Arsip | 15.14

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 75-77

19 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 75-77“75. Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, Padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (al-Baqarah: 75)
76. dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata:” Kamipun telah beriman,” tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: “Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu mengerti?” (al-Baqarah: 76)
77. tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?” (al-Baqarah: 77)

Allah berfirman, afatathma’uuna ay-yu’minu lakum (“Apakah kalian masih mengharapkan mereka percaya kepada kalian?”) Artinya, akan mengikuti kalian dengan penuh ketaatan. Mereka adalah golongan sesat sebagaimana nenek moyang mereka yang telah menyaksikan sendiri tanda-tanda kekuasaan Allah dan bukti-bukti yang jelas. Tetapi kemudian hati mereka mengeras.

Wa qad kaana fariiqum minHum yasma’uuna kalaamallaaHi tsumma yuharrifuunaHu (“Padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, kemudian mereka mengubahnya.”) Artinya, mereka menakwilkannya dengan penafsiran yang tidak semestinya.

Mim ba’di maa ‘aqaluu (“Setelah mereka memahaminya.”) Yaitu memahami secara gamblang. Namun demikian mereka masih mengingkarinya, meskipun mereka mengetahuinya.

Wa Hum ya’lamuun (“Sedang mereka mengetahui.”) Artinya, mereka melakukan kesalahan dengan mengubah dan menakwil firman-firman Allah. Konteks firman Allah di atas, mirip dengan firman-Nya yang lain:
“Karena mereka melanggarjanjinya, Kami laknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya.” (QS. Al-Maa-idah: 13).

Mengenai firman Allah “Sesungguhnya segolongan dari mereka mendengarfirman Allah, kemudian mereka mengubahnya. ” As-Suddi mengatakan: “Yang mereka ubah itu adalah kitab Taurat.”

Mengenai firman-Nya, Wa qad kaana fariiqum minHum yasma’uuna kalaamallaaHi tsumma yuharrifuunaHu (“Padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, kemudian mereka mengubahnya.”) as-Suddi mengatakan: “Yang mereka rubah itu adalah Kitab Taurat.”

Mengenai firman-Nya: tsumma yuharrifuunaHu Mim ba’di maa ‘aqaluu wa Hum ya’lamuun (“Kemudian mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahuinya.”)
Qatadah mengatakan: “Mereka itu adalah orang-orang Yahudi. Mereka mendengar firman Allah, lalu mengubahnya setelah mereka memahami dan menyadarinya.” Sedang Mujahid mengatakan, “Yang mengubah dan menyembunyikan firman Allah itu adalah para ulama dari kalangan Yahudi.” Dan Abu al-Aliyah mengemukakan, “Mereka memahami apa yang diturunkan Allah dalam kitab mereka itu, menyangkut sifat Muhammad lalu mereka pun mengubahnya dari yang sebenarnya.”

Firman Allah: wa idzaa laqulladziina aamanuu qaaluu aamannaa wa idzaa khalaa ba’dluHum ilaa ba’dlin (“Dan apabila mereka bertemu dengan orang orang yang beriman, mereka berkata, Kami telah beriman. Dan apabila mereka berada sesama mereka saja.”)

Muhammad bin Ishak dari Ibnu Abbas mengatakan Mengenai firman-Nya: wa idzaa laqulladziina aamanuu qaaluu aamannaa (“Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: ‘Kami telah beriman.”‘) Ini artinya bahwa sahabat kalian itu adalah Rasulullah, namun ia khusus (diutus) kepada kalian saja.” Dan apabila mereka berada sesama mereka saja, maka mereka (orang Yahudi) berkata, “Jangan kalian beritahukan hal ini kepada masyarakat Arab. Karena sebelumnya kalian menyatakan akan menaklukkan mereka dengan dukungan Rasul ini, tetapi ternyata dia itu berasal dari mereka.”

Maka Allah pun menurunkan ayat-Nya: “Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata. Kami telah beriman:’ Dan apabila mereka berada sesama mereka saja, maka mereka berkata: Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang diterangkan Allah kepada kamu, agar dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjah kalian di hadapan Rabb-mu, tidakkah kamu mengerti?”‘

Artinya, kalian mengakuinya sebagai nabi, padahal kalian mengetahui bahwa Allah telah mengambil janji dari kalian untuk mengikutinya, sedang ia memberitahukan kepada khalayak bahwa dirinya merupakan nabi yang kita tunggu-tunggu dan kita dapatkan dalam kitab kita. Ingkarilah ia dan janganlah kalian mengakuinya.

Selanjutnya, Allah membantah mereka dengan firman-Nya: awalaa ya’lamuuna annalaaHa ya’lamu maa yusirruuna wa maa yu’linuun (“Tidakkah mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui yang mereka rahasiakan dan yang mereka nyatakan?”) Mengenai hal ini, adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas mengatakan: “Yaitu orang-orang munafik dari kalangan kaum Yahudi.”

As-Suddi mengatakan: atuhaddatsuunaHum bimaa fatahallaaHu ‘alaikum (“Apakah kamu akan menceritakan kepada (orang-orang mukmin) apa yang diterangkan Allah kepadamu,”) yaitu tentang adzab,” `Agar dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Rabbmu. “Mereka ini adalah orang-orang dari kaum Yahudi yang beriman, lalu mereka berubah menjadi munafik dan mereka ini menceritakan kepada orang-orang mukmin dari masyarakat Arab mengenai adzab yang ditimpakan kepada mereka. Lalu sebagian mereka bertanya kepada sebagian lainnya, atuhaddatsuunaHum bimaa fatahallaaHu ‘alaikum (“Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang diterangkan Allah kepadamu.”) Yaitu berupa adzab, hingga mereka mengatakan: “Kami lebih dicintai Allah dari pada kalian dan lebih terhormat di nisi Allah daripada kalian.”

Firman-Nya: awalaa ya’lamuuna annalaaHa ya’lamu maa yusirruuna wa maa yu’linuun (“Tidakkah mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui yang mereka rahasiakan dan yang mereka nyatakan?”) Menurut Abu al-Aliyah: “Maksudnya apa yang mereka rahasiakan, berupa pengingkaran dan pendustaan terhadap kenabian , padahal mereka menemukan nama beliau tertulis di dalam kitab mereka.

Demikian pula dinyatakan oleh Qatadah mengenai firman Allah, annalaaHa ya’lamu maa yusirruuna wa maa yu’linuun (“Sesungguhnya Allah mengetahui yang mereka rahasiakan”.) Hasan al-Bashri mengatakan: “Apa yang mereka rahasiakan yaitu bahwa jika mereka berpaling dari para sahabat Rasulullah dan kembali bertemu dengan teman-teman mereka, maka mereka saling melarang satu dengan yang lainnya agar tidak memberitahukan kepada para sahabat Muhammad mengenai apa yang diterangkan Allah swt. dalam kitab mereka, karena mereka khawatir akan dikalahkan oleh hujjah yang dikemukakan oleh para sahabat Rasulullah di hadapan Rabb mereka. Dan demikian itulah yang mereka sembunyikan.”

Wa maa yu’linuun (“Dan yang mereka nyatakan?”) Yakni ketika mereka mengatakan kepada para sahabat Muhammad , “Kami beriman. “Hal senada juga dikemukakan oleh Abu al-Aliyah, Rabi’ bin Anas, dan Qatadah.

&

Iklan

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 190-194

19 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 190-194“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan Siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (QS. Ali ‘Imraan: 190). (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka. (QS. Ali ‘Imraan: 191). Ya Rabb kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolong pun. (QS. Ali ‘Imraan: 192). Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): ‘Berimanlah kamu kepada Rabb-mu.’; maka kamipun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosakami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. (QS. Ali ‘Imraan: 193). Ya Rabb kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan Rasul-Rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS. Ali ‘Imraan: 194)

Makna ayat ini, bahwa Allah berfirman, inna fii khalqis samaawaati wal ardli (“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi.”) Artinya, yaitu pada ketinggian dan keluasan langit dan juga pada kerendahan bumi serta kepadatannya. Dan juga tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terdapat pada ciptaan-Nya yang dapat dijangkau oleh indera manusia pada keduanya (langit dan bumi), baik yang berupa bintang-bintang, komet, daratan dan lautan, pegunungan, dan pepohonan, tumbuh-tumbuhan, tanaman, buah-buahan, binatang, barang tambang, serta berbagai macam warna dan aneka ragam makanan dan bebauan,

Wakh-tilafil laili wan naHaari (“Dan silih bergantinya malam dan siang.”) Yakni, silih ber-gantinya, susul menyusulnya, panjang dan pendeknya. Terkadang ada malam yang lebih panjang dan siang yang pendek. Lalu masing-masing menjadi seimbang. Setelah itu, salah satunya mengambil masa dari yang lainnya sehingga yang terjadi pendek menjadi lebih panjang, dan yang diambil menjadi pendek yang sebelumnya panjang. Semuanya itu merupakan ketetapan Allah yang Mahaperkasa lagi Maha-mengetahui.

Oleh karena itu Allah berfirman: la aayaati li-ulil albaab (“Terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal [Uulul Albaab].”) Yaitu mereka yang mempunyai akal yang sempurna lagi bersih, yang mengetahui hakikat banyak hal secara jelas dan nyata. Mereka bukan orang-orang tuli dan bisu yang tidak berakal.

Allah berfirman tentang mereka yang artinya, “Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya. Dan sebahagian besar dan mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf: 105-106)

Kemudian Allah menyifatkan tentang Uulul Albaab, firman-Nya: alladziina yadzkuruunallaaHa qiyaamaw wa qu’uudaw wa ‘alaa junuubiHim (“[Yaitu] orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring.”)

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari ‘Imran bin Hushain, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Shalatlah dengan berdiri, jika kamu tidak mampu, maka lakukanlah sambil duduk, jika kamu tidak mampu, maka lakukanlah sambil berbaring.”

Maksudnya, mereka tidak putus-putus berdzikir dalam semua keadaan, baik dengan hati maupun dengan lisan mereka. Wa yatafakkaruuna fii khalqis samaawaati wal ardli (“Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”) Maksudnya, mereka memahami apa yang terdapat pada keduanya (langit dan bumi) dari kandungan hikmah yang menunjukkan keagungan “al-Khaliq” (Allah), ke-kuasaan-Nya, keluasan ilmu-Nya, hikmah-Nya, pilihan-Nya, juga rahmat-Nya.

Syaikh Abu Sulaiman ad-Darani berkata: “Sesungguhnya aku keluar dari rumahku, lalu setiap sesuatu yang aku lihat, merupakan nikmat Allah dan ada pelajaran bagi diriku.” Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dun-ya dalam “Kitab at-Tawakkul wal I’tibar.”

Al-Hasan al-Bashri berkata: “Berfikir sejenak lebih baik dari bangun shalat malam.”

Al-Fudhail mengatakan bahwa al-Hasan berkata, “Berfikir adalah cermin yang menunjukkan kebaikan dan kejelekan-kejelekanmu.”

Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Berfikir (tentang kekuasaan Allah,”) adalah cahaya yang masuk ke dalam hatimu.”

Nabi ‘Isa as. berkata: “Berbahagialah bagi orang yang lisannya selalu berdzikir, diamnya selalu berfikir (tentang kekuasaan Allah), dan pandangannya mempunyai ‘ibrah (pelajaran).”

Luqman al-Hakim berkata: “Sesungguhnya lama menyendiri akan mengilhamkan untuk berfikir dan lama berfikir (tentang kekuasaan Allah,) adalah jalan-jalan menuju pintu Surga.”

Sungguh Allah mencela orang yang tidak mengambil pelajaran tentang makhluk-makhluk-Nya yang menunjukkan kepada dzat-Nya, sifat-Nya, syari’at-Nya, kekuasaan-Nya dan tanda-tanda (kekuasan)-Nya, “Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf: 105-106)

Dan di sisi lain Allah memuji hamba-hamba-Nya yang beriman: alladziina yadzkuruunallaaHa qiyaamaw wa qu’uudaw wa ‘alaa junuubiHim Wa yatafakkaruuna fii khalqis samaawaati wal ardli (“[yaitu] orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”) Yang mana mereka berkata, rabbanaa maa khalaqta Haadzaa baathilan (“Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.”) Artinya, Engkau tidak menciptakan semuanya ini dengan sia-sia, tetapi dengan penuh kebenaran, agar Engkau memberikan balasan kepada orang-orang yang beramal buruk terhadap apa-apa yang telah mereka kerjakan dan juga memberikan balasan orang-orang yang beramal baik dengan balasan yang lebih baik (Surga). Kemudian mereka menyucikan Allah dari perbuatan sia-sia dan penciptaan yang bathil seraya berkata, subhaanaka (“Mahasuci Engkau.”) Yakni dari menciptakan sesuatu yang sia-sia. Wa qinaa ‘adzaaban naar (“Maka peliharalah kami dari siksa Neraka.”) Maksudnya, wahai Rabb yang menciptakan makhluk ini dengan sungguh-sungguh dan adil. Wahai Dzat yang jauh dari kekurangan, aib dan kesia-siaan, peliharalah kami dari adzab Neraka dengan daya dan kekuatan-Mu. Dan berikanlah taufik kepada kami dalam menjalankan amal shalih yang dapat mengantarkan kami ke Surga serta menyelamatkan kami dari adzab-Mu yang sangat pedih.

Setelah itu mereka berkata, rabbanaa innaka man tud-khilin naara faqad akh-zaitaHu (“Ya Rabb kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia.”) Yaitu Engkau menghinakan dan memperlihatkan kerendahannya kepada seluruh makhluk. Wa maa lidh-dhaalimiina min anshaar (“Dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolong pun.”) Yaitu pada hari Kiamat kelak, mereka tidak akan mendapatkan perlindungan dari-Mu dan mereka tidak dapat menghindar dari apa yang Engkau kehendaki terhadap mereka.

Rabbanaa innanaa sami’naa munaadiyay yunaadii lil iimaani (“Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar [seruan] yang menyeru kepada iman.”) Yakni, penyeru yang menyeru kepada keimanan. Yaitu, Rasulullah saw: an aaminuu birabbikum fa aamannaa (“Berimanlah kamu kepada Rabb-mu, maka kami pun beriman.”) Penyeru itu berseru, “Berimanlah kepada Rabb kalian.” Maka kami pun beriman, lalu kami menyambut dan mengikutinya, yaitu dengan keimanan dan kepengikutan kita terhadap Nabi-Mu.

Rabbanaa faghfir lanaa dzunuubanaa (“Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami.”) Artinya, tutup dan hapuskanlah dosa-dosa kami itu. Wa kaffir ‘annaa sayyi-aatinaa (“Dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami,”) antara kami dengan Engkau. Wa tawaffanaa ma-‘al ab-raar (“Dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.”) Maksudnya, pertemukanlah kami dengan orang-orang yang shalih. Rabbanaa wa aatinaa maa wa ‘attanaa ‘alaa rusulika (“Ya Rabb kami, berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan Rasul-Rasul Engkau.”) Ada yang mengatakan, artinya, atas iman dengan Rasul-Rasul-Mu. Dan ada yang mengatakan maksudnya melalui lisan para Rasul-Mu. Dan inilah yang lebih mendekati kebenaran. Wallahu a’lam.

Dan firman-Nya, wa laa tukhzinaa yaumal qiyaamati (“Dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari Kiamat.”) Yaitu, di hadapan pemuka para makhluk. Innaka laa tukhliful mii-‘aad (“Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.”) Maksud-nya, keharusan akan janji yang telah disampaikan oleh Rasul-Rasul-Mu, yaitu bangkitnya umat manusia pada hari Kiamat kelak di hadapan-Mu. Dalam sebuah hadits telah ditegaskan bahwa Rasulullah membaca sepuluh ayat terakhir dari Surat Ali-`Imran ini jika beliau bangun malam untuk mengerjakan shalat tahajud.

Imam al-Bukhari pernah meriwayatkan dari Kuraib, bahwa Ibnu ‘Abbas memberitahukan kepadanya, ia pernah menginap di rumah Maimunah isteri Nabi, sekaligus bibinya (Ibnu ‘Abbas) sendiri, ia berkata, lalu aku membaringkan diri di bagian pinggir tempat tidur, sedangkan Rasulullah saw. dan keluarganya membaringkan diri di bagian tengahnya. Maka beliau pun tidur. Dan pada pertengahan malam, tak lama sebelum atau sesudah pertengahan malam, Rasulullah bangun dari tidurnya, lalu beliau mengusap wajahnya dengan tangan beliau. Kemudian beliau membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Ali-‘Imran. Selanjutnya beliau menuju ke tempat air yang tergantung didinding dan beliau berwudhu’ dan menyempurnakannya. Setelah itu beliau mengerjakan shalat.

Lebih lanjut Ibnu ‘Abbas berkata, kemudian aku bangun dan melakukan hal yang sama seperti yang dikerjakan beliau, lalu aku berjalan dan berdiri di sisi beliau. Kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas kepalaku dan memegang telingaku. Seusai itu beliau mengerjakan shalat dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, kemudian mengerjakan shalat witir. Lalu beliau berbaring hingga datang muadzin, maka beliau bangun dan mengerjakan shalat dua rakaat ringan (shalat sunnah Subuh), selanjutnya
beliau pergi ke masjid untuk mengerjakan shalat Subuh.

Hal senada juga diriwayatkan oleh perawi lain yang diriwayatkan oleh iman-iman ahli hadits lain melalui beberapa sumber dari Malik. Juga diriwayatkan Imam Muslim, Abu Dawud (melalui jalan yang lain). Serta diriwayatkan Ibnu Mardawaih dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah keluar rumah pada suatu malam, dan ketika malam berlalu, beliau menatap ke langit dan membaca ayat ini: inna fii khalqis samaawaati wal ardli wakh-tilaafil laili wan naHaari la aayaatil li ulil albaab (“Sungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”) Sampai terakhir dari surah Ali ‘Imraan.

Setelah itu beliau berdo’a: “Ya Allah, jadikanlah cahaya dalam hatiku, cahaya dalam pendengaranku, cahaya dalam pandanganku, cahaya pada sebelah kananku, cahaya pada sebelah kiriku, cahaya pada bagian depanku, cahaya pada belakangku, cahaya pada bagian atasku, dan cahaya pada bagian bawahku, serta besarkanlah cahaya bagiku pada hari Kiamat.”

Do’a ini telah ditegaskan dalam beberapa jalan hadits shahih yang di-riwayatkan dari Kuraib dari Ibnu ‘Abbas ra.

Dalam tafsirnya, Abdu bin Humaid meriwayatkan dari Ja’far bin Aun al-Kalby, dari Abu Hubab ‘Atha’, ia berkata, bersama ‘Abdullah bin ‘Umar dan ‘Ubaid bin ‘Umair, aku masuk menemui Ummul Mukminin, ‘Aisyah dalam biliknya. Kemudian kami mengucapkan salam kepadanya. Maka ‘Aisyah bertanya: “Siapa mereka?” Kami pun menjawab: “Ini ‘Abdullah bin ‘Umar dan `Ubaid bin `Umair.” Lalu ‘Aisyah berkata: “Wahai ‘Ubaid bin ‘Umair, apa yang menghalangimu mengunjungi kami?” Ubaid menjawab: “Karena orang terdahulu pernah berkata: “Berkunjunglah jarang-jarang, niscaya engkau akan bertambah dekat.” Setelah itu ‘Aisyah berkata: “Sesungguhnya kami menyukai kunjungan dan kedatanganmu.” Lalu ‘Abdullah bin ‘Umar berkata: “Biarkanlah kita mengalihkan pembicaraan lain dan beritahukanlah kepada kami mengenai sesuatu yang mengagumkanmu dari apa yang pernah engkau saksikan dari Rasulullah.” Maka ia (‘Aisyah) pun menangis dan kemudian berkata: “Semua perkara yang dilakukannya sungguh mengagumkan. Pada malam giliranku, beliau pernah mendatangiku, lalu beliau masuk dan tidur bersamaku di tempat tidurku sehingga kulitnya menyentuh kulitku, kemudian beliau bersabda: “Ya Aisyah, izinkan aku beribadah kepada Rabb-ku,” Maka ‘Aisyah pun berkata: “Sesungguhnya aku senang sekali berada di sisimu, tetapi aku pun menyukai keinginanmu itu (beribadah kepada Allah).”

Lebih lanjut ‘Aisyah menceritakan, setelah itu Rasulullah berjalan menuju ke tempat air yang terdapat di dalam rumah dan berwudhu dengan tidak memboroskan air. Seusai berwudhu’ beliau membaca al-Qur’an dan kemudian menangis hingga aku melihat bahwa air matanya membasahi janggutnya. Selanjutnya beliau duduk, lalu memanjatkan pujian kepada Allah. Setelah itu beliau menangis hingga aku melihat air matanya jatuh sampai ditenggorokannya. Kemudian beliau membaringkan diri pada lambung sebelah kanan dan meletakkan tangannya di bawah pipinya, lalu beliau menangis hingga aku melihat air matanya jatuh ke lantai.

Setelah itu Bilal masuk menemuinya, lalu ia mengumandangkan adzan shalat Subuh, dan kemudian ia mengatakan: “Shalat, ya Rasulullah.” Ketika melihatnya sedang menangis, Bilal mengatakan: “Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis sedang Allah telah memberikan ampunan kepadamu atas dosa yang telah engkau kerjakan maupun yang belum engkau kerjakan.” Maka beliau bersabda: “Wahai Bilal, tidakkah aku boleh menjadi hamba yang bersyukur?” Dan bagaimana aku tidak menangis sedang pada malam ini telah turun ayat, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bum, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka.” Selanjutnya beliau bersabda: “Celaka bagi orang yang membaca ayat-ayat ini lalu ia tidak memikirkan apa yang ada di dalamnya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 187-189

19 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 187-189“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): ‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakangpunggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. (QS. Ali ‘Imraan: 187). Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan. Janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa dan bagi mereka siksa yang pedih. (QS. Ali ‘Imraan: 188). Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi: dan Allah Maha- kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali ‘Imraan: 189)

Yang demikian itu merupakan teguran sekaligus ancaman Allah terhadap Ahlul Kitab, di mana Allah telah mengambil perjanjian terhadap mereka melalui lisan para Nabi, yaitu janji agar mereka beriman kepada Muhammad saw. dan agar menjelaskannya kepada umat manusia. Sehingga keadaaan mereka siap menerima perintahnya, supaya apabila Allah mengutus Muhammad mereka pun mengikutinya. Namun mereka menyembunyikan hal itu dan mengganti apa yang pernah mereka janjikan berupa kebaikan di dunia dan di akhirat dengan sesuatu yang sangat sedikit, serta hal duniawi yang sangat murah. Maka seburuk-buruk sifat adalah sifat mereka, dan seburuk-buruk bai’at adalah bai’at mereka.

Dan dalam hal itu terdapat peringatan bagi para ulama agar jangan mengikuti jejak mereka, sehingga tidak menimpa apa yang telah menimpa mereka. Para ulama hendaknya mengajarkan apa yang ada pada mereka dari ilmu yang bermanfaat yang dapat menunjukkan kepada amal shalih dan tidak menyembunyikan ilmu barang sedikitpun.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari beberapa sumber yang berbeda, dari Nabi saw. Beliau pernah bersabda: “Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikannya, maka pada hari Kiamat kelak ia akan dimasukkan tali kekang kedalam mulutnya dengan kekang dari api.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dengan sanad hasan)

Firman-Nya, laa tahsabannal ladziina yaf-rahuuna bimaa ataw watuhibbuuna ay yuhmaduu bimaa lam yaf’aluu (“Janganlah sekali-sekali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan, dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan.”) Yakni orang-orang yang suka berbuat riya’, yang ingin dinilai lebih dengan apa-apa yang mereka tidak perbuat.

Sebagaimana yang telah ditegaskan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Barangsiapa yang mengaku-ngaku dengan pengakuan dusta supaya memperoleh penilaian lebih yang tidak ada pada dininya, maka Allah tidak akan menambah baginya kecuali kekurangan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Masih dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, beliau bersabda: “Orang yang ingin dinilai lebih dengan apa yang tidak ada pada dirinya, adalah seperti orang yang memakai dua pakaian palsu.”

Imam Ahmad meriwayatkan, Hajjaj telah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Juraij, Ibnu Abi Mulaikah memberitahukan kepadaku bahwa Humaid bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf pernah memberitahukan kepadanya, bahwa Marwan pernah mengatakan kepada pengawalnya, “Wahai Rafi’, pergilah kepada Ibnu ‘Abbas, dan katakan, jika setiap orang dari kami merasa senang dengan apa yang dilakukannya dan suka mendapat pujian atas sesuatu perbuatan yang tidak dikerjakannya, kemudian kami mendapat siksaan, maka niscaya semua orang akan kena siksa.” Maka Ibnu ‘Abbas menyahut, “Apa yang kalian maksudkan dengan ini? Sesungguhnya ayat ini turun berkenaan dengan Ahlul Kitab.”

Setelah itu Ibnu ‘Abbas membacakan ayat ini [yang artinya], “Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya. Lalu mereka melemparkan janji itu kebelakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amat buruk tukaran yang mereka terima. Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan.”

Ibnu ‘Abbas berkata, Nabi saw. pernah bertanya kepada mereka mengenai sesuatu, lalu mereka menyembunyikannya dari beliau, dan memberi-tahukan kepada beliau sesuatu hal yang lain. Setelah itu mereka pun pergi dan mengklaim bahwa mereka telah memberitahukan apa yang ditanyakan Nabi saw. Selanjutnya mereka meminta pujian kepada beliau atas apa yang dilakukannya itu, serta mereka merasa gembira atas apa yang mereka sembunyikan kepada Nabi.

Demikian itulah hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam kitab tafsirnya, Imam Muslim, Imam at-Tirmidzi, an-Nasa’i dalam tafsirnya, Ibnu Abi Hakim, Ibnu Khuzaimah, al-Hakim dan Ibnu Mardawaih, yang semuanya berasal dari hadits ‘Abdul Malik bin Juraij.

Hal yang sama juga diriwayatkan Imam al-Bukhari dari hadits Ibnu Juraij dari Ibnu Abi Mulaikah dari ‘Alqamah bin Waqqash, bahwa Marwan pernah mengatakan kepada penjaganya, “Ya Rafi’, pergilah kepada Ibnu ‘Abbas. Lalu ia menyebutkan hadits di atas.”

Imam al-Bukhari juga meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa pada masa Rasulullah ada beberapa orang munafik, yang jika Rasulullah berangkat perang, mereka enggan menyertai beliau dan merasa gembira dengan ketidak ikutsertaan mereka bersama beliau. Dan ketika Rasulullah datang dari perang, mereka mencari-cari alasan untuk disampaikan kepada beliau, mereka pun bersumpah, serta mereka suka mendapatkan pujian atas suatu hal yang tidak mereka lakukan, maka turunlah ayat ini: laa tahsabannal ladziina yaf-rahuuna bimaa ataw watuhibbuuna ay yuhmaduu bimaa lam yaf’aluu (“Janganlah sekali-sekali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan, dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan.”)

Hadits yang sama juga diriwayatkan Imam Muslim dari Ibnu AbiMaryam.

Dan firman-Nya: falaa tahsabannaHum bimafaazatim minal ‘adzaab (“Janganlah kamu me-nyangka bahwa mereka terlepas dari siksa.”) Artinya, janganlah kalian mengira bahwa mereka akan selamat dari siksa, bahkan mereka pasti mendapatkan siksa.

Oleh karena itu Allah berfirman, wa laHum ‘adzaabun aliim (“Dan bagi mereka siksa yang pedih.”)

Setelah itu Allah berfirman: wa lillaaHi mulkus samaawaati wal ardli wallaaHu ‘alaa kulli syai-in qadiir (“Kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”) Artinya, Allah adalah pemilik segala sesuatu dan berkuasa untuk berbuat segala sesuatu sehingga tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya. Karena itu, janganlah kalian menentang-Nya dan hindarilah kemurkaan dan laknat-Nya. Karena Allah adalah Rabb yang Mahaagung yang tidak adasesuatu pun yang lebih agung dari-Nya dan Mahakuasa yang tiada sesuatu pun yang lebih berkuasa dari diri-Nya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ali ‘Imraan ayat 185-186

19 Mar

Tafsir Al-Qur’an Surah Ali ‘Imraan (Keluarga ‘Imraan)
Surah Madaniyyah; surah ke 3: 200 ayat

tulisan arab alquran surat ali imraan ayat 185-186“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.(QS. Ali ‘Imraan: 185). Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan diri-mu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali ‘Imraan: 186)

Allah memberitahukan kepada seluruh makhluk-Nya bahwa setiap jiwa itu akan merasakan kematian. Sebagaimana firman-Nya, “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajab Rabb-Mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahmaan: 26-27) Hanya Allah yang akan terus hidup, yang tiada akan pernah mati. Seluruh umat manusia dan jin akan mengalami kematian, demikian juga dengan para Malaikat termasuk Malaikat yang memikul `Arsy. Yang tetap hidup kekal abadi hanyalah Rabb yang Mahaesa dan Maha-
perkasa. Allah-lah yang Akhir, sebagaimana pula Allah-lah yang Awal. Dalam ayat ini terdapat ta’ziyah bagi seluruh umat manusia, bahwasanya tidak akan ada seorang pun yang akan tetap berada di muka bumi sehingga dia mati. Jika waktu yang telah ditetapkannya berakhir dan keberadaan nuthfah yang telah ditakdirkan oleh-Nya dari sulbi Adam telah habis, serta semua makhluk-Nya ini telah berakhir, maka Allah langsung menjadikan Kiamat. Dan selanjutnya Allah akan memberikan balasan kepada semua makhluk-Nya sesuai dengan
amalnya yang mulia maupun hina, besar maupun yang kecil, banyak maupun sedikit, sehingga tidak ada seorang pun yang dizhaliminya meski hanya sebesar biji sawi.

Oleh karena itu Allah berfirman, wa inna maa tuwaffaunaa ujuurakum yaumal qiyaamati (“Dan sesungguhnya pada hari Kiamat saja disempurnakan pahalamu.”) Ibnu Abi Hatim mengatakan dari ‘Ali bin Abi Thalib, ia berkata: Ketika Rasulullah meninggal dunia, maka ta’ziyah pun berdatangan, mereka didatangi oleh seseorang yang mereka dengar suaranya tetapi tidak terlihat sosoknya, yang berkata, “Salam sejahtera untuk kalian semua, wahai ahlul bait, semoga rahmat dan berkah Allah senantiasa terlimpah kepada kalian.” “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat saja disempurnakan pahalamu. ” “Sesungguhnya dalam diri Allah ada bela sungkawa dari setiap musibah, pengganti dari setiap yang binasa, dan penyusul dari suatu yang luput. Maka yakinlah serta berharaplah kepada-Nya, karena musibah itu merupakan pahala yang tertangguhkan, Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.”
Ja’far bin Muhammad berkata, ayahku memberitahukan kepadaku bahwa Ali bin Abi Thalib
berkata, “Apakah kalian tahu, siapakah orang itu? Ia itu adalah Khidir as.”

Dan firman Allah: faman zuhziha ‘anin naari wa udkhilal jannata faqad faaz (“Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka sungguh ia telah beruntung.”) Artinya, barangsiapa dihindarkan dari api Neraka dan diselamatkan darinya serta dimasukkan ke dalam Surga, maka ia benar-benar beruntung.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Tempat untuk sebuah cemeti di Surga lebih baik daripada dunia dan seisinya. Bacalah oleh kalian, jika kalian suka, ‘Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka sungguh ia beruntung.’”
Hadits di atas diriwayatkan juga dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim tidak melalui jalan ini, dan tanpa adanya tambahan tersebut.

Dan firman-Nya: wa mal hayaatud dun-yaa illaa mataa-‘ul ghuruur (“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”) Hal itu dimaksudkan untuk memperkecil nilai dunia sekaligus menghinakannya, dan bahwa dunia juga bersifat sangat fana dan sebentar serta akan musnah binasa. Sebagaimana firman-Nya: bal tu’tsiruunal hayaatad dun-yaa, wal aakhiratu khairuw wa abqaa (“Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia. Sedangkan kehidupan akhirat itu adalah lebih baik dan lebih kekal.”)

Mengenai firman-Nya: wa mal hayaatud dun-yaa illaa mataa-‘ul ghuruur (“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”) Qatadah berkata, yaitu kesenangan yang pasti ditinggalkan. Demi Allah, yang tiada ilah selain Allah, dunia itu nyaris akan lenyap dari tangan pemiliknya. Jika kalian mampu ,maka ambillah dari kesenangan itu untuk ketaatan, sesungguhnya tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah.

Dan firman-Nya: latub-lawunna fii amwaalikum wa anfusikum (“Kamu sungguh-sungguh akan diuji tentang hartamu dan dirimu,”) seperti firman-Nya yang artinya: “Sungguh kami akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikan berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Dengan pengertian, merupakan suatu keharusan bagi seorang mukmin akan diuji tentang harta kekayaan, dirinya, anak-anak, serta keluarganya. Dan ia akan diuji menurut kadar pemahaman agamanya, jika ia kuat dalam agamanya, maka akan diberikan ujian yang lebih berat.

Firman-Nya, wa latasma-‘unnal ladziina uutul kitaaba min qablikum wa minal ladziina asy-rakuu adzan katsiiran (“Dan [juga] kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelummu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati.”) Allah berfirman ditujukan kepada kalangan orang beriman ketika tiba di Madinah, yaitu sebelum terjadinya perang Badar, sebagai hiburan buat mereka atas gangguan dan siksaan dari Ahlul Kitab dan orang-orang musyrik. Selain itu Allah juga memerintahkan kepada mereka bersabar dan memberikan maaf sehingga Allah menghilangkan kedukacitaan mereka. Wa in tashbiruu wa tattaquu fa inna dzaalika min ‘azmil umuur (“Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”)

Dalam penafsiran ayat tersebut, Imam al-Bukhari menyebutkan dari az-Zuhri, ‘Urwah bin az-Zubair memberitahukan kepadaku, Usamah bin Zaid menceritakan kepadanya, bahwa Rasulullah saw. menaiki seekor keledai yang di atasnya terdapat pelana terbuat dari beludru, sedang Usamah bin Zaid dibonceng di belakang beliau dengan tujuan menjenguk Sa’ad bin ‘Ubadah yang berada di Bani al-Harits bin al-Khazraj, yaitu sebelum peristiwa Badar, sehingga beliau melewati suatu majelis yang di dalamnya terdapat ‘Abdullah bin Ubay bin Salul. Dan itu terjadi sebelum ‘Abdullah bin Ubay bin Salul masuk Islam. Ternyata dalam majelis tersebut bercampur antara kaum muslimin, orang-orang musyrik penyembah berhala, Ahlul Kitab dan Yahudi. Dan dalam majelis tersebut terdapat ‘Abdullah bin Rawahah. Ketika majelis tersebut dipenuhi oleh debu yang diterbangkan hewan (keledai Rasulullah), maka Abdullah bin Ubay menutupi hidungnya dengan selendangnya seraya ber-kata: “Jangan menyebarkan debu pada kami.”

Kemudian Rasulullah mengucapkan salam, lalu berhenti dan turun dari keledainya. Setelah itu beliau menyeru mereka kepada menyembah Allah , serta membacakan al-Qur’an kepada mereka, kemudian ‘Abdullahbin Ubay bin Salul berkata, “Wahai saudara, tidak ada sesuatu yang baik dariapa yang kau katakan itu. Jika apa yang kau katakan itu memang benar, maka
janganlah engkau mengganggu kami dengan kata-kata itu di majelis kami. Lanjutkan saja perjalananmu itu dan ceritakan saja kepada orang yang datang kepadamu.”

Kemudian ‘Abdullah bin Rawahah berkata, “Kami menerimanya, ya Rasulallah, perdengarkanlah kepada kami hal itu dalam majelis-majelis kami, karena kami menyukai perkataanmu tersebut.” Maka antara kaum muslimin, orang-orang munafik, dan orang-orang Yahudi saling menghardik hingga hampir saja terjadi bentrok fisik. Sedangkan Nabi saw. masih terus berusaha melerai mereka, sehingga mereka pun terdiam. Kemudian beliau menaiki kendaraannya dan melanjutkan perjalanan hingga masuk ke rumah Sa’ad bin Ubadah. Nabi pun berkata kepadanya, “Wahai Sa’ad, apakah engkau tidak mendengar apa yang dikatakan Abu Hubab,” yang dimaksudkannya adalah Abdullah bin Ubay. Kemudian beliau mengutarakan ini dan itu hingga Sa’ad pun berkata, “Ya Rasulullah, maafkan dan biarkan saja mereka. Demi Rabb yang menurunkan kepadamu al-Qur’an, Allah telah datang kepadamu dengan membawa kebenaran yang diturunkan kepadamu. Penduduk perkampungan ini telah bersepakat untuk mengangkatnya sebagai pemimpin.” Mengabaikan hal itu dengan hak yang Allah berikan kemuliaan kepadamu dengan hal itu, maka begitulah ia berbuat sebagaimana yang engkau lihat, lalu Rasul pun memaafkannya.

Adalah Rasulullah dan para Sahabatnya memaafkan orang-orang musyrik dan Ahlul Kitab, sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada mereka, dan diperintahkan juga untuk bersabar atas gangguan mereka. Allah berfirman, wa latasma-‘unnal ladziina uutul kitaaba min qablikum wa minal ladziina asy-rakuu adzan katsiiran (“Dan [juga] kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelummu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati.”)

Allah juga berfirman yang artinya, “Sebagian besar Ahlul Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikankamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang [timbul] dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 109)

Nabi menafsirkan pemberian maaf yang diperintahkan Allah kepadanya itu adalah sampai Allah mengizinkan beliau mengambil tindakan terhadap mereka, dan ketika Rasulullah berjihad dalam perang Badar, lalu melalui diri beliau Allah membinasakan banyak dari tokoh-tokoh orang kafir Quraisy, maka ‘Abdullah bin Ubay bin Salul dan orang-orang yang bersamanya serta para penyembah berhala mengatakan, “Ini merupakan suatu kemenangan yang beralih.” Kemudian mereka berjanji setia (bai’at) kepada Rasulullah dan akhirnya mereka pun memeluk Islam. Dengan demikian, setiap orang yang menegakkan kebenaran atau amar ma’ruf, atau nahi munkar, pasti akan mendapatkan gangguan yang menyakitkan, yang tiada obatnya kecuali bersabar karena Allah, serta dengan memohon pertolongan kepada-Nya. Dan hanya kepada-Nya tempat kembali.

&