Hikmah Kependidikan Ibadah

10 Jul

Hikmah pendidikan ibadah
Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat;
Abdurrahman An-Nahlawi

Melalui peribadahan, banyak hal yang dapat diperoleh oleh seorang muslim yang kepentingannya bukan hanya mencakup individual, melainkan bersifat luas dan universal. Di antara hikmah pendidikan yang dapat kita ambil adalah:

a. Pertama, dalam konsepsi Islam, melalui ibadah manusia diajari untuk memiliki intensitas kesadaran berfikir. Dilihat dari segi syaratnya, ibadah yang diterima Allah adalah ibadah yang memiliki syarat. Syarat yang dimaksud adalah:
– Keikhlasan dan ketaatan kepada Allah.
– Pelaksanaan ketaatan sesuai dengan cara yang dilakukan oleh Rasulullah saw.
b. Kedua, dimanapun seorang muslim berada, melalui kegiatan yang ditujukan semata-mata untuk ibadah kepada Allah, ia akan selalu merasa terikat oleh ikatan yang berkesadaran, sistematis, kuat, serta didasarkan atas perasaan jujur dan kepercayaan diri. Dikatakan kesadaran karena pada dasarnya tidak ada ikatan yang luput dari perhatian masyarakat atau dilakukan secara membabi buta.

Sesungguhnya amal ibadah yang dilakukan melalui kerja sama antara seorang muslim dengan muslim lainnya akan melahirkan rasa kebersamaan dan kekuatan yang besar. Selain itu secara pribadi pun, muslim akan merasakan kelezatan dari sikap mengutamakan Allah sebagai sumber. Hasilnya, jika ternyata ikatan itu pecah karena masalah yang prinsipil, setiap individu muslim tidak akan merasakan kehilangan jati diri.

Tanpa bersatu secara lahir, landasan kesamaan akidah akan tetap menyatukan mereka. selain itu, dalam diri seorang muslim, selama dia mampu, selalu tertanam keutamaan beribadah secara berjamaah daripada munfarid. Jika ternyata langkah penyatuan umat Islam mendapatkan hambatan, mereka akan menyatukan hati dan jiwa melalui keimanan sehingga mereka menjadi tubuh dan jiwa yang satu.

c. Ketiga, dalam Islam, ibadah dapat mendidik jiwa seorang muslim untuk merasakan kebanggaan dan kemuliaan kepada Allah. Dia adalah Yang Paling Besar dari segala yang besar dan Paling Agung dari segala yang agung. Dalam kekuasaan Allah-lah kehidupan kaum tirani; Allah dapat menjatuhkan mereka kapanpun Dia kehendaki. Dalam kekuasaan-Nya lah kematian, kehidupan, rizky, kerajaan, keagungan dan kekuasaan. Konsep seperti itulah yang senantiasa diulang-ulang oleh seorang muslim dalam ibadah hariannya hingga ibadah tahunannya. Para khatib pun senantiasa mengulang konsep tersebut dalam ibadah mingguan, shalat Jum’at. Jika rasa bangga tersebut mengakar dalam jiwa umat Islam, dalam kehidupan individual atau dalam kehidupan masyarakatnya, setiap insan akan istiqamah dan senantiasa berada dalam batas-batas yang tetap hingga sirnalah kedhaliman, kecongkakan, eksploitasi, kehinaan, perbudakan, atau rasialisasi. Semua akan berada di bawah kibaran panji Allah.

d. Keempat, ibadah yang terus menerus dilakukan dalam kelompok yang padu, dibawah panji Allah yang satu, dan semuanya bermunajat kepada Rabb yang satu, akan melahirkan rasa kebersamaan sehingga kita terdorong untuk saling kenal, saling menasehati, atau bermusyawarah. Dari situ akan lahir umat Islam yang selalu bermusyawarah dengan dasar kerjasama, persamaan, dan keadilan.

e. Kelima, Sayyid Quthub dalam Manhaj at-Tarbiyat al-Islamiyah hal 39-40, mengatakan bahwa ibadah, seorang muslim akan terdidik untuk memiliki kemampuan dalam melakukan berbagai keutamaan secara konstan dan mutlak. Artinya setiap gerak seorang muslim tidak terbatas pada batasan geografis, bangsa, kepentingan nasional, atau partai yang berkuasa. Jelasnya, pergaulan seorang muslim itu meliputi seluruh manusia. Namun demikian, sebagai konsekuensi dari keyakinan bahwa Allah senantiasa mengawasi hamba-Nya, dimanapun dia berada, seorang muslim tetap sebagai muslim yang berakhlak mulia dan memperhatikan segi kemanusiaan.

f. Keenam, pendidikan yang berdasarkan ibadah dapat membekali manusia dengan muatan kekuatan yang intensitasnya tinggi dan abadi karena semuanya bersumber dari kekuatan Allah, kepercayaan kepada Allah, optimisme yang bersumber dari pertolongan Allah dan pahala surga, serta kesadaran dan cahaya yang bersumber dari Allah. Muatan inilah yang mendorong seorang muslim untuk tampil, memberinya kemampuan yang terus menerus untuk berjuang dan berjihad, serta menyuguhkan kepada manusia kekuatan yang hidup produktif, dan berkesadaran. Setiap muslim harus mempunyai muatan yang dinamis yang dapat menyiagakan kalbu dan menerangi jalan. Dengan demikian maka setiap muslim akan bangkit dari keterpurukannya sekaligus memperoleh cahaya Ilahi ketika sekelilingnya gulita sehingga dia akan menunjukkan segala perbuatan, muamalah dan penyiapan bekal untuk akhiratnya melalui ibadah kepada Allah.

Dalam Islam konsep perbuatan yang digolongkan ibadah sangat jelas, yaitu selama tujuan pelaksanaan perbuatan tersebut diarahkan kepada Allah. Untuk itu Allah berfirman:

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 177)

Itulah manhaj ibadah yang ditetapkan Islam. Otomatis, metode dan program pendidikan Islam pun didirikan di atas landasan manhaj yang mengandung kejujuran dan ketakwaan kepada Allah melalui komunikasi yang kekal dengan Allah.

g. Ketujuh, sesungguhnya mendidik seorang muslim dengan ibadah akan mempengaruhi jiwa yang bukan hanya karena di dalamnya ada muatan cahaya, kekuatan, perasaan dan harapan, melainkan karena melalui ibadah seorang muslim memiliki sarana untuk mengekspresikan tobatnya. Dengan tobat itu, kesalahan dan dampak dosa yang dilakukan anggota tubuh akan hilang.

Terjadinya sebuah dosa menunjukkan berpalingnya manusia dari kebenaran, ketaatan, dan ibadah kepada Allah, yang disertai dengan niat dan realisasi untuk tidak kembali melakukan perbuatan dosa tersebut. Melalui tobat, perbuatan dosa itu diganti dengan amal shalih.

Tobat merupakan ekspresi ibadah yang bertumpu pada kesadaran bahwa Allah, dengan segala nikmat, keperkasaan, dan hukum-Nya. Kesadaran itu menuntut adanya penyesalan atas apa yang luput dari kewaspadaan manusia untuk selalu menaati Allah. Lebih jauh lagi, Rasulullah saw. menyunahkan tobat. Setiap hari beliau memohon ampun sebanyak 70 kali setiap selesai shalat fardlu bahkan Allah memerintahkan untuk bertobat:

“…. dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (an-Nuur: 31)

Allah pun berjanji atas diri-Nya untuk menghapus berbagai kesalahan orang-orang yang bertobat dan mengampuni mereka seperti firman-Nya:

“…Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, [yaitu] bahwa barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertobat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (al-An’am: 54)

Rasulullah saw. mengajarkan bentuk tobat dan istighfar yang baik lewat sayyidul istighfar:
AllaaHumma anta rabbii laa ilaaHa illaa anta, khalaqtanii wa ana ‘abduka, wa ana ‘alaa ‘aHdika wa wa’dika mastatha’tu, a-‘uudzubika min syarri maa shana’tu, abuu-ulaka bini’matika ‘alayya wa abuu-u bidzanbii faghfirlii, innaHuu laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta.
(“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Tuhan kecuali Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menepati janjiku kepada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari perbuatanku yang jahat. Aku mengakui atas nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan aku pun mengakui dosaku. Maka ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.”

Hal ini diperjelas dengan hadits berikut ini:
“Barangsiapa yang mengucapkannya pada pagi hari dengan yakin, kemudian dia mati pada hari itu, maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang mengucapkannya pada sore hari dengan yakin, kemudian malam harinya meninggal, maka dia akan masuk surga.” (HR Bukhari).

Pakar psikologi, kedokteran, dan kesehatan mental sepakat mengatakan bahwa tobat dapat menyembuhkan berbagai krisis dan penyakit psikologis melalui pengembalian manusia pada adaptasi dengan diri, prinsip-prinsip, idealisme, dan dengan masyarakat muslim. Melalui tobat pun, masyarakat dapat terdidik untuk saling menumbuhkan sikap toleransi antar anggota. Sehubungan dengan konsep toleransi ini, Allah berfirman:

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nuur: 22)

Contoh konkritnya terjadi pada zaman Abu Bakar ash-Shiddiq. Dia pernah bersumpah untuk tidak memberikan shadaqah, yang biasa dia berikan kepada Masthah karena dia telah memfitnah putrinya, ‘Aisyah. Namun setelah ayat tersebut turun, Abu Bakar memaafkannya. Dengan demikian tobat dan permintaan ampun kepada Allah telah mengajari Abu Bakar untuk memaafkan Masthah.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: