Arsip | 17.12

Mewarnai gambar mobil2 anak muslim

25 Mar

Mewarnai Gambar Islami Untuk Anak Muslim
Untuk Kreatifitas dengan Mewarnai Gambar
alquranmulia.wordpress.com

Mewarnai gambar mobil2 anak muslim

 

&

 

Mewarnai gambar masjid2 anak muslim

25 Mar

Mewarnai Gambar Islami Untuk Anak Muslim
Untuk Kreatifitas dengan Mewarnai Gambar
alquranmulia.wordpress.com

Mewarnai gambar masjid2 anak muslim

&

 

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 108

25 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 108“Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada zaman dahulu? Dan barang siapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 108)

Melalui ayat ini, Allah melarang orang-orang mukmin banyak bertanya kepada Nabi mengenai hal-hal sebelum terjadi, sebagaimana Dia berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya akan menyusahkanmu dan jika kalian menanyakan pada waktu al-Qur an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu.” (QS. Al-Maa-idah: 101)

Artinya, jika kalian menanyakan perinciannya setelah ayat itu diturunkan, niscaya akan dijelaskan kepada kalian. Dan janganlah kalian menanyakan suatu perkara yang belum terjadi karena boleh jadi perkara itu akan diharamkan akibat adanya pertanyaan tersebut.

Oleh karena itu dalam sebuah hadits shahih Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang muslim yang paling besar kejahatannya adalah yang menanyakan sesuatu yang tidak diharamkan, kemudian menjadi diharamkan lantaran pertanyaan tadi.”

Ketika Rasulullah ditanya mengenai seseorang yang mendapati isterinya bersama laki-laki lain. Jika hal itu ia bicarakan, maka itu adalah suatu aib untuknya. Dan jika ia biarkan, maka pantaskah ia diamkan hal tersebut? Maka Rasulullah tidak menyukai pertanyaan-pertanyaan seperti itu dan mencelanya. Kemudian Allah swt. menurunkan hukum mula’anah (li’an).

Oleh karena itu, di dalam kitab Shahihain ditegaskan melalui sebuah hadits yang diriwayatkan dari al-Mughirah bin Syu’bah: “Rasulullah melarang banyak bicara dan membicarakan setiap kabar yang didengarnya, menghambur-hamburkan harta, serta banyak bertanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam kitab Shahih Muslim diriwayatkan, Rasulullah bersabda: “Biarkanlah masalah-masalah yang tidak aku persoalkan atas kalian. Karena binasanya orang-orang sebelum kalian disebabkan mereka banyak bertanya dan menentang para nabi mareka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. Dan jika aku melarang kalian mengerjakan sesuatu, maka tinggalkanlah.” (HR. Muslim)

Yang demikian itu dikemukakan Rasulullah setelah mereka diberitahukan bahwa Allah Ta’ala mewajibkan ibadah haji kepada mereka, lalu seseorang bertanya: “Apakah setiap tahun, ya Rasulullah?” Maka Rasulullah pun terdiam meskipun telah ditanya sebanyak tiga kali. Setelah itu beliau pun menjawab: “Tidak, seandainya kujawab, ‘Ya,’ maka akan menjadi suatu kewajiban. Dan jika diwajibkan, niscaya kalian tidak sanggup menunaikannya.” Kemudian beliau bersabda: “Janganlah banyak bertanya kepadaku, laksanakan saja apa yang aku telah ajarkan kepada kalian. Karena binasanya orang-orang sebelum kalian disebabkan mereka banyak bertanya dan menentang pada nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. Dan jika aku melarang kalian mengerjakan sesuatu, maka hindarilah.”

Oleh karena itu, Anas bin Malik pernah berkata, “Kami dilarang bertanya kepada Rasulullah mengenai sesuatu. Hal yang menggembirakan kami adalah jika ada seorang dari penduduk pedalaman yang datang dan bertanya kepada beliau dan kami mendengarnya.”

Firman Allah: am turiidduna an tas-aluu rasuulakum kamaa su-ila muusaa min qablu (“Apakah kalian menghendaki untuk meminta kepada Rasul kalian seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada zaman dahulu?”) Maksudnya adalah, bahkan kalian menghendaki untuk itu. Atau dapat juga dikatakan bahwa hal itu termasuk bab istifham (pertanyaan) yang mempunyai makna penolakan. Dan firman-Nya itu berlaku umum, baik orang-orang mukmin dan juga orang-orang kafir, karena Rasulullah itu diutus kepada umat manusia secara keseluruhan.

Sebagaimana firman-Nya: yas-aluka aHlul kitaabi an tunazzala ‘alaiHim kitaabam minas samaa-i faqad sa-alu muusaa akbara min dzaalik faqaaluu arinallaaHa jaHratan fa akhadzat Humush-shaa-‘iqatu bidhulmiHim (“Ahlul kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: ‘Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.’ Maka mereka disambar petir karena kezhalimannya.”) Maksudnya, Allah mencela orang yang bertanya kepada Rasulullah mengenai sesuatu hal dengan tujuan untuk mempersulit dan mengusulkan pendapat yang lain, sebagaimana yang ditanyakan Bani Israil kepada Musa as. dalam rangka menyulitkan, mendustai, dan mengingkarinya.

Firman-Nya: wa may yatabaddalil kuf-ra bil iimaani (“Dan barangsiapa menukar keimanan dengan kekufuran.”) Artinya, barangsiapa membeli kekufuran dengan menukarnya [dengan] keimanan,’ Faqad dlal-la sawaa-as sabiil (“Maka ia benar-benar tersesat dari jalan yang lurus.”) Artinya, ia telah keluar dari jalan yang lurus menuju kebodohan dan kesesatan. Demikian itulah keadaan orang-orang yang menolak untuk membenarkan dan mengikuti para nabi dan berbalik menuju penentangan dan pendustaan serta mengusulkan pendapat yang lain melalui pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya mereka tidak memerlukannya dan hanya bertujuan untuk menyulitkan dan kufur.

Abut ‘Aliyah mengatakan: “(Maksud ayat di atas yaitu) menukar kebahagiaan dengan kesengsaraan.”

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 106-107

25 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 106-107“Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. tidakkah kamu mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? (al-Baqarah: 106) Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.” (al-Baqarah: 107)

Mengenai firman Allah: maa nansakh min aayatin (“Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan”) Ibnu Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia mengatakan, “Artinya yang Kami [Allah] gantikan.”

Dari Mujahid, Ibnu Juraij meriwayatkan, maa nansakh min aayatin (“Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan”) maksudnya adalah: ayat mana saja yang Kami [Allah] hapuskan.

Ibnu Abi Nujaih meriwayatkan dari Mujahid, bahwa ia menuturkan: maa nansakh min aayatin; artinya: “Kami [Allah] biarkan tulisannya, tetapi kami ubah hukumnya.” Hal itu diriwayatkan dari beberapa shahabat Abdullah bin Mas’ud.

maa nansakh min aayatin; as-Suddi mengatakan: “Nasakh berarti menarik [menggenggamnya].”

Sedangkan Ibnu Abi Hatim mengatakan, yakni menggenggam dan mengangkatnya. Seperti firman-Nya: asy-syaikhu wasy-syaikhatu idzaa jayanaa farjumuuHumaa battata (“Orang yang sudah tua, baik laki-laki maupun perempuan yang berzina, maka rajamlah keduanya.”) demikian juga dengan firman-Nya: lau kaana libni aadama waadiyani min dzaHabil labtaghaa laHumaa tsaalitsan (“Seandainya ibnu Adam mempunya dua lembah emas, niscaya mereka akan mencari lembah yang ketiga.”)

Masih berhubungan dengan firman-Nya: maa nansakh min aayatin (“Ayat mana saja yang Kami nasakh-kan”) Ibnu Jarir mengatakan: artinya hukum suatu ayat yang Kami [Allah] pindahkan kepada lainnya dan Kami ganti dan ubah, yaitu mengubah yang haram menjadi halal, yang halal menjadi haram, yang boleh menjadi tidak boleh dan yang tidak boleh menjadi boleh. Dan hal itu tidak terjadi kecuali dalam perintah, larangan, keharusan, mutlaq dan ibadah [kebolehan]. Sedangkan ayat-ayat yang berkenaan dengan kisah-kisah tidak mengalami nasikh maupun mansukh.

Kata “an-naskhu” berasal dari “naskhul kitaabi” yaitu menukil dari suatu naskah ke naskah lainnya. Demikian halnya “naskhul hukmi” berarti penukilan dan pemindahan redaksi ke redaksi yang lainnya. Baik yang dinasakh itu hukum maupun tulisannya. Karena keduanya tetap kedudukannya sebagai mansukh [yang dinasakh].

Firman-Nya: aw nunsiHaa (“atau Kami jadikan lupa”) bisa dibaca dengan salah satu dari dua bacaan: “nansa-uHaa” dan “nunsiHaa”. Nansa-uHaa berarti: tuakh-kharuHaa [kami akhirkan].

Mengenai firman-Nya: maa nansakh min aayatin aw nunsiHaa; Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia mengemukakan, [artinya] Allah berfirman: “Ayat-ayat yang Kami rubah atau tinggalkan, tidak Kami ganti.”

Sedang Mujahid meriwayatkan dari beberapa sahabat Ibnu Mas’ud, au nunsi-uHaa [berarti] Kami tidak merubah tulisannya dan hanya mengubah hukumnya saja.”

Athiyyah al-Aufi mengatakan, au nunsi-uHaa; [artinya] Kami akhirkan ayat tersebut dan Kami tidak menghapusnya.

Masih berkenaan dengan ayat: maa nansakh min aayatin wa nunsi-uHaa; adh-Dhahhak mengatakan: “Yakni nasikh dari yang dimansukh.”

Mengenai bacaan “nunsiHaa” Abdur Razak meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah mengenai firman-Nya: maa nansakh min aayatin aw nunsiHaa; ia mengatakan, “Allah menjadikan Nabi-Nya, Muhammad saw. lupa dan menasakh ayat sesuai dengan kehendak-Nya.”

Ubaid bin Umair mengatakan, au nusiHaa; “Berarti Kami mengangkatnnya dari kalian.”

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan, “Umar bin al-Khaththab mengatakan, ‘Orang yang terbaik bacaannya di antara kami adalah Ubay dan yang paling ahli hukum adalah Ali, dan kami akan meninggalkan kata-kata Ubay, di mana ia mengatakan, ‘Aku tidak akan meninggalkan sesuatu apapun yang aku dengar dari Rasulullah saw. padahal Allah Ta’ala berfirman: maa nansakh min aayatin wa nunsiHaa (“Ayat many saja yang Kami nasakh,”) dan firman-Nya: na’ti bikhairim minHaa au mitsliHaa (“Kami datangkan yang lebih baik darinya atau sepadan dengannya.”) Yaitu hal hukum yang berkaitan dengan kepentingan Para mukallaf.”

Sebagaimana yang dikatakan Ali bin Abi Talhah, dari Ibnu Abbas, mengenai firman-Nya, na’ti bikhairim minHaa au mitsliHaa (“Kami datangkan yang lebih baik darinya atau sepadan dengannya.”) ia mengatakan, “Yaitu memberi manfaat yang lebih baik bagi kalian dan lebih ringan.”

Masih mengenai firman-Nya: na’ti bikhairim minHaa au mitsliHaa (“Kami datangkan yang lebih baik darinya atau sepadan dengannya.”) Qatadah mengatakan, “Yaitu ayat yang di dalamnya mengandung pemberian keringanan, rukhshah, perintah, dan larangan.”

Dan firman Allah swt: alam ta’lam annallaaHa ‘alaa kulli syai-in qadiirun alam ta’lam annallaaHa laHuu mulkus samaawaati wal ardli wa maa lakum min duunillaaHi miw waliyyiw wa laa nashiir (“Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu? Tidakkah engkau mengetahui bahwa kerajaan dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tidak ada bagi kalian selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.”)

Imam Abu Ja’far bin Jarir rahimahullahu mengatakan, “Penafsiran ayat tersebut adalah sebagai berikut: ‘Hai Muhammad, tidakkah engkau mengetahui bahwa hanya Aku (Allah) pemilik kerajaan dan kekuasaan atas langit dan bumi. Di dalamnya Aku putuskan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Ku, dan di sana Aku mengeluarkan perintah dan larangan, dan (juga) menasakh, mengganti, serta merubah hukum-hukum yang Aku berlakukan di tengah-tengah hamba-Ku sesuai kehendak-Ku, jika Aku menghendaki.’”

Lebih lanjut Abu Ja’far mengatakan, ayat itu meski diarahkan kepada Nabi Muhammad untuk memberitahu keagungan Allah swt, namun sekaligus hal itu dimaksudkan untuk mendustakan orang-orang Yahudi yang mengingkari nasakh (penghapusan) hukum-hukum Taurat dan menolak kenabian Isa as. dan Muhammad saw. karena keduanya datang dengan membawa beberapa perubahan dari sisi Allah untuk merubah hukum-hukum Taurat. Maka Allah memberitahukan kepada mereka bahwa kerajaan dan kekuasaan atas langit dan bumi ini hanyalah milik-Nya, semua makhluk ini berada di bawah kekuasaan-Nya. Mereka harus tunduk dan patuh menjalankan perintah dan menjahui larangan-Nya. Dia mempunyai hak memerintah dan melarang mereka, menasakh, menetapkan, dan membuat segala sesuatu menurut kehendak-Nya.

Berkenaan dengan hal tersebut penulis (Ibnu Katsir) katakan, Yang membawa orang Yahudi membahas masalah nasakh ini adalah semata-mata karena kekufuran dan keingkarannya terhadap adanya nasakh tersebut. Menurut akal sehat, tidak ada suatu hal pun yang melarang adanya nasakh dalam hukum-hukum Allah Ta’ala, karena Dia dapat memutuskan segala sesuatu
sesuai dengan kehendak-Nya, sebagaimana Dia juga dapat berbuat apa saja yang di kehendaki-Nya. Yang demikian itu juga telah terjadi di dalam kitab-kitab dan syari’at-syari’at-Nya yang terdahulu. Misalnya, dahulu Allah swt. membolehkan Nabi Adam mengawinkan putrinya dengan puteranya sendiri, tetapi setelah itu Dia mengharamkan hal itu. Dia juga membolehkan Nabi Nuh setelah keluar dari kapal untuk memakan semua jenis hewan, tetapi setelah itu Dia menghapus penghalalan sebagiannya.

Selain itu, dulu menikahi dua saudara puteri itu diperbolehkan bagi Israil (Nabi Ya’qub) dan anak-anaknya, tetapi hal itu diharamkan di dalam syariat Taurat dan kitab-kitab setelahnya, Dia juga pernah menyuruh Nabi Ibrahim, menyembelih puteranya, tetapi kemudian Dia menasakhnya sebelum perintah itu dilaksanakan. Allah swt. juga memerintahkan mayoritas Bani Israil untuk membunuh orang-orang di antara mereka yang menyembah anak sapi, lalu Dia menarik kembali perintah pembunuhan tersebut agar tidak memusnahkan mereka.

Di samping itu, masih banyak lagi hal-hal yang berkenaan dengan masalah itu, orang-orang Yahudi sendiri mengakui dan membenarkannya. Dan jawaban-jawaban formal yang diberikan berkenaan dengan dalil-dalil ini, tidak dapat memalingkan sasaran maknanya, karena demikian itulah yang dimaksudkan. Dan sebagaimana yang masyhur tertulis di dalam kitab-kitab mereka mengenai kedatangan Nabi Muhammad saw. dan perintah untuk mengikutinya. Hal itu memberikan pengertian yang mengharuskan untuk mengikuti Rasulullah dan bahwa suatu amalan tidak akan diterima kecuali yang didahulukan berdasarkan syariatnya, baik dikatakan bahwa syariat terdahulu itu terbatas sampai pengutusan Rasulullah saw. Dan bahwa suatu amalan tidak akan diterima kecuali yang didahulukan berdasarkan syariatnya, baik dikatakan bahwa syariat terdahulu itu terbatas sampai pengutusan Rasulullah saw. maka yang demikian itu tidak disebut sebagai nasakh. Hal itu didasarkan pada firmari-Nya: tsumma atimmush shiyaama ilal laili (“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”)

Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa syariat itu bersifat mutlak sedangkan syariat Muhammad menasakhnya. Bagaimanapun adanya, mengikutinya (Nabi Muhammad saw.) suatu keharusan, karena beliau datang dengan membawa sebuah kitab yang merupakan kitab terakhir dari Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Dalam hal ini, Allah Ta’ala menjelaskan dibolehkannya nasakh sebagai bantahan terhadap orang-orang Yahudi -lanatulah alaihim-, di mana Dia berfirman: alam ta’lam annallaaHa ‘alaa kulli syai-in qadiirun alam ta’lam annallaaHa laHuu mulkus samaawaati wal ardli (“Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu? Tidakkah engkau mengetahui bahwa kerajaan dan bumi adalah kepunyaan Allah?”)

Sebagaimana Dia mempunyai kekuasaan tanpa ada yang menandinginya, demikian pula hanya Dia yang berhak memutuskan hukum menurut kehendak-Nya. “Ketahuilah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (QS. Al-A raaf: 54) Dan di dalam Surat Ali Imran yang mana konteks pembicaraan pada bab awal surat tersebut ditujukan kepada Ahlul Kitab juga terdapat nasakh, yaitu pada firman-Nya: kulluth-tha’aami kaana hillal libanii israa-iila illaa maa harrama israa-iilu ‘alaa nafsiHi (“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil kecuali makanan yang diharamkan oleh Israil [Nabi Ya’qub] untuk dirinya sendiri.”) Sebagaimana penafsiran ayat ini akan kami sampaikan pada pembahasan berikutnya.

Kaum muslimin secara keseluruhan sepakat membolehkan adanya nasakh dalam hukum-hukum Allah Ta’ala, karena di dalamnya terdapat hikmah yang sangat besar. Dan mereka semua mengakui terjadinya nasakh tersebut.

Seorang mufasir, Abu Muslim ash-Ashbahaani mengatakan: “Tidak ada nasakh di dalam al-Qur’an.” Pendapat Abu Muslim itu sangat lemah dan patut ditolak. Dan sangat mengada-ada dalam memberikan jawaban berkenaan dengan terjadinya nasakh. Misalnya (pendapat) mengenai masalah iddah seorang wanita yang berjumlah empat bulan sepuluh hari setelah satu tahun. Dia tidak dapat memberikan jawaban yang dapat diterima. Demikian halnya masalah pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah, juga tidak diberikan jawaban sama sekali. Juga penghapusan kewajiban bersabar manghadapi kaum kafir satu lawan sepuluh menjadi satu lawan dua. Dan juga penghapusan (nasakh) kewajiban membayar sedekah sebelum mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasulullah, dan lain-lainnya. Wallahu a’lam.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 104-105

25 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 104-105Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Nabi Muhammad saw.): “Raa’ina”(a), tetapi katakanlah. “Unzhurna,” dan “dengarlah.” Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih. (QS. Al-Baqarah: 104) Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Rabb-mu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Al-Baqarah: 105)

Allah melarang hamba-hamba-Nya menyerupai orang-orang kafir, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Karena orang-orang Yahudi (semoga laknat Allah atas mereka) senang bermain kata-kata yang mempunyai arti samar dengan maksud untuk mengurangi makna yang dikandungnya. Jika mereka hendak mengatakan: “Dengarlah kami,” maka mereka mengatakan:
“raa’ina, padahal yang dimaksudkan adalah ru’unah (sangat bodoh). Sebagaimana firman Allah Tabaraka wa Ta’ala yang artinya sebagai berikut ini:

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempatnya. Mereka berkata: ‘Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya (b). Dan (mereka mengatakan pula): Dengarlah,’ padahal sebenarnya kamu tidak mau mendengar apa-apa (c). Dan mereka mengatakan: Raa’ina,’ dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: Kami mendengar dan patuh. Dengar dan perhatikanlah kami.’ Maka yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.” (QS. An-Nisaa’: 46).

(a) “raa’inaa” berarti sudilah kiranya engkau memperlihatkan kami. Pada saat para shahabat menghadapkan kata ini kepada Rasulullah, orang-orang Yahudi pun memakai pula kata, ini dan digunakan seakan-akan menyebut “raa’inaa” padahal yang mereka maksudkan adalah “ra’uunatun” yang berarti kebodohan yang sangat, sebagai ejekan bagi Rasulullah saw. Itulah sebabnya Allah menyuruh supaya para sahabat menukar kata “raa’inaa” dengan kata “undzurnaa” yang mempunyai arti yang sama.-Pent.
(b) Maksudnya; mereka mengatakan: “Kami mendengar,” padahal hati mereka mengatakan:
“Kami tidak mau menuruti.”-Pent.
Maksudnya; mereka mengatakan: “Dengarlah,” tetapi hati mereka mengatakan: “Mudah-mudahan kamu tidak dapat mendengar (tuli).”‘Pent.

Banyak juga hadits yang menceritakan mengenai diri mereka ini. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa jika orang-orang Yahudi itu mengucapkan salam, sebenarnya yang mereka ucapkan adalah: “as-saamu ‘alaikum” (semoga kematian menimpa kalian). “as-saamu” berarti kematian. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk membalas salam yang mereka sampaikan dengan mengucapkan: “wa’alaikum” (dan juga atasmu) supaya dengan demikian ucapan kita kepada mereka dikabulkan sedangkan ucapan mereka kepada kita tidak dikabulkan. Maksudnya bahwa Allah melarang orang-orang mukmin menyerupai orang-orang kafir baik dalam ucapan maupunperbuatan.

Dia berfirman: yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa taquuluu raa’inaa wa quulundhurnaa wasma’uu wa lil kaafiriina ‘adzaabun aliim (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan: “Raa’ina”, tetapi katakanlah. “Unzhurna,” dan “dengarlah. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.”)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Munif, dari Ibnu Umar, ia menceritakan, Rasulullah bersabda: “Aku diutus menjelang kiamat dengan membawa pedang sehingga hanya Allah yang diibadahi yang tiada sekutu bagi-Nya. Rizkiku dijadikan berada di bawah bayang-bayang tombakku. Kehinaan dan kerendahan ditimpakan kepada orang-orang yang menyalahi perintahku. Dan barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad)

Abu Daud juga meriwayatkan dari Utsman bin Abi Syaibah, dari Abu an-Nadhr Hasyim, Ibnu Qasim memberitahu kami, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari golongan mereka.” (HR. Abu Daud)

Hadits tersebut mengandung larangan keras sekaligus ancaman terhadap tindakan menyerupai orang-orang kafir, baik dalam ucapan, perbuatan, pakaian, perayaan hari-hari besar, dan ibadah mereka, maupun hal lainnya yang sama sekali tidak pernah disyari’atkan dan tidak kita akui keberadaannya.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, “Ayahku pernah bercerita kepadaku, ada seseorang yang mendatangi Abdullah Ibnu Mas’ud dan menuturkan, `Ajarilah aku.’ Maka Ibnu Mas’ud berujar, `Jika engkau mendengar Allah berfirman: yaa ayyuHal ladziina aamanuu (“Hai orang-orang yang beriman”) maka pasanglah pendengaranmu baik-baik, karena itu adalah suatu kebaikan yang diperintahkan-Nya atau keburukan yang dilarang-Nya.”

Mengenai firman-Nya: raa’inaa; Muhammad bin Ishak meriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Maksudnya arahkanlah pendengaranmu pada kami.”

Berkenaan dengan firman-Nya: yaa ayyuHal ladziina aamanu laa taquuluu raa’inaa (“Hai orang-orang yang berimana, janganlah kalian mengatakan “raa’inaa”) dari Ibnu Abbas, adh-Dhahhak meriwayatkan: “Orang-orang Yahudi itu mengatakan kepada Rasulullah saw., ‘Pasanglah baik-baik pendengaranmu kepada kami.’ Sesungguhnya ucapan “raa’inaa” sama dengan “’aathinaa”

“Janganlah kalian mengatakan “raa’inaa” artinya janganlah kalian mengatakan sesuatu yang berbeda.”

Dalam suatu riwayat disebutkan, janganlah kalian mengatakan, dengarlah kami maka kami akan mendengarmu.

As-Suddi mengatakan, “Ada seorang Yahudi dari Bani Qainuqa’ yang dipanggil dengan nama Rifa’ah bin Zaid. la mendatangi Rasulullah, ketika bertemu beliau, ia mengatakan, `Pasanglah pendengaranmu dan dengarlah, sesungguhnya kamu tidak mendengar.”‘

Orang-orang muslim mengira bahwa para nabi itu diagungkan dengan ucapan itu. Beberapa orang dari mereka mengatakan: “Dengarlah, sebenarnya engkau tidak mendengar dan tidak hina.” Yang demikian itu seperti yang terdapat dalam surat an-Nisaa’. Kemudian Allah mengemukakan kepada orang-orang mukmin agar tidak mengatakan “raa’inaa”. Hal senada juga dikatakan oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam.

Dari Ibnu Jarir mengemukakan, “Menurut kami, pendapat yang benar adalah yang menyatakan bahwa Allah Ta’ala melarang orang-orang mukmin mengatakan kepada nabi-Nya, Muhammad saw., “raa’inaa” karena hal itu merupakan kata yang tidak disukai Allah Ta’ala untuk diucapkan kepada nabi-Nya

Dan firman-Nya: maa yawaddul ladziina kafaruu min aHlil kitaabi wa lal musy-rikiina ay yunazzala ‘alaikum min khairim mir rabbikum (“Orang-orang kafir dari ahlul kitab din orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya suatu kebaikan kepadamu dari Rabb-mu.”) Allah mengungkapkan betapa sengit dan kerasnya permusuhan orang-orang kafir dari Ahlul Kitab dan orang-orang Musyrik terhadap orang-orang Mukmin. Oleh karena itu kaum mukminin diperingatkan oleh Allah Ta’ala agar tidak menyerupai mereka, supaya dengan demikian terputus kasih sayang yang terjadi di antara orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir dan musyrik tersebut. Selain itu, Allah Ta’ala juga mengingatkan nikmat yang telah dikaruniakan kepada orang-orang mukmin berupa syari’at yang sempurna dan lengkap yang telah disyari’atkan kepada Nabi mereka, Muhammad Saw, di mana Dia berfirman: wallaaHu yakh-tashshu bi rahmatiHii may yasyaa-u wallaaHu dzul fadl-lil ‘adhiim. (“Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya [untuk diberi], rahmat-Nya [kenabian], dan Allah mempunyai karunia yang besar.”)

&