Arsip | 16.53

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 196

6 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 196“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) kurban yang mudah didapat dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum kurban sampai ke tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkurban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan Umrah sebelum Haji (di dalam bulan Haji), (wajiblah ia menyembelih) kurban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga bari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidilharam (orang-orang yang bukan penduduk kota Makkah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketauhilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 196)

Setelah Allah menyebutkan hukum puasa, dilanjutkan dengan uraian mengenai jihad, Dia beranjak menjelaskan masalah manasik. Dia memerintahkan untuk menyempurnakan ibadah haji dan umrah. Lahiriyah konteks ayat ini adalah menyempurnakan amalan-amalan ibadah haji dan umrah setelah memulai pelaksanaannya. Maka setelah itu Allah berfirman: fa in uhshirtum (“jika kamu terkepung”) maksudnya jika kalian terhalang untuk sampai ke Baitullah dan terganggu dalam menyempurnakan ibadah haji dan umrah.

Untuk itu, para ulama sepakat bahwa memulai ibadah haji dan umrah mengharuskan penyempurnaan keduanya, meskipun dikatakan umrah itu wajib atau dianjurkan, sebagaimana keduanya menjadi pendapat para ulama.

Syu’bah, meriwayatkan, dari Amr bin Murrah dan dari Sufyan ats-Tsauri, mengenai ayat ini ia mengatakan, “Penyempurnaan haji dan umrah berarti anda mulai dari rumah berniat ihram hanya untuk menunaikan ibadah haji dan umrah serta membaca talbiyah dari miqat.”

Banyak hadits yang diriwayatkan melalui berbagai jalur, dari Anas dan beberapa orang sahabat, bahwa Rasulullah menggabungkan dalam ihramnya antara haji dan umrah. Dan ditegaskan dalam hadits shahih bahwa beliau pernah bersabda kepada para sahabatnya: “Barangsiapa yang membawa binatang kurban, maka hendaklah ia berihram untuk haji dan umrah.”

Diriwayatkan bahwa Rasulullah juga bersabda dalam hadits shahih: “Umrah itu masuk ke dalam haji sampai hari kiamat.”

Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan, dan Ya’la bin Umayyah mengenai kisah seseorang yang bertanya kepada Nabi, ketika beliau berada di J’iranah. Orang itu bertanya: “Bagaimana menurut pendapatmu mengenai seseorang yang berihram untuk umrah, sedang ia mengenakan jubah dan wangi-wangian?” Rasulullah terdiam, lalu turun kepada beliau wahyu, maka beliau mengangkat kepalanya seraya bertanya: “Di mana orang yang bertanya tadi?” “Aku di sini,” jawabnya. Beliau pun bersabda: “Mengenai jubah maka lepaslah, dan wangi-wangian yang menempel pada bajumu maka cucilah. Kemudian apa yang telah engkau lakukan untuk hajimu, maka kerjakanlah hal itu untuk umrahmu.”

Dan firman Allah: fa in uhshirtum famastaisara minal Hadyi (“Jika kamu terkepung [terhalang oleh musuh atau karena sakit], maka [sembelihlah] kurban yang mudah didapat.”) Para ulama menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan pada tahun ke-6 Hijrah, yakni tahun perjanjian Hudaibiyah. Yaitu ketika kaum musyrikin menghalangi Rasulullah agar tidak sampai ke Baitullah. Pada saat itu Allah Ta’ala menurunkan surat al-Fath secara keseluruhan dan memberikan keringanan kepada mereka dengan menyembelih binatang kurban yang mereka bawa, yaitu sebanyak 70 ekor unta, mencukur rambut mereka dan bertahallul. Pada saat itu Rasulullah langsung menyuruh mereka mencukur rambut dan bertahallul, namun mereka tidak mengerjakannya karena menunggu datangnya nasakh (penghapusan hukum), sehingga beliau keluar dan mencukur rambutnya, dan setelah itu orang-orang pun melakukannya. Di antara mereka ada yang memendekkan rambutnya dan tidak mencukur bersih.

Tahallul: Berlepas diri dari Ihram haji sesudah selesai mengerjakan amalan-amalan haji: Pent.

Karena itu Rasulullah bersabda: “Semoga Allah memberikan rahmat kepada orang-orang yang mencukur bersih rambutnya.” Para sahabat bertanya, “Juga orang-orang yang memendekkannya, ya Rasulullah?” Dan pada ketiga kalinya beliau bersabda, “Dan juga yang memendekkannya.” (Muttafaq `alaih)

Mereka menyembelih kurban untuk bersama, setiap satu unta untuk tujuh orang, sedang jumlah mereka ada 1400 orang. Ketika itu mereka berada di Hudaibiyah, di luar Tanah Haram. Ada juga yang mengatakan bahwasanya mereka berada di pinggiran Tanah Haram. Wallahu a’lam.

Oleh karena itu, para ulama berbeda pendapat, apakah halangan itu dikhususkan pada musuh saja, sehingga tidak boleh melakukan tahallul kecuali orang yang dikepung musuh, tidak termasuk penyakit atau lainnya?

Mengenai hal itu terdapat dua pendapat. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, katanya: “Tidak ada halangan kecuali oleh musuh. Sedangkan orang yang jatuh sakit atau tersesat, maka tidak ada kewajiban apa-apa baginya. Allah Ta’ala hanyalah berfirman: fa idzaa amintum (“Jika kamu telah merasa aman,”) dan rasa aman berarti tidak terkepung.”

Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa halangan itu lebih umum dari sekedar pengepungan yang dilakukan oleh musuh termasuk halangan sakit, atau tersesat, atau semisalnya.

Imam Ahmad meriwayatkan, dari al-Hajjaj bin Amr al-Anshari, katanya, aku mendengar Rasulullah bersabda: “Barangsiapa luka, sakit atau pincang, baginya mengerjakan haji pada waktu yang lain.”

Al-Hajjaj mengatakan: “Lalu hal itu aku kemukakan kepada Ibnu Abbas dan Abu Hurairah, maka keduanya pun berujar, “Engkau benar.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh para penyusun empat kitab hadits yang bersumber dari Yahya bin Abi Katsir.

Diriwayatkan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa Rasulullah pernah datang menemui Dhaba’ah binti Zubair bin Abdul Muthallib, lalu ia berkata: “Ya Rasulallah, aku ingin menunaikan haji, sedang aku dalam keadaan sakit.” Maka beliau pun bersabda: “Tunaikanlah haji dan syaratkanlah bahwa tempat tahalulku berada dimana aku tertahan.”

Hadits senada juga diriwayatkan Imam Muslim dari Ibnu Abbas.

Sebagian ulama ada yang berpendapat, bahwasanya dibolehkan pensyaratan dalam haji berdasarkan pada hadits ini. Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i telah mendasarkan kebenaran pendapat ini pads kebenaran hadits tersebut. Sedangkan Baihaqi dan para huffaz mengatakan keshahihan hadits ini. Segala puji bagi Allah.

Dan firman Allah Ta’ala: fa mastaisara minal Hadyi (“Maka [sembelihlah] kurban yang mudah didapat.”) Imam Malik meriwayatkan, dari Ali bin Abi Thalib, mengenai firman-Nya ini, ia mengatakan: “Yaitu kambing.”

Ibnu Abbas mengatakan, al-Hadyu termasuk delapan pasangan, yaitu unta, sapi, biri-biri, dan kambing.

Mengenai firman Allah swt. tersebut, ats-Tsauri meriwayatkan, dari Habib dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan: “Yaitu kambing.”

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Atha’, Mujahid, Thawus, Abu al-Aliyah, Muhammad bin Ali bin Husain, Abdur Rahman bin Qasim, asy-Sya’abi, an-Nakha’i, Hasan al-Bashri, Qatadah, adh-Dhahhak, Muqatil bin Hayyan, dan ulama lainnya. Dan hal itu merupakan pendapat para imam empat (Hanafi, Malik, asy-Syafi’i dan Hanbali).

Al-Aufi menuturkan: “Jika mampu, maka hendaklah menyembelih unta, jika tidak mampu maka hendaklah menyembelih sapi, dan jika tidak mampu, maka hendaklah menyembelih kambing.”

Dalil yang menjadi landasan keshahihan pendapat jumhurul ulama mengenai diperbolehkannya menyembelih kambing ketika dalam keadaan terkepung (terhalang) adalah, bahwa Allah telah mewajibkan penyembelihan binatang yang mudah didapat. Artinya, binatang kurban yang mudah didapat apa pun jenisnya. Dan yang di maksud dengan al-Hadyu adalah unta, sapi, dan kambing. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, ulama yang luas pengetahuannya, penafsir al-Qur’an dan anak paman Rasulullah saw.

Dan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim telah ditegaskan, hadits dari Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu ‘anha, ia mengatakan, “Rasulullah pernah berkurban dengan kambing sekali.”

Dan firman Allah Ta’ala: walaa tahliquu ru-uusakum hattaa yablughal Hadyu mahillatu (“Dan janganlah kamu mencukur bersih rambutmu sebelum kurban sampai di tempat penyembelihannya.”) Firman-Nya ini merupakan kelanjutan dari firman-Nya: wa atimmul hajja wal ‘umrata lillaaHi (“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.”) Dan bukan kelanjutan dari firman-Nya: fa in uhshirtum fa mastaisara minal Hadyi (“Jika kamu terkepung [terhalang oleh musuh atau karena sakit], maka [sembelihlah] kurban yang mudah didapat.”) Sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Jarir rahimahullahu, karena Nabi dan para sahabatnya pada tahun Hudaibiyah, ketika mereka terkepung (terhalang) oleh orang-orang kafir Quraisy sehingga
tidak dapat memasuki Tanah Haram, mereka mencukur rambut dan menyembelih hewan kurban mereka di luar Tanah Haram. Adapun di saat aman dan dapat sampai ke Tanah Haram maka mereka tidak diperbolehkan mencukur rambut; hattaa yablughal hadyu mahillaHu (“Sehingga kurban sampai ke tempat penyembelihannya,”) dan selesailah pelaksanaan ibadah haji dari semua amalan manasik haji dan umrah, jika ia mengerjakan haji qiran, atau mengerjakan salah satu dari keduanya jika ia melakukan haji ifrad, atau Tamattu.

Haji Qiran: Umrah dan haji dilakukan secara bersamaan.
Haji Ifrad: Berhaji dan berumrah secara terpisah. Selesai haji baru umrah atau umrah sebelum musim haji, kemudian berhaji dimusim haji.
Haji Tamattu’: Mengerjakan umrah di musim haji, kemudian mengerjakan haji.

Sebagaimana ditegaskan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Hafshah, ia menanyakan: “Ya Rasulullah, mengapa orang-orang bertahallul dari umrah, sementara engkau sendiri tidak bertahalul dari umrahmu?” Maka Rasulullah pun menjawab, “Sesungguhnya aku telah membiarkan rambutku menggempal, kusut dan mengikat binatang kurbanku sehingga aku tidak akan bertahallul sebelum menyembelihnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan firman Allah: fa man kaana minkum mariidlan aubiHii adzam mir ra’siHii fa fidyatum min syiyaamin au shadaqatin au nusuk (“Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya [lalu ia mencukur], maka wajib baginya membayar fidyah, yaitu berpuasa, bersedekah atau berkurban.”)

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abdur Rahman bin Ashbahani, aku pernah mendengar Abdullah bin Ma’qil berkata, aku pernah duduk dekat Ka’ab bin Ajrah di masjid ini, yaitu masjid Kufah. Lalu kutanyakan kepadanya mengenai fidyah dengan puasa, ia pun menjawab, aku pernah dibawa menghadap Nabi saw, sedang kutu berjatuhan di wajahku, maka beliau bersabda: “Aku tidak menduga bahwa gangguan yang engkau alami sampai seperti ini, apakah engkau mempunyai kambing?” “Tidak,” jawabku. Kemudian beliau saw. bersabda: “Berpuasalah tiga hari atau berikanlah makan kepada enam orang miskin, setiap orang miskin memperoleh setengah sha’ (Sha’ = 2 mud, 1 mud = 6 ons) makanan dan cukurlah rambutmu.” Jadi, lanjut Ka’ab bin Ajrah, ayat tersebut diturunkan khusus mengenai diriku, dan secara umum untuk kalian.

Imam Ahmad meriwayatkan, dari Ka’ab bin Ajrah, katanya, aku pernah dikunjungi Nabi ketika aku tengah menyalakan api di bawah kuali, sementara kutu berjatuhan di wajahku, atau ia mengatakan, di dahiku. Maka beliau pun bertanya, “Kutu-kutu kepalamu itukah yang menyakitimu?” “Ya,” jawabku. kemudian beliau bersabda, “Cukurlah rambutmu dan berpuasalah tiga hari atau berikanlah makan kepada enam orang miskin atau sembelihlah kurban.”

Mengenai hadits di atas, Ayub mengatakan, “Aku tidak tahu, mana yang didahulukan.”
Hadits senada juga diriwayatkan Imam Malik, dari Ka’ab bin Ajrah.

Mengenai firman Allah Ta’ala: fa fidyatum min shiyaamin au shadaqatin au nusuk (“Maka wajib baginya membayar fidyah, yaitu berpuasa, atau bersedekah, atau berkurban,”) Ibnu Abbas, mengatakan, “Jika menggunakan kata “au” (atau), maka manapun dari ketiga hal itu yang engkau kerjakan, maka engkau akan mendapatkan pahala.”

Berkenaan dengan hal itu, penulis (Ibnu Katsir) katakan, yang demikian itu merupakan madzhab empat imam dan utama pada umumnya. Dalam hal ini, seseorang diberikan pilihan, jika menghendaki ia boleh berpuasa, dan jika menghendaki ia boleh bersedekah, dengan tiga sha’ makanan, setiap orang miskin mendapatkan setengah sha’ makanan atau sama dengan dua mud, dan jika berkehendak ia juga boleh menyembelih kurban dan menyedekahkannya kepada para fakir miskin. Artinya, mana saja dari ketiga hal itu yang dipilih, maka sudah cukup baginya. Oleh karena lafadz al-Qur’an menerangkan keringanan, maka dijelaskan dari hal yang lebih mudah kepada yang lebih mudah lagi, yaitu: fa fidyatum min shiyaamin au shadaqatin au nusuk (“Maka wajib baginya membayar fidyah, yaitu berpuasa, atau bersedekah, atau berkurban,”)

Dan ketika Nabi saw. menyuruh Ka’ab bin Ajrah melakukan hal itu, beliau membimbingnya kepada pilihan yang lebih utama, beliau bersabda, “Sembelihlah kambing, atau berikan makanan kepada enam orang miskin, atau berpuasalah tiga hari.” Semuanya itu baik dalam kedudukannya masing-masing. Segala puji bagi Allah.

Hisyam menceritakan, Laits memberitahu kami, dari Thawus, bahwa ia pernah berkata: “Fidyah berupa kurban atau memberikan makanan, dilakukan di Makkah, sedangkan puasa, boleh dilakukan di mana saja.”
Hal yang sama juga dikemukakan oleh Mujahid, Atha’, dan Hasan al-Bashri.

Dan firman Allah: fa idzaa amintum fa manit tamatta’a bil ‘umrati ilal hajji famastaisara minal Hadyi (“Jika kamu sudah merasa aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji [di dalam bulan haji], [wajiblah ia menyembelih] kurban yang mudah didapat.”) Artinya, jika memungkinkan bagi kalian mengerjakan manasik haji, maka barangsiapa di antara kalian yang mengerjakan umrah diteruskan kepada haji, termasuk berihram untuk haji dan umrah, atau berihram untuk umrah terlebih dahulu dan setelah itu berihram untuk haji yang disebut tamattu’ khusus, dan inilah yang dikenal dikalangan para fuqaha. Adapun tamattu’ yang bersifat umum, mencakup dua bagian tersebut. Sebagaimana ditegaskan dalam beberapa hadits shahih. Karena di antara para perawi ada yang menyatakan, Rasulullah bertamattu’, dan ada juga yang menyatakan bahwa Rasulullah mengerjakan haji qiran, dan tidak ada perbedaan pendapat bahwa beliau menggiring (membawa) hewan kurban.

Dan Allah swt. berfirman: fa manit tamatta’a bil ‘umrati ilal hajji famastaisara minal Hadyi (“Maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji [di dalam bulan haji], [wajiblah ia menyembelih] kurban yang mudah didapat.”) Maksudnya, hendaklah ia menyembelih apa yang mampu ia dapatkan, minimal kambing, dan boleh juga menyembelih sapi, karena Rasulullah pernah menyembelih sapi untuk isteri-isterinya.

Al-Auza’i meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah pernah menyembelih sapi untuk isteri-isterinya, yang sedang mengerjakan haji tamattu’. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Mardawaih.

Ini menunjukkan disyari’atkannya tamattu’. Sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim, dari Imran bin Hushain, ia menuturkan, “Ayat tamattu’ diturunkan dalam kitab Allah dan kami pernah mengerjakannya bersama Rasulullah saw. Kemudian tidak diturunkan ayat yang mengharamkan dan melarangnya sampai beliau wafat. Lalu ada seseorang menyatakan pendapatnya sekehendak hatinya.

Al-Bukhari mengatakan, “Disebutkan bahwa orang itu adalah Umar.” Apa yang dikatakan al-Bukhari, ini telah dinyatakan secara jelas pernah melarang orang-orang bertamattu’ seraya berujar, “Jika kita pada kitab Allah, maka sesungguhnya Dia menyuruh kita menyempurnakannya, yakni firman-Nya: wa atimmul hajja wal ‘umrata lillaaHi (“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.”)

Sebenarnya Umar tidak melarang haji tamattu’ dalam arti mengharamkannya. Ia melarangnya supaya banyak orang yang menuju Baitullah menunaikan ibadah haji bersama umrah, sebagaimana yang telah dikemukakannya.

Dan firman Allah swt: fa mal lam yajid fashiyaamu tsalaatsata ayyaamin fil hajji wa sab’atin idzaa raja’tum tilka ‘asyaratun kaamilatun (“Tetapi jika ia tidak menemukan [hewan kurban atau tidak mampu], maka ia wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari lagi jika kamu sudah pulang kembali. Itulah sepuluh hari yang sempurna.”) Allah Ta’ala menyatakan, barangsiapa yang tidak menemukan hewan kurban, maka hendaklah ia berpuasa tiga hari pada hari-hari mengerjakan manasik. Para ulama mengatakan, “Yang lebih ulama adalah berpuasa sebelum Arafah, yaitu dalam 10 hari pertama (bulan Dzulhijjah).” Demikian dikatakan Atha’. Atau boleh juga dimulai dari waktu berihram, menurut Ibnu Abbas dan ulama lainnya, berdasarkan firman-Nya, “Dalam masa haji.”

Dan asy-Sya’abi membolehkan berpuasa pada hari Arafah dan dua hari sebelumnya. Demikian pula dikatakan Mujahid, Sa’id bin Jubair, as-Suddi, Atha’, Thawus, al-Hakam, Hasan al-Bashri, Hamad, Ibrahim, Abu Ja’far al-Baqir, Rabi’ bin Anas, dan Muqatil bin Hayyan.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, “Jika seseorang tidak menemukan hewan kurban, maka ia harus berpuasa tiga hari pada masa haji sebelum hari Arafah. Jika hari Arafah merupakan hari puasa yang ketiga, maka telah sempurnalah puasanya. Sedangkan puasa tujuh hari dilakukan sepulang dari haji.”

Hal senada juga diriwayatkan oleh Abu Ishak dari Wabrah, dari Ibnu Umar, ia mengatakan, “Yaitu berpuasa satu hari sebelum hari Tarwiyah, pada hari Tarwiyah, dan pada hari Arafah.” Demikian juga yang diriwayatkan oleh Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Ali. Jika ia belum berpuasa pada hari-hari itu atau tersisa sebagian dari hari itu sebelum hari raya, maka apakah ia boleh berpuasa pada hari-hari Tasyriq?”

Mengenai hal tersebut terdapat dua pendapat di antara para ulama, dan keduanya juga merupakan pendapat Imam Syafi’i. Menurut pendapatnya yang lama (qaulul qadim), yaitu bahwa ia boleh berpuasa pada hari-hari itu, berdasarkan pads ucapan Aisyah radhiallahu ‘anha dan Ibnu Umar dalam kitab Shahih al-Bukhari, “Tidak diberikan keringanan berpuasa pada hari-hari Tasyriq kecuali bagi orang yang tidak mendapatkan hewan kurban.” Demikian diriwayatkan Imam Malik dari az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah, juga diriwayatkan dari Salim, dari Ibnu Umar serta diriwayatkan dari keduanya melalui beberapa jalur.

Dan juga diriwayatkan Sufyan, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Ali, katanya, “Barangsiapa yang tertinggal mengerjakan puasa tiga hari pada saat haji, maka ia boleh mengerjakannya pada hari-hari Tasyriq.” Hal itu dikemukakan pula oleh Ubaid bin Umair al-Laitsi, dari Ikrimah, Hasan al-Bashri, dan Urwah bin Zubair. Mereka berpendapat demikian itu didasarkan pada keumuman firman Allah Ta’ala: fa shiyaamu tsalaatsati ayyaamin fil hajji (“Maka ia wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji.”) Dan menurut pendapat baru Imam Syafi’i (qaulul jadid) bahwasanya tidak diperbolehkan berpuasa pada hari-hari Tasyriq, berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan Muslim, dari Qutaibah al-Hadzali katanya, Rasulullah bersabda: “Hari-hari Tasyriq itu adalah hari-hari makan, minum, dan dzikir kepada Allah swt.” (HR. Imam Muslim)

Hari Tarwiyah: tanggal 8 Dzu1hijjah.
Hari Arafah: tanggal 10 Dzulhijjah.
Hari Taysriq: tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah.

Firman-Nya: wa sab’atin idzaa raja’tum (“Dan tujuh hari [lagi] jika kamu sudah pulang kembali.”) Mengenai firman-Nya ini terdapat dua pendapat.

Pertama, pada saat kalian berada dalam perjalanan pulang. Karena itu Mujahid mengatakan: “Itu merupakan rukhshah, jika ia menghendaki ia boleh berpuasa dalam perjalanan.” Hal senada juga dikemukakan oleh Atha’ bin Abi Rabah.

Kedua, pada saat kalian sudah tiba di negeri kalian. Abdur Razak menceritakan, ats-Tsauri memberitahu kami, dari Yahya bin Sa’id, dari Salim, aku pernah mendengar Ibnu Umar membaca ayat: fa mal lam yajid fashiyaamu tsalaatsata ayyaamin fil hajji wa sab’atin idzaa raja’tum; lalu ia mengatakkan: “Jika ia sudah pulang kembali kepada keluarganya.”

Demikian juga yang diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, Abu al-Aliyah, Mujahid, Atha’, Ikrimah, Hasan al-Bashri, Qatadah, az-Zuhri, Rabi’ bin Anas. Dan Abu Ja’far bin Jarir telah menyebutkan ijma’ mengenai hal itu.

Al-Bukhari meriwayatkan, dari Salim bin Abdillah, bahwa Ibnu Umar menuturkan, “Rasulullah pernah mengerjakan haji sebelum umrah pada saat menunaikan haji wada’, lalu beliau berkurban. Beliau menggiring (membawa) hewan kurbannya dari Dzulhulaifah. Pertama beliau berihram untuk umrah, kemudian untuk haji. Selanjutnya orang-orang pun bertamattu’ bersama beliau. Rasulullah memulai dengan umrah dan setelah itu baru haji. Di antara orang-orang itu ada yang berkurban dan menggiring hewan kurbannya, dan ada juga di antara mereka yang tidak berkurban. Setelah Nabi sampai di Makkah, beliau bersabda: “Barangsiapa di antara kalian yang menyembelih kurban, maka tidak dihalalkan baginya mengerjakan sesuatu yang diharamkan baginya hingga ia selesai mengerjakan hajinya. Dan barangsiapa di antara kalian yang tidak menyembelih kurban, maka hendaklah ia mengerjakan thawaf di Baitullah, sa’i di Shafa dan Marwah, hendaklah memotong (memendekkan) rambutnya dan bertahallul, kemudian hendaklah ia berihram (bertalbiah) dengan niat haji. Barangsiapa yang tidak mendapatkan hewan kurban, maka hendaklah ia berpuasa tiga hari pada saat haji dan tujuh hari ketika pulang kembali kepada keluarganya.” Dan seterusnya.

Az-Zuhri mengatakan, Urwah juga memberitahuku, dari Aisyah hal yang sama dengan apa yang diberitahukan Salim kepadaku, dari ayahnya. Hadits tersebut termuat dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Mulsim, dari az-Zuhri.

Firman-Nya: tilka ‘asyaratun kaamilaatun (“Itulah sepuluh hari yang sempurna.”) ada yang mengatakan, hal itu sebagai penekanan, seperti halnya orang Arab mengatakan: “Aku melihat dengan mataku sendiri.” “Aku mendengar dengan telingaku sendiri.” Dan “Aku menulis dengan tanganku sendiri.” Dan seperti firman Allah yang artinya: “Dan tiadalah burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya.” (QS. Al-An’aam: 38)
“Dan Kami telah janjikan kepada Musa [memberikan Taurat] sesudah berlalu waktu tiga malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu sepuluh [malam lagi], maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Rabbnya empat puluh malam.” (QS. Al-A’raaf: 142)

Ada juga yang mengatakan kata “kaamilatun” (sempurna) itu sebagai perintah untuk menyempurnakannya. Demikian yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Dan perintah Allah selanjutnya: dzaalika limal lam yakun aHluHu haadliril masjidil haraam (“Demikian itu [kewajiban membayar fidyah] bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada di sekitar Masjidilharam (orang-orang yang bukan penduduk kota Makkah).”

Ibnu Jarir mengemukakan, “Para ahli takwil (maksudnya ahli tafsir, pent.) berbeda pendapat mengenai siapa yang dimaksud firman Allah tersebut setelah mereka semua sepakat bahwa yang dimaksudkan di sini adalah penduduk Tanah Haram, dan bahwasanya tidak ada tamattu’ bagi mereka.” Sebagian mereka berpendapat bahwa yang dimaksudkan adalah penduduk Tanah Haram saja dan bukan yang lainnya.

Ibnu Basyar meriwayatkan dari Ibnu Abbas, katanya, “Mereka itu adalah penduduk Tanah Haram.” Hal senada juga diriwayatkan Ibnu Mubarak, dari ats-Tsauri. Dalam hal itu Ibnu Jabir memilih madzhab Imam Syafi’i, bahwa mereka itu adalah penduduk Tanah Haram dan orang-orang yang berada di sekitarnya pada jarak yang tidak boleh baginya mengqashar shalat, karena ia termasuk sebagai orang yang menetap di sana dan bukan sebagai musafir. Wallahu a’lam.

Dan firman Allah Ta’ala: wat taqullaaHa (“Dan bertakwalah kepada Allah.”) Yaitu dalam segala hal yang telah diperintahkan dan dilarang-Nya bagi kalian.
Wa’lamuu annallaaHa syadiidul ‘iqaab (“Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah sangat keras sikaan-Nya.”) Maksudnya bagi orang-orang yang menentang perintah-Nya dan melakukan apa yang dilarang-Nya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 195

6 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 195“Dan belanjakanlah (harta bendamu) dijalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)

Sehubungan dengan firman Allah: wa anfiquu fii sabiilillaaHi walaa tulquu bi aidiikum ilat taHlukati (“Dan belanjakanlah (harta bendamu) dijalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan”) Imam al-Bukhari meriwayatkan, dari Hudzaifah, katanya, “Ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan masalah infak.”

Al-Laits bin Sa’ad meriwayatkan dari Yazid bin Abi Habib, dari Aslam Abi Imran, katanya, ada seseorang dari kaum muhajirin di Konstantinopel menyerang barisan musuh hingga mengoyak-ngoyak mereka, sedang bersama kami Abu Ayub al-Anshari. Ketika beberapa orang berkata, “Orang itu telah mencampakkan dirinya sendiri ke dalam kebinasaan,” Abu Ayub bertutur, “Kami lebih mengerti mengenai ayat ini. Sesungguhnya ayat ini diturunkan berkenaan dengan kami. Kami menjadi sahabat Rasulullah, bersama beliau kami mengalami beberapa peperangan, dan kami membela beliau. Dan ketika Islam telah tersebar unggul, kami kaum Anshar berkumpul untuk mengungkapkan suka cita. Lalu kami katakan, sesungguhnya Allah telah memuliakan kita sebagai sahabat dan pmbela Nabi sehingga Islam tersebar luas dan memiliki banyak penganut. Dan kita telah mengutamakan beliau daripada keluarga, harta kekayaan, dan anak-anak. Peperangan pun kini telah berakhir, maka sebaiknya kita kembali pulang kepada keluarga dan anak-anak kita dan menetap bersama mereka, maka turunlah ayat ini kepada kami:

wa anfiquu fii sabiilillaaHi walaa tulquu bi aidiikum ilat taHlukati (“Dan belanjakanlah (harta bendamu) dijalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan”) Jadi, kebinasaan itu terletak pada tindakan kami menetap bersama keluarga dan harta kekayaan, serta meninggalkan jihad.

Hadits di atas diriwayatkan Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Hibban dalam kitab Shahih, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak, semuanya bersumber dari Yazid bin Abi Habib. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih gharib. Sedangkan menurut al-Hakim hadits ini memenuhi persyaratan al-Bukhari dan Muslim, tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.

Abu Bakar bin Iyasy meriwayatkan, dari Abu Ishaq as-Subai’i, bahwa ada seseorang mengatakan kepada al-Bara’ bin Azib, “Jika aku menyerang musuh sendirian, lalu mereka membunuhku, apakah aku telah mencampakkan diriku ke dalam kebinasaan?” Al-Bara’menjawab, “Tidak, karena Allah Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya [yanga artinya]: “Berperanglah kamu di jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajibanmu sendiri.” (QS. An-Nisaa’: 84).
Sedangkan ayat (al-Baqarah: 195) ini berkenaan dengan infak.”

Hadits di atas diriwayatkan Ibnu Mardawaih, juga al-Hakim dalam Mustadrak, dari Israil, dari Abu Ishak. Al-Hakim mengatakan, “hadits ini shahih menurut persyaratan al-Bukhari dan Muslim, meskipun keduanya tidak meriwayatkan.”

Dan at-Tirmidzi juga meiwayatkan hadits tersebut, dari al-Bara’. Kemudian al-Barra’ menuturkan riwayat ini. Dan setelah firman Allah Ta’ala: laa tukallafu illaa nafsaka (“Tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajibanmu sendiri,”) la mengatakan, “Tetapi kebinasaan itu apabila seseorang melakukan perbuatan dosa, maka ia mencampakkan dirinya ke dalam kebinasaan dan tidak mau bertaubat.”

Ibnu Abi Hatim mengemukakan, bahwa Abdur Rahman al-Aswad bin Abdi Yaghuts memberitahukan, bahwa ketika kaum Muslimin mengepung Damaskus, ada seseorang dari Azad Syanu’ah tampil dan dengan cepat bertolak untuk menyambut musuh sendirian. Maka kaum muslimin pun mencelanya karena perbuatannya itu. Kemudian mereka melaporkan kejadian itu kepada Amr bin al-‘Ash. Setelah itu Amr memerintahkan kepadanya agar kembali seraya menyitir firman Allah Ta’ala: walaa tulquu bi aidiikum ilat taHlukati (“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”)

Berkata Hawn al-Bashri, “Maksud dari ayat ini ialah bakhil (kikir).” Masih mengenai firman Allah Ta’ala tersebut, Samak bin Harb meriwayatkan dari an-Nu’man bin Basyir, “Ayat ini mengenai seseorang yang melakukan perbuatan dosa, lalu ia yakin bahwa ia tidak akan diampuni, maka ia pun mencampakkan dirinya sendiri ke dalam kebinasaan. Artinya, ia semakin berbuat dosa, sehingga binasa.”

Oleh karena itu diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas: “Bahwa kebinasaan itu adalah adzab Allah.”

Ibnu Wahab meriwayatkan dari Abdullah bin Iyasy, dari Zaid bin Aslam mengenai firman Allah Ta’ala: wa anfiquu fii sabiilillaaHi walaa tulquu bi aidiikum ilat taHlukati (“Dan belanjakanlah (harta bendamu) dijalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan”) Bahwasanya ada beberapa orang yang pergi bersama dalam delegasi yang diutus Rasulullah tanpa membawa bekal (nafkah), lalu Allah memerintahkan mereka mencari bekal (nafkah) dari apa yang telah dikaruniakan-Nya serta tidak mencampakkan diri ke dalam kebinasaan. Kebinasaan berarti seseorang mati karena lapar dan haus atau (keletihan) berjalan.

Dan Allah swt. berfirman kepada orang-orang yang berkecukupan: wa ahsinuu innallaaHa yuhibbul muhsiniin (“Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah meriyukai orang-orang yang berbuat baik.”) Ayat ini mengandung perintah berinfak di jalan Allah dalam berbagai segi amal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah dan dalam segi ketaatan, terutama membelanjakan dan menginfakkan harta kekayaan untuk berperang melawan musuh serta memperkuat kaum muslimin atas musuh-musuhnya. Selain itu, ayat ini juga memberitahukan bahwa meninggalkan infak bagi orang yang terbiasa dan selalu berinfak berarti kebinasaan dan kehancuran baginya. Selanjutnya Dia menyambung dengan perintah untuk berbuat baik, yang merupakan tingkatan ketaatan tertinggi, sehingga Allah swt. pun berfirman: wa ahsinuu innallaaHa yuhibbul muhsiniin (“Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 194

6 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 194“Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum gishash. Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketaubilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 194)

Ikrimah meriwayatkan, dari Ibnu Abbas, adh-Dhahhak, as-Suddi, Qatadah, Muqsim, Rabi’ bin Anas, Atha’, dan ulama lainnya: “Ketika Rasulullah berangkat umrah pada tahun ke-6 Hijrah, beliau bersama serombongan kaum muslimin dihalang-halangi dan dirintangi oleh orang-orang musyrik untuk masuk dan sampai ke Baitullah pada bulan Dzulqa’dah yang merupakan bulan haram sehingga beliau membuat perjanjian dengan mereka untuk masuk pada tahun berikutnya. Kemudian beliau bersama kaum muslimin masuk ke Baitullah pada tahun berikutnya dan Allah pun memberikan balasan terhadap kaum musyrikin, maka turunlah pada saat itu ayat: asy-syaHrul haraamu bisy-syaHril haraami wal hurumaatu qishaash (“Bulan haram dengan bulan haram dan pada sesuatu yang patut dihormati berlaku hukum qishash.”)

Imam Ahmad meriwayatkan, dari Jabir bin Abdullah, katanya, “Rasulullah tidak pernah berperang pada bulan haram (yang dihormati) kecuali bila diserang dan mereka menyerang. Jika bulan haram tiba maka beliau menghentikan peperangan sampai bulan haram berlalu.” (HR. Ahmad) Hadits ini berisnad shahih.

Oleh karena itu ketika sampai berita kepada Rasulullah, yang pada waktu itu beliau sedang berada di perkemahan Hudaibiyah bahwa Utsman dibunuh, padahal Utsman beliau utus menemui orang-orang musyrik untuk suatu misi, maka beliau membaiat para sahabat yang berjumlah 1400 orang di bawah sebatang pohon untuk memerangi orang-orang musyrik. Setelah beliau menerima berita bahwa Utsman tidak terbunuh, maka beliau pun mengurungkan niatnya tersebut dan mengalihkan kepada perdamaian dan perjanjian sehingga terjadilah perjanjian Hudaibiyah.

Dan firman-Nya: fa mani’tadaa ‘alaikum fa’taduu ‘alaiHi bimitsli ma’tadaa ‘alaikum (“Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kainu, maka seranglah ia seimbang dengan serangannya terhadapmu.”) Allah swt. memerintahkan berlaku adil, bahkan terhadap kaum musyrikin sekalipun.
Sebagaimana Dia telah berfirman yang artinya: “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan halasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.” (QS. An-Nahl: 126)

Firman-Nya: wattaqullaaHa wa’lamuu annallaaHa ma’al muttaqiin (“Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”) Allah Ta’ala memerintahkan mereka untuk senantiasa berbuat taat dan bertakwa kepada-Nya sekaligus memberitahukan bahwa Dia selalu bersama orang-orang yang bertakwa dengan senantiasa menolong dan mendukung mereka di dunia dan akhirat.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 190-193

6 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 190-193“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Baqarah: 190) Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Makkah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Baqarah: 191) Kemudian Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang. (QS. Al-Baqarah: 192) Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya untuk Allah semata-mata. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Baqarah: 193)

Mengenai firman Allah: wa qaatiluu fii sabiilillaaHil ladziina yuqaatiluunakum (“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangimu.”) Abu Ja’far ar-Razi meriwayatkan dari Rabi’ bin Anas, dari Abu al-Aliyah, ia mengatakan, “Ini adalah ayat pertama yang turun mengenai perang di Madinah. Setelah ayat ini turun, maka Rasulullah memerangi orang-orang yang telah memeranginya dan menahan diri terhadap orang-orang yang tidak memeranginya hingga turun surat at-Taubah. Oleh karena itu di sini Allah A berfirman:

waqtuluuHum haitsu tsaqiftumuuHum wa akhrijuuHum min haitsu akhrajuukum (“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusirmu [Mekkah].”) Artinya, hendaklah tekad kalian bangkit untuk memerangi mereka, sebagaimana tekad mereka bangkit untuk memerangi kalian. Juga tekad untuk mengusir mereka dari negeri di mana mereka telah mengeluarkan kalian darinya sebagai pembalasan yang setimpal.

Firman Allah Ta’ala: walaa ta’taduu innallaaHa laa yuhibbul mu’tadiin (“Dan janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”) Maksudnya, berperanglah di jalan Allah Ta’ala tetapi jangan berlebih-lebihan dalam melakukannya. Termasuk dalam hal ini adalah melakukan berbagai macam larangan, sebagaimana dikatakan Hasan al-Bashri, seperti menyiksa, menipu, membunuh para wanita, anak-anak, dan orang-orang lanjut usia yang sudah lemah pikirannya dan tidak mampu berperang, para pendeta, penghuni rumah ibadah, membakar pepohonan, membunuh hewan tanpa adanya suatu maslahat. Sebagaimana hal itu telah dikatakan oleh Ibnu Abbas, Umar bin Abdul Aziz, Muqatil bin Hayyan, dan beberapa ulama lainnya.

Oleh karena itu diriwayatkan dalam kitab Shahih Muslim dari Buraidah, bahwa Rasulullah bersabda: “Berperanglah di jalan Allah. Perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah. Berperanglah tetapi jangan berkhianat, jangan melanggar janji, jangan melakukan penyiksaan, jangan membunuh anak-anak, dan jangan pula membunuh para penghuni rumah ibadah.” (HR. Muslim)

Hadits senada diriwayatkan pula oleh Abu Dawud, dari Anas, secara marfu’.

Dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia menceritakan, “Ditemukan seorang wanita terbunuh dalam suatu peperangan, maka Nabi melarang pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak.”

Imam Ahmad meriwayatkan, dari Rabi’ bin Hirasy, katanya, aku pernah mendengar Hudzaifah berkata, Rasulullah pernah memberikan beberapa contoh kepada kami, satu, tiga, lima, tujuh, sembilan, dan sebelas. Lalu beliau memberikan satu contoh saja di antaranya dan mengabaikan yang lainnya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya ada suatu kaum yang sangat lemah dan miskin. Mereka diperangi oleh kaum yang perkasa dan penuh permusuhan. Tetapi Allah memenangkan kaum yang lemah itu, mereka dengan sengaja mempekerjakan dan menindas musuh mereka itu, sehingga Allah murka kepada mereka sampai hari kiamat.”

Hadits ini berisnad hasan. Dan maksudnya, ketika kaum yang lemah itu dimenangkan atas orang-orang yang kuat, mereka pun bertindak melampaui batas dengan mempekerjakan kaum yang kuat itu pada pekerjaan yang tidak pantas. Karena itu Allah Ta’ala murka atas tindakan mereka yang melampaui batas itu. Dan cukup banyak hadits yang membahas mengenai masalah ini.

Oleh karena jihad mengandung resiko lenyapnya nyawa dan terbunuhnya banyak orang, maka Allah mengingatkan bahwa kekafiran, kemusyrikan, dan berpaling dari jalan Allah Ta’ala yang meliputi diri mereka itu lebih berat, kejam dan dahsyat bahayanya dari pada pembunuhan. Oleh karena itu, Dia berfirman: wal fitnatu asyaddu minal qatli (“Dan fitnah itu lebih besar bahayanya daripada pembunuhan.”)

Abu Malik mengatakan: “Artinya, apa yang sedang kalian perbuat itu lebih besar bahayanya dari pada pembunuhan.”

Mengenai firman Allah: wal fitnatu asyaddu minal qatli (“Dan fitnah itu lebih besar bahayanya daripada pembunuhan.”) Abu al-Aliyah, Mujahid, Said bin Jubair, Ikrimah, Hasan al-Bashri, Qatadah, adh-Dhahhak, dan Rabi’ bin Anas mengatakan, “Syirik itu lebih berbahaya daripada pembunuhan.”

Dan Firman-Nya: walaa tuqaatiluuHum ‘indal masjidil haraam (“Dan janganlah kamu memerangi mereka di masjidil Haram.”) sebagaimana dinyatakan dalam shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya negeri ini telah diharamkan (disucikan) Allah pada hari penciptaan langit dan bumi, dan ia menjadi haram melalui pengharaman Allah sampai hari kiamat kelak. Dan tidak dihalalkan kecuali sesaat pada siang hari. Dan sesungguhnya pada saat ini adalah haram dengan pengharaman Allah sampai hari kiamat. Pepohonannya tidak boleh ditebang dan rerumputannya tidak boleh dicabut. Jika ada seseorang mencari-cari keringanan dengan dalih peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah, maka katakanlah, “Sesungguhnya Allah mengizinkan bagi Rasul-Nya dan tidak memberikan izin kepada kalian.”

Maksudnya Allah mengizinkan beliau memerangi penduduknya pada waktu penaklukan kota Makkah, karena ketika beliau menaklukkan Makkah ada beberapa orang lelaki yang terbunuh di Khandamah. Ada pula yang mengatakan bahwa penaklukan itu dilakukan secara damai, karena ucapan beliau: “Barangsiapa yang menutup pintu rumahnya maka ia aman, barangsiapa masuk masjid maka ia juga aman, dan barangsiapa masuk rumah Abu Sufyan maka ia juga aman.” (HR. Muslim)

Firman-Nya: hattaa yuqaatiluukum fiiHi fa in qaataluukum faqtuluuHum kadzaalika jazaa-ul kaafiriin (“Kecuali jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.”) Artinya, janganlah kalian memerangi mereka di Masjidilharam kecuali jika mereka mulai menyerang lebih dahulu. Maka ketika itu kalian boleh memerangi dan membunuh mereka di sana untuk mempertahankan diri dari penyerangan, sebagaimana Nabi telah membai’at para sahabatnya pada saat perjanjian Hudaibiyah di bawah sebuah pohon untuk berperang ketika kaum Quraisy dan pendukung mereka dari Bani Tsaqif dan kumpulan dari berbagai kabilah pada tahun itu berkomplot memusuhi beliau.

Kemudian Allah menahan peperangan itu terjadi di antara mereka, Dia berfirman yang artinya: “Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan menahan tangan dari (membinasakan) mereka di tengah kota Mekkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka.” (QS Al-Fath: 24)

Firman Allah: fa inintaHau fa innallaaHa ghafuurur rahiim (“Kemudian jika mereka berhenti [dari memusuhi kamu], maka sesungguuhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) Artinya, jika mereka meninggalkan peperangan di tanah suci Makkah dan kembali kepada Islam serta bertaubat, maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka. Dan tiada suatu dosa yang terasa berat bagi Allah untuk diampuni-Nya bagi orang yang bertaubat dari dosa itu kepada-Nya.

Selanjutnya Allah memerintahkan memerangi orang-orang kafir dan berfirman: hattaa laa takuuna fitnatun (“Sehingga tidak ada lagi fitnah”) maksudnya tidak ada kemusyrikan. Demikian dikemukakan oleh Ibnu Abbas, Abu al-Aliyah, Mujahid, Hasan al-Bashri, Qatadah, Rabi’ bin Anas, Muqatil bin Hayyan, as-Suddi, dan Zaid bin Aslam.

Wa yakuunad diinu lillaaHi (“Dan [sehingga] ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.”) Maksudnya, sehingga agama Allah Ta’ala yang benar-benar menang dan unggul di atas semua agama. Sebagaimana telah ditegaskan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Musa al-Asy’ari, katanya Rasulullah pernah ditanya mengenai seseorang yang berperang karena keberanian, berperang karena kesombongan, dan berperang karena riya’, manakah yang termasuk berperang di jalan Allah? Beliau menjawab: “Barangsiapa berperang dengan tujuan agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka ia telah berperang di jalan Allah.”

Dan diriwayatkan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim, bahwa Nabi bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak untuk diibadahi selain Allah. Apabila mereka mengatakannya, maka darah dan harta kekayaan mereka mendapat perlindungan dariku, kecuali dengan haknya dan perhitungan mereka terserah kepada Allah.”

Dan firman-Nya: fa inintaHau falaa ‘udwaana illaa ‘aladh dhaalimiin (“Jika mereka berhenti [dari memusuhi kamu], maka tidak permusuhan lagi kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.”) Allah swt. berfirman, jika mereka menghentikan perbuatan mereka berupa kemusyrikan dan pembunuhan terhadap orang-orang mukmin, maka hentikanlah penyerangan terhadap mereka. Dan orang yang tetap memerangi mereka setelah itu, maka ia termasuk zhalim, dan tiada permusuhan kecuali kepada orang-orang zhalim.

Demikian itulah makna ungkapan Mujahid, “Tidak diperbolehkan bagi seseorang memerangi kecuali terhadap orang yang memerangi.”

Ayat tersebut juga bermakna, jika mereka berhenti, berarti mereka membebaskan diri dari kezhaliman, yaitu kemusyrikan, karenanya tidak ada lagi permusuhan setelah itu terhadap mereka.

Dan yang dimaksud dengan permusuhan di sini adalah pembalasan dan penyerangan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala berikut ini: “Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadap kamu.” (QS. Al-Baqarah: 194)

Oleh karena itu, Ikrimah dan Qatadah mengatakan: “Orang zhalim adalah orang yang menolak mengucapkan: laa ilaaHa illallaH (tiada Ilah yang hak selain Allah).”

Mengenai firman Allah Ta’ala: wa qaatiluuHum hattaa laa takuuna fitnatun (“Dan perangilah mereka itu sehingga tidak ada fitnah lagi,”) Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Nafi’, dari Ibnu Umar, katanya bahwa ia pernah didatangi oleh dua orang pada saat fitnah Ibnu Zubair. Kedua orang itu berkata, “Sesungguhnya orang-orang telah berbuat kerusakan, dan engkau putera Umar, serta sahabat Nabi, apa yang menghalangimu untuk keluar berperang?” Ibnu Umar menjawab, “Yang menghalangiku adalah bahwa Allah telah mengharamkan darah saudaraku.” Mereka berdua berkata lagi: “Bukankah Allah telah berfirman, “Dan perangilah mereka itu sehingga tidak ada fitnah lagi?” Ibnu Umar pun menjawab: “Kami telah berperang sehingga tidak ada lagi fitnah dan ketaatan hanya untuk Allah. Sedangkan kalian hendak berperang dengan tujuan agar terjadi fitnah dan supaya segala macam ketaatan untuk selain Allah.”

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 189

6 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 189“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. 2:189)

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa orang-orang pernah bertanya kepada Rasulullah menenai bulan sabit, maka turunlah ayat: yas-aluunaka ‘anil aHillati qul Hiya mawaaqiitu lin naasi (“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia.”) Dengan bulan sabit itu mereka mengetahui jatuh tempo hutang mereka dan iddah isteri mereka, serta waktu menunaikan ibadah haji.

Abdur Razak meriwayatkan dari Ibnu Umar, katanya, Rasulullah bersabda: “Allah menjadikan bulan sabit sebagai penentu waktu bagi manusia. Maka berpuasalah kalian karena kalian telah melihatnya dan berbukalah karena melihatnya juga. Jika cuaca mendung, maka genapkanlah menjadi 30 hari.”

Hadits ini diriwayatkan pula oleh al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak, dan menurutnya sanad hadits ini shahih, tetapi al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkan.

Dan firman-Nya: wa laisal birru an ta’tul buyuuta min dhuHuuriHaa walaa kinnal birra manit taqaa wa’tul buyuuta min abwaabiHaa (“Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan itu adalah kebajikan orang-orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya.”) Al-Bukhari meriwayatkan dari al-Bara’, katanya, “Jika mereka hendak berihram pada masa Jahiliyah, mereka memasuki Baitullah dari arah belakangnya. Maka Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya: wa laisal birru an ta’tul buyuuta min dhuHuuriHaa walaa kinnal birra manit taqaa wa’tul buyuuta min abwaabiHaa.

Muhammad bin Ka’ab mengatakan, Dahulu, jika seseorang beni’tikaf, ia tidak memasuki tempat tinggalnya melalui pintu rumah, lalu Allah Ta’ala Allah menurunkan ayat ini.

Dan firman Allah: wat taqullaaHa la’allakum tuflihuun (“Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”) Artinya, bertakwalah kepada Allah, dengan mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.

la’allakum tuflihuun (“Agar kalian beruntung.”) Yaitu besok, pada saat kalian berada di hadapan-Nya, di mana Dia akan memberikan balasan kepada kalian secara sempurna dan penuh.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 188

6 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 188“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. 2:188)

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan, dari Ibnu Abbas, bahwa hal ini berkenaan dengan seseorang yang mempunyai tanggungan harta kekayaan tetapi tidak ada saksi terhadapnya dalam hal ini, lalu ia mengingkari harta itu dan mempersengketakannya kepada penguasa, sementara itu ia sendiri mengetahui bahwa harta itu bukan menjadi haknya dan mengetahui bahwa ia berdosa, memakan barang haram. Demikian diriwayatkan dari Mujahid, Sa’id bin Jubair, Ikrimah, Hasan al-Bashri, Qatadah, as-Suddi, Muqatil bin Hayyan, dan Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam, mereka semua mengatakan, “Janganlah engkau bersengketa sedang engkau mengetahui bahwa engkau dhalim.”

Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim disebutkan, dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah bersabda: “Ketahuilah, aku hanyalah manusia biasa, dan datang kepadaku orang-orang yang bersengketa. Boleh jadi sebagian dari kalian lebih pintar berdalih dari pada sebagian lainnya sehingga aku memberi keputusan yang menguntungkannya. Karena itu, barangsiapa yang aku putuskan mendapat hak orang Muslim yang lain, maka sebenarnya itu tidak lain hanyalah sepotong api neraka. Maka terserah ia, mau membawanya atau meninggalkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa keputusan hakim itu sesungguhnya tidak dapat merubah sedikitpun hukum sesuatu, tidak membuat sesuatu yang sebenarnya haram menjadi halal atau yang halal menjadi haram, hanya saja sang hakim terikat pada apa yang tampak darinya. Jika sesuai, maka itulah yang dikehendaki, dan jika tidak maka hakim tetap memperoleh pahala dan bagi yang melakukan tipu muslihat memperoleh dosa.

Oleh karena itu Allah, berfirman: walaa ta’kuluu amwaalakum bainakum bil baathili wa tudluu biHaa ilal hukkaami lita’kuluu fariiqam min amwaalin naasi bil itsmi wa antum ta’lamuun (“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antaramu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (dalam berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”) Maksudnya, kalian mengetahui kebatilan perkara yang kalian dakwahkan dan kalian propagandakan dalam ucapan kalian.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 187

6 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 187“Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan isteri-isterimu, mereka itu adalah pakaian bagi kamu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlab hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 187)

Ini merupakan rukhsah (keringanan) dari Allah swt. bagi kaum muslimin serta penghapusan hukum yang sebelumnya berlaku pada permulaan Islam. Pada saat itu, jika seorang dari kaum muslimin berbuka puasa, maka dihalalkan baginya makan, minum, dan berhubungan badan sampai shalat isya’ atau ia tidur sebelum itu. Jika ia sudah tidur atau shalat Isya’, maka diharamkan baginya makan, minum dan berhubungan badan sarnpai malam berikutnya. Karena itu, mereka pun merasa sangat berat. Yang dimaksudkan dengan ar-rafats pada ayat tersebut adalah al Jima’ (hubungan badan).

Firman Allah Ta’ala: Hunna libaasul lakum wa antum libaasul laHunn (“Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.”) Ibnu Abbas mengatakan: “Artinya, mereka itu sebagai pemberi ketenangan bagi kalian, dan kalian pun sebagai pemberi ketenangan bagi mereka.”

Sedangkan Rabi’ bin Anas mengatakan, “Mereka itu sebagai selimut bagi kalian, dan kalian pun merupakan selimut bagi mereka.”

Sebab turunnya ayat ini sebagaimana dikatakan oleh Ishak dari al-Bar bin Azib, bahwa pada waktu itu para sahabat Nabi, jika seorang berpuasa lalu ia tidur sebelum berbuka, maka ia tidak makan sampai malam berikutnya. Qais bin Sharimah al-Anshar pernah dalam keadaan puasa bekerja seharian di ladang miliknya, dan ketika waktu buka tiba, ia menemui isterinya dan bertanya, “Apakah engkau punya makanan?” Isterinya menjawab, “Tidak, tetapi aku akan pergi mencarikan makanan untukmu.” Maka Qais terkantuk sehingga ia tertidur. Ketika isterinya datang, dan melihat suaminya tidur, ia pun berkata, “Rugilah engkau mengapa engkau tidur?” Pada waktu tengah hari Qais pun jatuh pingsan. Lalu hal itu diceritakan kepada Rasulullah maka turunlah ayat tersebut. Dan karenanya orang-orang pun merasa senang sekali.

Tebtabg nama Qais bin Sharimah al-Anshar; Terjadi perbedaan pendapat mengenai namanya ini, karena adanya perbedaan riwayat. Ada juga yang mengatakan bernama Sharimah bin Qais, atau Ibnu Anas. Dan ada juga yang mengatakan, Dhamurah bin Anas. Ini disebutkan dalam catatan pinggir Manuskrip al-Azhar. Silahkan lihat nama-nama ini dalam kitab al-Ishabah fii tamyiz ash-Shahabah.

Menurut lafadz al-Bukhari di sini, diperoleh melalui jalur Abu Ishak, katanya, “Aku pernah mendengar al-Bara’ menceritakan: Ketika turun perintah puasa Ramadhan, para sahabat tidak mencampuri isteri mereka selama satu bulan Ramadhan penuh. Dan ada beberapa orang yang tidak sanggup menahan nafsu mereka, lalu Allah menurunkan firman-Nya: ‘alimallaaHu annakum kuntum takhtaanuuna anfusakum fataaba ‘alaikum wa ‘afaa ‘ankum (“Allah mengetahui bahwasannya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampunimu dan memberi maaf kepadamu.”)

Dan firman-Nya: uhilla lakum lailatash shiyaamir rafatsu ilaa nisaa-ikum (“Dihalalkan bagimu pada malam bulan puasa bercampur dengan istri-istrimu.”) yang dimaksud dengan ar rafats adalah mencampuri istri.

Hunna libaasul lakum wa antum libaasul laHunna ‘alimallaaHu annakum kuntum takhtaanuuna anfusakum (“Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu.”) Yakni, kalian boleh mencampuri isteri, makan, dan minum setelah shalat Isya’.

fataaba ‘alaikum wa ‘afaa ‘ankum fal aana baasyiruuHunna (“Karena itu Allah mengampuni dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka.”) artinya gaulilah mereka. wabtaghuu maa kataballaaHu lakum (“Dan carilah apa yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu”) yaitu anak.

Wakuluu wasy-rabuu hattaa yatabayyana lakumul khaithul abyadlu minal khaithil aswadi minal fajri tsumma atimmush shiyaama ilal laili (“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai [datang] malam.”) itu adalah pemaafan dan rahmat dari Allah.

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengatakan: wabtaghuu maa kataballaaHu lakum (“Dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu.”) yaitu jima’ (hubungan badan). Sedangkan Amr bin Malik al-Bakri meriwayatkan, dari Abu al-Jauza’ dari Ibnu Abbas, wabtaghuu maa kataballaaHu lakum (“Dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian”) ia mengatakan, yaitu lailatul qadar. Ibnu Jarir lebih memilih pendapat yang mengatakan bahwa ayat ini lebih umum dari semua pengertian tersebut.

Firman-Nya: Wakuluu wasy-rabuu hattaa yatabayyana lakumul khaithul abyadlu minal khaithil aswadi minal fajri tsumma atimmush shiyaama ilal laili (“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai [datang] malam.”) Allah Ta’ala membolehkan makan, minum dan juga menggauli isteri pada malam hari kapan saja seorang yang berpuasa menghendaki sampai tampak jelas sinar pagi dari gelapnya malam. Dan hal itu Dia ungkapkan dengan benang putih dan benang hitam. Kemudian kesamaran ini dijelaskan dengan, firman-Nya, “Yaitu fajar.”

Imam Ahmad meriwayatkan, dari asy-Sya’abi, dari Adi bin Hatim katanya; Ketika ayat: “Wakuluu wasy-rabuu hattaa yatabayyana lakumul khaithul abyadlu minal khaithil aswadi” ini turun aku sengaja mengambil dua ikat tali, satu berwarna putih dan satu lagi berwarna hitam, lalu aku letakkan keduanya di bawah bantalku. Setelah itu aku melihat keduanya, dan ketika sudah tampak olehku secara jelas antara tali yang putih dari yang hitam, maka aku langsung menahan diri (tidak makan, minum dan berjima’). Dan keesokan harinya aku pergi menemui Rasulullah dan kuberitahukan kepada beliau apa yang telah aku lakukan itu.” Maka beliau pun bersabda, “Kalau demikian tentulah bantalmu itu sangat lebar, sebenarnya yang dimaksud adalah terangnya Siang dari gelapnya malam.” (Diwayatkan al-Bukhari dan Muslim.)

Dan sabda beliau, “Kalau demikian tentulah bantalmu sangat lebar,” maksudnya, jika dapat meliputi kedua benang putih dan hitam yang dimaksudkan dalam ayat tersebut, yakni terangnya Siang dan gelapnya malam, bararti bantalmu itu seluas timur dan barat.

Diperbolehkannya makan sampai terbit fajar merupakan dalil disunnahkannya sahur, karena itu termasuk bagian dari rukhsah, dan mengerjakannya adalah dianjurkan. Oleh karena itu dalam sunnah Rasulullah ditegaskan anjuran bersahur. Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan, dari Anas bin Malik, bahwa, Rasulullah bersabda: “Makan sahurlah kalian; karena di dalam sahur itu terdapat berkah.” (HR. al- Bukhari dan Muslim)

Dan diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Amr bin al-‘Ash. nya, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahlul Kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim)

Mengenai anjuran makan sahur ini sudah diterangkan oleh banyak hadits, meski sahur itu hanya dengan satu teguk air, karena hal itu disamakan dengan yang makan. Disunnahkan mengakhirkan makan sahur sampai pada saat munculnya fajar, sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, dari Zaid bin Tsabit, ia menceritakan, “Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah, dan setelah itu kami berdiri untuk mengerjakan shalat.” Anas pun bertanya kepada Zaid, “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab, “Sekitar lima puluh ayat.”

Sedangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, an-Nasa’i dan Ibnu Majah, dari Hudzaifah katanya, “Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah saw. dan hari sudah siang tetapi matahari belum terbit. Hadits tersebut diriwayatkan sendiri oleh Ashim bin Abu Najud. Demikian dikatakan oleh an-Nasa’i, dan dia mengartikan bahwa yang dimaksudkan adalah mendekati siang hari sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik” (Qs. Ath-Thalaq: 2)

Artinya, mereka sudah mendekati masa berakhirnya iddah. Maka merujuklah mereka dengan baik atau ceraikan mereka dengan cara yang baik pula. Dan apa yang dikemukakan inilah yang pasti, yaitu mengartikan hadits tersebut dengan pengertian bahwa mereka makan sahur, namun mereka tidak yakin akan terbitnya fajar, sampai sebagian di antara mereka menyangka sudah terbit fajar, dan sebagian lainnya belum meyakini terbitnya fajar.

Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan dari al-Qasim, dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Adzan Bilal tidak menghalangi makan sahur kalian, karena ia mengumandangkan adzan pada malam hari. Maka makan dan minumlah sehingga mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum, karena ia tidak mengumandangkan adzan melainkan waktu fajar telah terbit.” (Demikian menurut teks al-Bukhari)

Sedangkan Imam Ahmad meriwayatkan, dari Qais bin Thalaq, dari ayahnya, bahwa Rasulullah bersabda: “Fajar itu bukanlah garis memanjang di ufuk, tetapi ia adalah melintang berwarna merah.” (HR. Imam Ahmad dan at-Tirmidzi)

Dan diriwayatkan dari Samurah bin Jundab, bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian tertipu oleh adzan Bilal dan tidak juga oleh warna putih ini, maksudnya cahaya subuh, sehingga merekah.” (HR. Muslim)

Permasalahan.

Allah menjadikan fajar sebagai batas akhir diperbolehkannya jima’, makan dan minum bagi orang yang hendak berpuasa, merupakan dalil bahwa orang yang bangun pagi dalam keadaan junub, maka hendaklah ia mandi serta menyempurnakan puasanya, dan tidak ada dosa baginya. Demikian madzhab empat imam dan jumhur ulama, baik salaf maupun khalaf. Hal itu didasarkan pads hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim, dari Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu anhuma, keduanya pernah bercerita, “Rasulullah pernah bangun pagi (setelah terbit fajar) dalam keadaan junub karena hubungan badan dan bukan karena mimpi, lalu beliau mandi dan berpuasa.”

Dan dalam hadits Ummu Salamah disebutkan, “Kemudian beliau tidak berbuka (sebelum maghrib) dan tidak juga mengqadhanya.”

Tsumma atimmush shiyaama ilal laili (“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai [datang] malam.”) Berbuka puasa pada saat matahari terbenam merupakan tuntutan hukum syar’i, sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim dari Amirul Mukminin Umar bin Khaththab, katanya, Rasulullah pernah bersabda: “Jika malam telah tiba dari sini, dan siang pun telah berlalu dari sini, maka orang yang berpuasa dapat berbuka.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Dan dari Sahal bin Sa’ad as-Sa’di, Rasulullah bersabda: “Kaum muslimin tetap berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits-hadits Shahih disebutkan secara tegas larangan wishal, yaitu menyambung puasa hari ini dengan hari berikutnya, dan tidak makan suatu apapun di antara kedua hari tersebut. Imam Ahmad meriwayatkan, dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian melakukan wishal.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya engkau melakukan wishal.” Beliaupun menjawab, “Sesungguhnya aku tidak seperti kalian, pada malam hari aku diberi makan dan juga minum oleh Rabbku.”

Abu Hurairah berkata, ketika mereka tidak juga menghentikan wishal, Nabi melakukan wishal bersama mereka selama dua hari dua malam. Kemudian mereka melihat hilal, maka beliau pun bersabda, “Seandainya hilal itu tidak segera datang, niscaya akan kutambah wishal ini.” Hal itu beliau lakukan sebagai peringatan dan pelajaran bagi mereka. Hadits ini diriwayatkan pula oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih mereka.

Telah ditegaskan melalui berbagai jalur, bahwa wishal itu dilarang. Di lain pihak ditegaskan pula, bahwa wishal itu hanya dikhususkan bagi Nabi , karena beliau tahan atas hal itu dan diberi pertolongan (oleh Allah).

Jelas bahwa makan dan minum Rasulullah itu bersifat immaterial dan bukan material. Sebab jika bukan makanan dan minuman immaterial, maka ia tidak dikatakan melakukan wishal, sebagaimana dikatakan seorang penyair:

Ia mempunyai banyak cerita kenangan bersamamu
Yang menjadikannya lupa minum dan perbekalan.

Dan firman Allah Ta’ala: walaa tubaasyiruuHunna wa antum ‘aakifuuna fil masaajid (“Janganlah kamu mencampuri mereka itu sedang kamu beri’tikaf di dalam masjid.”) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan, dari Ibnu Abbas: “Bahwa ayat ini berkenaan dengan seseorang yang beri’tikaf di masjid pada bulan Ramadhan atau di luar Ramadhan, Allah mengharamkannya mencampuri isteri pada malam atau siang hari sehingga ia menyelesaikan i’tikafnya.”

Adh-Dhahhak mengatakan, Ada seseorang yang jika beri’tikaf keluar dari masjid dan mencampuri isteri sekendak hatinya. Maka Allah swt. pun berfirman: walaa tubaasyiruuHunna wa antum ‘aakifuuna fil masaajid (“Janganlah kamu mencampuri mereka itu sedang kamu beri’tikaf di dalam masjid.”) Artinya, janganlah kalian mendekati mereka selama kalian masih dalam keadaan i’tikaf di dalam masjid dan tidak pula di tempat lainnya.

Hal senada juga dikemukakan oleh Mujahid, Qatadah, dan beberapa ulama lainnya, yaitu bahwa mereka sebelumnya mengerjakan yang demikian itu sehingga turun ayat ini.

Ibnu Abi Hatim menuturkan, diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Muhammad bin Ka’ab, Mujahid, Atha’, al-Hasan, Qatadah, adh-Dhahhak, as-Suddi, Rabi’ bin Anas, dan Muqatil bin Hayyan, mereka mengatakan, “Seseorang tidak boleh mendekati isterinya ketika ia dalam keadaan beri’tikaf.” Apa yang disebutkan dari mereka inilah yang menjadi kesepakatan para ulama, bahwa orang yang sedang beri’tikaf diharamkan baginya isterinya selama ia masih beri’tikaf di dalam masjid. Kalau ia harus pulang ke rumah karena suatu keperluan, maka tidak diperkenankan baginya berlama-lama di rumah melainkan sekadar untuk keperluannya seperti buang hajat atau makan. Dan tidak diperbolehkan baginya mencium isterinya, juga merangkulnya, serta tidak boleh menyibukkan diri dengan sesuatu selain i’tikaf. Selain itu, ia juga tidak boleh menjenguk orang sakit, tetapi boleh menanyakan keadaannya ketika sedang melewatinya.

I’tikaf ini mempunyai beberapa hukum yang secara rinci diuraikan dalam bab mengenai masalah i’tikaf, di antaranya ada yang telah disepakati para ulama dan ada juga yang masih diperselisihkan. Dan mengenai hal itu telah kami kemukakan pada akhir kitab puasa.

Oleh karena itu, Para fuqaha yang menulil kitab puasa disertai dengan pembahasan tentang i’tikaf, mengikuti cara al-Qur’an yang mengingatkan masalah i’tikaf setelah masalah puasa.

Dalam penyebutan i’tikaf setelah puasa oleh Allah swt. terdapat bimbingan dan peringatan untuk beri’tikaf pada saat puasa atau pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sebagaimana telah ditetapkan dalam sunnah dari Rasulullah, bahwasanya beliau beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga Allah mencabut nyawanya. Dan sepeninggal beliau, isteri-isteri beliau pun mengerjakan i’tikaf. Hadits tersebut diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu ‘anHaa.

Juga diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, bahwa Shafiyah binti Huyay pernah berkunjung kepada Nabi ketika beliau sedang beri’tikaf di dalam masjid. Lalu ia berbicara di sisi beliau beberapa saat. Hal ini terjadi pada malam hari. Setelah itu ia berdiri untuk kembali ke rumahnya, dan Nabi ,’ pun berdiri untuk mengantarnya sampai dirumahnya (Shafiyah). Tempat tinggal Shafiyah ketika itu berada di rumah Usamah bin Zaid, di pinggiran kota Madinah. Di dalam perjalanannya, Rasulullah bertemu dengan dua orang laki-laki dari kaum Anshar. Ketika mereka berdua mengetahui orang itu Nabi, maka keduanya mempercepat langkahnya.

Dalam riwayat lain disebutkan, kedua orang itu bersembunyi karena malu kepada Nabi, karena beliau sedang bersama isterinya, maka Rasulullah bersabda, “Pelanlah kalian, ia ini adalah Shafiyah bin Huyay.” Artinya janganlah kalian mempercepat langkah kalian dan ketahuilah bahwa ia adalah Shafiyah binti Huyay isteriku. Maka keduanya berucap, “Subhanallah, Ya Rasulullah.” Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya syaitan itu masuk dalam diri anak cucu Adam mengikuti aliran darah. Dan sesungguhnya aku khawatir ia akan melemparkan sesuatu atau keburukan dalam hati kalian.”

Imam Syafi’i rahimahullahu mengatakan, Rasulullah bermaksud mengajarkan kepada umatnya untuk menghindarkan diri dari tuduhan yang tidak pada tempatnya agar keduanya tidak terperangkap ke dalam bahaya, padahal keduanya termasuk orang yang amat takut kepada Allah Ta’ala dari berprasangka buruk terhadap Nabi. Wallahu a’lam.

Dan yang dimaksud dengan kata al-mubasyarah dalam ayat ini adalah Jima’ (bersetubuh) dan berbagai faktor penyebabnya, seperti ciuman, pelukan dan lain sebagainya. Sedangkan sekedar memberikan sesuatu dan yang semisalnya tidak apa-apa hukumnya.

Diriwayatkan dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya, “Rasulullah mendekatkan kepalanya kepadaku lalu aku menyisir rambutnya, sedang aku dalam keadaan haid. Dan beliau tidak masuk rumah kecuali untuk kepentingannya.” Aisyah mengatakan, “Pernah ada orang sakit di rumah, dan aku tidak bertanya mengenai keadaannya kecuali aku dalam keadaan sambil berlalu.”

Firman Allah berikutnya: tilka huduudullaaHi (“Itulah ketentuan-ketentuan Allah.”) Maksudnya, apa yang telah Kami (Allah) jelaskan, wajibkan, dan tentukan, berupa ihwal puasa dan hukum-hukumnya, apa yang Kami bolehkan dan Kami haramkan, dan yang Kami sebutkan pula tujuan-tujuannya, rukhsah dan kewajiban-kewajibannya adalah ketentuan-ketentuan Allah Ta’ala, artinya disyari’atkan dan dijelaskan langsung oleh Allah sendiri.

Falaa taqrabuuHaa (“Maka janganlah kamu mendekatinya”) artinya janganlah kalian melampaui dan melanggarnya. Abdur rahman bin Zaid bin Aslam mengatakan, “Ayahku dan beberapa guru kami mengemukakan hal itu dan membacakan firman Allah kepada kami.”

Kadzaalika yubayyinullaaHu aayaatiHii lin naasi (“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia.”) artinya sebagaimana Dia telah menjelaskan tentang puasa, [tentang] hukum, syarat dan rinciannya, Dia juga menjelaskan hukum-hukum lainnya melalui hamba dan Rasul-Nya, Muhammad saw.

La’allaHum yattaquun (“Supaya mereka bertakwa”) maksudnya mereka mengetahui bagaimana memperoleh petunjuk dan bagaimana pula berbuat taat. Sebagaimana Allah swt. berfirman yang artinya: “Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (al-Qur’an) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Mahapenyantun lagi Mahapenyayang kepada kamu “. (QS. Al-Hadiid: 9)

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 186

6 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 186“Dan apabila bamba-bamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintab)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, ia menceritakan, ketika kami bersama Rasulullah dalam suatu peperangan, kami tidak mendaki tanjakan, menaiki bukit, dan menuruni lembah melainkan dengan mengumandangkan takbir. Kemudian beliau mendekati kami dan bersabda, “Wahai sekalian manusia, sayangilah diri kalian, sesungguhnya kalian tidak berdo’a kepada Dzat yang tuli dan jauh. Tetapi kalian berdo’a kepada Rabb yang Mahamendengar lagi Mahamelihat. Sesungguhnya yang kalian seru itu lebih dekat kepada seorang di antara kalian dari pada leher binatang tunggangannya. Wahai Abdullah bin Qais, maukah engkau aku ajari sebuah kalimat yang termasuk dari perbendaharaan surga? Yaitu: laa haula walaa quwwata illaa billaaHi (Tiada daya dan kekuatan melainkan hanya karena pertolongan Allah).”

Hadits tersebut diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim serta beberapa periwayat lainnya, dari Abu Utsman an-Nahdi.

Berkenaan dengan ini penulis katakana: Hal itu sama seperti firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl: 128)
Juga firman-Nya kepada Musa dan Harun: “Sesungguhnya Aku beserta kalian beruda, Aku mendengar dan melihat.” (QS.’Thaahaa: 46)

Maksudnya, bahwa Allah tidak menolak dan mengabaikan do’a seseorang, tetapi sebaliknya Dia Mahamendengar do’a. Ini merupakan anjuran untuk senantiasa berdo’a, dan Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan do’a hamba-Nya.

Imam Malik meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah bersabda: “Akan dikabulkan do’a salah seorang di antara kalian selama ia tidak minta dipercepat, yaitu ia mengatakan, Aku sudah berdo’a, tetapi tidak dikabulkan.” (Hadits ini diriwayatkan di dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, dari Malik, dan hal itu merupakan lafadz dari Imam al-Bukhari rahimahullahu)

Dalam Shahih Muslim, diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi saw. bersabda: “Tetap dikabulkan doa seorang hamba, selama ia tidak berdoa untuk perbuatan dosa atau pemutusan hubungan (silaturrahmi) dan selama tidak minta dipercepat.” Ada seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan minta dipercepat itu?” Beliau pun menjawab, “(Yaitu) ia berkata, Aku sudah berdoa dan terus berdoa tetapi belum pernah aku melihat doaku dikabulkan. Maka pada saat itu ia merasa letih dan tidak mau berdoa lagi.”

Dalam penyebutan ayat yang menganjurkan untuk senantiasa berdoa, disela-sela hukum puasa tersebut di atas, terdapat bimbingan untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa ketika menggenapkan bilangan hari-hari puasa, bahkan setiap kali saat berbuka puasa.

Diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad dan Sunan at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah ra, katanya Rasulullah bersabda: “Ada tiga orang yang doanya tidak akan ditolak: Penguasa yang adil, orang yang berpuasa hingga berbuka, dan doa orang yang didhalimi. Allah akan menaikkan doanya tanpa terhalang awan mendung pada hari kiamat dan dibukakan baginya pintu-pintu langit, dan Dia berfirman, ‘Demi kemuliaan-Ku, Aku pasti menolongmu meskipun beberapa saat lagi.’” (Dlaif, lihat kitab dlaiful Jamii’ [2592])

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 185

6 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 185“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu maka hendaklah ia berpuasa, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Allah memuliakan bulan puasa di antara bulan-bulan lainnya dengan memilihnya sebagai bulan diturunkannya al-Qur’an al-Adhim. Dia memberikan keistimewaan ini pada bulan Ramadhan sebagaimana telah dinyatakan dalam hadits bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan di mana kitab-kitab ilahiah diturunkan kepada para Nabi.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu, meriwayatkan dari Watsilah bin al-Asqa’, bahwa Rasulullah bersabda: “Shuhuf (lembaran-lembaran) Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada tanggal 6 Ramadhan, Injil diturunkan pada tanggal 13 Ramadhan, dan al-Qur’an diturunkan pada tanggal 24 Ramadhan.” (HR. Ahmad)

Shuhuf Ibrahim, kitab Taurat, Zabur, dan Injil diturunkan kepada nabi penerimanya dalam satu kitab sekaligus. Sedangkan al-Qur’an diturunkan secara sekaligus (dari Lauh Mahfuzh) ke Baitul Izzah di langit dunia, dan hal itu terjadi pada bulan Ramadhan pada malam lailatul qadar. Sebagaimana firman-Nya: innaa anzalnaaHu fii lailatil qadr (“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan.”) (QS. Al-Qadar: 1)

Dia juga berfirman: innaa anzalaaHu fii lailatim mubaarakatin (“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam yang penuh berkah.”) (QS. Ad-Dukhan: 3)

Setelah itu, al-Qur’an diturunkan bagian demi bagian kepada Rasulullah sesuai dengan peristiwa yang terjadi. Demikian diriwayatkan dari Ibnu Abbas, melalui beberapa jalur.

Sedangkan firman Allah: Hudal linnaasi wa bayyinaatim minal Hudaa wal furqaan (“Sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda [antara yang hak dan yang batil].”) Ini merupakan pujian bagi al-Qur’an yang diturunkan sebagai petunjuk bagi hati para hamba-Nya yang beriman, membenarkan, dan mengikutinya.

Wa bayyinaatin (“Dan penjelasan penjelasan.”) Yaitu Sebagai dalil dan hujjah yang nyata dan jelas bagi orang yang memahami dan memperhatikannya. Hal ini menunjukkan kebenaran ajaran yang dibawanya, berupa petunjuk yang menentang kesesatan dan bimbingan yang melawan penyimpangan, serta pembeda antara yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram.

Dan firman-Nya: faman syaHida minkumusy syaHra falsamumHu (“Barangsiapa di antara kamu hadir [di negeri tempat tinggalnya] pada bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa.”) Ini merupakan kewajiban yang bersifat pasti bagi orang yang menyaksikan permulaan bulan (Ramadhan), artinya bermukim di tempat tinggalnya (tidak melakukan perjalanan jauh) ketika masuk bulan Ramadhan, sedang ia benar-benar dalam keadaan sehat fisik, maka ia harus berpuasa. Ayat ini menasakh dibolehkannya orang sehat yang berada ditempat tinggalnya untuk tidak berpuasa tetapi mengganti puasa yang ditinggalkannya dengan fidyah berupa pemberian makan kepada orang miskin untuk setiap hari ia berbuka. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

Dan tatkala menutup masalah puasa, Allah kembali menyebutkan rukhsah (keringanan) bagi orang yang sakit dan yang berada dalam perjalanan untuk tidak berpuasa dengan syarat harus mengqadhanya. Dia berfirman: wa man kaana mariidlan au ‘alaa safarin fa ‘iddatum min ayyaamin ukhara (“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan [lalu ia berbuka], maka [wajiblah baginya berpuasa] sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.”) Artinya, barangsiapa yang fisiknya sakit hingga menyebabkannya merasa berat atau terganggu jika berpuasa, atau sedang dalam perjalanan, maka diperbolehkan baginya berbuka (tidak berpuasa). Jika berbuka, maka ia harus menggantinya pada hari-hari yang lain sejumlah yang ditinggalkan.

Oleh karena itu Dia berfirman: yuriidullaaHu bikumul yusra wa laa yuriiidu bikumul ‘usra (“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.”) Maksudnya, Dia memberikan keringanan kepada kalian untuk berbuka ketika dalam keadaan sakit dan dalam perjalanan, namun tetap mewajibkan puasa bagi orang yang berada di tempat tinggalnya dan sehat. Ini tiada lain merupakan kemudahan dan rahmat bagi kalian.

Di sini terdapat beberapa permasalahan berkenaan dengan ayat tersebut di atas:

Pertama, dalam sunnah telah ditegaskan bahwa Rasulullah pernah keluar pada bulan Ramadhan untuk perang pembebasan kota Mekkah. Beliau berjalan hingga sampai di al-Kadid, lalu beliau berbuka dan menyuruh orang-orang untuk berbuka. Hadits ini diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih.

Kedua, ada sebagian dari kalangan sahabat dan tabi’in yang mewajibkan berbuka ketika dalam perjalanan. Hal itu didasarkan pada firman Allah: fa ‘iddatum min ayyaamin ukhara (“maka [wajiblah baginya berpuasa] sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.”)
Yang benar adalah pendapat jumhur ulama, yang menyatakan bahwa hal itu bersifat pilihan dan bukan keharusan, karena mereka pernah pergi bersama Rasulullah pada bulan Ramadhan, Abu Sa’id al Khudri menceritakan: “Di antara kami ada yang berpuasa dan ada juga yang tidak.” Orang yang berpuasa tidak mencela orang yang berbuka, dan sebaliknya orang yang berbuka tidak mencela orang yang berpuasa. Seandainya berbuka itu merupakan suatu hal yang wajib, niscaya Rasulullah mengecam puasa sebagian dari mereka.

Bahkan ditegaskan bahwasanya Rasulullah pernah berpuasa dalam keadaan seperti itu. Berdasarkan hadits dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim, diriwayatkan dari Abu Darda’, katanya, “Kami pernah berpergian bersama Rasulullah pada bulan Ramadhan ketika musim panas sekali, sampai salah seorang di antara kami meletakkan tangannya di atas kepalanya karena panas yang sangat menyengat. Tidak ada di antara kami yang berpuasa kecuali Rasulullah dan Abdullah bin Rawahah.”

Ketiga, segolongan ulama di antaranya Imam Syafi’i berpendapat bahwa puasa ketika dalam perjalanan itu lebih afdhal daripada berbuka. Hal itu didasarkan pada apa yang pernah dikerjakan Rasulullah, sebagaimana disebutkan pada hadits di atas. Dan sekelompok ulama lainnya berpendapat, berbuka puasa ketika dalam perjalanan itu afdhal, sebagai realisasi rukhsah, dan berdasarkan hadits bahwa Rasulullah pernah ditanya mengenai puasa dalam perjalanan, maka beliau pun menjawab: “Barangsiapa yang berbuka, telah berbuat baik. Dan barangsiapa tetap berpuasa, maka tiada dosa baginya.” (HR. Muslim)

Kelompok ulama yang lain berpendapat, keduanya sama saja. Hal itu didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Aisyah, bahwa Hamzah bin Amr al-Aslami pernah bertanya: “Ya, Rasulullah, aku sungguh sering berpuasa, apakah aku boleh berpuasa dalam perjalanan?” Maka Rasulullah pun menjawab: “Jika engkau mau berpuasalah, dan jika mau berbukalah.” (Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Ada juga yang berpendapat, jika keberatan untuk berpuasa, maka berbuka adalah lebih baik. Berdasarkan Hadits Jabir, bahwa Rasulullah pernah menjumpai seorang laki-laki yang dipayungi, maka beliau bertanya, “Mengapa dia ini?” Orang-orang menjawab, “Dia sedang berpuasa.” Beliau pun bersabda, “Bukan termasuk kebajikan berpuasa ketika dalam perjalanan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Keempat, mengenai masalah qadha puasa, apakah harus dilakukan secara berturut-turut atau boleh berselang-seling. Dalam hal ini terdapat dua pendapat:
1. Qadha’ puasa itu harus dilakukan secara berturut-turut, karena qadha’ mengekspresikan pelaksanaan.
2. Tidak harus berturut-turut, jika menghendaki boleh berselang-seling dan boleh juga secara berturut-turut. Demikian menurut pendapat jumhur ulama salaf dan khalaf. Dan hal ini didasarkan pada banyak dalil, karena pelaksanaan puasa secara berturut-turut hanyalah diwajibkan dalam bulan Ramadhan, karena pentingnya pelaksanaannya pada waktu itu. Ada pun setelah berakhirnya Ramadhan yang dituntut adalah gadha’ puasa pada hari-hari lain sejumlah yang ditinggalkan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: fa ‘iddatum min ayyaamin ukhar (“Maka [wajiblah baginya berpuasa] sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.”

Setelah itu, Allah Ta’ala berfirman: yuriidullaaHu bikumul yusra wa laa yuriiidu bikumul ‘usra (“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.”)

Imam Ahmad meriwayatkan, Muhammad bin Ja’far memberitahu kami, dari Syu’bah, dari Abu at-Tayyah, katanya, aku pemah mendengar Anas bin Malik berkata, sesungguhnya Rasulullah telah bersabda: “Permudahlah dan janganlah kalian mempersulit. Tenangkanlah dan janganlah membuat (orang) lari.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan pula dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah pernah bertutur kepada Mu’adz dan Abu Musa ketika beliau mengutus keduanya ke Yaman: “Sampaikanlah berita gembira dan janganlah kalian menakut-nakuti, berikanlah kemudahan dan janganlah mempersulit, bersepakatlah dan janganlah kalian berselisih.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan dalam kitab-kitab al-Sunan dan al-Musnad juga diriwayatkan, bahwa Rasulullah bersabda:
“Aku diutus dengan membawa agama tauhid yang ramah.” (Dha’if: Lafazh ini dha’if sebagaimana disebutkan oleh Syaikh al-Albani dalam Dha’iiful Jaami’ (2336).-ed.)

Dan firman-Nya: yuriidullaaHu bikumul yusra wa laa yuriiidu bikumul ‘usra wa litukmilul ‘iddata (“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya.”) Artinya, Allah Ta’ala memberikan keringanan kepada kalian untuk berbuka bagi orang yang sakit dan yang sedang dalam perjalanan, atau disebabkan alasan-alasan lainnya yang semisal, karena Dia menghendaki kemudahan bagi kalian. Dan perintah untuk mengqadha puasa itu dimaksudkan untuk menggenapkan bilangan puasa kalian menjadi sebulan.

Firman Allah: wa litukabbirullaaHa ‘alaa maa Hadaakum (“Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.”) maksudnya supaya kamu mengingat Allah sesuai ibadah kalian. Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadab hajimu, maka berdzikirlah [dengan menyebut] Allah, sebagaimana yang menyebut-nyebut [membangga-banggakan] nenek moyangmu, atau bahkan berdzikirlah lebih banyak dari itu.” (QS. Al-Baqarah: 200)

Oleh karena itu, sunnah Rasulullah menganjurkan untuk bertasbih, bertahmid, dan takbir setelah mengerjakan shalat wajib. Ibnu Abbas mengatakan: “Kami tidak mengetahui berakhimya shalat Rasulullah kecuali dengan takbir.”

Untuk itu banyak ulama yang mengambil pensyari’atan takbir pada hari raya Idul Fitri dari ayat ini: wa litukmilul ‘iddata wa litukabbirullaaHa ‘alaa maa Hadaakum (“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.”)

Bahkan Daud bin Ali al-Asbahani az-Zhahiri mewajibkan pengumandangan takbir pada hari raya Idul Fitri, berdasarkan pada perintah dalam firman-Nya: wa litukabbirullaaHa ‘alaa maa Hadaakum (“Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.”)

Sebaliknya, madzhab Abu Hanifah rahimahullahu menyatakan bahwa takbir tidak disyariatkan pada hari raya Idul Fitri. Sementara ulama lainnya menyatakan sunnah, dengan beberapa-perbedaan dalam rincian sebagian furu’ di antara mereka.

Sedang firman-Nya: wa la’allakum tasykuruun (“Supaya kamu bersyukur.”) artinya, jika kalian mengerjakan apa yang diperintahkan Allah, berupa ketaatan kepada-Nya, dengan menjalankan semua kewajiban dan meninggalkan semua larangan-Nya serta memperhatikan ketentuan-Nya, maka mudah-mudahan kalian termasuk orang-orang yang bersyukur atas hal itu.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 183-184

6 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 183-184“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183) (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblab baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada bari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Allah menyerukan kepada orang-orang yang beriman dari umat ini dan memerintahkan mereka untuk berpuasa. Puasa berarti menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh, dengan niat yang tulus karena Allah karena puasa mengandung penyucian, pembersihan, dan penjernihan diri dari kebiasaan-kebiasaan yang jelek dan akhlak tercela.

Allah Ta’ala juga menyebutkan, sebagaimana Dia telah mewajibkan puasa itu kepada mereka, Dia juga telah mewajibkannya kepada orang-orang sebelum mereka, karena itu ada suri teladan bagi mereka dalam hal ini. Maka hendaklah mereka bersungguh-sungguh dalam menjalankan kewajiban ini dengan lebih sempurna daripada yang telah dijalankan oleh orang-orang sebelum mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya:
“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak mengujimu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (QS. Al-Maa-idah: 48)

Oleh karena itu dalam surat al-Baqarah ini, Allah berfirman: yaa ayyuHal ladziina aamanuu kutiba ‘alaikumush shiyaamu kamaa kutiba ‘alal ladziina min qablikum la’allakum tattaquun (“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa.”) Karena puasa dapat menyucikan badan dan mempersempit jalan syaitan, maka dalam hadits yang terdapat dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim ditegaskan, bahwasanya Rasulullah bersabda:

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah mampu untuk menikah maka hendaklah ia menikah. Dan barangsiapa belum mampu, maka hendaldah ia berpuasa karena puasa merupakan penawar baginya.”

Setelah itu Allah menjelaskan waktu puasa. Puasa itu tidak dilakukan setiap hari supaya jiwa manusia ini tidak merasa keberatan sehingga lemah dalam menanggungnya dan menunaikannya. Tetapi puasa itu diwajibkan hanya pada hari-hari tertentu saja.

Pada permulaan Islam, puasa dilakukan tiga hari pada setiap bulan. Kemudian hal itu dinasakh (dihapus) dengan puasa satu bulan penuh, yaitu pada bulan Ramadhan, sebagaimana akan diuraikan lebih lanjut.

Diriwayatkan dari Mu’adz, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Atha’, Qatadah, dan adh-Dhahhak bin Muzahim, bahwa puasa itu pertama kali dijalankan seperti yang diwajibkan kepada umat-umat sebelumnya, yaitu tiga hari setiap bulannya. Ditambahkan oleh adh-Dhahhak, bahwa pelaksanaan puasa seperti ini masih tetap disyari’atkan pada permulaan Islam sejak Nabi Nuh as. sampai Allah menasakhnya dengan puasa Ramadhan.

Abu Ja’far ar-Razi meriwayatkan dari Ibnu Umar, katanya; Dengan diturunkannya ayat: kutiba ‘alaikumush shiyaamu kamaa kutiba ‘alal ladziina min qablikum (“Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelummu,”) puasa itu diwajibkan kepada mereka, jika salah seorang di antara mereka mengerjakan shalat isya’ kemudian tidur, diharamkan baginya makan, minum, dan (menyetubuhi) istrinya sampai waktu malam lagi seperti itu.

Ibnu Abi Hatim berkata, hal senada juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Abu al-Aliyah, Abdur Rahman bin Abi Laila, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Muqatil bin Hayyan, Rabi’ bin Anas, dan Atha’ al-Khurasani.

Mengenai firman-Nya: kutiba ‘alal ladziina min qablikum (“Sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu,”) Atha’ al-Khurasani meriwayatkan, dari Ibnu Abbas: “Yang dimaksudkan yaitu Ahlul Kitab.”

Selanjutnya Allah Ta ala menjelaskan hukum puasa sebagaimana yang berlaku pada permulaan Islam. Dia berfirman: fa man kaana minkum mariidlan au ‘alaa safarin fa ‘iddatum min ayyaamin ukhara (“Barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan [lalu ia berbuka], maka [wajiblah baginya berpuasa] sebanyak hari yang ditinggalkan itu dari hari-hari yang lain.”) Artinya, orang yang sakit dan orang yang dalam perjalanan diperbolehkan untuk tidak berpuasa, karena hal itu merupakan kesulitan bagi mereka. Mereka boleh tidak berpuasa tetapi harus mengqadhanya pada hari-hari yang lain. Adapun orang yang sehat dan tidak berpergian tetapi merasa berat berpuasa, baginya ada dua pilihan; berpuasa atau memberikan makan. Jika mau ia boleh berpuasa, atau boleh juga berbuka, tetapi harus memberi makan kepada seorang miskin setiap harinya. Dan jika ia memberikan makan lebih dari seorang pada setiap harinya, maka yang demikian itu lebih baik. Dan berpuasa adalah lebih baik daripada memberi makan. Demikian menurut pendapat Ibnu Masud, Ibnu Abbas, Mujahid, Thawus, Muqatil bin Hayyan, dan ulama salaf lainnya.

Oleh karena itu Allah swt. berfirman: wa ‘alal ladziina yuthiiquunaHuu fidyatun tha’aamu miskiinin faman tathawwa’a khairan fa Huwa khairul laHu wa an tashuumuu khairul lakum in kuntum ta’lamuun (“Dan wajib bagi orang-orang yang merasa berat menjalankannya [jika mereka tidak berpuasa] untuk membayar fzdyah, [yaitu]: memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka yang demikian itu lebih baik baginya. Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”)

Demikian pula yang diriwayatkan Imam al-Bukhari, dari Salamah bin Akwa katanya, ketika turun ayat: wa ‘alal ladziina yuthiiquunaHuu fidyatun tha’aamu miskiinin (“Dan bagi orang-orang yang merasa berat menjalankannya [jika mereka tidak berpuasa] membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.”) Ketika itu, bagi siapa yang hendak berbuka (tidak berpuasa), maka membayar fidyah, hingga turun ayat yang berikutnya dan manasakhnya.

Dan diriwayatkan dari Ubaidillah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, bahwa hal tersebut sudah dinasakh.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Atha’, bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas membaca ayat: wa ‘alal ladziina yuthiiquunaHuu fidyatun tha’aamu miskiinin (“Dan bagi orang yang merasa berat menjalankannya [jika mereka tidak berpuasa] membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.”) Kata Ibnu Abbas, “Ayat tersebut tidak dinasakh, karena yang dimaksudkan dalam ayat itu adalah orang tua laki-laki dan perempuan yang tidak mampu menjalankan ibadah puasa, maka ia harus memberikan makan setiap harinya seorang miskin.” Demikian pula diriwayatkan oleh beberapa periwayat dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas.

Kesimpulannya, bahwa nasakh itu tetap berlaku bagi orang sehat yang bermukim (tidak melakukan perjalanan) dengan kewajiban berpuasa baginya melalui ayat: faman syaHida minkumusy syaHra falsamumHu (“Barangsiapa di antara kamu hadir [di negeri tempat tinggalnya] pada bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa.”) Sedangkan orang tua renta yang tidak sanggup menjalankan ibadah puasa, maka diperbolehkan baginya berbuka [tidak berpuasa] dan tidak perlu menggadhanya, karena ia tidak akan mengalami lagi keadaan yang memungkinkannya untuk mengqadha puasa yang ditinggalkannya itu. Tetapi, apakah jika ia berbuka [tidak berpuasa] juga berkewajiban memberi makan setiap hari seorang miskin, jika ia kaya?

Mengenai hal tersebut di atas terdapat dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan tidak ada kewajiban baginya memberikan makan kepada orang miskin, karena usianya ia tidak sanggup memenuhinya, sehingga ia tidak diwajibkan membayar fidyah, seperti halnya bayi, karena Allah swt. tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Ini merupakan salah satu pendapat Imam Syafi’i.

Sedangkan pendapat kedua dan merupakan pendapat yang shahih dan yang menjadi pegangan mayoritas ulama, bahwa wajib baginya membayar fidyah untuk setiap hari puasa yang ditinggalkannya. Sebagaimana yang ditafsirkan oleh Ibnu Abbas dan beberapa ulama salaf lainnya. Pendapat ini menjadi pilihan Imam al-Bukhari, ia mengatakan, mengenai orang yang sudah tua jika ia tidak mampu menjalankan puasa, maka ia harus membayar fidyah. Karena Anas ketika telah tua pernah setahun atau dua tahun ia tidak berpuasa dan memberi makan roti dan daging kepada seseorang miskin setiap hari.

Atsar mu’allaq yang diriwayatkan al-Bukhari telah disebutkan sanadnya oleh al-Hafiz Abu Ya’la al-Mushili dalam musnadnya, dari Ayub bin Abu Tamimah, katanya: “Anas tidak sanggup menjalankan ibadah puasa, lalu ia membuatkan bubur roti satu mangkok besar, kemudian mengundang tiga puluh orang miskin dan memberinya makan.” Demikian diriwayatkan oleh Abd bin Humaid, dari Ayub. Hal senada diriwayatkan pula oleh Abd, dari enam sahabat Anas, dari Anas.

Termasuk dalam pengertian ini adalah wanita hamil dan yang menyusui jika keduanya mengkhawatirkan keselamatan diri dan anak mereka. Dalam masalah ini terdapat banyak perbedaan pendapat di antara para ulama. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa keduanya (wanita hamil dan yang menyusui) boleh tidak berpuasa, tetapi membayar fidyah dan mengqadha puasanya.

Dan ada pula yang mengatakan wajib membayar fidyah saja dan tidak perlu mengqadha. Ada juga yang berpendapat, wanita hamil dan wanita yang sedang menyusui itu berkewajiban mengqadha puasa yang ditinggalkannya tanpa membayar fidyah. Tetapi ada juga yang berpendapat kedua wanita itu boleh berbuka dengan tanpa membayar fidyah dan tidak juga mengqadhanya.

Alhamdulillah, masalah ini telah kami uraikan secara panjang lebar dalam kitab Shiyam yang kami tulis secara khusus.

&