Rujuk

28 Mei

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Merujuk istri yang ditalak raj’i adalah dibolehkan. Demikian menurut kesepakatan para imam madzhab. Tetapi para imam berbeda pendapat tentang hukum menyetubuhi istri yang sedang menjalani ‘iddah dalam talak raj’i, apakah diharamkan atau tidak?

Menurut Hanafi dan Hambali dalam pendapat yang kuat: tidak haram. Sedangkan menurut Maliki, Syafi’i dan pendapat Hambali yang lainnya: haram.

Apakah dengan telah disetubuhinya istri tersebut telah terjadi rujuk atau tidak? Dalam masalah ini para imam madzhab berbeda pendapat. Menurut Hanafi dan pendapat Hambali dalam salah satu riwayatnya: persetubuhan itu berarti rujuk, dan tidak diperlukan lafadz rujuk, baik diniatkan rujuk maupun tidak.
Menurut Maliki dalam pendapatnya yang masyhur: jika diniatkan rujuk, maka dengan terjadinya persetubuhan itu terjadi rujuk. Syafi’i: tidak sah rujuk kecuali dengan lafadz rujuk.

Apakah di antara syarat-syarat rujuk adalah keharusan adanya saksi? Hanafi, Maliki dan Hambali dalam salah satu riwayatnya mengatakan: adanya saksi bukannya syarat tetapi mustahab.
Syafi’i punya dua pendapat: pertama, yang paling shahih adalah disunnahkan. Kedua, adanya saksi merupakan syarat. Seperti ini juga pendapat Hambali dalam riwayat lainnya.

Diriwayatkan dari ar-Raf’i bahwa para ulama pengikut madzhab Maliki mengatakan bahwa syarat rujuk dengan adanya saksi tidak diperoleh dalam kitab-kitab yang masyhur dari Maliki. Namun, al-Qadhi Abdul Wahhab dan al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan: “Madzhab Maliki memandang sunnah adanya saksi.” Tidak seorang ulama pun yang menentang pendapat tersebut. Demikian juga yang telah dijelaskan oleh Ibn Hubairah, seorang ulama Syafi’i, dalam kitab al-Ifsah.

Para imam madzhab sepakat tentang orang yang telah menalak istrinya dengan talak tiga, ia tidak boleh menikahinya hingga istrinya yang telah ditalaknya dinikah oleh orang lain dan disetubuhi dalam pernikahan yang sah. Adapun, yang dimaksud pernikahan dalam masalah ini adalah termasuk persetubuhannya. Hal ini merupakan syarat diperbolehkannya menikahi lagi bagi suami pertama apabila mantan istrinya tersebut bercerai dengan suami yang baru.

Persetubuhan dalam pernikahan yang tidak sah adalah tidak dibolehkan kecuali menurut pendapat Syafi’i.

Para imam madzhab berbeda pendapat, apakah istri tersebut halal dalam persetubuhan dalam masa haid atau dalam keadaan ihram? Menurut Maliki: tidak halal. Sedangkan tiga imam lainnya: halal.

Para imam madzhab berbeda pendapat tentang persetubuhan anak kecil yang sudah bisa bersetubuh dalam pernikahan yang sah. Menurut Maliki: tidak sah. Sedangkan menurut ketiga imam lainnya: halal.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: