Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 16-20

28 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 16-20“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. (QS. 21: 16) Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan (isteri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya). (QS. 21: 17) Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang bathil lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang bathil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tak layak bagi-Nya). (QS. 21: 18) Dan kepunyaan-Nyalah segala yang ada di langit dan di bumi. Dan para Malaikat yang di sisi-Nya, mereka tidak mempunyai rasa angkuh untuk beribadah kepada-Nya dan tidak (pula) merasa letih. (QS. 21: 19) Mereka selalu bertasbih malam dan Siang tiada henti-hentinya. (QS. 21: 20)” (al-Anbiyaa’: 16-20)

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa penciptaan langit dan bumi adalah dengan kebenaran yaitu dengan keadilan dan kebenaran agar orang-orang yang buruk akan dibalas sesuai dengan apa yang mereka amalkan serta membalas orang-orang yang baik dengan kebaikan. Dia tidak menciptakan semua itu dengan sia-sia dan main-main, sebagaimana Dia berfirman:

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (QS. Shaad: 27)

Firman-Nya: lau aradnaa an nat-takhidza laHwal lat-takhadzadznaaHu mil ladunnaa in kunnaa faa’iliin (“Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan, tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian,”) berkata Ibnu Abi Najih dari Mujahid, “Yaitu dari sisi kami.”
Dia berfirman: “Kami tidak menciptakan jannah, naar, kematian, kebangkitan dan hisab,”
Al-Hasan, Qatadah dan lain-lain berkata: “al-LaHwu; yaitu seorang wanita, menurut lisan orang Yaman.”

`Ikrimah dan as-Suddi berkata: “Yang dimaksud dengan al-Lahwu di sini adalah anak.” Pendapat ini dan pendapat sebelumnya adalah dua hal yang saling terkait. Dia mensucikan diri-Nya sendiri dari memiliki anak secara mutlak, apalagi tentang kedustaan dan kebathilan yang mereka katakan dengan menjadikan ‘Isa, ‘Uzair atau Malaikat sebagai anak Allah.

“Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka katakan setinggi-tingginya dan sebesar-besarnya.” (QS. Al-Israa’: 43)

Firman-Nya: in kunnaa faa’iliin (“Jika Kami menghendaki berbuat demikian.”) Qatadah, as-Suddi, Ibrahim an-Nakha’i dan al-Mughirah bin Miqsam berkata: “Yaitu kami tidak berbuat demikian.” Mujahid berkata: “Setiap kata =in= yang ada di dalam al-Qur’an, maka itu adalah pengingkaran.”

Firman-Nya: bal naqdzifu bilhaqqi ‘alal baathili (“Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang bathil.”) yaitu Kami menjelaskan kebenaran, lalu lunturlah kebathilan. Untuk itu Dia berfirman, fayadmaghuHuu fa idzaa Huwa zaaHiq (“Lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang bathil itu lenyap,”) yaitu hilang dan hancur. Wa lakumul wailu (“Dan kecelakaanlah bagimu,”) hai orang-orang yang berkata: ‘Allah memiliki anak.’
Mimmaa tashifuun (“Disebabkan kamu mensifati,”) yaitu kalian katakan dan kalian tuduhkan.

Kemudian, Allah Ta’ala mengabarkan tentang peribadatan Malaikat kepada-Nya dan adat kebiasaan mereka yang berada dalam ketaatan di waktu malam dan Siang. Maka Dia berfirman,
laHuu man fis samaawaati wal ardli wa man ‘indaHu (“Dan kepunyaan-Nyalah segala yang ada di langit dan di bumi dan makhluk-makhluk yang di sisi-Nya,”) yaitu para Malaikat;
laa yastakbiruuna ‘an ‘ibaadatiHi (“Mereka tidak mempunyai rasa angkuh untuk beribadah kepada-Nya,”) yaitu tidak merasa enggan untuk beribadah.
Firman-Nya: walaa yastahsiruun (“Dan tidak pula merasa letih,”) yaitu tidak lelah dan tidak bosan. Yusabbihuunal laila wan naHaara laa tafturuun (“Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya,”) yaitu mereka terus-menerus dalam beramal siang dan malam, mereka taat dalam niat dan amal serta mampu dalam semua itu.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: