.

Wa yu’allimuHumul kitaaba wal hikmata (“Serta mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah.”) yakni al-Qur’an dan sunnah Nabi saw. Wa in kaanuu min qab-lu (“dan sesungguhnya mereka sebelum itu”) yaitu sebelum kedatangan Rasulullah saw. La fii dlalaalim mubiin (“Benar-benar dalam kesesatan yang nyata”) yakni dalam penyimpangan dan dan kebodohan yang nyata dan jelas bagi setiap orang.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 156-158

18 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 156-158“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: “Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh”. Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali ‘Imraan: 156) Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan.(QS. Ali ‘Imraan: 157) Dan sungguh jika kamu meninggal atau gugur, tentulah kepada Allah saja kamu dikumpulkan.” (QS. Ali ‘Imraan:158)

Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menyerupai orang-orang kafir dalam keyakinan mereka yang rusak seperti yang tertuang dalam ungkapan mereka mengenai saudara-saudara mereka yang meninggal dalam perjalanan dan peperangan, “Seandainya mereka meninggalkan perang tersebut, pasti mereka tidak akan tertimpa musibah itu.”

Maka Allah berfirman, yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa takuunuu kalladziina kafaruu wa qaaluu li ikhwaaniHim (“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir [orang-orang munafik] itu, yang mengadakan kepada saudara-saudara mereka.”) Yakni, mengenai saudara-saudara mereka.

Idzaa dlarabuu fil ardli (“Apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi.”) Yaitu, ketika mereka mengadakan perjalanan untuk berdagang atau kegiatan lainnya, au kaanuu ghuzzan (“atau mereka berperang.”) Yakni, ketika mereka berada dalam peperangan. Lau kaanuu ‘indanaa (“Kalau mereka tetap bersama-sama kita.”) Yakni, tetap menetap di kampung ini. Maa maatuu wa maa qutiluu (“Tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh.”) Maksudnya, mereka tidak akan mati dalam perjalanan dan tidak dibunuh dalam peperangan.

Dan firman Allah: liyaj’alallaaHu dzaalika hasratan fii quluubiHim (“Akibat [dari per-kataan dan keyakinan mereka] yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat, di dalam hati mereka.”) Maksudnya, Allah menciptakan keyakinan tersebut dalam diri mereka untuk menambah penyesalan atas orang-orang yang mati dan terbunuh.

Kemudian Allah berfirman sebagai bantahan terhadap mereka: wallaaHu yuhyii wa yumiitu (“Allah menghidupkan dan mematikan.”) Artinya, di tangan-Nya penciptaan itu berada dan kepada-Nya segala sesuatu kembali. Tidak seorang pun hidup dan mati kecuali atas kehendak dan takdir-Nya. Dan tidak akan bertambah atau berkurang umur seseorang, karena semuanya telah ditetapkan melalui qadha dan qadar-Nya.

Firman-Nya, wallaaHu bimaa ta’maluuna bashiir (“Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan.”) Maksudnya, ilmu dan penglihatan-Nya menembus seluruh makhluk-Nya. Tidak ada sesuatu pun dari urusan mereka yang tersembunyi dari-Nya.

Firman-Nya: wa la-in qutiltum fii sabiilillaaHi au muttum lamaghfiratum minallaaHi wa rahmatun khairum mimmaa yajma’uun (“Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik [bagimu] dari harta rampasan yang mereka kumpulkan.”) Ayat ini mengandung makna bahwa berperang dan mati di jalan Allah merupakan salah satu sarana mendapatkan rahmat, ampunan, dan ke-ridhaan-Nya. Dan yang demikian itu lebih baik daripada tetap hidup di dunia ini dan memperoleh segala isinya yang fana ini.

Selanjutnya Allah memberitakan bahwa semua orang yang meninggal atau terbunuh tempat kembalinya adalah Allah. Dan Dia akan memberikan balasan sesuai dengan amal yang pernah dikerjakannya, jika berbuat baik, maka kebaikan yang akan diperolehnya. Dan sebaliknya, jika berbuat jahat, maka kejahatan pula yang akan didapatnya. Allah berfirman, wa la-im muttum au qutiltum la-ilallaaHi tuhsyaruun (“Dan sesungguhnya jika kamu meninggal atau gugur, tentulah kepada Allah saja kamu dikumpulkan.”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 154-155

18 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 154-155“Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepadamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari padamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan Jahiliyyah. Mereka berkata: ‘Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.’ Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: ‘Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.’ Katakanlah: ‘Sekiranya kamu berada dirumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh.’ Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Mahamengetahui segala isi hati. (QS. Ali ‘Imraan: 154) Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka. Sesungguhnya AllahMahapengampun lagi Mahapenyantun.” (QS. Ali ‘Imraan: 155)

Allah berfirman, bahwa Dia menganugerahkan ketenangan dan keamanan kepada hamba-hambanya, yaitu berupa kantuk yang menghinggapi mereka ketika mereka masih memanggul senjata, pada saat di mana mereka masih bersedih dan berduka. Rasa kantuk dalam kondisi demikian itu menciptakan rasa aman. Sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam surat al-Anfaal berkenaan kisah perang Badar.
Idz yughasysyii kumunnaasa amanatam minHum (“Tatkala kantuk menghinggapi kamu sebagai rasa aman dari-Nya.”) (QS. Al=Anfaal: 11)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Rasa kantuk dalam peperangan itu dari Allah, sedangkan dalam shalat berasal dari syaitan.”

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Thalhah, ia berkata, aku termasuk salah seorang yang dihinggapi rasa kantuk pada peristiwa perang Uhud sehingga pedangku terjatuh dari tanganku berkali-kali, jatuh dan kuambil, jatuh dan kuambil lagi.

Demikian yang diriwayatkan dalam kitab al-Maghazi secara mu’allaq dan juga diriwayatkan dalam kitab Tafsir dengan disandarkan kepada Syaibah, Qatadah, Anas dan Abu Thalhah.

Dan telah diriwayatkan pula oleh Imam at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan al-Hakim. Sedangkan golongan lainnya adalah orang-orang munafik yang merupakan kaum yang paling pengecut, penakut dan tidak mau menerima kebenaran. Yadhunnuuna billaaHi ghairal haqqi dhannal jaaHiliyyati (“Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyyah.”) Artinya, mereka ini tidak lain adalah orang-orang yang penuh keraguan terhadap Allah swt.

Sedangkan firman-Nya: tsumma anzala ‘alaikum mim ba’dil ghammi amanatan nu’aasay yaghsya thaa-ifatam minkuum (“Kemudian setelah kamu berduka cita, Allah menurunkan kepadamu keamanan [berupa] kantuk yang meliputi segolongan dari padamu.”) Yakni orang-orang yang penuh keimanan, keyakinan, keteguhan dan tawakkal yang sungguh-sungguh. Dan mereka benar-benar yakin bahwa Allah akan menolong Rasul-Nya dan mengabulkan permohonannya.

Oleh karena itu Allah berfirman, wa thaa-ifatun qad aHammatHum anfusuHum (“Sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri.”) Yaitu, golongan ini tidak dihinggapi rasa kantuk (yang melindungi mereka) dari kecemasan, kegelisahan dan ketakutan. Yadhunnuuna billaaHi ghairal haqqi dhannal jaaHiliyyati (“Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyyah.”) Hal itu seperti yang difirmankan-Nya dalam ayat yang lain, bal dhanantum al lay yanqalibar rasuulu wal mu’minuuna ilaa aHliHim abadan…. (“Tapi, kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang yang beriman tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka untuk selamanya…. [hingga akhir ayat]”) (QS. Al-Fath: 12)

Demikianlah golongan orang-orang munafik tersebut, ketika orang-orang musyrik bermunculan pada saat itu, mereka berkeyakinan bahwa saat itu merupakan kemenangan bagi mereka, sedangkan Islam beserta pemeluknya telah binasa. Itulah keadaan orang-orang yang diliputi keraguan jika mereka menghadapi suatu masalah dan mereka mempunyai sangkaan-sangkaan yang jelek.

Selanjutnya Allah memberitahukan bahwa mereka, yaquuluuna (“berkata”) pada saat itu, Hal lanaa minal amri min syai-in (“Apakah ada bagi kita barang sesuatu [hak campur tangan] dalam urusan ini?”)

Maka Allah berfirman, qul innal amra kullaHuu lillaaHi yukhfuuna fii anfusiHim maa laa yubduuna laka (“Katakanlah, ‘Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah. ‘Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu.”)

Setelah itu Allah menerangkan apa yang mereka sembunyikan dalam diri mereka itu melalui firman-Nya: yaquuluuna lau lau kaana lanaa minal amri syai-um maa qutilnaa HaaHunaa (“Mereka berkata: ‘Sekiranya ada bagi kita barang sesuatui [hak campur tangan] dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.’”) Artinya, mereka menyembunyikan perkataan ini dari Rasulullah saw.

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari ‘Abdullah bin az-Zubair, ia berkata, aku sedang bersama Rasulullah ketika kami dihinggapi rasa takut yang mencekam dan aku menyaksikan Allah mengirimkan rasa kantuk kepada kami sehingga tidak ada seorang pun di antara kami melainkan dagunya terkulai jatuh di dadanya. Az-Zubair berkata, “Demi Allah, aku mendegar apa yang dikatakan Mu’tab bin Qusyair. Dan aku tidak mendengamya melainkan seperti impian.” Mu’tab mengatakan, yaquuluuna lau lau kaana lanaa minal amri syai-um maa qutilnaa HaaHunaa (“Sekira-nya ada bagi kita barang sesuatu [hak campur tangan] dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh [dikalahkan] di sini.”) Lalu aku menghafalnya, sehubungan dengan hal itu Allah menurunkan firman-Nya, yaquuluuna lau lau kaana lanaa minal amri syai-um maa qutilnaa HaaHunaa (“Mereka berkata, ‘Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu [hak campur tangan] dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh dikalahkan di sini.”‘) Karena perkataan Mu’tab. Hadits ini di-riwayatkan Ibnu Abi Hatim.

Allah berfirman, qul lau kuntum fii buyuutikum labarazal ladziina kutiba ‘alaiHimul qatlu ilaa ma-dlaaji-‘iHim (“Katakanlah, ‘Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar [juga] ke tempat mereka terbunuh.’”) Artinya, yang demikian itu telah ditakdirkan oleh Allah, merupakan ketetapan yang pasti yang tidak akan dapat dihindari dan melepaskan diri darinya.

Firman-Nya, wa liyab-taliyallaaHu maa fii shuduurikum wa liyumahhisha maa fii quluubikum (“Dan Allah [berbuat demikian] untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu.”) Maksudnya, Allah menguji kalian melalui apa yang terjadi pada kalian guna membedakan yang buruk dari yang baik serta memperjelas keadaan orang-orang yang beriman dari orang-orang munafik kepada umat manusia, baik dalam ucapan maupun tindakan mereka. wallaaHu ‘aliimum bidzaatish shuduur (“Allah Mahamengetahui isi hati.”) Yakni, rahasia yang terdapat dalam dada dan hati mereka.

Setelah itu Allah berfirman: innal ladziina tawallau minkum yauumal taqal jam-‘aani innamas tazallaHumusy syaithaanu bi ba’dli maa kasabuu (“Orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat [pada masa lampau].”) Maksudnya, disebabkan oleh sebagian dosa mereka yang terdahulu. Sebagaimana yang dikatakan sebagian ulama salaf, “Sesungguhnya di antara balasan kebaikan adalah terjadinya kebaikan sesudahnya. Dan balasan keburukan adalah terjadinya keburukan sesudahnya.”

Selanjutnya Allah berfirman: wa laqad ‘afallaaHu ‘anHum (“Dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka.”) yaitu, tindakan melarikan diri yang pernah mereka lakukan. innallaaHa ghafuurun haliim (“Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyantun.”) Maksudnya, Allah mengampuni dosa, menyantuni semua makhluk-Nya, serta memaafkan kesalahan mereka.

Mengenai hal ini telah dikemukakan hadits dari Ibnu ‘Umar yang membahas mengenai keadaan ‘Utsman dan berpalingnya (larinya ia) pada waktu perang Uhud. Di mana Allah telah memberikan maaf kepadanya beserta orang-orang yang diberikan maaf oleh-Nya. Yaitu dalam firman-Nya, laqad ‘afaa ‘ankum (“Dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu.”) (QS. Ali-Imran: 152)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 149-153

18 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 149-153“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikanmu kebelakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. (QS. Ali ‘Imraan: 149) Tetapi (ikutilah Allah) ,Allah-lah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik penolong. (QS. Ali ‘Imraan:150) Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah Neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zhalim”. (QS. Ali ‘Imraan: 151) Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya, sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antaramu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkanmu dari mereka untuk mengujimu; dan sesungguhnya Allah telah memaafkanmu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman. (QS. Ali ‘Imraan: 152) (Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggilmu, karena itu Allah menimpakan atasmu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari padamu danterhadap apa yang menimpamu. Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali ‘Imraan: 153)

Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar tidak mentaati orang-orang kafir dan orang-orang munafik, karena ketaatan kepada mereka akan menyebabkan kebinasaan di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu, Allah berfirman: in tuthii’ul ladziina kafaruu yarudduukum ‘alaa a’qaabikum fatanqalibuu khaasiriin (“Jika kamu mentaati orang-orang kafir, niscaya mereka mengembalikanmu ke belakang [kepada kekafiran], lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.”)

Setelah itu Allah memerintahkan mereka agar mentaati-Nya, berwala, memohon pertolongan, serta bertawakkal kepada-Nya. Di mana dalam hal ini Allah berfirman: balillaaHu maulaakum wa Huwa khairun naashiriin (“Tetapi [ikutilah Allah]. Allah adalah pelindungmu dan Dia-lah sebaik-baik penolong.”)

Selanjutnya, Allah menyampaikan berita gembira kepada mereka bahwa Allah, akan memasukkan ke dalam hati musuh-musuh mereka rasa takut terhadap kaum muslimin dan menghinakan mereka disebabkan oleh ke-kufuran dan kemusyrikan mereka, serta merendahkan mereka dengan adzab dan siksa di akhirat.

Allah berfirman yang artinya: “Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang hal itu. Tempat kembali mereka adalah Neraka. Dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zhalim.”

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim terdapat riwayat dari Jabir bin ‘Abdillah, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Telah diberikan kepadaku lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang Nabi pun sebelumku; Aku ditolong (dimenangkan) dengan diberikannya rasa takut pada musuh dalam jarak perjalanan satu bulan, bumi ini dijadikan untukku sebagai masjid (tempat sujud) dan penyuci, dihalalkan bagiku harta rampasan perang, aku diberi hak syafa’at, dan Nabi selainku diutus kepada kaumnya secara khusus, sedangkan aku diutus kepada umat manusia secara keseluruhan.”

Firman-Nya: wa laqad shadaqa kumullaaHu wa’daHuu idz tahussuunaHum bi idzniHi (“Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya.”) Ibnu ‘Abbas berkata: Allah menjanjikan kemenangan kepada mereka. Oleh karena itu Allah berfirman, wa laqad shadaqa kumullaaHu wa’daHuu (“sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu.”) Yaitu pada permulaan Siang hari, idz tahussuunaHum bi idzniHi (“Ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya.”) Yakni dengan pemberian kekuasaan kepada kalian atas diri mereka. hattaa idzaa fasyiltum (“Sampai pada saat kamu lemah.”)Ibnu juraij berkata dari Ibnu Abbas, ia mengatakan bahwa al-fasyal berarti pengecut.

Wa tanaaza’tum fil amri wa ‘ashaitum (“Dan berselisih dalam urusan itu serta mendurhakai perintah [Rasul].”) Seperti yang terjadi pada regu pemanah. Mim ba’di maa araakum maa tuhibbuun (“Sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai.”) Yaitu kemenangan atas mereka. minkum may yuriidud dun-yaa (“Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia.”) Mereka itu adalah orang-orang yang hanya ingin mengejar harta rampasan ketika mereka melihat kekalahan kaum musyrikin. Wa minkum may yuriidul aakhirata tsumma sharafakum ‘anHum liyab-taliyakum (“Dan di antara kamu ada juga orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk mengujimu.”) Setelah itu, Allah memenangkan mereka atas kalian untuk menguji kalian. Wa laqad ‘afaa ‘ankum (“Dan sesungguhnya Allah telah memaafkanmu.”) Yakni memberikan ampunan kepada kalian atas tindakan tersebut. Hal itu, wallahu a’lam, karena banyaknya jumlah musuh dan perlengkapannya serta sedikitnya jumlah kaum muslimin dan perlengkapannya. wallaaHu dzuu fadl-lin ‘alal mu’miniin (“Dan Allah mempunyai karunia [yang dilimpahkan] atas orang-orang yang beriman.”)

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari al-Barra’, ia berkata: “Pada hari itu kami bertemu dengan orang-orang musyrik. Dan Nabi menempatkan pasukan pemanah serta menunjuk ‘Abdullah bin Jubair untuk memimpin mereka, beliau pun bersabda: ‘Kalian jangan sampai beranjak dari posisi kalian. Jika kalian melihat kami lebih unggul dari mereka, maka jangan sekali-kali beranjak. Dan jika kalian melihat mereka lebih unggul dari kami, maka janganlah pula kalian membantu kami.’ Maka tatkala kami berhadapan dengan mereka, mereka (kaum musyrik) lari tunggang langgang hingga aku menyaksikan para wanita berlarian menaiki gunung sambil mengangkat kain mereka Sampai betis, sehingga nampaklah gelang-gelang di kaki mereka, ketika itu orang-orang berteriak: ‘Ghanimah, ghanimah (harta rampasan),’ maka ‘Abdullah bin Jubair pun berkata: ‘Nabi telah mengambil janji kepadaku agar kalian tidak meninggalkan posisi kalian.’ Namun mereka membangkang dan mereka memalingkan wajah mereka (kepada ghanimah), maka terjadilah serangan balik terhadap kaum muslimin, sehingga terbunuhlah sebanyak 70 orang.

Kemudian Abu Sufyan mendekat seraya berteriak: ‘Apakah di antara kalian ada Muhammad?’ Nabi pun menyampaikan: ‘Janganlah kalian menjawabnya.’ Abu Sufyan berseru lagi: ‘Apakah di antara kalian terdapat Ibnu Abi Quhafah?’ Nabi bersabda: ‘Janganlah kalian menjawabnya.’ Abu Sufyan terus berteriak: ‘Apakah di antara kaum ini terdapat ‘Umar bin al-Khaththab?’ Lebih lanjut, Abu Sufyan berseru: ‘Ternyata mereka semua telah terbunuh, seandainya mereka masih hidup, niscaya mereka akan menjawab.’ Mendengar hal itu, Umar tidak dapat menahan diri dan berkata: ‘Wahai musuh Allah, kamu bohong. Mudah-mudahan Allah mengekalkan apa yang dapat mendatangkan kesedihan bagimu.’ Kemudian Abu Sufyan berteriak: ‘Hidup Hubal dan agunglah dia.’ Maka Nabi bersabda: ‘Berikan jawaban kepadanya.’ Para Sahabat bertanya: ‘Apa yang harus kami katakan?’ Beliau menjawab: ‘Katakanlah bahwa Allah Mahatinggi dan Mahaagung.’ Selanjutnya Abu Sufyan berseru: ‘Kami memiliki ‘Uzza sedangkan kalian tidak.’ Kemudian Nabi bersabda: ‘Berikan jawaban kepadanya.’ ‘Dengan apa kami harus menjawab,’ tanya para Sahabat. Beliau menuturkan: ‘Katakanlah, Allah adalah pelindung kami sedangkan kalian tidak mempunyai pelindung.’ Abu Sufyan melanjutkan: Peristiwa ini sebagai balasan atas peristiwa perang Badar. Perang itu bergilir. Kalian akan dicincang dengan cara yang mengerikan, tetapi aku tidak memerintahkannya sekalipun hal itu tidak menyedihkanku.”‘

As-Suddi mengatakan dari ‘Abdul Khair dari ‘Ali bin ‘Abdillah bin Mas’ud, ia berkata: “Aku tidak menyangka bila ada seseorang dari Sahabat Rasulullah yang menghendaki dunia. Sehingga turun kepada kami ayat yang menceritakan tentang perang Uhud: minkum may yuriidud dun-yaa wa minkum may yuriidul aakhirata (“antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada juga orang yang menghendaki akhirat.”)

Demikianlah telah diriwayatkan melalui beberapa sumber dari Ibnu Mas’ud. Demikian juga yang diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Aus dan Abu Thalhah. Dan diriwayatkan juga oleh Ibnu Mardawaih dalam Tafsirnya.

Firman-Nya: tsumma sharafakum ‘anHum liyab-taliyakum (“Kemudian Allah memalingkan mudarat mereka untuk mengujimu,”) Muhammad bin Ishaq berkata: “Telah menceritakan kepadaku al-Qasim bin ‘Abdurrahman bin Rafi’i, salah seorang dari Bani ‘Adi bin Najjar, ia berkata, Anas bin Nadhr, paman Anas bin Malik pernah menghadap ‘Umar bin al-Khaththab dan Thalhah bin ‘Ubaidillah yang tengah berada di antara kaum Muhajirin dan Anshar, yang mereka telah mencampakkan apa yang di tangan mereka (yaitu pedang-pedang mereka), maka ia bertanya:Apa yang menjadikan kalian bersedih?’ Mereka menjawab: ‘Terbunuhnya Rasulullah.’ Ia bertanya kembali: ‘Lalu apa yang kalian akan lakukan dengan kehidupan ini setelah beliau wafat? Bangkit dan gugurlah kalian sebagaimana beliau wafat.’ Setelah itu, orang-orang berangkat dan berperang sehingga Anas bin Nadhr wafat terbunuh.”‘

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa pamannya, Anas bin Nadhr berkata: “Aku tidak ikut dalam perang pertama Nabi seandainya Allah menyertakanku bersama Rasulullah, niscaya Allah akan melihat apa yang aku lakukan secara bersungguh-sungguh.” Kemudian ia hadir dalam peristiwa perang Uhud, maka ketika orang-orang pun kalah, maka ia (Anas bin Nadhr) berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon maaf kepada-Mu atas apa yang mereka (kaum muslimin) lakukan. Dan aku melepaskan diri kepada-Mu atas apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrik.” Setelah itu ia segera maju ke barisan depan dengan membawa pedangnya, lalu bertemu dengan Sa’ad bin Mu’adz: “Hai Sa’ad, sesungguhnya aku telah mencium bau Surga di balik Uhud.” Lalu ia terus maju bertempur hingga terbunuh. Tidak ada yang mengenali mayatnya kecuali saudara perempuannya yang mengenalinya melalui tahi lalat atau ujung jarinya. Pada tubuhnya terdapat delapan puluh tikaman, bekas pukulan dan tusukan anak panah.

Demikian menurut lafazh dari Imam al-Bukhari, juga diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Bahwa Imam al-Bukhari meriwayatkan pula dari ‘Utsman bin Mauhib, ia berkata bahwa ada seseorang yang datang untuk mengerjakan ibadah haji, lalu ia melihat sekelompok orang sedang duduk-duduk, kemudian ia berkata: “Siapakah mereka yang duduk-duduk itu?” Mereka menjawab: “Mereka adalah kaum Quraisy.” Siapa yang tua itu?” tanyanya. Mereka menjawab: “Ibnu Umar.” Setelah itu ia langsung mendatanginya (Ibnu ‘Umar) seraya berkata: “Aku ingin bertanya kepadamu tentang sesuatu, beritahukanlah kepadaku sebuah hadits.” la bertutur: “Tanyalah.” Dia bertanya: “Aku bersumpah atas kesucian rumah ini (Ka’bah), tidakkah engkau mengetahui bahwa ‘Utsman bin ‘Affan pernah melarikan diri pada perang Uhud?” “Ya,” jawabnya. Ia bertanya lagi: “Engkau juga mengetahui bahwa ‘Utsman tidak ikut serta dalam perang Badar dan tidak menyaksikannya?” “Ya” jawabnya. Ia bertanya lagi: “Bukankah engkau juga mengetahui bahwa ‘Utsman juga tertinggal Bai’atur Ridhwan serta tidak ikut menyaksikannya ?” la pun menjawab, “Ya.” Setelah itu Ibnu ‘Umar bertakbir seraya mengatakan: “Kemarilah, akan aku beritahukan dan terangkan kepadamu mengenai apa yang engkau tanyakan kepadaku. Mengenai larinya ‘Utsman pada perang Uhud, aku bersaksi bahwa Allah telah memaafkannya. Dan mengenai ketidak hadirannya pada perang Badar, karena pada waktu itu ia sedang merawat isterinya, yaitu puteri Rasulullah yang sedang sakit. Dan Rasulullah berkata kepadanya: “Sesungguhnya engkau mendapatkan pahala dan bagian orang yang ikut dalam perang Badar.” Sedangkan ketidak hadirannya pada waktu Bai’atur Ridhwan, maka seandainya ada seseorang di kota Makkah ini yang lebih mulia dari ‘Utsman, niscaya beliau akan mengutusnya menggantikan kedudukan’Utsman. Maka beliau mengutus Utsman, maka terjadilah Bai’atur Ridhwan, setelah kepergian ‘Utsman ke Makkah. Kemudian Nabi bersabda dengan mengangkat tangan kanannya: “Inilah tangan ‘Utsman.” Setelah itu beliau (Ibnu ‘Umar) menepukkan tangan (kiri) beliau ke tangan kanannya seraya bertutur: “Inilah tangan ‘Utsman dan pergilah sekarang dengan membawa fakta ini bersamamu.”

Diriwayatkan pula oleh Imam al-Bukhari dari jalur yang lain dari Abu Awanah dari’Utsman bin ‘Abdullah bin Mauhib.

Firman-Nya, idz tush-‘iduuna walaa talwuuna ‘alaa ahadin (“Ingatlah ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seorang pun.”) Artinya, berpalingnya kalian dari mereka ketika kalian naik gunung untuk menjauhi musuh-musuh kalian. walaa talwuuna ‘alaa ahadin (“Dan tidak menoleh kepada seorang pun.”) Maksudnya, kalian tidak menoleh kepada seorang pun karena perasaan takut yang mencekam.

War rasuulu yad’uukum fii ukhraakum (“Sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggilmu.”) Maksudnya, padahal Rasulullah yang kalian langgar perintahnya berada di belakang kalian, menyeru kalian agar tidak lari dari musuh-musuh dan mengajak untuk kembali dan melakukan balasan.

As-Suddi berkata: “Ketika orang-orang musyrik tampil demikian kuat mengalahkan orang-orang Islam pada waktu perang Uhud, maka pada saat itu kaum muslimin ada yang masuk kota Madinah dan sebagian yang lainnya ada yang lari ke gunung di atas batu cadas.” Kemudian Rasulullah berseru kepada semua orang: ‘Wahai hamba-hamba Allah, kembalilah bersamaku, kembalilah bersamaku, wahai hamba-hamba Allah. Maka Allah pun menyebutkan naiknya mereka ke gunung seraya berfirman: idz tush-‘iduuna walaa talwuuna ‘alaa ahadin War rasuulu yad’uukum fii ukhraakum (“Ingatlah ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seorang pun, seorang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggilmu.”)

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Qatadah dan ar-Rabi’bin Anas, serta Ibnu Zaid.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Qais bin Abi Hazim, ia berkata: “Aku melihat tangan Thalhah menjadi cacat disebabkan ia melindungi Rasulullah pada waktu perang Uhud.”

Sedangkan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan sebuah hadits dari Mu’tamar bin Sulaiman, dari ayahnya, dari Abu ‘Utsman an-Nahdi, di mana ia berkata, “Tidak ada seorang pun yang tetap bersama Rasulullah saw. pada beberapa hari terjadinya perang Uhud, kecuali Thalhah bin ‘Ubaidillah dan Sa’ad.

Al-Hasan bin ‘Arafah meriwayatkan dari Hisyam bin Hisyam az-Zuhri, ia berkata, aku pernah mendengar Sa’id bin al-Musayyab berkata, aku pernah mendengar Sa’ad bin Abi Waqqash berkata: “Rasulullah mengeluarkan tempat anak panahnya untukku pada hari perang Uhud, lalu beliau bersabda: Panahlah, tebusanmu adalah ayah dan ibuku.” Dikeluarkan pula oleh Imam al-Bukhari dari ‘Abdullah bin Muhammad dari Marwan bin Mu’awiyah.

Muhammad bin Ishaq berkata, dari Sa’ad bin Abi Waqqash, bahwasanya ia pernah melepaskan anak panah pada waktu perang Uhud di belakang Rasulullah. Sa’ad bin abi Waqqash berkata: “Aku menyaksikan Rasulullah mengulurkan anak panah kepadaku seraya berkata: ‘Panahlah, tebusanmu adalah ayah dan ibuku.’ Sampai beliau memberikan anak panah kepadaku yang tidak bermata, lalu aku memanahkannya juga.”

Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan hadits dari Ibrahim bin Sa’ad bin Abi Waqqash, dari ayahnya, ia berkata: “Pada waktu perang Uhud, aku melihat di sebelah kanan dan kiri Rasulullah terdapat dua orang yang memakai pakaian putih berperang bersamanya dengan sungguh-sungguh. Aku tidak pernah melihat keduanya sebelum dan setelah hari itu.” Kedua orang itu adalah Malaikat Jibril dan Mikail. Hamad bin Salamah meriwayatkan dari ‘Ali bin Zaid dan Tsabit dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah di saat sendiri pada perang Uhud, beliau dilindungi oleh tujuh orang dari kaum Anshar dan dua orang Quraisy. Ketika musuh kian mendekat, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang bisa menghalau mereka dari kami, maka baginya Surga, atau ia akan menjadi temanku di Surga.” Maka seseorang dari kaum Anshar maju dan melakukan penyerangan hingga akhirnya wafat. Musuh masih terus mendekati beliau, maka beliau pun menyampaikan: “Siapa yang bisa menghalau mereka dari kami, maka baginya Surga.” Kemudian seorang dari kaum Anshar maju dan melawan mereka, hingga akhirnya is wafat juga. Begitu seterusnya hingga ketujuh orang Anshar tersebut tewas semuanya. Lalu Rasulullah bersabda kepada kedua orang Sahabatnya yang masih hidup itu: “Kita tidak berlaku adil terhadap para Sahabat kita (lantaran semua yang maju adalah orang Anshar).”

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Hudbah bin Khalid dari Hamad bin Salamah seperti ini juga.

Abul Aswad meriwayatkan, dari ‘Urwah bin az-Zubair, ia berkata, Ubay bin Khalaf, saudara Bani Jumah ketika berada di kota Makkah pernah bersumpah untuk membunuh Rasulullah. Ketika aku sampaikan sumpahnya itu kepada Rasulullah saw, maka beliau bersabda: “Bahkan aku yang akan membunuhnya, insya Allah.”

Maka ketika terjadi perang Uhud, dengan memakai baju besi, Ubay bin Khalaf berangkat seraya berkata: “Aku tidak akan selamat jika Muhammad masih selamat.” Selanjutnya ia menuju Rasulullah untuk membunuhnya. Kemudian Mush’ab bin ‘Umair, saudara Bani ‘Abdud Daar menghadangnya untuk melindungi Rasulullah. Namun Mush’ab bin ‘Umair tewas. Dan Rasulullah melihat tenggorokan Ubay bin Khalaf dari sela-sela antara baju besi dan topi besinya, lalu beliau menusuk dia dengan tombak kecilnya hingga ia terjatuh dari kudanya. Dari tusukannya itu tidak mengeluarkan darah sedikit pun, lalu rekan-rekannya mendatangi dan membawanya. Ketika itu Ubay bin Khalaf menguak seperti suara sapi, maka rekan-rekannya itu berkata kepadanya: “Apa yang menjadikanmu mengerang, padahal hanya goresan semata?” Kemudian ia menyebutkan ucapan Rasulullah kepada mereka: “Aku yang akan membunuh Ubay.” Lebih lanjut, Ubay mengatakan: “Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya apa yang menimpaku ini menimpa penduduk Dzul Majaz, niscaya mereka akan mati semua.” Setelah itu ia meninggal dan menuju ke Neraka. Fa suhqal li ash-haabis sa-‘iir (“Maka kebinasaanlah bagi penghuni Neraka yang menyala-nyala.”) (QS. Al-Mulk: 11)

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan sebuah hadits dari ‘Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari Hammam bin Munabbih, dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Allah sangat murka kepada kaum yang berani melakukan hal seperti itu kepada Rasulullah. Ketika itu beliau sambil menunjuk ke gigi seri beliau. Dan sangatlah berat murka Allah terhadap orang yang dibunuh oleh Rasulullah dalam perang di jalan Allah.”

Al-Waqidi berkata: “Yang ditegaskan kepada kami adalah, bahwa yang melukai pipi Rasulullah adalah Ibnu Qami-ah. Sedangkan yang merobek bibir dan mematahkan gigi serinya adalah ‘Utbah bin Abi Waqqash.”

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim telah disebutkan sebuah hadits dari jalan ‘Abdul’Aziz bin Abi Hazim, dari ayahnya, dari Sahl bin Sa’ad, bahwasanya ia pernah ditanya mengenai luka Rasulullah, maka ia menjawab: “Wajah beliau terluka, gigi serinya rontok dan ada bagian kepalanya yang memar. Fathimah putri Rasulullah yang membersihkan darahnya. Sementara itu ‘Ali bin Abi Thalib yang menyiramkan air dengan (dari) sebuah bejana. Ketika Fathimah melihat, ternyata air hanya menambah darah semakin banyak mengucur, maka ia segera mengambil sehelai tikar lalu membakarnya hingga menjadi abu. Setelah itu Fathimah menaburkan abu tersebut pada luka beliau sehingga darahnya berhenti mengalir.”

Dan firman-Nya, fa atsaabakum bighammam bighammin (“Karena itu Allah menimpakan atasmu kesedihan atas kesedihan.”) Artinya, Allah memberikan balasan kepada kalian berupa kesedihan di atas kesedihan.

Ibnu Jarir berkata: “Demikian pula makna yang terkandung pada firman Allah: wa la-ushallibannakum fii judzuu’in nakhl (‘Dan sesungguhnya aku akan menyalibmu pada pangkal pohon kurma.’)” (QS. Thaahaa: 71), yakni di atas pohon kurma.”

Sedangkan Ibnu ‘Abbas berkata: “Kesedihan pertama disebabkan oleh kekalahan serta ketika dikatakan bahwa Muhammad sudah terbunuh. Dan kesedihan kedua adalah ketika orang-orang musyrik berada di atas mereka di gunung. Dan Rasulullah berdo’a: ‘Ya Allah, tidak ada hak bagi mereka untuk menjadi lebih tinggi dari kami.”‘

Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf: “Kesedihan pertama disebabkan oleh kekalahan. Dan kesedihan kedua ketika dikatakan bahwa Muhammad telah terbunuh, karena hal itu lebih menyedihkan mereka daripada kekalahan.”

Kedua hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih. Hal senada juga diriwayatkan dari ‘Umar bin al-Khaththab. Ibnu Abi Hatim juga menyebutkan hal yang sama dari Qatadah.

Mengenai firman Allah: fa atsaabakum bighammam bighammin (“Karena itu Allah menimpakan atasmu kesedihan atas kesedihan,”) Muhammad bin Ishaq berkata: “Yakni kesusahan di atas kesusahan, karena banyak dari para Sahabat kalian yang terbunuh, sedangkan musuh-musuh kalian semakin menguasai daerah yang lebih tinggi dari kalian. Selain itu, kesedihan kalian juga disebabkan adanya berita bahwa Muhammad telah terbunuh. Semuanya itu menyebabkan kalian sedih dan semakin sedih.” Dan dari Qatadah serta ar- Rabi’ bin Anas diriwayatkan dengan urutan sebaliknya.

Sedangkan as-Suddi berkata: “Pertama, lepasnya kemenangan dan ghanimah dari mereka. Kedua, pengawasan musuh terhadap mereka.” Perkataan ini telah dikemukakan as-Suddi sebelumnya.

Menurut Ibnu Jarir, di antara pendapat-pendapat di atas yang paling mendekati kebenaran adalah pendapat yang menyatakan bahwa arti firman-Nya, fa atsaabakum bighammam bighammin (“Karena itu Allah menimpakan atasmu kesedihan atas kesedihan,”) maka Allah menimpakan terhadap kegembiraan kalian hai orang-orang yang beriman, dengan diharamkannya ghanimah orang-orang musyrik kepada kalian, dan diharamkannya kemenangan dan pertolongan terhadap mereka. Dan musibah yang menimpa kalian, terbunuh dan lukanya pada hari itu terjadi setelah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai dengan sebab kedurhakaan kalian akan perintah Rabb kalian dan penyelisihan kalian akan perintah Nabi kalian, juga kesedihan karena prasangka kalian bahwa Nabi kalian telah dibunuh disamping desakan musuh terhadap kalian dan posisi mereka yang lebih tinggi terhadap kalian.

Firman-Nya, li kailaa tahzanuu ‘alaa maa faatakum (“Supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput darimu.”) Yaitu lepasnya ghanimah dari kalian dan kemenangan atas musuh kalian. Walaa maa ashaabakum (“Dan terhadap apa yang menimpamu.”) Yakni yang berupa luka dan kematian. Demikian dikatakan Ibnu Abbas, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, al-Hasan, Qatadah dan as-Suddi. Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan. wallaaHu khabiirum bimaa ta’maluun (“Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan”) “Mahasuci Allah, segala puji bagi-Nya, yang tiada Ilah yang berhak untuk diibadahi selain Dia, yang Mahaagung lagi Mahatinggi.

&