Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Kahfi ayat 42-44

19 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi (Gua)
Surah Makkiyyah; surah ke 18: 110 ayat

tulisan arab alquran surat al kahfi ayat 42-44“Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: ‘Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku.’ (QS. 18: 42) Dan tidak ada bagi dia segolongan-pun yang menolongnya selain Allah; dan sekali-kali dia tidak dapat membela dirinya, (QS. 18: 43) Disana pertolongan itu hanya dari Allah yang Haq. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan. (QS. 18:44)” (al-Kahfi: 42-44)

Allah befirman: wa uhiitha bitsamariHii (“Dan harta kekayaannya dibinasakan,”) yakni seluruh harta kekayaannya. Menurut yang lainnya adalah buah-buahan-nya. Maksudnya, apa yang dulu pernah diperingatkan oleh kawannya, seorang mukmin, yakni pengiriman ketentuan (pembinasaan) terhadap kebunnya yang karenanya ia menyombongkan diri dan menjadikan dirinya lupa kepada Allah.

Fa ash-bahu yuqallabu kaffaiHi ‘alaa maa anfaqa fiiHaa (“Lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya [tanda menyesal] terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu.”)
Qatadah mengatakan: “Yakni, menepukkan kedua telapak tangannya seraya menyayangkan dan menyesalkan harta kekayaannya yang dibinasakan-Nya.

Wa yaquulu yaa laitanii lam usy-rik birabbii ahadan wa lam takul laHuu fi-atun (“Dan ia berkata: ‘Aduhai kiranya dulu aku tidak menyekutukan seorang pun dengan Rabbku. Dan tidak ada bagi
dia segolongan pun.’”) Yakni, keluarga atau keturunan, sebagaimana dulu ia pernah membanggakan diri karena mereka.

YanshuruunaHu min duunillaaHi wa maa kaana munashiran Hunaalikal walaayatu lillaaHil haqqi (“Yang akan menolongnya selain Allah. Dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya. Di sana pertolongan itu hanya dari Allah yang Haq.”) Para qurra’ [ahli qira-at] telah berbeda pendapat di sini. Di antara mereka ada yang berhenti pada firman-Nya ini: wa maa kaana munashiran Hunaalika (“Dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya di sana.”)

Maksudnya, di tempat itulah akan ditimpakan adzab Allah kepadanya, sehingga tidak ada yang dapat menyelamatkannya dari adzab tersebut. Dan kemudian ia mulai meneruskan bacaannya dengan firman-Nya: al walaayatu lillaaHil haqqi (“Pertolongan itu hanya dari Allah yang Haq.”)

Di antara mereka juga ada yang menghentikan bacaannya pada firman-Nya: wa maa kaana muntashiran (“Dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya,”) dan memulai lagi bacaannya dengan firman-Nya: Hunaalikal walaayatu lillaaHil haqqi (“Di sana pertolongan itu hanya dari Allah yang Haq.”)

Selanjutnya mereka berbeda juga dalam bacaan “al-wilaayah.” Di antara mereka ada yang membacanya dengan memberikan harakat fathah pada huruf wawu, yaitu al-walaayah, yang berarti, di sanalah ketundukan kepada Allah berada. Artinya, di sanalah setiap orang, baik mukmin maupun kafir kembali kepada Allah dan kepada ketundukan kepada-Nya, jika tertimpa adzab. Yang demikian itu seperti firman Allah Ta’ala berikut ini: fa lammaa ra-au ba’sanaa qaaluu aamannaa billaaHi wahdaHuu wa kafarnaa bimaa kunnaa biHii musyrikiin (“Maka ketika mereka melihat adzab Kami, mereka berkata: ‘Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah.’”) (QS. Al-Mu’min: 84).

Di antara para qurra’ itu juga ada yang membaca dengan harakat kasrah di bawah wawu, yaitu al-wilaayah, yang berarti di sana hanya hukum Allah yang Haq yang berlaku. Ada juga yang membacanya dengan memberikan harakat dhammah pada huruf gaaf, yaitu pada kata al-Haqqu dengan anggapan bahwa kata itu merupakan na’at (sifat) untuk kata al-wilaayatu. Yang
demikian itu sama seperti firman Allah ini: “Kerajaan yang haq pada hari itu adalah kepunyaan Rabb yang Mahapemurah. Dan adalah hari itu, satu hari yang penuh kesulitan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Furgaan: 26).

Di antara mereka ada juga yang memberikan harakat kasrah pada huruf qaaf dengan alasan bahwa kata itu merupakan na’at dari kata lillaahi. Yang demikian itu sama seperti firman-Nya ini: tsumma rudduu ilallaaHil maulaaHumul haqqi (“Kemudian mereka dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya.”) (Al-An’aam: 62)

Oleh karena itu, Allah berfirman: Huwa khairun tsawaabaw wa khairun ‘uqban (“Dia adalah sebaik baik pemberi pahala dan sebaik baik pemberi balasan.”) Yakni, berbagai amal perbuatan yang pahalanya berada di tangan Allah adalahlebih baik dan berakhir dengan kesudahan yang terpuji, yang semuanya adalah baik.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: