Arsip | 17.08

Mewarnai pemandangan 2 anak muslim

27 Apr

Mewarnai Gambar  Islami Untuk Anak Muslim
Untuk Kreatifitas dengan Mewarnai Gambar
alquranmulia.wordpress.com

Mewarnai pemandangan 2 anak muslim

 

 

&

Mewarnai gambar pesawat tempur3 anak muslim

27 Apr

Mewarnai Gambar  Islami Untuk Anak Muslim
Untuk Kreatifitas dengan Mewarnai Gambar
alquranmulia.wordpress.com

Mewarnai gambar pesawat tempur3 anak muslim

 

 

&

Mewarnai gambar anak muslimah 6

27 Apr

Mewarnai Gambar  Islami Untuk Anak Muslim
Untuk Kreatifitas dengan Mewarnai Gambar
alquranmulia.wordpress.com

Mewarnai gambar  anak muslimah 6

Mewarnai gambar anak muslimah 5

27 Apr

Mewarnai Gambar  Islami Untuk Anak Muslim
Untuk Kreatifitas dengan Mewarnai Gambar
alquranmulia.wordpress.com

Mewarnai gambar  anak muslimah 5

 

 

&

Contoh Penulisan Angka Bahasa Arab

27 Apr

Belajar Bahasa Arab
Contoh Penulisan Angka Bahasa Arab

Contoh Penulisan Angka Bahasa Arab

Nah jika kalian ingin membuat tulisan atau gambar angka yang kemudian dijadikan sebagai bahan mewarnai gambar maka bisa diklik video di bawah ini. Ini hanya sebuah contoh saja ya, Mungkin kalian punca cara yang lebih bagus maka itu baik sekali. Jika kalian suka dengan konten video Karya Kreatif  silakan SUBSCRIBE, LIKE & SHARE link nya kepada teman-teman kalian ya… terimakasih…

 

 

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 270-271

27 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 270-271“Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zhalim tidak ada seorang penolong pun baginya. (QS. Al-Baqarah: 270) Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu, menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271)

Allah swt. memberitahukan bahwa Dia mengetahui segala perbuatan hamba-hamba-Nya. Di antaranya berupa kebaikan, yang terdiri dari infak dan nadzar. Allah Ta’ala menjamin bahwa Dia akan memberikan balasan yang lebih banyak atas semua itu bagi mereka yang mengerjakannya untuk mencari keridhaan Allah swt. serta mengharapkan janji-Nya. Dia mengancam siapa saja yang tidak menaati-Nya, menentang perintah-Nya, mendustakan berita-Nya, atau menyekutukan-Nya dengan yang lain.

Maka Dia pun berfirman: wamaa lidh-dhaalimiina min anshaar (“Orang-orang yang berbuat dhalim tidak ada seorang pun penolong baginya.” Pada hari kiamat kelak, mereka tidak memiliki
penolong yang dapat menyelamatkan mereka dari adzab dan murka Allah Ta’ala.

Firman-Nya: in tubdush shadaqaati fani-‘immaa Hiya (“Jika kamu menampakkan sedekah kamu, maka itu adalah baik sekali.”) Maksudnya, jika kalian memperlihatkan sedekah tersebut, maka yang demikian itu merupakan suatu hal yang sangat baik.

Firman-Nya lebih lanjut: wa in tukhfuuHaa wa tu’tuuHal fuqaraa-a fa Huwa khairul lakum (“Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.”) Di dalam ayat tersebut terdapat dalil yang menunjukkan bahwa memberi sedekah secara sembunyi-sembunyi itu lebih baik daripada menampakkannya, karena yang demikian itu lebih jauh dari sikap riya’. Namun, menampakkan sedekah bisa saja di lakukan jika akan mendatangkan kemaslahatan, dan menjadi contoh bagi yang lain, sehingga hal itu menjadi lebih afdhal.

Pada dasarnya, bersedekah secara sembunyi-sembunyi itu lebih afdhal. Berdasarkan ayat di atas dan juga sebuah hadits yang ditegaskan dalam kitab Shahihain, dari Abu Hurairah ia menceritakan, Rasulullah bersabda: “Tujuh orang yang dilindungi Allah dalam lindungan (naungan)-Nya pada hari yang tidak ada perlindungan (naungan) selain lindungan (naungan)-Nya, yaitu; Imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, dua orang yang saling mencintai karena Allah, di mana keduanya berkumpul dan berpisah karena-Nya, orang yang hatinya bergantung pada masjid saat keluar darinya hingga ia kembali kepadanya, orang yang mengingat Allah di tempat yang sunyi lalu kedua matanya berlinang, seorang laki-laki yang diajak berzina oleh wanita yang mempunyai kedudukan dan cantik lalu laki-laki itu menjawab: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah,” serta orang yang mengeluarkan shadaqah lalu disembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan firman-Nya: wa yukaffiru ‘ankum min sayyi-aatikum (“Dan Allah akan menghapuskan dari kalian sebagian kesalahan-kesalahan kalian.”) Maksudnya, sebagai ganti dari sedekah, apalagi jika sedekah itu diberikan secara sembunyi-sembunyi. Kalian akan memperoleh kebaikan berupa derajat yang tinggi dan dihapuskan berbagai kesalahan yang pernah kalian lakukan.

Ada yang membaca “yukaffir” (dengan dijazmkan) berkedudukan sebagai jawabusy syarthi.

Dan firman Allah swt. selanjutnya: wallaaHu bimaa ta’maluuna khabiir (“Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.”) Maksudnya, tidak ada sesuatu pun dari perbuatan kalian yang tersembunyi dari-Nya, dan Dia akan memberikan pahala atas semua itu.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 267-269

27 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 267-269“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dad padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji. (QS. Al-Baqarah: 267) Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kathu berbuat. kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Mahamengetahui. (QS. Al-Baqarah: 268) Allah memberikan hikmah (kepahaman yang dalam tentang al-Qur’an dan as-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 269)

Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk berinfak. Yang dimaksudkan di sini adalah sodaqah. Demikian dikatakan Ibnu Abbas: “Yaitu sebagian dari harta kekayaannya yang baik-baik yang telah dianugerahkan melalui usaha mereka.”

Lebih lanjut Ibnu Abbas mengemukakan: “Mereka diperintahkan untuk menginfakkan harta kekayaan yang paling baik, paling bagus, dan paling berharga. Dan Dia melarang berinfak dengan hal-hal yang remeh dan hina. Dan itulah yang dimaksud dengan “al khabiitsa” (pada ayat itu). Karena sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik. Oleh karena itu Dia berfirman: walaa tayammamul khabiitsa (“Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk.”) Maksudnya sengaja memberikan yang buruk-buruk. minHu tunfiquuna wa lastum bi-aakhidziHii (“Lalu kamu nafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya.”) Maksudnya, seandainya hal itu diberikan kepada kalian, niscaya kalian tidak akan mengambilnya dan bahkan akan memicingkan mata. Sesungguhnya Allah swt. lebih tidak membutuhkan hal semacam itu dari kalian. Maka janganlah kalian memberikan kepada Allah Ta’ala apa-apa yang tidak kalian sukai.

Ibnu Jarir rahimahullahu meriwayatkan dari al-Barra’ bin Azib mengenai firman Allah Ta’ala: yaa ayyuHal ladziina aamanuu anfiquu min thayyibaati maa kasabtum wa mimmaa akhrajnaa lakum minal ardli wa laa tayammamul khabiitsa minHu tunfiquuna (“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk, lalu kamu nafkahkan darinya.”) Ia (al-Barra’) mengatakan, ayat ini turun berkenaan dengan kaum Anshar. Pada hari pemetikan pohon kurma, orang-orang Anshar mengeluarkan busrun (kurma mengkal), lalu menggantungkannya pada tali di antara dua tiang masjid Rasulullah As. sehingga dimakan oleh kaum fakir miskin dari kalangan muhajirin. Lalu salah seorang di antara mereka sengaja mengambil kurma yang buruk-buruk dan mamasukkannya ke dalam beberapa tandan busrun (kurma mengkal), ia mengira bahwa perbuatan itu dibolehkan. Lalu Allah Ta’ala menurunkan ayat berkenaan dengan orang yang mengerjakan hal tersebut: wa laa tayammamul khabiitsa minHu tunfiquuna (“Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk, lalu kamu nafkahkan darinya.”)

Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Majah, Ibnu Mardawih dan al-Hakim dalam kitabnya, al-Mustadrak. Dan al-Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim, akan tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Aisyah radiallahu anHaa, ia menceritakan: “Pernah dihidangkan kepada Rasulullah binatang sejenis biawak, namun beliau tidak memakannya tetapi tidak juga melarangnya. Lalu kukatakan: “Ya Rasulullah, kita berikan saja kepada orang-orang miskin.” Maka beliau bersabda: “Janganlah kalian memberi makan mereka sesuatu yang kalian tidak mau memakannya.”

Dan firman-Nya: wa’lamuu annallaaHa ghaniyyun hamiid (“Dan ketahuilah bahwa Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji.”) Maksudnya, meskipun Allah Ta’ala memerintahkan kalian bersedekah dengan yang baik-baik, namun Dia Mahakaya dan tidak membutuhkan hal tersebut, perintah itu tidak lain hanyalah untuk menyamakan antara orang kaya dan orang miskin.

Ayat ini sama dengan firman-Nya yang artinya: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimu yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37).

Allah swt. tidak membutuhkan makhluk-Nya sedangkan seluruh makhluk-Nya itu adalah fuqara (butuh kepada-Nya). Dia Mahaluas karunia-Nya dan apa yang ada pada-Nya tiada akan pemah habis. Barangsiapa bersedekah dengan harta dari hasil usaha yang baik, maka hendaklah ia mengetahui bahwa Allah Ta’ala Mahakaya, Mahaluas karunia-Nya, Mahamulia dan Mahadermawan. Dan Dia akan memberikan balasan atas semuanya itu serta melipatgandakannya dengan kelipatan yang banyak, yaitu bagi orang yang meminjamkan kepada Dzat yang tidak mempunyai kebutuhan (Allah Ta’ala) dan tidak berbuat zhalim, Dia Mahaterpuji dalam segala perbuatan, firman, syari’at, dan takdir-Nya. Tidak ada Ilah yang haq selain Dia. dan tidak ada Rabb selain Dia.

Firman-Nya lebih lanjut: asy-syaithaanu ya’idukumul faqra wa ya’murukum bil fahsyaa-i wallaaHu ya’idukum maghfiratam minHu wa fadl-law wallaaHu waasi’un ‘aliim (“Syaitan itu menjanjikan [menakut-nakuti] kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat kejahatan [kikir]. Sedangkan Allah menjanjikan untuk kalian ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Mahamengetahui.”)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, ia menceritakan, Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya syaitan itu mempunyai dorongan atau bisikan kepada anak Adam, dan malaikat juga mempunyai dorongan atau bisikan pula. Dorongan syaitan itu berupa upayanya mengembalikan kepada kejahatan dan mendustakan kebenaran. Sedangkan dorongan malaikat berupa upaya mengembalikan kepada kebaikan dan pembenaran terhadap kebenaran. Barangsiapa mendapatkan hal tersebut, maka hendaklah ia mengetahui bahwa yang demikian itu dari Allah, dan hendaklah ia memanjatkan pujian kepada-Nya. Dan barangsiapa mendapatkan selain dari itu, maka hendaklah ia berlindung dari syaitan.” (Dha’if: Didha’ifkan oleh Syaikh al-Albani, sebagaimana terdapat dalam kitab Dha’iiful Jaami’ (1963).-ed.)

Kemudian beliau membaca ayat: asy-syaithaanu ya’idukumul faqra wa ya’murukum bil fahsyaa-i wallaaHu ya’idukum maghfiratam minHu wa fadl-law (“Syaitan itu menjanjikan [menakut-nakuti] kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat kejahatan [kikir]. Sedangkan Allah menjanjikan untuk kalian ampunan dari-Nya dan karunia.”)

Demikian hadits yang diriwayatkan Tirmidzi dan Nasa’i dalam kitab tafsir dari kitab Sunan milik keduanya. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya. Dan Tirmidzi mengatakan: Derajat hadits ini hasan gharib. Hadits tersebut bersumber dari Abu al-Ahwash, yaitu Salam bin Sulaim sedang kami tidak mengetahui riwayat secara marfu’ kecuali dari haditsnya. Demikian dikatakannya. Wallahu a’lam.

Firman Allah Ta’ala: asy-syaithaanu ya’idukumul faqra (“Syaitan menjanjikanmu dengan kemiskinan,”) berarti syaitan itu menakut-nakuti kalian dengan kemiskinan, sehingga kalian akan mempertahankan harta yang ada pada kalian dan enggan menginfakkannya untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala: wa ya’murukum bil fahsyaa-i (“Dan ia menyuruh kalian berbuat kejahatan [kikir]” yaitu dengan melarang kalian berinfak karena takut miskin. Ia juga menyuruh kalian berbuat maksiat, dosa, melanggar berbagai larangan, dan menyalahi aturan Allah.

Allah berfirman: wallaaHu ya’idukum maghfiratam minHu (“Sedangkan Allah menjanjikan untuk kalian ampunan dari-Nya.”) Maksudnya, sebagai lawan dari perbuatan jahat yang diperintahkan syaitan kepada kalian. Wa fadl-lan (“Dan karunia.”) Sebagai lawan dari kemiskinan yang senantiasa diancamkan kepada kalian. wallaaHu waasi’un ‘aliim (“Dan Allah Mahaluas [karunia-Nya] lagi Mahamengetahui.”)

Firman-Nya: yu’til hikmata may yasyaa-u (“Allah menganugerahkan al-Hikmah [pemahaman yang dalam tentang al-Qur an dan as-Sunnah] kepada siapa yang Dia kehendaki.”) Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu Abbas: “Yaitu pengetahuan mengenai al-Qur’an, yang meliputi ayat-ayat nasikh dan mansukh, muhkarn dan mutasyabih, yang didahulukan dan yang diakhirkan, halal dan haram, dan semisalnya.”

Ibnu Abi Najih menceritakan dari Mujahid: “Yang dimaksud dengan hikmah di sini adalah tepat dalam ucapan.” Sedangkan Abu Aliyah mengatakan: “Hikmah berarti rasa takut kepada Allah swt, karena sesungguhnya rasa takut kepada Allah merupakan pokok dari setiap hikmah.”

Ibrahim an-Nakha’i mengemukakan: “Hikmah berarti pemahaman.”
Ibnu Wahab menceritakan dari Malik, Zaid bin Aslam mengatakan: “Hikmah berarti akal.”

Dan Imam Malik mengatakan: “Sesungguhnya terbetik di hatiku bahwa hikmah itu adalah pemahaman tentang agama Allah dan sesuatu yang dimasukkan Allah ke dalam hati yang berasal dari rahmat dan karunia-Nya. Yang dapat memperjelas hal itu adalah bahwa anda mungkin mendapatkan seseorang yang ahli dalam urusan dunianya, jika ia berbicara tentangnya. Dan anda mendapatkan orang lain yang lemah dalam urusan dunianya tetapi ia sangat ahli dan luas pandangannya dalam bidang agama, ini merupakan karunia yang diberikan kepadanya dan dihalangi dari orang yang pertama. Jadi, hikmah berarti pemahaman dalam agama Allah Ta’ala.”

Sedangkan as-Suddi mengemukakan, “Hikmah berarti kenabian.”

Yang benar, sebagaimana dikatakan oleh Jumhurul ulama, hikmah itu tidak dikhususkan pada kenabian saja, tetapi lebih umum dari itu. Yang tertinggi dari derajat hikmah adalah kenabian, sedangkan risalah lebih khusus lagi.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, ia menceritakan: aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Tidak diperbolehkan dengki kecuali terhadap dua orang: Seorang yang diberi harta kekayaan oleh Allah, lalu ia menghabiskannya dalam kebenaran, dan seorang yang diberikan hikmah oleh Allah, lalu ia memutuskan perkara (urusan) berdasarkan hikmah itu dan ia mengajarkannya.”

Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Majah melalui beberapa jalan, dari Ismail bin Abi Khalid.

Dan firman-Nya: wa maa yadz-dzakkaru illaa ulul albaab (“Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran [dari firman Allah].”) Tidak ada yang mengambil pelajaran dari suatu nasihat dan peringatan kecuali orang-orang yang memiliki hati dan akal, yaitu ia memahami apa yang sedang dibicarakan dan makna yang terkandung dalam firman Allah swt.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 266

27 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 266“Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masib kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah, Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. (QS. Al-Baqarah: 266)

Pada saat manafsirkan ayat ini, Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia menceritakan: Pada suatu hari, Umar bin Khaththab ra. pernah berkata kepada para sahabat Nabi saw.: “Menurut kalian, berkenaan dengan siapa ayat ini turun, (“Apakah ada salah seorang di antara kalian yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur mengalir di bawahnya sungai-sungai?”) Mereka menjawab: “Allahu a’lam (Allah yang lebih mengetahui).” Maka Umar bin Khaththab pun marah seraya berkata: “Jawablah, kami mengetahui atau kami tidak mengetahui.” Maka Ibnu Abbas berkata: “Aku mengetahui sedikit mengenai hal itu, ya Amirul Mukminin.” Lalu Umar berkata: “Wahai keponakanku, katakanlah dan janganlah engkau meremehkan dirimu.” Kemudian Ibnu Abbas berkata: “Akan aku berikan perumpamaan dengan sebuah amal.” “Amal (perbuatan) apa?” Tanya Umar. Ibnu Abbas menjawab: “Seorang kaya yang beramal dengan ketaatan kepada Allah swt, kemudian Allah mengirimkan syaitan kepadanya, maka ia pun berbuat banyak maksiat sehingga semua amalnya terhapus.”

Hadits tersebut hanya diriwayatkan al-Bukhari rahimahullahu, namun sudah cukup memadai untuk menafsirkan ayat ini. Menjelaskan perumpamaan orang yang amal perbuatannya baik pada permulaan hidupnya, lalu setelah itu jalan hidupnya berbalik, di mana ia mengganti kebaikan dengan kejahatan -semoga Allah melindungi kita semua dari hal itu- sehingga amal perbuatannya yang pertama dihapuskan oleh perbuatannya yang kedua. Maka ketika dalam keadaan sulit, dan ia membutuhkan sesuatu dari amal perbuatannya yang pertama, ia tidak dapat memperolehnya sedikit pun. Ia dikhianati oleh sesuatu yang sangat dibutuhkannya.

Oleh karena itu, Allah swt. berfirman: wa ashaabaHul kibaru wa laHuu dzurriyyatun dlu’afaa-u fa ashaabaHaa i’shaarun fiiHi naarun fahtaraqat (“Kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang ia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah.”) Maksudnya, api itu membakar buah-buahannya dan menumbangkan pohon-pohonnya. Keadaan apakah yang lebih parah dari keadaan ini?

Kadzaalika yubayyinullaaHu lakumul aayaati la’allakum tatafakkaruun (“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian sepaya kalian memikirkannya.”) Artinya mengambil pelajaran dan memahami perumpamaan berikut makna-maknanya serta menempatkannya pada maksud yang sebenarnya. Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Dan perumpamaan perumpamaanini Kami buat untuk manusia, dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS. Al-Ankabuut: 43).

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 265

27 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 265“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridlaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleb hujan lebat, maka kebun itu mengbasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Mahamelihat apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah: 265)

Ini merupakan perumpamaan orang-orang yang beriman yang menginfakkan hartanya untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala: wa tatsbiitan min anfusiHim (“Dan untuk keteguhan jiwa mereka.”) Artinya, mereka benar-benar yakin dan teguh bahwa Allah akan memberikan pahala atas amal perbuatan mereka tersebut dengan pahala yang lebih banyak.

Yang semakna dengan hal di atas makna sabda Rasulullah dalam sebuah hadits shahih: “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah…”

Artinya, ia beriman bahwa Allah Ta’ala yang telah mensyariatkannya dan ia mengharapkan pahala di sisi-Nya.

Mengenai firman-Nya: wa tatsbiitan min anfusiHim (“Dan untuk keteguhan jiwa mereka.”) Asy-Sya’abi mengatakan: “Artinya, percaya dan yakin.” Hal senada juga dikatakan Qatadah, Abu Shalih dan Ibnu Zaid dan menjadi pilihan Ibnu Jarir. Mujahid dan al-Hasan mengatakan, “Artinya mereka benar-benar teguh ke mana menyerahkan sedekah mereka.”

Dan firman-Nya lebih lanjut: kamatsali jannatim birabwatin (“Seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi.”) Maksudnya, seperti sebuah kebun di dataran tinggi. Demikian menurut jumhurul ulama. Rabwah berarti tanah tinggi. Ibnu Abbas dan adh-Dhahhak menambahkan, “Dan di dalamnya mengalir sungai-sungai.”

Ibnu Jarir rahimahullahu mengatakan, “Rabwah terdapat dalam tiga bahasa yaitu tiga qira’ah (bacaan). Penduduk Madinah, Hijaz, dan Irak secara keseluruhan membacanya, Rubwah (dengan didhomah “ra” nya) dan sebagian penduduk Syiria (Ibnu Amir) dan Kufah (‘Ashim) membacanya, Rabwah (dengan difathah “ra” nya).

Ada juga yang mengatakan, Rabwah ini merupakan bahasa Kabilah Tamim. Juga dibaca, ribwah (dengan dikasrah “ra” nya), dan disebutkan bahwa ini adalah qira’ah Ibnu Abbas.

Firman-Nya: ashaabaHaa waabilun (“Yang disiram oleh hujan lebat.”) waabilun berarti hujan lebat, sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya. Maka kebun itu menghasilkan “akalaHaa” maksudnya yaitu buahnya. Dli’faini (“Dua kali lipat.”) Jika dibandingkan dengan kebun-kebun lainnya. Fa illam yushib-Haa waabilun fathall (“Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis [pun sudah memadai].”)

Adh-Dhahhak mengatakan, “thallun” berarti gerimis. Dengan hujan lebat itu, kebun tersebut tidak akan pernah kering dan gersang, karena meskipun kebun itu tidak mendapatkan curahan hujan lebat, ia telah mendapatkan percikan gerimis. Dan air gerimis itu pun sudah cukup memadai. Demikianlah amal orang mukmin, tidak akan sia-sia, bahkan Allah menerimanya dan akan diperbanyak (pahalanya), serta dikembangkan sesuai dengan jerih payah orang yang beramal.

Oleh karena itu, Dia berfirman: wallaaHu bimaa ta’maluuna bashiir (“Dan Allah Mahamelihat apa yang kamu kerjakan.”) Artinya, tidak ada sesuatu pun dari amal hamba-hamba-Nya yang tersembunyi dari-Nya.

&

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 262-264

27 Apr

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 262-264“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah: 262) Perkataan yang baik dan pemberian ma’af lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Mahakaya lagi Mahapenyantun. (QS. Al-Baqarah: 263) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 264)

Allah memuji orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan-Nya, dan tidak menyertai kebaikan dan sedekah yang diinfakkannya itu dengan mengungkit-ungkitnya di hadapan si penerima dan tidak juga di hadapan orang lain, baik melalui ucapan maupun perbuatan.

Dan firman Allah swt: walaa adzaa (“Dan dengan tidak menyakiti.”) Maksudnya, mereka tidak melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh si penerima, hingga menghapuskan kebaikan yang mereka lakukan tersebut. Selanjutnya Allah Ta’ala menjanjikan kepada mereka pahala yang berlimpah atas perbuatan tersebut, dengan firman-Nya: laHum ajruHum ‘inda rabbiHim (“Mereka mendapat pahala di sisi Rabb mereka.”) Maksudnya, pahala mereka itu hanya berasal dari Allah semata. Wa laa khaufun ‘alaiHim (“Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka.”) Yaitu terhadap berbagai bencana yang akan mereka hadapi pada hari kiamat kelak.

Walaa Hum yahzanuun (“Dan tidak pula mereka bersedih hati.”) Maksudnya, (terhadap) anak-anak yang mereka tinggalkan serta hilangnya kesempatan dari kehidupan dunia dan kegemerlapannya tidak menjadikan mereka kecewa, karena mereka telah mendapatkan sesuatu yang lebih baik bagi mereka dari semuanya itu.

Lebih lanjut, Allah swt berfirman: qaulum ma’ruufun (“Perkataan yang baik.”) Yaitu berupa kata-kata yang baik dan doa bagi orang muslim. Wa maghfiratun (“Dan pemberian maaf.”) Yaitu berupa maaf dan ampunan atas suatu kezhaliman, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Khairum min shadaqatiy yatba’uHaa adzaa (“Lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan [perasaan si penerima].”)

wallaaHu ghaniyyun (“Allah Mahakaya,”) dari bantuan makhluk-makhluk-Nya. haliim (“Lagi Mahapenyantun.”) Yakni Dia senantiasa menyantuni, memberikan ampunan, memberikan maaf dan menghapuskan dosa mereka.

Ada beberapa hadits yang telah melarang kita mengungkit-ungkit pemberian. Misalnya yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitabnya, Shahih Muslim, dari Abu Dzar, ia menceritakan, Rasulullah bersabda: “Ada tiga orang yang pada hari kiamat kelak Allah tidak mengajak mereka bicara, tidak melihat mereka, tidak menyucikan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. Yaitu: orang yang menyebut-nyebut pemberian yang ia telah berikan, orang yang memanjangkan kainnya (di bawah mata kaki), dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu.”

Kemudian Ibnu Mardawih, Ibnu Hibban, al-Hakim dalam kitabnya, al-Mustadrak, dan Nasa’i juga meriwayatkan dari Abdullah bin Yasar al-A’raj, dari Salim bin Abdillah bin Umar, dari ayahnya, ia menceritakan, Rasulullah bersabda: “Ada tiga orang yang pada hari kiamat kelak Allah tidak akan melihat mereka, yaitu: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, peminum khamr, dan orang yang suka menyebut-nyebut apa yang pernah ia berikan.”

Allah swt. berfirman: yaa ayyuHal ladziina aamanuu laa tubthiluu shadaqaatikum bil manni wal adzaa (“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti [perasaan si penerima].”) Allah Ta’ala memberitahukan bahwa pahala sedekah itu bisa hilang karena tindakan menyebut-nyebut sedekah itu atau menyakiti si penerima sedekah tersebut. Jadi, pahala sedekah itu akan terhapus karena kesalahan berupa tindakan menyebut-nyebut pemberian dan menyakiti hati si penerima sedekah.

Lebih lanjut Allah A berfirman: kalladzii yunfiqu maalaHuu ri-aa-annaasi (“Seperti orang yang menafkahkan hartanya kerena riya’ kepada manusia.”) Maksudnya, janganlah kalian menghapuskan pahala sedekah kalian dengan menyebut-nyebut pemberian dan menyakiti si penerima sedekah, sebagaimana terhapusnya pahala sedekah yang dikerjakan karena riya’ kepada manusia, di mana ia memperlihatkan kepada orang-orang bahwa ia bersedekah untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala, padahal niat yang sebenarnya adalah agar mendapat pujian orang lain serta bermaksud mendapatkan kepopuleran dengan sifat-sifat yang baik sehingga ia akan memperoleh ucapan terima kasih atau mendapat sebutan, “Orang yang dermawan” dan hal-hal duniawi lainnya, dengan memutuskan perhatiannya dari mu’amalah dengan Allah dan dari tujuan meraih keridhaan Allah serta memperoleh limpahan pahala-Nya. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: wa laa yu’minu billaaHi wal yaumil aakhiri (“Dan ia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.”)

Kemudian Allah memberikan perumpamaan orang yang berinfak dengan disertai riya’ tersebut. Adh-Dhahhak mengatakan, mengenai orang yang menyertai infaknya dengan tindakan menyebut-nyebut pemberian atau menyakiti si penerima sedekah, Allah Ta’ala berfirman: fa matsaluHuu kamatsali shafwaanin (“Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin.”) “shafwaanun” adalah jamak (plural) dari kata “shafwaanatun”. Di antara ulama ada yang mengatakan, kata “shafwaanun” dapat juga sebagai mufrad (kata tunggal), yang berarti batu yang licin.

‘alaiHi turaabun fa ashaabaHu waabilun (“Yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat.”) fatarakaHuu shaldan (“lalu ia menjadi bersih [tidak bertanah].”) Maksudnya, hujan itu menjadikan batu tersebut licin, tidak ada sesuatu pun di atasnya, karena semua tanah yang ada di atasnya telah hilang. Demikian halnya dengan amal perbuatan orang-orang yang riya’, akan hilang dan lenyap di sisi Allah, meskipun amal perbuatan itu tampak oleh mereka, sebagaimana tanah di atas batu tersebut. Oleh karena itu, Dia berfirman: laa yaqdiruuna ‘alaa syai-im mimmaa kasabuu wallaaHu laa yaHdil qaumal kaafiriin (“Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”)

&