Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Kahfi ayat 32-36

19 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi (Gua)
Surah Makkiyyah; surah ke 18: 110 ayat

tulisan arab alquran surat al kahfi ayat 32-36“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan diantara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. (QS. 18:32) Kedua kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikit pun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, (QS. 18:33) dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawan-nya (yang mukmin) ketika is bercakap-cakap dengannya: ‘Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut pengikutku lebih kuat.’ (QS. 18:34) Dan dia memasuki kebunnya sedang ia dhalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: ‘Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, (QS. 18:35) dan aku tidak mengira hari Kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Rabbku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu.’ (QS. 18:36)” (al-Kahfi: 32-36)

Setelah bercerita tentang orang-orang musyrik yang sombong lagi enggan untuk duduk bersama kaum muslimin yang lemah dan miskin, dan yang membanggakan diri atas mereka dengan harta kekayaan dan kedudukan mereka, maka Allah; berfirman seraya memberikan perumpamaan bagi kedua kelompok orang di atas dengan dua orang yang salah seorang dari keduanya diberi oleh Allah dua kebun anggur yang dikelilingi oleh pohon-pohon kurma. Di celah-celah kedua kebun tersebut terdapat ladang, yang semua pohon dan tanaman dipenuhi dengan buah yang sangat menyenangkan.

Oleh karena itu Dia berfirman: kiltal jannataini aatat ukulaHaa (“Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya,”) yakni, mengeluarkan buahnya. Wa lam yadh-lim minHu syai-an (“Dan kebun itu tiada mendhalimi buahnya sedikit pun.”) Yakni, mengurangi sedikit pun dari buahnya. Wa fajjarnaa khilaa laHumaa naHaran (“Dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu.”) Maksudnya, di dalam kedua kebun tersebut terdapat sungai-sungai yang berpencar-pencar, ada di sini dan di sana.

Wa kaana laHuu tsamarun (“Dan dia mempunyai kekayaan besar,”) ada yang berpendapat, “tsamar,” itu maksudnya harta atau kekayaan, itulah menurut riwayat dari Ibnu `Abbas dan Mujahid, juga Qatadah.

Ada juga yang mengatakan bahwa “tsamar” itu ialah buah-buahan, dan itu yang nampak jelas pada ayat ini, juga dikuatkan dalam bacaan lain.

Firman-Nya: Wa kaana laHuu tsumrun (“Dan dia mempunyai kekayaan besar,”) yaitu dengan memberikan harakat dhammah di atas huruf tsa’ dan sukun di atas huruf mim, sehingga kata tersebut merupakan jamak dari kata tsamrah (buah), seperti halnya kata khasybah dan khasyab. Ulama lainnya ada yang membaca tsamarun, yaitu dengan memberikan harakat fathah di atas huruf tsa’ dan huruf mim. Kemudian pemilik kedua kebun itu berkata kepada kawannya, yang ketika itu ia tengah berdebat dan berdialog dengannya seraya membanggakan
diri atas kawannya itu dan merasa mengunggulinya: ana aktsamu minka maalaw wa a-‘azzu nafaran (“Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.”) Maksudnya, yang lebih banyak pembantu, pengikut dan juga anak.

Qatadah berkata: “Yang demikian itu merupakan angan-angan orang jahat, yaitu mempunyai banyak harta kekayaan dan memiliki kekuatan yang besar.”

Firman-Nya: wa dakhala jannataHuu wa Huwa dlaalimul linafsiHii (“Dan ia memasuki kebunnya
sedang ia dhalim terhadapi dirinya sendiri.”) Yakni, dengan kekafiran, keingkaran, kesombongan, keengganan, serta penolakannya terhadap adanya hari Kiamat.

Qaala maa adhunnu an tabiida HaadziHii abadan (“Ia berkata: Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.’”) Perkataan itu menunjukkan bahwa dirinya tertipu, karena ia menyaksikan dalam kebun tersebut berbagai tanaman, buah-buahan, pepohonan, dan sungai-sungai yang mengalir di sakelilingnya. Ia mengira bahwa kebun itu tidak akan hancur, rusak dan binasa. Hal itu disebabkan oleh dangkalnya pemikiran dan lemahnya keyakinan kepada Allah, serta kebanggaan dirinya terhadap kehidupan dunia dan perhiasannya juga kekafirannya terhadap alam akhirat.

Oleh karena itu, ia berkata: maa adhunnu an tabiida HaadziHii abadan (“Ia berkata: Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya.’”)”Yakni, tidak akan terjadi. Wa lair rudidtu ilaa rabbii la-ajidanna khairam minHaa munqalaban (“Dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Rabbku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu.”) Maksudnya, seandainya tempat kembaliku kepada Allah Ta’ala, niscaya aku akan disediakan kebun di sisi Rabbku yang lebih baik dari kebun ini. Dan kalau bukan karena kemuliaanku atas-Nya, niscaya Dia tidak akan memberiku semua ini. Sebagaimana Dia berfirman dalam ayat yang lain: “Dan jika aku dikembalikan kepada Rabbku, maka sesungguhnya Au akan memperoleh kebaikan di sisi-Nya.” (QS. Fushshilat: 50)

bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: