Arsip | 00.54

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 104

3 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 104“’Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu,’ maka nantikanlah apa yang menggembirakan kalian. (Yaitu) pada hari Kami menggulung langit sebagaimana menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya. (QS. 21:104)” (Al-Anbiyaa’: 104)

Allah Ta’ala berfirman, inilah kejadian hari Kiamat: yauma nath-wis samaa-a kathayyis sijilli lilkutubi (“Yaitu pada hari Kami gulung langit seperti menggulung lembaran-lembaran kertas,”) al-Bukhari berkata dari Ibnu `Umar, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah menggenggam bumi pada hari Kiamat, sedangkan langit berada di tangan kanan-Nya.” Lafazh ini hanya diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Ibnu Abi Hatim berkata bahwa Ibnu `Abbas berkata: “Allah menggulung tujuh lapis langit dengan makhluk yang ada di dalamnya serta tujuh lapis bumi dengan makhluk yang ada di dalamnya yang kesemuanya digulung dengan tangan kanan-Nya. Semua itu berada di tangan-Nya seperti sebuah biji kecil.

Firman-Nya: kathayyis sijilli lilkutubi (“Seperti menggulung lembaran-lembaran kertas,”) dikatakan, yang dimaksud as-Sijl adalah kitab. Wallahu a’lam.

Pendapat yang shahih dari Ibnu `Abbas bahwa as-Sijl adalah lembaran-lembaran. Pendapat ini dikatakan oleh `Ali bin Abi Thalhah dan al-‘Aufi dari Ibnu `Abbas dan dinashkan oleh Mujahid, Qatadah dan selain mereka serta dipilih oleh Ibnu Jarir, karena kata itulah yang dikenal dalam bahasa. Atas dasar ini, maka maknanya adalah, yaitu pada hari Kami gulung langit seperti gulungan lembaran-lembaran kertas, yaitu yang ada di atas kertas dengan makna sesuatu yang ditulis, seperti firman-Nya,

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya),” (QS. Ash-Shaaffaat: 103). Yaitu, di atas pelipis-nya. Kata itu memiliki banyak pengertian dalam bahasa.

Firman-Nya: kamaa bada’naa awwala khalqin nu’iiduHu wa’dan ‘alainaa innaa kunnaa faa’iliin (“Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya,”) yaitu ini pasti terjadi, yakni pada hari Allah meniupkan kembali para makhluk sebagai makhluk yang baru, sebagaimana Dia memulai penciptaan mereka pertama kali. Dia Mahakuasa untuk mengulang penciptaan mereka. Hal itu pasti terjadi, karena merupakan bagian dari janji Allah yang tidak akan diingkari dan tidak akan berubah, Dia Mahakuasa atas semua itu. Untuk itu Dia berfirman: innaa kunnaa faa’iliin (“Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.”)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu `Abbas, ia berkata: Rasulullah berdiri memberikan nasehat kepada kami dan bersabda: “Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan kepada Allah dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan tidak dikhitan, sebagaimana Kami menciptakannya pertama kali, maka Kami megulanginya sebagai janji dari kami. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (Disebutkan hadits itu secara lengkap, ditakhrij dalam ash-Shahihain.)

Al-‘Aufi berkata dari Ibnu `Abbas tentang firman-Nya: kamaa bada’naa awwala khalqin nu’iiduHu (“Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitutah Kami akan mengulanginya,”) setiap sesuatu akan binasa sebagaimana keadaan pertama kali.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 98-103

3 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 98-103“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah umpan Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya. (QS. 21:98) Andaikata berhala-berhala itu ilah-ilah, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya. (QS. 21:99) Mereka merintih di dalam api dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar. (QS. 21:100) Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka, (QS. 21:101) mereka tidak mendengar sedikitpun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diinginkan oleh mereka. (QS. 21:102) Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari Kiamat), dan mereka disambut oleh para Malaikat. (Malaikat berkata): ‘Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.’ (QS. 21:103)” (al-Anbiyaa’: 98-103)

Allah Ta’ala berfirman mengajak dialoq penduduk Makkah yang termasuk orang musyrik Quraisy serta para pengabdi berhala dan patung-patung yang mengikuti agama mereka.
Innakum wa maa ta’buduuna min duunillaaHi hashabu jaHannama (“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan jahanam.”)

Ibnu ‘Abbas berkata: “Yaitu bahan bakarnya. Seperti firman-Nya: waquuduHan naasu wal hijaaratu (“Yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”) (al-Baqarah: 24)
Ibnu ‘Abbas berkata pula: “hashabu jaHannama; adalah pohon-pohon jaHannam.” Di suatu riwayat ia berkata: “Yaitu kayu-kayu neraka Jahannam yang hitam legam.”

Firman-Nya: antum laHaa waariduun (“Kamu pasti masuk ke dalamnya,”) yaitu memasukinya. Lau kaana Haa-ulaa-i aaliHatam maa waraduuHaa (“Andaikata berhala-berhala itu ilah-ilah, tentulah mereka tidak masuk neraka,”) yaitu seandainya berhala-berhala dan tandingan-tandingan yang kalian jadikan sebagai ilah selain Allah itu benar, niscaya mereka tidak akan datang memasuki neraka. Wa kullun fiiHaa khaaliduun (“Dan semuanya akan kekal di dalamnya,”) yaitu seluruh penyembah dan yang disembah akan kekal di dalamnya. laHum fiiHaa zafiirun (“Mereka merintih di dalam api,”) sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: laHum fiiHaa zafiiruw wa syaHiiq (“Di dalamnya mereka zafiir dan syahiiq,”) (QS. Huud: 106)

Zafiir adalah keluarnya nafas-nafas mereka, sedangkan syahiiq adala hmasuknya nafas-nafas mereka. waHum fiiHaa laa yasma’uuna (“Dan mereka di dalamnya tidak bisa mendengar.”)

Firman-Nya: innal ladziina sabaqat laHum minnal husnaa (“Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami.”) ‘Ikrimah berkata: “Yaitu rahmat.” Sedangkan yang lainnya berkata: “Yaitu kebahagiaan.”

Ulaa-ika ‘anHaa mub’aduun (“Mereka itu dijauhkan dari neraka,”) ketika Allah Ta’ala menyebutkan penghuni neraka dan siksaannya disebabkan kesyirikan mereka kepada Allah, Dia mengiringinya dengan menyebutkan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya yang berbahagia. Mereka adalah orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan kebahagiaan dari Allah serta telah mendahulukan amal-amal shalih di dunia. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Bagi orang orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik,” (QS. Yunus: 26). Maka, sebagaimana mereka berbuat amal baik di dunia, maka Allah pun memperbaiki tempat kembali dan pahala mereka serta menyelamatkan mereka dari siksaan dan memberikan mereka pahala yang melimpah. Maka Dia berfirman: Ulaa-ika ‘anHaa mub’aduun. Laa yasma’uuna hasiisaHaa (“Mereka itu dijauhkan dari neraka, mereka tidak mendengar sedikit pun suara api neraka,”) yaitu daya bakarnya terhadap jasad-jasad.

Firman-Nya: wa Hum fii masytaHat anfusuHum khaaliduun (“Dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diinginkan oleh mereka,”) Dia menyelamatkan mereka dari kecelakaan dan bahaya serta memberikan kepada mereka sesuatu yang diminta dan disukai. ‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu `Abbas tentang firman-Nya: “Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itudijauhkan dari neraka, “mereka adalah para wali Allah yang melintasi shirath dengan kecepatan yang lebih dahsyat daripada kilat, tinggallah orang-orang kafir di dalamnya sebagai bangkai, sesuai yang telah kami ceritakan.

Sedangkan yang lain berkata, bahkan ayat ini turun sebagai pengecualian dari orang-orang yang disembah. Serta dikeluarkan dari mereka ‘Uzair dan al-Masih, sebagaimana yang dikatakan oleh Hajjaj bin Muhammad al-A’war dari Ibnu Juraij dan ‘Utsman, dari ‘Atha, dari Ibnu ‘Abbas: Innakum wa maa ta’buduuna min duunillaaHi hashabu jaHannama antum laHaa waariduun (“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan jahanam. Kalian pasti masuk ke dalamnya.”) kemudian dikecualikan dengan firman-Nya: innal ladziina sabaqat laHum minnal husnaa (“Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami.”) dikatakan, mereka adalah para Malaikat, Isa dan orang-orang yang disembah selain Allah yang serupa dengan mereka. Demikian yang dikatakan oleh ‘Ikrimah, al-Hasan dan Ibnu Juraij.

Firman-Nya: laa yahzunuHumul faja’ul akbar (“Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar,”) yang dimaksud adalah kematian. Pendapat ini di-riwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq, dari Yahya bin Rabi’ah, dari ‘Atha. Dikatakan pula bahwa yang dimaksud dengan kedahsyatan yang besar adalah tiupan sangkakala. Pendapat ini dikatakan oleh al-‘Aufi dari Ibnu ‘Abbas dan Abu Sinan, Sa’id bin Sinan asy-Syaibani serta dipilih oleh Ibnu Jarir dalam tafsimya.

Firman-Nya: wat-tatalaqqaa Humul malaa-ikatu Haadzaa yaumukumul ladzii kuntum tuu’aduun (“Dan mereka disambut oleh para Malaikat: ‘Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu,’”) yaitu para Malaikat berkata kepada mereka dalam rangka memberikan kabar gembira pada hari kembalinya mereka jika mereka keluar dari kubur-kubur mereka.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 95-97

3 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 95-97“Sungguh tidak mungkin atas (penduduk) suatu negeri yang telah Kami binasakan, bahwa mereka tidak akan kembali (kepada Kami). (QS. 21:95) Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya juj dan Ma juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. (QS. 21:96) Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang kafir. (Mereka berkata): ‘Aduhai celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang dhalim. (QS. 21:97)” (al-Anbiyaa’: 95-97)

Allah Ta’ala berfirman: wa haraaman ‘alaa qaryatin (“Sungguh tidak mungkin atas suatu negeri.”) Ibnu `Abbas berkata: “Yaitu wajib, di mana sungguh telah ditakdirkan bahwa penduduk suatu negeri yang telah dibinasakan, tidak akan pernah kembali (hidup) ke dunia sebelum hari Kiamat.” Demikian yang ditegaskan oleh Ibnu `Abbas, Abu Ja’far al-Baqir, Qatadah dan selain mereka. Wallahu a’lam.

Firman-Nya: hattaa idzaa futihat ya’juuju wa ma’juuju (“Hingga apabila dibukakan tembok Ya’ju dan Ma’juj,”) telah kami jelaskan terdahulu bahwa mereka adalah termasuk keturunan Adam, bahkan mereka termasuk keturunan Nuh as. dari putera-putera Yafits, Abu Turki. Sedangkan Turki merupakan kelompok kecil di antara mereka yang ditingalkan di belakang bendungan yang dibangun oleh Dzulqarnain.

hattaa idzaa futihat ya’juuju wa ma’juuju (“Hingga apabila dibukakan tembok Ya’ju dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi,”) cepat sekali berjalan membawa kerusakan.

Al-hadbu: adalah permukaan bumi yang tinggi, inilah yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Abu Shalih, ats-Tsauri dan selain mereka. Begitulah sifat mereka ketika keluar, seakan-akan orang yang mendengar pun menyaksikan langsung hal tersebut.

Walaa yunab-bi-uka mitslu khabiir (“Dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh Yang Mahamengetahui,”) (QS. AI-Faathir:14). Ini adalah kabar dari Rabb Yang Mahamengetahui tentang apa yang terjadi dan yang sedang terjadi. Dia Yang Mahamengetahui perkara ghaib langit dan di bumi, tidak ada Ilah yang diibadahi secara benar kecuali Dia. Cerita keluarnya mereka telah banyak disebutkan di dalam hadits-hadits Nabawi.

Imam Ahmad berkata, bahwa an-Nuwas bin Sam’an al-Kullabi berkata: Suatu hari Rasulullah saw. menceritakan tentang Dajjal, terkadang beliau pelankan suaranya dan terkadang beliau keraskan suaranya, sampai kami mengira beliau berada di atas pohon kurma. Beliau bersabda: “Bukan Dajjal yang aku amat takuti bagi kalian. Jika ia keluar dan aku ada di antara kalian, maka akulah pembela kalian. Dan jika ia keluar, sedangkan aku tidak berada di antara kalian, maka setiap orang akan menjadi pembela bagi dirinya sendiri. Allah adalah khalifahku atas setiap muslim. Dia adalah seorang pemuda berambut keriting pendek dan matanya tajam. Dia akan keluar di perbatasan antara Syam dan Irak.’

Lalu beliau menyeru ke kanan dan ke kiti: ‘Hai hamba-hamba Allah! Kokohlah kalian,’ -Kami bertanya: ‘Ya Rasulullah! Berapa lama tinggalnya di dalam dunia?’ Beliau menjawab: `40 hari. Satu hari seperti satu tahun, satu hari seperti satu bulan dan satu hari seperti satu Jum’at. Seluruh hari-hari itu seperti hari-hari kalian.’ Kami bertanya: ‘Ya Rasulullah! Satu hari yang seperti satu tahun itu, apakah mencukupi untuk shalat satu hari satu malam.’ Beliau menjawab: `Tidak, ukurlah dengan ukurannya.’

Kami bertanya pula: ‘Ya Rasulullah, bagaimana kecepatannya di dunia?’ Beliau menjawab: `Seperti awan mendung yang ditiup angin. Dia melewati daerah, lalu diajaknya mereka dan mereka pun memperkenankannya. Maka dia perintahkan langit, lalu turunlah hujan dan dia perintahkan tanah lalu tumbuhlah tanam-tanaman. Binatang-binatang mereka pun mengalami perkembangan dengan memanjang seperti ditiup udara, pinggang-pinggangnya melebar dan puting-puting susunya semakin membesar. Dia pun melewati suatu daerah dan menyeru mereka, akan tetapi mereka menolaknya. Maka harta-harta mereka pun mengikutinya, sehingga mereka menjadi orang-orang miskin yang tidak memiliki harta sedikit pun. Dia pun melewati tempat reruntuhan dan berkata: ‘Keluarkanlah perbendaharanmu, maka perbendaharaan tempat itu pun mengikutinya seperti ratu-ratu lebah.

Dia pun memerintahkan seorang laki-laki untuk dibunuh. Maka, dia pun memenggalnya dengan pedang dan dibelahnya menjadi dua bagian seperti anak panah. Kemudian dia menyerunya dan laki-laki itu pun menerimanya. Di saat mereka berada dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba Allah swt. mengutus al-Masih bin Maryam as., lalu diturunkannya di sisi menara putih di sebelah timur Damaskus yang berada di antara Muhr dan Datin dengan meletakkan kedua tangannya di atas sayap-sayap dua Malaikat. Lalu dia mengikuti Dajjal, meraihnya dan membunuhnya di pintu Lud sebelah timur.

Di saat mereka seperti itu, tiba-tiba Allah memberi wahyu kepada `Isa as.: “Sesungguhnya Aku akan mengeluarkan seorang hamba-Ku yang tidak tunduk kepadamu untuk memerangi mereka. Lalu hamba-Ku menuju Thur, maka Allah swt. mengutus Ya’juj dan Ma’juj, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: (“Dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.”) Lalu, `Isa dan para sahabatnya amat senang kepada Allah swt. Maka Dia mengutus kepada mereka ulat-ulat di pundak-pundak mereka, hingga mereka menjadi bangkai-bangkai seperti kematian satu jiwa. Maka,`Isa dan para sahabatnya turun di mana tidak didapatinya lagi di bumi satu rumah pun kecuali pasti dipenuhi oleh tengkorak-tengkorak dan bangkai-bangkai mereka. Lalu, `Isa dan para sahabatnya pun amat senang kepada Allah swt, maka Dia pun mengutus satu ekor burung seperti punuk unta kepada mereka yang dapat membawa dan melempar mereka sesuai kehendak Allah.”

Ibnu Jabir berkata, ‘Atha bin Yazid as-Saksaki bercerita kepadaku,bahwa Ka’ab atau selainnya berkata: “Lalu burung itu melempar mereka ke Mahbil.” Ibnu Jabir berkata: “Aku bertanya: `Ya Abu Yazid, dimana Mahbil itu? Dia menjawab: ‘Di tempat terbit matahari.’ Dia berkata: `Allah mengutus hujan di tempat di mana tidak ada lagi rumah yang dihuni selama 40 hari. Lalu hujan itu membersihkan tanah, hingga dibiarkan seperti sebuah tempat yang licin. Dikatakan kepada tanah: `Tumbuhkanlah buahmu dan kembangkan barakahmu.’ Pada hari itu satu orang memakan satu delima, maka mereka cukup dengan itu, Allah memberkahi hingga unta mencukupi satu kelompok manusia, susu sapi mencukupi setengah kelompok dan satu ekor kambing mampu mencukupi satu keluarga.

Di saat mereka berada dalam kondisi de-mikian, tiba-tiba Allah , mengutus angin sejuk yang berhembus di bawah ketiak-ketiak mereka. Hingga ruh setiap muslim -atau mukmin- dicabut, dan yang tersisa hanyalah manusia-manusia terburuk yang berperilaku seperti himar (keledai) dan merekalah yang akan mengalami hari Kiamat (yang) akan tiba.” (Muslim meriwayatkannya sendiri, tanpa al-Bukhari serta diriwayatkan oleh Ash-haabus Sunan dari jalan `Abdurrahman bin Zaid bin Yazid bin Jabir. At-Tirmidzi berkata: “Hasan shahih.”)

Juga dijelaskan di dalam hadits, bahwa `Isa bin Maryam melakukan haji di Ka’bah. Imam Ahmad berkata dari Abu Sa’id, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh, dia akan berhaji di rumah ini dan sungguh, dia akan berumrah setelah keluarnya Ya’juj dan Ma’juj.” (Al-Bukhari meriwayatkannya sendiri).

Firman-Nya: wa aqrabal wa’dul haqqu (“Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar,”) yaitu hari Kiamat. Jika kegoncangan, kehancuran dan bencana ini telah terjadi, maka terjadilah dan telah dekatlah hari Kiamat. Jika itu telah terjadi, maka orang-orang kafir berkata: “Inilah hari yang sulit.”

Untuk itu Allah Ta’ala berfirman: fa idzaa Hiya syaakhishatun abshaarul ladziina kafaruu (“Maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir,”) disebabkan dahsyatnya perkara besar yang mereka saksikan. Yaa wailanaa (“Aduhai celakalah kami,”) yaitu mereka mengatakan: “Aduhai celakalah kami.”

Qad kunnaa fii ghaflatim min Haadzaa (“Sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini,”) yaitu dunia. Bal kunnaa dhaalimiin (“Bahkan kami adalah orang-orang yang zhalim,”) mereka mengakui kedhaliman terhadap diri-diri mereka di mana hal tersebut tidaklah bermanfaat bagi mereka.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 92-94

3 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 92-94“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agamamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Rabbmu, maka beribadahlah kepada-Ku. (QS. 21:92) Dan mereka telah memotong-motong urusan (agama) mereka di antara mereka. Kepada Kamilah masing-masing golongan itu akan kembali. (QS.21:93) Maka barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya. (QS. 21:94)” (al-Anbiyaa’: 92-94)

Ibnu `Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Qatadah dan ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata tentang firman-Nya: inna HaadziHii ummatukum ummataw waahidatan (“Sungguhnya ini adalah agamamu; agama yang satu,”) agama kalian adalah agama yang satu. Al-Hasan al-Bashri berkata: “Di dalam ayat ini Allah menjelaskan kepada mereka apa-apa yang mereka takuti dan apa-apa yang mereka berikan.”

Kemudian Dia berfirman: inna HaadziHii ummatukum ummataw waahidatan (“Sungguhnya ini adalah agamamu; agama yang satu,”) yaitu sunnah kalian adalah sunnah yang satu. Firman-Nya: HaadziHii; adalah isim inna, sedangkan =ummatukum= adalah khabar inna, yaitu ini adalah syariat kalian yang telah dijelaskan dan ditegaskan kepada kalian.

Firman-Nya: ummataw waahidatan; dinashabkan sebagai haal (kata keterangan). Untuk itu, Allah Ta’ala berfirman: wa ana rabbukum fa’buduun (“Dan Aku adalah Rabb-mu maka beribadahlah kepada-Ku,’) yaitu bahwa yang dimaksud adalah beribadah kepada Allah, Mahaesa yang tidak ada sekutu bagi-Nya dengan berbagai syari’at kepada para Rasul-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS. Al-Maa-idah: 48)

Firman-Nya: wa qath-tha’uu bainHum amraHum (“Dan mereka telah memotong-motong urusan agama mereka di antara mereka,”) yaitu para umat berbeda pendapat dalam menghadapi para Rasul-Nya, yaitu antara orang yang membenarkan dan orang yang mendustakan mereka. Untuk itu, Dia berfirman: kullun ilainaa raaji’uun (“Kepada Kamilah masing-masing golongan itu akan kembali,”) yaitu pada hari Kiamat, sehingga masing-masing orang akan dibalas sesuai amalnya. Jika baik, maka ia akan mendapatkan kebaikan dan jika buruk, maka ia akan mendapatkan keburukan. Untuk itu Dia berfirman: famay ya’mal minash shaalihaati wa Huwa mu’min (“Maka barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, sedangkan ia beriman,”) yaitu hatinya membenarkan dan mengerjakan amal shalih.

Falaa kuf-raana lisaa’yiHi (“Maka tidak ada pengingkaran terhadap amalan-nya itu”) seperti firman-Nya: “Tentu Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalannya dengan baik.” (QS. Al-Kahfi: 30). Yaitu, aktifitasnya yang berupa amal tidak akan dihapuskan, bahkan akan disyukuri (dihargai). Tidak ada seberat dzarrah pun yang akan didhalimi.

Untuk itu Dia berfirman: wa innaa laHuu kaatibuun (“Dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya,”) yaitu ditulis seluruh amalnya dan tidak ada sedikit pun yang disia-siakan.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 91

3 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 91“Dan (ingatlah kisah) wanita (Maryam) yang telah memelihara kehormatan-nya, lalu Kami tiupkan ke dalam (rahim)nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyaa’: 91)

Wal latii ah-shanat farjaHaa (“Dan ingatlah [kisah] wanita yang telah memelihara kehormatannya,”) yaitu Maryam.

Firman-Nya: wa ja’alnaaHaa wabnaHaa aayatal lil ‘aalamiin (“Dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda [kekuasaan Allah yang besar] bagi semesta alam”) yaitu sebagai dalil bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan jika Dia menghendaki sesuatu, Dia mengatakan: “Jadilah,” maka jadilah. Ibnu Abi Hatim berkata dari Ibnu `Abbas tentang firman-Nya: lil ‘aalamiin (“Bagi semesta alam”) ia berkata: “Yaitu jin dan manusia.”

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 89-90

3 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 89-90“Dan (ingatlah ksah) Zakariya, tatkala ia menyeru Rabbnya: ‘Ya Rabbku, janganlah Engkau membiarkanku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris yang paling baik.’ (QS. 21:89) Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. (QS. 21:90)” (al-Anbiyaa’: 89-90)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang hamba-Nya, Zakariya ketika dia meminta kepada Allah untuk dianugerahkan seorang anak yang nantinya akan menjadi seorang Nabi. Kisah ini telah diuraikan secara panjang lebar diawal surat Maryam dan surat Ali-‘Imraan. Sedangkan di dalam ayat ini diceritakan lebih singkat. Idz naadaa rabbaHuu (“Tatkala ia menyeru Rabbnya,”) secara sembunyi-sembunyi dari kaumnya. Rabbi laa tadzarni fardan (“Ya Rabbku, janganlah Engkau membiarkanku hidup seorang diri,”) tanpa anak dan tanpa ahli waris yang mengurus urusan manusia setelahku. Wa anta khairul waaritsiin (“Dan Engkau-lah Waris yang paling baik,”) do’a dan pujian yang sesuai dengan permintaan.

Allah Ta’ala berfirman: fastajabnaa laHuu wa Habnaa laHuu yahyaa wa ash-lahnaa laHuu zaujaHu (“Maka Kami memperkenankan do’anya dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung,”) yaitu isterinya. Ibnu `Abbas, Mujahid dan Said bin Jubair berkata: “Dia adalah wanita mandul yang tidak dapat melahirkan, lalu dia dapat melahirkan.”

Firman-Nya: innaHum kaanuu yusaari’uuna fil khairaati (“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik,”) yaitu dalam mengerjakan amal-amal taqarrub dan amal-amal ketaatan. Wa yad’uunanaa raghabaw wa raHaban (“Dan mereka berdo a kepada Kami dengan harap dan cemas.”) Ats-Tsauri berkata: “Mengharapkan apa-apa yang ada di sisi Kami dan cemas kehilangan apa-apa yang ada di sisi Kami.”

Wa kaanuu lanaa khaasyi’iin (“Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.”) Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Yaitu orang-orang yang membenarkan apa yang diturunkan oleh Allah.” Abu Sinan berkata: “Al-khusyu’ adalah rasa takut yang lazim ada dalam hati dan tidak dapat terpisah selama-lamanya.” Al-Hasan, Qatadah dan adh-Dhahhak berkata: adalah orang-orang yang merendahkan diri kepada Allah,”

bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 87-88

3 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 87-88“Dan (ingatlah kisah) Dzunnun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan sangat gelap bahwa: ‘Tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dhalim.’ (QS. 21:87) Maka Kami memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikanlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (QS. 21:88)” (al-Anbiyaa’: 87-88)

Kisah ini diceritakan dalam ayat ini, dalam surat ash-Shaaffaat dans urat Nuun (al-Qalam). Hal itu dikarenakan bahwa Yunus bin Mata as. diutus oleh Allah kepada penduduk daerah Ninawa, yaitu suatu daerah di negeri Mousul. Dia menyeru mereka kepada Allah Ta’ala, akan tetapi mereka enggan menerimanya dan tetap berada di dalam kekufuran mereka. Lalu dia keluar dari lingkungan mereka dengan penuh kemurkaan dan mengancam mereka dengan siksaan setelah tiga hari. Ketika mereka telah terbukti mendapatkannya dan mereka pun mengetahui bahwa Nabi tersebut tidak berdusta, merekapun keluar ke lembah-lembah bersama anak-anak kecil, binatang-binatang ternak dan hewan-hewan mereka serta memisahkan antara ibu-ibu dengan anak-anak mereka, kemudian mereka berdo’a dan meminta pemeliharaan serta meminta pertolongan kepada Allah. Unta-unta dan anak-anaknya bersuara, sapi-sapi dan anak-anaknya juga bersuara serta kambing dan anak-anaknya mengembik. Maka, Allah pun mengangkat adzab dari mereka.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan mengapa tidak ada suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (QS. Yunus: 98)

Adapun Yunus as. pergi dengan menaiki perahu bersama kaumnya. Perahu itu pun diterpa gelombang (ombak) besar bersama mereka dan mereka merasa takut tenggelam. Lalu, mereka mengundi tentang siapa seorang di antara mereka yang harus dibuang untuk meringankan beban perahu tersebut, maka undian pun jatuh kepada Yunus. Akan tetapi, mereka enggan untuk membuangnya, lalu mereka pun mengulangnya dan undian pun jatuh lagi kepada Yunus. Akan tetapi, mereka enggan untuk membuangnya, lalu mereka pun mengulangnya dan undian pun jatuh lagi kepada Yunus.

Allah Ta’ala berfirman: fasaaHama fakaana minal mudHa-dliin (“Kemudian ia ikut berundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian.”) (QS. Ash-Shaaffaat:141). Yaitu, undian itu jatuh kepadanya, lalu Yunus berdiri dan membuka bajunya, kemudian dia menceburkan dirinya ke dalam laut. Sesungguhnya Allah mengutus di laut hijau itu [sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud] seekor ikan paus yang menembus lautan. Hingga saat Yunus datang, ikan itu pun menelannya ketika Yunus menceburkan dirinya dari perahu itu. Maka Allah memberikan ilham kepada ikan paus itu: “Janganlah engkau memakan daging Yunus dan merusak tulang-tulangnya, karena Yunus bukan rizkimu dan perutmu menjadi pelindungnya.”

Firman-Nya: wa dzannuuni (“Dan ingatlah kisah Dzunnun,”) yaitu ikan paus itu. Tepatlah mengidhafah-kannya dengan perbandingan ini.

Firman-Nya: idz dzaHaba mughaadlaban (“Ketika ia pergi dalam keadaan marah.”) Adh-Dhahhak berkata: “Murka kepada kaumnya.” Fa dhanna al-lan naqdira ‘alaiHi (“ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya,”) yaitu Kami mempersempitnya di dalam perut ikan itu. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu `Abbas, Mujahid, adh-Dhahhak dan lain-lain serta dipilih oleh Ibnu Jarir, dan ia mendukungnya dengan firman Allah: “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath-Thalaaq: 7)

‘Athiyyah al-`Aufi berkata: wa dhanna al-lan naqdira ‘alaiHi; yaitu Kami memutuskan atas hal tersebut, seakan-akan dia menjadikan hal itu dengan makna takdir. Karena orang Arab berkata dan adalah satu makna. Seorang penyair berkata:
Masa yang lalu itu tidak akan kembali.
Engkau Mahaberkah apa yang Engkau takdirkan terhadap perkara itu.

Di antaranya firman Allah Ta’ala: “Maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan,” (QS.Al-Qamar: 12). Yaitu “qudira” (ditentukan).

Firman-Nya: fanaadaa fidh-dhulumaati al laa ilaaHa illaa anta subhaanaka innii kuntu minadh dhaalimiin (“Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, bahwa ‘Tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi] selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dhalim.’”) Ibnu Mas’ud berkata: “Kegelapan perut ikan, kegelapan laut dan kegelapan malam.” Demikian yang diriwayatkan dari Ibnu `Abbas, ‘Amr bin Maimun, Sa’id bin Jubair, Muhammad bin Ka’ab, adh-Dhahhak, al-Hasan dan Qatadah.

Ibnu Mas’ud, Ibnu `Abbas dan lain-lain berkata: “Hal itu adalah ketika ikan paus tersebut pergi di laut hingga mencapai dasar laut, maka Yunus mendengar tasbihnya batu kerikil di dasar laut itu, di sanalah dia berdo’a: laa ilaaHa illaa anta subhaanaka innii kuntu minadh dhaalimiin (“Tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi] selain Engkau. Mahasuci Engkau; sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orangyang dhalim.”)

Firman-Nya: fastajabnaa laHuu wa najjainaaHu minal ghammi (“Maka Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan”) yaitu Kami mengeluarkannya dari perut ikan dan kegelapan tersebut. Wa kadzaalika nunjil mu’miniin (“Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman”) yaitu jika mereka berada di dalam kesulitan dan mereka berdo’a kepada kami dengan penuh berserah diri. Apalagi jika mereka menggunakan do’a ini di saat mendapatkan ujian. Anjuran menggunakan do’a tersebut telah datang dari pemimpin para Nabi.

Imam Ahmad berkata, Isma’il bin `Umair bercerita kepada kami, dari Yunus bin Abu Ishaq al-Hamdani, dari Ibrahim bin Muhammad bin Sa’ad, dari Muhammad ayah kami, dari Sa’ad bin Abi Waqqash, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik do’a Dzunnun adalah ketika berada di perut ikan (bahwa) = laa ilaaHa illaa anta subhaanaka innii kuntu minadh dhaalimiin = Tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim).’ Karena, tidak ada seorang muslim pun yang berdo’a kepada Rabbnya dengan do’a tersebut melainkan pasti akan dikabulkan.” (HR. At-Tirmidzi dan an-Nasa’i dalam Amalul Yaum wal LailaH).

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 85-86

3 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 85-86“Dan (ingatlah kisah) Isma’il, Idris, dan Dzulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar. (QS. 21:85) Kami telah masukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang shalih.(QS. 21:86)” (al-Anbiyaa’: 85-86)

Isma’il yang dimaksud adalah putera Ibrahim as. Ceritanya telah disebutkan di dalam surat Maryam, demikian pula Idris. Sedangkan Dzulkifli sesuai dengan dhahir kalimatnya, dia tidak digabungkan dengan para Nabi, akan tetapi dia memang seorang Nabi. Ulama lain berkata, dia hanyalah seorang laki-laki shalih dan dia seorang raja dan hakim yang adil. Ibnu Jarir tidak memberikan pendapat dalam masalah tersebut. Ibnu Juraij berkata dari Mujahid tentang firman-Nya: wa dzalkifli (“Dan Dzulkifli,”) ia berkata: “Dia adalah seorang laki-laki shalih selain Nabi yang menjamin Nabi kaumnya, yaitu dengan cara mencukupkan urusan kaumnya, mengurus mereka dan memutuskan hukum di antara mereka dengan keadilan. Maka, dia pun mengerjakannya, hingga dinamai Dzulkifli. Demikian yang diriwayatkan dariIbnu Abi Najih dari Mujahid.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 83-84

3 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 83-84“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Rabbnya: ‘(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha-penyayang di antara semua penyayang.” (QS. 21:83) Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat-gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang beribadah kepada Allah. (QS. 21:84)” (al-Anbiyaa’: 83-84)

Allah Ta’ala menceritakan tentang Ayyub as. yang mendapatkan ujian musibah dalam harta, anak dan tubuhnya. Dahulu, beliau memiliki kendaraan, binatang ternak dan tanaman yang banyak sekali, anak yang banyak dan tempat tinggal yang menyenangkan. Lalu, semua yang beliau miliki diuji dengan musibah dan dilenyapkan seluruhnya, kemudian diberi musibah pula tubuhnya, hingga tidak ada seorang pun yang mendekatinya selain isteri yang mengurusnya. Dikatakan bahwa isterinya itu merasa lelah, lalu mempekerjakan seseorang untuk mengurus suaminya itu.

Diriwayatkan bahwa sesungguhnya Nabi bersabda: “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang yang shalih, kemudian orang-orang yang sebanding dan seterusnya.”

Sesungguhnya Nabiyyullah Ayyub as. sangat sabar, dan karenanya dibuat permisalan seperti itu. Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda: “Ketika Allah telah memberikan kesehatan kepada Ayyub, Dia menurunkan hujan belalang emas yang kemudian diambil dengan tangan Ayyub dan dimasukkan ke dalam bajunya. Lalu, dikatakan kepadanya: ‘Hai Ayyub! Apakah engkau kenyang?’ Dia menjawab: ‘Ya Rabbku, siapakah yang kenyang dari rahmat-Mu?’”
(Hadits ini bersumber dari ash-Shahihain dan akan disebutkan kembali pada tempat yang lain)

Firman-Nya: wa aatainaaHu aHlaHuu wa mitslaHum ma’aHum (“Dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat-gandakan bilangan mereka,”) Ibnu ‘Abbas ber-kata: “Mereka dikembalikan kepadanya dengan diri-diri mereka.” Demikian yang diriwayatkan oleh al-‘Aufi dari Ibnu `Abbas dan pendapat senada diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud dan Mujahid serta dikatakan oleh al-Hasan dan Qatadah. Sebagian mereka mengatakan bahwa nama isterinya adalah Rahmah. Berkata Hammad bin Zaid dari Abu ‘Imran al-Juni, dari Nauf al-Bukali, ia berkata: “Pahala mereka akan didapatkan di akhirat dan yang sebanding dengan itu akan diberikan di dunia.” Aku ceritakan hal itu kepada Mutharrif, lalu ia menjawab: “Wajahnya tidak pernah dikenal sebelum hari itu.” Demikian pula yang diriwayatkan dari Qatadah, as-Suddi dan banyak ulama Salaf. Wallahu a’lam.

Firman-Nya: rahmatam min ‘indinaa (“Sebagai suatu rahmat dari sisi Kami”) yaitu Kami lakukan hal itu sebagai rahmat dari Allah untuk menjadi peringatan bagi semua yang beribadah kepada Allah,”) yaitu Kami jadikan hal itu sebagai rahmat dari Allah; wa dzikraa lil ‘aabidiin (“Dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang beribadah kepada Allah.”) yaitu Kami jadikan hal itu sebagai suri tauladan, agar orang yang mendapatkan ujian tidak mengira bahwa Kami melakukan hal itu untuk menghinakan mereka serta agar mereka tetap teguh dalam kesabaran atas takdir dan ujian Allah kepadahamba-Nya sesuai yang dikehendaki-Nya. Dia Mahamemiliki hikmah yangmelimpah dalam masalah itu.

Bersambung

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 78-82

3 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 78-82“Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, (QS. 21:78) maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kamilah yang melakukannya. (QS. 21:79) Dan telah Kami ajarkan kepada Dawud membuat baju besi untukmu, guna memeliharamu dalam peperangan; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah). (QS. 21:80) Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Mahamengetahui segala sesuatu. (QS. 21:81) Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan syaitan-syaitan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu; dan adalah Kami memelihara mereka itu. (QS. 21:82)” (al-Anbiyaa’: 78-82)

Syuraih, az-Zuhri dan Qatadah berkata: “an nafsyu (“merusak”) tidak terjadi kecuali di waktu malam.” Qatadah menambahkan: “Sedangkan al-Haml (“merusak”) tidak terjadi kecuali di waktu Siang.”

Ibnu Jarir berkata dari Ibnu Masud tentang firman-Nya: wa daawuuda wa sulaimaana idz yahkumaani fil hartsi idz nafasyat fiiHi ghanamul qaumi (“Dan ingatlah kisah Dawud dan Sulaiman di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya,”) yaitu sebuah tanaman kurma yang baru tumbuh batang-batangnya, lalu dirusak. Maka Dawud memberikan kambing tersebut untuk pemilik kurma.

Lalu Sulaiman berkata: “Bukan begini hai Nabiyyullah.” Dawud berkata: “Lalu bagaimana?” Sulaiman menjawab: “Serahkan kurma itu kepada pemilik kambing itu untuk ditanam hingga kembali sebagaimana ada sebelumnya serta serahkan kambing itu kepada pemilik tanaman untuk disimpannya. Seandainya kurma itu telah tumbuh seperti semula adanya, maka engkau dapat serahkan kurma itu kepada pemiliknya dan engkau serahkan kambing itu kepada pemiliknya juga.” Itulah firman-Nya: fa faHHamnaa Haa sulaimaana (“ Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum.”)
Demikian yang diriwayatkan oleh al-‘Aufi dari Ibnu `Abbas.

Ibnu Jarir berkata bahwa ‘Amir berkata: “Dua orang laki-laki datang kepada Syuraih. Salah satu dari keduanya berkata: ‘Sesungguhnya kambing-kambing ini telah memotong satu tanaman milikku.’ Lalu, Syuraih berkata: ‘Siang atau malam. Jika di waktu siang, maka pemilik kambing-kambing bebas. Dan jika di waktu malam maka dia akan menanggung. Kemudian dia membaca:
wa daawuuda wa sulaimaana idz yahkumaani fil hartsi idz nafasyat fiiHi ghanamul qaumi (“Dan ingatlah kisah Dawud dan Sulaiman di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya,”)

Apa yang telah diakatakan oleh Syuraih ini sama dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah, hadits al-Laits bin Sa’ad dari az-Zuhri dari Haram bin Sa’ad bin Mahishah bahwa unta al-Barra’ bin ‘Azib memasuki sebuah kebun, hingga merusaknya. Maka, Rasulullah menetapkan bagi pemilik kebun untuk menjaganya waktu siang. Sedangkan apa-apa yang dirusak oleh binatang ternak di waktu malam, maka itu menjadi tanggungan pemiliki binatang tersebut.” Hadits ini dinilai berillat.

Firman-Nya: fa faHHamnaa Haa sulaimaana wa kullun aatainaa hukmaw wa ‘ilman (“Maka Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum yang lebih tepat, kepada masing masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu.”) IbnHatim berkata dari Humaid, bahwa tatkala Iyas bin Mu’awiyah meminta dijadikan hakim, Hasan mendatanginya dan menangis. Iyas bertanya: “Apa yang menyebabkan engkau menangis?” Hasan menjawab: “Hai Abu Sa’id, telah sampai berita kepadaku bahwa para hakim itu ada beberapa orang; seseorang yang berijtihad, lalu ia salah maka dia berada di neraka. Seseorang yang didominasi oleh hawa nafsunya, maka ia berada di api neraka serta seseorang yang berijtihad dan tepat, maka dia berada di dalam jannah.”

Al-Hasan al-Bashri berkata: “Sesungguhnya di dalam kisah yang diceritakan oleh Allah tentang Dawud dan Sulaiman serta para Nabi, terkandung hukum yang menolak pendapat manusia.”

Allah Ta’ala berfirman: wa daawuuda wa sulaimaana idz yahkumaani fil hartsi idz nafasyat fiiHi ghanamul qaumi wa kunnaa lihukmmiHim syaaHidiin (“Dan ingatlah kisah Dawud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing punyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu,”) Allah memuji Sulaiman dan tidak mencela Dawud. Kemudian al-Hasan berkata: “Sesungguhnya Allah menetapkan tiga hal kepada hakim; mereka tidak boleh menjual dengan harga sedikit, tidak mengikuti hawa nafsu dan tidak takut pada seorang pun. Kemudian dia membaca: “Ya Dawud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah di muka bumi berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu menhawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (QS. Shaad: 26)

Dia berfirman: falaa takhsyaun naasi wakhsyauni (“Karenanya itu janganlah kamu takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-Ku,”) dan firman-Nya: walaa tasytaruu bi-aayaatii tsamanan qaliilan (“Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit.”) (QS. Al-Maa-idah: 44). Menurut Ibnu Katsir, sesungguhnya para Nabi seluruhnya ma’shum lagi mendapatkan dukungan dari Allah swt. Hal ini termasuk perkara yang tidak diperselisihkan di kalangan para ulama muhaqqiq di kalangan para ulama salaf dan khalaf. Sedangkan orang selain Nabi, maka terdapat di dalam Shahih al-Bukhari bahwa ‘Amr bin al-‘Ashberkata: “Rasulullah saw bersabda: ‘Jika seorang hakim berijtihad, lalu ijtihadnya itu tepat, maka ia mendapatkan dua pahala. Jika ia berijtihad lalu ia keliru, maka ia mendapatkan satu pahala.

Di dalam kitab-kitab Sunan dinyatakan: “Para hakim itu ada tiga golongan; satu hakim di dalam surga dan dua hakim di dalam neraka. Seseorang yang mengetahui kebenaran dan ia memutuskan dengannya, maka dia berada di dalam surga. Seseorang yang menghukum manusia dengan kebodohan, maka ia berada di dalam neraka. Dan seseorang yang mengetahui kebenaran dan berhukum dengan menyelisihinya, maka dia berada di dalam neraka.

Yang lebih dekat dengan kisah yang diceritakan dalam al-Qur’an adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya, bahwa Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda: “Terdapat dua orang wanita bersama dua anak laki-laki (anak-anak dari ke-duanya), ketika datang serigala maka salah satu anak diterkam oleh serigala itu. Maka keduanya berhukum tentang masalah tersebut kepada Dawud untuk menentukan (milik siapa) satu anak tersebut, lalu dia memutuskan anak tersebut menjadi milik wanita yang tertua dan keduanya akhirnya keluar. Akan tetapi, Sulaiman memanggil kembali keduanya dan berkata: ‘Berikan pisau itu untuk aku belah anak tersebut.’ Maka, wanita yang termuda berkata: ‘Semoga Allah merahmatimu, anak itu adalah anaknya, janganlah engkau membelahnya.’ Maka, Sulaiman pun memutuskan anak tersebut menjadi milik wanita yang termuda itu.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim. Sedangkan an-Nasa’i memasukkannya ke dalam kitab “al-Qadha,” [Baabul Haakim Yuuhimu Khilaaf al-Hukm Liyasta’lamal Haqq]).

Firman-Nya: wa sahharnaa ma’a daawuudal jibaala yusabbihna wath-thaira (“Dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung semua bertasbih bersama Dawud,”) dan ayat seterusnya. Hal itu disebabkan keindahan suaranya dalam membaca Kitab Zabur. Jika beliau menyenandungkannya, burung-burung yang terbang di udara pun berhenti saling sahut menyahut dan gunung-gunung bergaung karena suara tersebut.

Firman-Nya: wa ‘allamnaaHu shan’ata labuusil lakum lituhshinakum mim ba’sikum (“Dan telah Kami ajarkan kepada Dawud membuat baju besi untukmu, guna memeliharamu dalam peperangan,”) yaitu pembuatan baju besi. Qatadah berkata: “Dahulu, baju-baju perang itu hanya berupa tameng.” Dialah awal pertama kali orang yang menjadikannya sebuah baju, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami telah melunakkan besi untuknya, yaitu buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya,” (QS. Saba’: 10-11). Yaitu, janganlah memperluas lingkarannya, tautkan dengan paku dan jangan tebalkan pakunya.

Untuk itu, Dia berfirman: lituhshinakum mim ba’sikum; yaitu, untuk memeliharamu dalam peperangan.

faHal antum syaakiruun (“Maka hendaklah kamu mensyukuri,”) yaitu atas nikmat-nikmat Allah kepada kalian, ketika Dia memberikan ilham kepada hamba-Nya, Dawud, lalu Dia ajarkan hal itu untuk kalian. Firman-Nya: wa lisulaimanar riiha ‘aashifatan (“Dan telah Kami tundukkan untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya,”) yaitu telah Kami tundukkan untuk Sulaiman angin yang sangat kencang. Tajrii bi-amriHii ilal ardlil latii baaraknaa fiiHaa (“Yang berhembus dengan perintah-Nya ke negeri yang Kami telah memberkatinya,”) yaitu negeri Syam. Wa kunnaa bikulli syai-in ‘aalimiin (“Dan adalah Kami Mahamengetahui segala sesuatu.”)

Sulaiman pun mempunyai permadani dari kayu yang dapat diletakkan di atasnya semua yang ia butuhkan dari urusan kerajaan; kuda, unta, kemah dan pasukan. Kemudian ia memerintahkan angin untuk membawanya. Maka masuklah angin itu ke bawah permadani, lalu membawa dan mengangkatnya serta memperjalankannya. Burung-burung menaunginya, menjaganya dari terik matahari, berjalan kemana saja sekehendaknya. Kemudian ia turun dan angin pun meletakkan semuanya.

Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan balk menurut kemana saja yang di-kehendakinya.” (QS. Shaad: 36).
Dan firman-Nya: ghuduwwuHaa syaHruw wa rawaahuHaa syaHrun (“Yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan [pula].”) (QS. Saba’: 12)

Firman-Nya: wa minasy syayaathiini may yaghuushuuna laHu (“Dan Kami telah tundukkan [pula kepada Sulaiman] segolongan syaitan-syaitan yang menyelam [ke dalam laut] untuknya,”) yakni di dalam air, mereka mengeluarkan mutiara, permata dan lain-lain. Wa ya’maluuna ‘amalan duuna dzaalika (“Dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu”) maksudnya selain itu.

Firman-Nya: wa kunnaa laHum haafidhiin (“Dan adalah Kami memelihara mereka itu,”) maksudnya, Allah menjaganya agar seseorang tidak mendapatkan kesulitan dari syaitan, bahkan semuanya itu berada dalam genggaman-Nya dan berada di bawah kekuasaan-Nya serta tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menghubungi dan menghampirinya lebih dekat lagi.

Bersambung