Arsip | 23.58

Tafsir Ibnu Katsir Surah Thaahaa ayat 95-98

27 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Thaahaa
Surah Makkiyyah; surah ke 20: 135 ayat

tulisan arab alquran surat thaaHaa ayat 95-98“Berkata Musa: ‘Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?’ (QS. 20:95) Samiri menjawab: ‘Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak Rasul, lalu aku melemparkannya. Dan demikianlah nafsuku membujukku.” (QS. 20:96) Berkata Musa: “Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: ‘Janganlah menyentuh(ku).’ Dan sesungguhnya bagimu bukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah ilah kamu itu yang kamu tetap menyembabnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan). (QS. 20:97) Sesungguhnya Ilahmu hanyalah Allah, yang tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.’ (QS. 20:98)” (ThaaHaa: 95-98)

Musa berkata kepada Samiri, apa yang menyebabkanmu berbuat seperti itu, dan apa pula yang menimpamu sehingga kamu berani melakukan apa yang telah kamu lakukan.
Qaala bashurtu bimaa lam yabshuruu biHi (“Samiri menjawab: ‘Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya,’”) yakni, aku melihat Jibril ketika datang untuk membinasakan Fir’aun. Faqabadl-tu qab-dlatam min atsarir rasuuli (“Maka aku ambil segenggam dari jejak Rasul,”) yakni, dari jejak kudanya (Jibril). Demikianlah pendapat yang masyhur dari kalangan ahli tafsir atau mayoritas dari mereka.

Kata al-qabdhah berarti sepenuh telapak tangan, dan hal itu dengan seluruh ujung jari.
Mujahid mengatakan: “Samiri melemparkan apa yang ada di tangannya pada perhiasan Bani Israil sehinga berubah menjadi anak sapi yang berbadan dan mempunyai suara; fanabadl-tuHaa (“Lalu aku melemparkannya,”) yakni, melemparkannya bersama orang-orang yang melempar. Wa kadzaalika sawwalat-lii nafsii (“Dan demikianlah nafsuku membujukku.”) Maksudnya, nafsunya telah membuat hal itu tampak indah dan menarik.

Pada saat itu: qaala fadz-Hab fa inna laka fil hayaati an taquula laa misaas (“Musa berkata: ‘Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalan kehidupan di dunia ini [hanya dapat] mengatakan: Janganlah menyentuh [aku].’”) Yakni, sebagaimana kamu mengatakan telah mengambil dan memegang bekas urusan [Jibril] yang sebenarnya tidak pernah kamu ambil dan pegang, sehingga siksaanmu di dunia adalah dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu menyentuh(ku)!’ Artinya, kamu tidak bisa menyentuh orang-orang dan orang-orang pun tidak akan menyentuhmu.

Wa inna laka yauma’idan (“Dan sesungguhnya bagimu hukuman,”) yakni, pada hari Kiamat kelak: lan tukh-lafaHu (“Yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya,”) maksudnya, kamu tidak akan dapat mengelak darinya.

Qatadah mengatakan tentang firman-Nya: an taquula laa misaas (“[Hanya dapat] mengatakan: ‘Janganlah menyentuh’”) dia mengatakan: “Musa menyatakan hal ini sebagai hukuman bagi mereka, dan sisa-sisa mereka pada hari itu juga mengatakan, ‘Jangan menyentuh (ku)!’”

Firman-Nya: wandhur ilaa ilaaHika (“Dan lihatlah ilahmu,”) yakni sembahanmu itu; alladzii dhalta ‘alaiHi ‘aakifan (“Yang kamu tetap menyembahnya.”) Yakni telah menyembahnya, yaitu anak sapi tersebut. Lanuhar riqannaHu (“Sesungguhnya kami akan membakarnya.”)

Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu `Abbas dan as-Suddi: “Dia mendinginkanya dengan alat pendingin dan melemparkannya ke dalam api.
Dan menurut Qatadah: “Sapi yang terbuat dari emas itu berubah menjadi daging dan darah, sehingga dia membakarnya dengan api dan kemudia abunya di buang ke laut.” Oleh karena itu, dia mengatakan: tsumma lanansifannaHu fil yammi nasfan (“Kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut [berupa abu yang berserakan]”)

Firman Allah Ta’ala: inna maa ilaaHukumullaaHul ladzii laa ilaaHa illaa Huwa wasi’a kulla syai-in ‘ilman (“Sesungguhnya Ilahmu hanyalah Allah, yang tidak ada ilah [yang berhak diibadahi] selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.”) Musa as. berkata kepada mereka: “Bukan ini Ilah kalian, tetapi Ilah kalian adalah Allah yang tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali hanya Dia, tidak layak ibadah itu diberikan oleh hamba kecuali hanya kepada-Nya semata. Sebab, segala sesuatu selalu membutuhkan-Nya sekaligus sebagai hamba bagi-Nya.

Firman-Nya: wasi’a kulla syai-in ‘ilman (“Dan pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.”) Kata `ilma dengan menggunakan harakat fat-hah pada huruf “mim” dengan pengertian bahwa Dia Mahamengetahui atas segala sesuatu. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu dan Dia mampu menghitung jumlah segala sesuatu, tidak ada yang terlepas meski hanya seberat biji sawi. Tidak satu daun yang jatuh melainkan Dia mengetahuinya dan tidak ada satu biji pun kegelapan bumi, tidak yang basah dan tidak pula yang kering melainkan tertulis di dalan Kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).

“Dan tidak ada satu binatang melata pun di muka bumi ini melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh).” (QS. Huud: 6)
Dan ayat al-Qur’an yang membahas mengenai masalah itu cukup banyak.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Thaahaa ayat 92-94

27 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Thaahaa
Surah Makkiyyah; surah ke 20: 135 ayat

tulisan arab alquran surat thaaHaa ayat 92-94“Berkata Musa: ‘Hai Harun, apa yang menghalangimu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (QS. 20:92) (sehingga) kamu tidak mengikutiku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?’ (QS. 20:93) Harun menjawab: ‘Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): ‘Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku.’ (QS. 20:94)” (ThaaHaa: 92-94)

Allah Ta’ala menceritakan tentang Musa ketika dia kembali kepada kaumnya, lalu dia melihat peristiwa besar yang terjadi di tengah-tengah mereka. Maka pada saat itu, Musa dipenuhi amarah, lalu dia melemparkan lembaran-lembaran berisi firman Allah yang ada di tangannya, lalu memegang kepala saudaranya seraya menariknya ke arahnya. Dan kami telah menguraikan hal itu di dalam surat al-A’raaf, dan di sana kami menyebutkan sebuah hadits yang berbunyi: “Berita yang disampaikan itu tidak seperti yang disaksikan.”

Kemudian Musa mulai mencela saudaranya, Harun, seraya berkata: qaala yaa Haaruunu maa mana’aka idz ra-aitaHum dlalluu, allaa tattabi’an (“Hai Harun, apa yang menghalangimu ketika kamu melihai mereka telah sesat, [sehingga] kamu tidak mengikutiku?”) Maksudnya, lalu memberitahuku mengenai hal ini pada awal kejadian.

Afa ‘ashaita amrii (“Maka apakah kamu telah [sengaja] mendurhakai perintahku.”) Yakni, mengenai apa yang telah aku sampaikan kepadamu. Yaitu ucapannya: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. Al-A’raaf: 142).

Harun menjawab: yabna umma (“Wahai putera ibuku,”) Harun bersikap sangat lembut dengan menyebut kata “ibu”, padahal dia adalah saudaranya sekandung. Sebab, penyebutan ibu di sini lebih mengena dan lebih mendalam untuk mengunkapkan kasih sayang dan kelembutan. Oleh karena itu, Harun berkata: yabna umma laa ta’khudz bilihyatii walaa bira’sii (“Wahai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan [pula] kepalaku.”) Yang demikian itu merupakan permintaan maaf dari Harun kepada Musa atas tindakannya yang menunda untuk memberitahukan peristiwa tersebut, di mana dia tidak menemuinya dan memberitahukan mengenai peristiwa besar yang terjadi.

Innii khasyiitu (“Sesungguhnya aku khawatir,”) untuk menemuimu lalu memberitahumu mengenai masalah ini, lalu engkau berkata kepadaku: “Mengapa kamu meninggalkan mereka sendirian dan memecah di antara Bani Israil; wa lam tarqub qaulii (“Dan kamu tidak memelihara amanatku,”) yakni, kamu tidak menjaga apa yang telah aku perintahkan kepadamu, di mana aku telah mengangkatmu sebagai pemimpin mereka.
Ibnu `Abbas mengatakan: “Harun sangat hormat dan patuh kepada Musa as.”
bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Thaahaa ayat 90-91

27 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Thaahaa
Surah Makkiyyah; surah ke 20: 135 ayat

tulisan arab alquran surat thaaHaa ayat 90-91“Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya: ‘Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu dan sesungguhnya Rabbmu ialah (Rabb) Yang Mahapemurah, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku.’ (QS. 20:90) Mereka menjawab: ‘Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami.’ (QS. 20:91)” (ThaaHaa: 90-91)

Allah Ta’ala memberitahukan tentang larangan Harun as. terhadap Bani Israil mengenai penyembahan mereka terhadap anak sapi, sekaligus pemberitahuannya kepada mereka bahwa yang demikian itu merupakan fitnah bagi mereka. Sesungguhnya Ilah kalian itu Mahapenyayang yang telah menciptakan segala sesuatu dan menentukannya, dan yang mempunyai `Arsy yang mulia, serta yang mengerjakan apa yang dikehendaki-Nya:

Fat tabi’uunii wa athii-‘uu amrii (“Maka ikutilah aku dan taatilah perintahku,”) yakni terhadap apa yang telah aku perintahkan kepada kalian dan tinggalkan segala yang aku larang untuk kalian kerjakan.

Qaaluu lan nabraha ‘alaiHi ‘aakifiina hattaa yarji’a ilainaa muusaa (“Mereka menjawab: ‘Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini hingga Musa kembali kepada kami.’”) Yakni, kami tidak akan meninggalkan penyembah an anak sapi sehingga kami mendengar sendiri ucapan Musa mengenai anak penyembahan tersebut. Dan mereka pun menyalahi Harun dalam hal itu serta memeranginya, bahkan hampir saja mereka membunuhnya.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Thaahaa ayat 83-89

27 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Thaahaa
Surah Makkiyyah; surah ke 20: 135 ayat

tulisan arab alquran surat thaaHaa ayat 83-89“Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa? (QS. 20: 83) Berkatalah Musa: ‘Itulah, mereka telah menyusuliku dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Rabbku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku).’ (QS. 20: 84) Allah berfirman: ‘Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri. (QS. 20: 85) Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa: ‘Hai kaumku, bukankah Rabbmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Rabbmu menimpamu, lalu kamu melangga rperjanjianmu denganku?’ (QS. 20: 86) Mereka berkata: ‘Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya,’ (QS. 20: 87) kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: ‘Inilah Ilahmu dan Ilah Musa, tetapi Musa telah lupa.’ (QS. 20: 88) Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan? (QS. 20: 89)” (ThaaHaa: 83-89)

Musa berjalan bersama Bani Israil setelah dibinasakannya Fir’aun serta dijanjikan untuk bermunajat kepada Rabbnya selama tiga puluh malam lalu ditambah lagi sepuluh malam sehingga menjadi empatpuluh malam tepat, yakni dia berpuasa Siang malam pada keempat puluh hari tersebut. Dalam hadits al-futuun terdapat penjelasan mengenai hal itu.

Kemudian Musa as bergegas menuju ke gunung Thur dan mengangkat saudaranya Harun sebagai pemimpin bagi Bani Israil. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: wa maa a’jalaka ‘an qaumika yaa muusaa. Qaala Hum ulaa-i ‘alaa atsarii (“Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?’ Musa menjawab: ‘Itulah mereka telah menyusuliku.’”) Maksudnya, mereka sedang datang dan menempati tempat yang dekat gunung.
Wa ‘ajiltu ilaika rabbi litardlaa (“Dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Rabbku, agar supaya Enggkau ridha [kepadaku].”) Maksudnya, agar Engkau lebih ridha lagi kepadaku.

Qaala fa innaa fatannaa qaumaka mim ba’dika wa adlal-laHumus saamiriy (“Allah berfirman: ‘Maka sesungguhnya Kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri.’”) Allah Ta’ala memberitahu Nabi-Nya, Musa as mengenai kejadian yang dialami Bani Israil setelah dia (Musa) tinggalkan, serta penyembahan mereka terhadap anak sapi yang dibuat oleh Samiri untuk mereka. Dan selama itu, Allah Ta’ala menuliskan lembaran-lembaran untuk Musa yang memuat Taurat.

Firman-Nya; fa raja’a muusaa ilaa qaumiHii ghadl-baana asifan (“Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati.”) Yakni, setelah Allah Ta’ala memberitahukan hal itu kepada Musa, maka dia benar-benar marah kepada mereka. Padahal dia telah memberikan perhatian yang besar terhadap masalah mereka serta menerima Taurat yang di dalamnya memuat syari’at mereka, juga mengandung kehormatan bagi mereka, sedang mereka kaum yang telah menyembah selain Allah, yang setiap orang yang berakal mengetahui ketidakbenaran apa yang telah mereka lakukan itu serta kebodohan otak dan akal pikiran mereka. Oleh karena itu, Musa pulang kembali kepada mereka dalam keadaan murka lagi benar-benar marah. Kata al-asf berarti benar-benar marah.

Qatadah dan as-Suddi mengatakan: “Al-asf berarti bersedih atas apa yang dilakukan oleh kaumnya setelah dia tinggalkan.”

Qaala yaa qaumi alam ya-‘idkum rabbukum wa’dan hasanan (“Musa berkata, Hai kaumku, bukankah Rabbmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik?”) Maksudnya, bukankah Rabb kalian telah menjanjikan melalui lisanku segala kebaikan di dunia dan akhirat kepada kalian serta tempat kembali yang baik, sebagaimana yang telah kalian saksikan sendiri pertolongan yang telah Dia berikan kepada kalian dalam menghadapi musuh kalian serta memenangkan kalian atasnya dan berbagai hal lainnya?

Afathaala ‘alaikumul ‘aHdu (“Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu?”) Yakni, dalam menunggu apa yang dijanjikan Allah dan melupakan berbagai nikmat-Nya padahal hal itu belum lama berlangsung.

Am aradtum ay yahillu ‘alaikum ghadlabum mir rabbikum (“Atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Rabbmu menimpamu.”) Kata am di sini berarti bal (tetapi), yang ia dimaksudkan untuk menyisihkan kalimat pertama dan adanya kecenderungan pada kalimat yang kedua, seakan-akan Dia hendak mengatakan: “Tetapi dengan tindakan kalian itu kalian menginginkan penimpaan murka Rabb kalian kepada kalian.”

Fakh-laftum mau-‘idii (“Lalu kamu melanggar perjanjianmu denganku”) mereka berkata, “yakni, Bani Israil dalam rangka menjawab peringatan dan kecaman yang diberikan Musa kepada mereka: maa akh-lafnaa mau’idaka bimalkinaa (“Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri,”) yakni dengan kemampuan dan kehendak kami sendiri. Kemudian mereka memberikan alasan yang dingin (tidak bisa diterima) seraya memberitahukan kepadanya tentang keberatan mereka dalam membawa berbagai perhiasan bangsa Qibti yang berada di tangan mereka yang telah diambil dari bangsa Qibti tersebut, ketika keluar dari Mesir, maka kami melemparkannya. Dan pada saat itu Samiri berkata: “Aku memohon kepada Allah agar hal itu menjadi anak sapi.” Lalu hal itu pun menjadi anak sapi yang mempunyai suara, sebagai cobaan dan ujian dari Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, Allah berfirman: fa kadzaalika alqas saamiriy, fa-akhraja laHum ‘ijlan jasadal laHuu khuwaar (“Dan demikian pula Samiri melemparkannya. Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka [dari lobang itu] anak sapi yang bertubuh dan bersuara.”) Mereka berkata: “Yakni, orang-orang yang sesat dari mereka yang tertipu karena anak sapi dan menyembahnya.”

Haadzaa ilaaHukum wa ilaaHu muusaa fanasii (“Inilah Ilahmu dan Ilah Musa, tetapi Musa telah lupa.”) Maksudnya, dia melupakannya, lalu dia pergi untuk mencarinya. Penafsiran itu juga dikemukakan oleh Mujahid.

Samak berkata dari `Ikrimah, dari Ibnu `Abbas: “Lalu dia lupa mengingat kalian bahwa ini adalah Ilah kalian.” Sedangkan Muhammad bin Ishaq bercerita, dari Ibnu `Abbas, mereka berkata: “Inilah Ilahmu dan Ilah Musa.” Maka mereka pun senantiasa berada di dekat anak sapi itu untuk menyembahnya dan mereka mencintainya dengan kecintaan yang belum pernah mereka lakukan pada sesuatu pun sepertinya.

Allah berfirman: fanasii (“Lalu dia lupa,”) yakni, meninggalkan Islam yang dulu dipeluknya, yaitu Samiri. Firman Allah yang merupakan bantahan dan kecaman kepada mereka serta menjelaskan kebodohan otak mereka atas aka yang mereka kerjakan:

Afalaa yarauna allaa yarji’u ilaiHim qaulaw walaa yamliku laHum dlarraw wala naf-‘an (“Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan?”
Yakni, anak sapi itu, apakah mereka tidak memperhatikan bahwa ia tidak bisa memberi jika mereka meminta, atau tidak dapat menjawab jika mereka bertanya, juga tidak bisa memberikan mudharat dan manfaat kepada mereka, yakni di dunia maupun di akhirat.

Ibnu `Abbas mengatakan: “Tidak demi Allah, suara anak sapi itu tiada lain adalah masuknya angin dari lubang duburnya, lalu angin itu keluar dari mulutnya sehingga mengeluarkan suara. Hasil dari pemberian alasan orang-orang bodoh itu, di mana mereka merasa keberatan membawa perhiasan bangsa Qibti, lalu mereka melemparkannya dan kemudian menyembah anak sapi, maka dengan demikian mereka telah merasa berat dengan sesuatu yang hina dan melakukan suatu hal yang amat besar (kesyirikan).

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih, dari `Abdullah bin `Umar dia pernah ditanya oleh seseorang dari penduduk Irak mengenai darah nyamuk jika mengenai pakaian, yakni, apakah dia boleh shalat dengan mengenakannya atau tidak? Maka Ibnu `Umar menjawab: “Lihatlah penduduk Irak, mereka membunuh putera dari puteri Rasulullah saw.” Yakni, Husain, sedang mereka menanyakan tentang darah nyamuk.

Bersambung

Gambar

Alhamdulillaah, Padiku Menguning

27 Jul

Alhamdulillaah... Padiku menguning

Tafsir Ibnu Katsir Surah Thaahaa ayat 80-82

27 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Thaahaa
Surah Makkiyyah; surah ke 20: 135 ayat

tulisan arab alquran surat thaaHaa ayat 80-82“Hai Bani Israil, sesungguhnya Kami telah menyelamatkanmu sekalian dari musuhmu, dan Kami telah mengadakan perjanjian denganmu sekalian (untuk munajat) di sebelah kanan gunung itu dan Kami telah menurunkan kepadamu sekalian al-manna dan as-salwa. (QS. 20: 80) Makanlah di antara rizki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia. (QS. 20: 81) Dan sesungguhnya Aku Mahapengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar. (QS. 20: 82)” (ThaaHaa: 80-82)

Allah Ta’ala mengingatkan akan nikmat-nikmat-Nya yang besar telah dilimpahkan kepada Bani Israil dan anugerah-Nya yang agung, dimana Dia telah menyelamatkan mereka dari musuh mereka, Fir’aun, dan menyenangkan hati mereka, di mana mereka melihat ke arahnya dan juga bala tentaranya yang tenggelam dalam satu pagi, tidak ada seorang pun yang selamat. Sebagaimana yang difirmankan-Nya: “Dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.” (QS. Al-Baqarah: 50)

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, dia bercerita, ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau mendapatkan orang-orang Yahudi puasa `Asyura’, lalu beliau bertanya kepada mereka, dan mereka pun menjawab: “Inilah hari di mana Allah memenangkan Musa atas Fir’aun.” Maka beliau bersabda: “Kita yang lebih berhak pada Musa, karenanya berpuasalah hari ini.” Diriwayatkan Muslim di dalam kitab Shahihnya.

Kemudian Allah Ta’ala menjanjikan kepada Musa dan Bani Israil setelah kebinasaan Fir’aun, untuk bermunajat di sebelah kanan gunung Thur, saat di mana Allah Ta’ala mengajak Musa berfirman langsung, sedang meminta agar bisa melihat-Nya. Di sana pula Allah memberinya Kitab Taurat. Dan selama itu pula Bani Israil menyembah anak sapi sebagaimana yang diceritakan sesaat lagi.

Adapun kata al-manna dan as-salwa, telah diberikan uraian pada pembahasan di surat al-Baqarah dan juga yang lainnya. Di mana al-manna berarti manisan yang diturunkan kepada mereka dari langit, sedangkan as-salwa adalah burung yang jatuh kepada mereka, lalu mereka mengambilnya sesuai dengan kebutuhan mereka sampai esok hari, sebagai salah satu bentuk ketembutan dan rahmat Allah sekaligus kebaikan kepada mereka. Oleh karena itu, Ta’ala berfirman:

Kuluu min thayyibaati maa razaqnaakum wa laa tathghaw fiiHi fayahillu ‘alaikum ghadlabii (“Makanlah di antara rizki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu.”) Maksudnya, makanlah dari rizki yang telah dianugerahkan kepada kalian dan janganlah kalian berlebih-lebihan dalam melakukannya, di mana kalian mengambilnya di luar kebutuhan dan melanngar apa yang telah Aku perintahkan kepada kalian.
Fa yahillu ‘alaikum ghadlabii (“Sehingga kemurkaan-Ku menimpamu.”) Yakni, Aku akan marah kepada kalian.

Wa may yahlil ‘alaiHi ‘alaiHi ghadlabii faqad Hawaa (“Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku maka sesungguhnya binasalah ia.”) Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu `Abbas, yakni, dia telah sengsara.

Firman-Nya: wa innii laghaffaarul liman taaba wa amana wa ‘amila shaalihan (“Dan sesungguhnya Aku Mahapengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih.”) Yakni, setiap orang yang bertaubat kepada-Ku, maka Aku akan menerima taubatnya, dari segala macam dosa yang pernah diperbuatnya, bahkan Allah Ta’ala akan memberikan ampunan kepada orang-orang dari Bani Israil yang menyembah sapi.

Firman-Nya: taaba (“Bertaubat,”) yakni kembali dari apa yang telah digelutinya, baik itu kekufuran, kemusyrikan, kemaksiatan, maupun kemunafikan. Sedangkan firman-Nya: wa aamana (“Dan beriman,”) yakni, beriman dengan sepenuh hatinya; wa ‘amila shaalihan (“Dan beramal shalih”) yakni, dengan seluruh raganya. tsummaH tadaa (“Kemudian tetap di jalan yang benar.”)

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, artinya, kemudian dia tidak ragu. Sa’id bin Jubair mengenai firman-Nya: tsummaH tadaa (“Kemudian tetap di jalan yang benar”) ia berkata: “Yakni, tetap berpegang teguh pada Sunnah wal Jama’ah.” Kata tsumma di sini dimaksudkan untuk memperurutkan berita atas berita, sebagaimana firman-Nya:

Tsumma kaana minal ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaati wa tawaashau bish shabri wa tawaashau bil marhamaH (“Dan dia termasuk orang orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”)

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Thaahaa ayat 77-79

27 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Thaahaa
Surah Makkiyyah; surah ke 20: 135 ayat

tulisan arab alquran surat thaaHaa ayat 77-79“Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: ‘Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tidak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam).’ (QS. 20:77) Maka Fir’aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka. (QS. 20:78) Dan Fir’aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberipetunjuk. (QS. 20:79)” (ThaaHaa: 77-79)

Allah Ta’ala memberitahukan dalam firman-Nya bahwa Dia telah memerintahkan Musa as pada saat Fir’aun menolak untuk mengirimkan Bani Israil bersamanya untuk bisa pergi pada malam hari bersama mereka serta pergi dengan mereka dari cengkeraman Fir’aun. Allah telah menguraikan masalah ini selain di dalam surat yang mulia ini. Yaitu bahwa Musa ketika keluar bersama Bani Israil, ketika pada pagi itu, tidak ada seorang pun dari mereka yang berada di Mesir. Maka Fir’aun pun sangat marah, lalu dia mengirim beberapa orang pengumpul ke beberapa daerah, yakni yang mengumpulkan bala tentara dari seluruh daerah dan wilayahnya, seraya mengatakan:
“Orang-orang itu berjumlah tidak banyak, dan sesungguhnya mereka benar-benar telah membuat kita marah.” Kemudian, setelah dia berhasil mengumpulkan bala tentaranya, dia meminta bala tentaranya diberangkatkan untuk mencari mereka, lalu bala tentaranya itu menyusul mereka pada pagi hari.

Falammaa taraa-al jam’aani (“Maka tatkala kedua golongan itu saling melihat,”) yakni, masing-masing dari kedua pasukan itu saling melihat: qaala ash-haabu muusaa innaa lamudrakuun (“Para pengikut Musa berkata: ‘Sesungguhnya kita benar benar akan tersusul.’”) Maka Musa berkata: kallaa inna ma’iya rabbii sayaHdiin (“Sekali-kali tidak akan tersusul. Sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”) (QS. Asy-Syu’araa’: 60-62)

Musa dan Bani Israil berhenti dengan lautan di hadapan mereka, sedang Fir’aun berada di belakang mereka, maka pada saat itu, Allah menurunkan wahyu kepadanya: fadl-rib laHum thariiqan fil bahri yabasan (“Maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu.”) Maka Musa pun memukul laut dengan tongkatnya. Dan dia berkata: “Terbelahlah untukku dengan izin Allah.” Maka laut itu pun terbelah, yang setiap belahan seperti gunung yang besar. Kemudian Allah mengirimkan angin ke tanah lautan sehingga mengeringkannya, hingga akhirnya menjadi seperti daratan, seperti permukaan bumi.

Oleh karena itu, Dia berfirman: fadl-rib laHum thariiqan fil bahri yabasal laa takhaafu darkan (“Maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu. kamu tidak usah khawatir akan tersusul.”) Yakni, tersusul oleh Fir’aun. Wa laa takhsyaa (“Dan tidak usah takut.”) Yakni, laut akan menenggelamkan kaummu. Kemudian Allah Ta’ala berfirman: fa atba’aHum fir’aunu bijunuudiHii faghasyiyyaHum minal yammi maa ghasyiyaHum (“Maka Fir’aun dengan balatentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka.”)

Yakni, seperti kisah yang sudah sangat terkenal dan masyhur. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala: “Dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah, lalu Allah menimpakan atas negeri itu adzab besar yang menimpanya.” (QS. An-Najm: 54)

Sebagaimana Fir’aun memimpin bala tentaranya untuk menerobos ke dalam laut, maka dia pun telah menyesatkan mereka dan tidak dapat menunjukkan kepada mereka jalan keselamatan, dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka menuju jalan yang lurus. Maka demikian juga pada hari Kiamat, Fir’aun memimpin kaumnya untuk dijebloskan ke dalam neraka. Sesungguhnya neraka itu seburuk-buruk tempat.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Thaahaa ayat 74-76

27 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Thaahaa
Surah Makkiyyah; surah ke 20: 135 ayat

tulisan arab alquran surat thaaHaa ayat 74-76“Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka jahannam. la tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup. (QS. 20:74) Dan barangsiapa datang kepada Rabb-nya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh beramal shalih, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), (QS. 20:75) (yaitu) surga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan). (QS. 20:76) (ThaaHaa: 74-76)

Yang tampak dari siyaq (redaksi) ayat ini bahwa yang demikian itu merupakan bagian dari kelengkapan nasihat yang disampaikan para tukang sihir kepada Fir’aun, di mana mereka telah mengingatkannya dari siksaan dan adzab Allah yang kekal abadi, seraya menanamkan kecintaan kepada pahala-Nya yang abadi pula, mereka mengatakan: innaHuu may yu’ti rabbaHuu mujriman (“Sungguhnya, barangsiapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan berdosa,”) yakni, menghadap Allah pada hari Kiamat kelak, sedang dia dalam keadaan berdosa; fa inna laHuu jaHannama laa yamuutu fiiHaa wa laa yahyaa (“Maka sesungguhnya baginya neraka jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.”)

Penggalan ayat ini sama seperti firman-Nya yang lain: “Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka adzabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. ” (QS. Faathir: 36)

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, dia bercerita, Rasulullah bersabda: “Adapun penghuni neraka, yang memang mereka adalah penghuninya, sesungguhnya mereka tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup, tetapi ada beberapa orang yang menghuni nereka karena dosa-dosa mereka, lalu mereka dimatikan sejenak sehingga apabila telah menjadi arang, maka diizinkan untuk mendapatkan syafa’at sehingga mereka didatangkan sekelompok demi sekelompok, maka mereka ditebarkan di sisi sungai-sungai surga, lalu dikatakan, `Wahai penghuni surga, siramlah mereka.’ Maka mereka tumbuh seperti benih yang tumbuh di tempat (tanah) terjadinya banjir.”

Kemudian ada seseorang dari suatu kaum mengatakan: “Seakan-akan Rasulullah saw berada di pedalaman.” Demikianlah yang diriwayatkan Muslim dalam kitabnya, Shahih Muslim.

Firman Allah Ta’ala: wa may ya’tiHi mu’minan qad ‘amilash shaalihaati (“Dan barangsiapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh beramal shalih.”) Maksudnya, barangsiapa menghadap Rabbnya pada hari Kiamat kelak dalam keadaan beriman di dalam hati, hati nuraninya dibenarkan oleh ucapan dan perbuatannya; fa ulaa-ika laHumud darajaatul ‘ulaa (“Maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi [mulia].”) Yakni, surga yang mempunyai tempat-tempat yang tinggi, dan bilik-bilik yang aman serta tempat tinggal-tempat tinggal yang baik.

Imam Ahmad meriwayatkan dari `Ubadah bin ash-Shamit dari Nabi, beliau bersabda: “Surga itu mempunyai seratus tingkatan, yang antara setiap tingkatan berjarak antara langit dan bumi, dan Firdaus adalah tingkatan yang paling tinggi. Darinya keluar sungai-sungai yang empat, sedangkan `Arsy berada di atasnya. Oleh karena itu, jika kalian meminta kepada Allah, maka mintalah Firdaus kepada-Nya.” (HR. At-Tirmidzi)

Di dalam kitab ash-Shahihain disebutkan: “Sesungguhnya penghuni surga yang berada di `Illiyyin bisa melihat orang-orang yang berada di atasnya, sebagaimana kalian bisa melihat bintang-bintang tenggelam di ufuk langit karena adanya perbedaan keutamaan di antara mereka.” Para Sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apakah itu tempat para Nabi?” Beliau menjawab: “Bukan, demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, mereka adalah orang-orang yang beriman dan yang membenarkan para Rasul.”

Di dalam kitab Sunan disebutkan, bahwa Abu Bakar dan `Umar termasuk dari kalangan mereka.
Firman-Nya: jannaatu ‘adnin (“Surga Adn,”) yakni tempat tinggal, sebagai ganti dari tempat-tempat yang tinggi; tajrii tahtiHal anHaaru khaalidiina fiiHaa (“Yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya,”) yakni, akan tinggal di dalamnya untuk selamanya.

Wa dzaalika jazaa-u man tazakkaa (“Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih [dari kekafiran dan kemakstatan].”) Yakni, yang menyucikan dirinya dari najis, kotoran dan kemusyrikan, serta hanya menyembah Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, mengikuti para Rasul dan apa yang dibawanya baik berupa kebaikan maupun perintah.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Thaahaa ayat 71-73

27 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Thaahaa
Surah Makkiyyah; surah ke 20: 135 ayat

tulisan arab alquran surat thaaHaa ayat 71-73“Berkata Fir’aun: ‘Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalibmu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.’ (QS. 20:71) Mereka berkata: ‘Kami sekali-kali tidak mengutamakanmu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. (QS. 20:72) Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (adzab-Nya).” (QS. 20:73) (ThaaHaa: 71-73)

Allah Ta’ala menceritakan tentang kekufuran Fir’aun, keingkaran, kezhaliman, dan kesombongannya seraya menolak kebenaran dengan kebathilan.
Aamantum laHu (“Apakah kamu telah beriman kepadanya [Musa]”) yakni membenarkannya.
Qabla an aadzana lakum (“Sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian.”) Yakni, aku tidak memerintahkan kalian melakukan hal itu, dan kalian menentangku dalam hal tersebut. Dia mengatakan ungkapan; yang dia sendiri, para tukang sihir, dan seluruh makhluk mengetahui bahwa dia itu bohong dan dusta.

innaHuu lakabiirukumul ladzii ‘allamakumus sihra (“Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian.”) Yakni, kalian hanya akan mendapatkan ilmu sihir dari Musa dan kalian akan sepakat dengannya untuk melawanku dan juga rakyatku dengan tujuan agar kalian memenangkannya.

Selanjutnya, Fir’aun mengancam mereka seraya berkata: fa la-uqath-ti-anna aidiyakum wa arjulakum min khilaafiw wa la-ushallibannakum fii judzuu-‘in nakhli (“Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalibmu sekalian pada pangkal pohon kurma.”) Maksudnya, aku akan menjadikan kalian sebagai contoh, aku bunuh, serta aku umumkan kalian semua.

Kemudian Ibnu `Abbas mengatakan: “Fir’aun adalah orang yang pertama kali melakukan hal tersebut.” Demikian yang diriwayatkan Ibnu Abi Hatim.

Firman Allah Ta’ala: wa lata’lamunna ayyunaa asyaddu ‘adzaabaw wa abqaa (“Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.”) Yakni, kalian mengatakan, bahwa aku dan kaumku berada dalam kesesatan, sedangkan kalian bersama Musa dan kaumnya berada dalam petunjuk. Oleh karena itu, kalian akan mengetahui siapa yang memiliki adzab dan yang kekal.

Setelah menakut-nakuti dan memberikan ancaman kepada mereka, maka diri mereka itu terhanyut dalam ketundukan kepada Allah. Dan:
Qaaluu lan nu’tsiraka ‘alaa maa jaa-anaa minal bayyinaati (“Mereka berkata, ‘Kami sekali-kali tidak mengutamakanmu dari bukti-bukti yang nyata [mukjizat]”) yakni, kami tidak akan memilihmu dengan mengalahkan apa yang kami peroleh berupa petunjuk dan keyakinan.

Wal ladzii fatharanaa (“Dan daripada Rabb yang telah menciptakan kami.”) Penggalan ini bisa jadi sebagai bentuk sumpah dan bisa jadi sebagai ma’thuf (sambungan) atas kata bayyinaat (bukti yang nyata). Yang mereka maksudkan adalah, kita tidak akan mengutamakanmu daripada Pencipta kami yang telah mengadakan kami dari ketiadaan, yang mengawali penciptaan kami dari tanah liat. Dialah yang berhak dengan segala macam ibadah dan ketaatan, bukan kamu (Fir’aun).

Faq-dlimaa anta qaadl (“Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan.”) Maksudnya, kerjakanlah apa yang kamu kehendaki dan apa yang dapat dijangkau oleh tanganmu.
Innamaa taqdlii HaadziHil hayaatad-dun-yaa (“Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.”) Yakni, sesungguhnya engkau hanya berkuasa di dunia ini saja, tempat yang tiada kekal, sedangkan kami lebih menyukai kehidupan yang abadi.
Innaa aamannaa birabbinaa liyaghfiralanaa khataayaanaa (“Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami,”) yakni, berbagai macam dosa yang telah kami lakukan, khususnya sihir yang kami telah kamu paksa untuk menggunakannya melawan ayat-ayat Allah Ta’ala dan mukjizat Nabi-Nya:

Wa maa akraHtanaa ‘alaiHi minas sihri (“Dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya.”) Firman-Nya; wallaaHu khairuw wa abqaa (“Dan Allah lebih baik [pahala-Nya] dan lebih kekal.”) Maksudnya, lebih baik bagi kami daripada dirimu. Wa abqaa (“Dan lebih kekal,”) yakni, lebih kekal pahalanya daripada apa yang telah kamu janjikan dan iming-imingkan kepada kami. Ini adalah riwayat dari Ibnu Ishaq.

Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi berkata mengenai firman-Nya: wallaaHu khairun (“Dan Allah lebih baik,”) Yakni, lebih baik bagi kami daripada dirimu, jika ditaati; wa abqaa (“Dan lebih kekal”) yakni lebih kekal adzab-Nya daripada adzabmu jika didurhakai.” Yang tampak bahwa Fir’aun la’natullah berkeinginan keras terhadap hal itu serta melakukannya terhadap mereka, hal itu adalah sebagai rahmat bagi mereka dari Allah.

Oleh karena itu, Ibnu `Abbas dan juga yang lainnya dari kaum salaf mengatakan: “Mereka menjadi tukang sihir pada pagi hari dan menjadi syuhada’ pada sore hari.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Thaahaa ayat 65-70

27 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Thaahaa
Surah Makkiyyah; surah ke 20: 135 ayat

tulisan arab alquran surat thaaHaa ayat 65-70“(Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: ‘Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?’ (QS. 20:65) Berkata Musa: ‘Silahkan kamu sekalian melemparkan!’ Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka. (QS. 20:66) Maka Musa merasa takut dalam hatinya. (QS. 20:67) Kami berkata: ‘Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). (QS. 20:68) Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.’ (QS. 20:69) Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata: ‘Kami telah percaya kepada Rabb Harun dan Musa.’ (QS. 20:70) (ThaaHaa: 65-70)

Allah Ta’ala menceritakan tentang para tukang sihir ketika mereka berhadap-hadapan dengan Musa. Di mana mereka berkata kepada Musa: immaa an tulqiya (“Apakah kamu yang melemparkan,”) maksudnya, kamu terlebih dulu yang melemparkan.
Wa immaa an nakuuna awwala man alqaa, qaala bal alquu (“’Ataukah kami orang yang mula-mula melemparkan?’ Musa berkata, ‘Silalkan kamu sekalian melemparkan’”) maksudnya, kalian dulu yang melemparkan agar kami dapat melihat apa yang kalian bisa lakukan dari sihir itu, dan agar tampak jelas oleh umat manusia masalah mereka.

Fa idzaa hibaaluHum wa ‘ishiyyuHum yukhayyalu ilaiHi min sikhriHim annaHaa tas’aa (“Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka.”)

Dalam ayat yang lain disebutkan: “Mereka menyulap mata manusia dan menjadikan manusia itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan).” (QS. Al-A’raaf: 116)

Sementara di sini Allah Ta’ala berfirman: Fa idzaa hibaaluHum wa ‘ishiyyuHum yukhayyalu ilaiHi min sikhriHim annaHaa tas’aa (“Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka.”) Di mana mereka menempatkannya di wadah yang diberi air raksa yang karenanya dapat bergerak, bergoyang, dan melongok, sehingga menjadikan orang yang melihatnya membayangkan bahwa ia merayap
dengan sendirinya. Padahal sesungguhnya hal itu hanya tipu daya.

Tukang-tukang sihir itu berjumlah sangat banyak, yang masing-masing melemparkan tongkat dan tali sehingga seolah-olah lembah itu menjadi penuh dengan ular yang sebagian menindih sebagian lainnya.

Firman Allah Ta’ala: fa aujasa fii nafsiHii khiifatam muusaa (“Maka Musa merasa takut dalam hatinya.”) Maksudnya, Musa mengkhawatirkan orang-orang akan terpengaruh oleh sihir mereka itu serta tertipu oleh mereka sebelum dia melemparkan apa yang ada di tangan kanannya itu. Kemudian Allah Ta’ala mewahyukan kepadanya pada saat kejadian itu: “Hendaklah kamu melemparkan apa yang ada di tangan kananmu, yakni tongkatmu.” Dan ternyata, yang dilemparkan Musa itu menelan semua yang mereka lakukan. Tongkatnya menjadi ular yang sangat besar sekali yang mempunyai kaki, leher, kepala, dan taring. Lalu ular itu mengejar tali-tali dan tongkat-tongkat itu sehingga tidak ada satu pun yang tersisa, karena semuanya ditelan habis olehnya.Sedangkan para tukang sihir dan juga manusia, mereka melihat hal itu dengan kasat mata pada siang hari. Dengan demikian, maka telah jelas mukjizat telah nyata pula bukti, dan kebenaran telah datang serta lenyaplah sihir.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: innamaa shana’uu kaidu saahiri wa laa yuflihus saahiru haitsu ataa (“Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir [belaka]. Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.”)

Ibnu Abi Hatim menceritakan dari Jundab bin `Abdillah al-Bajali, bercerita, Rasulullah bersabda: “Jika kalian menangkap [tukang sihir], maka hendaklah kalian membunuhnya.” Kemudian beliau membaca ayat: ‘Dan tidak akan menang tukang sihir dari mana saja ia datang.’ Beliau bersabda: “Dia tidak akan beriman di mana saja dia ditemukan.” Asal hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi.

Setelah para tukang sihir itu melihat dan menyaksikan hal tersebut, sedang mereka sendiri juga mempunyai keahlian tentang berbagai macam sihir, ilmu dan caranya, maka mereka dengan yakin mengetahui bahwa yang dilakukan oleh Musa itu bukan termasuk sihir dan tipu daya, dan bahwasanya hal itu merupakan suatu yang haq yang tidak diragukan lagi. Hal tidak dapat dilakukan kecuali oleh Rabb yang jika mengatakan “jadilah” kepada sesuatu, maka pasti terjadi. Pada saat itulah para tukang sihir tersebut sungkur seraya bersujud kepada Allah dan berkata: “Kami beriman kepada Rabb semesta alam, Rabb Musa dan Harun.”

Ibnu Abi Hatim mengatakan dari Ibnu `Abbas: “Tukang sihir itu berjumlah 70 orang. Pagi hari mereka sebagai tukang sihir dan pada sore harinya mereka menjadi syuhada.”

Bersambung