Tafsir Ibnu Katsir Surah Maryam ayat 46-48

24 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Maryam
Surah Makkiyyah; surah ke 19: 98 ayat

tulisan arab alquran surat maryam ayat 46-48“Berkata ayahnya: ‘Bencikah kamu kepada ilah-ilahku, hai Ibrahim. Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.’ (QS. 19:46) Berkata Ibrahim: ‘Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS. 19:47) Dan aku akan menjauhkan diri daripadamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdo’a kepada Rabbku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo’a kepada Rabbku.’” (QS. 19:48) (maryam: 46-48)

Allah berfirman mengabarkan tentang jawaban ayah Ibrahim kepada puteranya, yaitu Ibrahim berkenaan dengan ajakannya: araaghibun anta ‘an aaliHatii yaa ibraaHiim (“Apakah kamu benci kepada ilah-ilahku, hai Ibrahim?”) Yaitu, jika engkau tidak ingin menyembahnya serta tidak me-
nyenanginya, maka hentikanlah mencaci, menghina dan meremehkannya. Karena, jika engkau tidak menghentikan semua itu, aku akan membalas untuk mencaci dan menghinamu. Itulah perkataan: la arjumannaka (“Niscaya kamu akan kurajam.”) Demikian perkataan Ibnu `Abbas, as-Suddi, Ibnu Juraij, adh-Dhahhak dan selain mereka.

Firman-Nya: waHjurnii maliyyan (“Dan tinggalkanlah aku maliyyan.”) Mujahid, `Ikrimah, Sa’id bin Jubair dan Muhammad bin Ishaq berkata: “Yaitu selama-lamanya.” Sedangkan al-Hasan al-Bashri berkata: “Waktu yang lama.”

Ibrahim berkata kepada ayahnya: salaamun ‘alaika (“Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu,”) sebagaimana firman Allah tentang sifat orang-orang yang beriman, “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al-Furqaan: 63)

Makna perkataan Ibrahim kepada ayahnya: salaamun ‘alaika (“Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu,”) yaitu, adapun aku tidak akan membalasmu dengan kebencian atau bahaya. Hal itu dikarenakan menghormati ayah.
Sa astaghfirulaka rabbii (“Aku akan memintakan ampunan untukmu kepada Rabbku,”) akan tetapi, aku akan meminta kepada Allah agar memberi hidayah dan mengampuni dosa-dosamu. innaHuu kaanabii hafiyyan (“Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.”)

Ibnu `Abbas dan selainnya berkata, yaitu sangat baik dengan memberiku petunjuk untuk beribadah dan ikhlas hanya kepada-Nya. Qatadah, Mujahid dan selain keduanya berkata, “Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku,” adalah selalu memperkenankan do’a. Sesungguhnya Ibrahim telah meminta ampunan untuk ayahnya dalam waktu yang cukup panjang. Setelah beliau hijrah ke negeri Syam, membangun Masjidil Haram, serta setelah lahirnya Isma’il dan Ishaq. Dalam firman-Nya: “Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari Kiamat).” (QS. Ibrahim: 41). Orang-orang muslim memintakan ampunan untuk para kerabat dan keluarga mereka yang musyrik pada masa permulaan Islam. Hal itu karena mentauladani Ibrahim al-Khalil, hingga Allah menurunkan:

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri darimu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.’ Kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya: ‘Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagimu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah…’” dan ayat seterusnya. (QS. Al-Mumtahanah: 4)

Yaitu kecuali perkataan ini, janganlah kalian ikuti. Kemudian Allah menjelaskan, bahwa Ibrahim telah mencabut, menarik kembali perkataannya tersebut. Allah berfirman:

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahim. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkalajelas bagi Ibrahim
bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (QS. At-Taubah: 113-114).

Firman-Nya: wa’tazilukum wa maa tad’uuna min duunillaaHi wa ad’uu rabbii (“Dan aku akan menjauhkan diri daripadamu dan daripada apa yang kamu seru selain Allah.”) Yaitu, “aku menjauhkan diri dan membebaskan diri dari kalian dan ilah-ilah yang kalian ibadahi selain Allah, dan aku akan berdo’a kepada Rabbku,” yaitu aku hanya beribadah kepada Rabbku yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya.

‘asa akuuna bidu’aa-i rabbii syaqiyyan (“Mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo’a kepada Rabbku,”) mudah-mudahan ini dikabulkan, tidak mustahil. Karena Ibrahim adalah pemimpin para Nabi setelah Muhammad.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: