Beriman kepada Hari Akhir

21 Jul

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat;
Abdurrahman An-Nahlawi

Pada hakekatnya, hasil alamiah dari pandangan Islam terhadap alam semesta dan kehidupan adalah konsep keimanan pada hari akhir. Konsepsi dunia bersifat temporer karena seluruhnya diciptakan untuk masa yang telah ditetapkan oleh-Nya. Jika limit waktu yang telah ditetapkan tiba, maka alam semesta, manusia, dan kehidupan seluruh makhluk akan berakhir. Allah akan memusnahkan alam semesta ini dan mengakhirki kehidupan yang ada di dalamnya. Bagi seluruh makhluk ciptaan-Nya telah tersedia alam lain yang memiliki sistem atau sendi khas dan memiliki kehidupan abadi. tiada kematian lagi sesudahnya dan mulailah Allah dengan penilaian berbagai amal hamba melalui timbangan yang tetap. Untuk itu Allah berfirman:

“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), Maka Barangsiapa berat timbangan kebaikannya, Maka mereka Itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, Maka Itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami.” (al-A’raaf: 8-9)

Pada hari yang telah ditentukan itu, tidak ada satupun niat dan amal manusia yang luput dari penghisaban. Setiap orang akan disibukkan oleh dirinya sendiri sebagaimana yang digambarkan oleh Allah swt lewat firman-Nya:

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (‘Abasa: 34-37)

Pada hari itu, tidak berguna lagi pertolongan, amal sunnah seseorang tidak diterima lagi, anak-anak dan kekayaan tidak akan pernah bermanfaat kecuali manusia yang menghadap Allah dengan hati yang bersih dan murni. Pada hari itu, tatkala Allah memasang timbangan keadilan, terlihat jelaslah keadilan Ilahi. Jika penghisaban selesai, terlihat jelaslah rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Lalu Allah memasukkan mereka ke dalam surga dan mereka kekal di dalamnya. Kemurkaan-Nya pun terlihat jelas ketika kaum kafir terhisab. Lalu Allah menghalau mereka ke neraka jahanam dan mereka kekal di dalamnya.

Buah pendidikan yang dapat kita petik dari keimanan kepada hari akhir adalah motivasi untuk senantiasa merenungi kematian dan mempersiapkan bekal yang akan dibawa nanti menuju alam yang lebih abadi. hal-hal itu antara lain:

1. Pertama, dari sudut pandang pendidikan yang hakiki, keimanan kepada hari akhir merupakan motifasi lahirnya rasa tanggung jawab yang serius dan sejati. Keseriusan dan kesejatian ini tidak akan pernah terbentuk tanpa keimanan tersebut. Di situ kita dapat melihat bahwa penerimaan manusia atas syariat Islam merupakan penerimaan yang penuh ketaatan yang tidak memerlukan ayunan cambuk, ketakutan, atau paksaan. Tidak akan pernah ada penganut syariat sejati yang berupaya mengakali undang-undang Ilahi karena ia meyakini tugas malaikat yang mencatat amalnya. Dengan begitu, setiap manusia yang dididik dengan pendidikan Islam akan mempertanggung jawabkan seluruh perbuatannya dan merasakan kekhawatirannya ketika nanti dia berdiri di hadapan Sang Pencipta.

2. Keimanan pada hari akhir akn membuahkan sikap aplikatif kemuliaan akhlak yang berkesinambungan, kokoh, dan tidak berubah-ubah tanpa kemunafikan atau sikap riyak. Santun, tabah, rela berkorban dari segala kehinaan merupakan hiasan seorang mukmin sebab ia hanya menaati pembalasan dari Allah, bukan dari manusia. Bermodalkan keyakinan bahwa hari pembalasan itu akan tiba sesuai dengan janji Allah, seorang mukmin akan memiliki kestabilan akhlak sehingga tak tergoyahkan oleh kehidupan duniawi mana pun.

3. Karena hanya takut kepada Allah dan hanya mengharapkan kebahagiaan dari surga Allah, seseorang yang beriman kepada hari akhir akan mengontrol dan mengendalikan seluruh motivasi dan naluriahnya. Pada dasarnya, Islam senantiasa memperhatikan dorongan naluriah untuk setiap motivasi manusia, misalnya yang berhubungan dengan kegandrungan atau ketakutan kepada Allah dan sebaliknya yang berhubungan dengan ketidaktaatan kepada syariat Allah.
Agar memberikan hasil yang bermanfaat bagi individu dan masyarakat, Islam menawarkan konsep yang dapat meluruskan motivasi tersebut sehingga tidak akan ada lagi motivasi yang mecerai beraikan kekuatan manusia. Demikianlah Islam memupuk dan mengarahkan motivasi manusia sehingga tidak ada istilah melumpuhkan atau melupakan motivasi. Dengan demikian, tersingkirlah berbagai keyakinan yang berlebihan sehingga melupakan fitrah manusia.

4. Hamba Allah yang mengimani hari akhir akan mengutamakan kepentingan akhirat daripada urusan duniawi dan bersabar ketika menghadapi berbagai kesulitan dan hambatan hidup, terutama yang berhubungan dengan makar-makar yang dilakukan pengikut setan. Kehidupan Rasulullah saw. telah memberikan konsep yang jelas tentang pengutamaan akhirat atas duniawi. Ketika istri-istri Rasulullah berkumpul dan menuntut pemberian nafkah lahiriah yang berlebih, Allah swt menurunkan ayat berikut:

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu: ‘Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, Maka Marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, Maka Sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (al-Ahzab: 28-29)

Karena ketaatan dan keimanan, istri-istri beliau lebih memilih Allah, Rasul-Nya dan kebahagiaan ukhrawi. Mereka tetap bersabar dalam pengayoman Rasulullah saw. dalam kondisi yang sesulit apapun. Sedangkan melalui firman-Nya, Allah swt berfirman:

“tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (al-A’laa: 16-17)

Allah pun mengisyaratkan tempat setiap orang di akhirat:
“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (an-Naazi’aat: 37-41)

5. Keimanan pada hari akhirat dapat memperkaya akal manusia dengan fitrah yang sehat karena pemikiran setiap insan terhadap alam semesta ini tidak dikotori oleh hawa nafsu. Pemikiran yang disertai fitrah yang sehat akan menghasilkan kesimpulan berikut:

i) Seluruh aspek dunia ini berproses melalui kehidupan, kematian, kebinasaan, kelemahan, kekuatan yang berangsur-angsur hilang, terbit, terbenam dan seterusnya yang semuanya menuju pada kehancuran dan bergerak di luar kemampuan diri.
ii) Seluruh manusia menghabiskan jatah usianya melalui berbagai cara, baik melalui kerja keras, permusuhan, atau cara-cara lain yang semuanya dapat digolongkan menjadi sesuatu yang baik atau buruk. Ketika dia meninggal, hilanglah seluruh gerak hidupnya. Lantas samakah kedudukan dan tempat mereka di akhirat nanti? Melalui akal yang lurus dan fitrah yang sehat, manusia akan meyakini bahwa semesta yang sistematis dan menakjubkan ini akan berakhir pada kepunahan melalui sasaran dan tujuan yang jelas, yaitu kehidupan yang lebih kekal dan sesuai dengan niat dan amal setiap manusia.
iii) Alam semesta adalah pembukti adanya Sang Pencipta yang menciptakan alam ini dengan kejelasan tujuan. Artinya, dengan tujuan itulah Allah menciptakan alam semesta ini. Kesimpulan seperti ini hanya akan dicapai oleh akal yang sehat.
iv) Allah Mahakuasa dalam menciptakan alam semesta ini dan Mahakuasa juga membinasakannya serta menghidupkannya kembali sebagai makhluk baru di akhirat kelak. Analogi rasional terhadap penciptaan alam semesta, akan membawa akal yang sehat pada kesimpulan bahwa Dzat Pencipta alam semesta ini pun Mahakuasa menciptakan, memusnahkan, dan menghidupkan lagi manusia.

Perenungan-perenungan terhadap alam semesta merupakan basis pembuktian adanya Allah, hari akhir, alam ba’ats, atau hari perkumpulan. Melalui pendidikan, Islam senantiasa mengembangkan akal manusia agar mampu berfikir sehat dan melakukan pengaitan secara logis antara landasan pemikiran dan kesimpulan [antara premis dan konklusi]. Pendidikan Islam pum meletakkan dasar yang kuat untuk konsep kehidupan sehingga manusia tidak menganggap penciptaan alam semesta ini sebagai hal yang main-main, tanpa tujuan, atau kebetulan belaka sebagaimana dijelaskan Allah melalui firman-Nya:
“Dan Dia tidak meridlai kekafiran bagi hamba-Nya…” (az-Zumar: 7)

Pada dasarnya kekafiran terhadap keberadaan Allah dan hari akhir menunjukkan tunduknya akal pada hal yang main-main, kebetulan, dan tanpa alasan yang jelas.

&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: