Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anbiyaa’ ayat 89-90

3 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiyaa’ (Nabi-Nabi)
Surah Makkiyyah; surah ke 21: 112 ayat

tulisan arab alquran surat al anbiyaa' ayat 89-90“Dan (ingatlah ksah) Zakariya, tatkala ia menyeru Rabbnya: ‘Ya Rabbku, janganlah Engkau membiarkanku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris yang paling baik.’ (QS. 21:89) Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. (QS. 21:90)” (al-Anbiyaa’: 89-90)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang hamba-Nya, Zakariya ketika dia meminta kepada Allah untuk dianugerahkan seorang anak yang nantinya akan menjadi seorang Nabi. Kisah ini telah diuraikan secara panjang lebar diawal surat Maryam dan surat Ali-‘Imraan. Sedangkan di dalam ayat ini diceritakan lebih singkat. Idz naadaa rabbaHuu (“Tatkala ia menyeru Rabbnya,”) secara sembunyi-sembunyi dari kaumnya. Rabbi laa tadzarni fardan (“Ya Rabbku, janganlah Engkau membiarkanku hidup seorang diri,”) tanpa anak dan tanpa ahli waris yang mengurus urusan manusia setelahku. Wa anta khairul waaritsiin (“Dan Engkau-lah Waris yang paling baik,”) do’a dan pujian yang sesuai dengan permintaan.

Allah Ta’ala berfirman: fastajabnaa laHuu wa Habnaa laHuu yahyaa wa ash-lahnaa laHuu zaujaHu (“Maka Kami memperkenankan do’anya dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung,”) yaitu isterinya. Ibnu `Abbas, Mujahid dan Said bin Jubair berkata: “Dia adalah wanita mandul yang tidak dapat melahirkan, lalu dia dapat melahirkan.”

Firman-Nya: innaHum kaanuu yusaari’uuna fil khairaati (“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik,”) yaitu dalam mengerjakan amal-amal taqarrub dan amal-amal ketaatan. Wa yad’uunanaa raghabaw wa raHaban (“Dan mereka berdo a kepada Kami dengan harap dan cemas.”) Ats-Tsauri berkata: “Mengharapkan apa-apa yang ada di sisi Kami dan cemas kehilangan apa-apa yang ada di sisi Kami.”

Wa kaanuu lanaa khaasyi’iin (“Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.”) Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Yaitu orang-orang yang membenarkan apa yang diturunkan oleh Allah.” Abu Sinan berkata: “Al-khusyu’ adalah rasa takut yang lazim ada dalam hati dan tidak dapat terpisah selama-lamanya.” Al-Hasan, Qatadah dan adh-Dhahhak berkata: adalah orang-orang yang merendahkan diri kepada Allah,”

bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: