Arsip | 00.43

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 285-286

8 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 285-286“Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya,’ dan mereka mengatakan: ‘Kami mendengar dan kami ta’at.’ (Mereka berdoa): ‘Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.’ (QS. Al-Baqarah: 285) Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. la mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.’” (QS. Al-Baqarah: 286)

Beberapa hadits tentang keutamaan kedua ayat di atas. Semoga Allah swt. memberi manfaat dari keduanya.

Imam al-Bukhari meriwayatkan, dari Ibnu Mas’ud, ia menceritakan, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa membaca dua ayat terakhir surat al-Baqarah pada malam hari, maka kedua ayat ini mencukupinya.” (HR. Al-Bukhari).
Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh beberapa perawi lainnya.

Imam Ahmad meriwayatkan, dari Abu Dzar, katanya, Rasulullah saw. bersabda: “Aku telah diberi beberapa ayat penutup surat al-Baqarah dari perbendaharaan di bawah ‘Arsy, yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku.” (HR. Ahmad).
Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih.

Sedangkan Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah, ia menceritakan: “Ketika Rasulullah di perjalankan hingga sampai di Sidratul Muntaha, yang berada pada langit lapis ke tujuh. Padanya berakhir apa yang dibawa naik dari bumi, lalu ditahan. Dan padanya pula berakhir apa yang dibawa turun dari atasnya, lalu ditahan. Ia (Abdullah) berkata, (yaitu berkenaan dengan firman-Nya): “(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.” (QS. An-Najm: 16) Abdullah mengatakan, yaitu permadani dari emas. Lebih lanjut ia mengatakan, dan Rasulullah diberi tiga hal: shalat lima waktu, ayat-ayat penutup surat al-Baqarah, dan ampunan bagi umatnya yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.”

Abu Isa at-Tirmidzi meriwayatkan dari Nu’man bin Basyir, dari Nabi, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menuliskan sebuah kitab dua ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Darinya Dia menurunkan dua ayat yang dengan keduanya itu Dia menutup surat al-Baqarah. Dan tidaklah keduanya dibaca dalam suatu rumah selama tiga hari, melainkan syaitan akan lari darinya.”

Selanjutnya Imam at-Tirmidzi mengatakan, “Hadits ini berstatus gharib.” Hal yang senada juga diriwayatkan al-Hakim dalam kitabnya al-Mustadrak, dari Hamad bin Salamah. Dan ia mengatakan, bahwa hadits tersebut shahih menurut persyaratan Muslim, namun Imam Muslim dan Imam al-Bukhari tidak meriwayatkannya.

(Hadits gharib: Hadits yang dalam sanadnya terdapat seseorang yang menyendiri dalam meriwayatkan, di mana saja penyendirian sanad itu terjadi. Penyendirian itu dapat mengenai personalinya, yaitu tidak ada yang meriwayatkan selain rawy (orang yang menyampaikan atau menuliskan dalam suatu kitab, apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari gurunya) itu sendiri. Atau mengenai sifat atau keadaan rawy, yaitu sifatnya berbeda dengan sifat dan keadaan rawy lainnya.)

Firman Allah swt.: aamanar rusulu bimaa unzila ilaiHi mir rabbiHi (“Rasul telah beriman kepada al-Qur an yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya.”) Ini adalah pemberitahuan mengenai diri Nabi saw.

Dan firman-Nya: wal mu’minuun (“Demikian pula orang-orang yang beriman.”) Diathafkan (dihubungkan) dengan Rasulullah saw. Dan kemudian Dia memberitahukan mengenai keseluruhannya dengan berfirman: kullun aamana billaaHi wa malaa-ikatiHii wa kutubiHii wa rusuliHii laa nufarriqu baina ahadim mir rusuliHi ( “Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Mereka mengatakan, ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun [dengan yang lain] dari rasul-rasul-Nya.’”)

Dengan demikian, orang-orang mukmin mengimani bahwa Allah adalah Satu yang Esa, Sendiri dan Kekal, tidak ada Ilah yang haq selain diri-Nya, dan tidak ada Rabb melainkan hanya diri-Nya. Dan mereka membenarkan semua nabi dan rasul, kitab-kitab yang diturunkan dari langit kepada hamba-hamba-Nya yang diutus menjadi rasul dan nabi. Mereka tidak membedakan antara rasul yang satu dengan yang lainnya, sehingga mereka (tidak) hanya beriman kepada sebagian dan ingkar terhadap sebagian yang lain. Tetapi seluruh rasul dan nabi itu, menurut mereka adalah benar, baik, mendapat bimbingan dan memberi petunjuk kepada jalan kebaikan, meskipun sebagian rasul itu menghapus syariat sebagian rasul lainnya dengan seizin Allah, hingga akhirnya seluruh syariat mereka dihapus dengan syariat Muhammad saw, sebagai penutup para nabi dan rasul, dan hari kiamat akan terjadi pada masa syariatnya (Muhammad saw), dan akan tetap ada segolongan dari umatnya yang senantiasa berpegang teguh dan menetapi kebenaran.

Firman Allah: wa qaaluu sami’naa wa atha’naa (“Dan mereka mengatakan, ‘Kami mendengar dan kami taat.’”) Maksudnya, kami mendengar firman-Mu, ya Rabb kami, memahami dan mengamalkannya sesuai dengan tuntunannya. Ghufraanaka (“[Mereka berdo’a], ‘Ampunilah kami, ya Rabb kami.’”) Ini merupakan permohonan ampun, rahmat, dan betas kasih. Wa ilaikal mashiir (“kepada-Mu tempat kembali.”) Maksudnya, Dia-lah tempat kembali pada hari perhitungan.

Firman Allah swt: laa yukallifullaaHu nafsan illaa wus’aHaa (“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”) Artinya, Allah tidak akan membebani seseorang di luar kemampuannya. Ini merupakan kelembutan, kasih sayang, dan kebaikan-Nya terhadap makhluk-Nya. Dan ayat inilah yang menasakh apa yang dirasakan berat oleh para sahabat Nabi, yaitu ayat yang artinya: “Dan jika kamu menampakkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan denganmu tentang perbuatanmu itu.” Maksudnya, meskipun Dia menghisab dan meminta pertanggung-jawaban, namun Dia (Allah) tidak mengadzab melainkan disebabkan dosa yang seseorang memiliki kemampuan untuk menolaknya. Adapun sesuatu yang seseorang tidak memiliki kemampuan untuk menolaknya seperti godaan dan bisikan jiwa (hati), maka hal itu tidak dibebankan kepada manusia. Dan kebencian terhadap godaan bisikan yang jelek/jahat merupakan bagian dari iman.

Dan firman-Nya lebih lanjut: laHaa maa kasabat (“la mendapat pahala [dari kebajikan] yang diusahakannya.”) Yaitu berupa kebaikan yang ia lakukan. Wa ‘alaiHaa maktasabat (“Dan ia mendapat siksa [dari kejahatan] yang dikerjakannya.”) Yaitu berupa keburukan yang ia perbuat. Hal itu menyangkut amal perbuatan yang termasuk dalam taklif (yang harus dilakukan).

Kemudian Allah berfirman, memberikan bimbingan kepada hamba-hamba-Nya dalam memohon kepada-Nya. Dan Dia telah menjamin akan memenuhi permohonan tersebut. Sebagaimana Dia telah membimbing dan mengajarkan kepada mereka untuk mengucapkan: rabbanaa laa tu-aakhidznaa in nasiinaa au akhtha’naa (“Ya Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami bersalah.”) Yaitu, jika kami meninggalkan suatu kewajiban atau mengerjakan perbuatan haram karena lupa, atau kami melakukan suatu kesalahan karena tidak mengetahui hal yang benar menurut syariat.

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, dari Abu Hurairah ra, Beliau saw. bersabda: “[Lalu] Allah pun menjawabnya: ‘Ya.’” (bahwa do’a tersebut langsung dijawab Allah dengan jawaban: “Ya.”-Pent.)

Sedangkan firman-Nya: rabbanaa walaa tahmil ‘alainaa ishran kamaa hamaltaHuu ‘alal ladziina min qablinaa (“Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami.”) Maksudnya, janganlah Engkau membebani kami dengan amal-amal yang berat meskipun kami mampu menunaikannya, sebagaimana yang telah Engkau syariatkan kepada umat-umat yang terdahulu sebelum kami, berupa belenggu-belenggu dan beban-beban yang mengikat mereka. Engkau telah mengutus Nabi-Mu Muhammad saw, sebagai Nabi pembawa rahmat, untuk menghapuskannya melalui syariat yang dibawanya, berupa agama yang lurus, yang mudah, lagi penuh kemurahan hati.

Firman Allah swt selanjutnya: rabbanaa walaa tuhammilnaa maa laa qaatalanaa biHi (“Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya.”) Yaitu, berupa kewajiban, berbagai macam musibah dan ujian. Janganlah Engkau menguji kami dengan apa yang kami tidak mampu menjalaninya.

Firman-Nya lebih lanjut: wa’fu ‘annaa (“Berikanlah maaf kepada kami.”) Yaitu atas kekhilafan dan kesalahan yang Engkau ketahui yang pernah terjadi antara kami dengan-Mu. Waghfirlanaa (“Ampunilah kami.”) Maksudnya, kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi di antara kami dengan hamba-hamba-Mu. Maka janganlah Engkau memperlihatkan kepada mereka keburukan-keburukan kami dan perbuatan jelek kami. Warhamnaa (“Dan berikanlah rahmat kepada kami.”) Yaitu, pada segala hal yang akan datang. Maka janganlah Engkau menjatuhkan kami ke dalam dosa yang lain.

Oleh karena itu para ulama berkata, “Sesungguhnya orang yang berbuat dosa memerlukan tiga hal: Ampunan dari Allah Ta’ala atas dosa-dosa yang pernah terjadi antara dirinya dengan-Nya, penutupan-Nya terhadap kesalahannya dari hamba-hamba-Nya yang lain, sehingga Dia tidak mencemarkannya di tengah-tengah mereka dan perlindungan dari-Nya sehingga ia tidak terjerumus ke dalam dosa yang sama.”

Firman Allah swt setelah itu: anta maulaanaa (“Engkaulah penolong kami.”) Maksudnya, Engkaulah pelindung dan pembela kami. Kepada-Mu kami bertawakal. Engkaulah tempat memohon pertolongan, dan kepada-Mu kami bersandar. Tidak ada daya dan kekuatan pada kami melainkan karena pertolongan-Mu. Fanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin (“Maka tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir.”) Yaitu orang-orang yang mengingkari agama-Mu, menolak keesaan-Mu dan risalah nabi-Mu, menyembah Ilah selain diri-Mu, serta menyekutukan-Mu dengan hamba Mu. Maka tolonglah kami untuk mengalahkan mereka, hingga pada akhirnya kami mendapatkan kemenangan atas mereka di dunia dan di akhirat. Maka Allah pun menjawab: “Ya.”

Selesai.

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah ayat 284

8 Mei

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Baqarah
Surat Madaniyyah; Surat Ke-2 : 286 ayat

tulisan arab surat albaqarah ayat 284“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 284)

Allah memberitahukan, bahwa Dialah yang memiliki kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Dan Dia selalu memantau segala sesuatu yang terdapat di sana, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya, baik itu yang tampak maupun yang tersembunyi, meskipun sangat kecil dan benar-benar tersembunyi.

Selain itu Dia juga memberitahukan bahwasanya Dia akan menghisab hamba-hamba-Nya atas segala perbuatan yang telah mereka kerjakan dan apa yang telah mereka sembunyikan dalam hati mereka. Sebagaimana firman Allah swt yang artinya: “Katakanlah, ‘Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu memperlihatkannya, pasti Allah mengetahui.’ Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali Imraan: 29).

Dan firman-Nya yang artinya: “Sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.” (QS. Thaahaa :7). Ayat-ayat al-Qur’an yang membahas hal tersebut sangat banyak.

Allah telah memberitahu dalam ayat ini, bahwa Dia bukan saja mengetahui, tetapi juga menghisab semua itu. Oleh karena itu, turunnya ayat ini, terasa sangat memberatkan para Sahabat. Mereka merasa takut darinya dan dari muhasabah (perhitungan) Allah Ta’ala terhadap mereka atas semua perbuatan baik kecil maupun besar. Hal ini karena kedalaman iman dan keyakinan mereka.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia menceritakan: Ketika turun kepada Rasulullah ayat (berikut): “Kepunyaan Allah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu menampakkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan denganmu tentang perbuatan kamu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki pula. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu,” maka hal itu terasa sangat berat bagi para sahabat Rasulullah saw, lalu mereka menemui Rasulullah saw. kemudian berlutut seraya berucap: “Ya Rasulullah, kami telah dibebani dengan amalan-amalan yang sanggup kami kerjakan, seperti shalat, puasa, jihad, dan sedekah. Dan sekarang telah turun kepadamu ayat ini, dan kami tidak sanggup (memikulnya).” Maka Rasulullah pun bersabda: “Apakah kalian ingin mengatakan seperti apa yang telah dikatakan oleh Ahlul Kitab sebelum kalian, “Kami mendengar dan kami melanggarnya? Tetapi katakanlah: ‘Kami mendengar dan kami menaatinya. Ampunilah kami, ya Rabb kami. Dan kepada-Mu-lah tempat kembali.’ Setelah mereka mau menerima ayat ini dan lidah mereka pun telah tunduk mengucapkannya, maka setelah itu Allah menurunkan firman-Nya:

‘Rasul telah beriman kepada al-Qur an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Mereka mengatakan: ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya.’ Dan mereka mengatakan: ‘Kami mendengar dan kami taat.’ (Mereka berdoa): ‘Ampunilah kami, ya Rabb kami. Dan kepada-Mu tempat kembali.’”

Setelah mereka melakukan hal itu, Allah menasakh ayat tersebut dan menurunkan firman-Nya:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. la mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo’a), ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami bersalah….’”(Dan seterusnya).

Imam Muslim juga meriwayatkan hadits senada, dari Abu dengan lafadz: Setelah mereka melakukan hal itu, Allah Ta’ala pun menasakh ayat itu dan menurunkan firman-Nya [yang artinya]: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakan nya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami bersalah.’ Allah pun menjawab: ‘Ya.’ ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami.’ Allah pun menjawab: ‘Ya.’ ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya.’ Dan Allah menjawab: ‘Ya.’ ‘Berikanlah maaf kepada kami, ampunilah kami, dan berikanlah rahmat kepada kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir.’ ‘Allah menjawab: ‘Ya,’. (HR. Muslim).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Mujahid, ia menceritakan: “Aku pernah bertamu ke rumah Ibnu Abbas, lalu kukatakan kepadanya: ‘Wahai Abu Abbas, aku pernah bersama Ibnu Umar, lalu ia membaca ayat ini dan kemudian menangis.’ Ibnu Abbas bertanya: ‘Ayat apa itu?’ Kujawab: ‘Yaitu ayat: ‘Dan jika kamu menampakkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya.’ Ibnu Abbas berkata: ‘Sesungguhnya ketika diturunkan, ayat ini sempat membuat para sahabat Rasulullah benar-benar sangat bersedih dan menjadikan mereka sangat tertekan perasaannya. Dan mereka berkata, ‘Ya Rasulullah, binasalah kami, jika kami dihukum atas apa yang kami ucapkan dan kami perbuat, sedangkan hati kami tidak berada di tangan kami.’ Maka Rasulullah bersabda, ‘Katakanlah: ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Mereka pun mengatakan, ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Selanjutnya Ibnu Abbas mengatakan, setelah itu ayat ini pun dinasakh (dihapuskan) dengan firman-Nya: “Rasul telah beriman kepada al-Qur an yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Mereka mengatakan, ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya.’ Dan mereka mengatakan, ‘Kami mendengar dan kami taat.’ (Mereka berdoa), ‘Ampunilah kami, ya Rabb kami. Dan kepada-Mu tempat kembali.’ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” Sehingga hilang keberatan yang ada pada diri mereka, dan selanjutnya mereka mau mengamalkannya.”

Dan jalur-jalur hadits tersebut adalah shahih. Dan hadits tersebut telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, sebagaimana riwayat Ibnu Abbas. Imam al-Bukhari meriwayatkannya dari salah seorang sahabat Rasulullah, yang aku duga adalah Ibnu Umar.

Mengenai firman Allah Ta’ala: wa in tubduu maa fii anfusikum au tukhfuuHu (“Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya.”) Ia mengatakan, “Ayat tersebut telah dinasakh oleh ayat setelahnya.”

Dan hal itu telah ditegaskan dalam hadits yang diriwayatkan sejumlah penulis dalam Kutub Sittah (kitab hadits yang enam), melalui jalan Qatadah, dari Zararah bin Abi Aufa, dari Abu Hurairah, ia menceritakan, Rasulullah saw. telah bersabda: “Sesungguhnya Allah memberikan untukku maaf bagi umatku atas apa yang dikatakan hatinya selama tidak diucapkan atau dikerjakannya.”

Dalam kitab Shahihain telah diriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah saw, mengenai apa yang beliau riwayatkan dari Allah Ta’ala, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah mencatat seluruh perbuatan baik dan perbuatan buruk. Selanjutnya Dia menjelaskan hal itu. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan, lalu ia tidak mengerjakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan penuh di sisi-Nya. Dan jika ia berniat mengerjakan kebaikan, lalu ia mengerjakannya, maka Allah mencatatnya sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat bahkan sampai kelipatan yang banyak. Dan jika ia berniat mengerjakan keburukan, lalu ia tidak mengerjakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan di sisi-Nya. Dan jika ia berniat mengerjakan keburukan, lalu ia mengerjakannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu keburukan saja.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sedangkan dalam hadits Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia menceritakan: Ada beberapa orang sahabat datang kepada Rasulullah saw, lalu mereka bertanya kepada beliau: “Sesungguhnya kami mendapatkan pada diri kami sesuatu yang salah seorang di antara kami merasa segan untuk membicarakannya.” Beliau bertanya: “Benarkah kalian telah mendapatkannya?” “Benar,” jawab mereka. Beliau pun bersabda: “Itu adalah iman yang tulus.” (HR. Muslim).

Masih menurut riwayat Imam Muslim, dari Abdullah, ia menceritakan, Rasulullah pernah ditanya mengenai was-was. Maka beliau menjawab: “Itulah iman yang tulus.”

Mengenai firman Allah: wa in tubduu maa fii anfusikum au tukhfuuHu yuhaasibkum biHillaHu (“Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatan kamu itu.”) Ali bin Abi Thalhah menceritakan, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan: “Ayat ini tidak dinasakh, tetapi ketika Allah Ta’ala mengumpulkan semua makhluk pada hari kiamat kelak, maka Dia akan mengatakan: ‘Sesungguhnya Aku akan beritahukan kepada kalian apa yang telah kalian sembunyikan dalam hati kalian yang tidak dapat dilihat oleh malaikat-Ku.” Sedangkan kepada orang-orang yang beriman, Allah Ta’ala akan memberitahu mereka dan mengampuni mereka atas apa yang telah dikatakan oleh hati mereka.” Yaitu firman-Nya: yuhaasibkum biHillaHu; Maksudnya, Dia memberitahu kamu. Adapun bagi orang-orang yang bimbang dan penuh keraguan, maka kepada mereka akan diberitahukan kedustaan yang telah mereka sembunyikan. Dan itulah makna firman Allah: fa yaghfiru limay yasyaa-u wa yu’adzdzibu may yasyaa-u (“Maka Allah mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang Dia kehendaki pula.”) Dan itu pula makna firman-Nya yang artinya: “Tetapi Allah menghukum kamu disebabkan apa yang diperbuat oleh hatimu.” (QS. Al-Baqarah: 225). Maksudnya adalah keraguan dan kemunafikan.

Al-Aufi dan adh-Dhahhak telah meriwayatkan makna yang berdekatan dengan makna tersebut.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Shafwan bin Mahraz, ia menceritakan: “Ketika kami sedang mengerjakan thawaf di Baitullah bersama Abdullah bin Umar. Ketika ia sedang mengerjakan thawaf, tiba-tiba datang kepadanya seseorang lalu berkata: ‘Hai Ibnu Umar, apa yang engkau dengar dari Rasulullah saw. ketika bersabda tentang Najwa (bisikan)?’ Ibnu Umar menjawab: ‘Aku mendengar Rasulullah bersabda: ‘Orang mukmin mendekati Rabb-nya swt. Lalu Dia meletakkannya di bawah naungan lindungan-Nya dan membuatnya mengakui atas segala dosa-dosanya.’ Dia bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau tahu dosamu ini?’ dia menjawab: ‘Rabb-ku lebih mengetahui.’ [Hal itu dikatakannya dua kali]. Hingga Dia mengatakan: ‘Sesungguhnya Aku telah menutupinya bagimu di dunia dan sesungguhnya Aku akan mengampuninya untukmu hari ini.’ Selanjutnya Dia memberikan lembar catatan kebaikannya [atau kitab catatannya] melalui tangan kanannya. Sedangkan bagi orang-orang kafir dan munafik, maka mereka akan diseru di hadapan para saksi, “Orang-orang inilah yang telah berdusta kepada Rabb mereka. Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zhalim. ” (QS. Huud: 18).”

Hadits ini juga diriwayatkan dalam kitab Shahihain (al-Bukhari dan Muslim) dan juga kitab-kitab hadits yang lainnya melalui berbagai jalur.

&