Tafsir Ibnu Katsir Surah Maryam ayat 12-15

23 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Maryam
Surah Makkiyyah; surah ke 19: 98 ayat

tulisan arab alquran surat maryam ayat 12-15“Hai Yahya, ambillah al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masib kanak-kanak. (QS. 19:12) dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dari dosa). Dan ia adalab seorang yang bertakwa, (QS. 19:13) dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia seorang yang sombong lagi durhaka. (QS. 19:14) Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal serta pada hari ia dibangkitkan hidup kembali. (QS. 19:15)” (Maryam: 12-15)

Ayat ini pun mengandung kalimat yang dibuang, kalimat tersebut adalah bahwa anak laki-laki yang dijanjikan itu adalah Yahya as. Allah telah mengajarkan padanya al-Kitab, yaitu Taurat yang dahulu mereka pelajari serta dijadikan hukum oleh para Nabi yang patuh dari orang-orang Yahudi, para rahib dan pendeta. Di saat itu umurnya masih kecil. Untuk itu Allah memanggilnya dengan menyebutkan namanya serta nikmat yang diberikan kepada dirinya dan kedua orang tuanya.

Allah berfirman: yaa yahyaa khudzil kitaaba biquwwati (“Hai Yahya, ambillah al-Kitab [Taurat] itu dengan sungguh-sungguh,” yaitu pelajarilah Kitab itu dengan kuat, yaitu dengan sungguh-sungguh, penuh antusias dan semaksimal mungkin.

Wa aatainaaHul hukma shabiyyan (“Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak,”) yaitu pemahaman, ilmu, kesungguhan, tekad, senang dan gemar kebaikan serta amat bersungguh-sungguh di dalamnya, padahal ia masih kanak-kanak. `Abdullah bin al-Mubarak berkata bahwa Ma’mar berkata: “Beberapa anak kecil berkata kepada Yahya bin Zakariya: ‘Pergilah main bersama kami.’ Yahya menjawab: ‘Kami diciptakan bukan untuk main.’”

Untuk itu Allah menurunkan: Wa aatainaaHul hukma shabiyyan (“Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak,”) Dan firman Allah: wa hanaanam mil ladunnaa (“Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami,”) yaitu rasa kasih sayang dari sisi Kami.
Demikian perkataan `Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu `Abbas. Demikian pula pendapat `Ikrimah, Qatadah dan adh-Dhahhak.

Dia (adh-Dhahhak) menambahkan: “Tidak ada yang sanggup selain Kami (Allah).” `Ikrimah berkata: “Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami,” yaitu perasaan cinta kepadanya. Ibnu Zaid berkata bahwa al-Hanaan adalah perasaan cinta. Maka al-Hannaan adalah cinta di dalam kasih sayang dan ketertarikan. Sebagaimana orang Arab berkata: “Unta itu hanan terhadap anaknya dan wanita itu hanaan terhadap suaminya.” Dari situ pula wanita dinamakan Hanah dari kata al-Haniyyah (kesayangan).

Di dalam Musnad Imam Ahmad, dari Anas, bahwa Rasulullah bersabda: “Tersisalah seorang laki-laki di api neraka yang berseru selama seribu tahun: `Ya Hannan (wahai Yang Mahakasih), ya Mannan (wahai Yang Mahapemberi).”
Dia selalu memuji, dan sebagian mereka membuat lafazh yang datang itu sebagai bahasa dengan pengertian inti kasih sayang (rahmat). Seperti contoh perkataan Tharfah:
Abu Mundzir, engkau telah menghancurkanku, dahulukanlah pada sebagian kami
Kasih sayangmu, sebagian kejahatan lebih ringan dari sebagiannya.

Firman-Nya: “wa zakaatan” di’athafkan atas “hanaanan”. Zakat adalah suci/bersih
dari kotoran, kesalahan dan dosa. Adh-Dhahhak dan Ibnu Juraij berkata: “Amal shalih yang zaki (yang suci).”
Al-‘Aufi berkata dari Ibnu `Abbas: “Wa zakaatan”: Dan kesucian, yaitu berkah; wa kaana taqiyyan (“Dan ia adalah seorang yang bertakwa”) suci tidak melakukan suatu dosa.

Firman-Nya: wa barram biwaalidaiHi wa lam yakun jabbaaran ‘ashiyyan (“Dan banyak berbakti
kepada kedua orang tuanya dan bukanlah ia seorang yang sombong lagi durhaka.”) Ketika Allah menyebutkan ketaatan Yahya kepada Rabbnya dan menciptakannya sebagai orang yang memiliki rahmat, suci dan bertakwa, Dia pun menyambungnya dengan menyebutkan ketaatan dan kebaktian Yahya kepada kedua orang tuanya serta jauh dari sikap mendurhakai keduanya, dengan perkataan dan perbuatan, baik perintah maupun larangan.

Karena itu, Dia berfirman: wa lam yakun jabbaaran ‘ashiyyan (“Dan bukanlah ia seorang yang sombong lagi durhaka.”) Kemudian Allah berfirman setelah (menerangkan) sifat-sifat yang indah ini, tentang balasan yang akan diterimanya: wa salaamun ‘alaiHi yauma wulida wa yauma yamuutu wa yauma yubhatsu hayyan (“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal serta pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.”) Yaitu, ia akan memperoleh rasa aman di tiga kondisi tersebut (lahir, mati dan hari berbangkit).

Sufyan bin `Uyainah berkata: “Alangkah mencekamnya (keadaan) seseorang yang berada di tiga kondisi tersebut; pada saat ia dilahirkan, ia melihat dirinya keluar dari tempat yang selama ini di alaminya, pada saat ia mati ia akan melihat suatu keadaan yang belum pernah dialaminya, dan di saat ia dibangkitkan ia melihat dirinya berada di padang Mahsyar yang besar (luas)”.

Dia (Sufyan) pun berkata: “Allah telah menghormati Yahya bin Zakariya pada saat itu, lalu mengistimewakannya dengan salam sejahtera untuknya. Maka Dia berfirman: wa salaamun ‘alaiHi yauma wulida wa yauma yamuutu wa yauma yubhatsu hayyan (“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal serta pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.”) (HR. Ibnu Jarir)

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: