Tafsir Ibnu Katsir Surah Thaahaa ayat 109-112

28 Jul

Tafsir Al-Qur’an Surah Thaahaa
Surah Makkiyyah; surah ke 20: 135 ayat

tulisan arab alquran surat thaaHaa ayat 109-112“Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Mahapemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. (QS. 20: 109) Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya. (QS. 20: 110) Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada (Rabb) Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang telah melakukan kezhaliman. (QS. 20:111) Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal shalih dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya. (QS. 20: 112)” (ThaaHaa: 109-112)

Allah swt. berfirman: yauma-idzin (“Pada hari itu,”) yakni hari Kiamat; laa yanfa’usy syafaa’atu (“Tidak berguna syafa’at,”) yaitu di hadapan-Nya. Illaa man adzina laHur rahmaanu wa radliya laHuu qaulan (“Kecuali [syafaat] orang yang Allah Mahapemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai Perkataannya.”)

Dalam ash-Shahihain disebutkan hadits dari Rasulullah saw, dan beliau adalah seorang pemuka anak cucu Adam dan makhluk yang paling mulia hadapan Allah swt, beliau bersabda: “Aku datang di bawah ‘Arsy dan tersungkur sujud kepada Allah. Di membuka untukku pujian yang sekarang aku tidak sanggup menyebutkannya. Kemudian la membiarkanku sesuai kehendak-Nya. Dan setelah itu Dia berfirman: ‘Hai Muhammad, angkat kepalamu, ucapkanlah, niscaya kamu akan didengar, dan memohonlah syafa’at niscaya akan diterima syafa’atmu.’ –Beliau berkata:- ‘Kemudian Dia memberikan kepadaku batasan. Maka aku pun memasukkan mereka ke surga, lalu aku kembali.”

Rasulullah menyebutkan bahwa beliau kembali ke bawah ‘Arsys empat kali.

Di dalam hadits yang lain disebutkan, di mana Rasulullah bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: `Keluarkanlah dari neraka orang-orang yang di hatinya terdapat iman sebesar biji.’ Maka banyak orang yang dikeluarkan darinya. Kemudian Dia berfirman: `Keluarkanlah dari neraka orang yang
dalam hatinya terdapat iman setengah biji. Keluarkanlah dari neraka orang yang di dalam hatinya terdapat iman seberat dzarrah, dan orang yang di dalam hatinya terdapat iman yang besarnya sangat lebih kecil daripada dzarrah, seterusnya.” (Muttafaq ‘alaih)

Firman-Nya lebih lanjut: ya’lamu maa baina aidiiHim wa maa khalfaHum (“Dia mengetahuti apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka.”) Maksudnya, Dia mengetahui secara penuh semua makhluk-Nya. Wa laa yuhiithuuna biHii ‘ilman (“Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.”) Yang demikian itu adalah sama seperti firman Allah: “Dan mereka tidak nengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Baqarah: 255)

Firman-Nya: wa ‘anatil wujuuHu lil hayil qayyuum (“Dan tunduklah semua muka berendah diri kepada [Rabb] Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus [makhluk-Nya.”)

Ibnu `Abbas dan beberapa ahli tafsir lainnya mengatakan: “Artinya, semua makhluk tunduk, tersungkur, seraya menyerahkan diri kepada Allah yang Mahaperkasa, yang Mahahidup yang tiada pernah mati, yang selalu mengurus dan tidak pernah tidur, mengatur segala sesuatu dan menjaganya. Dialah yang Mahasempurna, yang segala sesuatu selalu membutuhkan-Nya, yang semua itu tidak dapat berbuat kecuali karena-Nya.

Firman-Nya: wa qad khaaba man hamala dhulman (“Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezhaliman.”) Yakni, pada hari Kiamat kelak. Karena Allah swt akan memberikan setiap hak kepada pemiliknya, di mana pada hari itu Allah akan memotong dari kebaikan seseorang yang berbuat dhalim lalu kebaikan itu diberikan kepada orang yang didhaliminya.

Dalam hadits shahih disebutkan: “Hendaklah kalian menjauhi kedhaliman, karena kedhaliman merupakan kegelapan pada hari Kiamat kelak. Sungguh benar-benar merugi orang yang menghadap Allah dalam keadaan musyrik, karena Allah Ta’ala telah berfirman: ‘Sesungguhnya kemusyrikan itu merupakan kedhaliman yang sangat besar.’”

Firman Allah selanjutnya: wa may ya’mal minash shaalihaati wa Huwa mu’minun falaa yakhaafu dhulmaw wa laa Hadl-man (“Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang shalih dan ia dalam keadaan beriman, maka tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil [terhadapanya] dan tidak akan pengurangan haknya.”)

Setelah Allah Ta’ala menyebutkan orang-orang dhalim dan ancaman bagi mereka, Dia memberikan pujian kepada orang-orang yang bertakwa dan penetapan bagi mereka, di mana mereka itu tidak dizhalimi dan tidak dikurangi haknya. Artinya, tidak diberikan tambahan atas keburukannya dan tidak pula dikurangi kebaikan mereka. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu `Abbas, Mujahid, adh-Dhahhak, al-Hasan al-Bashri, Qatadah, dan selain mereka. Dengan demikian, kedhaliman itu berarti penambahan, yaitu pembebanan dosa orang lain kepada seseorang dan kata al-hadham berarti pengurangan.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: