Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Kahfi ayat 74-76

22 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi (Gua)
Surah Makkiyyah; surah ke 18: 110 ayat

tulisan arab alquran surat al kahfi ayat 74-76“Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhir membunuhnya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang munkar.’ (QS. 18:74) Khidhir berkata: ‘Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku.’ (QS. 18:75) Musa berkata: ‘Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan udzur kepadaku.’” (QS. 18:76) (al Kahfi: 74-76)

Allah berfirman: fanthalaqaa (“Maka berjalanlah keduanya,”) yakni, setelah itu; hattaa idzaa laqiyaa ghulaman faqatalaHu (“Hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhir membunuhnya.”) Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa anak itu sedang bermain dengan anak-anak lainnya di sebuah perkampungan. Khidhir sengaja mendekati anak itu yang berada di tengah anak-anak lainnya. la adalah anak yang paling bagus, tampan, dan ceria di antara kawan-kawannya. Lalu Khidhir membunuhnya, wallahu a’lam.

Setelah Musa as menyaksikan peristiwa tersebut, ia pun menentangnya, bahkan lebih keras dari yang pertama, dan dengan segera ia berkata: aqalta nafsan zakiyyatan (“Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih.”) Yakni, seorang anak kecil yang belum berbuat dosa dan tidak juga ia berbuat kesalahan sehingga engkau membunuhnya; bighairi nafsin (“Bukan karena ia membunuh orang lain?”) Yakni, tanpa adanya alasan membunuhnya. Laqad ji’ta syai-an nukran (“Sesungguhnya engkau telah melakukan sesuatu yang munkar.”) Yakni, kemunkaran yang benar-benar jelas.

Qaala a lam aqul laka lan tathii’a ma’iya shabran (“Khidhir berkata, Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?”) Di sini Khidhir juga menekankan seraya mengingatkan syarat pertama. Oleh karena itu, Musa berkata kepadanya: in sa-altuka ‘an syai-in ba’daHaa (“Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah kali ini.”) Maksudnya, jika aku menentangmu dalam sesuatu hal setelah ini; fa laa tushaahibnii qad balaghta mil ladunnii ‘udz-ran (“Maka janganlah engkau memperbolehkan diriku menyertaimu, sesungguhnya engkau telah cukup memberikan udzur kepadaku.”) Maksudnya, engkau telah memberikan udzur berkali-kali kepadaku.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: