Sasaran Pendidikan Islam

21 Jul

Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat;
Abdurrahman An-Nahlawi

Karena terdorong oleh kerakusan naluriah, sebagian orang melakukan sesuatu tanpa mengenal atau memahami sasaran yang dituju oleh perilakunya. Artinya orang tersebut menjadikan dorongan naluriah sebagai landasan perbuatannya. Hal itu bisa diibaratkan orang yang tidur yang secara reflek menarik tangannya ketika ditusuk jarum. Gerak reflek tersebut terdorong oleh kecintaan pada hidup walaupun orang yang sedang tidur itu sama sekali tidak menyadari kehidupan selama ia tidur.

Biasanya manusia yang hidup terarah, berakal, serta berkesadaran akan berfikir dan berperilaku sesuai dengan sasaran tertentu, ibarat seorang mahasiswa yang sungguh-sungguh belajar dengan tujuan berhasil meraih nilai bagus, ilmu yang bermutu tinggi, status sosial yang tinggi, atau penghasilan yang memadai. Namun perlu diingat bahwa tidak semua hasil itu bisa dicapai, atau bahkan tidak ada satu pun yang tercapai. Dengan demikian, hasil suatu usaha terkadang tidak sesuai dengan sasaran yang ditentukan. Begitu juga, motivasi atau dorongan sebuah perilaku bukanlah tujuan dari perilaku itu sendiri.

Hasil adalah perolehan yang bersumber dari sebuah perilaku dan dicapai oleh yang ada, baik hasil itu merealisasikan sasaran atau tidak. Sasaran itu sendiri adalah tujuan yang digambarkan oleh manusia dan diletakkan di depannya sehingga dia mengatur segala perilakunya untuk mewujudkan tujuan tersebut. Motivasi adalah penggerak fisik atau psikis yang mendorong manusia untuk berperilaku. Motivasi pun dapat mensuplai kekuatan pendorong berperilaku ke dalam jiwa dan tubuh, kemudian secara dinamis dan sesuai dengan kondisi manusia menggerakkan dan mengaktifkannya sehingga dia dapat mewujudkan tujuan.

Jika manusia diperintah untuk berjalan di jalur tertentu, tanpa penjelasan mengapa ia harus berjalan di jalan itu, niscaya dia berjalan dalam keraguan, tanpa motivasi dan dalam ketidakjelasan. Namun jika padanya diberi kejelasan tujuan, dia akan melangkah dengan pasti. Misalnya ketika seseorang yang menempuh perjalanan jauh dan merasa ingin makan kita beri petunjuk sepeti ini: “Berjalanlah di jalan ini, di ujung sana anda akan menemukan kebun yang bagus milik orang-orang dermawan yang suka mengundang orang-orang yang datang untuk makan” niscaya kita akan menemukan orang itu kegirangan sehingga dia akan berjalan ke arah kebun itu dengan semangat dan tekad yang kuat melalui pengerahan potensi yang dimilikinya.

Dari ilustrasi itu kita menemukan bahwa penentuan sasaran itu akan membentuk sasaran menjadi sarana imperatif sehingga melahirkan perilaku yang berkesadaran. Jika demikian, sudah tentu bahwa penentuan sasaran itu akan jauh lebih penting jika diterapkan dalam dunia pendidikan. Dengan begitu, kita dapat membimbing generasi kita untuk menjadi umat utama dan menentukan pola perilaku dalam kehidupan individu maupun kelompok sehingga manusia melintasi kehidupan ini dengan bahagia, sistematis, kerja sama, harmonis, optimis, dinamis, berkesadaran, dan bernalar.
&

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: