Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Kahfi ayat 30-31

18 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi (Gua)
Surah Makkiyyah; surah ke 18: 110 ayat

tulisan arab alquran surat al kahfi ayat 30-31“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal shalib, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan-(nya) dengan baik. (QS. 18:30) Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah sebaik-baik pahala, dan tempat istirahat yang indah; (QS. 18:31)” (al-Kahfi: 30-31)

Setelah Allah menceritakan keadaan orang-orang yang celaka, maka la beranjak menceritakan tentang orang-orang yang bahagia, yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan apa yang di bawa oleh para Rasul serta mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka, yakni berbagai amal shalih, maka bagi mereka surga `Adn. Tajrii min tahtiHimul anHaar (“Yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.”) Yakni, dari bawah bilik-bilik dan rumah-rumah mereka. Fir’aun berkata: wa HaadziHil anHaaru tajrii min tahtii… (“Sungai sungai ini mengalir di bawahku,”) dan ayat seterusnya. (QS. Az-Zukhruf: 51).

Firman-Nya: yuhallauna (“Mereka dihiasi,”) yakni dengan perhiasan. fiiHaa min asaawira min dzaHabin (“Di dalam surga itu dengan gelang emas.”) Dan dalam surat yang lain, Dia berfirman: “Disurga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera.” (QS. Al-Hajj: 23)

Berikut ini adalah perinciannya, di mana Dia berfirman: wa yalbasuuna tsiyaaban khudl-ram min sundusiw wa istab-raqin (“Dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal.”) Sundus berarti pakaian yang halus lagi tipis seperti pakaian dalam. Sedangkan istab-raq merupakan pakaian yang terbuat dari sutera tebal yang berkilau.

Firman-Nya lebih lanjut: muttaqi-iina fiHaa ‘alal araa-iki (“Sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah.”) Kata al-ittika’ ada yang mengartikan berbaring, dan ada Pula yang mengartikan duduk bersila, dan yang terakhir ini yang lebih dekat dengan pengertian di sini. Dari kata itu pula muncul sabda Rasulullah dalam sebuah hadits shahih: ammaa ana falaa aakulu muttaki-an (“Sedang aku tidak pernah makan sambil bersandar.”)

Berkenaan dengan kata tersebut, terdapat dua pendapat. Sedangkan kata al-araa-ik merupakan jamak dari kata al-ariikah yang berarti dipan di bawah kain hiasan. Wallahu a’lam.

`Abdurrazzaq mengatakan, Ma’mar memberitahu kami, dari Qatadah mengenai firman-Nya: ‘alal ‘araa-iki (“Di atas dipan-dipan yang indah,”) ia mengatakan, “Yakni, kain hiasan.” Ma’mar mengemukakan, ulama lainnya berkata: “Dipan-dipan di dalam kain hiasan.”

Firman-Nya: ni’mats-tsawaabu wa hasunat murtafaqan (“Itulah sebaik-baik pahala dan tempat istirahat yang indah.”) Maksudnya, surga merupakan pahala yang paling menyenangkan sebagai balasan atas amal perbuatan mereka, dan ia merupakan tempat istirahat yang paling baik. Dengan kata lain, yaitu tempat tinggal dan tempat istirahat yang indah. Sebagaimana firman-Nya berkenaan dengan neraka: “Itulah seburuk-buruk minuman dan sejelek-jelek tempat istirahat.” (QS. Al-Kahfi: 29)

bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: