Arsip | 16.51

Panasnya Neraka dan Kepedihan Siksaannya

23 Mar

Panasnya Neraka dan Kepedihan Siksaannya
Neraka, Kengerian dan Siksaannya; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Allah swt telah memberikan sifat panas dan pedihnya siksa api neraka dalam berbagai ayat al-Qur’an, di antaranya:

“….dan mereka berkata: ‘Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini’. Katakanlah: ‘Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)’ jika mereka mengetahui.” (at-Taubah: 81)

“Sekali-kali tidak dapat, Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak, yang mengelupas kulit kepala,” (al-Ma’aarij: 15-16)

Makna “ladhaa” adalah neraka atau tingkat kedua di dalamnya. Sedangkan, makna dari “nazzaa’atal lisy-syawaa” adalah mencabut ujung kulit atau kulit kepala karena panasnya api neraka. selain itu Allah juga berfirman yang artinya:

“Kecelakaanlah bagi Setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitun. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya Dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.” (al-Humazah: 1-9)

Dalam Shafwah at-Tafsir, ash-Shabuni menafsirkan ayat “Sekali sekali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam [neraka] huthamah itu” bahwa Allah swt. benar-benar akan melemparkan mereka ke dalam neraka yang menghancurkan setiap benda yang dilempar ke dalamnya, lalu menelannya. “dan tahukah kamu apakah [neraka] huthamah itu?” karena keadaan neraka itu sangat menakutkan dan keras atau apa yang kamu ketahui tentang hakikat api yang agung itu? Itulah huthamah yang menghancurkan tulang-tulang dan memakan daging hingga membakar sampai ke hati. Kemudian ayat ini ditafsirkan dengan ayat berikutnya: “[yaitu] api [adzab] Allah yang dinyalakan” atau api Allah swt yang dinyalakan dengan perintah dan kehendak-Nya, tidak seperti api pada umumnya karena api itu tidak pernah padam selamanya. “yang membakar sampai ke hati” yang rasa sakit dan penderitaannya sampai ke hati, lalu membakarnya.

Adapun menurut al-Qurthubi yang dimaksud ayat “yang [membakar] sampai ke hati” karena orang yang terserang penyakit hati akan meninggal. Oleh karena itu, perumpamaan ini dikhususkan bagi hati. Akan tetapi, penghuni neraka ini tidak mati dan tidak pula hidup, sebagaimana dalam surah ThaaHaa ayat 74: “….tidak mati di dalamnya dan tidak [pula] hidup.”

Dalam ayat lain Allah berfirman yang artinya:

“Kelak Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. dan tahukah kamu Apakah (neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan, (neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia.” (Muddatstsir: 26-29)

Ayat di atas menunjukkan bahwa api neraka saqar tidak akan meninggalkan dan membiarkan penghuninya. Jadi, ia merupakan oase yang akan membakar manusia yang ada di dalamnya dengan panas dan nyalanya serta gejolaknya yang dahsyat.

Muhammad Wahhab az-Zahiliy menafsirkan ayat di atas [dalam tafsir al-Munir] dengan Aku akan memasukkan orang-orang yang ingkar ke dalam neraka dan Aku akan menggenangi mereka dengan apinya dari segala penjuru. Saqar adalah salah satu nama neraka yang keadaannya sangat menakutkan. Neraka saqar tidak akan meninggalkan darah, daging, dan tulang para penghuninya. Jika penghuninya itu dikembalikan dalam bentuk makhluk yang baru, api neraka itu tidak akan membiarkannya, tetapi membakarnya kembali lebih dahsyat daripada sebelumnya.

“Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab…”(an-Nisaa’: 56)

Dalam ayat lain, Allah swt juga menyifati besarnya api neraka, panasnya dan asapnya:

“Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (Dikatakan kepada mereka pada hari kiamat): ‘Pergilah kamu mendapatkan azab yang dahulunya kamu mendustakannya. Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang, yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka.’ Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana. Seolah-olah ia iringan unta yang kuning. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” (al-Mursalaat: 28-34)

“Pergilah” adalah pemberitahuan untuk menjalankan perintah.
“Pergilah kamu mendapatkan naungan [asap api neraka] yang mempunyai tiga cabang.” Artinya naungan atau asap neraka. jika asap itu naik, akan terpecah menjadi tiga bagian atau cabang.
“Yang tidak melindungi.” Artinya tidak ada pencegah yang dapat melindungi dari panas apinya.
“Dan tidak pula menolak nyala api neraka,” artinya panas api neraka itu tidak memberikan manfaat bagi merek sedikitpun.
“Sungguh [neraka] itu menyemburkan bunga api.” Artinya neraka itu tidak akan melemparkan apa saja yang melayang di dalamnya.
“[Sebesar dan setinggi] istana” artinya bangunan besar yang kukuh dan tinggi.
“Seakan-akan iring-iringan unta yang kuning.” Kata “jimalatun merupakan” merupakan bentuk jamak dari “jamalun” sedangkan kata “shufr” dalam bentuk dan warnanya. Ada yang mengatakan artinya hitam sebab hitamnya unta diungkapkan dengan kuning. Ini adalah ungkapan penyerupaan dari sisi kebesaran, ketinggian dan warnanya.

Dalam tafsir al-Munir dijelaskan bahwa makna dari ayat “Pergilah kamu mendapatkan apa [adzab] yang dahulu kamu dustakan” adalah dikatakan kepada orang-orang kafir dari balik neraka agar mereka pergi ke adzab neraka yang dahulu [ketika di dunia] didustakan. Kemudian Allah swt. menyifati azab neraka ini dengan empat sifat sebagai berikut:

1. “Pergilah kamu mendapatkan naungan [asap api neraka] yang mempunyai tiga cabang” kalimat ini sebagai ejekan atau olok-olok bagi mereka. artinya, pergilah kamu ke naungan yang terdiri atas asap neraka, yang terpecah menjadi tiga cabang. Sesungguhnya gejolak api neraka itu jika naik bersama asapnya, akan menjadi tiga cabang. Hal ini disebabkan keras dan kuatnya nyala api neraka.
2. “Tidak melindungi” berarti juga menghancurkan mereka [orang-orang kafir] karena naungan mereka ini tidak seperti naungan orang-orang beriman. Naungan ini tidak dapat menahan panas matahari dan tidak meneduhkan mereka seperti di dunia.
3. “Dan tidak pula menolak nyala api neraka” maknanya, naungan itu tidak dapat menolak panas api neraka sedikitpun karena naungan ini adalah naungan neraka. jadi, naungan itu tidak melindungi mereka dari panas neraka dan tidak pula membatasi mereka dari lidah api yang menyala-nyala. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an, “[Mereka] dalam siksaan angin yang sangat panas dan air yang mendidih, dan naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan.” (al-Waqi’ah: 42-44)
4. “Sungguh [neraka] itu menyemburkan bunga api [sebesar dan setinggi] istana. Seakan-akan iringan unta yang kuning” maksudnya api neraka itu menjilat-jilat ke segala arah. Dan setiap jilatan api itu sebesar istana [bangunan yang besar dan tinggi]. Jilatan-jilatan api itu seperti unta kuning yang selalu bergerak.

Al-Farra’ berpendapat, “Yang dimaksud kuning disini adalah unta yang sangat hitam karena unta yang sangat hitam memiliki unsur kekuning-kuningan. Oleh karena itu orang Arab menyebut unta yang sangat hitam dengan warna kuning. Dan kebanyakan ulama berpendapat bahwa maksud kuning disini adalah warna hitam yang kalah kuat dengan kuning. Sedangkan maksud dari “bunga api” adalah api yang menjilat-jilat ke segala penjuru.”

Maksud dari perumpamaan ayat ini adalah untuk menerangkan bahwa api neraka itu sangat panas dan nyalanya sangat bergejolak sehingga menghancurkan mereka. Jadi ungkapan untuk memperolok-olok orang kafir ini seolah-olah berbunyi: “Kalian mengharapkan kemuliaan, kenikmatan, dan keindahan dari berhala sesembahan kalian.” Tetapi keindahan itu adalah bunga api. Oleh karena itu Allah swt. mengazab mereka.

“Celakalah pada hari itu bagi mereka yang mendustakan [kebenaran].” Maksudnya orang-orang yang mendustakan para Rasul Allah dan ayat-ayat-Nya akan mendapat adzab dan kehinaan pada hari kiamat. Pada hari itu tidak ada tempat lari bagi mereka dari adzab Allah swt.

Allah swt. memberi sifat angin di neraka dan asapnya dengan firman-Nya yang artinya: “Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu? Dalam (siksaan) angin yang Amat panas, dan air panas yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan.” (QS. Al-Waaqi’ah: 41-44)

Makna kalimat; sumum: angin keras yang panas dan merasuk ke sumsum. Hamim: air yang mencapai pada derajat yang sangat panas. Dzillin min yahmuum: asap yang sangat hitam.

Menurut Ibnu Katsir [dalam menafsirkan ayat tersebut] ketika Allah swt. menyebutkan golongan kanan, penyebutan itu diikuti oleh penyebutkan golongan kiri, dengan firman-Nya (“Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu.”) maksudnya segala sesuatu yang dipilih atau disukai oleh golongan kiri. Kemudian Allah menjelaskannya pada ayat berikutnya (“[mereka] dalam siksaan angin yang sangat panas.”) atau udara yang sangat panas dan (“dan air yang mendidih”) atau air yang sangat panas.

Ibnu Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud (“dan naungan asap yang hitam”) adalah naungan dari asap. Sedangkan menurut Mujahid, Ikrimah, Qatadah, dan as-Suddi, “Naungan inilah yang dimaksud dalam firman Allah swt (“Pergilah kamu mendapatkan naungan [asap api neraka] yang mempunyai tiga cabang, yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka.”) oleh karena itu disini dikatakan (“dan naungan asap yang hitam”) atau asap yang sangat hitam (“tidak sejuk dan tidak menyenangkan”) atau hembusan anginnya tidak sejuk dan tidak baik dipandang.”

Di antara hadts yang menyebutkan dahsyatnya api neraka dan bahan bakarnya adalah sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Neraka mengeluh kepada Tuhannya, lalu berkata, ‘Wahai Tuhanku, aku memakan sebagian dari sebagian yang lain. Maka ringankalah ku dengan bernafas.’ Kemudian Allah mengizinkannya bernafas dua kali. Nafas pertama pada musim dingin, sedang nafas kedua pada musim panas. Maka apa yang kalian dapatkan pada musim yang sangat panas, itu adalah sebagian dari angin samum-nya. sedangkan, apa yang kalian dapatkan pada musim yang sangat dingin, itu adalah sebagian dari zam-hariir-nya [angin dinginnya].” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Api kalian yang dinyalakan manusia di dunia itu hanyalah sepertujuh puluh panas neraka jahanam.” Para shahabat berkata, “Ya Rasulallah, api di dunia itu sungguh sudah cukup panas.” Rasulullah saw. bersabda, “Api di dunia itu ditambah 69 kali lagi dengan panas yang sama pada masing-masing dari 69 tersebut jika dibandingkan dengan panas api neraka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Api kalian yang dinyalakan di dunia ini hanyalah sepertujuh puluh panas neraka jahanam. Setiap bagian darinya [api neraka] seperti panasnya [api dunia].” (HR Turmudzi)

Dari Anas ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika bagian barat neraka diletakkan di tengah bumi, pasti bau busuk dan panasnya akan menyakiti apa yang ada di antara timur dan barat. Jika bunga api neraka itu ada di bagian timur, niscaya panasnya akan sampai kepada orang yang ada di barat.” (HR Thabrani)

Jika Allah swt. menyebutkan neraka, bunga apinya yang besar, panas, dan kekuatan asapnya, hal itu hanyalah sebagai peringatan agar mereka mengetahui bahwa mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka serta amal perbuatan mereka juga akan dihitung. Selain itu agar mereka juga mengetahui bahwa orang yang tidak lewat di atas shirat, tidak beriman kepada Allah swt, dan tidak berbuat baik, neraka akan menjadi tempat kembalinya. Semua itu disebutkan untuk menkut-nakuti para hamba-Nya agar tidak menjadi penghuninya.

“Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku Hai hamba-hamba-Ku.” (az-Zumar: 16)

&

Iklan

Panasnya Neraka Bertambah Selamanya

23 Mar

Panasnya Neraka Bertambah Selamanya
Neraka, Kengerian dan Siksaannya; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Api neraka tidak akan pernah padam. Jika api itu mereda sedikit saja, Allah swt akan menambah nyalanya. Jadi api neraka selalu bertambah dan tidak berkurang. Dengan demikian, penghuni neraka tidak dapat beristirahat sedikitpun. Itulah perintah Allah swt, yang adzab-Nya terhadap para penghuni neraka tidak pernah reda.

“… dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam Keadaan buta, bisu dan pekak. tempat kediaman mereka adalah neraka Jahannam. tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya.” (al-Israa’: 97)

Pada hari kiamat, orang-orang kafir berjalan di atas wajah-wajah mereka dan mereka diseret dari kaki mereka oleh malaikat Zabaniyah, sebagaimana mereka telah menyiksa orang-orang yang menyampaikan kebenaran [para rasul] di dunia. Mereka juga akan dikumpulkan di bumi mahsyar dalam keadaan buta, bisu dan tuli. Artinya mereka tidak mempunyai indera sehingga tidak dapat melihat, berbicara, dan mendengar. Kemudian Allah mengembalikan pendengaran, penglihatan, dan pengucapan mereka sehingga mereka melhat neraka, mendengar suara nyala apinya, dan mencucapkan sebagaimana Allah ceritakan tentang mereka.

Dari Anas ra. dikatakan, “Wahai Rasulallah, bagaimana Allah akan mengumpulkan mereka dengan berjalan di atas wajah-wajah mereka?” Beliau bersabda, “Yang menjalankan mereka dengan kaki mereka, berkuasa untuk menjalankan mereka di atas wajah mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Adapun maksud ayat (“Tempat kediaman mereka adalah neraka jahanam. Setiap kali nyala api jahanam itu akan padam, Kami tambah lgi nyalanya bagi mereka.”) adalah tempat tinggal mereka di neraka. setiap kali api neraka itu mereda dan apinya akan padam, maka Allah akan menambah nyala dan gejolaknya.

Dalam kitab at-Tashil disebutkan bahwa maksud dari ayat ini, setiap kali api neraka itu membakar daging mereka dan lidah apinya mereda, kulit mereka diganti dengan kulit yang baru. Lalu api itu membakar kembali dan jilatan apinya lebih besar daripada sebelumnya.

“Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai, lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,
25. selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pambalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan Sesungguh- sungguhnya. Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab. Karena itu rasakanlah. dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.” (an-Naba’: 21-30)

Maksud dari ayat (“Maka karena itu rasakanlah! Maka tidak ada yang akan Kami tambahkan kepadamu selain adzab”) ini berarti bahwa adzab neraka itu akan selalu bertambah, tidak pernah berhenti. Jadi orang-orang dalam neraka itu akan terus merasakan siksaannya sebagai balasan yang setimpal terhadap apa yang mereka perbuat [ketika di dunia] dengan tangan-tangan mereka, keingkaran mereka terhadap hari perhitungan amal, dan pendustaan mereka terhadap ayat-ayat Allah swt.

Dalam tafsir al-Munir disebutkan bahwa ayat (“Maka karena itu rasakanlah! Maka tidak ada yang akan Kami tambahkan kepadamu selain adzab”) maksudnya kepada para penghuni neraka yang kafir, mendustakan ayat-ayat Allah, dan yang berbuat jelek dikatakan, “Rasakanlah olehmu, sedangkan kamu berada di dalam neraka yang mempunyai adzab pedih. Kami tidak akan menambah sesuatu pun kepada kalian, kecuali jenis dari adzab itu sendiri.

Menurut Abdullah bin Umar ra. tidak ada ayat yang turun kepada penghuni neraka yang lebih keras dari ayat ini (“Maka karena itu rasakanlah! Maka tidak ada yang akan Kami tambahkan kepadamu selain adzab”). Dengan demikian, adzab mereka selalu bertambah.

Menurut al-Qurthubi, makna ayat (“Maka karena itu rasakanlah! Maka tidak ada yang akan Kami tambahkan kepadamu selain adzab”) adalah rasakanlah wahai segenap orang kafir, Kami tidak akan memberikan pertolongan kepada kalian, kecuali menambah adzab yang lebih keras daripada adzab kalian.

Para mufasir berpendapat bahwa dalam al-Qur’an tidak terdapat ayat yang ditujukan kepada penghuni neraka selain ayat itu. Setiap kali mereka meminta pertolongan, justru adzab pedih yang diberikan kepada mereka.

Dalam hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Amr bin Abasah diterangkan bahwa beliau bersabda, “Shalatlah di waktu shubuh, lalu tahanlah shalat hingga matahari terbit dan meninggi karena pada waktu itu matahari muncul di antara dua tanduk setan. Dan ketika orang-orang kafir sujud padanya [matahari]. Kemudian shalatlah karena shalat pada waktu itu disaksikan [para malaikat] hingga bayangan lebih pendek dari tombak. Kemudian tahanlah shalat karena pada waktu itu neraka dinyalakan. Dan jika telah datang atau tampak bayangan, shalatlah kembali.” (HR Muslim)

Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika terasa panas terik, dinginkanlah dengan shalat karena panas itu berasal dari neraka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Pada hari kiamat neraka dinyalakan dan kemarahannya [neraka] memuncak ketika menyambut para penghuninya.

“Dan apabila neraka jahim dinyalakan, dan apabila surga didekatkan, setiap jiwa akan menetahui apa yang telah dikerjakannya.” (at-Takwir: 12-14)

Neraka itu akan datang di bumi mahsyar dengan mengeluarkan leher yang membuat hati diletakkan ke pangkal tenggorokan karena takut.

&

Malaikat Malaikat Penjaga Neraka

23 Mar

Malaikat Malaikat Penjaga Neraka
Neraka, Kengerian dan Siksaannya; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Neraka mempunyai malaikat-malaikat penjaga yang berdiri dan mengawasi orang-orang kafir di atasnya. Mereka diberi tanggung jawab oleh Allah terhadap berbagai pekerjaan. Mereka tidak pernah berbuat maksiat kepada Allah dan selalu mengerjakan perintah-Nya.

“Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: ‘Apakah belum pernah datang kepadamu Rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan Pertemuan dengan hari ini?’ mereka menjawab: ‘Benar (telah datang).’ Tetapi telah pasti Berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.” (az-Zumar: 71)

Makna ayat di atas menunjukkan bahwa neraka mempunyai penjaga-penjaga yang terdiri atas beberapa malaikat ketika pintu-pintunya dibuka dan orang-orang yang kafir jatuh di dalamnya. Mereka mencela orang-orang kafir tersebut dengan berkata, “Apakah belum datang kepada kalian rasul-rasul di antara kalian atau seseorang yang memberikan peringatan kepada kalian kitab yang diturunkan dari sisi Allah swt. dan memberikan peringatakan kepada kalian terhadap hari yang panas dan tempat yang kekal ini [neraka]?” Mereka [orang-orang kafir] itu menjawab, “Benar, telah datang kepada kami para rasul, tetapi kami mendustakan mereka dan berpaling dari mereka.”

“Dan orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, memperoleh azab Jahannam. dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak. Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: ‘Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?’ Mereka menjawab: ‘Benar ada,’ Sesungguhnya telah datang kepada Kami seorang pemberi peringatan, Maka Kami mendustakan(nya) dan Kami katakan: ‘Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.’” (QS Al-Mulk: 6-9)

Setiap kali kumpulan orang-orang kafir dilemparkan ke dalam neraka, penjaganya [malaikat Zabaniyah] bertanya kepada mereka, “Apakah belum datang kepada kalian para Rasul yang membawa peringatan?” para mufasir berpendapat bahwa pertanyaan dari malaikat azab ini ditujukan kepada mereka sebagai tambahan penderitaan bagi mereka agar kerugian dan adzab mereka bertambah.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS at-Tahrim: 6)

Ayat di atas menunjukkan sifat neraka dan malaikat penjaganya [yang kasar dan keras]. Di dunia, kita mengatakan bahwa si fulan itu sangat keras, tidak memiliki hati yang lembut [kasih sayang], tidak memiliki wajah ceria, tidak menerima alasan, dan tidak memiliki harapan sehingga siksanya sangat pedih dan keras. Jika kamu melihat wajahnya, dia membuatmu takut karena kemarahan dan kekerasannya. Ini baru di dunia, lalu bagaimana perasaan kita dengan para malaikat azab yang telah disifati dan diciptakan Allah swt sebagai malaikat yang kasar dan keras?

Dalam kitab Shafwah at-Tafasir, ash-Shabuni berpendapat, di atas neraka ini ada Malaikat Zabaniyah yang keras hatinya dan tidak mempunyai rasa kasihan kepada seorang pun. Ia ditugaskan oleh Allah untuk mengadzab orang-orang kafir.

Menurut al-Qurthubi, yang dimaksud para Malaikat Zabaniyah adalah para malaikat yang berhati keras, tidak mempunyai rasa belas kasihan jika diminta untuk mengasihi mereka karena mereka diciptakan dari kemarahan. Mereka lebih suka mengadzab makhluk, sebagaimana manusia mencintai makan dan minum.

Dalam ensiklopedi Alqur’an juga disebutkan bahwa di neraka terdapat 19 [sembilan belas] malaikat penjaga. Sifat mereka kasar, keras hati, dan kuat. Mereka tidak pernah mendurhakai perintah Allah di masa lampau dan akan menjalankan perintah-Nya di masa yang akan datang.

Menurut Ibnu Katsir, para malaikat penjaga neraka itu memang diciptakan dengan tabiat yang kasar dan keras. Sifat kasih sayang mereka telah dicabut dari hati mereka terhadap orang-orang kafir. Jadi, susunan mereka memang terdiri atas unsur-unsur yang keras dan pandangan mereka menakutkan.

Ibnu Abi Hatim dari Ikrimah berkata, “Jika penghuni neraka telah tiba di neraka, niscaya akan mendapatkan 400.000 malaikat penjaga neraka di depan pintunya. Wajah mereka hitam, taringnya menakutkan, dan Allah swt. telah mencabut sifat kaih sayang dari hati mereka. tidak ada sedikitpun sifat kasih sayang dalam hati mereka, walau sebesar zarrah. Jika ia terbang di salah satu pundak mereka, niscaya baru sampai ke pundak yang lain setelah terbang selama dua bulan.”

Para mufasir sepakat bahwa para penjaga neraka yang disebutkan Allah swt dengan sifat yang keras dan kasar adalah para malaikat yang keras, kuat, dan besar. Mereka diciptakan Allah swt dalam bentuk yang mengerikan agar orang-orang kafir bertambah takut, mengeluh dan terkejut, lebih dari adzab yang mereka terima di neraka dan kekal di dalamnya. Allah swt menghilangkan sifat kasih sayang dari hati malaikat-malaikat tersebut dan menciptakan mereka dengan wajah yang sangat hitam mengerikan. Mereka mempunyai taring-taring yang menakutkan dan suka mengazab orang-orang kafir yang bermaksiat kepada Allah, tidak beriman kepada-Nya dan tidak mengesakan-Nya.

26. aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar.
27. tahukah kamu Apakah (neraka) Saqar itu?
“Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Dan di atasnya ada sembilan belas (Malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari Malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk Jadi cobaan bagi orang-orang kafir, ….” (al-Muddatstsir: 28-31)

Dalam ayat ini Allah menyebutkan “saqar” yang panas dan apinya tidak akan meninggalkan dan membiarkan orang-orang kafir. Saqar adalah pembakar kulit manusia, yang di atasnya terdapat sembilan belas malaikat penjaga.

Terdapat perbedaan dalam menafsirkan ayat (“Di atasnya terdapat sembilan belas malaikat penjaga.”). maksud ayat ini belum pasti apakah sembilan belas ribu, juta atau baris. Dalam beberapa tafsir terdapat perbedaan pendapat tentang ini.

Perbedaan ini terlihat dalam sebagian hadits yang didlaifkan oleh para perawi, seperti Nashiruddin al-Albany.

Pendapat yang terkenal adalah pendapat orang-orang salaf dan khalaf. Menurut mereka, “Cobaan” itu disebutkan setelah penyebutan jumlah malaikat yang memperdaya orang-orang kafir. Mereka beranggapan dapat melawan dan menahan mereka selama jumlah malaikat itu tidak lebih dari sembilan belas, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat. Padahal orang-orang kafir itu tidak mengetahui bahwa satu malaikat saja tidak mungkin mereka lawan. Oleh karena itu setelah penyebutan ayat (“Di atasnya ada sembilan belas [malaikat penjaga]”) Allah swt menambahkan dengan (“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari Malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk Jadi cobaan bagi orang-orang kafir, ….”)

As-Suddi mengatakan bahwa ada seorang Quraisy yang dijuluki “Abu Asyad” [orang yang sangat keras]. Ketika ayat tersebut turun, ia berkata kepada kaum Quraisy, “Hai orang-orang Quraisy! Janganlah kalian takut terhadap sembilan belas malaikat itu! Aku akan membela kalian dengan bahuku yang kanan untuk sepuluh malaikat, sedang bahuku yang kiri untuk sembilan malaikat.” Pernyataan itu diucapkan sebagai olok-olok terhadap ayat itu. Maka Allah menurunkan ayat selanjutnya (“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari Malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk Jadi cobaan bagi orang-orang kafir, ….”)

Qatadah mengatakan bahwa ketika ayat ini turun, Abu Jahal berkata, “Hai orang-orang Quraisy! Apakah setiap sepuluh dari kalian tidak dapat mengalahkan satu malaikat penjaga neraka, sedang jumlah kalian sangat banyak? Bukankah teman kalian ini [Muhammad] mengatakan bahwa jumlah mereka [malaikat] hanya sembilan belas?”

Itulah yang dikatakan oleh orang-orang kafir ketika ayat tersebut turun. Dalam perkara ini ada dua hal yang perlu diperhatikan,
1. Pertama, jika kaum Quraisy itu menggunakan akal mereka, tentu mereka akan mengetahui bahwa mereka telah melawan firman Allah swt. Seperti sangkaan mereka jika Al-Qur’an ini berasal dari Muhammad, tentu jumlah malaikat akan ditambah sehingga dikatakan bahwa jumlah malaikat penjaga neraka itu berjuta-juta banyaknya agar orang-orang kafir itu takut. Akan tetapi, Muhammad saw. adalah orang yang jujur dan amanah terhadap kitab yang telah diturunkan kepadanya. Oleh karena itu, beliau tidak mengganti, menambah, dan menguranginya.

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan Pertemuan dengan Kami berkata: ‘Datangkanlah Al Quran yang lain dari ini atau gantilah dia.’ Katakanlah: ‘Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)’.”

“Dan mereka berkata: ‘Sekiranya Kami mendengarkan atau memikirkan [peringatan itu] niscaya tidaklah Kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala’.”

2. Kedua, orang-orang kafir menafsirkan ayat-ayat tersebut hanya berdasarkan standar akal fikiran mereka sehingga tidak mampu memahami kekuasaan dan kehendak Allah swt sehingga Allah swt berfirman, “Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya…” (QS al-An’am: 91)

Allah swt menciptakan, mengagungkan, dan membesarkan apa yang dikehendaki-Nya. Adapun sembilan belas malaikat yang telah disebutkan Allah swt dalam ayat al-Qur’an di atas, tidak diketahui besar dan kekuatannya kecuali Dia.

Sebagian mufasir berkata, “Jika seluruh manusia dikumpulkan, mereka belum dapat menandingi satu pun dari malaikat itu.” Bahkan Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa ketika Allah telah mengizinkannya untuk berbicara kepada salah satu malaikat pemanggul ‘Arsy. Hal ini jelas bahwa malaikat itu sangat besar dan kuat.

Dari Jabir bin Abdullah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Aku diizinkan oleh Allah untuk berbicara kepada salah satu dari para malaikat pemanggul ‘Arsy. Sungguh antara cuping telinga dan bahunya sejauh perjalanan selama tujuh ratus tahun.” (HR Abu Daud)

Itulah Jibril as. yang menutupi barat dan timur ketika Rasulullah saw. melihatnya. Begitu pula Israfil as. jika ia meniupkan sangkakala, bergetarlah semua yang ada di langit dan di bumi. Demikian juga dengan Malik as. penjaga neraka. apakah anda dapat membayangkan jika satu gerakan saja dapat menutupi semua penghuni neraka, padahal tempat duduk orang-orang kafir yang ada di dalamnya sejauh antara Mekkah dan Madinah, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits.

Ayat, (“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari Malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk Jadi cobaan bagi orang-orang kafir, ….”) ini sangat penting, seyogyanyalah kita perlu memperhatikan beberapa penafsiran dari para mufasir.

Ibnu Katsir berpendapat mengenai ayat, (“Di atasnya ada sembilan belas malaikat penjaga…”) sesuai dengan hadits dari al-Hafidz al-Bazar dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah saw. didatangi seseorang yang berkata, “Hai Muhammad, pada hari ini para shahabatmu telah kalah.” Beliau bertanya, “Dari apa?” Orang itu berkata, “Mereka ditanya oleh orang-orang Yahudi, apakah Nabi kalian telah memberitahukan kalian jumlah penjaga neraka? Lalu mereka [para shahabat] menjawab, ‘Kami tidak tahu sehingga kami akan bertanya kepadanya.’” Maka Rasulullah saw. bertanya kepadanya, “Apakah suatu kaum itu menang jika bertanya tentang sesuatu yang tidak mereka [para shahabat] ketahui, lalu mereka menjawab, ‘Akan kami tanyakan kepada Nabi kami?’ Demi aku wahai musuh Allah, bahkan mereka pernah bertanya kepada nabi mereka agar Allah memperlihatkan dengan nyata.”

Kemudian orang itu diutus kembali kepada mereka untuk mengajak mereka. lalu mereka bertanya, “Wahai Abu Qasim [Muhammad], berapa jumlah neraka?” Beliau menjawab, “Begini.” Beliau menumpukkan telapak tangannya di atas telapak tangan yang satunya, lalu menumpukkannya sekali lagi. Kemudian beliau berkata kepada para shahabatnya, “Jika kalian menanyakan debu surga, debu itu adalah darmak [debu yang sangat lembut].” Ketika para shahabat bertanya, beliau memberitahukan kepada mereka, lalu bertanya kepada mereka, “Apa darmak itu?” Mereka saling berpandangan lalu berkata, “Tepung, wahai Abu Qasim.” Kemudian beliau menjawab, “Ya Tepung dari darmak.”

Kemudian Ibnu Katsir berpendapat bahwa maksud dari QS al-Muddatstsir: 31 “wa maa ja’alnaa ash-haaban naari” adalah penjaga neraka, dan “illaa malaa-ikatan” adalah malaikat Zabaniyah yang kasar dan keras. Hal ini untuk membantah kaum Quraisy ketika menyebutkan jumlah penjaga neraka. Abu Jahal berkata, “Hai segenap kaum Quraisy, jika setiap sepuluh orang dari kalian dapat mengalahkan satu penjaga neraka itu, kalian akan menang.” Kemudian Allah berfirman, “Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari Malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk Jadi cobaan bagi orang-orang kafir, ….” atau malaikat yang mempunyai perangai sangat keras dan tidak dikalahkan.

Dikatakan juga bahwa Abul Asyad berkata kepada orang-orang Quraisy, “Wahai segenap orang-orang Quraisy, tahanlah bagiku dua orang malaikat saja, niscaya aku akan mengalahkan yang tujuh belas.” Abul Asyad ini dikenal dengan kekuatannya, bahkan dikatakan ia mampu mengangkat seekor sapi dan menarik sepuluh ekor sapi atau melawannya dan merobek-robek kulitnya.

Menurut as-Suhailiy, Abul Asyad adalah orang yang pernah menantang Rasulullah saw. untuk berkelahi. Abul Asyad berkata kepada beliau, “Jika engkau dapat mengalahkan aku, aku akan beriman kepadamu.” Kemudian Rasulullah pun mengalahkannya dan menjatuhkannya terus-menerus, tetapi ia tidak beriman. Jadi, ayat (“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari Malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk Jadi cobaan bagi orang-orang kafir, ….”) disebutkan kepada kita hanyalah sebagai gambaran terhadap manusia.

Liyastaiqinal ladziina uutul kitaaba (“….agar orang-orang yang diberi al-kitab menjadi yakin…”)(QS al-Muddatstsir: 31)
Maksud ayat tersebut agar mereka mengetahui bahwa rasul itu benar dan berbicara sesuai dengan kitab-kitab yang diturunkan kepada para rasul sebelumnya.

Dalam kitab Shafwah at-Tafasir juga disebutkan bahwa penjaga neraka itu diwakili oleh sembilan belas Malaikat Zabaniyah yang kasar dan keras, sebagaimana firman Allah swt. yang berbunyi, “….penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS at-Tahrim: 6)

Ibnu Abbas berkata, “Antara bahu yang satu dan bahu yang lainnya sejauh perjalanan satu tahun. Sedangkan kekuatan salah satu dari mereka ketika memukul dengan palu besi dapat mendorong 70.000 manusia ke dasar neraka.”

Al-Alusi berpendapat sesuai dengan riwayat Ibnu Abbas bahwa ketika ayat tersebut turun, Abu Jahal berkata, “Kematian kalian menyebabkan kematian ibu kalian. Sungguh, aku telah mendengar Ibnu Abi Kabsyah [Muhammad] mengatakan bahwa penjaga neraka itu terdiri dari sembilan belas malaikat. Sedangkan kalian adalah orang yang berjumlah banyak dan pemberani. Tidak dapatkan sepuluh orang dari kalian menyergap seorang dari mereka?” Abul Asyhudda al-Jumbi juga berkata, “Cukup bagiku untuk mengalahkan tujuh belas dari mereka. maka tahanlah bagiku yang dua itu.”

Kemudian Allah menurunkan ayat (“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari Malaikat”). Maknanya, Allah menjadikan para penjaga neraka terdiri atas para malaikat yang kasar dan keras, bukan manusia sehingga mereka dapat merobohkan dan mengalahkan orang-orang kafir. Lalu, makna ayat (“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari Malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk Jadi cobaan bagi orang-orang kafir, ….”) adalah Allah swt tidak menjadikan jumlah itu, melainkan sebagai cobaan dan kesesatan orang-orang musyrik, yang menganggap jumlah malaikat itu sedikit dan memperolok-oloknya. Sehingga Abu Jahal berkata, “Tidak dapatkan seratus orang dari kalian menyergap satu orang dari mereka sehingga kalian dapat keluar dari neraka?” al-Qurthubi juga berpendapat bahwa Allah swt. menjadikan jumlah para malaikat penjaga neraka itu hanyalah sebagai cobaan bagi orang-orang kafir.
Mengenai ayat (“di atasnya ada sembilan belas malaikat penjaga”), al-Qurthubi juga berpendapat bahwa yang benar [insya Allah] kesembilan belas malaikat itu adalah pemimpin mereka, sedang penyebutan jumlah itu hanyalah sebagai ungkapan saja karena jumlah malaikat itu tidak diketahui, sebagaimana QS al-Muddatstsir ayat 31, “…dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhannya, kecuali Dia sendiri…”

Dalam hadits shahih dari Abdullah bin Mas’ud ra. telah ditetapkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Pada hari kiamat neraka didatangkan dan mempunyai 70.000 tali kekang. Pada setiap kekang itu terdapat 70.000 malaikat yang mengendalikannya.”

Dalam tafsir al-Munir disebutkan bahwa makna ayat (“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari Malaikat”), Allah swt tidak menjadikan para penjaga neraka yang siap mengadzab orang-orang kafir itu, melainkan dari para malaikat yang kasar dan keras, bukan dari manusia karena manusia mungkin dapat dikalahkan. Lalu siapa yang lebih kuat dari para malaikat dan dapat mengalahkan mereka? sedangkan, mereka sangat kuat dan keras.

Itulah bantahan terhadap orang-orang musyrik Quraisy, ketika disebutkan jumlah penjaga neraka itu sebagai cobaan bagi orang-orang kafir sehingga mereka mengatakan demikian, sebagaimana perkataan Abu Jahal dan Abul Asyudda al-Jumhi. Hal ini dimaksudkan untuk melipatgandakan adzab mereka di neraka dan agar Allah swt semakin murka. Jadi, kata “fitnah” dalam ayat tersebut berarti cobaan. Dan fitnah atau cobaan mereka itu adalah keadaan mereka yang memperlihatkan bahwa mereka mampu mengalahkan para penjaga neraka. hal itu diucapkan sebagai ejekan, sedangkan mereka itu mendustakan hari kebangkitan dan adanya neraka serta penjaganya.

Secara jelas, penamaan penjaga neraka itu dinamakan sebagai “khasanah jahanam” telah disebutkan dalam al-Qur’an yang artinya:
“Dan orang-orang yang berada di neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka jahanam, ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia meringankkan adzab atas kami sehari saja.’” (QS al-Mu’min: 49)

&

Kegelapan Neraka dan Hitamnya Wajah Para Penghuninya

23 Mar

Kegelapan Neraka dan Hitamnya Wajah Para Penghuninya
Neraka, Kengerian dan Siksaannya; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

“… seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gelita. mereka Itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Yunus: 27)

“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram…. “ (Ali ‘Imraan: 106)

“Dan apabila neraka jahim dinyalakan.” (at-Takwir: 12)

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Neraka dinyalakan setahun hingga memutih, lalu dinyalakan lagi setahun hingga memerah, kemudian dinyalakan setahun lagi hingga gelap, seperti gelap malam gulita.” (HR Turmudzi dan Ibnu Majah)

Gelapnya neraka jahanam dan hitamnya wajah para penghuni neraka [orang-orang kafir, musyrik, dan munafik] tidak diterima oleh cahaya orang-orang beriman yang berada di dalam surga.

Kemudian Allah juga berfirman mengenai cahaya yang menerangi orang-orang beriman. “(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (Dikatakan kepada meraka): ‘Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.” (al-Hadid: 12)

Makna cahaya disini bukanlah putih pada ayat (“Pada hari itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram”). Setiap yang ada di sekitar orang-orang beriman bercahaya. Cahaya itu selalu menyinari mereka dari depan dan dari sebelah kanan mereka. cahaya itu pun tidak menerima kegelapan neraka milik orang-orang kafir yang wajah mereka hitam, begitu juga dengan kegelapan yang ada di sekitar mereka.

&

Bergolaknya Api Neraka dan Suara Nyalanya

23 Mar

Bergolaknya Api Neraka dan Suara Nyalanya
Neraka, Kengerian dan Siksaannya; Berita Akhirat; Mahir Ahmad Ash-Shufiy

Telah disebutkan bahwa neraka jahanam melemahkan ilmu yang menyifatinya, baik kekuatan, lidah apinya, maupun panasnya. Sifat lain yang ditambahkan Allah untuk neraka adalah suara nyala api, kemarahan, dan gejolaknya atau ia mendidih di setiap tempat dan dari setiap tempat. Bahkan neraka itu akan bertambah marah setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan orang-orang kafir, musyrik, dan munafik.

“Bahkan mereka mendustakan hari kiamat, dan Kami menyediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan hari kiamat. Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya.” (al-Furqaan: 11-12)

Orang-orang kafir dan musyrik itu telah mendustakan hari kiamat, Allah swt pun telah menyediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa saja yang mendustakan hari akhirat atau kiamat.

Jika neraka itu melihat orang-orang kafir [Allah swt menjadikan neraka itu mampu melihat dan membedakan antara orang-orang kafir dan mukmin] dari jarak yang jauh, yaitu lima ratus tahun [menurut pendapat ash-Shabuni, Thabrani, dan yang lainnya dalam tafsir mereka], orang-orang kafir itu mendengar gejolak nyala api dan kemarahannya, sebagaimana dada orang yang telah dipenuhi kemarahan. Mereka juga mendengar suara, seperti suara keledai yang sedang marah serta suara-suara yang menakutkan dan mengejutkan. Padahal, mereka mendengarnya dari jarak lima ratus tahun.

Ibnu Abbas menukil pendapat Ibnu Katsir dalam kitab Mukhtashar karangan ash-Shabuni bahwa manusia akan ditarik ke neraka, lalu mereka itu berteriak seperti suara keledai yang menakutkan. Tidak ada orang yang tertinggal, kecuali mereka takut terhadap suara itu.

Kemudian Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat (“dari tempat yang jauh”) itu sebagai tambahan ketakutan orang-orang kafir terhadap perkara neraka.

“Dan orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, memperoleh azab Jahannam. dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak, Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” Mereka menjawab: “Benar ada”, Sesungguhnya telah datang kepada Kami seorang pemberi peringatan, Maka Kami mendustakan(nya) dan Kami katakan: “Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.” (al-Mulk: 6-9)

Allah swt telah menyediakan adzab neraka bagi orang-orang yang kafir kepada-Nya. Hakekat dan kebenaran kepedihan atau penderitaan akan siksa neraka itu tidak diketahui kecuali oleh Allah swt. Padahal sejelek-jelek tempat kembali bagi mereka yang kafir, baik dari golongan manusia maupun jin adalah neraka. mereka kekal di dalamnya.

Itulah sifat yang diberikan Allah swt. bagi neraka dan ngerinya adzab yang ada di dalamnya. (“Apabila mereka dilempar ke dalamnya”) artinya orang-orang kafir itu dilemparkan ke dalam neraka, seperti kayu bakar yang dilemparkan ke dalam api. Mereka dilemparkan ke dalam nerak, sekelompok demi sekelompok atau umat demi umat. Dalam hal ini terdapat kehinaan bagi mereka.

Jika mereka belum dilemparkan, neraka itu akan berteriak dan menggelegak karena panasnya yang dahsyat atau kemarahannya yang bergejolak kepada orang-orang yang sombong, yang tidak mau beriman kepada Allah swt dan hari penghitungan.

Para mufasir berpendapat bahwa makna ayat (“sedang neraka itu membara”) berati neraka itu mendidih bersama orang-orang kafir yang dilemparkan ke dalamnya, sebagaimana ketel yang mendidih di tungku api karena apinya yang panas.

Mujahid berpendapat bahwa neraka itu mendidihkan orang-orang kafir, sebagaimana mendidihnya biji yang sedikit di dalam air yang banyak.

Kemudian para mufasir berpendapat bahwa ayat (“hampir meledak karena marah”) berarti neraka jahanam itu hampir saja terbelah dan terputus sebagian atas sebagian yang lain karena kemarahannya kepada para musuh Allah swt. Sebagai tambahan penderitaan dan ketakutan bagi orang-orang kafir, para malaikat penjaga neraka bertanya kepada mereka.

Orang-orang kafir itu tidak datang ke neraka secara sendiri-sendiri, sebagaimana keadaan orang-orang yang beriman ketika memasuki surga, lalu disambut para malaikat di depan pintunya, dan setiap orang dari penduduk surga itu mendapatkan kemuliaan. Lain halnya dengan orang-orang kafir penghuni neraka itu. Mereka tidak mendapatkan kemuliaan. Oleh karena itu mereka dilemparkan ke dalam neraka umat demi umat. Tuan, hamba, kaya dan miskin semua sama. Tidak ada perbedaan di antara mereka. mereka mendapatkan kehinaan dan tidak akan keluar dari neraka, selamanya.

Sebagaimana firman Allah:
“Allah berfirman: ‘Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), Dia mengutuk kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu: ‘Ya Tuhan Kami, mereka telah menyesatkan Kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka.’ Allah berfirman: ‘Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak Mengetahui.’” (al-A’raaf: 38)

Para mufasir berbeda pendapat bahwa ayat (“penjaga-penjaga [neraka itu] bertanya kepada mereka”), artinya orang-orang kafir itu ditanya oleh para malaikat penjaga neraka, yaitu para malaikat Zabaniyah dengan pertanyaan teguran dan celaan, “Apakah belum datang kepada kalian para Rasul yang memberi peringatan akan pertemuan dengan hari yang mengerikan ini?”

Adh-Dhahak mengatakan bahwa neraka akan bersuara pada hari kiamat. Tidak ada yang tertinggal dari para malaikat, Nabi dan Rasul, kecuali mereka tunduk bersujud sambil berkata, “Ya Tuhanku, jiwaku, jiwaku!” artinya, mereka memohon kepada Tuhan agar menyelamatkan jiwa mereka dan mereka lupa dengan yang lain, baik keluarga maupun anak-anak mereka.

Ubaid bin Umair mengatakan bahwa pada hari kiamat nanti suara nyala api neraka sangat menakutkan. Tidak ada yang tersisa dari para malaikat dan Nabi, kecuali mereka sujud di atas kedua lutut dan tengkuk mereka gemetar sambil berkata, “Wahai Tuhanku, jiwaku, jiwaku!”

“Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka, mereka tidak mendengar sedikitpun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka.” (al-Anbiyaa’: 101-102)

(“Mereka tidak mendengar bunyi desis api neraka”) artinya neraka mempunyai suara atau desisan yang berasal dari apinya. Itulah suara dan teriakan yang mengerikan, yang membuat hati merinding dan takut. Suara neraka yang mengejutkan dan menakutkan karena kemarahannya itu dilarang oleh Allah swt untuk sampai ke pendengaran orang-orang beriman yang berbahagia di surga. Terdengarnya suara-suara neraka itu hanyalah salah satu bentuk adzab, bahkan dari adzab yang sangat pedih. Allah swt tidak ridla jika suara-suara itu sampai menyakiti orang-orang beriman meskipun hanya sedikit. Bagi mereka telah disediakan surga-surga dan tempat tinggal yang penuh kenikmatan.

Abu Nu’aim dan yang lain men-takhrij riwayat Abdurrahman bin Hathab yang mengatakan bahwa Umar ra berkata kepada Ka’ab al-Ahbar, “Berilah saya nasehat!” Ka’ab al-Ahbar berkata, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh neraka akan mendekati hari kiamat. Ia mengeluarkan suara dan merintih [menarik nafas]. Jika telah dekat, ia akan menyalakan apinya dan mengeluarkan suara. Tidaklah Allah menciptakan Nabi dan orang yang syahid, kecuali jatuh berlutut hingga setiap Nabi, orang yang shiddiqun, dan syahid berkata, ‘Ya Allah, hari ini aku tidak memohon sesuatu kecuali selamatkanlah aku.’ Sekiranya engkau mempunyai banyak amal sebanyak tujuh puluh Nabi, tentu engkau akan mengira tidak selamat.” Maka Umar berkata, “Demi Allah, sungguh perkara yang besar!”

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 99-103

23 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 99-102“Dan Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik. (QS. Al-Baqarah: 99) Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan Setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman. (QS. Al-Baqarah: 100) Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (Kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah). (QS. Al-Baqarah: 101) Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir ngerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.’ Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 102) Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 103)

Mengenai firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: laqad anzalnaa ilaika aayaatim bayyinaatin (“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadmu ay`at-ayat yang jelas,”) Imam Abu Ja’far bin Jarir mengatakan, artinya Kami (Allah) telah menurunkan kepadamu, hai Muhammad, beberapa tanda yang sangat jelas yang menunjukkan kenabianmu.

Ayat-ayat itu adalah di antara berbagai ilmu orang-orang Yahudi yang di dalamnya tersembunyi bermacam-macam unsur rahasia berita mereka dan berita mengenai para pendahulu mereka dari kalangan Bani Israil, yang semuanya itu terkandung di dalam al-Qur’an. Selain itu, juga berita mengenai hal-hal yang yang dikandung oleh kitab-kitab mereka yang tidak diketahui kecuali oleh para pendeta dan pemuka agama mereka, serta hukum-hukum yang terdapat di dalam kitab Taurat yang diselewengkan dan diubah oleh para pendahulu mereka. Kemudian Allah memperlihatkan semua itu di dalam kitab (al-Qur’an) yang diturunkan kepada nabi-Nya, Muhammad saw.

Dalam hal itu terdapat ayat-ayat yang jelas bagi orang yang adil terhadap diri sendiri dan tidak membiarkannya binasa karena rasa dengki dan sikap melampaui batas. Orang yang memiliki fitrah yang lurus pasti akan membenarkan ayat-ayat yang jelas yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. yang diperolehnya tanpa melalui proses belajar atau mengambil kabar dari seseorang.

Sebagaimana yang dikatakan adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas, mengenai firman-Nya: laqad anzalnaa ilaika aayaatim bayyinaatin (“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadmu ay`at-ayat yang jelas,”), ia mengatakan, “Engkau yang membacakan dan memberitahukannya kepada mereka pada pagi dan petang dan di antara keduanya. Sedang dalam pandangan mereka, engkau adalah orang yang ummi, yang tidak dapat membaca kitab, tetapi engkau dapat memberitahukan apa yang ada pada mereka dengan tepat. Allah swt. mengatakan hal itu kepada mereka sebagai ibrah (pelajaran), bayan (penjelasan), dan menjadi hujjah (bukti) yang nyata jika mereka mengetahui.”

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan, baha Ibnu Shuriya al-Quthwaini pernah berkata kepada Rasulullah saw., “Hai Muhammad, engkau tidak datang kepada kami dengan membawa sesuatu yang kami ketahui. Dan Allah tidak menurunkan ayat yang jelas kepadamu sehingga kami dapat mengikutimu.”

Maka berkenaan dengan hal itu Allah menurunkan ayat: wa laqad anzalnaa ilaika aayaatim bayyinaatiw wa maa yakfuru biHaa illal faasiquun (“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadmu ay`at-ayat yang jelas, dan tidak mengingkarinya kecuali orang-orang fasik”), ketika Rasulullah saw. diutus, dan beliau mengingatkan orang-orang Yahudi dan janji mereka kepada Allah serta perintah-Nya agar mereka beriman kepada Nabi Muhammad saw., Malik bin Shaif mengatakan: “Demi Allah, Allah tidak memerintahkan kami untuk beriman kepada Muhammad dan Allah juga tidak mengambil janji dari kami [untuk hal itu].”

Maka Allah pun menurunkan ayat: awa kullamaa ‘aaHaduu ‘aHdan nabadzaHuu fariiqum minHum (“Patutkan [mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah], dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya?”)

Sedangkan mengenai firman-Nya: bal aktsaruHum laa yu’minuun (“Bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman.”) Al-Hasan al-Bashri mengatakan, “Memang benar, tidak ada perjanjian yang mereka adakan melainkan mereka membatalkan dan melemparkannya, hari ini mereka berjanji, esok dibatalkannya.”
As-Suddi berkata: “Mereka tidak beriman kepada apa yang dibawa oleh Muhammad.” Dan Qatadah berkata: “Segolongan mereka melemparkannya”, maksudnya, segolongan mereka membatalkannya.

Ibnu Jarir mengatakan, asal kata “an-nabdzu” itu berarti melempar dan mencampakkan. Bertolak dari hal tersebut, kurma dan anggur yang ditaruh di air disebut “nabiidzun”. Abu Aswad ad-Du’ali pernah menuturkan pernah menuturkan:
“Aku melihat ke alamatnya lalu mencampakkannya, seperti engkau
mencampakkan sandalmu yang telah rusak.”

Aku (Ibnu Katsir) katakan; Allah swt. mencela kaum Yahudi karena mereka telah mencampakkan berbagai perjanjian, yang Dia meminta mereka agar berpegang teguh padanya serta menunaikan hak-hak-Nya. Oleh karena itu pada ayat berikutnya Allah mengungkapkan kedustaan mereka terhadap Rasul yang diutus kepada mereka dan kepada seluruh umat manusia, yang di dalam kitab-kitab mereka sudah tertulis mengenai sifat-sifat dan berita-berita mengenainya. Dan melalui kitab-kitab tersebut mereka telah diperintah untuk mengikuti, mendukung, dan menolongnya. Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, dan Nabi yang ummi yang namanya mereka dapati tertulis dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.” (al-A’raaf: 157)

Dalam surat al-Baqarah ini, Allah berfirman: wa lam maa jaa-aHum rasuulum min ‘indillaaHi mushaddiqul limaa ma’ahum (“Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa [kitab] yang ada pada mereka.”) Maksudnya, sekelompok dari mereka melemparkan ke belakang kitab Allah yang berada di tangan mereka yang di dalamnya terdapat berita mengenai kedatangan Nabi Muhammad saw. Dengan pengertian lain, mereka meninggalkannya seolah-olah mereka tidak mengetahui sama sekali isinya. Kemudian mereka mengarahkan perhatiannya untuk belajar dan melakukan sihir. Oleh karena itu, mereka bermaksud menipu Rasulullah dan menyihirnya melalui sisir dan mayang kurma yang kering yang diletakkan di pinggir sumur Arwan. Penyihiran itu dilakukan oleh salah seorang Yahudi yang bernama Labid bin A’sham -semoga Allah melaknatnya dan mejelekkannya. Tetapi Allah , memperlihatkan hal itu kepada Rasul-Nya, Muhammad sekaligus menyembuhkan dan menyelamatkannya dari sihir tersebut. Sebagaimana hal itu telah diuraikan secara panjang lebar dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, diriwayatkan dari Aisyah Ummul Mukminin radhiallahuanha, yang insya Allah akan kami kemukakan pada pembahasan berikutnya.

Mengenai firman-Nya: wa lam maa jaa-aHum rasuulum min ‘indillaaHi mushaddiqul limaa ma’ahum (“Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa [kitab] yang ada pada mereka.”) As-Suddi mengatakan, “Ketika Muhammad saw. datang kepada mereka, mereka menentang dan menyerangnya dengan menggunakan kitab Taurat, dan ketika terbukti tidak ada pertentangan antara Taurat dengan al-Qur’an, maka mereka pun melemparkan Taurat. Kemudian mereka mengambil kitab Ashif dan sihir Harut dan Marut, yang jelas tidak sesuai dengan al-Qur’an. Itulah makna firman-Nya: ka-annaHum laa ya’lamuun (“Seolah-olah mereka tidak mengetahui.”)

Berkenaan dengan firman-Nya: ka-annaHum laa ya’lamuun (“Seolah-olah mereka tidak mengetahui.”) Qatadah mengatakan: “Sebenarnya kaum Yahudi itu mengetahui tetapi mereka membuang dan menyembunyikan pengetahuan itu dan mengingkarinya.”

Sedangkan sehubungan dengan firman-Nya: wat taba’uu maa tatluusy-syayaathiinu (“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan,”) di dalam tafsirnya, dari Ibnu Abbas, al-‘Aufi mengatakan, “Yaitu ketika kerajaan Nabi Sulaiman sirna, sekelompok jin dan manusia murtad dan mengikuti hawa nafsu mereka. Namun setelah Allah mengembalikan kerajaan itu kepada Nabi Sulaiman, maka orang-orang tetap berpegang pada agama seperti sediakala (Islam). Kemudian Nabi Sulaiman menyita kitab-kitab mereka dan menguburnya di bawah singgasananya. Setelah itu Nabi Sulaiman meninggal dunia, maka sebagian manusia dan jin menguasai kitab-kitab itu seraya mengatakan bahwa kitab ini berasal dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Sulaiman, dan ia menyembunyikannya dari kami. Lalu mereka pun mengambil dan menjadikan kitab itu sebagai suatu ajaran.

Maka Allah swt. pun menurunkan firman-Nya: wa lam maa jaa-aHum rasuulum min ‘indillaaHi mushaddiqul limaa ma’ahum (“Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa [kitab] yang ada pada mereka.”) Mereka semua mengikuti hawa nafsu yang dibacakan oleh para syaitan. Hawa nafsu itu berupa alat-alat musik, permainan dan segala sesuatu yang menjadikan orang lupa berdzikir kepada Allah swt.

Dari Ibnu Abbas, Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, “Ashif adalah juru tulis Nabi Sulaiman, ia mengetahui Ismul a’zham (nama yang paling agung). Dia mencatat segala sesuatu atas perintah Nabi Sulaiman, lalu menguburnya di bawah singgasananya. Setelah Nabi Sulaiman wafat, syaitan-syaitan itu mengeluarkan tulisan-tulisan itu kembali dan mereka menulis sihir dan kekufuran di antara setiap dua barisnya. Kemudian mereka mengatakan: `Inilah kitab pedoman yang diamalkan Sulaiman.’”

Lebih lanjut, Ibnu Abbas menuturkan: Sehingga orang-orang yang bodoh mengingkari Nabi Sulaiman as. dan mencacinya, sedang para ulama diam, sehingga orang-orang bodoh itu masih terus mencaci Sulaiman hingga Allah menurunkan ayat kepada Nabi Muhammad saw: wat taba’uu maa tatlusy-syayaathiinu ‘alaa mulki sulaimaana wa maa kafara sulaimaanu wa laa kinnasy-syayaathiina kafaruu (“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman [dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir] padahal Sulaiman tidaklah kafir [tidak mengerjakan sihir]. Hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir [mengerjakan sihir].”)

Dan firman Allah swt.: wat taba’uu maa tatlusy-syayaathiinu ‘alaa mulki sulaimaana (“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman.”) Artinya, setelah orang-orang Yahudi itu menolak kitab Allah yang berada di tangan mereka serta menyelisihi Rasulullah, Muhammad saw., mereka mengikuti yang dibacakan oleh syaitan-syaitan. Yaitu apa yang diceritakan, diberitahukan dan dibacakan oleh syaithan pada masa kerajaan Nabi Sulaiman. Digunakannya karena kata “’alaa” [pada] dalam ayat tersebut karena “tatluu” [dibacakan] pada ayat ini mengandung makna (dibacakan secara) dusta.”

Ibnu Jarir mengatakan, “’alaa” [pada] dalam ayat tersebut bermakna “fii” [di dalam] maksudnya, dibacakan di masa kerajaan Sulaiman. Dia menukil pendapat itu dari Ibnu Juraij dan Ibnu Ishak. Mengenai masalah itu, penulis (Ibnu Katsir), katakana: “at-tadlammunu” (pencakupan) dalam hal ini adalah lebih baik dan lebih utama. Wallahu a’lam.

Sedangkan mengenai ungkapan al-Hasan al-Bashri bahwa sihir itu telah ada sebelum zaman Nabi Sulaiman bin Daud merupakan suatu hal yang benar dan tidak lagi diragukan, karena para tukang sihir itu sudah ada pada zaman Musa as, dan Nabi Sulaiman bin Daud itu setelah Nabi Musa. Sebagaimana yang difirmankan Allah swt. engkau tidak memperhatikan pemuka-pemuka Barii Israil setelah Nabi Musa.”

Alam tara ilal mala-i mim banii israa-iila mim ba’di muusaa (“Apakah engkau tidak memperhatikan pemuka-pemuka bani Israil setelah Nabi Musa.”) (QS. Al-Baqarah: 246)
Kemudian Allah swt. mengisahkan sebuah kisah, sesudah ayat di atas yang di dalamnya disebutkan: wa qatala daawuudu jaaluuta wa aataaHullaaHul mulka wal hikmaH (“Dan Daud [dalam peperangan itu] membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya [Daud] pemerintahan dan hikmah.”) (al-Baqarah: 251) dan kaum Nabi Shalih yang hidup sebelum Nabi Ibrahim as. mengatakan kepada Nabi mereka: innamaa anta minal musah hariin (“Sesungguhnya engkau adalah salah satu dari orang-orang yang kena sihir”) (asy-Syu’ara: 153) menurut pendapat yang masyhur “al musahhariin” adalah bermakna “al mas-huuriinu” (yang terkena sihir)

Adapun firman Allah: wa maa unzila ‘alaal malakaini bibaabiila Haaruuta wa maaruuta wa maa yu’allimaani min ahadin hattaa yaquulaa innamaa nahnu fitnatun falaa takfur. Fa yata’allamuuna minHumaa maa yufarriquuna biHii bainal mar-i wa zaujiHi (“dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan [sesuatu] kepada seorang pun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan [bagimu], sebab itu janganlah kamu kafir.’ Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang [suami] dengan istrinya.”)

Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai ayat ini. Ada yang berpendapat bahwa kata “maa” dalam ayat ini berkedudukan sebagai “naafiyatan” (yang meniadakan) yaitu dalam kata “wa maa unzila ‘alaa malakaini”

Al-Qurthubi mengatakan, kata “maa” itu adala “maa naafiyatun” (kata maa yang berfungsi meniadakan) sekaligus “maa ma’thuuf” (berfungsi sebagai kata sambung) untuk firman Allah sebelumnya, yaitu “wa maa kafara sulaimaanu”.

Setelah itu Allah berfirman: wa laakinnasy-syayaathiina kafaruu yu’allimuunan naasas sihra wamaa unzila ‘alaal malakaini (“Tetapi setan-setan itulah yang kafir [mengerjakan sihir]. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat.”) yang demikian itu karena orang-orang Yahudi beranggapan bahwa sihir itu diturunkan oleh Jibril dan Mikail. Kemudian Allah mendustakan mereka, sedangkan firman-Nya: Haaruuta wa maaruuta; merupakan “badlan” (pengganti) dari “asy-syayaathiin” (setan-setan)

Menurut al-Qurthubi, penafsiran demikian itu benar, karena jamak itu bisa berarti dua, seperti dalam firman Allah: fa in kaana laHuu ikhwatun (“Jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara”) (an-Nisaa’: 11) maupun karena keduanya [Haarut dan Maarut] mempunyai pengikut, atau keduanya disebut dalam ayat tersebut, karena pembangkangan mereka. menurut al-Qurthubi perkiraan ungkapan ayat itu berbunyi: yu’allimuunan naasas sihra bi baabila Haaruuta wa maaruuta (“syaitan-syaitan itu mengajarkan sihir kepada manusia di Babil, yaitu Harut dan Marut”). Lebih lanjut al-Qurthubi berpendapat bahwa penafsiran ini adalah yang terbaik dan paling tepat. Dan untuk itu beliau tidak memilih penafsiran yang lain.

Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya melalui al-‘Aufi, dari Ibnu Abbas, mengenai firman Allah: wa maa unzila ‘alaa malakaini bi baabiil; (“Dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil,”) ia menuturkan: “Allah tidak menurunkan sihir”.

Masih mengenai ayat yang sama, wa maa unzila ‘alaa malakaini bi baabiil; (“Dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil,”) dengan sanadnya dari ar-Rabi’ bin Anas, Ibnu Abbas mengatakan, “Allah tidak menurunkan sihir kepada keduanya.”

Ibnu Jarir mengemukakan: “Dengan demikian ta’wil (penafsiran) ayat ini sebagai berikut: wattaba’uu maa tatlusy-syayaathiinu ‘alaa mulki sulaimaan (“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Nabi Sulaiman,”) yaitu berupa sihir. Nabi Sulaiman tidak kafir, dan Allah tidak menurunkan sihir kepada kedua malaikat tersebut, tetapi syaitan-syaitan itu yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut. Dengan demikian kalimat, “Di negeri Babil, yaitu Kepada Harut dan Marut” merupakan ayat yang maknanya didahulukan dan lafazhnya (redaksinya) diakhirkan.

Lebih lanjut Ibnu Jarir mengatakan, jika ada seseorang yang menanyakan kepada kami, “Apa alasan pendahuluan makna tersebut?” Maka alasan pendahuluan itu ialah: wattaba’uu maa tatlusy-syayaathiinu ‘alaa mulki sulaimaan (“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Nabi Sulaiman,”) yaitu berupa sihir. Nabi Sulaiman tidak kafir, dan Allah tidak menurunkan sihir kepada dua malaikat tersebut, tetapi syaitan-syaitan itu yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut.

Dengan demikian, makna malaikat itu adalah Jibril dan Mikail, karena para penyihir dari kalangan orang-orang Yahudi menganggap bahwa Allah telah menurunkan sihir melalui lisan Jibril dan Mikail kepada Nabi Sulaiman bin Daud. Maka Allah swt. pun mendustakan mereka dalam hal itu, dan Dia memberitahukan kepada Nabi Muhammad bahwa Jibril dan Mikail tidak pernah turun dengan membawa sihir, sedang Nabi Sulaiman sendiri terbebas dari sihir yang mereka tuduhkan. Bahkan Dia memberitahu mereka bahwa sihir merupakan perbuatan syaitan,dan syaitan-syaitan itu mengajarkan sihir di negeri Babil.

Dan juga memberitahukan bahwa di antara yang diajari sihir oleh syaitan adalah dua orang yang bernama Harut dan Marut. Maka Harut dan Marut merupakan terjemahan dari kata “manusia” dalam ayat ini, sekaligus sebagai bantahan atas mereka (orang-orang Yahudi). Demikianlah nukilan dari Ibnu Jarir berdasarkan lafadz darinya.

Mayoritas ulama salaf berbendapat bahwa kedua malaikat tersebut berasal dari langit dan diturunkan ke bumi dan terjadilah apa yang terjadi pada mereka berdua.

Mengenai kisah Harut dan Marut ini, telah dikisahkan dari sejumlah tabi’in, misalnya Mujahid, as-Suddi, Hasan al-Bashri, Qatadah, Abul `Aliyah, az-Zuhri, ar-Rabi’ bin Anas, Muqatil bin Hayyan, dan lain-lainnya. Dan dikisahkan pula oleh beberapa orang mufassir mutaqaddimin (ahli tafsir terdahulu) maupun muta akhirin (yang belakangan). Dan hasilnya merujuk kembali kepada beberapa berita mengenai Bani Israil, karena mengenai hal itu tidak ada hadits shahih marfu’ yang memiliki sanad, sampai kepada Rasulullah yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya. Dan siyaq (redaksi) al-Qur’an menyampaikan kisah itu secara global, tidak secara rinci. Dan kami jelas lebih percaya kepada apa yang disampaikan al-Qur’an, seperti yang dikehendaki Allah swt, dan Dia Mahamengetahui hakikat kejadian yang sebenarnya.

Firman Allah; wa maa yu’allimaani min ahadin hattaa yaquulaa innamaa nahnu fitnatun falaa takfur (“Sedang keduanya tidak mengajarkan [sesuatu] kepada seorang pun sebelum mengatakan: `Sesungguhnya kami hanya cobaan [bagimu], karena itu janganlah engkau kafir.”‘)

Dari Ibnu Abbas, Abu Ja’far ar-Razi meriwayatkan, “Jika ada seseorang yang mendatangi keduanya karena menghendaki sihir, maka dengan tegas keduanya melarang peminat sihir tersebut seraya berkata, `Sesungguhnya kami ini hanya cobaan bagimu, karena itu janganlah engkau kafir.’ Yang demikian itu karena keduanya mengetahui kebaikan, keburukan, kekufuran, dan keimanan, sehingga mereka berdua mengetahui bahwa sihir merupakan suatu bentuk kekufuran.

Sedangkan “alfitnatu” berarti cobaan dan ujian. Demikian juga firman-Nya yang menceritakan mengenai Nabi Musa as, di mana Allah Ta’ala berfirman: in Hiya illaa fitnatuka (“Hal itu hanyalah cobaan dari-Mu”)(al-A’raaf: 155)

Sebagian ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil untuk mengkafirkan orang yang mempelajari sihir, dan memperkuatnya dengan hadits yang diriwayatkan oleh al-Hafidz Abu Bakar al-Bazzar, dari Abdullah, ia berkata: “Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang sihir, lalu ia mempercayainya, berarti ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad (Isnad hadits ini shahih dan memiliki beberapa syahid lain.)

Dan firman Allah swt: wa yata’allamuuna minHumaa maa yufarriquuna biHii bainal mar-i wa zaujiHi (“Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seseorang [suami] dengan istrinya.”) Artinya, orang-orang pun mempelajari ilmu sihir dari Harut dan Marut, yang mereka gunakan untuk hal-hal yang sangat tercela, seperti membuat terjadinya perceraian antara pasangan suami istri, padahal tadinya mereka akur dan harmonis dan ini termasuk perbuatan syaitan.

Sebagaimana yang dijelaskan sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim, dari Jabir bin Abdullah dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya setan itu meletakkan singgasananya di atas air, kemudian ia mengirim utusannya kepada manusia, maka pasukan yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar godaannya kepada manusia. Seorang anggota pasukan datang seraya melaporkan, ‘Aku terus menggoda si fulan sebelum aku meninggalkannya dalam ia mengatakan ini dan itu.’ Lalu iblis berkata, ‘Demi Allah, engkau tidak melakukan apapun kepadanya.’ Setelah itu datang anggota lain yang melapor, ‘Aku tidak meninggalkannya sehingga aku memisahkannya dari istrinya.’ Maka sang iblis mendekatinya dan senantiasa menyertainya serta berkata, ‘Ya, engkaulah yang paling dekat kedudukannya denganku.’” (HR Muslim)

Penyebab perceraian antara suami dan istri yang dilakukan melalui sihir adalah dengan menjadikan suami atau istri melihat pasangannya buruk, tidak bermoral, menyebalkan, dan sebab-sebab lainnya yang menyebabkan perceraian.

“al mar-u” artinya “arrajulu” [laki-laki] sedang untuk perempuan dikatakan “im-ratun”, masing-masing mempunyai bentuk dua, tapi tidak memiliki bentuk jamak [plural].

Firman-Nya: wa maa Hum bidlaarriina biHii min ahadin illaa bi-idznillaaHi (“Dan mereka itu [ahli sihir] tidak memberi mudlarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah.”) Hasan al-Bashri mengatakan, “Benar, bahwa jika Allah kehendaki maka Allah kuasakan [orang yang akan mereka sihir] kepadanya [tukang sihir]. Dan jika Allah tidak kehendaki, maka Allah tidak biarkan hal itu dan mereka tidak mampu menyihir kecuali atas izin Allah, sebagaimana firman-Nya tersebut. Dan dalam sebuah riwayat dari Hasan al-Bashri disebutkan bahwa ia mengatakan, “Sihir itu tidak dapat memberikan mudlarat kecuali bagi orang yang masuk ke dalamnya (mempelajari).”

Dan firman Allah: wa yata’allamuuna maa yadlurruHum walaa yanfa’uHum (“Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudlarat kepadanya dan tidak memberi manfaat”) maksudnya perbuatan itu dapat membahayakan agamanya dan manfaatnya tidak sepadan dengan mudlaratnya.

Dia berfirman: wa laqad ‘alimuu la manisytaraaHu maa laHuu fil aakhirati min khalaaq (“Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya [kitab Allah] dengan sihir itu, tiadalah baginya keberuntungan di akhirat.”) Artinya, orang-orang Yahudi sudah mengetahui bahwa orang yang menukar kepatuhan kepada Rasulullah dengan sihir tidak akan mendapat bagian di akhirat.

Sedangkan Ibnu Abbas, Mujahid, dan as-Suddi mengemukakan (bahwa makna “min khalaaq” adalah), “min nashiib” dari [mendapat] bagian.”

Dan firman-Nya: wa labi’sa maa syarau biHii anfusaHum lau kaanuu ya’lamuuna wa lau annaHum aamanuu wat taqau lamatsuubatum min ‘indillaaHi khairul lau kaanuu ya’lamuun (“Dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. Sesungguhnya seandainya mereka beriman dan bertakwa, [niscaya mereka akan mendapat pahala], dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.”)

Allah berfiman: wa labi’sa (“Dan amat jahatlah”) tindakan mereka mengganti keimanan dan kepatuhan kepada Nabi dengan sihir. Seandainya mereka memahami nasihat yang diberikan kepada mereka; wa lau annaHum aamanuu wat taqau lamatsuubatum min ‘indillaaHi khair (“Seandainya mereka beriman dan bertakwa, [niscaya mereka akan mendapat pahala], dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik.”) Maksudnya, seandainya mereka beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, maka pahala Allah atas hal itu lebih baik bagi mereka daripada apa yang mereka pilih dan mereka ridhai.

Firman-Nya: lau annaHum aamanuu wat taqau (“Seandainya mereka beriman dan bertakwa,”) dijadikan dalil oleh orang yang berpendapat bahwa tukang sihir itu kafir. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal dan beberapa ulama salaf. Ada yang mengatakan, bahwa tukang sihir itu tidak tergolong kafir, tapi hukumannya adalah dipenggal lehernya. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal, keduanya menceritakan, Sufyan bin Uyainah pernah memberitahu kami, dari Amr bin Dinar, bahwa ia pernah mendengar Bajalah bin Abdah menceritakan: “Umar bin al-Khaththab pernah mengirimkan surat kepada para gubernur agar menghukum mati setiap tukang sihir, laki-laki maupun perempuan.” Lebih lanjut ia menuturkan, “Maka kami pun menghukum mati tiga orang tukang sihir.”
Imam Bukhari juga meriwayatkannya dalam kitab Shahihnya.

Dan Shahih pula riwayat yang menyebutkan bahwa Hafshah, Ummul Mukminin pernah disihir oleh budak wanitanya. Kemudian ia memerintahkan agar budak itu dihukum mati. Maka budak wanita itupun dibunuh.

Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan: “Dibenarkan dari tiga orang sahabat Nabi, mengenai membunuh tukang sihir.”

Penjelasan

Dan dalam tafsirnya, Abu Abdullah ar-Razi mengisahkan bahwa kaum Mu’tazilah mengingkari adanya sihir. Bahkan mungkin mereka mengkafirkan orang yang meyakini keberadaannya. Sedangkan Ahlus Sunnah mengakui kemungkinan seorang tukang sihir terbang ke udara atau merubah manusia menjadi keledai dan keledai menjadi manusia. Namun dalam hal itu mereka berpendapat bahwa Allah swt. menciptakan dan menetapkan sesuatu ketika tukang sihir itu membaca mantra atau bacaan-bacaan tertentu. Adapun apabila hal itu dipengaruhi oleh benda angkasa dan bintang-bintang, maka hal itu keliru. Dan itu jelas berbeda dengan pendangan para filosuf, ahli nujum, dan kaum Shabi’ah.

Mengenai kemungkinan terjadinya sihir tersebut dan bahwa hal itu adalah ciptaan Allah, ahlus sunnah wal jama’ah berargumentasi dengan dalil: wa maa Hum bidlaarriina biHii min ahadin illaa bi idznillaaHi (“Dan mereka itu [ahli sihir] tidak memberi madharat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah.”) Juga berdasarkan pada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah pernah disihir.

Lebih lanjut Abdullah ar-Razi menuturkan bahwa sihir itu ada delapan:

Pertama, sihir para pendusta, dan kaum Kusydani yang terdiri dari penyembah bintang yang tujuh yang dapat berpindah-pindah, yaitu planet. Mereka ini berkeyakinan bahwa planet-planet itulah yang mengatur alam ini dan yang mendatangkan kebaikan dan keburukan. Kepada mereka itulah Allah mengutus Nabi Ibrahim as. untuk membatalkan sekaligus menentang pendapat mereka itu.

Kedua, sihir orang-orang yang penuh hayalan (imajinasi) dan memiliki jiwa yang kuat. Mereka menyatakan bahwa hayalan itu memiliki pengaruh dengan argumen bahwa manusia ini dimungkinkan untuk berjalan di atas jembatan yang diletakkan di atas tanah, tetapi tidak mungkin berjalan di atasnya jika jembatan itu diletakkan di atas sungai atau yang semisalnya. Sebagaimana para dokter sepakat melarang orang yang hidungnya berdarah agar tidak melihat kepada segala sesuatu yang berwarna merah, dan orang yang menderita epilepsy tidak boleh melihat hal-hal yang mempunyai sinar atau putaran yang kuat. Yang demikian itu tidak lain karena jiwa itu diciptakan untuk menaati imajinasi. Menurut mereka ini, para ilmuwan telah sepakat bahwa adanya orang yang terkena (musibah disebabkan pandangan) mata adalah sebuah kenyataan.

(Ibnu Katsir) berkata: Dia (ar-Razi) menjadikan sebagai dasar pendapatnya itu dengan apa yang ditegaskan dalam hadits shahih, bahwa Rasulullah bersabda: “Terkena `ain (pandangan mata) adalah benar adanya, seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, maka pastilah ‘ain itu mendahuluinya.”

Ketiga, sihir yang menggunakan bantuan arwab ardhiyyah (arwah bumi), yaitu para jin. Hal itu berbeda dengan pandangan para filosuf dan mu’tazilah. Jin itu terbagi menjadi dua bagian: Jin mukmin dan jin kafir, jin kafir itu adalah syaitan. Hubungan jiwa manusia dengan para arwah bumi lebih mudah dibanding hubungan mereka dengan arwah langit, karena keduanya mempunyai kesesuaian dan kedekatan. Mereka yang melakukan percobaan dan pengalaman menyatakan bahwa hubungan dengan para arwah bumi ini dapat ditempuh dengan perbuatan-perbuatan yang cukup mudah, berupa mantra, kemenyan, dan pengasingan diri. Inilah yang disebut dengan ‘azaim (jampi-jampi) dan amalut taskhir (tindakan menundukkan jin).

Keempat, sihir dengan tipuan dan sulap mata. Dasarnya adalah bahwa pandangan mata itu bisa dikecohkan karena terfokus pada objek tertentu tanpa memperhatikan yang lainnya. Tidakkah anda melihat orang yang pintar bermain sulap mata memperlihatkan kelihaian menarik perhatian para penonton, hingga apabila mereka asyik memperhatikan hal itu dengan serius, maka ia melakukan hal lain dengan sangat cepat. Dan ketika itu ia memperlihatkan kepada para penonton sesuatu yang tidak ditunggu dan diduga, sehingga mereka pun sangat heran.

Kelima, sihir yang menakjubkan yang timbul dari penyusunan alat-alat yang tersusun berdasarkan susunan geometri yang berkesuaian. Misalnya, penunggang kuda yang berdiri di atas kuda yang di tangannya terdapat terompet, setiap satu jam, terompet itu berbunyi tanpa ada yang menyentuhnya.

Keenam, sihir yang menggunakan bantuan obat-obatan khusus, baik yang berupa obat yang diminum maupun yang dioleskan. Dan ketahuilah bahwasanya tiada jalan untuk mengingkari adanya pengaruh benda-benda khusus tersebut karena terbukti kita dapat menyaksikan adanya pengaruh daya tarik magnit.

Ketujuh, sihir yang berupa penundukan hati. Di mana seorang penyihir mengaku bahwa ia mengetahui Ismul A’zham (nama yang paling agung). Ia juga mengaku bahwa semua jin tunduk dan patuh kepadanya, dalam banyak urusan. Jika orang yang mendengar pengakuan /pemyataan penyihir seperti itu memiliki otak yang lemah dan daya pembeda yang minim, maka ia akan meyakini bahwa pernyataan seperti itu benar. Kemudian hatinya pun tergantung padanya, selanjutnya muncul rasa takut. Dan jika rasa takut sudah muncul, maka semua kekuatan inderawi menjadi lemah, dan pada saat itu si tukang sihir dapat berbuat sekehendak hatinya.

Kedelapan, sihir berupa usaha mengadu domba dengan cara tersembunyi dan lembut. Dan hal ini sudah tersebar luas di tengah-tengah masyarakat. Kemudian ar-Razi mengemukakan: “Demikianlah uraian mengenai macam-macam sihir dan jenis-jenisnya.”

Penulis (Ibnu Katsir) berkata: “Dimasukkannya macam-macam sihir ini ke dalam Ilmu sihir karena kelembutan jangkauannya, sebab menurut bahasa, sihir merupakan ungkapan dari sesuatu yang sebabnya sangat lembut dan tersembunyi”.

Abu Abdillah al-Qurthubi mengatakan: “Menurut kami (Ahlus Sunnah), sihir itu memang ada dan memiliki hakikat, Allah menciptakan apa saja yang dikehendaki-Nya. Hal itu berbeda dengan paham Mu’tazilah dan Abu Ishak Asfarayini, seorang ulama penganut madzhab Syafi’i, di mana mereka mengatakan bahwa sihir itu adalah kepalsuan dan ilusi belaka.” Dia (al-Qurthubi) berkata: “Di antara sihir itu ada yang berupa kelihaian dan kecepatan tangan, misalnya tukang sulap”.

Al-Qurthubi mengemukakan, “Di antara sihir ada yang menggunakan ucapan-ucapan yang dihafal dan mantra mantra yang terdiri dari nama-nama Allah Ta’ala. Ada juga yang berupa perjanjian dengan syaitan, dan ada pula yang menggunakan ramuan, dupa dan lain sebagainya.”

Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya di antara bayan itu adalah sihir.” (HR. Abu Daud dengan sanad shahih.)

Hal itu bisa jadi sebagai pujian, sebagaimana yang dikemukakan oleh suatu kelompok. Dan mungkin juga merupakan suatu celaan terhadap balaghah, dan ini, menurut al-Qurthubi yang lebih tepat, karena balaghah itu membenarkan yang batil sebagaimana disabdakan Rasulullah dalam sebuah hadits: “Mungkin sebagian di antara kalian lebih pandai membuat hujjahnya daripada sebagian lainnya, lalu aku mengambil keputusan yang menguntungkannya.”
(HR. Khamsah, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam at-Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, dan Imam an-Nasa’i.)

Dalam bukunya yang berjudul “Madzhab-madzhab yang Mulia”, al-Wazir Abul Mudzafar Yahya bin Muhammad bin Hubairah rahimahullahu telah membahas suatu bab khusus mengenai sihir. Ia mengemukakan, para ulama telah sepakat bahwa sihir itu mempunyai hakikat (berpengaruh), kecuali Abu Hanifah, yang mengatakan: “Sihir itu sama sekali tidak mamiliki hakikat.”

Para ulama, lanjut Ibnu Hubairah, berbeda pendapat mengenai orang yang mempelajari dan mengamalkannya. Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Ahmad mengemukakan, “Orang yang mempelajari dan mengamalkannya dapat dikategorikan kafir.” Di antara sahabat Abu Hanifah ada juga yang berpendapat bahwa orang yang mempelajari sihir dengan tujuan untuk menjauhi dan menghindarinya, tidak dapat dianggap kafir. Sedangkan orang yang mempelajarinya dengan keyakinan bahwa hal itu dibolehkan dan dapat memberi manfaat baginya, maka ia sudah termasuk kafir. Demikian halnya orang yang berkeyakinan bahwa syaitan-syaitan itu dapat berbuat sekehendak hatinya dalam sihir itu, maka ia juga dapat dikategorikan kafir.

Imam Syafi’i rahimahullahu mengatakan, “Jika ada seseorang yang mempelajari sihir, maka kami akan katakan kepadanya, ‘Terangkan kepada kami sihir yang engkau maksud.’ Jika ia menyebutkan hal-hal yang mengarah pada kekufuran, seperti misalnya apa yang diyakini oleh penduduk negeri Babil, yaitu berupa pendekatan diri pada bintang yang tujuh dan keyakinan bahwa bintang-bintang itu dapat melakukan apa yang diminta kepadanya, maka ia termasuk kafir. Dan jika apa yang dia sebutkan tidak mengarah kepada kekufuran, tapi jika ia menyakini bahwa sihir itu dibolehkan, maka ia juga termasuk kafir.”

Lebih lanjut Ibnu Hubairah mempertanyakan, “Apakah dengan sekedar pengamalan dan penerapan sihir, seorang tukang sihir harus dihukum mati?” Mengenai hal ini, Imam Malik dan Imam Ahmad berpendapat, (bahwa tukang sihir itu harus dihukum mati) pent. Sedangkan Imam Syafi’i dan Abu Hanifah berpendapat lain, “Tidak,” (tidak harus dihukum mati) pent. Tetapi jika dengan sihirnya seorang tukang sihir membunuh seseorang, maka ia harus dihukum mati. Demikian menurut Imam Malik, Syafi’i, dan Ahmad. Abu Hanifah mengemukakan, “Si tukang sihir itu tidak harus dihukum mati kecuali jika ia telah melakukannya berulang-ulang atau mengakui telah melakukan sihir pada orang tertentu.” Menurut keempat imam tersebut di atas kecuali Imam Syafi’i, jika ia dibunuh, maka pembunuhan itu dimaksudkan sebagai hukuman baginya. Sedangkan Imam Syafi’i berpendapat, bahwa ia dibunuh sebagai qishash.

Kemudian Ibnu Hubairah mempertanyakan juga, “Jika seorang tukang sihir bertaubat apakah diterima taubatnya?” Menurut Imam Malik, Abu Hanifah, dan Ahmad: Taubatnya tidak dapat diterima.” Sedangkan Imam Syafi’i dan Ahmad pada riwayat yang lain menyatakan bahwa, “Taubatnya diterima.” Menurut Abu Hanifah, “Tukang sihir dari ahlul kitab harus dibunuh sebagaimana tukang sihir muslim.” Sedangkan menurut Imam Malik, Imam Ahmad, dan Imam Syafi’i, “Tukang sihir dari Ahlul Kitab tidak dibunuh.” Hal itu didasarkan pada kisah Labid bin al-A’sham.

Lebih lanjut para ulama berbeda pendapat mengenai wanita muslimah yang menjadi tukang sihir. Menurut Imam Abu Hanifah, “Wanita penyihir itu tidak dibunuh, tetapi hanya dipenjara. Sedangkan menurut Imam Malik, Imam Ahmad, dan Imam Syafi’i, “Hukum yang diterima tukang sihir wanita itu sama dengan hukuman yang diberlakukan bagi tukang sihir laki-laki.” Wallahu a’lam.

Abu Bakar al-Khallal meriwayatkan dari az-Zuhri, bahwa ia mengatakan: “Tukang sihir dari kalangan orang muslim harus dibunuh, sedangkan penyihir dari kalangan orang musyrik tidak dibunuh, karena Rasulullah saw. pernah disihir oleh seorang wanita Yahudi, tetapi beliau tidak membunuhnya.”

Al-Qurthubi pernah menukil dari Malik rahimahullahu, ia mengatakan, “Tukang sihir dari orang kafir dzimmi harus dibunuh jika sihirnya itu membunuh orang.”

Ibnu Khuwaiz Mindad meriwayatkan dua pendapat dari Imam Malik mengenai orang kafir dzimmi yang melakukan sihir. Pertama, “Ia diminta bertaubat. Jika ia mau bertaubat dan masuk Islam, maka ia tidak dibunuh, dan jika tidak maka ia dibunuh.” Kedua, “Ia harus dibunuh meskipun sudah bertaubat dan masuk Islam.”

Sedangkan mengenai tukang sihir Muslim, jika sihirnya itu mengandung kekufuran, maka menurut empat imam dan juga ulama lainnya orang itu termasuk kafir. Hal itu didasarkan pada firman Allah Ta’ala yang artinya: “Sedang keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seorang pun sebelum mengatakan, ‘Sesunggguhnya kami hanya cobaan (hagimu), karena itu janganlah engkau kafir.” (QS. Al-Baqarah: 102)

Akan tetapi Imam Malik berkata: “Jika sihir itu tampak padanya, tidak diterima taubatnya karena dia seperti seorang zindiq (kafir). Apabila dia bertaubat sebelum tampak sihir itu padanya dan datang kepada kami dengan bertaubat, kami menerimanya. Dan jika sihirnya membunuh, maka di dibunuh.”

Imam Syafi’i mengatakan, “Jika tukang sihir itu mengatakan, ‘Aku tidak sengaja membunuhnya,’ maka ia termasuk pembunuh yang tidak sengaja dan diharuskan baginya membayar diyah.”

Hal yang paling ampuh untuk mengusir sihir adalah apa yang telah diturunkan Allah kepada Rasul-Nya saw, yaitu mu’awwidzatain (yaitu an-Naas dan al-Falaq). Dalam sebuah hadits disebutkan: “Orang yang berlindung tidak berlindung sekokoh berlindung dengannya (an-Naas dan al-Falaq).”

Demikian juga bacaan ayat Kursi, karena bacaan itu dapat mengusir syaitan.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 97-98

23 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 97-98“Katakanlah: ‘Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkan (al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.’ (QS. Al-Baqarah: 97) Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 98)

Imam Abu Ja’far bin Jarir ath-Thabari rahimahullahu mengatakan, para ulama tafsir telah sepakat bahwa ayat ini turun sebagai jawaban terhadap pernyataan orang-orang Yahudi dari kalangan Bani Israil, yang mengaku bahwa Jibril adalah musuh mereka, sedangkan Mikail sebagai penolong mereka. Sebagian ulama mengemukakan, pengakuan mereka itu berkenaan dengan perdebatan yang terjadi antara mereka dengan Rasulullah saw. mengenai masalah kenabian beliau.

Abu Kuraib memberitahu kami, dari Yunus bin Bukair, dari Ibnu Abbas, ia menceritakan, ada sekelompok orang Yahudi mendatangi Rasulullah, lalu mereka berkata, “Wahai Abu Qasim, beritahukanlah kepada kami perkara yang kami tanyakan kepadamu, yang tidak diketahui kecuali oleh seorang Nabi.”

Lalu Rasulullah saw. berujar, “Tanyakanlah segala hal yang kalian kehendaki, tetapi berjanjilah kepadaku sebagaimana Ya’qub telah mengambil janji dari anak-anaknya. Jika aku memberitahukan kepada kalian dan kalian mengetahui bahwa itu benar, maka kalian harus mengikutiku memeluk Islam.” “Janji itu milikmu,” sahut mereka. Kemudian Rasulullah bersabda, “Tanyakanlah apa yang kalian kehendaki.”

Maka mereka pun berkata, “Beritahukan kepada kami empat hal yang kami tanyakan kepadamu: Makanan apa yang diharamkan oleh Israil, atas dirinya sendiri sebelum diturunkannya kitab Taurat? Beritahukan bagaimana air mani laki-laki dan air mani perempuan, dan bagaimana mani itu bisa menjadi anak laki-laki dan perempuan? Beritahukan juga kepada kami mengenai nabi yang ummi ini yang terdapat dalam kitab Taurat, dan siapakah malaikat yang jadi penolongnya?”

Nabi saw. bersabda, “Hendaklah kalian berpegang teguh kepada janji Allah jika aku memberitahukan kepada kalian, maka kalian harus mengikuti aku.” Kemudian mereka pun memberikan ikrar dan janjinya kepada beliau. Lebih lanjut beliau bersabda: “Aku bersumpah demi Allah yang menurunkan Taurat kepada Musa as. apakah kalian mengetahui bahwa Israil Ya’qub pernah menderita sakit parah, dan sakitnya itu menahun. Pada saat itu ia bernadzar jika Allah telah menyembuhkan dirinya dari penyakit yang dideritanya itu, ia akan mengharamkan makanan dan minuman yang paling ia sukai untuk dirinya sendiri. Dan makanan yang paling ia sukai adalah daging unta, sedangkan minuman yang paling ia sukai adalah susu unta.”

Mereka berujar, “Ya Allah, benar.” Lalu Rasulullah saw. berujar, “Ya Allah, saksikanlah mereka.”

Selanjutnya beliau bersabda, “Aku bersumpah demi Allah yang tiada ilah selain Dia yang menurunkan Taurat kepada Musa as. tidakkah kalian mengetahui bahwa air mani laki-laki itu pekat berwarna putih, sedangkan air mani wanita itu encer berwarna kekuningan, mana dari keduanya yang mendominasi maka baginya anak dan kemiripan dengan izin Allah. Jika sperma laki-laki lebih mendominasi daripada ovum perempuan, maka dengan izin Allah ia akan lahir laki-laki. Dan jika ovum perempuan lebih mendominasi, maka akan lahir anak perempuan dengan izin Allah.”
“Benar.” Jawab mereka.
Lalu beliau bersabda, “Ya Allah saksikanlah mereka. Dan aku bersumpah atas nama Allah yang telah menurunkan Taurat kepada Musa as., apakah kalian mengetahui bahwa nabi yang ummi itu tidur dengan memejamkan mata sedang hatinya tidak tidur.”
Mereka pun berujar, “Benar.”
Selanjutnya beliau berujar, “Ya Allah saksikanlah mereka.”
Setelah itu mereka berkata, “Sekarang beritahukanlah kepada kami, siapakah malaikat yang menjadi penolongmu. Hal ini yang akan menentukan apakah kami akan mengikutimu atau berpisah darimu.”
Maka Rasulullah saw. bersabda, “Penolongku adalah malaikat Jibril, dan Allah tidak akan mengutus seorang nabi pun melainkan ia menjadi penolongnya.”
Mereka menyahut, “Inilah yang menjadikan kami berpisah darimu. Jika penolongmu selain malaikat Jibril, niscaya kami akan mengikuti dan membenarkanmu.”

Kemudian beliau pun bertanya: “Apa yang menyebabkan kalian tidak mau mempercayainya?” Mereka pun menjawab: “Karena ia adalah musuh kami.”

Pada saat itu Allah menurunkan ayat: qul man kaana ‘aduwwal lijibriila fa innaHuu nazzalaHuu ‘alaa qalbika bi idz-nillaaHi mushaddiqal limaa baina yadaiHi …..lau kaanuu ya’lamuun (“Katakanlah: ‘Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya [al-Qur’an] ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa [kitab-kitab] yang sebelumnya -sampai firman-Nya- kalau mereka mengetahui.”) Pada saat itulah mereka mendapatkan murka di atas murka.

Hadits ini diriwayatkan Imam Ahmad dalam musnadnya.

Mujahid mengemukakan, orang-orang Yahudi mengatakan: “Wahai Muhammad, Jibril itu tidak turun melainkan dengan kekerasan, peperangan, dan pernbunuhan dan ia (Jibril) adalah musuh kami.” Maka turunlah ayat: qul man kaana ‘aduwwal lijibriila (“Katakanlah: ‘Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril”)

Mengenai firman-Nya: qul man kaana ‘aduwwal lijibriila (“Katakanlah: ‘Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril”) Imam B.ukhari meriwayatkan bahwa Ikrimah mengatakan: Jibril, Mikail, dan Israfil adalah hamba (Allah) (dalam bahasa Ibrani).

Abdullah bin Munir memberitahu kami, dari Anas bin Malik, ia menceritakan, Abdullah bin Salam pernah mendengar kedatangan Rasulullah saw. ketika itu ia sedang berada di tanah yang tandus. Kemudian Nabi datang dan ia pun berkata, “Aku akan menanyakan kepadamu tentang tiga hal yang tidak diketahui kecuali oleh seorang nabi: Apa yang pertama menjadi tanda kiamat, apa makanan penghuni surga yang pertama kali, dan apa yang menyebabkan seorang anak cenderung menyerupai bapak atau ibunya?”
Beliau bersabda, “Jibril telah memberitahuku mengenai hal itu tadi.”
“Jibril?” tanyanya.
Beliau menjawab, “Ya. Ia adalah malaikat yang menjadi musuh orang-orang Yahudi.”
Kemudian beliau membaca ayat ini: qul man kaana ‘aduwwal lijibriila fa innaHuu nazzalaHuu ‘alaa qalbika (“Katakanlah: ‘Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya [al-Qur’an] ke dalam hatimu..”)

Lebih lanjut beliau menuturkan, “Tanda kiamat yang pertama kali adalah api yang menggiring manusia dari timur ke barat. Sedangkan makanan yang pertama kali dimakan oleh penghuni surga adalah hati ikan paus. Dan jika mani laki-laki mendominasi mani perempuan, maka anaknya akan menyerupainya. Dan jika mani perempuan lebih mendominasi, maka anaknya akan menyerupainya.”

Lalu Abdullah bin Salam mengucapkan, “Aku bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah, dan engkau adalah utusan Allah. Ya Rasulallah, sesungguhnya orang Yahudi itu adalah kaum pendusta. Jika mereka mengetahui keislamanku sebelum engkau menanyai mereka, mereka akan mendustaiku.”

Lalu orang-orang Yahudi datang, maka Rasulullah saw. berkata kepada mereka, “Menurut kalian, orang macam apakah Abdullah bin Salam itu?” mereka menjawab, “Ia adalah orang terbaik di antara kami, putra orang terbaik di antara kami. Pemuka kami dan putra pemuka kammi.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Bagaimana pendapatmu jika ia memeluk Islam?”

Mereka pun berucap, “Semoga Allah melindunginya dari perbuatan itu.” Maka Abdullah bin Salam keluar seraya berkata, “Aku bersaksi bahwasanya tiada ilah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya.” lebih lanjut Abdullah bin Salam berkata, “Inilah yang paling aku khawatirkan ya Rasulallah.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dengan redaksi [lafadz] seperti ini. Ia juga diriwayatkan oleh Anas dengan lafadz yang lain, yang serupa dengannya. Dan di dalam shahih Muslim, dari Tsauban dengan lafadz yang mendekati ini.

Adapun tafsir firman-Nya: qul man kaana ‘aduwwal lijibriila fa innaHuu nazzalaHuu ‘alaa qalbika bi idz-nillaaHi (“Katakanlah: ‘Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya [al-Qur’an] ke dalam hatimu dengan seizin Allah.”) adalah barangsiapa memusuhi Jibril, maka hendaknya ia mengetahui bahwa ia adalah Ruhul Amin yang turun dengan membawa Dzikrul Hakim [al-Qur’an] dari Allah ke dalam hatimu dengan izin-Nya. Ia adalah salah satu dari para Rasul Allah dari golongan malaikat. Dan barangsiapa memusuhi seorang Rasul, berarti ia telah memusuhi semua Rasul. Sebagaimana seorang yang beriman kepada seorang rasul, maka hal itu mengharuskannya untuk beriman kepada semua Rasul, dan sebagaimana seorang yang kufur kepada salah seorang Rasul, berarti ia telah kufur kepada seluruh Rasul. Seperti yang difirmankan Allah:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan Kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)” (an-Nisaa’: 150)

Dengan demikian Allah swt. telah menetapkan bahwa mereka benar-benar sebagai orang kafir, karena mereka beriman kepada sebagian Rasul, dan ingkar kepada sebagian yang lain. Demikian pula halnya orang yang memusuhi Jibril, maka ia adalah musuh Allah, karena Jibril tidak turun dengan membawa perintah atas kemauannya sendiri, tetapi atas perintah Rabb-nya. sebagaimana firman-Nya: wa maa natanazzalu illaa bi amri rabbika (“Dan tidaklah kami turun kecuali dengan perintah Rabb-mu.”) (QS Maryam: 64)

Dan Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya, dari Abu Hurairah ra. ia menceritakan, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa memusuhi waliku, berarti ia menyatakan perang denganku.” (HR Bukhari)

Oleh karena itu Allah swt. murka kepada orang-orang yang memusuhi Jibril dan Dia berfirman: qul man kaana ‘aduwwal lijibriila fa innaHuu nazzalaHuu ‘alaa qalbika bi idz-nillaaHi mushaddiqal limaa baina yadaiHi (“Katakanlah: ‘Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya [al-Qur’an] ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa [kitab-kitab] yang sebelumnya.”) yaitu kitab-kitab yang terdahulu. Wa Hudaw wa busy-raa lil mu’miniin (“Dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”) maksudnya sebagai petunjuk hati mereka dan berita gembira bahwa mereka akan mendapatkan surga. Dan semua itu tidak diberikan kecuali kepada orang-orang yang beriman saja, sebagaimana firman-Nya: qul Huwa lilladziina aamanuu Hudaw wa syifaa-un (“Katakanlah, ia [al-Qur’an] sebagai petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.”)(QS Fushilat: 44)

Selanjutnya Allah berfirman: man kaana ‘aduwwal laaHi wa malaa-ikatiHii wa rusuliHii wa jibriila wa miikaala fa innallaaHa ‘aduwwul lil kaafiriin (“Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh bagi orang-orang yang kafir.”) artinya Allah menyatakan, “Barangsiapa yang memusuhi-Ku, para malaikat dan Rasul-rasul-Ku.” Yang dimaksud dengan rasul-rasul-Nya yaitu mencakup rasul dari para malaikat dan juga dari kalangan manusia.

Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Allah memilih para rasul-Nya dari malaikat dan dari manusia.” (QS al-Hajj: 75)

Wa jibriila wa miikaala (“Jibril dan Mikail”) kalimat itu merupakan “’athaaful khaashi” (penyambung khusus) dari makna khusus ke makna umum. Karena keduanya termasuk malaikat yang dikategorikan dalam cakupan para rasul secara umum. Kemudian keduanya disebut secara khusus, karena siyaq [redaksi] berkenaan pembelaan kepada Jibril yang merupakan duta antara Allah dan para Nabi-Nya. Lalu Allah menyertai penyebutannya dengan Mikail, karena orang Yahudi mengaku bahwa Jibril sebagai musuh sedangkan Mikail sebagai penolong mereka. Maka Allah Ta’ala memberitahukan, barangsiapa memusuhi satu di antara keduanya [Jibril dan Mikail] berarti ia telah memusuhi yang lainnya juga memusuhi Allah.

Dan karena pada beberapa kesempatan kadang malaikat Mikail turun kepada para Nabi Allah, sebagaimana ia bertemu dengan Rasulullah saw. pada permulaan perintah, tetapi Jibril lebih sering karena hal itu merupakan tugasnya. Sedangkan Mikail bertugas mengurusi rizki. Sebagaimana Israfil bertugas meniup sangkakala untuk membangkitkan manusia pada hari kiamat kelak.

Oleh karena itu, di dalam hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah jika bangun malam selalu berdoa: “Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil, pencipta langit dan bumi, yang mengetahui segala hal yang ghaib dan yang nyata, Engkau yang memberikan keputusan di antara hamba-hamba-Mu mengenai apa yang mereka perselisihkan. Tunjukanlah kepadaku kebenaran dari apa yang diperselisihkan itu dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.”

Fa innallaaHa ‘aduwwul lil kaafiriin (“Sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.”) pada ayat tersebut “al-madh-Haru” (hal yang jelas) ditempatkan pada posisi “al-mudl-maru” dimana Dia tidak menyatakan: “fa innaHuu ‘aduwwun” [bahwa Dia adalah musuh] melainkan Dia menuturkan: Fa innallaaHa ‘aduwwul lil kaafiriin (“Sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.”)

Sebagaimana yang dikatakan seorang penyair:
Laa ra-al mauta yasbiqul mauta syai-un
Sabaqal mautu dzal ghinaa wal faqiiraa
(“Aku tidak pernah melihat kematian itu didatangi oleh sesuatu, tetapi
kematian itu mendatangi orang kaya dan miskin.”)

Dalam ayat ini, Allah swt. menampakkan nama-Nya dengan maksud untuk menegaskan makna di atas, sekaligus untuk menjelaskan dan memberitahukan kepada mereka bahwa siapa saja yang memusuhi wali Allah, maka sesungguhnya Allah adalah musuhnya, dan barangsiapa menjadi musuh-Nya, maka ia akan merugi di dunia dan di akhirat.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 94-96

23 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 94-96“Katakanlah: ‘Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, Maka inginilah kematian(mu), jika kamu memang benar.’ (al-Baqarah: 94) Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha mengetahui siapa orang-orang yang aniaya. (al-Baqarah: 95) dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling tamak kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih tamak lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, Padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (al-Baqarah: 96)

Muhammad bin Ishak meriwayatkan dari Ibnu Abbas: Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, Muhammad: qul in kaanat lakumud daarul aakhiratu khaalishatam min duunin naasi fatamannawul mauta in kuntum shaadiqiin (“Katakanlah, ‘Jika kamu [menganggap bahwa] kampung akhirat [surge] itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginkanlah kematian[mu], jika kamu memang benar.’”) Maksudnya, “Berdoalah kalian agar ditimpakan kematian terhadap salah satu kelompok yang paling berdusta. Namun mereka menolak ajakan Rasulullah tersebut.

Wa lay yatamannauHu abadam bimaa qaddamat aidiiHim. wallaaHu ‘aliimum bidh-dhaalimiin (“Dan sekali-sekali mereka tidak akan menginginkan kematian itu selama-lamannya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka sendiri. Dan Allah Mahamengetahui siapa orang-orang yang zhalim.”) Artinya, Allah mengetahui segala sesuatu tentang mereka, bahkan pengingkaran mereka terhadap (ajakan Rasul). Seandainya mereka menginginkan kematian itu pada saat Rasulullah mengajaknya niscaya tidak akan ada di muka bumi ini seorang pun dari kaum Yahudi, melainkan akan mati.

Dari Ibnu Abbas, adh-Dhahhak meriwayatkan, “fa tamannawul mauta” berarti mohonlah kematian.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Seandainya orang-orang Yahudi itu menginginkan kematian, niscaya mereka akan disambar kematian.” Seluruh sanad ini shahih sampai Ibnu Abbas.

Demikian itulah penafsiran yang dikemukakan Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat di atas, yaitu ajakan untuk bermubahalah (adu do’a) untuk mengetahui kelompok mana yang berdusta, baik kelompok kaum muslimin ataupun Yahudi. Hal yang sama dinyatakan pula oleh Ibnu Jarir dari Qatadah, Abu al-Aliyah, dan Rabi’ bin Anas semoga Allah merahmati mereka.

Ketika orang-orang Yahudi terlaknat itu mengatakan bahwa mereka itu anak Allah dan kekasih-Nya serta mengatakan: “Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi dan Nasrani,” maka mereka diajak bermuhahalah dan mendoakan keburukan kepada salah satu kelompok yang berdusta, baik itu kelompok muslim ataupun kelompok Yahudi. Setelah mereka menolak ajakan tersebut, maka setiap orang mengetahui bahwa mereka itu zhalim, karena jika mereka benar-benar teguh dengan pengakuannya itu, pasti mereka menjadi kelompok yang paling dahulu tampil untuk melakukan mubahalah.

Ketika mereka menunda-nunda, maka terungkaplah kebohongan mereka. Peristiwa itu sama dengan peristiwa pada saat Rasulullah mengajak utusan kaum Nasrani Najran untuk bermuhahalah setelah hujjah tegak atas mereka dalam perdebatan, (sementara mereka semakin) sombong dan ingkar, maka Allah Ta’ala berfirman:
“Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS. Ali Imran: 61)

Setelah orang-orang Nasrani mendengar ajakan itu, lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Demi Allah, jika kalian bermubahalah dengan Nabi ini, niscaya kalian akan musnah dalam sekejap.” Pada saat itu, mereka langsung cenderung untuk berdamai dan menyerahkan jizyah (pajak) dengan patuh, dalam keadaan hina. Kemudian Abu Ubaidah bin Jarrah diutus sebagai pengawas bagi mereka.

Mubahalah ini disebut tamanni (yaitu kalimat “tamannau” [pengharapan/keinginan kematian]), karena kedua belah pihak yang merasa benar ingin agar Allah Ta ala membinasakan kelompok yang batil, apalagi jika merasa mempunyai hujjah untuk menjelaskan kebenaran dan keunggulannya. Dan mubahalah itu dilakukan dalam bentuk memohon kematian, karena kehidupan dunia bagi orang-orang Yahudi sangat mulia dan berharga, sementara mereka mengetahui tempat kembali mereka yang menyeramkan setelah kematian.

Oleh karena itu Allah berfirman: Wa lay yatamannauHu abadam bimaa qaddamat aidiiHim. wallaaHu ‘aliimum bidh-dhaalimiina wa latajidannaHum ahrashun naasi ‘alaa hayaatin (“Sekali-kali mereka tidak akan menginginkannya untuk selama-lamanya karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka [sendiri]. Dan Allah Mahamengetahui orang-orang yang berbuat zhalim. Sesungguhnya kamu akan mendapati mereka setamak-tamak manusia kepada kehidupan [di dunia].”)

Maksudnya, sepanjang umur mereka, karena mereka tahu bahwa tempat kembali mereka (di akhirat) itu sangat buruk dan kesudahan yang akan mereka alami sangat merugikan. Sebab dunia itu merupakan penjara bagi orang-orang mukmin dan surga bagi orang kafir. Mereka mengangankan seandainya mereka dapat menghindari alam akhirat dengan segala macam cara. Padahal apa yang mereka hindari dan jauhi itu pasti akan mereka alami. Terhadap kehidupan duniawi ini, orang-orang Yahudi itu lebih rakus daripada orang-orang musyrik yang tidak memiliki kitab. Yang demikian itu merupakan ‘athaf khash (penyandaran yang khusus) kepada yang ‘aam (umum).

Mengenai firman Allah: wa minal ladziina asy-rakuu (“Bahkan [lebih tamak lagi] dari orang-orang musyrik.”) Diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, “orang-orang non-Arab.”

Demikian halnya hadits yang diriwayatkan al-Hakim dalam kitab, al- Mustadrak, dari Sufyan ats-Tsauri, dan ia mengatakan bahwa hadits ini shahih menurut persyaratan al-Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkannya. Al-Hakim berkata bahwa kedua imam itu bersepakat atas sanad tafsir sahabat ini.

Sehubungan dengan firman Allah: wa latajidannaHum ahrashun naasi ‘alaa hayaatin (“Sesungguhnya engkau akan mendapati mereka setamak-tamak manusia kepada kehidupan [di dunia],”) Hasan al-Bashri mengatakan: “Orang munafik itu lebih tamak terhadap kehidupan dunia daripada orang musyrik.”

Yawaddu ahaduHum (“Masing-masing orang dari mereka ingin.”) Maksudnya, salah seorang dari kaum Yahudi, seperti yang ditujukan konteks ayat. Sedangkan menurut Abul al-Aliyah: “Adalah salah seorang dari kaum Majusi. Dan ia akan kembali seperti semula, meski diberi umur seribu tahun.”

Mengenai firman-Nya: Yawaddu ahaduHum lau yu-‘ammaru alfa sanatin (“Masing-masing orang dari mereka ingin agar diberi umur seribu tahun.”) Mujahid mengatakan, “Perbuatan dosa dijadikan hal yang mereka sukai sepanjang umur.”

Dan berkenaan dengan firrnan-Nya: wa maa Huwa bimuzahzihiHii minal ‘adzaabi ay yu-‘ammara (“Pahahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa.”) Berkata Mujahid bin Ishak dari Muhammad bin Abi Muhammad, dari Sa’id atau Ikrimah, dari Ibnu Abbas: “Maksudnya, umur panjang itu sama sekali tidak akan menyelamatkan mereka dari adzab, karena orang musyrik tidak mengharapkan kebangkitan kembali setelah kematian, tetapi menginginkan umur panjang. Sedangkan orang Yahudi mengetahui kehinaan yang akan mereka terima di akhirat karena mereka menyia-nyiakan ilmu yang mereka miliki.”

Berkaitan dengan firman-Nya: wa maa Huwa bimuzahzihiHii minal ‘adzaabi ay yu-‘ammara (“Pahahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa.”) Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas katanya, “yaitu orang-orang yang memusuhi Jibril.”

Sedangkan Abu al-Aliyah dan Ibnu Umar mengatakan, “Makna ayat itu adalah umur panjang tidak akan membantu dan menyelamatkan mereka dari adzab.”

Mengenai makna ayat ini, Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam mengatakan, “Orang Yahudi itu lebih rakus terhadap kehidupan dunia ini dari pada orang-orang Musyrik, di mana mereka mengharapkan diberikan umur seribu tahun lagi. Namun umur panjang itu tidak akan dapat menyelamatkan mereka dari adzab. Sebagaimana umur panjang yang diberikan kepada Iblis tidak memberikan manfaat sama sekali kepadanya, karena ia kafir.”

wallaaHu bashiirum bimaa ya’maluun (“Allah Mahamengetahui apa yang mereka lakukan.”) Maksudnya, Allah mengetahui dan menyaksikan kebaikan dan keburukan yang dikerjakan oleh hamba-hamba-Nya, dan masing-masing akan diberikan balasan sesuai dengan amalannya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 93

23 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 93“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): ‘Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!’ Mereka menjawab: ‘Kami mendengarkan tapi tidak mentaati.’ Dan telah diresapkan ke dalam bati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: ‘Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika kamu betul beriman (kepada Taurat).’” (QS. Al-Baqarah: 93)

Allah merinci kesalahan, pelanggaran janji, kesombongan, dan berpalingnya orang-orang Yahudi dari-Nya sehingga Dia mengangkat gunung Thursina untuk ditimpakan kepada mereka sampai mereka mau menerima perjanjian itu., lalu mereka melanggar perjanjian tersebut. Oleh karena itu: qaaluu sami’naa wa ‘ashainaa (“Mereka berkata kami mendengar tetapi kami tidak mentaati”)

Wa usy-ribuu fii quluubiHimul ‘ijla bikufriHim (“Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka kecintaan kepada anak sapi lantaran kekafiran mereka.”) Berkenaan dengan ayat tersebut, dari Qatadah, Abdur Razaq mengatakan: “Kecintaan mereka kepada anak sapi telah meresap hingga merasuk ke dalam hati mereka.”Hal senada juga dikatakan oleh Abu al-Aliyah dan Rabi’ bin Anas.

Imam Ahmad pernah meriwayatkan, dari Abu Darda’, dari Nabi beliau bersabda: “Kecintaanmu pada sesuatu membuatmu buta dan tuli.” (HR Abu Dawud. Didlaifkan oleh syaikh al-Albani dalam Dla’iiful Jaami’ [2688])

Firman Allah: qul bi’samaa ya’murukum biHii iimaanukum in kuntum mu’miniin (“Katakanlah, amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika kamu benar-benar beriman [kepada Taurat].”) artinya, betapa buruknya kekufuran kalian kepada ayat-ayat Allah dan pengingkaran kalian kepada Nabi, serta kekafiran kalian kepada Muhammad saw., yang telah kalian jadikan pegangan dari dulu hingga sekarang. Itu merupakan dosa kalian yang paling besar dan perkara paling besar/parah yang kalian lakukan karena kekufuran kalian terhadap Nabi dan Rasul penutup, Muhammad saw., yang diutus untuk seluruh umat manusia. Lalu bagaimana kalian mengaku beriman, padahal kalian telah melakukan berbagai perbuatan buruk seperti itu, baik berupa pengingkaran janji, kafir kepada ayat-ayat Allah, maupun penyembahan terhadap anak sapi –selain Allah ?

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 91-92

23 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 91-92“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah kepada al-Qur’an yang diturunkan Allah.’ Mereka berkata: ‘Kami banya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.’ Dan mereka kafir kepada al-Qur’an yang diturunkan sesudahnya, sedang al-Qur’an itu (Kitab) yang bak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: ‘Mengapa dahulu kamu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-Baqarah: 91) Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Baqarah: 92)

Firman Allah: wa idzaa qiila laHum (“Dan apabila dikatakan kepada mereka.”) yaitu orang-orang Yahudi dan sebangsanya dari kalangan Ahlul Kitab. Aamanuu bimaa anzalallaaHu (“Berimanlah kepada al-Qur’an yang diturunkan Allah,”) kepada Muhammad saw., benarkan dan ikutilah ia. Maka: qaaluu nu’minu bimaa unzila ‘alainaa (“Mereka berkata, kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.”) Artinya, cukup bagi kami mengimani kitab Taurat dan Injil yang telah diturunkan kepada kami. Kami tidak akan pernah mengakui kecuali kedua kitab itu saja.

Wa yakfuruuna waraa-aHu (“Dan mereka kafir kepada al-Qur’an yang diturunkan sesudahnya.”) wa Huwal haqqu mushaddiqal limaa ma’aHum (“Padalah al-Qur’an itu adalah [Kitab] yang hak, yang membenarkan apa yang ada pada mereka.”) Maksudnya, padahal mereka tahu bahwa apa yang diturunkan kepada Muhammad saw. al-haqqu mushaddiqal limaa ma’aHum (“Yang hak yang membenarkan apa yang ada pada mereka”) Artinya, al-Qur’an membenarkan kitab suci yang ada pada mereka, Taurat dan Injil, dengan demikian hujjah itu tegak di atas mereka, sebagaimana firman Allah: alladziina aatainaaHumul kitaaba ya’rifuunaHuu kamaa ya’rifu abnaa’aHum (“Orang-orang [Yahudi dan Nasrani] yang telah Kami beri al-Kitab [Taurat dan Injil] mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.”) (QS. Al-Baqarah: 146).

Kemudian Allah berfirman: fa lima taqtuluuna anbiyaa allaaHi min qablu in kuntum mu’miniin (“Lalu mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah, jika kamu mengaku benar-benar orang yang beriman?”) Artinya, jika kalian mengaku benar-benar beriman kepada apa yang diturunkan kepada kalian, lalu mengapa kalian membunuh para nabi yang datang kepada kalian dan membenarkan kitab Taurat yang ada pada kalian, berhukum pada isinya, dan tidak menghapusnya, sedang kalian mengetahui kebenaran mereka? Kalian membunuh mereka karena melampaui batas, keras kepala, dan sombong kepada para Rasul Allah. Kalian ini tidak mengikuti kecuali hawa nafsu, pendapat, serta keinginan kalian sendiri.

Abu Ja’far bin Jarir mengatakan, (makna ayat ini) “Hai Muhammad, jika engkau katakan kepada orang-orang Yahudi dari kalangan Bani Israil, Berimanlah kepada apa yang diturunkan Allah’, dan mereka menjawab, `Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami’, maka katakanlah kepada mereka, `Jika kalian benar-benar beriman, mengapa kalian membunuh para nabi, wahai orang-orang Yahudi, padahal di dalam kitab yang diturunkan kepada kalian; Allah telah mengharamkan kalian membunuh mereka, bahkan Dia memerintah kalian untuk mengikuti, mentaati, dan membenarkan mereka. Yang demikian itu merupakan pembeberan kebohongan dan celaan kepada mereka atas ucapan mereka, yaitu kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami saja.”‘

Firman-Nya: wa laqad jaa-akum muusaa bil bayyinaati (“Dan Musa telah datang kepadamu dengan membawa bukti-biikti kebenaran [mukjizat].”) Yaitu bukti-bukti yang jelas dan dalil-dalil qath’i bahwa ia adalah Rasul Allah dan bahwa tiada Ilah yang hak selain Allah. Yang dimaksud dengan “al aayaatul bayyinaatu” (“bukti-bukti yang jelas”) adalah berupa angin badai, belalang, kutu, kodok, darah, tongkat, tangan, pembelahan laut, penaungan dengan awan, manna, salwa, batu, dan mukjizat lainnya yang mereka saksikan. Setelah itu kalian jadikan anak sapi sebagai sembahan selain Allah pada zaman hidupnya Musa as.

Firman-Nya: mim ba’diHii (“Sesudah,”) maksudnya sesudah kepergian Musa ke gunung Thursina untuk bermunajat kepada Allah; wa antum dhaalimuun (“Sedang kamu berbuat zhalim”) Artinya, dengan tindakan kalian menyembah anak sapi itu, kalian telah berbuat zhalim, padahal kalian tahu bahwasanya tiada Ilah yang hak selain Allah.

Sebagaimana firman-Nya: wa lammaa suqitha fii aidiiHim wa ra-au annaHum qad dlalluu qaaluu la il lam yarhamnaa rabbanaa wa yaghfirlanaa lanakuunanna minal khaasiriin (“Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, mereka pun berkata, Sungguh jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi.”) (QS. Al-A’raaf: 149).

&