Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Kahfi ayat 66-70

22 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi (Gua)
Surah Makkiyyah; surah ke 18: 110 ayat

tulisan arab alquran surat al kahfi ayat 66-70“Musa berkata kepada Khidhir: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu.’ (QS. 18:66) Dia menjawab: ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. (QS. 18:67) Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu.’ (QS. 18:68) Musa berkata: ‘Insya Allah kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.’ (QS. 18:69) Dia berkata: ‘Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tetang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.’ (QS. 18:70) (al Kahfi: 66-70)

Allah swt menceritakan tentang ucapan Musa kepada orang alim, yakni Khidhir yang secara khusus diberi ilmu oleh Allah Ta’ala yang tidak diberikan kepada Musa as, sebagaimana Dia juga telah menganugerahkan ilmu kepada Musa yang tidak Dia berikan kepada Khidhir.

Qaala laHuu muusaa Hal attabi-‘uka (“Musa berkata kepada Khidhir: ‘Bolehkah aku mengikutimu.’”) Yang demikian itu merupakan pertanyaan yang penuh kelembutan, bukan dalam bentuk keharusan dan pemaksaan. Demikian itulah seharusnya pertanyaan seorang pelajar kepada orang berilmu. Dan ucapan Musa, “Bolehkah aku mengikutimu?” Yakni menemanimu.

‘alaa an tu-‘allimani mimmaa ‘ulimta rusydan (“Supaya engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”) Maksudnya, sedikit ilmu yang telah diajarkan Allah Ta’ala kepadamu agar aku dapat menjadikannya sebagai petunjuk dalam menangani urusanku, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.

Pada saat itu Khidhir: qaala (“Berkata”) kepada Musa, innaka lan tasta-‘iiya shabran (“Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.”) Maksudnya, sesungguhnya engkau tidak akan mampu menemaniku, sebab engkau akan menyaksikan berbagai tindakanku yang bertentangan dengan syari’atmu, karena aku bertindak berdasarkan ilmu yang diajarkan Allah kepadaku dan tidak Dia ajarkan kepadamu. Engkau juga mempunyai ilmu yang diajarkan Allah kepadamu tetapi tidak Dia ajarkan kepadaku. Dengan demikian, masing-masing kita dibebani berbagai urusan dari-Nya yang saling berbeda, dan engkau tidak akan sanggup menemaniku.

Wa kaifa tashbiru ‘alaa maa lam tuhith-biHii khubran (“Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”) Aku mengetahui bahwa kamu akan menolak apa yang kamu tidak mengetahui alasannya. Tetapi aku telah mengetahui hikmah dan kemaslahatan yang tersimpan di dalamnya, sedang kamu tidak mengetahuinya.

Musa berkata: satajidunii insyaa allaaHu shaabiran (“Insya Allah engkau akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar”) yakni atas apa yang aku saksikan dari beberapa tindakanmu.”)

wa laa a’shii laka amran (“Dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.”) Maksudnya, dan aku tidak menentangmu mengenai sesuatu. Pada saat itu, Khidhir memberikan syarat kepada Musa: qaala fa init taba’tanii falaa tas-alnii ‘an syai-in (“Ia berkata, ‘Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun.’”) Yakni, dalam taraf pertamanya.

hattaa uhditsu laka minHu dzikran (“Sampai aku sendiri yang menjelaskannya kepadamu.”) Yakni, sehingga aku yang mulai memberikan penjelasan kepadamu sebelum kamu bertanya kepadaku.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: