Hakekat Ibadah

10 Jul

Hakekat Ibadah
Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat;
Abdurrahman An-Nahlawi

Setiap sistem berfikir memerlukan sarana perealisasian atau perwujudan yang dilengkapi dengan penyemangat, usaha, dan gerak anggota tubuh yang sistematis. Jika perwujudan ini dilakukan secara berkelompok, maka setiap kelompok dibentuk berdasarkan usia, intelektual, dan kedudukan seseorang. Dengan demikian, kelompok tersebut dapat selaras dalam hal karakter psikologis, daya intelektual dan kemampuan fisik. Hal di atas membuktikan bahwa dunia manusia itu dunia yang tidak dapat memisahkan tubuh, akal, dan spiritualnya. Konsep seperti itulah yang dewasa ini dianut oleh manusia-manusia modern.

Lebih dari itu, sejak lama, Islam telah memiliki sistem berfikir yang lebih sempurna, bersifat edukatif, dan tidak dapat disamai oleh sistem manapun. Misalnya saja, dalam melakukan olah raga, manusia sekarang lebih menitikberatkan tujuan pada penyia-nyiaan waktu, sebab olah raga dilakukan tanpa mengaitkannya dengan berfikir dan bernalar sehat, apalagi dengan fitrah psikologi manusia. “[yaitu] orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka…” (al-A’raaf: 51)

Dengan kesempurnaan sistem berfikir itu, berbagai ibadah dalam Islam lebih merupakan amal shalih dan latihan spiritual yang berakal dan diikat oleh makna yang hakiki dan bersumber dari fitrah manusia. Pelaksanaan ibadah merupakan pengaturan hidup seorang muslim, baik itu melalui pelaksanaan shalat, pengaturan pola makan tahunan melalui puasa, pengaturan kehidupan sosial ekonomi muslim yang bertanggung jawab melalui zakat, pengaturan atau penghidupan integritas seluruh umat Islam dalam ikatan perasaan sosial melalui haji. Yang jelas, pelaksanaan ibadah telah menyatukan umat Islam dalam satu tujuan, yaitu penghambaan kepada Allah semata serta penerimaan berbagai ajaran Allah, baik itu untuk urusan duniawi maupun ukhrawi. Firman Allah:

“….walaupun kamu membelanjakan semua [kekayaan] yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka…” (al-Anfaal: 162-163)

Setiap detik, menit, jam atau hari yang diisi dengan ibadah oleh seorang muslim, tiada lain, kecuali sebagai hubungan yang abadi antara dirinya dengan Allah sekaligus sebagai penjinak nafsu agar senantiasa tunduk dan patuh kepada Allah. Karena itu seorang muslim bangun pada saat fajar atau tidur setelah isya untuk berdzikir kepada Allah; hanya memakan makanan yang halal dan menahan diri dari makanan yang dilarang oleh Allah; mengeluarkan harta yang wajib dikeluarkan; menyalurkan syahwat sesuai dengan jalan Allah; menahan syahwat yang hina, membahayakan, dan manusia telah dilindungi daripadanya oleh Allah; memasuki rumah, tidur dan kegiatan lainnya selalu disertai doa mengingat Allah; atau berdzikir kepada Allah ketika dianugerahi anak.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: