Mengusap Sepatu (Khuf)

25 Mei

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Menurut ijma’ kaum Muslim, boleh mengusap bagian atas sepatu ketika dalam perjalanan. Tidak ada yang melarang hal ini, kecuali segolongan Khawarij.

Empat imam madzhab sepakat tentang bolehnya mengusap sepatu ketika mukim (tidak bepergian), secuali menurut satu riwayat dari Maliki.
Menurut Hanafi, Syafi’i, dan Hambali, mengusap sepatu terbatas waktunya, yaitu bagi musafir adalah tiga hari tiga malam. Sedangkan bagi orang mukim adalah semalam. Maliki berpendapat: mengusap sepatu tidak ada batasnya. Bahkan pemakainya boleh mengusapnya selama belum melepaskan atau tidak berjanabah, baik musafir maupun mukim. Demikian juga menurut qaul qadim Syafi’i.

Disunnahkan mengusap sepatu bagian atas dan bawahnya. Demikian menurut tiga imam madzab. Sedangkan hambali berpendapat: disunnahkan mengusap bagian atas saja.

Menurut kesepakatan para imam madzhab, mengusap bagian atas saja dipandang sah. Akan tetapi jika diusap bagian bawahnya saja, menurut ijma’ tidak sah. Mereka berpendapat mengenai kadar mengusap sepatu. Hanafi: tidak sah kecuali dengan tiga jari atau lebih. Syafi’i: cukup menurut sebutan mengusap. Hambali: jika yang diusap lebih banyak, hal itu sah. Sedangkan Maliki menetapkan sapuan pada tempat yang diwajibkan, yaitu yang menutupi bagian kaki yang harus dibasuh. Namun jika ada sesuatu di bawah kaki yang terlewatkan, hendaknya diulang shalatnya kalau masih ada waktu.

Menyapu sepatu cukup sekali. Apabila salah satunya sudah dilepas, yang lainpun harus dilepas. Demikian menurut ijma’ empat imam madzhab.

Para imam madzhab sepakat bahwa permulaan waktu mengusap sepatu adalah sejak berhadats, bukan sejak mengusapnya. Akan tetapi, ada riwayat dari Hambali yang menyatakan bahwa waktunya adalah sejak mengusapnya. Pendapat ini dipilih oleh al-Mundziri. An-Nawawi berpendapat, “Inilah yang paling kuat menurut dalil.” Sementara itu, Hasan al-Bashri berpendapat, “Sejak saat memakainya.”

Para imam Madzhab juga sepakat bahwa apabila waktu mengusapnya telah lewat, maka thaharah batal, kecuali menurut Maliki yang mengatakan bahwa waktu mengusapnya tidak terbatas.

Jika seseorang mulai mengusap sepatunya pada waktu mukim, lalu ia bepergian, hendaknya disempurnakan dulu waktu yang diberikan kepada yang mukim. Demikian menurut tiga imam madzhab. Sementara itu Hanafi berpendapat: ia menyempurnakan waktu yang diberikan kepada orang musafir.

Apabila ada lubang kecil pada sepatu di bawah mata kaki sehingga tampak kaki sedikit, maka tidak boleh mengusap sepatu tersebut. Demikian pendapat Hambali dan Syafi’i dalam qaul jadid-nya. sedangkan Maliki berpendapat boleh asalkan lobang itu belum membesar. Demikian juga pendapat Syafi’i dalam qaul qadim. Dawud berpendapat: boleh mengusap sepatu yang sobek tersebut baik lubangnya besar maupun kecil.

Ats-Tsawri dan lainnya berpendapat: boleh mengusap sepatu selama sepatu tersebut masih memungkinkan dipakai untuk berjalan.
Al-Awza’i berpendapat: kita boleh mengusap sepatu [yang berlubang] pada bagian atas dan bagian bawah kaki.

Hanafi berpendapat: jika lubang tersebut selebar tiga jari, tidak boleh mengusapnya. Jika kurang dari itu boleh mengusapnya.

Menurut pendapat yang paling shahih dari Syafi’i dan pendapat paling kuat dari Maliki: tidak boleh mengusap kaus kaki. Sementara itu Hanafi dan Hambali berpendapat: boleh mengusapnya. Demikian juga menurut satu riwayat dari Maliki dan pendapat lain dari Syafi’i.

Menurut Hanafi, Maliki, dan Syafi’i: tidak boleh mengusap kedua kaus kaki, kecuali yang terbuat dari kulit. Sedangkan Hambali berpendapat: boleh mengusap keduanya, asalkan tebal dan kaki tidak terlihat [transparan].

Menurut Hanafi dan Syafi’i yang paling kuat: orang yang melepas sepatunya setelah bersuci dengan mengusapnya, ia harus membasuh kedua kakinya, baik melepasnya untuk waktu lama maupun sebentar. Sementara itu Hambali dan Maliki berpendapat: ia membasuh kedua kakinya. Namun jika melepas sudah lama, ia harus berwudlu lagi. Al-Hasan dan Dawud berpendapat: “Tidak wajib membasuh kedua kaki dan tidak wajib mengulang wudlunya. Ia boleh mengerjakan shalat sehingga berhadats lagi.”

&

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: